Suplemen PA Mamre tanggal 01-07 Mei 2016, Nats Keluaren 3:1-11

Nats :
Keluaran31 : 1 -11

Thema    :
Makeken Pengertin, Kebeluhen ras Kengasupen

1. Tuhan mereken Pengertin,Kebeluhen ras Kengasupen sierbage-bage man tep-tep jelma. Contohna Musa ibereken Dibata kengasupen guna mabai bangsa Israel ndarat itaneh Mesir nari nuju kutaneh Kanaan. Tapi lalit kengasupenna guna erbahan perkakas Rumah Pertoton Kengasupen e ibereken/lit ibas Besalel ras Oholiap. Bdk. Roma 12 : 8,  I Kor. 12.

2. Kengasupen silit ibas tep-tep manusia eme Pemere Tuhan. Kata:”Enggo Kupilih”-ay.2 ,6. “Kudemi ia alu kesahKu”-ay.3, “Kubereken”-ay.3,6 rsbna.  Bandingken Yoh 1:3; “ Arah kata e ijadiken Dibata kerina sinasa lit; lalit sada pe ibas kerina sienggo jadi e ijadiken la arah kata Dibata”.

3. Selain Besalel ras Oholiap man tukang-tukang sideban pe ibereken Tuhan kengasupen simbelin, jadi hal sicukup penting pe ijenda eme kerinan kengasupen / kerina siterlibat ibas ndahiken ndahin Tuhan eme erkiteken gegeh Tuhan, janah perlukal saling siergan sada ras sidebanna, labo saling menonjolken kengasupenna masing-masing sierbahnca la akapna meherga temanna sideban, silabagi ia kengasupenna.
Kerina arus erfungsi ibas inganna/paksana; adi palu tah Martil tuhu dahinna malui, tapi labo asal palu tah kai pe paluina. Adi Bor pe labo kai pe ras ijapape ilubangina. Tapi bayangken adi lalit Martil tah Bor tentu la banci mejle bekasna tah arus erpala-pala ndahikenca. Dismpingsie kerina labo banci erbekas adi lalit simakesa, adi lalit kerjasama simehuli.

4. Dibata mereken kengasupen man banta tujunna eme :

  1. Man singalokenca: Ngelatih KETAATENTA: “ gelah banci ibahanna kerina sienggo kuperintahken-ay.6.
  2. Man Dibata (simere Kengasupen): gelah rencana Dibata igenepi. Rencana Dibata gelah tetap jumpa ersada ras manusia. Kemah siBadia eme lambang/ingan Perjumpan Dibata ras bangsaNa.

5 Dibata mereken kengasupen sipelain-lain man tep-tep jelma sue ras sura-suraNa jine. Kengasupen sinibereken Tuhan e arus igunaken sue ras rencannaNa. Kengasupen si lit ibas kita adi sipakenken sue ras rencanaNa enda si jadi pasu-pasu man kalak sideban.

6. Sijadi penungkunen man banta arah Nats enda, Kengasupen kai si lit ibas kita si lenga sipake guna ngelai ????

Pdt. Iswan Ginting Manik    HP. 081270209020
GBKP Pondok Gede
 

Khotbah Mazmur 97:1-12, Minggu 08 Mei 2016

Invocatio :
Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau 
(Yesaya 43:5a)

Ogen :
Johanes 17:20-26

Tema :
Kita dimenangkan melalui Pergumulan

Pengantar
Tuhan Yesus menegaskan, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat tidak lagi berada di dalam kegelapan, melainkan berjalan di dalam terang, sebab Tuhan telah "...memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan." (1 Petrus 2:9-10). Dengan kata lain, jika seseorang mengikut Kristus, ia berjalan di dalam terang Tuhan.
 
Mengikut Kristus berarti mengikuti jalan yang ditempuh Kristus. Artinya harus meneladani kehidupan Kristus dalam segala hal sebagaimana disampaikan rasul Yohanes, "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6). Inilah yang disebut Kristen sejati. Banyak orang yang mengaku bahwa dirinya adalah orang Kristen atau pengikut Kristus, tapi dalam kehidupannya sehari-hari sama sekali tidak mencerminkan perbuatan atau karakter Kristus. Mereka masih saja berkompromi dengan dosa dan hidup 'sama' seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, yang "...lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat." (Yohanes 3:19). Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak mengikut Kristus dengan sepenuh hati. Ironis sekali! Bukankah ini sama saja dengan mencoreng nama Tuhan di mata dunia? Padahal kita sering sekali membaca dan mendengarkan ayat firman Tuhan ini: "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (1 Korintus 5:17).

Yeremia 18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.
 
Yeremia menggambarkan bahwa manusia itu seperti tanah liat dalam tangan seorang penjunan. Dalam hal ini penjunan tersebut tentulah Allah sendiri. Seorang penjunan akan membuat bejana dari tanah liat yang sama dengan harapan tanah liat yang tak bernilai tadi bisa menjadi suatu karya seni yang bernilai tinggi tentunya.Bahkan seorang penjunan akan melakukan secara berulang-ulang sampai bejana tersebut menjadi bejana yang sempurna dalam pemandangan-Nya.(Yer 18:1-6)
Suatu saat sepasang orangtua pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik “Lihat cangkir itu, sebuah cangkir yang indah sekali” kata si oma kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si opa. Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk pujian dan perhatiannya, cuma perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak tidaklah indah dan secantik ini. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang penjunan yang mencangkulku, menyiramku dengan air, setelah itu ia mengncurkan aku dengan cara memasukan aku dalam mesin penghancur tanah dan setelah lembut, dengan tangan kotor membentuk aku diatas sebuah alat yang bisa berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku sambil membentuk aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja menekanku, tanpa menghiraukan teriakanku. Setelah terbetuk pikirku penderitaanku akan segera berakhir, tetapi ternyata belum. Ternyata aku harus dikeringkan dulu, aku diangin-anginkan selama beberapa minggu setelah itu aku dijemur untuk mengeluarkan kadar air yang ada dalam tubuhku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi.Tapi orang ini berkata “belum !” Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
 
Saudara, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Ia membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi indah dan memancarkan kemuliaan Allah. Allah mengubah kita dari tidak bernilai menjadi sesuatu karya yang bernilai tinggi. Dengan demikian proses penempaan atau pembentukan adalah cara Tuhan membuat saudara dan saya sempurna dan berharga di mata-Nya (Dimenangkan).
 
Isi
Mazmur 97 digolongkan sebagai Mazmur raja, atau jenis madah “Tuhan Raja”. Dalam bacaan kita saat ini, pemazmur mempersonifikasikan TUHAN sebagai raja yang perkasa. Karena keperkasaan TUHAN sebagai Raja atas alam semesta maka bumipun diajak bersorak-sorai dan pulau-pulau bersukacita (ayat 1). Gambaran tentang keper-kasaan dan kebesaran TUHAN sebagai raja semakin nyata, ketika pemazmur menggambarkan bahwa awan kekelaman ada di sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan tahkta-Nya (ayat 2). Api menjalar dihadadapan-Nya dan meng-hanguskan lawan-Nya (ayat 3). Kilat-Nya menerangi dunia¸bumi melihatnya dan gemetar (ayat 4). Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN dan langit memberita kan keadilannya dan segala bangsa melihat kemulian-Nya (ayat 5,6).
 
Semua ungkapan yang menggambarkan kebesaran Allah ini, mau menyatakan bahwa TUHAN Allah adalah Raja atas seluruh bumi. Hanya Dia-lah Allah yang layak untuk disembah dan dimuliakan. Pernyataan inipun mau menegas-kan bahwa Kemahakuasaan TUHAN Allah tidaklah dapat disejajarkan dengan kekuatan para dewa dan berhala bangsa-bangsa lain. Karena itu pemazmur menyatakan bahwa semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu dan semua yang memegahkan diri karena berhala-berhala dan segala allah, akan sujud menyembah kepada-Nya. Jadi para berhala dan para allah (dewa) tidak dapat menandingi kebesaran TUHAN, dan mereka akan kehilangan para pengikutnya.
 
Karena para berhala dan para allah tunduk di hadapan TUHAN, maka Sion-pun bersukacita dan Putri-putri Yehuda bersorak-sorai (ayat 8). Bahwasannya TUHAN adalah Yang Mahatinggi di seluruh bumi. Karena itu orang-orang yang mengasihi TUHAN diajak untuk membenci kejahatan, karena TUHAN memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya dan terang terbit bagi orang benar. Selanjutnya orang benar diminta bersukacita karena TUHAN ( ayat 9-12).
 
Pemazmur pun mau menekankan bahwa orang-orang benar haruslah bersukacita karena TUHAN. Umat harus bersukacita karena TUHAN-Iah yang memberi semangat kepada orang yang lemah. Ia berpihak kepada umat-Nya ketika mereka berada dalam situasi yang sulit, yaitu ketika mereka berada pada zaman sesudah pembuangan di Babilonia ( tahun 538-332) SM. Madah (nyanyian syukur) yang dikumandangkan oleh pemazmur ini adalah sebagai bentuk penghiburan bagi umat Israel yang telah kembali ke Yerusalem dari Babilonia, namun yang mengalami kesesakan dan keterhimpitan hidup. Karena itu eksistensi (keberadaan) hidup dari pemazmur adalah hidup yang mau memberi semangat kepada mereka yang lemah. Motivasi yang diberikan pemazmur kepada sesama umat sebangsanya, bertitik tolak dari pemahaman bahwa TUHAN adalah raja atas seluruh bumi. Karena TUHAN adalah raja atas seluruh bumi, maka Sion akan bersukacita, putri Yehuda akan bersorak-sorai, dalam pengertian bahwa Sion akan dipulih-kan kembali oleh TUHAN.
 
Sebagai persekutuan orang percaya kepada Yesus, kita diberi kesadaran bahwa: TUHAN Allah yang kita sembah di dalam Yesus Kristus adalah Raja atas seluruh bumi. Hanya Dia-lah Allah tempat kita berlindung dan berharap. Di dalam Dia ada sukacita melimpah yang tak dapat diberikan oleh pihak manapun. Karena itu kita diingatkan untuk tidak terjerumus pada penyembahan berhala, entah itu berhala-berhala tradisional (patung-patung, benda-benda keramat, kekuatan-kekuatan magis) bahkan juga berhala-berhaka modern (harta, kekayaan, berbagai fasilitas duniawi, dsb). Kita harus menyadari bahwa semua kekuatan yang ada di bawah kolong langit ini tunduk pada kuasa TUHAN, termasuk di dalamnya manusia.
 
Renungan
Para murid dan umat percaya sebagai para saksi Kristus dipanggil untuk berperan di tengah dunia dengan gerak sentrifugal, yaitu gerak di titik pusat yang terus melebar ke lingkup yang lebih luas. Yerusalem sebagai titik pusat di mana Yesus wafat dan dibangkitkan, lalu bergerak ke lingkup lebih luas yaitu seluruh Yudea di Israel Selatan, melebar ke wilayah Samaria di Israel Utara, dan akhirnya bergerak ke seluruh penjuru dunia. Dengan gerak sentrifugal tersebut, Kerajaan Allah yang terwujud dalam kehidupan dan karya Yesus berproses secara evolutif dalam seluruh kehidupan umat manusia. Tujuannya adalah di dalam nama Yesus Allah merangkul seluruh umat untuk berada di bawah pemerintah-Nya. Pemahaman Rasul Paulus di Efesus 1:22, yaitu: “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Karena itu makna Kenaikan Yesus ke sorga adalah Dia menarik seluruh umat manusia di bawah kaki-Nya, sehingga Dia menjadi Kepala dari segala yang ada. Setelah tercapai gerak sentrifugal, Kristus menarik kembali semua yang percaya ke dalam persekutuan dengan intim dengan diri-Nya. Karena itu gerak sentrifugal (menyebar) diikuti dengan gerak sentripetal (memusat). Tugas para saksi yaitu umat percaya adalah memberitakan kabar baik kepada dunia di mana mereka tinggal untuk hidup dalam kuasa nama-Nya yang menyelamatkan, sehingga mereka menyerahkan seluruh hidup mereka di bawah kedaulatan kuasa-Nya. Dengan demikian realitas Kerajaan Allah terwujud manakala setiap orang dari berbagai belahan bumi datang dan tunduk kepada kuasa Kristus yang telah menebus mereka dengan sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga.
 
Realitas Kerajaan Allah yang didirikan oleh Yesus berbeda dengan pemulihan kerajaan bagi umat Israel yang bersifat politis. Kerajaan yang bersifat politis mengandalkan kekuatan militer dan ekonomi, sebaliknya realitas Kerajaan Allah di dalam Kristus utamanya menghadirkan anugerah pengampunan Allah dan pembaruan hidup. Tentunya sebagai umat percaya kita tidak anti dengan pemerintahan sebuah negara. Kita tidak bisa mengabaikan peran dan tanggungjawab sebagai rakyat dan warganegara membangun negara dan bangsa Indonesia. Justru sebaliknya dalam iman kepada Kristus yang bangkit dan dimuliakan sebagai Raja segala raja setiap umat percaya dipanggil untuk berperan mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang dinyatakan dalam kehidupan dan karya Kristus. Di tengah-tengah pluralitas kehidupan bangsa Indonesia, kita dipanggil mewujudkan pikiran dan hati yang telah dibuka oleh Roh Kudus sehingga mampu berperan sebagai agen-agen perubahan yang menghadirkan pembaruan hidup. Dengan kasih kita menjadi saksi-Nya memberitakan bahwa dalam nama Yesus tersedia pengampunan dosa dan anugerah damai-sejahtera serta keselamatan Allah.
Ingatlah, Tuhan tidak pernah memberi perintah tanpa ada jaminan (bdk. Invocatio Yes. 43:5a ). Abraham dipanggil Tuhan tanpa tujuan yang jelas, tetapi Tuhan tetap menyertai, Musa bukan orang yang hebat dalam diplomasi tetapi Tuhan menjamin dengan memberi Harun sebagai temannya, Yesaya yang nazis bibir dipanggil ditengah bangsa yang nazis juga Tuhan sertai, Yeremia yang masih muda juga Tuhan sertai, para Rasul yang ketakutan juga Tuhan sertai, dan banyak lagi kesaksian Alkitab tentang penyertaan Tuhan.

Yosua pernah takut, Paulus sendiripun pernah gemetar dan bercucuran air mata, Petrus pun pernah takut sampai harus berkhianat. Musa sendiripun pernah gemetar. Daud dirtawai oleh Goliat tapi mereka dipanggil dan dimenangkan dengan satu kalimat janji “Aku tetap ras kam”. Berlutut dihadapan Tuhan membuat kita berdiri teguh dihadapan tantangan. Bukan karena siapa kita tetapi siapa Allah.
 
Setiap keputusan Tuhan yang mungkin membuat kita merasa menderita, yakinlah bahwa jauh berapa langkah kedepan (seperti pemain catur) sudah Tuhan rancang untuk kebaikan kita. Maka ingatlah, Tidak seberapa penting kemana tujuan dan seberapa berat hidup kita, tetapi dengan siapa kita menapaki tujuan yang berat tersebut. Pastinya, Bersama Yesus Lakukan Perkara Besar.
 
Mengikut Yesus tidak pernah ada janji kita akan berjalan dijalan yang penuh dengan taburan bunga mawar, yang Tuhan perintahkan Pikullah Salib, karena kita adalah Laskar Kristus bukan Turis surga. Tetapi banyak orang yang mengaku Kristen tetapi hanya mau Mahkota tetapi tanpa SALIB, itu bukan Kristen yang benar.
 
Pdt. Dasma S. Turnip
GBKP Rg. Pontianak
 

Khotbah II Korintus 3:12-18, Minggu 07 Februari 2016, PASSION I

Invocatio    :
Tuhan hidup ! Trpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah
Penyelamatku (Mas.18:46)

Bacaan    :
Keluaran 34 : 29 – 35   (Tunggal)

Thema    :
“Cerminkan/ Pancarkan Kemuliaan Tuhan”
Pembincarken Kemulian Dibata

 
Jemat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Minggu ini adalah Minggu Passion I, yang mengingatkan kita tentang kesengsaraan dan penderitaan Tuhan Yesus Kristus untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa manusia. Sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungNya, kesengsaraan kitalah yang dipikulNya. Dia tertikam oleh karena pemberontakan yang kita lakukan, Dia diremukkan oleh kejahatan kita. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, tapi untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh.3:16-17). Penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus bagi dunia ini adalah perwujudan kemulian Allah. Sepanjang kehidupan dan pelayanan Yesus di dunia ini walau pun melalui kesengsaraan dan penderitaan sampai kepada kematian, Dia tetap mencerminkan atau memancarkan kemuliaan Allah. Demikian juga tetunya bagi setiap orang percaya tetap setia dan taat dalam iman kepada Yesus Kristus dari setiap situasi yang kita hadapi kini, dan terus berjuang untuk mencerminkan kemuliaan Allah.
 
Firman Tuhan yang menjadi perenungan kita hari ini dalam 2 Korintus 3:12-18, dalam nats ini Rasul Paulus bersaksi tentang diri dan pelayanannya sebagai pelayan perjanjian baru. Dalam hal ini Paulus mengambil pelajaran dari Keluaran 34:30,34-35, Musa menyelubungi mukanya demi umatnya; mereka takut menghampiri dia karena wajahya masih memancarkan kemuliaan ilahi dari perjumpaannya dengan Allah di gunung Sinai. Dengan keberaniannya Paulus tidak seperti Musa, yang tidak dapat berkomunikasi dengan bangsa Israel dengan ketulusan yang serupa. Tapi Paulus dan rekan-rekan sepelayanan bertindak dengan penuh keberanian. Keberanian berarti kemampuan berbicara tentang keterbukaan, kejujuran, ketulusan yang mutlak. Musa menutupi wajahnya serta memudarnya cahaya dari wajah Musa, Paulus melihat suatu makna dari peristiwa itu bahwa Musa menghalangi umat Israel melihat seluruh kebenarannya- bahwa perjanjian yang lama itu harus berahir dengan kedatangan Kristus(Rom.10:4,Gal.3:24)”Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.  Selubung yang menutupi wajah Musa merupakan gambaran tertutupnya pemahaman dan tumpulnya pikiran orang Yahudi hingga kini untuk menerima penyataan yang baru, yaitu hanya di dalam Kristuslah penutup mata yang menyebabkan kebodohan tentang maksud Allah dalam memberikan torah itu diambil dari padanya. Rasul Paulus kini mengadaptasi penyataan pada peristiwa pertobatannya. Apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, selubung itu di ambil daripadanya. Tuhan adalah tidak lain daripada Roh itu sendiri yang mengangkat selubung ketidak pahaman. Seperti halnya Roh yang menyebabkan pelupuk kebodohan jatuh dari mata Rasul Paulus(Kis.9:17-18). Ketika Roh melaksanakan kuasaNya yang berdaulat, di situ ada kemerdekaan  dari hukum yang menghukum dan mematikan. Roh yang menghasilkan kemerdekaan dari dosa dan maut(gal.2:4, Rom.6:18,22,23). Kemerdekaan yang diberikan oleh Roh itulah yang menetapkan dia menjadi Rasul dan dengan keberanian untuk mengatakan kebenaran dengan terus terang. Kuasa Roh lah yang memberikan Paulus keberanian untuk melaksanakan pelayanannya. Kemuliaan dari perjanjian yang baru itu tidak disingkapkan dalam kekuatan manusia, tetapi di dalam kuat kuasa Roh. Dahulu wajah Musa lah yang menampakkan kemuliaan Allah. Hanya dia yang dapat bercakap-cakap dengan Allah dengan wajah yang tersingkap(Kel.34:34). Kini semua orang percaya di dalam Kristus mempunyai pemandangan yang jelas tentang kemuliaan Tuhan. Orang percaya adalah orang yang dibentuk mendekati gambar anak Allah(Rom.8:29). Proses perubahan ini sekarang dan di masa mendatang adalah dari kuasa Tuhan yaitu di dalam Roh. Oleh sebab itu dari keterbatasan dan ketidak sempurnaan setiap orang percaya, tetap menjadi saksi Tuhan untuk mencerminkan-memancarkan kemuliaan Tuhan.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Dari pengalaman hidup Paulus dalam memberitakan Injil seperti halnya yang di utarakan tersebut diatas,ada beberapa sikap yang patut kita teladani yang menjadi kekuatan iman kepada Yesus Kristus dan memancarkan kemuliaan Allah yaitu:  Berani Menghadapi tantangan dan penderitaan dengan mempertaruhkan iman pengharapan kepada Tuhan. Dengan kerendahan hati ia mengakui bahwa kemampuannya dalam melayani adalah oleh karna kuasa Allah yang bekarya di dalam Roh. Selubung yang menutupi yaitu sifat-sifat manusia lama ditanggalkan dan hidup baru di pimpin oleh Roh Kudus(Gal.5:22-26). Tetap setia dan menjadi saksi Kristus untuk memancarkan kemuliaan Tuhan dari sikap hidup, pelayanan, pekerjaan nya. Tentu halini adalah bagian hidup kita sebagai orang percaya. Yesus berkata,” Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apasaja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapaku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu. Amin.

 
      Pdt. Terima Tarigan 
GBKP Rg.CILEUNGSI
 
   

Melayani dengan Kasih

Seorang wanita menikah dengan suami yang tidak dicintainya. Suaminya menuntut istrinya bangun jam 5 pagi setiap hari dan mela-yaninya setiap ia hendak bekerja, menyediakan makanan pagi. Semua itu harus dilakukannya tanpa boleh membantah sedikit pun. Hidup istri ini sangat menderita karena harus melayani dan memuaskan suaminya, seperti seorang pembantu saja.

 

Pekan Doa Sedoni Wari V, Ogen Imamat 25:35-38

Invocatio :
Emaka ola pada sitik pe kam mbiar. Aku pekena-kena kam ras anak-anakndu. dage alu kata si melias e, ipetetap Jusup mulihi ukur senina-seninana seh maka malem atena kerina )Kejadin 50:21)

Thema :
Aron Dibata si Ertoto, Si Mpehaga Teman
 
Senina ras Turang ibas Tuhan Yesus,
Kegeluhen kalak Karo ibas paksa si nai terberita kal kerna perbahanen si sampat-sampaten. Enda banci teridah ibas mbangun rumah adat Karo. Mbarenda, guna mbangun Rumah Adat e, kerina anak kuta ersada arih guna majekkenca, kerina kebeluhen ras gegeh si lit ibassa ipakeken guna banci pajek runah adat e. Bage pe dikune lit kalak tandang reh ku kuta e, maka minter nge lit si reh lako ngoratisa kema kai kin keperlunna. La terjeng e, adi lit kalak erjabu ku sada kuta, janah atena ringan i kuta e, maka semal nge kalimbubu mereken perjumanna seh maka lit dahin si man dahinken guna ndatken keperlun geluhna.
 
Emaka, ibas kegeluhen Kalak Karo lit kuan-kuan si ngataken “Si ageng-agengen radu mbiring, Sikuning-kuningen radu megersing” Ertina, adi ibas kegeluhennta si nilakoken kita rusuren ndarami si la payo ibas temanta, maka kegeluhenta labo reh ulina, tapi reh gulutna. Tapi, adi ibas kegeluhenta sinilakoken kita eme uga maka kegeluhen temanta reh sikapna, tentu ulihna pe pasti reh jilena.
 
Senina ras Turang,
Berngi/Wari enda eme paksa si pelimaken kita ndalani Pekan Doanta, janah themanta ibas paksa enda eme Aron Dibata si Ertoto, Si Mpehaga Teman. Gendekna, adi nulih kita kempak kegeluhen nini-nininta ndube (si mungkin langa denga erkiniteken bagi kinitekenta genduari; baca : Kristen), uga nge kecibalta bas paksa enda? Reh ulina nge ntah reh murdena? Ngkai maka ikataken kami bagenda? Sabab, nina jaman genduari enda menam-menam kerina jelma bagi si ipaksa guna “erlumba” ngayaki keperlun geluhna. Janah menam-menam ka nge bagi si mekatep kita megisa maka jaman enda memang reh majuna, tapi kegeluhen reh serana. Lit pe terkuan ibas bahasa Indonesia, nina : “Jangankan cari uang halal, cari uang haram pun susah”. Sedangken selaku kalak si erkiniteken, tetap ipindo man banta maka kita la banci nggeluh ngukurken dirinta saja, tapi perlu tetap kita ikut ngukuri keperlun temanta.
 
Pengogenta pe ncidahken uga aturen nggeluh si ipeseh Tuhan nandangi kalak Israel. Ibas aturen e, si la banci lang arus ilakoken kalak Israel eme nampati temanna si lit ibas kesusahen. Janah ibas nampati, la banci ije kalak Israel ngukuri kai nge untungna man bana ibas ia nampati temanna. Nampati arus ilakoken erpalasken mbiar man Tuhan. Ertina, kalak Israel si man bana lit gegeh lako nampati temanna, tentu man bana enggo ibereken Tuhan pemere si lebih, si man bana enggo me tercukupi keperlunna, janah lit denga iba na. Tuhan enggo mereken pemere si mbelin man kalak Israel eme ibas Tuhan engo mbaba ndarat ibas taneh perkawanen janah itaruhkenNa ku taneh si mehumur si dem alu pasu-pasu Tuhan. Alu bage maka, si ibahanna ntah ipakena guna nehken penampat e eme kai si enggo ibereken Tuhan man bangsa ntah kalak Israel.
 
Pengertin si deban si banci si idah ibas pengogenta enda eme : Manusia e eme mahluk si meherga, aminna gia adi nulih kita kempak kegeluhenna maka sangana mesera kegeluhenna. Banci saja ibas sada paksa erkiteken ntah kai si jadi ibas kegeluhenna, maka kegeluhenna jadi mesera. Ntah pe bage kin ibas kegeluhenna, adi tatapen doni musil kin ia. Tapi adi perdiateken arah ogenta enda, maka man kalak ntah kita si ibereken “kelebihen” ibas Tuhan nari, maka jadi “kewajiben” man banta lako nehken penampat. Ras, penampat e tuhu-tuhu kin penampat, labo tempa-tempa nampati tapi situhuna labo nampati tapi erbahanca temanta e reh susahna. Enda me si ipersingeti maka ibas nampati, palasna eme mbiar man Tuhan ras nggejabken maka e perentahNa kin.
 
Jadi…. Senina ras Turang Kekelengen Tuhan
Ertoto eme biak nggeluh kalak si erkiniteken ras ernalem man Tuhan. Adi ninta maka kita kalak si erkiniteken ras ernalem man Tuhan, maka tentu lit ibas pertotonnta ija kita mindo ku Tuhan seh gelah ibreNa kita pasu-pasuNa. Lebih asa si e tentu ibas pertotonta pe maka si pindo ka pe man Tuhan maka iajariNa ka pe kita guna ngasup ngaturken pasu-pasuNa e. la terjeng man banta saja, tapi pea rah pasu-pasuna e, si pindo pe maka banci arah pasu-pasuNa e, kita makekenca ka guna kalak si deban.
 
Kegeluhenta arah pasu-pasu Tuhan labo erbahanca kalak si deban reh dauhna ras kita. Engkai? Sabab reh buena pasu-pasu Tuhan erbahanca kita “lanai terdeheri”. Tapi, arah pasu-pasu Tuhan, erbahanca kita reh riahna nggeluh ras kalak si deban entah kin e keluarganta, kade-kadenta, teman-temanta, ngawan ni perpulungenta, rasp e banci saja kalak si mbaru denga itandaina ntah si tandai ia.. Engkai? Sabab bali bagi Yusuf, ia ipasu-pasu Tuhan lako banci mpetetap ukur seninana, aminna gia lit si la payo si ilakoken senina-seninana man bana. Labo e si perdiatekenna, tapi si ipernehenna eme uga Tuhan tetap nemani ia ras mereken pasu-pasu si reh simparna.

Bage me pe kita, labo kai si ibahan kalak man banta si erbahanca geluhta jadi mehaga, tapi kai si bahan Tuhanlah si erbahanca geluhta reh mehergana ras reh mehagana. Emaka ula mbiar ibas nehken penampat man si biakna kin man sampaten. Tuhan si masu-masu kita kerina. Amin.
 
Pdt. Benhard Roy Calvyn Munthe
GBKP Rg. Cisalak
   

Page 3 of 66