Suplemen PJJ tanggal 07-13 Februari 2016, Ogen Pilipi 3:1-10

“Penandaindu Nandangi Kristus Mpelimbarui Geluhndu”
(Pilipi 3:1-10)

1. I bas Perpulungen Pilipi turah  ajaren sipapak sinigelari  Yudaisme eme kalak Yahudi si enggo jadi kristen tapi tetap denga make ajaren-ajaren agama Yahudi, inti pengajaren enda  nina : keselamaten siialoken genduari lenga bo  sempurna, arah tek ngenca man Yesus Kristus. Keselamaten sisempurna eme adi ndalanken taurat, khususna sunat,

2. Kesaksin Paulus encidahken maka Penandai kerna Kristus eme simeherga ibas kegeluhenna, sabab eme simabai ia kubas kegeluhen situhu-tuhu.
(Kesaksin Paulus: aku eme keturunen Yahudi asli ibas suku Benyamin nari ras tutus ndalanken undang-undang agama eme isunat asum umur waluh wari, selaku kalak Parisi tutus ndalanken undang-undang taurat, janah “menentang” ise saja singelanggar undang-undang taurat. Erkiteken tutus kal ndalanken undang-undang taurat maka igasgasi Paulus me gereja. Bagepe ibas ndalanken undang-undang Paulus la pernah salah. Tapi enda kerina sinai iakap Paulus merupaken sada keuntungen kepeken kenca jadi kalak si tek man Yesus Kristus kerina e sada kerugin man Paulus)

3. Penandai Paulus kerna Kristus e me simengubah kegeluhenna. Paulus erpengakap erkiniteken man Kristus me maka nggeluh ibas keselamaten. Keselamaten berarti muat bagin ibas kiniseran, kematen ras kekeken Kristus.

4. Jadi Perenungen man banta seh ija nge enggo penandaita kerna Yesus e? Penandaita nandangi Kristus erbahanca kegeluhenta:

  • Ngasup kita ngalaken kegeluhen subuk sibagi ukur bagepe silabagi ukur.
  • Ngasup ngalaken pengaruhi alu ajaren-ajaren/Rayuan-rayuan sideban.
  • Ngasup nimbak peraten daging (“kupedirep e sampah”)
  • Tetap erpengarapen nandangi kekeken/kegeluhen sirasalalap.

(Tetap Fokus nandangi keselamaten)


Pondok Gede, 05 Feb 2016 / Pdt.IGM

 

Khotbah Filipi 3:17-4:1, Minggu 21 Februari 2016

Invocatio    :
Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. 1 Yohanes 5 : 9

Bacaan    :
Kejadian 15 : 1 – 12; 17 - 18

Thema    :
Berdiri Teguh (Tetap Ibas Kristus)
 
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Sebuah pertanyaan kecil ingin saya sampaikan pada saat ini… Secara logika, adakah orang yang merasa bahwa pada saat ia mengatakan sudah cukup puas dengan capaian kehidupannya; tidak akan menginginkan ada lagi yang bertambah lagi dalam hidupnya, atau bila ada yang ditambahkan dalam kehidupannya maka ia akan menolaknya. Sepertinya akan sangat sulit untuk menemukan sosok orang yang seperti itu, karena manusia senantiasa hidup dengan apa yang disebut dengan “KEINGINAN”, dan yang namanya keinginan akan tetap hidup seiring dengan kehidupan manusia itu sendiri. Bahkan ada banyak ungkapan-ungkapan yang terkadang menggambarkan ketidaksesuaian dari kenyataan atau realita dengan keinginan. Contohnya, ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai, seperti pungguk merindukan bulan, bahkan yang agak nyeleneh seperti nafsu besar tenaga kurang. Ini semua menunjukkan betapa “keinginan” dalam kehidupan manusia itu bersifat tak terbatas dan tak pandang situasi.

Bila kita mengaitkan dengan keberadaan keimanan kita, alangkah luarbiasanya bila dalam perjalanan kehidupan kita, pengenalan akan Tuhan, pengertian akan Tuhan dan penyerahan hidup kepada Tuhan juga tidak pernah berhenti. Seperti Rusa rindu sungai, demikian jiwaku rindu akan Engkau… demikian sebuah ungkapan dalam Alkitab.

Saudara/i dalam kasih Kristus,
Khotbah minggu ini akan diawali dengan sebuah proses kehidupan keberimanan yang ditunjukkan oleh orang yang disebut dengan Bapa Orang Percaya yakni Abraham yang pada saat itu masih bernama Abram. Apa yang bisa kita pelajari dari cerita Abram dalam perikop bacaan pertama kita. Memang kita bisa melihat bahwa pada akhirnya Allah “menganugrahkan” gelar tersebut padanya. Tapi, apakah kita melihat ada proses peneguhan yang membuat pada akhirnya Abram bisa percaya pada “janji Allah”. Tentu ada, ada sebuah pergulatan antara realita dan janji yang disebabkan situasi yang dihadapi oleh Abram adalah sebuah situasi dimana dunia mengatakan bahwa tidak akan mungkin “Janji Allah” akan terwujud mengingat kondisinya tersebut. Ia sudah tua, istrinya juga sudah tidak memungkinkan lagi untuk bisa mengandung. Namun di sisi lain, yang bericara padanya bukanlah sosok biasa, tapi sosok yang tiada bandingnya yaitu Allah. Allah yang menyuruhnya untuk meninggalkan kampong halamannya. Allah yang selama ini menjadi sosok yang sangat diagungkannya.  Perseteruan antara realita dan janji itu pada akhirnya dimenangkan oleh Percaya pada Janji itu. Pointnya, dalam menentukan sikap apakah Tuhan ada dan peduli kepada kehidupan kita; bisa saja kita diperhadapkan pada situasi yang mungkin sama tapi tak serupa dengan Abram. Artinya, pikiran kita, dan juga persepsi kebanyakan mengatakan maka tidak akan mungkin. Namun di sisi lain, yang menyatakan bahwa Ia akan menyertai kita sampai sepanjang jaman itu kan Tuhan Allah. Tuhan Allah yang sepanjang sejarah Alkitab senantiasa menunjukkan bahwa Ia tetap ada dan berpihak pada orang-orang yang percaya. Pergulatan seperti inilah kita harusnya mampu mengambil keputusan bahwa Tuhan Allah yang harus dimenangkan, walau sepertinya hal itu tidak mugkin. Namun sekali lagi…. TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI TUHAN

Saudaraku dan Saudariku…
Selanjutnya, pada bagian bacaan selanjutnya, ada dua hal penting yang hendak diungkapkan oleh Paulus. Yang pertama Penekanan akan identitas pengikutnya sebagai warga istimewa… bukan sekedar warga biasa tapi Warga Surga. Lalu yang kedua, penekanan untuk hidup tidak mengikut keinginan daging. Yang menjadi sorotan paulus adalah realita kehidupan yang ada di hadapannya dimana begitu banyaknya orang yang menganggap bahwa keinginan daging adalah tuhan dalam kehidupannya. Mengejar, memuaskan diri dengan upaya mencapai keinginan dengan mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran tidak masalah bagi mereka. Hidup cemar di mata Tuhan, juga bukan hal yang patut diperdulikan. Rasa malu dikalahkan oleh keserakahan dan kehidupan yang benar di hadapan Tuhan…. jauhhhh. Mungkin bila kita gambarkan dalam bayangan kita, seperti apa bentuk kehidupan mereka…..jangan-jangan seperti kebanyakan jemaat kita saat ini. Dimana, kehidupan saleh dan taat bukanlah prioritas dalam dirinya, bergereja, bersekutu adalah bagian kehidupan yang akan dilakukan apabila tidak menghalangi pengejaran akan nilai2 duniawi..  Yang utama adalah harta, tahta dan kuasa. Kepuasan diri tidak ditentukan oleh kedekatan hidup kepada Tuhan. Inilah yang disoroti oleh Paulus.

Paulus merasa sangat sedih melihat situasi yang ada tersebut dan dia sangat merindukan agar pengikutnya tetap hidup pada ajaran yang pernah diajarkannya pada mereka. Ia menekankan bahwa tujuan hidup yang sempurna bukanlah dunia tapi Surga. Memang manusia belum akan ke sana sebelum kedatangan Yesus. Untuk itulah ia berupaya untuk “menyadarkan” para pengikutnya agar tidak mengikut pola hidup yang jauh dari keinginan Tuhan dan menjadikan keinginan daging menjadi target hidup.

Saudara-saudari jemaat kekasih Tuhan,
Dua sosok yang dihadirkan pada khotbah Minggu ini adalah “orang-orang yang Menang”. Orang-orang yang dalam kehidupannya mengalami proses kehidupan yang pada akhirnya menjadikan Hidup dan Percaya pada Tuhan adalah Pilihan Hidup yang tidak akan tergoyahkan lagi. Dua sosok ini diperhadapkan pada Janji Tuhan Allah, dan dua sosok ini memilih untuk Percaya pada Janji itu. Apakah ada tantangan? Kembali pada dua ulasan tadi, tantangan itu pasti ada…. Namun tantangan itulah yang dijadikan sebagai alat pendewasaan bagi keduannya untuk pada akhirnya tidak goyah.
Artinya, mengikut Tuhan, Percaya pada Tuhan, Setia pada Tuhan bukanlah perkara mudah. Akan banyak yang akan kita hadapi ketika kita menjalaninya. Bisa dari diri sendiri, orang-orang terdekat, lingkungan, sakit penyakit, dan segala macam penyakit2 dunia isa saja silih berganti mencoba menjatuhkan kita agar kita menjadi Orang Gagal. Lihat kembali pada bagian pengantar khotbah ini bahwa rasa puas tidak akan pernah berhenti. Namun diakhir khotbah ini mari kita menoleh pada perkataan Paulus yang mengatakan : Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!    Jangan pernah jauh apa lagi meninggalkan Yesus dalam kehidupan kita. Amin.

Pdt. Benhard Roy Calvyn Munthe
        081361131151
 

Khotbah II Korintus 3:12-18, Minggu 07 Februari 2016, PASSION I

Invocatio    :
Tuhan hidup ! Trpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah
Penyelamatku (Mas.18:46)

Bacaan    :
Keluaran 34 : 29 – 35   (Tunggal)

Thema    :
“Cerminkan/ Pancarkan Kemuliaan Tuhan”
Pembincarken Kemulian Dibata

 
Jemat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Minggu ini adalah Minggu Passion I, yang mengingatkan kita tentang kesengsaraan dan penderitaan Tuhan Yesus Kristus untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa manusia. Sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungNya, kesengsaraan kitalah yang dipikulNya. Dia tertikam oleh karena pemberontakan yang kita lakukan, Dia diremukkan oleh kejahatan kita. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, tapi untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh.3:16-17). Penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus bagi dunia ini adalah perwujudan kemulian Allah. Sepanjang kehidupan dan pelayanan Yesus di dunia ini walau pun melalui kesengsaraan dan penderitaan sampai kepada kematian, Dia tetap mencerminkan atau memancarkan kemuliaan Allah. Demikian juga tetunya bagi setiap orang percaya tetap setia dan taat dalam iman kepada Yesus Kristus dari setiap situasi yang kita hadapi kini, dan terus berjuang untuk mencerminkan kemuliaan Allah.
 
Firman Tuhan yang menjadi perenungan kita hari ini dalam 2 Korintus 3:12-18, dalam nats ini Rasul Paulus bersaksi tentang diri dan pelayanannya sebagai pelayan perjanjian baru. Dalam hal ini Paulus mengambil pelajaran dari Keluaran 34:30,34-35, Musa menyelubungi mukanya demi umatnya; mereka takut menghampiri dia karena wajahya masih memancarkan kemuliaan ilahi dari perjumpaannya dengan Allah di gunung Sinai. Dengan keberaniannya Paulus tidak seperti Musa, yang tidak dapat berkomunikasi dengan bangsa Israel dengan ketulusan yang serupa. Tapi Paulus dan rekan-rekan sepelayanan bertindak dengan penuh keberanian. Keberanian berarti kemampuan berbicara tentang keterbukaan, kejujuran, ketulusan yang mutlak. Musa menutupi wajahnya serta memudarnya cahaya dari wajah Musa, Paulus melihat suatu makna dari peristiwa itu bahwa Musa menghalangi umat Israel melihat seluruh kebenarannya- bahwa perjanjian yang lama itu harus berahir dengan kedatangan Kristus(Rom.10:4,Gal.3:24)”Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.  Selubung yang menutupi wajah Musa merupakan gambaran tertutupnya pemahaman dan tumpulnya pikiran orang Yahudi hingga kini untuk menerima penyataan yang baru, yaitu hanya di dalam Kristuslah penutup mata yang menyebabkan kebodohan tentang maksud Allah dalam memberikan torah itu diambil dari padanya. Rasul Paulus kini mengadaptasi penyataan pada peristiwa pertobatannya. Apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, selubung itu di ambil daripadanya. Tuhan adalah tidak lain daripada Roh itu sendiri yang mengangkat selubung ketidak pahaman. Seperti halnya Roh yang menyebabkan pelupuk kebodohan jatuh dari mata Rasul Paulus(Kis.9:17-18). Ketika Roh melaksanakan kuasaNya yang berdaulat, di situ ada kemerdekaan  dari hukum yang menghukum dan mematikan. Roh yang menghasilkan kemerdekaan dari dosa dan maut(gal.2:4, Rom.6:18,22,23). Kemerdekaan yang diberikan oleh Roh itulah yang menetapkan dia menjadi Rasul dan dengan keberanian untuk mengatakan kebenaran dengan terus terang. Kuasa Roh lah yang memberikan Paulus keberanian untuk melaksanakan pelayanannya. Kemuliaan dari perjanjian yang baru itu tidak disingkapkan dalam kekuatan manusia, tetapi di dalam kuat kuasa Roh. Dahulu wajah Musa lah yang menampakkan kemuliaan Allah. Hanya dia yang dapat bercakap-cakap dengan Allah dengan wajah yang tersingkap(Kel.34:34). Kini semua orang percaya di dalam Kristus mempunyai pemandangan yang jelas tentang kemuliaan Tuhan. Orang percaya adalah orang yang dibentuk mendekati gambar anak Allah(Rom.8:29). Proses perubahan ini sekarang dan di masa mendatang adalah dari kuasa Tuhan yaitu di dalam Roh. Oleh sebab itu dari keterbatasan dan ketidak sempurnaan setiap orang percaya, tetap menjadi saksi Tuhan untuk mencerminkan-memancarkan kemuliaan Tuhan.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Dari pengalaman hidup Paulus dalam memberitakan Injil seperti halnya yang di utarakan tersebut diatas,ada beberapa sikap yang patut kita teladani yang menjadi kekuatan iman kepada Yesus Kristus dan memancarkan kemuliaan Allah yaitu:  Berani Menghadapi tantangan dan penderitaan dengan mempertaruhkan iman pengharapan kepada Tuhan. Dengan kerendahan hati ia mengakui bahwa kemampuannya dalam melayani adalah oleh karna kuasa Allah yang bekarya di dalam Roh. Selubung yang menutupi yaitu sifat-sifat manusia lama ditanggalkan dan hidup baru di pimpin oleh Roh Kudus(Gal.5:22-26). Tetap setia dan menjadi saksi Kristus untuk memancarkan kemuliaan Tuhan dari sikap hidup, pelayanan, pekerjaan nya. Tentu halini adalah bagian hidup kita sebagai orang percaya. Yesus berkata,” Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apasaja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapaku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu. Amin.

 
      Pdt. Terima Tarigan 
GBKP Rg.CILEUNGSI
   

Suplemen PA Moria Tanggal 31 Januari-06 Februari 2016, Ogen : Pilipi 4:1-9

Thema     : Ngenanami Kemalemen Ate
Tujun       : Gelah Moria :
1.    Njadiken pengajaren Rasul Paulus jadi penjemba guna kiniersadan arih
2.    Njadiken geluh ras perukurenna si maba kemalemen ate ku sekelewetna

1. Rasul Paulus sangana kal ibas penjara, biasana adi bas penjara beda kel ras sibebas. Sebab bas penjara erbagai-bagai kiniseran si man alanken. Baik sesama tahanen, penjaga penjara bagepe kalak sideban sibertentangen ras ajaren Paulus. Emaka kebiasan kalak ibas penjara, erceda ate, ngandung ras kesepian.
Tapi Rasul Paulus beda ras tahanen sideban, sebab Paulus bas penjara, rende, ertoto. Ertina  ia i penjara sukacita kal (Perb.Rasul 16:25). Mantapkal, kiniseran ihadapina alu meriah ukur, sebab igejapna maka ia masuk penjara labo erkiteken kriminal, tah pe nangko, tapi erkiteken ia ndalanken tugas panggilen bias Tuhan Yesus nari (bdk.Perb.Rasul 9:15 ; 16:13-23).
Inget maka kiniseran sinihadapi kita lenga bo sebanding ras kai si inanami Paulus ras teman-temanna. Saja megati siakap bahwa kiniseranta e beraten asa kiniseran kalak. Tapi hadapilah kiniseran e alu sukacita ibas keleng ate Tuhan Yesus.

2. Situhuna enggo kal sinanami kemalemen ate e, aminna gia ninta megati lenga bo. Cubaken min si hitung-hitung kai si enggo ibahan Dibata man banta pribadi lepas pribadi, bagepe keluarga lepas keluarga. Luar biasa kal perbahanenNa nandangi kegeluhenta enda. Ija perbulangen, anak, dahin usaha ipasu-pasuNa, emaka tetap labo kita kekurangen. Hal enda eme erkiteken perkuah ate Dibata man banta la erkeri-kerin, nai nari seh gundari.

3. Rasul Paulus mereken nasihat man jemaat Pilipi, iawalina lebe alu “o seninangu si kukelengi”. Janah isingetkenna kerna kuga harus pergeluh selaku kalak Kristen si enggo tek man Kristus Yesus. Paulus seh kal tena kelengna ras tedehna jemaat Pilipi, bagepe tedeh tena nandangi jemaat dingen megah akapna.
Paulus mengharapken dua diberu enda harus ersada arih (Eiodia ras Sintike) duana kalak enda harus sikeleng-kelengen, harus sada gegeh, sebab adi ersada arihna maka malem atena, malem ate jemaat bagepe malem ate Paulus aminna gia ia i penjara. Janah  sebagai Serayan (kawan sekerja) Paulus harus nampati jemaat, terutama si isingetken Paulus gelarna duana, sebab duana ia ikut muat bagin guna nampati Paulus ibas meritaken berita si meriah.
Radu ras si e Paulus ngajak gelah tetap ermeriah ukur katawari pe amin gia la bagi ukur siterjadi, janah harus ncidahken si mehuli man ise pe sebab kerehen Tuhan lanai ndekah, kearun ate harus itadingken sebab kearun labo banci membangun masa depan si mehuli. Sepanjang geluh harus ngataken bujur, ertoto bagepe mindo man Dibata. Emaka Dibata mereken kemalemen ate, janah si enda la ngasup kita ngukurisa, tapi enggo irancang Yesus Kristus Kerinana.

4. Ibas PA-nta sendah, bagi enggo si eteh maka Rasul Paulus ngajak kalak Pilipi, bagepe kita gelah tetap ibas kiniteken, persadan ras Yesus Kristus. Sebab si sadari nge kerina si terjadi bas kegeluhenta enda enggo iaturken Dibata, janah kai atena ilakokenNa man banta maka ia tetap nehkenca alu meriah ukur. Memang sepanjang geluh pasti lit rusur siterjadi la bagi ukur, tapi inget lit kuan-kuanen nina : “kai pe labo bagi ukur, ras kai pe labo gel-gel. Emaka bas si la bagi ukur pe ngasup kita ndalani kegeluhen enda, ras si gejajp maka labo tetap kari; pasti lit perobahen, emaka guna si e kita harus ermeriah ukur terus. Meriah ukur ibas jabu, anak ras perbulangen, meriah ukur ndahiken dahin aminna gia sidahiken dahin labo pernah dat pujin, bagepe sebagai Moria lebih banyak kerja daripada kata. Janah tetap ndalanken kai si enggo sipelajari, erpalasken pustaka SiBadia. Janah perubahen, pengerananta kerina eme ncidahken kemulian Dibata ibas kegeluhen.
Moria harus merelaken nadingken jungut-jungut, aru ate, cian, cemburu, emosi, pelit, malas, kurang mediate. Janah si enda kerina harus sigantiken alu sukacita, doa, tanggung jawab, sabar, peduli, berpikir positir, jujur.
Enda me siniarapken Dibata , bagi siniajarken Paulus arah Pilipi 4 ndai.

Selamat er PA
Pdt. A. Brahmana
081317054961
 

Bimbingen Pekan Penatalayanen Wari VII, I Korintus 4:1-4

Invocatio :
II Korintus 8:10b
(Kam me si pemena kal ndahiken dahin e, labo saja ndahikenca, tapi pe ukur si ersuruh ndahiken e ibas kam me si pemenana turah)

Ogen :
Yesaya 6:1-8

Khotbah :
I Korintus 4:1-4

Thema:
Suruh-suruhen si la perlu isuruh
 
Nina rasul Paulus ibas I Timotius 1:18 “O Anakkku Timotius, man bandu kusehken dahin enda. Si enda rikutken kata si enggo ndekah me inubuatken kerna kam”. Rasul Paulus nehken enda man Timotius asum ia ndahiken dahin berita si meriah i perpulungen Efesus, ija usiana nguda denga janah tantangen pe labo sitik, baik dari dalam bagepe dari luar. “Man bandu kusehken dahin enda”. Tentuna dahin guna pebelangken berita si meriah sekaligus membina ras melayani, janah Timotius singaloken dahin enda, si enggo ndekah me inibuatken kerna Timotius, ternyata Dibata enggo milih ia nai nari, bahkan nina Dibata man Jeremia, “ope denga kam Tubuh enggo kuserapken kam jadi Nabi man bangsa-bangsa” (Jeremia 1:1).  Ternyata Timotius pe enggo ernubuat Dibata maka ia pagi ndahiken berita si meriah, aminna gia usiana nguda, ertina Dibata enggo netapken man kerina manusia ate-Na ipilih-Na kerina la erpilihen, masing-masing enggo itetapken-Na dahin siman dahinta. Lit jadi Pdt,Pt/Dkn, pengurus kategorial, panitia, pengurus PJJ janah lit jadi guru KAKR bagepe jadi anggota biasa, tapi sienda kerina bekas pemilihen Dibata, janah gunana eme lako ndalanken kai singena ate-Na ibas doni enda.
 
Nabi Jesaya itengah-tengah umat Israel siterus erbahan kejahaten, emaka enggo mesera kal ndatken kalak bujur ras mehuli. Lit kata “cilaka” enam kali ibelasken Dibata nandangi umatna (Yesaya 5:8-22). Mengeriken kal kuga rawa Dibata si enda kerina erkiteken perbahanen Umat-Na sendiri nandangi Dibata, diantarana eme: pebayak bana, la mediate nandangi sideban, mabuk-mabuk ras sidebanna. Emaka Dibata ngutus Malekatna (Serafim) ndahi Jesaya si ngana i rumah pertoton, janah Malekat Serafim enda koor ia guna ngendeken pujin alu ngataken “Badia, Badia, Badia Tuhan si mada kuasa. Badia kap i doni enda dem alu kemuliana.” Enda ngingetken man Nabi Jesaya maka kai pe ibahan umat Israel, Dibata tetap badia,erkuasa ras ndemi kemulian-Na i doni. Janah Jesaya pe mbiar, sebab enggo igejapna maka umat Israel enggo melala kesalahen, janah igejapna maka ia ikut ertanggung jawab ibas si e. Mungkin akapna ia pe ndat ken hukumen “cilaka aku, lanai lit arapen man bangku.”Pengangkunna jine maka ranan si mentas arah biberna dosa krina, janah ia pe ringan i tengah-tengah bangsa si tep-tep kata si belaskenna dem alu dosa. Emaka kerina enggo erdosa, janah patut nge Dibata merawa. Tapi arah perkeleng ate Dibata nandangi umat-Na, maka Dibata memperbaharui Yesaya alu membersihken babah biberna alu rara. Nina malekat e, “Rara enda enggo ngkenai biberndu, emaka gundari salahndu enggo masap janah dosandu enggo ialemi. Luar biasa perkeleng ate Dibata nandangi Nabi-Na si enggo ipilih-Na ras ialemin dosana.Emaka Dibata mulihken mpersikapken Nabi Yesaya guna erberita si meriah. Nina Dibata: “Ise ndia kusuruh? Ise ndia nggit maba berita ibas aku nari?” Jawab Yesaya “ enda aku, suruhlah aku!”. Dibata tetap membuka peluang nandangi kalak si enggo ipilih-Na, aminna gia dahin si man dahin e labo menahan, tapi Dibata mpersiapken dingen membekali kalak si enggo ipilih-Na.
 
Kita si enggo ipilih eme merupaken suruh-suruhen-Na si meritaken berita si meriah e man kerina manusia, janah ibas kita nehken tugas e perlu sisadari maka kita enda enggo me ndekah inubuatken. Emaka kuga pengakunta pendilo e, bagi nina Paulus : “Kami enda suruh-suruhen Kristus, dingen pengurus erta-erta Tuhan si ertanggung jawab kerna rahasia Dibata.” Suruh-suruhen eme si enggo siap katawari pe, tanpa isuruh lanai perlu i suruh. Sebab dahin e enggo itetapken man banta, nai waktu kita ngawanken meritaken berita si meriah ibas GBKP enda, gelah erbelang berita si meriah e. Janah kita me ipercayaken ngurus erta-erta Tuhan, eme ngawan niperpulungen eme erta si meherga ras kinirajan surga harus sisehken man kerina manusia, baik arah perbahanen ras pelayanen.
 
Emaka man kita si enggo ipercayakenna, harus terteki, la banci lain kata pedempak lain kata petundal, tapi kai sini ibelasken eme bagi kai nina bas pusuh (bagi lau mentar i sukanalu), meciho pusuhta, pertanggungjawabken kai si iberitaken kita. Bujur ibas kai pe, la nuntut tapi tanggung jawab, la mengeluh tapi sukacita, aminna gia mberat si man dahinken. Ibas kita ndahiken dahin e maka lanai bagi: Iman pahat palu maka erdahin, iman gerobak dorong maka erdalan, tapi iman paguh tanpa isuruh ia berkat ndahiken dahin Tuhan aku usur ersuruh ndahikenca, sebab kita me sipemenana ipilih-Nya (Invocatio). Bagi nina nabi Jesaya, “Enda aku suruhlah”. Tanpa banyak komentar, tapi pekerjaan semuanya selesai, ras la nimai kalak ras wari pepagi. “Kai banci kudahiken wari enda dahiken, sebab pagi la warinta.” Inget maka pendahin si enggo i ampeken-Nua man banta eme pendahin guna keriahenta ras keriahen kalak si deban, janah dahin e eme guna keselamaten kalak ras pagin negananami kemalemen ate sirehna idur Dibata nari. Janah kai si enggo si akuken ndube paksa kita ngawanken, tangkuhken, lantik maka kerina enda bekas Dibata netapkenca kita masing-masing, janah kerina pagi sipertanggungjawabken man Dibata Tuhan nari.
Salam
Pdt. A. Brahmana
081317054961
   

Page 1 of 60