Suplemen PA Mamre tanggal 26 Maret-01 April 2017, Ogen Kejadin 41:37-43

Tema :
Nggeluh ibas Tuhan erbahanca Mamre erdolat

Tujun :
Mamre ngasup nggeluh medolat.

Metode :
Diskusi
 
 


Penaruh:
1. Erdolat ibas Kamus Karo (asal kata dolat = wibawa) ertina berwibawa, mempunyai sifat atau sikap yang menimbulkan rasa hormat (kagum) orang lain.
 
Pendalaman:
1. Musyawarah Raja Paro ras pegawaina (ayat 37-38a)
Pemerintahen paksa e pemerintahen autokratis ertina kerina urusen ibas Raja.Kai pe banci ibahanna.Tapi khusus kerna Jusup teridah pemerintahen demokratis (pemerintahen rakyat) ibanna lebe musyawarah ras pegawaina. Intinakal gelah kerina meyakini kepemimpinan Jusup.
Lit lompatan jauh eme ibas penjara nari lompat ku istana raja; ibas sekalak ukumen siterhina lompat jadi kepala pemerintahan.

2. Pujian Paro man Jusup ras Dibatana (ayat 38b-39)
Situhuna Raja Paro, silabo nandai Dibata, tapi peranan Jusup mperkenalken Dibata ibas ngertiken nipi Raja erbahanca Raja Paro pe ibas ayat 38b naksiken maka Jusup “sekalak si lit kesah Dibata ibas dirina jine”.

3. Pelantiken Yusup jadi wakil Raja Paro (ayat 40-41)
Raja Paro meyakini Jusup suruh-suruhen Dibata. Adi bage pelantiken jabaten jadi wakil Raja Parope, la terlepas ibas sura-sura ras peraten Dibata. Dibata make kuasa Raja Paro guna melantik Jusup. Peristiwa enda merupaken realisasi nipi Jusup sanga Jusup ras senina-seninana irumah orangtuana Jakup.

4. Paro mereken tanda kehormatan man Yusup (ayat 42)
Lit 3 (telu) jenis kehamaten ibereken Raja Paro man Jusup:
• Cincin (cincin stempel kerajaan Mesir), mengungkap kekuasaan.
• Baju (simejilenakal), mengungkap kebesaran.
• Bura (bura emas), mengungkap keleng ate.

5. Pemindon Paro man rakyat Mesir gelah mpehaga Yusup (ayat 43)
Sanga Paro mindo man rakyat Mesir gelah mpehaga Jusup, tentuna Jusup teringet kuga nipina ndube sanga Jusup nuri-nuri man bapana janah isaksiken senina-sennana : ija bintang, bulan ras matawari tunduk man bana. Fakta-na nipi ndai enggo jadi kenyataan.

Pengkenaina:
1. Pengalamen Jusup menginspirasi Mamre gelah ola mengandalken kuat kuasa manusia sibanci mengecewaken, tapi andalkenlah kuat kuasa Tuhan la pernah mengecewakan.

2. Pengalamen Jusup sada lompaten jauh, ibas penjara nari lompat ku istana raja; ibas sekalak ukumen siterhina lompat jadi kepala pemerintahan wakil Raja . Impossible jadi possible (si la mungkin banci mungkin) ibasTuhan.

3. Sosok Jusup jadi bayangen Tuhan Yesus, asum nina: “Ma kin Mesias siipadanken Dibata e arus ngenanami kiniseran e janahalu bage bengket kemulianNa?” Lukas 24:26
Paulus naksiken pengalamenna man Perpulungen Pilipi ibas Surat Pilipi siijuluki surat sukacita siitulis i penjara nari. Kalak siibas penjara biasana nuri-nuri kerna kiniseranna. Tapi Paulus la nuri-nuri kerna kiniseranna, justru sebalikna isehkenna Beritasi Meriah man Perpulungen Pilipi. Bagi Yesus Kristus jadi usihen ibas pola pikir-Na ibasPilipi 2:6-11, bage me Jusup ibas Kejadin 41:37-43

4. Adi ate Mamre erdolat bahanlah bagi siibahan Jusup eme nggeluh ibasTuhan.
 
Pdt. EP. Sembiring
 

Khotbah Markus 15:22-41, Jumat tanggal 14 April 2017 (JUMAT AGUNG)

Invocatio :
“BapamengasihiAku, olehkarenaAkumemberikannyawa-Ku untukmenerimanyakembali. Tidakseorang pun mengambilnyadaripada-Ku, melainkanAkumemberikannyamenurutkehendak-Ku sendiri.Akuberkuasamemberikannyadanberkuasamengambilnyakembali.Inilahtugas yang KuterimadariBapa-Ku.”Yohanes 10:17-18
 
Ogen :
Yesaya 53:1-9

Tema :
Pengorbanan Yesus Memberikan kemenangan bagi kita (manusia)
 
I. Pendahuluan
Kata pengorbanan sering kita dengar. Apa arti pengorbanan? Pengorbanan adalah engorbanan adalah suatu tindakan atas kesadaran moral yang tulus dan ikhlas atau juga bisa diartikan sebagai kerelaan seseorang akan suatu hal yang biasanya ditunjukan pada seseorang yang mempunyai tujuan atau makna dari tindakannya itu, dalam bentuk pertolongan dan tidak berharap imbalan dari suatu tindakan atau kerelaan, ikhlas semata-mata karna Tuhan. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.

Orang-orang yang berkorban biasanya adalah orang-orang yang melakukannya dengan ikhlas semata-mata karna Tuhan. Dan orang-orang yang berkorban berfikir bahwa pengorbanannya yang sedikit ataupun banyak akan berguna dan berarti sekali untuk orang yang menerima pengorbanannya itu, walau kadang ia harus rela mengorbankan jiwa dan raganya.

Pengorbanan untuk saat ini jarang sekali dilakukan oleh masyarakat, karena di zaman ini masyarakat cenderung memikirkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan orang lain, sebenarnya pengorbanan adalah perbuatan sangat mulia karena dari pengorbanan itu bisa membantu seseorang mengubah hidupnya menjadi lebih baik.Pengorbanan adalah suatu tindakan yang mulia. Peringatan Jumat agung ini akan kita bahastentang pengorbanan Yesus yang mulia dan membebaskan manusia dari dosa.
 
II. Pendalaman Teks
a. Invocatio: Yohanes 10:17-18 “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku”. Nats ini menyatakan Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.
Dalam ayat 14-15 hubungan antara Gembala yang Baik dan domba-Nya disamakan dengan hubungan antara Allah Bapa dan Anak. Tetapi dalam ayat ini hubungan kasih antara Allah Bapa dan Anak diuraikan lebih lanjut, dan dikaitkan dengan ketaatan Anak yang sempurna.
Pernyataan ini agak aneh. Kita berpikir bahwa kasih Allah Bapa terhadap Anak adalah kasih tanpa syarat, sama seperti Dia mengasihi kita tanpa syarat, dan tidak berdasarkan perbuatan kita. Namun dalam ayat ini kita membaca bahwa Allah Bapa mengasihi Tuhan Yesus karena Dia taat dalam hal pengorbanan di kayu salib, dan kebangkitan. Sebenarnya pernyataan ini mirip pernyataan dalam Filipi 2:8-9, yaitu bahwa "Ia... taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama...."
Dalam ayat ini kebangkitan Tuhan Yesus adalah tujuan dari pada kematian-Nya. Dia memberikan nyawa-Nya untuk menerimanya kembali. Kematian-Nya bukan merupakan kekalahan, melainkan sebagian dari kemenangan-Nya. Yesus menderita dan mati “untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1 Yohanes 2:2). Karena kematian dan kebangkitan-Nya, semua orang yang menerima tawaran keselamatan-Nya akan memperoleh pengampunan dan kehidupan kekal (Yohanes 3:16).
 
b. Yesaya 53:1-9 (Ogen)
Permasalahan yang dihadapi oleh orang Israel ialah mereka berdosa pada Tuhan dan ada di pembuangan Babilon selama 70tahun sebagai konsekuensinya. Namun, Tuhan menyelamatkan mereka dan memproklamasikan diri-Nya di hadapan bangsa-bangsa, terutama bangsa penjajah dengan nubuatyang disampaikan Yesaya. Inilah kabar baik bagi bangsa ini, juga bagi bangsa-bangsa lain.
Bagaimana cara Tuhan menyelamatkan mereka? Ia mengirimkan hamba-Nya dengan cara yang tidak diharapkan (53:1). Hamba ini muda ('taruk', Yes 53:2). Hamba ini akhirnya berhasil, disanjung dan dimuliakan (52:13). Rupanya tidak cakap, kurang dari yang diharapkan (52:14; 53:2b). Ia dihina dan dihindari orang dan penuh kesengsaraan (53:3) Namun ia akan membuat para bangsa dan pemimpinnya tercengang (52:15).
Sang Hamba mengemban tugas penebusan, dengan menanggung penyakit, memikul kesengsaraan dan pemberontakan kita (53:4, 6). Ia dihukum karena pemberontakan, kejahatan dan dosa kita supaya kita selamat dan sembuh (53:5, 12). Tanpa membela diri, Dia menjadi kurban dan mati bagi kita (53:7, 8b-9, 12). Kematian-Nya adalah kehendak Tuhan agar kita diselamatkan (53:10).
Rencana Tuhan terhadap sang Hamba ini ialah agar dia berhasil (52:13). Oleh karena itu melalui kematian-Nya, Tuhan memberikan kehidupan, kebenaran, dan hikmat kepada banyak orang (53:11). Sang Hamba pasti berhasil (53:12).
Nubuat Sang Hamba yang terakhir di Yesaya ini memberikan kepada orang Israel harapan bahwa mereka akan diselamatkan melalui Mesias yang dinantikan. Dialah yang akan memberikan kelepasan bagi orang Israel dari jajahan bangsa asing dan juga dari kungkungan dosa.

c. Markus 15:22-41 (Khotbah)
Mesias itu ialah Yesus. Dialah hamba yang menderita, karena dosa, pemberontakan, kejahatan semua manusia, termasuk Israel. Dia yang suci, benar, tidak berdosa, dibuat berdosa karena kita, supaya kita bisa dibenarkan di hadapan Allah (2Kor 5:21). Dia telah menanggung dosa kita di kayu salib supaya kita yang percaya dan mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran (1Ptr 2:24). Dialah sang Hamba yang sejati. Percayalah kepada-Nya.
Dalam nats kotbah ini memperlihatkan bagaimana proses kesengsaraan Yesus sampai mereka membawa Yesus ke Golgota. Mereka memberi anggur dan mur tapi Yesus menolaknya. Kemudian mereka menyalibkan Yesus. Dia disalibkan bersama 2 orang penyamun. Salah satu ucapan yang tidak asing lagi di telinga orang percaya setiap kali mengenang peristiwa Jumat Agung adalah kutipan dari Mzm. 22:2..."Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku". Dalam bahasa aslinya (bhs. Ibrani) berbunyi demikian: "Eloi, Eloi, Lama Asabakhtani. Rahoq misyuati deber sya'anati".
Ini adalah sebuah erangan dari seorang yang sedang mengalami tekanan. Ia membutuhkan orang lain, namun tidak ada yang datang untuk menolongnya. Bapa yang merupakan gambaran dari pribadi yang mengayomi, pun keberadaannya terasa jauh. Begitu jauh sehingga ia harus berteriak.
Keadaan seperti inilah yang terjadi ketika Yesus tiba di bukit itu. Ia sangat lelah dan membutuhkan orang lain untuk mendampingi diriNya dalam menghadapi beratnya penderitaan itu. Namun apa yang diharapkan tidak seperti itu kenyataannya. Semua orang yang dahulu mencariNya, tak satu pun yang berani mendekat. Tidakkah beberapa hari sebelumnya, mereka dengan sangat antusias mengiring Tuhan Yesus masuk ke Yerusalem, mereka menghampar pakaiannya di jalan, menjadi permadani bagi Tuhan Yesus memasuki Yerusalem. Bukan hanya itu, mereka meneriakkan yel-yel kemenangan: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi (Mat. 21:9)". Sungguh amat menyakitkan hati, orang yang sangat besar jumlahnya (Mat. 21:8) yang mengelu-elukan Dia,kini berbalik menjadi lawan, sambil berteriak: "Ia harus disalibkan (Mat. 27:23)". Dan di bukit Golgota tempat Ia disalibkan, setiap orang yang lewat menghujat Dia sambil menggelengkan kepala. Mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diriMu jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu (Mat. 27:40)". Orang yang lewat menghujat dia. Imam-imam kepala dan ahli Taurat mengolok-olok Dia.
Murid-murid-Nya pun tidak ada yang datang menolong, semua lari mengamankan dirinya. Bahkan sehari sebelumnya, hanya dalam hitungan jam, di depan mataNya, seorang yang selama ini merasa diri lebih superior dari murid yang lainnya, dibarengi dengan kata-kata kutuk dan sumpah serapah; berkata: "Aku tidak kenal orang itu (Mat. 26:74)". Ia tidak lain Simon yang disebut Petrus. Tidakkah ini sebuah pengkhianatan yang langsung menusuk dalam sampai ke pusat kehidupan, sebuah tindakan dan perlakuan yang sama kejamnya dari pada yang dilakukan oleh Yudas Iskariot.
Sungguh berat dan sungguh menyakitkan apa yang dialami oleh Tuhan Yesus. Derita badani yang dibarengi dengan derita psikis; dicambuk, diperlakukan tidak adil dan sewenang-wenang, difitnah, dinista, diludahi dan dikutuki, siapa pun juga yang mengalaminya akan berteriak: "Eloi, Eloi, Lama sabakhtani".

III. Aplikasi
Mesias atau Juruselamat yang dinubuatkan telah dinyatakan oleh pengorbanan Yesus di kayu salib. Hal ini dilakukan-Nya adalah karena Kasih karuniaNya yang sangat besar bagi umat manusia yang berdosa. Penderitaan dan sakit yang harusnya manusia yang tanggung telah digantikan oleh Yesus. sesungguhnya semua yang dideritaNya adalah tumbal dari segala dosa dan pelanggaran kita. Ia berteriak demikian karena kita. Di kayu salib itulah dipertontonkan betapa dahsyatnya hukuman atas dosa, dan siapa pun kita tidak akan mampu menanggungnya. Karena itu, Dia yang tidak berdosa telah dijadikan dosa karena kita. Yesaya telah menubuatkan hal hal tersebut ketika ia menyampaikan firman ini:
"Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap Dia dan bagi kita pun Dia tidak masuk hitunga. Tetapi sesunguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungNya dan kesengsaraan kita yang dipikulNya, padahal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya, dan oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh (Yes. 53:3-5)".

Salib itu adalah bukti cinta kasih Allah kepada kita. Salib itu berisi tiga kata dari Tuhan, yakni: "Aku mengasihi engkau (manusia)/I Love You". Ia mengatakan kata-kata itu tanpa mempersoalkan keadaan kita. Sekalipun kita adalah salah satu dari orang yang tersalib bersamaNya, seorang penjahat, tapi tetap YESUS berkata: "I Love You". Bukankah ini yang Ia ucapkan: "Hari ini juga, engkau akan bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus (Luk. 23:43)". Karena itu, merayakan Jumat Agung tidak lain kita merayakan cinta Kasih Allah, yang telah mengorbankan AnakNya sendiri menjadi tebusan atas dosa-dosa kita Jadi apa tanggung jawab dan respons kita terhadap Kasih Yesus???Sebagai pengikut Yesus Kristus harus dapat menyadari bahwa pengorbanan Yesus memberikan kemenangan kepada umat manusia yang percaya padaNya dengan mewujudkan hidup dalam kasih karunia yaitu dengan mengalami Tuhan setiap hari secara nyata. Dengan demikian, kita tidak meragukan sama sekali atas keberadaan Tuhan dalam hidup ini. Bagaimana menjadi manusia hidup berjalan dengan Tuhan. Baik dalam suka maupun duka. Kita harus berani mengiring Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh walau banyakorang mengolok-ngolok atau menghina iman percaya kita pada Yesus tidak goyah. Orang yang menerima pengorbanan/kasih karunia-Nya adalah orang yang rela menyerahkan hidupsepenuhnya bagi Tuhan. Tuhan Yesus datang kedunia hanya untuk melakukan kehendak Bapa. Ia taat dan menderita sampai mati dikayu Salib. Jadi sebagai pengikut Kristus, hendaknya kita hidup dalam kemenangan dengantaat pada kehendak Tuhan, rela menderita dan mengalami Tuhan (merasakan Tuhan selalu menyertai dan memelihara) sepanjang hidup kita.
Selamat merayakan Jumat Agung, Tuhan Yesus memberkati.
 

Pdt. CrismoriVeronika Br Ginting, S.Pd, S.Th
GBKP Yogyakarta
 

Suplemen PJJ tanggal 12-18 Maret 2017, Ogen II Korinti 12:7-10

“Enggo Kuangka Perbahanen Dibata”
(II Korinti 12 : 7 – 10)
 
 
I. Kata Perlebe
Engkai maka kalak jahat, kalak si la bujur geluhna teridah lebih senang, la sakit, badanna megegeh dingen sehat? Engkai la inanamina susah, la ia gulut bagi kalak si deban? Lebih malem atena asangken kalak si bujur, mehuli dingen malang man Tuhan. Ku ja atena banci, man kai pe atena banci, ngerana ate-atena, megombang ia dingen usur erbahan jahat. Engkai maka kalak si mehuli, bujur, erkuah ate ras erkeleng ate kena sakit pinakit? Engkai maka deba kalak si tek, mehuli, bujur ras melumbar lampas lawes nadingken doni enda? Kune ndekah ia nggeluh banci ia jadi usihen, ngajari enterem kalak, nampati kalak si deban si membutuhken. Engkai maka gereja si kin rumah Dibata, ingan guna erlajar ras ngajari ku si mehuli iganggui kalak, ipersulit majekkenca? Melala hal la siangka si jadi bas geluhta. Gelah ngasup kita ngangkai ras njabab penungkunen si ndai, marilah si sikapken pusuh ras ukurta erlajar kita arah Kata Dibata.

II. Isi
Ibas geluh pelayanenna rasul Paulus enggo pernah ngaloken ketangkasen ras pengenehen ibas Tuhan nari. Rasul Paulus pernah iangkat ku surga. Ije ibegina kata-kata si la terbelasken, si la banci ibelasken manusia. Amin enggo lit bagenda pengalamen Paulus tapi si enda labo erbahanca meganjang ukurna. Labo piga kali apai ka rusur ikatakenna man perpulungen kerna pengalamenna enda. jarang isaksikenna kerna si enda man kalak si deban tupung ia erberita si meriah, tupung ngajar ntah erkhotbah. Paulus berusaha kal guna nahan dirina gelah ola meganjang cakapna kerna pengalamen kinitekenna eme kerna ketangkasen si ialokenna (ayat 1-6).

Tole ikataken Paulus maka gelah ola meganjang ukurna kerna pengenehen si rejin (luar biasa) e, ibereken duri ibas dagingna. Duri enda eme persuruhen iblis guna ngeligas ia gelah ola meganjang ukurna. Kata ‘duri ibas dagingna’ enda banci iertiken sebage kinisuin, kesusahen, kiniseran, perlawanen, penghinaan, pinakit ntah pe kekoten kula. Si jelas maka duri ibas kula e labo sada percuban lako erbahan dosa (bandingken Galatia 4:13-14). Duri si lit ibas kula Paulus la iterangken ertina. Duri e ihubungken ras pendahin kesah si jahat si rehna ibas kesah si jahat nari tapi iizinken ras ibatasi Tuhan (bandingken Jop 2:1-). Ibas paksa si seri, duri e ibereken guna ngolangi Paulus jadi sombong ibas keistimewan si ialokenna. Duri si lit ibas ia erbahanca ia reh ernalemna ras erpengendesna man perkuah ate Tuhan.

Telu kali Paulus ertoto mindo man Tuhan gelah iagui min duri si lit ibas kulana e (ayat 8). Ijabab Tuhan pertotonna alu nulak pemindonna. Jawapen Tuhan labo alu mereken kai si ipindona tapi alu mereken lebih asa si ipindona. Nina Tuhan, “Cukup kap lias ateKu man bandu; sabab gegehKu serta kap ibas gegeh si kurang”. Erkiteken si e meriah kal ukur Paulus meganjang ngerana kerna gegehna si kurang gelah gegeh Kristus mengketi ia (ayat 9). Emaka senang nge iakapna ibas gegehna si kurang sabab ije me maka ia megegeh (ayat 10).

III. Pengkenaina
1. Melala hal si terjadi labo siangka si lit ibas doni enda, bas bangsa ras negarata, i tengah masyarakat, i gerejata, i sekelewetta, terlebih si engkenai ras nderpa geluhta. La mesunah ngangkaisa adi jadi ntah pe “ibere duri ibas dagingta” bagi si ikataken Paulus. Duri bas daging banci ibas tempas: sakit pinakit, kelemahen ntah pe keterbatasen kula, usaha la berkembang, kecopeten, kena rampok, kepesengen ras kecelakaan. Si mberatna eme kematen kekelengenta. Tangtangna kita ikenaina tentu gelap perukurenta, lenga ngasup kita ngangkaisa. Emaka lenga ngasup kita ngalokenca, apai ka ngidah kuasa ras lia ate Tuhan dingen keleng ateNa man banta. Nungkun-nungkun ibas ukurta, Engkai maka jadi bage ku bas geluhku?”

2. Tema : “Enggo Kuangka Perbahanen Dibata”. Ateta tentu gelah ngasup ras reh ngasupna kita ngangkai perbahanen Dibata bas geluhta ras i sekelewetta. Kai si ban ras uga siban gelah siangka perbahanen Tuhan subuk si jadi i daratta bage pe ibas dirita? Rasul Paulus mereken carana eme ertoto. Telu kali ia ertoto man Tuhan. Kata telu kali banci si ertiken beliganna 3 kali. Tapi pe banci ertoto erkali-kali lebih asa 3 kali. “Ertotolah la erngadi-ngadi” (Roma 12:12). “Ertotolah katawari pe” (1 Tesalonika 5:17). Arah ertoto kita mindo gelah Tuhan ngajari kita, mpebetehken rencanaNa, ras sura-suraNa. Arah ertoto kita mindo gegeh ras kuasaNa.

3. Kalak si nggeluh ibas toto eme salah sada ciri kalak si ersada ras rembak ras Dibata. Kalak si ersada dingen rembak ras Dibata tentu ietehna ras itandaiNa Dibata lebih asa kalak si la rembak ras Dibata. Bagi kita rembak ras orangtuata, tentu si eteh keleng atena, gegehna ras keleng atena man banta lebih asa kalak si deban. Kalak si rembak ras Tuhan ipebetehken Tuhan peratenNa, perkuah ateNa, keleng ateNa ras kuasaNa si lalap nemani ras nampati ia. Enda si jadi bas diri Paulus, bage pe kita si rembak ras Ia. La aru ateta kune lit jadi si la bagi ukurta engkenai kita. Kalak si ersada ras Tuhan nge maka ngasup ngidah perkuah ate ras keleng ateNa katawari pe cukup, gegeh Tuhan si serta ibas geluhna.

4. La terjeng kengasupen ngidah perkuah ate Tuhan, gegehNa ras campur tanganNa bas segedang-gedang geluhta tapi pe ngasup ras ipengasup kita ngangkaisa dingen tetap ngataken bujur man Tuhan. Ngasup kita ngataken maka Tuhan e mehuli kap man banta. Tuhan e mehuli ibas kerina paksa, la erpaksa-paksa saja. Roma 8:28 nina, “Si eteh maka ibas kai pe Dibata erdahin guna kiniulin man kalak si erkeleng ate man baNa, e me kalak si enggo ipilih Dibata arah sura-suraNa”.

5. Enggo kita masuk ku bas minggu-minggu Passion. Minggu Passion ngingetken kita kerna erbage-bage kiniseran si iadapi ras inanami Tuhanta Jesus guna nebusi kita ibas kuasa dosa nari. Adi Tuhanta pe ngenanami kiniseran seh ku bas kiniseran si mberatna eme kematen i kayu persilang, tentu kita pe anak-anakNa. Kiniseran labo guna meneken kita tapi gelah kita tetap rembak ras Ia. Gelah ola meganjang ukurta jenari lupa kita dingen si tadingken Tuhan. Kiniseran ras si lagi bagi ukurta jadi gelah tetap kita rembak ras Ia, ernalem man baNa gelah kita terkelin. Amin.
 
Pdt. Juris Tarigan, M. Th
GBKP Depok – Lenteng Agung
Hp/ Wa: 081316879945
   

Suplemen PA Moria tanggal 26 Feb-04 Maret 2017, ogen Bilangen 27:1-11

Bahan : Bilangen 27 : 1 - 11
Thema : Lit Kin Aku La Bujur Man Bandu
 

1. Bujur .... bali kin enda ras Adil, La sembelahen, ntah Bali Pengenehenen. Adi ninta bali;ku jange inganna kita ngelakoken e? Banci kang kita erbelas maka se enda kerina banci si lakoken nandangi dirinta, isi jabunta, kade-kade ntah teman meriah, ras tentu saja man Tuhan. Tapi ibas PA nta minggu enda iingetken kita mulihi kerna sekalak diberu si mperjuangken keadilen nandangi diberu. Diberu e eme Ibu Kartini, ia la erngadi-ngadi ngupayaken seh gelah kecibal ntah kegeluhen diberu tuhu-tuhu lit ergana. Sabab bali bagi ibas mbue ingan i doni enda, mungkin bas kita kalak Karo pe maka kecibal diberu labo iakap “meherga” (paksa si adi). Padaal, adi rukur kita mbages, maka ijadiken Tuhan diberu jenari itaruhkenNa ku dilaki; tentu penting kal nge diberu e man dilaki. Saja sejarah doni enda ibas paksa kedungenna ngubahken “posisi” diberu ibas kegeluhen.

2. Bage ka ibas PA nta sekali enda, icidahken uga “perjuangen” diberu-diberu guna ndatken “gelar ras bagin” sebage tading-tadingen ibas bapana nari. Enda jadi erkiteken ibas tradisi si lit ibas kegeluhen kalak Israel, adi anak diberu labo dat bagin ibas tading-tadingen orang tuana. Si iperjuangken anak-anak Selopahat eme pengakun maka ula min “bene garis dareh” bapana erkiteken kerina anak bapana e diberu. Guna si e, maka ipindokenna man pemimpin-pemimpinna guna banci ngerunggui persoalenna enda, Teridah maka persoalen enda ibas paksana mbarenda labo persoalen si mesunah. Teridah maka Musa selaku pemimpin labo ngasup ndungisa adi lakin alu penampat Tuhan.

3. Kai si icidahken Tuhan man Musa? Teridah maka Tuhan ngataken man Musa maka labo lit hak manusia meneken “hak” nandangi anak-anakNa. Keadilen si ipindo anak-anak Selopahat dungna labo saja ibereken man bana; tapi lit “aturen nggeluh si mbaru” si arus ipeseh ras dungna ilakoken kerina kalak Israel. Ertina, kai si isuraken anak-anak Selopahat enda mbaba perubahen nilai-nilai kegeluhen janah kedungenna tentu labo anak-anak Selopahat enda saja si ngenanamisa tapi kerina si kecibal kegeluhenna bali bagi kalak enda tentu ikut ngenanamisa.

4. Genduari pe, enggo me si gejabken ras mbue teridah maka cara rukur ras perbahanen si mbeda-mbedaken kerna kecibal nggeluh antara si dilaki ras diberu nggo me ndauh kal urak. Janah kecibal diberu pe genduari enda enggo lanai terbedaken kerna peran ras kedudukenna baik ibas gereja, pemerintah, perusahaan bage pe ibas kerina dampar nggeluh manusia. Si jadi perenungen man banta eme : si gejab nge si enda kerina maka lit peran Tuhan ibas njadiken maka kecibal diberu genduari enda enggo tuhu-tuhu mehuli. Adi bage, Tuhan e tentu Tuhan si mereken keadilen man banta diberu GBKP (Moria ras pernanden ibas kalak Karo). Ertina, adi Tuhan enggo mereken keadilen ntah kebujuren man banta, tentu tetap si idah kai ka si jadi tanggungjawab selaku diberu bagi si enggo isehken Tuhan man diberu si pertama. Tetaplah jadi si erguna nandangi keluarga, kade-kade, teman meriah ntah teman sada kiniteken, bage pe nandangi tinepana. Engkai? Sabab alu ngelakoken kerina enda, teridah maka diberu si ijadiken Tuhan seh ibas paksa enda eme diberu si erguna ras penting ertina guna kegeluhen manusia.

Pdt. Benhard Roy C Munthe
 

Pekan Penatalayanan Wari VII, Filipi 1:20-26

Invocatio :
Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata : “Siapakah yang akan
Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”
(Yesaya 6:8)

Ogen :
Yohanes 21:15-18

Tema :
Aku Ikut Mengambil Bagian Sebagai Pelayan Tuhan (Kubuat
Baginku Selaku Aron Dibata)
 
Pengantar
Kehidupan di dunia ini pasti akan diperhadapkan dengan dua hal, yaitu kehidupan dan kematian. Paulus, sebagai seorang rasul Kristus, ketika diperhadapkan dengan hal ini mengatakan bahwa “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Saat menulis surat Filipi, Paulus berada dalam penjara. Ia tidak tahu apakah kemudian akan selamat, ataukah harus mati di penjara. Namun, baik mati maupun hidup sama baiknya bagi Paulus. Mengapa Paulus dapat memiliki keyakinan seperti itu? Apakah hidup Anda juga untuk Kristus ?
Melalui Filipi 1:20-26, kita akan berupaya untuk memahami kehidupan setiap orang yangpercaya kepada Tuhan.
 
Tafsiran : Filipi 1:20-26
Ayat 20 “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku
dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sedia kala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku”
Pengharapan Paulus adalah bahwa ia tidak akan dipermalukan. Paulus merasa pastibahwa dalam Kristus ia menemukan keberanian untuk tidak merasa malu karena Injil, melalui Kristus pekerjaanNya dapat menjadi berguna bagi semua orang. J. B. Lightfoot menulis, “Hak untuk berbicara adalah tanda pengenal, hak istimewa dari pelayan Kristus.” Berbicara tetang kebenaran dengan penuh keberanian bukan hanya hak istimewa pelayan Kristus, tetapi juga menjadi kewajibannya.
 
Karena itu, bila Paulus memakai kesempatannya secara berani dan efektif, Kristus akan dimuliakan di dalam dia. Tidak menjadi masalah apa yang terjadi pada dirinya. Bila ia mati, ia akan menerima mahkota seorang martir. Bila ia hidup, ia akan memiliki kesempatan dengan hak istimewanya untuk terus memberitakan dan bersaksi bagi Kristus. Seperti yang diungkapkan olehEllicott, bahwa Paulus sesungguhnya sedang berkata, “Tubuhku adalah gedung teater dimana kemuliaan Kristus sedang dipertontonkan.” Inilah tanggungjawab orang Kristen yang cukup penting. Sekali kita telah memilih Kristus, melalui seluruh hidup dan tindakan kita membawa kemuliaan, atau justru mempermalukan namaNya. Seorang pemimpin dinilai dari pengikutnya
dan Kristus dinilai dari kita.
 
Ayat 21-22 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
Ketika dalam penjara Paulus menantikan pemeriksaan perkaranya. Ia menghadapai dua kemungkinan, yaitu hidup atau mati. Namun, kemungkinan manapun baginya tetap sama.
 
“Hidup adalah Kristus”. Bagi Paulus, Kristus adalah awal kehidupannya sebab pada hari ketika ia berjalan ke Damaskus, ia memulai hidup yang baru. Kristus adalah hidup baru yang ia jalani. Tak satupun hari dijalani Paulus tanpa kehadiranNya dan dalam saat-saat yang menakutkan, Kristus hadir disana untuk menghiburnya (Kis. 18:9,10). Kristus adalah tujuan hidupnya sebab dihadiratNya yang kekal Paulus mengarahkan seluruh hidupnya. Kristus adalah inspirasi bagi kehidupan; IA juga dinamika dalam kehidupan. Bagi Paulus, Kristus telah memberi tugas kehidupan karena Dialah yang mengangkat Paulus menjadi rasul dan mengutusnya sebagai pengabar Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Bagi Paulus, Kristus telah memberi kekuatan untuk menjalani hidup sebab kasih karunia Kristus yang serba mencukupi, telah menyempurnakan kelemahan Paulus. Baginya, Kristus adalah upah kehidupan karena upah satu satunya yang berarti adalah hubungan yang semakin dekat dengan Tuhannya. Apabila Kristus direnggut dari hidupnya maka bagi Paulus hidup ini menjadi tidak berarti apa-apa.
 
“Mati adalah keuntungan.” Kematian adalah pintu masuk ke hadirat Kristus yang makin dekat. Di sini, Paulus melihat bahwa kematian adalah sebagai kepindahan segera ke dalam hadirat Tuhan. Bila kita percaya kepada Yesus Kristus, kematian merupakan persekutuan (union) dan persekutuan kembali (reunion); persekutuan dengan Dia dan persekutuan kembali dengan mereka yang kita kasihi dan mereka yang pergi meninggalkan kita untuk sementara.
 
Orang percaya yang sejati, yang hidup di tengah-tengah kehendak Allah, tidak perlu takut terhadap kematian. Mereka mengetahui bahwa Allah mempunyai maksud untuk kehidupan mereka dan bahwa kematian, bila itu datang, hanya merupakan akhir tugas mereka di dunia dan awal kehidupan yang lebih indah bersama Kristus.
 
Hidup atau mati: demi dan dalam Kristus. Inilah kerinduan terdalam Paulus, yaitu bahwa hidup atau matinya untuk mempermuliakan Kristus. Karena hubungannya dengan Kristus sedemikian akrab maka kondisi-kondisi yang berubah-ubah tidak mempengaruhi kesetiaannya, kualitas kerohaniannya maupun kobaran semangat pelayanannya. Sebaliknya penderitaan adalah kesempatan untuk mengalami keindahan persekutuan Kristen lebih dalam  dan membuat ia lebih berharap berjumpa Kristus. Untuk Paulus hidup atau mati tidak masalah. Yang penting dalam pengalaman mana pun, ia tetap menyatakan Kristus dan ia ingin memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi jemaat Tuhan. Alangkah hebatnya pengaruh orang-orang yang berprinsip sama dalam kualitas pelayanan gerejani kita. Kiranya Roh Allah mengaruniakan kita prinsip hidup yang sama dengan Paulus.
 
Ayat 23-26 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-
sama dengan Kristus --itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada
kamu.
Paulus berada diantara dua pilihan. “Aku didesak” katanya “dari dua pihak”. Kata yang digunakan adalah senekhomai, kata yang akan dipakai oleh pengembara ketika berada di jurang yang sempit, dan dinding batu pada kedua sisinya, tak sanggup lagi berputar arah selain hanya dapat berjalan terus. Paulus sesungguhnya ingin pergi supaya tinggal bersama Kristus; namun demi kawan-kawannya dan demi apa yang dapat dilakukannya bersama untuk mereka, ia ingin tetap tinggal di dunia. Lalu muncullah pikiran bahwa pilihannya tidak tergantung pada dirinya,tetapi pada Allah.“Aku ingin pergi”, kata Paulus. Kata “pergi” yang dipakai di sini adalah analeuin.
 
1. Kata yang digunakan untuk merobohkan tenda, mengendorkan tali-tali yang mengikatnya, mencabut pasak-pasaknya, dan meneruskan perjalanan. Jadi, kematian adalah “meneruskan perjalanan”. Tiap hari merupakan hari per-arak-arak-an yang semakin dekat ke rumah hingga akhirnya perkemahan dalam dunia ini dibongkar dan ditukar dengan tempat tinggal yang permanen dalam dunia kemuliaan.
 
2. Kata ini juga digunakan untuk mengendorkan tali-tali kapal, mengangkat jangkar dan mengembangkan layar. Kematian adalah layar terkembang. Di dalam kematian, kita berangkat menuju pelabuhan kekal untuk tinggal bersama Allah.
 
Adalah keyakinan Paulus bahwa ia akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan mereka. Kerinduan Paulus untuk hidup bukanlah demi dirinya sendiri, melainkan demi mereka yang seterusnya ingin ia bantu. Apabila Paulus dibebaskan untuk datang menjumpai mereka lagi, mereka akan memiliki dirinya sebagai alasan untuk menjadi bangga dalam Yesus Kristus. Maksudnya, mereka dapat memandang dia dan melihat dalam dirinya suatu contoh bagaimana, melalui Kristus, seorang dapat menghadapi keadaan yang paling buruk dan tidak gentar. Merupakan tugas setiap orang Kristen untuk meyakini bahwa orang sanggup melihat apa yang dapat dilakukan Kristus bagi orang yang telah memberi hidupnya kepadaNya.
 
Jadi, bagi Paulus persoalannya bukan mati atau hidup, asalkan kedua-duanya memuliakan Tuhan. Di satu sisi memang kematian akan menyelesaikan perkara penderitaan dan kesusahan di dunia ini. Kematian berarti permulaan dari menikmati secara penuh persekutuan keselamatan yang telah Kristus kerjakan. Namun, di sisi lainnya Paulus melihat kebutuhan dan sekaligus panggilan Tuhan untuk tetap berkarya di dalam dunia ini. Paulus melihat kebutuhan konkrit jemaat Filipi dan pelayanan mereka. Oleh sebab itu Paulus memutuskan untuk taat pada kehendak Allah yaitu tinggal di dalam dunia ini untuk hidup menghasilkan buah. Kematian bukan pelarian bagi Paulus. Selama ia hidup, ia harus memberi buah: menjadi berkat bagi orang-orang yang kepadanya Tuhan pertemukan. Kalau tiba waktunya kematian menjemput, Paulus tahu ia akan ke sorga mulia. Namun, sekarang selagi ia hidup berarti bekerja dan melayani Tuhan.
 
Aplikasi
Ada sebuah kisah yang dapat menolong kita untuk memahami tentang kehidupan sebagai seorang yang sudah hidup dalam Kristus. Kisah tetang seorang pemahat dari Perancis, Dannecker, terkenal karena karyanya yang menampilkan Ariadne dan dewi-dewi Yunani lainnya. Suatu kali ia terdorong untuk mencurahkan segenap energi dan waktunya untuk menghasilkan sebuah adikarya. Ia bertekad untuk mengukir sosok Kristus. Dua kali usahanya gagal sebelum  akhirnya berhasil memahat patung Kristus secara prima. Karyanya begitu elok dan agung, sehingga setiap orang yang memandangnya sangat begitu mengaguminya.
 
Suatu kali ia menerima undangan dari Napoleon. "Datanglah ke Paris," kata Napoleon. "Tolong ukirkan bagi saya patung Venus untuk ditempatkan di Louvre." Dannecker menolak. Jawabannya sederhana, namun telak: "Tuan, tangan yang pernah memahat Kristus ini tak akan dapat lagi memahat dewi kafir."
Sosok Kristus yang sejati, adikarya yang sesungguhnya, juga telah "dipahat" di dalam diri setiap anak Tuhan. Kita dipanggil untuk menanggalkan manusia lama yang duniawi dan mengenakan manusia baru yang rohani. Kalau dahulu kita "diukir" menurut pola pikir duniawi yang cenderung egois dan merusak, sekarang kita tengah "ditatah" untuk menjadi manusia baru, serupa dengan karakter Kristus. Proses pembentukan ini berlangsung melalui ketaatan kepada pimpinan Tuhan. Sehingga dalam kehidupan kita akan mampu menyatakan bahwa dalam kehidupan ini “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Mendorong kita ketika menjalani kehidupan di dunia ini, maka seluruh pengabdian hidup kita hanyalah bagi kemuliaanNya.
 
Dalam situasi kehidupan yang bagaimanapun Paulus tetap berkomitmen untuk melayani Tuhan, bahkan dalam penjara sekalipun, ia tetap melayani Tuhan. Tidak ada satu hal apapun yang membuatnya kendor ataupun patah semangat untuk melayani Tuhan. Meskipun diperhadapkan dengan kematian sekalipun, ia tetap setia ikut ambil bagian dalam pelayanan kepada Tuhan. Hal ini terjadi karena Paulus menyadari bahwa “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20)
 
Demikian juga halnya dengan Yesaya seperti yang disampaikan dalam introitus, yang mengatakan : Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata : “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku : “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8). Pengenalan yang sungguh kepada Tuhan, membawanya hidup untuk melayani Tuhan sehingga ia mengatakan “Ini aku, utuslah aku”.
 
“Tuhan, engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”, demikian yang disampaikan oleh Yohanes dalam Yohanes 21:15-18. Kata Yesus kepadanya “Gembalakanlah domba-dombaKu”.
 
Sebagai seorang yang percaya kepada Kristus maka menjadi suatu sukacita yang besar untuk melayaniNya, ikut ambil bagian dalam pelayanan kepada Tuhan. Memberikan warna yang berbeda dalam kehidupan. Ketika ada banyak terjadi pertikaian, maka kita menjadi pendamai. Ketika banyak terjadi kejahatan, maka kita menjadi pembawa kebenaran.
Selamat Melayani Tuhan.
Pdt. Chrismori Br Ginting, S.Pd, S.Th
GBKP Runggun Yogyakarta
   

Page 1 of 77