GBKP Klasis Jakarta - Bandung

Liturgi Pekan-pekan

Download-Files PDF

 

Cara membuat Skype di Laptop - Computer

Artikel

CARA MEMBUAT SKYPE DI LAPTOP
Oleh: Pdt.S.Brahman,S.Th, MA

(1) Buatlah Email terlebih dahulu bagi yang belum mempunyai email (untuk membuat E-mail klik disini)
(2) Instal Software “Skype” (klik disini bagi yang belum mempunyai sofware “Skype”). Pada saat menginstal dapat memilih bahasa yang ingin dipergunakan.
(3) Setelah selesai proses menginstal, lihat di desktop icon “Skype” lalu di klik, muncul gambar di bawah ini.

 

UCAPAN SELAMAT NATAL GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG

Natal Klasis 2012

BP. GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG

 Nehken

SELAMAT NATAL
25 - 26 Desember 2014


Ras


NGALO-NGALO TAHUN BARU
01 Januari 2015

“Kata e enggo jadi manusia, janah Ia ringan i tengah-tengahta.
Enggo idah kami kemulianNa si mbelin,
e me kemulian si ibereken Dibata man baNa erkiteken Ia Anak Dibata si Tonggal.
Anak e encidahken lias ate ras kai si benar kerna Bapa e”
(Yohanes 1:14)

BP-KLASIS-2014-xxx-1

BP. GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG
PERIODE 2010 - 2015
------------------------------------------------------------------------
Ketua: Pdt. Sabar S. Brahmana, S.Th, MA;
Kabid. Koinonia: Pdt. Andreas Josep Tarigan, M.Div
Kabid. Marturia: Pt. Hendri Sembiring, SH, M.Si; Kabid. Diakoni: Dk. Ferdinand M. Sinuhaji
Sekretaris: Pdt. Iswan Ginting Manik, M.Div; Wkl. Sekretaris: Pt. Eddy T. Keliat
Bendahara: Pt. Tjanta Sinulingga       

Pegawai:
Rosanni Br Bangun; Jupiyanti Tarsika Br Tarigan

   

Khotbah Keluaran 17:8-16, Minggu 04 September 2016

Renungan

Invocatio :
Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-
jalan orang benar (Amsal 2:20)

Bacaan :
Kejadian 39:1-6 (Tunggal)

Tema :
Permata GBKP Terteki
 
 
1. Memahami dan Merenungkan Bacaan 1
a. Yusuf diperkirakan dijual pada saat usia 17 tahun dan diperkirakan bahwa Yusuf berada di rumah Potifar selama lebih kurang 10 tahun. Sekalipun dia berada di rumah Potifar tetapi dia tetap disertai oleh Tuhan (ay. 2). Dan penyertaan tersebut menyebabkan ada step-step kemajuan hidup Yusuf di rumah Potifar. Kemajuan tersebut adalah; segala yang diperbuatnya berhasil (ay. 2b). Potifar melihat bahwa Tuhanlah yang membuat pekerjaan Yusuf berhasil (ay. 3a) dan ini menyebabkan Potifar mengijinkan Yusuf melayani dia (ay. 4a). Tuhan memberkati Yusuf, bukan saat Yusuf berdiam diri, tetapi saat Yusuf juga bekerja. Ini terlihat dari kata-kata “Pekerjaannya” (ay. 2), “dikerjakannya” (ay. 3), “melayani dia” (ay. 4). Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan memberkati orang yang malas.

b. Potifar menyerahkan segala miliknya dalam kuasa Yusuf, sehingga dengan bantuan Yusuf ia tidak perlu mengurus apa-apa lagi kecuali makanannya sendiri (ay. 4b-6). Memang tidak diizankan bagi seorang Ibrani untuk mengurus makanan orang Mesir karena itu dianggap sebagai kekejian.

c. Penyerahan segala sesuatu ke dalam tangan Yusuf menyebabkan Potifar diberkati oleh Tuhan. (ay. 5b). Sama seperti Laban diberkati karena kehadiran Yakub (Kej. 30:27). Perenungan bagi kita bahwa kehadiran kita dimanapun kita bekerja, kita menjadi berkat bagi orang lain dan sekitar kita. Tetapi, penyebab utama dari semua itu adalah kedekatan dengan Tuhan. Kita akan menjadi berkat bagi orang lain, disaat kita terkoneksi baik dengan Tuhan. Yusuf disebut sebagai orang berhasil, bahkan akhirnya dipercaya sebagai penguasa Mesir (pada akhirnya) karena ia memiliki Tuhan yang hidup, yang senantiasa menyertai hidupnya. Keberhasilan Yusuf bukan karena apa yang dia miliki tetapi siapa yang dia miliki yaitu TUHAN yang dalam Efesus 3:20 dikatakan "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita"

d. Selama 10 tahun Yusuf ada di rumah Potifar dan oleh sebab “Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya” (ay. 6b). Dan kita bandingkan dengan ayat 10a “Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.” Tetapi Yusuf tetap masih bertahan dalam iman. Ini menunjukkan kehebatan Yusuf. Selama 10 tahun hidup di kalangan orang kafir, kerohaniannya bisa tetap terjaga dengan baik. Iman Yusuf tidak tergantung kondisi luar. Sekali lagi, bahwa Yusuf tidak melakukan hal zinah dengan istri Potifar bukan karena takut dengan Potifar yang merupakan tuannya, tetapi karena dia takut akan Tuhan. Yang perlu kita renungkan adalah ketika saat ini orang-orang lebih takut berbuat hal negatif dihadapan manusia daripada dihadapan Tuhan. (ingat lagu KAKR “mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat”). Jadi kalau tidak mau berdosa jangan dekati sumber dosa. Yusuf ketika digoda istri Potifar dia lari keluar (ay. 13) bukan lari ditempat. Ingatlah bahwa “integritas diuji saat kita merasa tidak ada ORANG yang melihat”. Integritas adalah menyatunya kata dan perbuatan atau menyatunya iman di dalam tindakan nyata. Alkitab berkata : ...TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya. Keberhasilan merupakan anugerah Allah. Tetapi, pada tingkat tertentu keberhasilan bisa menjadi jerat yang membuat dia lupa diri. Karena itu, keberhasilan yang sejati harus disertai dengan integritas yang teruji. Jangan mau kompromi dengan dosa. Ula kari ninta “sekali nge!” sekali nge lebe maka dua kali ras seterusna. Ingat PERMATA, saat ini banyak sekali yang “harga dirinya” murahan, tidak menjaga kekudusan saat masih PERMATA. Jangan sekali-sekali berzinah! Ada kalimat mengatakan “carilah pasangan yang mengajakmu buka Alkitab, bukan mengajakmu buka baju”

e. Memang kita tidak bisa menghindari adanya dosa ataupun godaan-godaan. Tetapi seperti kata Marthin Luther “Kita tidak bisa menghalangi burang terbang di atas kepala kita, tapi kita bisa mencegah burung bersarang di atas kepala kita”. Artinya dosa dan godaan akan tetap ada, tetapi jangan itu yang menguasai kita, sehingga kita benar-benar menjadi orang yang bisa dipercaya. Luk. 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Perlu diingat oleh setiap kita secara khusus oleh PERMATA, dalam mencari pekerjaan atau pasangan hidup tetaplah berintegritas, TUHAN sendiri yang akan mem-PROMOSI-kan kita. Seperti Yusuf yang diberi kemampuan untuk menafsir mimpi Firaun yang pada akhirnya menjadi orang nomor dua di Mesir. Akan tetap ada cara ajaib Tuhan yang jauh di luar nalar kita.
 
2. Memahami dan merenungkan bacaan ke 2
a. Menurut Kej.36:12, “Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau,” Amalek adalah cucu Esau. Dan Bilangan 24:20, Amalek adalah bangsa pertama yang melawan Israel, “Ketika ia melihat orang Amalek, diucapkannyalah sanjaknya, katanya: Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan.” Amalek memerangi Israel karena ingin merebut sumber air.

b. Nats ini bercerita tentang pertempuran antara Israel dan Amalek di Rafidim. Tetapi pertempuran itu adalah pertempuran dimana Allah sendiri yang berperang melawan Amalek (Ul.25:17–19; Kel.17:14). Amalek jelas-jelas memberontak kepada Allah, sehingga Allah-lah yang berperang. Sehingga Musa naik ke bukit, dan berdoa, dan bukannya membuat mujizat langsung dari tongkat. Hasil doa Musa, Allah dikenal sebagai Jehovah Nissi (Tuhan panji-panji Israel). Satu-satunya tempat dalam Alkitab dimana Tuhan disebut sebagai Jehovah Nissi. Jehovah Nissi menunjukkan bahwa ketika Israel melangkah menuju Kanaan, Tuhan menyertai. Tuhan menjadi “penunjuk arah” bagi umatNya. Yang perlu kita renungkan adalah dunia dan segala isinya ini banyak menawarkan segala-sesuatu, tetapi ingatlah bahwa Allahlah Sang Penuntun hidup kita yang sejati. Jangan mengikuti arah yang dunia ini inginkan, tetapi ikutklah YEHOVAH NISSI (TUHAN Panji-panji Israel Sang Penuntun).

c. Perjalanan kehidupan kita persis sama seperti proses keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Di tengah jalan banyak tantangan dan rintangan. Ingat, bahwa menjadi Kristen tidak pernah ditawarkan jalan penuh dengan bunga mawar bahkan dikatakan “harus pikul salib”. Menjadi PERMATA saat ini memiliki tantangan tersendiri. Baik tantangan dari dalam diri sendiri yaitu keinginan daging dan tantangan dari luar seperti misal teknologi-medsos-game online dsb. Ingatlah bahwa kita tidak akan mampu jika mengandalkan kemampuan diri sendiri dalam menghadapi tantangan tsb. Efesus 6:11-18 “ Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus” Jangan memberi kesempatan mata untuk melihat sesuatu yang mendatangkan dosa, telinga jangan dipersiapkan untuk mendengar hal-hal yang membuat hati kita rusak, pikiran dilindungi oleh damai sejahtera Allah, mulut dijaga supaya tidak mengeluarkan kata-kata tidak baik. Ini semua dikenakan pada kepala kita sebagai ketopong keselamatan.

d. Dalam hukum perang, seorang yang mengangkat tangan di hadapan musuh menunjukkan tanda menyerah. Demikian pula saat Musa mengangkat kedua tangannya, berarti dia merasa tidak mampu menghadapi Amalek sehingga Tuhan berperang melawan Amalek. Bukti kehidupan yang menyerah sepenuh kepada Tuhan ialah ‘bila kita mengangkat tangan, Tuhan akan turun tangan’. Mengangkat tangan juga berarti berada di pihak Allah; kalau Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita (Rom. 8:31).

e. “Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.” (ay. 12) Tugas pekerjaan besar hanya akan berhasil kalau dilakukan bersama-sama dalam kesatuan sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak namun semua anggota meskipun banyak merupakan satu tubuh; demikian pula Kristus (1 Kor 12:12). PERMATA bukan “aku” tetapi “kita”. Biarlah setiap anggota tidak mementingkan dirinya sendiri. Jaga integritas dan biarlah segala tanggungjawab yang diemban seperti Yusuf dan Yosua tetap bisa dipercaya.
 
Pdt. Dasma S. Turnip
Runggun Pontianak
 

Pekan Penatalayanan Wari VII, Filipi 1:20-26

Renungan

Invocatio :
Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata : “Siapakah yang akan
Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”
(Yesaya 6:8)

Ogen :
Yohanes 21:15-18

Tema :
Aku Ikut Mengambil Bagian Sebagai Pelayan Tuhan (Kubuat
Baginku Selaku Aron Dibata)
 
Pengantar
Kehidupan di dunia ini pasti akan diperhadapkan dengan dua hal, yaitu kehidupan dan kematian. Paulus, sebagai seorang rasul Kristus, ketika diperhadapkan dengan hal ini mengatakan bahwa “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Saat menulis surat Filipi, Paulus berada dalam penjara. Ia tidak tahu apakah kemudian akan selamat, ataukah harus mati di penjara. Namun, baik mati maupun hidup sama baiknya bagi Paulus. Mengapa Paulus dapat memiliki keyakinan seperti itu? Apakah hidup Anda juga untuk Kristus ?
Melalui Filipi 1:20-26, kita akan berupaya untuk memahami kehidupan setiap orang yangpercaya kepada Tuhan.
 
Tafsiran : Filipi 1:20-26
Ayat 20 “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku
dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sedia kala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku”
Pengharapan Paulus adalah bahwa ia tidak akan dipermalukan. Paulus merasa pastibahwa dalam Kristus ia menemukan keberanian untuk tidak merasa malu karena Injil, melalui Kristus pekerjaanNya dapat menjadi berguna bagi semua orang. J. B. Lightfoot menulis, “Hak untuk berbicara adalah tanda pengenal, hak istimewa dari pelayan Kristus.” Berbicara tetang kebenaran dengan penuh keberanian bukan hanya hak istimewa pelayan Kristus, tetapi juga menjadi kewajibannya.
 
Karena itu, bila Paulus memakai kesempatannya secara berani dan efektif, Kristus akan dimuliakan di dalam dia. Tidak menjadi masalah apa yang terjadi pada dirinya. Bila ia mati, ia akan menerima mahkota seorang martir. Bila ia hidup, ia akan memiliki kesempatan dengan hak istimewanya untuk terus memberitakan dan bersaksi bagi Kristus. Seperti yang diungkapkan olehEllicott, bahwa Paulus sesungguhnya sedang berkata, “Tubuhku adalah gedung teater dimana kemuliaan Kristus sedang dipertontonkan.” Inilah tanggungjawab orang Kristen yang cukup penting. Sekali kita telah memilih Kristus, melalui seluruh hidup dan tindakan kita membawa kemuliaan, atau justru mempermalukan namaNya. Seorang pemimpin dinilai dari pengikutnya
dan Kristus dinilai dari kita.
 
Ayat 21-22 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
Ketika dalam penjara Paulus menantikan pemeriksaan perkaranya. Ia menghadapai dua kemungkinan, yaitu hidup atau mati. Namun, kemungkinan manapun baginya tetap sama.
 
“Hidup adalah Kristus”. Bagi Paulus, Kristus adalah awal kehidupannya sebab pada hari ketika ia berjalan ke Damaskus, ia memulai hidup yang baru. Kristus adalah hidup baru yang ia jalani. Tak satupun hari dijalani Paulus tanpa kehadiranNya dan dalam saat-saat yang menakutkan, Kristus hadir disana untuk menghiburnya (Kis. 18:9,10). Kristus adalah tujuan hidupnya sebab dihadiratNya yang kekal Paulus mengarahkan seluruh hidupnya. Kristus adalah inspirasi bagi kehidupan; IA juga dinamika dalam kehidupan. Bagi Paulus, Kristus telah memberi tugas kehidupan karena Dialah yang mengangkat Paulus menjadi rasul dan mengutusnya sebagai pengabar Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Bagi Paulus, Kristus telah memberi kekuatan untuk menjalani hidup sebab kasih karunia Kristus yang serba mencukupi, telah menyempurnakan kelemahan Paulus. Baginya, Kristus adalah upah kehidupan karena upah satu satunya yang berarti adalah hubungan yang semakin dekat dengan Tuhannya. Apabila Kristus direnggut dari hidupnya maka bagi Paulus hidup ini menjadi tidak berarti apa-apa.
 
“Mati adalah keuntungan.” Kematian adalah pintu masuk ke hadirat Kristus yang makin dekat. Di sini, Paulus melihat bahwa kematian adalah sebagai kepindahan segera ke dalam hadirat Tuhan. Bila kita percaya kepada Yesus Kristus, kematian merupakan persekutuan (union) dan persekutuan kembali (reunion); persekutuan dengan Dia dan persekutuan kembali dengan mereka yang kita kasihi dan mereka yang pergi meninggalkan kita untuk sementara.
 
Orang percaya yang sejati, yang hidup di tengah-tengah kehendak Allah, tidak perlu takut terhadap kematian. Mereka mengetahui bahwa Allah mempunyai maksud untuk kehidupan mereka dan bahwa kematian, bila itu datang, hanya merupakan akhir tugas mereka di dunia dan awal kehidupan yang lebih indah bersama Kristus.
 
Hidup atau mati: demi dan dalam Kristus. Inilah kerinduan terdalam Paulus, yaitu bahwa hidup atau matinya untuk mempermuliakan Kristus. Karena hubungannya dengan Kristus sedemikian akrab maka kondisi-kondisi yang berubah-ubah tidak mempengaruhi kesetiaannya, kualitas kerohaniannya maupun kobaran semangat pelayanannya. Sebaliknya penderitaan adalah kesempatan untuk mengalami keindahan persekutuan Kristen lebih dalam  dan membuat ia lebih berharap berjumpa Kristus. Untuk Paulus hidup atau mati tidak masalah. Yang penting dalam pengalaman mana pun, ia tetap menyatakan Kristus dan ia ingin memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi jemaat Tuhan. Alangkah hebatnya pengaruh orang-orang yang berprinsip sama dalam kualitas pelayanan gerejani kita. Kiranya Roh Allah mengaruniakan kita prinsip hidup yang sama dengan Paulus.
 
Ayat 23-26 Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-
sama dengan Kristus --itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman,sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada
kamu.
Paulus berada diantara dua pilihan. “Aku didesak” katanya “dari dua pihak”. Kata yang digunakan adalah senekhomai, kata yang akan dipakai oleh pengembara ketika berada di jurang yang sempit, dan dinding batu pada kedua sisinya, tak sanggup lagi berputar arah selain hanya dapat berjalan terus. Paulus sesungguhnya ingin pergi supaya tinggal bersama Kristus; namun demi kawan-kawannya dan demi apa yang dapat dilakukannya bersama untuk mereka, ia ingin tetap tinggal di dunia. Lalu muncullah pikiran bahwa pilihannya tidak tergantung pada dirinya,tetapi pada Allah.“Aku ingin pergi”, kata Paulus. Kata “pergi” yang dipakai di sini adalah analeuin.
 
1. Kata yang digunakan untuk merobohkan tenda, mengendorkan tali-tali yang mengikatnya, mencabut pasak-pasaknya, dan meneruskan perjalanan. Jadi, kematian adalah “meneruskan perjalanan”. Tiap hari merupakan hari per-arak-arak-an yang semakin dekat ke rumah hingga akhirnya perkemahan dalam dunia ini dibongkar dan ditukar dengan tempat tinggal yang permanen dalam dunia kemuliaan.
 
2. Kata ini juga digunakan untuk mengendorkan tali-tali kapal, mengangkat jangkar dan mengembangkan layar. Kematian adalah layar terkembang. Di dalam kematian, kita berangkat menuju pelabuhan kekal untuk tinggal bersama Allah.
 
Adalah keyakinan Paulus bahwa ia akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan mereka. Kerinduan Paulus untuk hidup bukanlah demi dirinya sendiri, melainkan demi mereka yang seterusnya ingin ia bantu. Apabila Paulus dibebaskan untuk datang menjumpai mereka lagi, mereka akan memiliki dirinya sebagai alasan untuk menjadi bangga dalam Yesus Kristus. Maksudnya, mereka dapat memandang dia dan melihat dalam dirinya suatu contoh bagaimana, melalui Kristus, seorang dapat menghadapi keadaan yang paling buruk dan tidak gentar. Merupakan tugas setiap orang Kristen untuk meyakini bahwa orang sanggup melihat apa yang dapat dilakukan Kristus bagi orang yang telah memberi hidupnya kepadaNya.
 
Jadi, bagi Paulus persoalannya bukan mati atau hidup, asalkan kedua-duanya memuliakan Tuhan. Di satu sisi memang kematian akan menyelesaikan perkara penderitaan dan kesusahan di dunia ini. Kematian berarti permulaan dari menikmati secara penuh persekutuan keselamatan yang telah Kristus kerjakan. Namun, di sisi lainnya Paulus melihat kebutuhan dan sekaligus panggilan Tuhan untuk tetap berkarya di dalam dunia ini. Paulus melihat kebutuhan konkrit jemaat Filipi dan pelayanan mereka. Oleh sebab itu Paulus memutuskan untuk taat pada kehendak Allah yaitu tinggal di dalam dunia ini untuk hidup menghasilkan buah. Kematian bukan pelarian bagi Paulus. Selama ia hidup, ia harus memberi buah: menjadi berkat bagi orang-orang yang kepadanya Tuhan pertemukan. Kalau tiba waktunya kematian menjemput, Paulus tahu ia akan ke sorga mulia. Namun, sekarang selagi ia hidup berarti bekerja dan melayani Tuhan.
 
Aplikasi
Ada sebuah kisah yang dapat menolong kita untuk memahami tentang kehidupan sebagai seorang yang sudah hidup dalam Kristus. Kisah tetang seorang pemahat dari Perancis, Dannecker, terkenal karena karyanya yang menampilkan Ariadne dan dewi-dewi Yunani lainnya. Suatu kali ia terdorong untuk mencurahkan segenap energi dan waktunya untuk menghasilkan sebuah adikarya. Ia bertekad untuk mengukir sosok Kristus. Dua kali usahanya gagal sebelum  akhirnya berhasil memahat patung Kristus secara prima. Karyanya begitu elok dan agung, sehingga setiap orang yang memandangnya sangat begitu mengaguminya.
 
Suatu kali ia menerima undangan dari Napoleon. "Datanglah ke Paris," kata Napoleon. "Tolong ukirkan bagi saya patung Venus untuk ditempatkan di Louvre." Dannecker menolak. Jawabannya sederhana, namun telak: "Tuan, tangan yang pernah memahat Kristus ini tak akan dapat lagi memahat dewi kafir."
Sosok Kristus yang sejati, adikarya yang sesungguhnya, juga telah "dipahat" di dalam diri setiap anak Tuhan. Kita dipanggil untuk menanggalkan manusia lama yang duniawi dan mengenakan manusia baru yang rohani. Kalau dahulu kita "diukir" menurut pola pikir duniawi yang cenderung egois dan merusak, sekarang kita tengah "ditatah" untuk menjadi manusia baru, serupa dengan karakter Kristus. Proses pembentukan ini berlangsung melalui ketaatan kepada pimpinan Tuhan. Sehingga dalam kehidupan kita akan mampu menyatakan bahwa dalam kehidupan ini “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Mendorong kita ketika menjalani kehidupan di dunia ini, maka seluruh pengabdian hidup kita hanyalah bagi kemuliaanNya.
 
Dalam situasi kehidupan yang bagaimanapun Paulus tetap berkomitmen untuk melayani Tuhan, bahkan dalam penjara sekalipun, ia tetap melayani Tuhan. Tidak ada satu hal apapun yang membuatnya kendor ataupun patah semangat untuk melayani Tuhan. Meskipun diperhadapkan dengan kematian sekalipun, ia tetap setia ikut ambil bagian dalam pelayanan kepada Tuhan. Hal ini terjadi karena Paulus menyadari bahwa “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Galatia 2:20)
 
Demikian juga halnya dengan Yesaya seperti yang disampaikan dalam introitus, yang mengatakan : Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata : “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku : “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8). Pengenalan yang sungguh kepada Tuhan, membawanya hidup untuk melayani Tuhan sehingga ia mengatakan “Ini aku, utuslah aku”.
 
“Tuhan, engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”, demikian yang disampaikan oleh Yohanes dalam Yohanes 21:15-18. Kata Yesus kepadanya “Gembalakanlah domba-dombaKu”.
 
Sebagai seorang yang percaya kepada Kristus maka menjadi suatu sukacita yang besar untuk melayaniNya, ikut ambil bagian dalam pelayanan kepada Tuhan. Memberikan warna yang berbeda dalam kehidupan. Ketika ada banyak terjadi pertikaian, maka kita menjadi pendamai. Ketika banyak terjadi kejahatan, maka kita menjadi pembawa kebenaran.
Selamat Melayani Tuhan.
Pdt. Chrismori Br Ginting, S.Pd, S.Th
GBKP Runggun Yogyakarta
   

Page 3 of 141