Khotbah Pengkhotbah 11-1-8, Minggu 26 Juni 2016 (Minggu V setelah Trinitatis) Minggu Merdang

Renungan

Invocatio :
Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, 
akan menuai dengan bersorak-sorai (Mazmur 126:5)

Bacaan :
Galatia 6:7-10

Tema :
Taburlah, Allah memberkati.
 

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Minggu ini disebut Minggu MERDANG, asal kata erdang artinya tabur benih, tanam benih, sebar benih, misalnya bibit padi pada ladang kering. Dengan demikian merdang berarti menanam benih, menabur benih, menyebar benih. Filosofinya : menabung. Ada terlebih dahulu usaha atau pengeluaran (daya dan dana), baru kemudian akan memetik hasil atau pemasukan yang lebih. Sesuai invocatio “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai”. Secara Teologis, kronologis etika pertanggunganjawab kerja, manusia harus melakukan terlebih dahulu apa yang menjadi bagiannya yaitu menabur. Tuhan akan melakukan juga apa yang menjadi bagian-Nya yaitu memberkati. Jadi sesuai tema: Taburlah, Allah memberkati. Dalam realita, sadar atau tidak kadang kala manusia “memperbudak Tuhan” dengan meminta (baca = menyuruh) Tuhan untuk melakukan apa yang menjadi kemauannya, tanpa dia sendiri melakukan apa-apa. Sesuai dengan medan pelayanan GBKP yang agraris berhubungan dengan menanam tanam-tanaman, maka dalam Liturgi GBKP Model 3 (LITURGI 52 MINGGU) disamping ada LITURGI MINGGU KERJA RANI, maka mulai Tahun 2015 sudah disiapkan dan dimulai menggunakan LITURGI MINGGU MERDANG.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Kitab Pengkhotbah yang menjadi perenungan kita hari ini, satu kelompok kitab Perjanjian Lama yang disebut Kitab-Kitab Kebijaksanaan, seperti : Kitab Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung. Dan sesuai dengan sebutannya, kitab-kitab memuat kebijaksanaan hidup, baik sebagai manusia biasa, maupun sebagai orang beriman, dan biasanya dipakai untuk menasihati orang-orang muda atau orang-orang yang kurang terpelajar.Tampaknya Kitab-Kitab Kebijaksanaan itu berasal dari nasihat-nasihat lisan yang disampaikan secara turun-temurun selama berabad-abad, baru kemudian ditulis secara bertahap sejak masa pemerintahan Raja Daud dan Raja Salomo (abad 11-10 SM).
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Kalau Kitab Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung, dijuluki Three In One artinya 3 buku ditulis Salomo, seorang Raja yang terkenal karena kebijaksanaannya. Mengapa ? Saat Tuhan berfirman : Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu. Ternyata Salomo tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuh, melainkan pengertian atau hati yang paham menimbang atau kebijaksanaan. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran 2 (dua) orang perempuan sundal. Mereka melahirkan pada waktu yang hampir bersamaan hanya beda 3 hari. Pada waktu malam ada seorang anak yang mati karena menidurinya. Sehingga masing-masing menyatakan anak yang masih hidup adalah anaknya. Raja berkata: ambillah pedang, penggallah anak yang masih hidup itu menjadi dua dan berikan setengah kepada yang satu dan setengah kepada yang lain. Maka kata perempuan yang yang empunya anak yang hidup itu, berikan saja bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia. Namun kata perempuan yang satu lagi : supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah! Akhirnya kata raja : Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Saat Salomo masih muda, menulis Kidung Agung. Jelas nuansa percintaan. Saat sudah dewasa menulis Amsal. Jelas nuansa kata-kata bijak. Setelah sudah tua menulis Pengkhotbah. Jelas sepintas nuansa kesia-siaan. Namun ada kata kunci : “Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya…” Pkh. 3:14.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Dalam perikop kita ini, sangat kental dengan nilai-nilai hikmat dalam pribahasa, seperti judul dalam bahasa Indonesia “PEDOMAN-PEDOMAN HIKMAT”. Dalam Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) “TINDAKAN ORANG YANG BIJAKSANA”. Sedangkan dalam terjemahan J.H.Neumann “DAHI DAHINNDU KAI GIA LIT SI NGAMBATI (artinya kerjakanlah pekerjaanmu, walau ada hambatan, atau bahasa kini tantangan menjadi peluang). Ayat 1 “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatkannya kembali lama setelah itu”. Berbicara roti, tentu tak terlepas dari bahan utama butir-butir gandum. Mengingatkan orang Mesir yang menaburkan butir-butir gandum diatas air yang menggenangi ladang-ladang mereka ketika sungai Nil banjir setiap tahun. Kelihatannya butir-butir yang ditaburkan itu tenggelam dan hampir terlupakan, tetapi diluar dugaan pada saat yang indah akan ada panen. Seperti nyanyian GBKP No.68… e mate kap benih lebe…lah turah page nge. Yang kelihatannya mati, terlupakan, namun hidup berbuah banyak. Gambaran ini memotivasi untuk berbuat dan berbuat terlebih bermurah hati untuk menolong orang lain. Paulus menekankan dalam 2 Kor.8:10-15 “…Jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu… maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. ”Ada yang menafsirkan ibarat memancing ikan, dengan melemparkan umpan kedalam air, yang kembali berupa ikan yang ditangkap melebihi nilai umpan yang dilemparkan tadi. Ada yang membandingkan modal yang ditanam dalam perusahaan dan pada waktunya kembali berupa untung.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Tentu kita mengimani dan mengamini, Allah menciptakan dunia dan isinya baik adanya. Karena hasil evaluasi : “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Baik disini diukur dengan relasi tingkat horizontal, tidak ada tabrakan satu dengan yang lain; relasi tingkat vertikal antara ciptaan dengan Allah, dalam hal ini manusia dengan Allah juga mempunyai relasi yang baik. Mereka hidup berkecukupan, dan merasakan adanya damai sejahtera. Mereka melakukan apa yang menjadi bagiannya, dan Allah melakukan apa yang menjadi bagian Allah yaitu memberkati usaha-usaha manusia.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Dalam melaksanakan apa yang menjadi bagian manusia yaitu untuk menjalankan usahanya, manusia perlu waspada artinya mempertimbangkan gejala-gejala alam. Misalnya pada ayat 3, bila awan mengandung air, hujan pun akan turun. Namun diingatkan jangan tunggu sampai cuaca sempurna, maka sampai kapanpun tak akan menanam dan pada gilirannya tidak akan memetik hasilnya. Kitab Pengkhotbah tidak bermaksud mematahkan semangat, tetapi sebuah peringatan agar jangan mengharapkan terlalu banyak, yang dapat menimbulkan kekecewaan.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Kalau hari ini kita merayakan MINGGU MERDANG, artinya kita merayakan kehidupan yang berempati (mampu memahami perasan dan pemikiran orang) dan bersimpati (keikut-sertaan merasakan perasaan orang lain) seperti bacaan Galatia 6:7-10 agar jangan bosan melakukan hal-hal yang baik, sebab kalau kita tidak berhenti melakukan hal-hal itu sekali kelak kita akan menuai hasilnya. Dan selama ada kesempatan, hendaklah kita berbuat baik.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Kerap kali kita mendengar orang berkata: Hidup ini hanya sekali, nikmatilah sepuas-puasnya!. Tidak salah, memang hidup hanya sekali. Tapi justru karena hanya sekali, kita harus mempergunakannya sebaik-baiknya bukan semau-maunya, sebenar-benarnya bukan sepuas-puasnya. Hidup ini adalah titipan yang pada saatnya nanti harus kita pertanggungjawabkan kepada yang menitipkannya yaitu Tuhan. Tindakan hidup semaunya atau seenaknya membuat hidup ini tidak bermakna. Menikmati hidup yang benar ketika kita bisa bertindak dan melakukan segala sesuatu dengan baik dan benar dalam terang iman kepada Tuhan Pemilik hidup. Bagi orang yang sudah berupaya hidup benar dan bertanggungjawab, maka Allah sudah menyediakan yang terbaik bahkan kemuliaan abadi. Bagi mereka yang bergantung kepada Dia Yang Tak Terukur Kuasa-Nya,Tak Terselami Jalan-Nya, Tak Terselidiki Keputusan-Nya, Tak Terduga Hikmat-Nya.Sudah saatnya: ubahlah apa yang tidak bisa kita terima dan terimalah apa yang tidak bisa kita ubah. Mari segera laksanakan apa yang menjadi bagian kita yaitu menabur, dan tunggu dengan sabar berkat Tuhan serta pasti kita akan bersorak-sorai.
 
Pdt. EP. Sembiring
 

Khotbah Amsal 23:16-16, Minggu tanggal 19 Juni 2016

Renungan

Invocatio :
Pikullah Kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu,
Karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan
mendapat ketenangan ( Matius 11 : 29 )

Bacaan :
Mazmur94 : 8-16 ( Responsoria )

Tema :
Teruslahbelajar

PENDAHULUAN
Didunia ini tidak ada orang yang sempurna dalam pengetahuan dan pengertian ( hikmat ) . Tuhan adalah sumber pengetahuan dan hikmat, hanya Dialah yang sempurna . Orang-orang yang mau belajar merasa semakin banyak yang dia tidak ketahui dan mencari sampai mengetahui. Namun mengapa ada orang yang tidak mau belajar ? Menurut saya, tangtangan bagi manusia yang tidak mau belajar adalah karena “merasa sudah tahu “dan karena “merasa tidak perlu tahu”.
 
ISI
Penulis kitab Amsal adalah Raja Salomo. Dia menuliskan kitab Amsal untuk mengingatkan anaknya ( generasi penerus ) agar memperhatikan, mendengar dan mengingat didikan atau nasehat orangtua.
Pasal 23 : 12 “ arahkanlah perhatianmu kepada didikan, telingamu kepada kata-kata pengetahuan. ( Bhs Inggris : listen to instruction and do your best to learn ). Belajar memerhatikan berarti belajar dengan mata( Visual ) . Kejadian-kejadian disekitar dilihat oleh mata kita. Mata kita melihat hal yang baik dan yang tidak baik. Dengan demikian kita beroleh pengetahuan untuk memilih apa yang harus kita lakukan, pilihan kita tentunya adalah yang baik. Belajar berarti juga banyak mendengar ( Audio ), dengan menggunakan telinga kita menerima pengajaran-pengajaran dan perkataan-perkataan yang mengarahkan kita kepada pengetahuan yang benar.
 
Pasal 23 : 13-14 “ jangan menolak didikan dari anakmu ( Bhs. Inggris : Don’t fail to correct your children ) , kalau engkau memukulnya dengan rotan tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari orang mati”. Tentunya orang tua menginginkan anaknya menjadi anak yang cerdas dan beretika baik. Orang tua berusaha mengajari anak-anaknya, melalui pendidikan formal ( Paud, TK, SD, SMP, SMU, Perguruan tinggi ) dan pendidikan non formal ( dalam pengembangan keterampilan dan bakat ). Tidak bijak bila orang tua menyerahkan pendidikan anaknya hanya kepada orang lain. Orangtua adalah guru pertama bagi anak-anak mereka. Orangtua yang bertanggungjawab mengajar anak dan membimbing anak untuk mengenal Tuhan. Namun dalam mengajar anak, tentu tidak semudah mengatakannya karena dalam prakteknya banyak orang tua yang sangat bergumul dalam mengajari anaknya untuk berperilaku yang baik dan benar. Sampai-sampai ada orang tua terkadang, harus memukul anak mereka supaya anak berubah menjadi baik. “ Memukul dengan rotan “bukan bermaksud, supaya orang tua mendidik dengan kekerasan namun dalam hal tertentu orang tua harus melakukannya untuk kebaikan sianak di masa depan. Misalnya : seorang anak mencuri uang orangtuanya Rp.50.000,-, . Ditanyaorang tuanya, tidak mau mengaku. Setelah disediki, pemilik warung sebelah rumahnya mengatakan kalau sianak itu jajan dengan uangRp. 50.000- ,. ketahuan ,kalau sianak sudah mencuri, tidak jujur ( bohong ). Akhirnya si ayah memukul sianak. Terasa sakit sampai sianak menangis serta mengaku dan minta ampun. Sianak mengatakan kalau dia mengambil uang tersebut menurutnya bukan mencuri karena uang itu adalah milik ayahnya sendiri. Siayah berkata kepada sianak ,“itu tidak baik dan perbuatan dosa, walau uang ayah sendiri, harus meminta terlebih dahulu”. Ini pembelajaran yang terus diingat anak itu, sehingg ia tidak pernah mau mengambil yang bukan miliknya sendiri.
 
Pasal 23 : 15-16 “ hai anakku, jika hatimu bijak, hatiku juga bersukacita. Jiwaku bersukaria kalau bibirmu mengatakan yang jujur”. Orang bijak adalah orang yang berakal budi, pandai, mahir. Hati yang bijak berarti orang yang hatinya menuju jalan yang benar dan hidup jujur. Kejujuran adalah lurus hati tidak berbohong, berkata apa adanya, tidak curang, misalnya : dalam permainan, dengan mengikuti aturan yang berlaku , tulus ikhlas. Orang tua sangat bersukacita jika anak jujur dalam hidupnya.
 
Ibadah minggu ini disebut Minggu Pendidikan. Pendidikan dalam Bahasa Inggris disebut “Education”berasal dari Bahasa Latin, “ Ex : keluar“ dan “Ducare : Menghantar , mengarahkan, memimpin” . Mendidik anak berarti menghantar keluar bukan menahan atau mengungkung dalam pengaruh orangtua. Godaan bagi orangtua dalam mendidik anak adalah :
  1. Posesif : bersikap memiliki berlebihan ( anak tidak dibiarkan untuk mandiri )
  2. Protektif : bersikap melindungi berlebihan ( anak tidak dibolehkan bergaul dengan lingkungan luar rumah ). Mendekap seakan melindungi padahal mengekang.
Dorothy Nolte ( Pendidik Australia ) mengatakan : 
Anak yang hidup dalam kecamanakan belajar mencela
Anak yang hidup dalam suasana permusuhan akan belajar bertengkar
Anak yang hidup dalam ejekan akan menjadi pemalu
Anak yang hidup dalam suasana iri akan menjadi pesimis
Sebaliknya,
Anak yang hidup dalam dukungan akan belajar untuk punya yakin diri
Anak yang hidup dengan pujian akan belajar untuk menghargai.

Melalui nats khotbah ini, kita diajak untuk terus belajar bukan hanya belajar sebagai orang tua kepada anak tetapi lebih dari itu. Sebagai anak-anak Tuhan kita harus banyak belajar mengenal Tuhan. Belajar lemah lembut dan rendah hati ( band. Invocatio , Mat 11 : 29 ). Belajar menggunakan akal budi, telinga untuk mendengar, mata untuk melihat , kepada taurat Tuhan ( band. Bacaan Maz.94 : 8-16 ). Sehingga hidup kita menghasilkan yang baik, benar dan adil. Sehingga kejahatan jauh dari pada kita. Teruslah belajar !Amin.

Pdt. Karvintaria br Ginting, STh
GBKP Rg.Klender-Klasis Jakarta Kalimantan
HP : 08126359640
 

Pekan Doa Sedoni wari III, OGen Juna 2:1-3:3

Renungan

Invocatio :
Nandangi Undang - undang e aku situhuna enggo mate,janah lanai lit
sitik pe kuasa Undang - Undang e nandangi aku seh maka banci aku nggeluh guna Dibata. Aku enggo I pakuken ras Kristus I Kayu persilang. Lanai aku si nggeluh,tapi Kristus kap singgeluh ibas aku.Kegeluhen ku Si genduari ibas doni enda ku geluhken erkiteken kiniteken man anak Dibata,si engkelengi aku dingen ngendesken dirina man gunaku(Galatia 2:19-20).

Thema :
“Aron Dibata si ertoto,situtus ndalanken komitmen”

Senina ras turang ibas keleng ate Yesus Kristus,lit kata bijak ngataken,”totokenlah kai si idahiken,dahiken lah kai si itotoken”.Ertina ibas pertoton kita ngendesken kerina kegeluhenta radu ras pendahinta, bage pe arus mejingkat ndahiken kai si enggo sitotoken man Dibata.Kegeluhen anak- anak Dibata eme kegeluhen ibas ertoto,sebab arah pertotonta man Dibata kita ndatken gegeh,serpang pulah ras pasu pasu.
 
Ibas pekan doa sedoni sipe 3 ken enda, kita I persingeti mulihi kerna tugas ras panggilan man kerina perpulungen ibas ndahiken dahin pelayanen gerejanta. Erpalasken Garis – garis Besar Pelayanan Gerejanta si jadi perayakentaras, ibas tahun 2016 - 2020 eme :

1. Visi : “GBKP menjadi kawan sekerja Allah untuk menyatakan rahmat
Allah kepada dunia”. “GBKP aron Dibata guna jadi pasu – pasu man isi doni”.(1 Kor.3:9, 1Pet.2:9-10)

2. Misi :
• Menumbuh kembangkan spiritualitas jemaat berbasis alkitab.
• Menegakkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan Allah.
• Memperkuat semangat gotong royong antar sesama jemaat dan masyarakat.
• Menggali dan Menumbuh kembangkan potensi jemaat untuk bersekutu dan bersinergi.

3. Tujuan : Meningkatkan panggilan dan komitmen warga dalam melakukan pelayanan (Berteologia, Pendidikan dan kesehatan, Berpolitik, dan kegiatan ekonomi, pelestarian lingkungan Budaya dan pemanfaatan teknologi informasi).

4. Sasaran GBKP tahun 2016 : Meningkatkan komitmen warga GBKP yang missioner untuk berpartisipasi dalam pelayanan
 
Guna nuju ku bas visi, misi , tujuan ras sasaran GBKP enda tentu labo serta gegeh ras pemeteh silit ibas kerina serayan ras jemaat tanpa campur tangan Dibata ibas ngelakokenca. Bagi si I alami kita ibas kerina perdalinen gerejanta ibas perantauan enda, erbage bage tantangen ras perbeben si hadapi kita. Banci jadi, ibas situasi kegeluhen ekonomi jemaat si lamenentu rikutken propesina erkiteken tinggina tingkat persaingan ibas erbage bage bidang. Sulitna membangun ras ngurus surat izin ibadah gereja. Ketidak nyamanen ibas kita beribadah erkiteken situasi lingkungen ras sidebanna. Kecibal sibage rupana tentu mpengaruhi ku bas semangat pelayanen, pengarapen ras kinitekenta man Dibata.
 
Arah kata Dibata ibas kitab Juna 2: 1 – 3:3 enda, ibabai ngidah ku bas pengalamen nabi juna ibas ia ndahiken dahin pelayanen si iperentahken Dibata eme nehken hukumen Dibata man kalak kuta Niniwe. Nabi juna ertoto man Dibata, mindo perkuah ate Dibata nelamatken ia ibas kiniseranna nari. Tuhan megiken pertotonna. Dibata me ulu kegeluhen ras keselamaten Nabi Juna. Dibata kepeken dem alu keleng ate. ia labo ertaktak kerna kesalahen ras dosa Nabi Juna tapi ngalemi kegeluhenna. Setiap jelma bage pe bangsa – bangsa labo i hukumna adi nggit jera adi mindo perkuah ate Na. Dibata tetap mereken kesempaten guna jera ras empehuli hubungenna ras Dibata. Bagi NabI Juna ertoto dem alu ketutusen ras kiniteruken ukur mindo perkuah ate Dibata . Tole pe I je tangkas kel maka campur tangan Tuhan nge kalak Niniwe megiken ras tek man berita si I peseh juna.
 
Kita kerina eme aron Dibata ibas nehken Berita si Meriah, nehken kerina dahin pelayanen sue ras tingkatenna ibas gereja nta. Labo kepeken bias gegeh, pemeteh, pengalamen si ban ibas ndahiken dahin Tuhan e. Tapi kita membutuhken gegeh ras pasu – pasu bas Tuhan nari. Segelah seh bagi visi, misi, tujuan ras sasaran pelayanan gerejanta. Gegeh pemeteh jadi serta e me erkiten ulih arah pertotonta man Tuhan. Pertoton eme gegeh ras kegeluhen anak anak Tuhan. Arah pertoton me kita i pelimbarui, I pegegehi, I perlengkapi dingen peturah semangat ras komitmenta ibas ndahiken dahin Tuhan sue ras talenta si ibereken man banta
 
Ibas invocatio Galati 2: 20, Rasul Paulus ningetken: lanaibo aku si nggeluh tapi Kristus si Nggeluh ibas aku, ertina man banta segelah kerina kalak si tek e me si enggo i pelimbarui erpalasken keleng ate Kristus, ia lanai mengedepanken sura – sura ukurna secara pribadi tapi nehken sura – sura Tuhan ibas kerina kegeluhen, pendahin ras pelayanen I tengah – tengah gerejanta. Bahanlah I se kerina alu ertoto mindo penampat man Dibata. Ertotolah ibas bukuna alu kuasa Kesah.(Epesus 6:18). Erkiteken si e o senina – senina si ku kelengi, tetaplah ukurndu ula mbewat – mbewat. Mejingkatlah kam rusur ibas ndahiken dahin Tuhan, sebab I tehndu maka labo percuma dahin si dahikenndu ibas Tuhan. Amin

Pdt.Terima Tarigan
GBKP Rg. Cileungsi
 

Pekan Doa Sedoni wari III, OGen Juna 2:1-3:3

Renungan

Invocatio :
Nandangi Undang - undang e aku situhuna enggo mate,janah lanai lit
sitik pe kuasa Undang - Undang e nandangi aku seh maka banci aku nggeluh guna Dibata. Aku enggo I pakuken ras Kristus I Kayu persilang. Lanai aku si nggeluh,tapi Kristus kap singgeluh ibas aku.Kegeluhen ku Si genduari ibas doni enda ku geluhken erkiteken kiniteken man anak Dibata,si engkelengi aku dingen ngendesken dirina man gunaku(Galatia 2:19-20).

Thema :
“Aron Dibata si ertoto,situtus ndalanken komitmen”

Senina ras turang ibas keleng ate Yesus Kristus,lit kata bijak ngataken,”totokenlah kai si idahiken,dahiken lah kai si itotoken”.Ertina ibas pertoton kita ngendesken kerina kegeluhenta radu ras pendahinta, bage pe arus mejingkat ndahiken kai si enggo sitotoken man Dibata.Kegeluhen anak- anak Dibata eme kegeluhen ibas ertoto,sebab arah pertotonta man Dibata kita ndatken gegeh,serpang pulah ras pasu pasu.
 
Ibas pekan doa sedoni sipe 3 ken enda, kita I persingeti mulihi kerna tugas ras panggilan man kerina perpulungen ibas ndahiken dahin pelayanen gerejanta. Erpalasken Garis – garis Besar Pelayanan Gerejanta si jadi perayakentaras, ibas tahun 2016 - 2020 eme :

1. Visi : “GBKP menjadi kawan sekerja Allah untuk menyatakan rahmat
Allah kepada dunia”. “GBKP aron Dibata guna jadi pasu – pasu man isi doni”.(1 Kor.3:9, 1Pet.2:9-10)

2. Misi :
• Menumbuh kembangkan spiritualitas jemaat berbasis alkitab.
• Menegakkan keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan Allah.
• Memperkuat semangat gotong royong antar sesama jemaat dan masyarakat.
• Menggali dan Menumbuh kembangkan potensi jemaat untuk bersekutu dan bersinergi.

3. Tujuan : Meningkatkan panggilan dan komitmen warga dalam melakukan pelayanan (Berteologia, Pendidikan dan kesehatan, Berpolitik, dan kegiatan ekonomi, pelestarian lingkungan Budaya dan pemanfaatan teknologi informasi).

4. Sasaran GBKP tahun 2016 : Meningkatkan komitmen warga GBKP yang missioner untuk berpartisipasi dalam pelayanan
 
Guna nuju ku bas visi, misi , tujuan ras sasaran GBKP enda tentu labo serta gegeh ras pemeteh silit ibas kerina serayan ras jemaat tanpa campur tangan Dibata ibas ngelakokenca. Bagi si I alami kita ibas kerina perdalinen gerejanta ibas perantauan enda, erbage bage tantangen ras perbeben si hadapi kita. Banci jadi, ibas situasi kegeluhen ekonomi jemaat si lamenentu rikutken propesina erkiteken tinggina tingkat persaingan ibas erbage bage bidang. Sulitna membangun ras ngurus surat izin ibadah gereja. Ketidak nyamanen ibas kita beribadah erkiteken situasi lingkungen ras sidebanna. Kecibal sibage rupana tentu mpengaruhi ku bas semangat pelayanen, pengarapen ras kinitekenta man Dibata.
 
Arah kata Dibata ibas kitab Juna 2: 1 – 3:3 enda, ibabai ngidah ku bas pengalamen nabi juna ibas ia ndahiken dahin pelayanen si iperentahken Dibata eme nehken hukumen Dibata man kalak kuta Niniwe. Nabi juna ertoto man Dibata, mindo perkuah ate Dibata nelamatken ia ibas kiniseranna nari. Tuhan megiken pertotonna. Dibata me ulu kegeluhen ras keselamaten Nabi Juna. Dibata kepeken dem alu keleng ate. ia labo ertaktak kerna kesalahen ras dosa Nabi Juna tapi ngalemi kegeluhenna. Setiap jelma bage pe bangsa – bangsa labo i hukumna adi nggit jera adi mindo perkuah ate Na. Dibata tetap mereken kesempaten guna jera ras empehuli hubungenna ras Dibata. Bagi NabI Juna ertoto dem alu ketutusen ras kiniteruken ukur mindo perkuah ate Dibata . Tole pe I je tangkas kel maka campur tangan Tuhan nge kalak Niniwe megiken ras tek man berita si I peseh juna.
 
Kita kerina eme aron Dibata ibas nehken Berita si Meriah, nehken kerina dahin pelayanen sue ras tingkatenna ibas gereja nta. Labo kepeken bias gegeh, pemeteh, pengalamen si ban ibas ndahiken dahin Tuhan e. Tapi kita membutuhken gegeh ras pasu – pasu bas Tuhan nari. Segelah seh bagi visi, misi, tujuan ras sasaran pelayanan gerejanta. Gegeh pemeteh jadi serta e me erkiten ulih arah pertotonta man Tuhan. Pertoton eme gegeh ras kegeluhen anak anak Tuhan. Arah pertoton me kita i pelimbarui, I pegegehi, I perlengkapi dingen peturah semangat ras komitmenta ibas ndahiken dahin Tuhan sue ras talenta si ibereken man banta
 
Ibas invocatio Galati 2: 20, Rasul Paulus ningetken: lanaibo aku si nggeluh tapi Kristus si Nggeluh ibas aku, ertina man banta segelah kerina kalak si tek e me si enggo i pelimbarui erpalasken keleng ate Kristus, ia lanai mengedepanken sura – sura ukurna secara pribadi tapi nehken sura – sura Tuhan ibas kerina kegeluhen, pendahin ras pelayanen I tengah – tengah gerejanta. Bahanlah I se kerina alu ertoto mindo penampat man Dibata. Ertotolah ibas bukuna alu kuasa Kesah.(Epesus 6:18). Erkiteken si e o senina – senina si ku kelengi, tetaplah ukurndu ula mbewat – mbewat. Mejingkatlah kam rusur ibas ndahiken dahin Tuhan, sebab I tehndu maka labo percuma dahin si dahikenndu ibas Tuhan. Amin

Pdt.Terima Tarigan
GBKP Rg. Cileungsi
 

Khotbah Mazmur 97:1-12, Minggu 08 Mei 2016

Renungan

Invocatio :
Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau 
(Yesaya 43:5a)

Ogen :
Johanes 17:20-26

Tema :
Kita dimenangkan melalui Pergumulan

Pengantar
Tuhan Yesus menegaskan, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat tidak lagi berada di dalam kegelapan, melainkan berjalan di dalam terang, sebab Tuhan telah "...memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan." (1 Petrus 2:9-10). Dengan kata lain, jika seseorang mengikut Kristus, ia berjalan di dalam terang Tuhan.
 
Mengikut Kristus berarti mengikuti jalan yang ditempuh Kristus. Artinya harus meneladani kehidupan Kristus dalam segala hal sebagaimana disampaikan rasul Yohanes, "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6). Inilah yang disebut Kristen sejati. Banyak orang yang mengaku bahwa dirinya adalah orang Kristen atau pengikut Kristus, tapi dalam kehidupannya sehari-hari sama sekali tidak mencerminkan perbuatan atau karakter Kristus. Mereka masih saja berkompromi dengan dosa dan hidup 'sama' seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, yang "...lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat." (Yohanes 3:19). Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak mengikut Kristus dengan sepenuh hati. Ironis sekali! Bukankah ini sama saja dengan mencoreng nama Tuhan di mata dunia? Padahal kita sering sekali membaca dan mendengarkan ayat firman Tuhan ini: "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (1 Korintus 5:17).

Yeremia 18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.
 
Yeremia menggambarkan bahwa manusia itu seperti tanah liat dalam tangan seorang penjunan. Dalam hal ini penjunan tersebut tentulah Allah sendiri. Seorang penjunan akan membuat bejana dari tanah liat yang sama dengan harapan tanah liat yang tak bernilai tadi bisa menjadi suatu karya seni yang bernilai tinggi tentunya.Bahkan seorang penjunan akan melakukan secara berulang-ulang sampai bejana tersebut menjadi bejana yang sempurna dalam pemandangan-Nya.(Yer 18:1-6)
Suatu saat sepasang orangtua pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik “Lihat cangkir itu, sebuah cangkir yang indah sekali” kata si oma kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si opa. Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk pujian dan perhatiannya, cuma perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak tidaklah indah dan secantik ini. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang penjunan yang mencangkulku, menyiramku dengan air, setelah itu ia mengncurkan aku dengan cara memasukan aku dalam mesin penghancur tanah dan setelah lembut, dengan tangan kotor membentuk aku diatas sebuah alat yang bisa berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku sambil membentuk aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja menekanku, tanpa menghiraukan teriakanku. Setelah terbetuk pikirku penderitaanku akan segera berakhir, tetapi ternyata belum. Ternyata aku harus dikeringkan dulu, aku diangin-anginkan selama beberapa minggu setelah itu aku dijemur untuk mengeluarkan kadar air yang ada dalam tubuhku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi.Tapi orang ini berkata “belum !” Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
 
Saudara, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Ia membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi indah dan memancarkan kemuliaan Allah. Allah mengubah kita dari tidak bernilai menjadi sesuatu karya yang bernilai tinggi. Dengan demikian proses penempaan atau pembentukan adalah cara Tuhan membuat saudara dan saya sempurna dan berharga di mata-Nya (Dimenangkan).
 
Isi
Mazmur 97 digolongkan sebagai Mazmur raja, atau jenis madah “Tuhan Raja”. Dalam bacaan kita saat ini, pemazmur mempersonifikasikan TUHAN sebagai raja yang perkasa. Karena keperkasaan TUHAN sebagai Raja atas alam semesta maka bumipun diajak bersorak-sorai dan pulau-pulau bersukacita (ayat 1). Gambaran tentang keper-kasaan dan kebesaran TUHAN sebagai raja semakin nyata, ketika pemazmur menggambarkan bahwa awan kekelaman ada di sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan tahkta-Nya (ayat 2). Api menjalar dihadadapan-Nya dan meng-hanguskan lawan-Nya (ayat 3). Kilat-Nya menerangi dunia¸bumi melihatnya dan gemetar (ayat 4). Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN dan langit memberita kan keadilannya dan segala bangsa melihat kemulian-Nya (ayat 5,6).
 
Semua ungkapan yang menggambarkan kebesaran Allah ini, mau menyatakan bahwa TUHAN Allah adalah Raja atas seluruh bumi. Hanya Dia-lah Allah yang layak untuk disembah dan dimuliakan. Pernyataan inipun mau menegas-kan bahwa Kemahakuasaan TUHAN Allah tidaklah dapat disejajarkan dengan kekuatan para dewa dan berhala bangsa-bangsa lain. Karena itu pemazmur menyatakan bahwa semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu dan semua yang memegahkan diri karena berhala-berhala dan segala allah, akan sujud menyembah kepada-Nya. Jadi para berhala dan para allah (dewa) tidak dapat menandingi kebesaran TUHAN, dan mereka akan kehilangan para pengikutnya.
 
Karena para berhala dan para allah tunduk di hadapan TUHAN, maka Sion-pun bersukacita dan Putri-putri Yehuda bersorak-sorai (ayat 8). Bahwasannya TUHAN adalah Yang Mahatinggi di seluruh bumi. Karena itu orang-orang yang mengasihi TUHAN diajak untuk membenci kejahatan, karena TUHAN memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya dan terang terbit bagi orang benar. Selanjutnya orang benar diminta bersukacita karena TUHAN ( ayat 9-12).
 
Pemazmur pun mau menekankan bahwa orang-orang benar haruslah bersukacita karena TUHAN. Umat harus bersukacita karena TUHAN-Iah yang memberi semangat kepada orang yang lemah. Ia berpihak kepada umat-Nya ketika mereka berada dalam situasi yang sulit, yaitu ketika mereka berada pada zaman sesudah pembuangan di Babilonia ( tahun 538-332) SM. Madah (nyanyian syukur) yang dikumandangkan oleh pemazmur ini adalah sebagai bentuk penghiburan bagi umat Israel yang telah kembali ke Yerusalem dari Babilonia, namun yang mengalami kesesakan dan keterhimpitan hidup. Karena itu eksistensi (keberadaan) hidup dari pemazmur adalah hidup yang mau memberi semangat kepada mereka yang lemah. Motivasi yang diberikan pemazmur kepada sesama umat sebangsanya, bertitik tolak dari pemahaman bahwa TUHAN adalah raja atas seluruh bumi. Karena TUHAN adalah raja atas seluruh bumi, maka Sion akan bersukacita, putri Yehuda akan bersorak-sorai, dalam pengertian bahwa Sion akan dipulih-kan kembali oleh TUHAN.
 
Sebagai persekutuan orang percaya kepada Yesus, kita diberi kesadaran bahwa: TUHAN Allah yang kita sembah di dalam Yesus Kristus adalah Raja atas seluruh bumi. Hanya Dia-lah Allah tempat kita berlindung dan berharap. Di dalam Dia ada sukacita melimpah yang tak dapat diberikan oleh pihak manapun. Karena itu kita diingatkan untuk tidak terjerumus pada penyembahan berhala, entah itu berhala-berhala tradisional (patung-patung, benda-benda keramat, kekuatan-kekuatan magis) bahkan juga berhala-berhaka modern (harta, kekayaan, berbagai fasilitas duniawi, dsb). Kita harus menyadari bahwa semua kekuatan yang ada di bawah kolong langit ini tunduk pada kuasa TUHAN, termasuk di dalamnya manusia.
 
Renungan
Para murid dan umat percaya sebagai para saksi Kristus dipanggil untuk berperan di tengah dunia dengan gerak sentrifugal, yaitu gerak di titik pusat yang terus melebar ke lingkup yang lebih luas. Yerusalem sebagai titik pusat di mana Yesus wafat dan dibangkitkan, lalu bergerak ke lingkup lebih luas yaitu seluruh Yudea di Israel Selatan, melebar ke wilayah Samaria di Israel Utara, dan akhirnya bergerak ke seluruh penjuru dunia. Dengan gerak sentrifugal tersebut, Kerajaan Allah yang terwujud dalam kehidupan dan karya Yesus berproses secara evolutif dalam seluruh kehidupan umat manusia. Tujuannya adalah di dalam nama Yesus Allah merangkul seluruh umat untuk berada di bawah pemerintah-Nya. Pemahaman Rasul Paulus di Efesus 1:22, yaitu: “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Karena itu makna Kenaikan Yesus ke sorga adalah Dia menarik seluruh umat manusia di bawah kaki-Nya, sehingga Dia menjadi Kepala dari segala yang ada. Setelah tercapai gerak sentrifugal, Kristus menarik kembali semua yang percaya ke dalam persekutuan dengan intim dengan diri-Nya. Karena itu gerak sentrifugal (menyebar) diikuti dengan gerak sentripetal (memusat). Tugas para saksi yaitu umat percaya adalah memberitakan kabar baik kepada dunia di mana mereka tinggal untuk hidup dalam kuasa nama-Nya yang menyelamatkan, sehingga mereka menyerahkan seluruh hidup mereka di bawah kedaulatan kuasa-Nya. Dengan demikian realitas Kerajaan Allah terwujud manakala setiap orang dari berbagai belahan bumi datang dan tunduk kepada kuasa Kristus yang telah menebus mereka dengan sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga.
 
Realitas Kerajaan Allah yang didirikan oleh Yesus berbeda dengan pemulihan kerajaan bagi umat Israel yang bersifat politis. Kerajaan yang bersifat politis mengandalkan kekuatan militer dan ekonomi, sebaliknya realitas Kerajaan Allah di dalam Kristus utamanya menghadirkan anugerah pengampunan Allah dan pembaruan hidup. Tentunya sebagai umat percaya kita tidak anti dengan pemerintahan sebuah negara. Kita tidak bisa mengabaikan peran dan tanggungjawab sebagai rakyat dan warganegara membangun negara dan bangsa Indonesia. Justru sebaliknya dalam iman kepada Kristus yang bangkit dan dimuliakan sebagai Raja segala raja setiap umat percaya dipanggil untuk berperan mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang dinyatakan dalam kehidupan dan karya Kristus. Di tengah-tengah pluralitas kehidupan bangsa Indonesia, kita dipanggil mewujudkan pikiran dan hati yang telah dibuka oleh Roh Kudus sehingga mampu berperan sebagai agen-agen perubahan yang menghadirkan pembaruan hidup. Dengan kasih kita menjadi saksi-Nya memberitakan bahwa dalam nama Yesus tersedia pengampunan dosa dan anugerah damai-sejahtera serta keselamatan Allah.
Ingatlah, Tuhan tidak pernah memberi perintah tanpa ada jaminan (bdk. Invocatio Yes. 43:5a ). Abraham dipanggil Tuhan tanpa tujuan yang jelas, tetapi Tuhan tetap menyertai, Musa bukan orang yang hebat dalam diplomasi tetapi Tuhan menjamin dengan memberi Harun sebagai temannya, Yesaya yang nazis bibir dipanggil ditengah bangsa yang nazis juga Tuhan sertai, Yeremia yang masih muda juga Tuhan sertai, para Rasul yang ketakutan juga Tuhan sertai, dan banyak lagi kesaksian Alkitab tentang penyertaan Tuhan.

Yosua pernah takut, Paulus sendiripun pernah gemetar dan bercucuran air mata, Petrus pun pernah takut sampai harus berkhianat. Musa sendiripun pernah gemetar. Daud dirtawai oleh Goliat tapi mereka dipanggil dan dimenangkan dengan satu kalimat janji “Aku tetap ras kam”. Berlutut dihadapan Tuhan membuat kita berdiri teguh dihadapan tantangan. Bukan karena siapa kita tetapi siapa Allah.
 
Setiap keputusan Tuhan yang mungkin membuat kita merasa menderita, yakinlah bahwa jauh berapa langkah kedepan (seperti pemain catur) sudah Tuhan rancang untuk kebaikan kita. Maka ingatlah, Tidak seberapa penting kemana tujuan dan seberapa berat hidup kita, tetapi dengan siapa kita menapaki tujuan yang berat tersebut. Pastinya, Bersama Yesus Lakukan Perkara Besar.
 
Mengikut Yesus tidak pernah ada janji kita akan berjalan dijalan yang penuh dengan taburan bunga mawar, yang Tuhan perintahkan Pikullah Salib, karena kita adalah Laskar Kristus bukan Turis surga. Tetapi banyak orang yang mengaku Kristen tetapi hanya mau Mahkota tetapi tanpa SALIB, itu bukan Kristen yang benar.
 
Pdt. Dasma S. Turnip
GBKP Rg. Pontianak
 

Page 1 of 6

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 36 guests online