Khotbah Mazmur 97:1-12, Minggu 08 Mei 2016

Renungan

Invocatio :
Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau 
(Yesaya 43:5a)

Ogen :
Johanes 17:20-26

Tema :
Kita dimenangkan melalui Pergumulan

Pengantar
Tuhan Yesus menegaskan, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat tidak lagi berada di dalam kegelapan, melainkan berjalan di dalam terang, sebab Tuhan telah "...memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan." (1 Petrus 2:9-10). Dengan kata lain, jika seseorang mengikut Kristus, ia berjalan di dalam terang Tuhan.
 
Mengikut Kristus berarti mengikuti jalan yang ditempuh Kristus. Artinya harus meneladani kehidupan Kristus dalam segala hal sebagaimana disampaikan rasul Yohanes, "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6). Inilah yang disebut Kristen sejati. Banyak orang yang mengaku bahwa dirinya adalah orang Kristen atau pengikut Kristus, tapi dalam kehidupannya sehari-hari sama sekali tidak mencerminkan perbuatan atau karakter Kristus. Mereka masih saja berkompromi dengan dosa dan hidup 'sama' seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, yang "...lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat." (Yohanes 3:19). Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak mengikut Kristus dengan sepenuh hati. Ironis sekali! Bukankah ini sama saja dengan mencoreng nama Tuhan di mata dunia? Padahal kita sering sekali membaca dan mendengarkan ayat firman Tuhan ini: "...siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (1 Korintus 5:17).

Yeremia 18:4 Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.
 
Yeremia menggambarkan bahwa manusia itu seperti tanah liat dalam tangan seorang penjunan. Dalam hal ini penjunan tersebut tentulah Allah sendiri. Seorang penjunan akan membuat bejana dari tanah liat yang sama dengan harapan tanah liat yang tak bernilai tadi bisa menjadi suatu karya seni yang bernilai tinggi tentunya.Bahkan seorang penjunan akan melakukan secara berulang-ulang sampai bejana tersebut menjadi bejana yang sempurna dalam pemandangan-Nya.(Yer 18:1-6)
Suatu saat sepasang orangtua pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik “Lihat cangkir itu, sebuah cangkir yang indah sekali” kata si oma kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si opa. Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk pujian dan perhatiannya, cuma perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak tidaklah indah dan secantik ini. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang penjunan yang mencangkulku, menyiramku dengan air, setelah itu ia mengncurkan aku dengan cara memasukan aku dalam mesin penghancur tanah dan setelah lembut, dengan tangan kotor membentuk aku diatas sebuah alat yang bisa berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku sambil membentuk aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja menekanku, tanpa menghiraukan teriakanku. Setelah terbetuk pikirku penderitaanku akan segera berakhir, tetapi ternyata belum. Ternyata aku harus dikeringkan dulu, aku diangin-anginkan selama beberapa minggu setelah itu aku dijemur untuk mengeluarkan kadar air yang ada dalam tubuhku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi.Tapi orang ini berkata “belum !” Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
 
Saudara, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Ia membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi indah dan memancarkan kemuliaan Allah. Allah mengubah kita dari tidak bernilai menjadi sesuatu karya yang bernilai tinggi. Dengan demikian proses penempaan atau pembentukan adalah cara Tuhan membuat saudara dan saya sempurna dan berharga di mata-Nya (Dimenangkan).
 
Isi
Mazmur 97 digolongkan sebagai Mazmur raja, atau jenis madah “Tuhan Raja”. Dalam bacaan kita saat ini, pemazmur mempersonifikasikan TUHAN sebagai raja yang perkasa. Karena keperkasaan TUHAN sebagai Raja atas alam semesta maka bumipun diajak bersorak-sorai dan pulau-pulau bersukacita (ayat 1). Gambaran tentang keper-kasaan dan kebesaran TUHAN sebagai raja semakin nyata, ketika pemazmur menggambarkan bahwa awan kekelaman ada di sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan tahkta-Nya (ayat 2). Api menjalar dihadadapan-Nya dan meng-hanguskan lawan-Nya (ayat 3). Kilat-Nya menerangi dunia¸bumi melihatnya dan gemetar (ayat 4). Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN dan langit memberita kan keadilannya dan segala bangsa melihat kemulian-Nya (ayat 5,6).
 
Semua ungkapan yang menggambarkan kebesaran Allah ini, mau menyatakan bahwa TUHAN Allah adalah Raja atas seluruh bumi. Hanya Dia-lah Allah yang layak untuk disembah dan dimuliakan. Pernyataan inipun mau menegas-kan bahwa Kemahakuasaan TUHAN Allah tidaklah dapat disejajarkan dengan kekuatan para dewa dan berhala bangsa-bangsa lain. Karena itu pemazmur menyatakan bahwa semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu dan semua yang memegahkan diri karena berhala-berhala dan segala allah, akan sujud menyembah kepada-Nya. Jadi para berhala dan para allah (dewa) tidak dapat menandingi kebesaran TUHAN, dan mereka akan kehilangan para pengikutnya.
 
Karena para berhala dan para allah tunduk di hadapan TUHAN, maka Sion-pun bersukacita dan Putri-putri Yehuda bersorak-sorai (ayat 8). Bahwasannya TUHAN adalah Yang Mahatinggi di seluruh bumi. Karena itu orang-orang yang mengasihi TUHAN diajak untuk membenci kejahatan, karena TUHAN memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya dan terang terbit bagi orang benar. Selanjutnya orang benar diminta bersukacita karena TUHAN ( ayat 9-12).
 
Pemazmur pun mau menekankan bahwa orang-orang benar haruslah bersukacita karena TUHAN. Umat harus bersukacita karena TUHAN-Iah yang memberi semangat kepada orang yang lemah. Ia berpihak kepada umat-Nya ketika mereka berada dalam situasi yang sulit, yaitu ketika mereka berada pada zaman sesudah pembuangan di Babilonia ( tahun 538-332) SM. Madah (nyanyian syukur) yang dikumandangkan oleh pemazmur ini adalah sebagai bentuk penghiburan bagi umat Israel yang telah kembali ke Yerusalem dari Babilonia, namun yang mengalami kesesakan dan keterhimpitan hidup. Karena itu eksistensi (keberadaan) hidup dari pemazmur adalah hidup yang mau memberi semangat kepada mereka yang lemah. Motivasi yang diberikan pemazmur kepada sesama umat sebangsanya, bertitik tolak dari pemahaman bahwa TUHAN adalah raja atas seluruh bumi. Karena TUHAN adalah raja atas seluruh bumi, maka Sion akan bersukacita, putri Yehuda akan bersorak-sorai, dalam pengertian bahwa Sion akan dipulih-kan kembali oleh TUHAN.
 
Sebagai persekutuan orang percaya kepada Yesus, kita diberi kesadaran bahwa: TUHAN Allah yang kita sembah di dalam Yesus Kristus adalah Raja atas seluruh bumi. Hanya Dia-lah Allah tempat kita berlindung dan berharap. Di dalam Dia ada sukacita melimpah yang tak dapat diberikan oleh pihak manapun. Karena itu kita diingatkan untuk tidak terjerumus pada penyembahan berhala, entah itu berhala-berhala tradisional (patung-patung, benda-benda keramat, kekuatan-kekuatan magis) bahkan juga berhala-berhaka modern (harta, kekayaan, berbagai fasilitas duniawi, dsb). Kita harus menyadari bahwa semua kekuatan yang ada di bawah kolong langit ini tunduk pada kuasa TUHAN, termasuk di dalamnya manusia.
 
Renungan
Para murid dan umat percaya sebagai para saksi Kristus dipanggil untuk berperan di tengah dunia dengan gerak sentrifugal, yaitu gerak di titik pusat yang terus melebar ke lingkup yang lebih luas. Yerusalem sebagai titik pusat di mana Yesus wafat dan dibangkitkan, lalu bergerak ke lingkup lebih luas yaitu seluruh Yudea di Israel Selatan, melebar ke wilayah Samaria di Israel Utara, dan akhirnya bergerak ke seluruh penjuru dunia. Dengan gerak sentrifugal tersebut, Kerajaan Allah yang terwujud dalam kehidupan dan karya Yesus berproses secara evolutif dalam seluruh kehidupan umat manusia. Tujuannya adalah di dalam nama Yesus Allah merangkul seluruh umat untuk berada di bawah pemerintah-Nya. Pemahaman Rasul Paulus di Efesus 1:22, yaitu: “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Karena itu makna Kenaikan Yesus ke sorga adalah Dia menarik seluruh umat manusia di bawah kaki-Nya, sehingga Dia menjadi Kepala dari segala yang ada. Setelah tercapai gerak sentrifugal, Kristus menarik kembali semua yang percaya ke dalam persekutuan dengan intim dengan diri-Nya. Karena itu gerak sentrifugal (menyebar) diikuti dengan gerak sentripetal (memusat). Tugas para saksi yaitu umat percaya adalah memberitakan kabar baik kepada dunia di mana mereka tinggal untuk hidup dalam kuasa nama-Nya yang menyelamatkan, sehingga mereka menyerahkan seluruh hidup mereka di bawah kedaulatan kuasa-Nya. Dengan demikian realitas Kerajaan Allah terwujud manakala setiap orang dari berbagai belahan bumi datang dan tunduk kepada kuasa Kristus yang telah menebus mereka dengan sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga.
 
Realitas Kerajaan Allah yang didirikan oleh Yesus berbeda dengan pemulihan kerajaan bagi umat Israel yang bersifat politis. Kerajaan yang bersifat politis mengandalkan kekuatan militer dan ekonomi, sebaliknya realitas Kerajaan Allah di dalam Kristus utamanya menghadirkan anugerah pengampunan Allah dan pembaruan hidup. Tentunya sebagai umat percaya kita tidak anti dengan pemerintahan sebuah negara. Kita tidak bisa mengabaikan peran dan tanggungjawab sebagai rakyat dan warganegara membangun negara dan bangsa Indonesia. Justru sebaliknya dalam iman kepada Kristus yang bangkit dan dimuliakan sebagai Raja segala raja setiap umat percaya dipanggil untuk berperan mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah yang dinyatakan dalam kehidupan dan karya Kristus. Di tengah-tengah pluralitas kehidupan bangsa Indonesia, kita dipanggil mewujudkan pikiran dan hati yang telah dibuka oleh Roh Kudus sehingga mampu berperan sebagai agen-agen perubahan yang menghadirkan pembaruan hidup. Dengan kasih kita menjadi saksi-Nya memberitakan bahwa dalam nama Yesus tersedia pengampunan dosa dan anugerah damai-sejahtera serta keselamatan Allah.
Ingatlah, Tuhan tidak pernah memberi perintah tanpa ada jaminan (bdk. Invocatio Yes. 43:5a ). Abraham dipanggil Tuhan tanpa tujuan yang jelas, tetapi Tuhan tetap menyertai, Musa bukan orang yang hebat dalam diplomasi tetapi Tuhan menjamin dengan memberi Harun sebagai temannya, Yesaya yang nazis bibir dipanggil ditengah bangsa yang nazis juga Tuhan sertai, Yeremia yang masih muda juga Tuhan sertai, para Rasul yang ketakutan juga Tuhan sertai, dan banyak lagi kesaksian Alkitab tentang penyertaan Tuhan.

Yosua pernah takut, Paulus sendiripun pernah gemetar dan bercucuran air mata, Petrus pun pernah takut sampai harus berkhianat. Musa sendiripun pernah gemetar. Daud dirtawai oleh Goliat tapi mereka dipanggil dan dimenangkan dengan satu kalimat janji “Aku tetap ras kam”. Berlutut dihadapan Tuhan membuat kita berdiri teguh dihadapan tantangan. Bukan karena siapa kita tetapi siapa Allah.
 
Setiap keputusan Tuhan yang mungkin membuat kita merasa menderita, yakinlah bahwa jauh berapa langkah kedepan (seperti pemain catur) sudah Tuhan rancang untuk kebaikan kita. Maka ingatlah, Tidak seberapa penting kemana tujuan dan seberapa berat hidup kita, tetapi dengan siapa kita menapaki tujuan yang berat tersebut. Pastinya, Bersama Yesus Lakukan Perkara Besar.
 
Mengikut Yesus tidak pernah ada janji kita akan berjalan dijalan yang penuh dengan taburan bunga mawar, yang Tuhan perintahkan Pikullah Salib, karena kita adalah Laskar Kristus bukan Turis surga. Tetapi banyak orang yang mengaku Kristen tetapi hanya mau Mahkota tetapi tanpa SALIB, itu bukan Kristen yang benar.
 
Pdt. Dasma S. Turnip
GBKP Rg. Pontianak
 

Khotbah Efesus 1:15-23, Kamis 05 Mei 2016

Renungan

Invocatio :
dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, 
mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." ( Kisah Para Rasul 1:11).

Bacaan :
Mazmur 47:2-10 (Anthiponal)

Tema :
Tuhan tetap memberikan kekuatan untuk memberitakan dan
bersaksi
 
Pendahuluan
Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke Surga adalah peristiwa yang spektakuler dan membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup, dan peristiwa ini akan selalu mengingatkan kita bagaimana kebesaran kasih Allah melalui penyataanNya di dalam Tuhan Yesus. KemuliaanNya telah nyata dalam kebangkitanNya dan kenaikanNya ke sorga, bahwa Ia adalah Allah yang hidup dan yang menguasai kehidupan. Untuk itu, melalui peristiwa dan maknanya, kita diingatkan kembali dan diajak untuk memberitakan kebenaran Kristus dan menjadi saksiNya.
 
Isi
Dalam doa Paulus ini telah dinyatakan bagaimana ucapan syukurnya kepada Allah atas iman jemaat sebagai penampakan dari kuasa kemuliaan Allah di dalam iman dan kasih jemaat. Namun tidak hanya sampai di situ saja, permohonan Paulus juga terus dipanjatkan kepada Allah agar jemaat juga diberi Roh hikmat di dalam iman dan kasihnya itu. Apa yang mereka terima dari Kristus itu juga mereka bagikan dengan orang lain juga. Apa yang dilakukan jemaat Efesus menjadi kesaksian Paulus dalam memberitakan kerna Kasih Kristus dan Paulus mengucap syukur karena dengan Kasih Kristus diberikanNya kuasa kekuatan baginya untuk memberitakan dan bersaksi, juga kepada jemaat dalam bersaksi karena kemuliaan Tuhan.
 
Paulus terus berdoa agar jemaat juga lebih mengenal kuasa dan kemuliaan Tuhan dalam hidupnya dan menjadi saksi. Tuhan juga memberikan Roh hikmat yang membuat manusia mengenal kehendak Tuhan dalam kehidupannya dan jemaat juga dapat mengenal Kristus dan KuasaNya dengan benar. Artinya, agar jemaat memiliki pengertian yang benar kerna Kristus dalam imannya. Dan atas nama Yesus Kristus menjadikan kita sebagai tubuhNya dan Yesus sebagai kepala. Dengan kuasaNyalah Kristus bangkit dari antara orang mati, menyatakan kepada kita bahwa Ia berkuasa kepadaNyalah kita percaya.
 
Dalam bacaan kitab Mazmur , harapan iman bangsa Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan adalah semua bangsa berkumpul memuji dan memuliakan Tuhan yang mereka sembah. Sebab Dialah Tuhan yang berkuasa atas segala bangsa didunia ini.
 
Penutup
  1. Doa adalah nafas/kekuatan bagi orang yang percaya. Dengan kuasa doa maka gereja hingga saat ini dapat terus berkembang dan orang orang percaya menjadi saksiNya dan berani memberitakan kebenaran Tuhan.
  2. Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga menyiapkan tempat bagi orang percaya agar kita tetap berani dan terus menjadi saksiNya. Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga tujuannya agar kita tetap mempermuliakan Yesus sebagai anak Allah yang telah mati dan bangkit lalu naik ke Surga. 
  3. Kuasa Tuhan menjadi kekuatan untuk memberitakan Kemuliaan dan Kasih Kristus dalam menjadi saksiNya.
Pdt. Nur Elly Br Tarigan
GBKP Rg. Karawang
 

Khotbah Mazmur 67:1-8, Minggu 01 Mei 2016 ROTEGA

Renungan

Invocatio :
Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan dan memuaskan hawa nafsumu (Yakobus 4:3).
 
Bacaan :
Johanes 14:23-9
 
Thema :
Lakukanlah apa yang kamu doakan kepada Tuhan
 
Pendahuluan
Mazmur 67 ini merupakan nyanyian pujian yang dinyanyikan bangsa Israel dalam ibadah bait suci di Jerusalem (bnd. Mazmur 24), sebagai ungkapan syukur dan mengingatkan kembali bagaimana Allah yang telah membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Dalam nats ini terlihat bahwa pemazmur meminta kepada Allah untuk tetap memperhatikan umatNya sehingga bangsa lain bisa melihat bagaimana Allah yang sanggup membebaskan, penuh keadilan dan tetap memberkati bangsaNya. Mazmur ini juga merupakan nyanyian syukur atas segala berkat Allah yang diberikan kepada bangsa Israel pada perayaan panen raya. Karena pada perayaan ini mereka berkumpul dari seluruh wilayah untuk bersyukur dan berdoa bermohon agar berkat yang mereka terima dapat menghasilkan dampak yang lebih besar bagi bangsa-bangsa lain. Sebuah nyanyian syukur yang mewarisi panggilan Abraham diberkati untuk menjadi berkat segala kaum di bumi (Kejadian 12:3,18, 22:18, 28:14).
 
Dalam nyanyian ini adanya harapan agar bangsa-bangsa lain juga datang kepada Allah dan patuh dalam pimpinan Allah sehingga terciptalah kedamaian dan kesejahteraan dimana saja (ayat 4-6). Kedamaian dan kesejahteraan dapat dirasakan melalui hasil tanah yang diberkati Allah(bnd. Imamat 26:4), sehingga bangsa lain bisa melihat siapakah Allah yang disembah oleh bangsa Israel. Sebab tidak ada allah lain yang mampu memberikan keadilan dan kedamaian seperti yang diberikan oleh Allah yang disembah bangsa Israel (ayat 7-8).Ungkapan syukur pemazmur ini sekaligus mengingatkan bahwa Allahlah yang memiliki segala sesuatu , sehingga tidak sulit bagi Dia untuk tetap memberkati umatNya.Dan Berkat Allah untuk umatNya tidak tergantung pada situasi dan kondisi yang ada, terbukti walaupun bangsa Israel sering mendukakan hati Allah tetapi Allah tetap memberkati umatNya dan mencukupi segala yang diperlukannya.
 
Melalui nats ini dapat kita simpulkan bahwa doa dan pengharapan pemazmur didengar, hal itu terbukti dari ucapan syukurnya atas semua berkat yang telah diterimanya dan umatNya. Dan sebagai umat yang senatiasa menerima berkat Allah harus mampu untuk menjadi berkat bagi orang lain. Pemazmur mengakui bahwa setiap berkat datang dari Allah dan itu sebabnya setiap orang harus memuji Dia. Melalui apa? Melalui tindakan dan perbuatan yang sesuai dengan doa dan pengharpan yang disampaikan kepada Dia. Alasan Allah memberkati kita bukan supaya kita menjadi sombong, tetapi supaya jalanNya dikenal di bumi. Memuji Allah belum cukup sebagai alasan agar IA memberkati kita, karena dengan hanya memuji saja belum berarti kita telah berbuat sesuatu untuk Allah. Contohnya suami yang memuji dan mencintai istrinya bukan berarti bahwa ia cukup harus mengatakan ‘kamu cantik’ dan ‘saya mencintaimu’ setiap hari tampa harus bekerja dan bertanggungjawab untuk keluarganya. Sering juga kita berkata ‘aku bersyukur kepadaMu dan memujiMu Allah’ tetapi kita tidak berbuat sesuatu untuk Allah jika begitu berarti Allah sedang mendidik kita menjadi pemalas. Tetapi Allah akan memberkati ketika kita mau bekerja dan melakukan sesuatu buat Allah (bnd. 2 Tesalonika 3:10). Berkat Allah adalah bonus yang Allah sediakan karena kita mau bekerja dengan sungguh atau melakukan sesuatu untukNya. Seorang pekerja akan memperoleh bonus jika dia telah bekerja dengan keras dan memperoleh nilai yang bagus dari atasannya. Itulah allah kita, semakin kita bekerja dan melakukan seuatu dengan hanya mengandal Allah dan mempergunakan segala kemampuan yang kita miliki maka akan semakin luar biasa kita akan merakan berkat dari Allah. Dan melalui hasil pekerjaan yang kita lakukan memampukan kita untuk menunjukkan siapa Allah yang kita sembah. Berkat yang diterima orang-orang yang mengandalkan Allah seharusnya menjadi kesaksian bagi dunia agar dunia mengenal Allah (bnd. Matius 5:16).
 
Di taman Getsmani, Yesus mengajarkan pelajaran yang sangat luar biasa. Yesus berdoa dan berkata ‘Bapa biar bukan kehendakKu yang jadi melainkan kehendakMulah yang terjadi’. Melalui doa Tuhan Yesus ini mengajarkan agar kita juga sebagai anak-anak Allah berjalan dalam tuntunan Allah. Orang-orang yang berjalan dealam tuntunan Allah pastu akan melihat Firman allah digenapi dalam hidupnya. Jika kita belum melihat dan merasakan berkat dan mujizat Allah, perikasalah jalan kita dan doa, perbuatan kita. Jangan-jangan kita sedang tidak berjalan dalam tuntutan Allah (bnd. Yak. 4:3 Invocatio). SebabAllah seperti yang dkatakan Tuhan Yesus sebelum Dia naik ke surga bahwasanya Roh Kudus yang akan memampukan dan mengajari kita untuk melakukan sesuai dengan kehendak Allah (bnd. Bahan Bacaan).

Lakukanlah apa yang kita doakan kepada Allah maka pasti berkatNya akan mengalir dalam hidup kita. Tuhan Memberkati.
 
Pdt. Mea Purba
GBKP Rg. Cibubur
 

Khotbah Kisah Para Rasul 11:1-18, Minggu 24 April 2016-KANTATE

Renungan

Invocatio : 
Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.
(Ulangan 7:6)

Bacaan    :
Yesaya 1:10-20 (antiphonal)

Khotbah    :
Kisah Para Rasul 11:1-18 (Tunggal)

Tema    :
Tuhan Memberi Kemenangan Kepada Orang PilihanNya
 
Pendahuluan
Ketika mengadakan pembaruan selalu saja yang menjadi tema penting di dalamnya adalah "perubahan". Misalkan pembaruan dari sesuatu hal yang telah membudaya atau menjadi kebiasaan yang sudah mengakar di dalam masyarakat, seperti upaya pemerintah mengurangi pemakaian kantong plastik dan sejenisnya menimbulkan "konflik kecil" di dalam masyarakat. Perubahan lain yang lebih berdampak menimbulkan konflik misalkan perubahan jalur lalulintas dimana selama ini telah memberi kenyamanan  bagi sebagian pemakaianya tetapi oleh karena perubahan arah  lintasan maka menimbulkan "konflik". Yang lebih menggejolak misalkan perubahan peraturan ketika kebijakan baru di dalam suatu negara di izinkan perkawinan sama jenis kelamin, dan gereja menerimanya, memberkati pasangan satu jenis kelamin tersebut pastilah akan menimbulkan konflik yang lebih besar. Untuk mencapai kemajuan memang harus mengalami perubahan, tapi apakah ajaran agama (jalan keselamatan) dapat di ubah? Tentu hal ini akan menjadi bahasan yang menarik di dalam  pembahasan Firman Tuhan ini, yaitu tentang sikap atau reaksi orang-orang Yahudi atas pembaruan dan perubahan pemahaman  keslamatan yang telah mereka pertimbangkan berdasarkan pendapat, pengalaman, pengetahuan, budaya, kebiasaan dan kepentingannya melawan keputusan Tuhan mengadakan perubahan oleh karena kasih dan kuasaNya.
 
Pembahasan
Setelah pelayanan karya keselamatan  di dalam Yesus di tengah-tengah dunia berakhir, dan Dia telah meninggalkan dunia, maka  karya keselamatan  itu di lanjutkan oleh Roh Kudus melalui para Rasul dan orang-orang percaya. Gerakan Roh memperbarui cara hidup berjemaat; mengubah pandangan lama seperti yang dipahami dan dipertahankan oleh orang orang Yahudi yaitu  memperoleh keselamatan  hanya oleh karena menjadi keturunan Abraham, menjadi orang Yahudi sebab kepada Abraham dan keturunannyalah  Allah telah  menjanjikan  keselamatan yang kekal  (bdg Kej. 17:7-13). Menurut orang orang Yahudi hanya kaumnya yang layak menjadi umat Allah karena itu sebagai umat pilihan mereka dilarang bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi apalagi memasuki rumah mereka adalah najis.
 
Pemahaman orang-orang Yahudi tersebut telah membelenggunya  "kaku" melakukan  keselamatannya. Mereka terkurung dan hanya menjadi dirinya sendiri,  menutup diri kepada orang yang bukan Yahudi dan  tidak menghargainya. Oleh sebab itu melihat Petrus dituntun Roh Kudus melayani ke Kaisarea kepada Kornelius dan orang orang yang bukan Yahudi membuat orang-orang Yahudi marah dan menuduh Petrus bersalah telah melanggar aturan tradisi yang selama ini mereka pelihara  "Orang-orang yahudi tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi apalagi memasuki rumah mereka." Karena itu Petrus harus mempertanggung jawabkan sikapnya tersebut. Orang-orang Kristen dari kelompok Yahudi berdebat dengan Petrus tentang kelayakan untuk memasuki persekutuan orang-orang yang bukan Yahudi, masuk rumah mereka dan makan bersama mereka.  Orang-orang Yahudi mempertahankan tradisi Abraham, yaitu tradisi sunat "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan." (Kis. 15:1). Mereka mengartikan ayat tersebut:  jika orang-orang yang bukan Yahudi ingin menjadi Kristen maka mereka harus disunakan terlebih dahulu (di Yahudikan terlebih dahulu), kemudian dibaptis menjadi kristen.
 
Petrus tidak  cukup memiliki pengetahuan dan pemahaman untuk mengubah tradisi lama Yahudi tersebut tapi Allah melalului Roh Kuduslah yang melakukanNya. Pada mulanya pemahaman Petrus sama dengan pemahaman orang-orang Yahudi, tapi melalui penglihatan yang ditunjukkan Allah kepadanya telah mengubah pemahamannya  yaitu; dari langit turun suatu benda yang berbentuk kain lebar yang di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang yang haram  dan tidak tahir dan Allah memerintahkan supaya Petrus menyembelih dan memakannya, tetapi Petrus menolaknya. Peristiwa itu terjadi sampai tiga kali sampai akhirnya Petrus memahami bahwa itulah petunjuk Allah supaya ia pergi ke Kaisarea kepada Kornelius dan jemaat yang bukan orang Yahudi (Kis 10). Ketika Petrus sedang mengajar orang orang kristen di Kaisarea Roh Kudus turun atas mereka sehingga mereka dipenuhi Roh dan mereka berkata-kata dalam bahasa Roh. Melihat kejadian tersebut membuat jemaat yang dari kelompok Yahudi tercengang-cengang keheranan.
 
Apa yang dilakukan Allah melalui Roh Kudus di dalam pelayanan Petrus bukanlah awal dari pembaruan tentang pemahaman kesalahan bagi  orang-orang Yahudi. Pembaruan terjadi oleh karena kasih Allah seperti keterangan Yohanes di dalam injilnya tentang tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yoh. 3:16). Tujuan objek Kasih Allah adalah dunia yaitu supaya setiap orang dari segala bangsa dan suku yang oleh karena pelayanan injil menjadi percaya di menangkan dan menerima keselamatan.
 
Suatu hari  di dalam pelayananNya Yesus di datangi wanita Kanaan (bukan Yahudi) dan berteriak kepada Yesus memohon keselamatan anak perempuannya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Kepada perempuan itu Yesus menjawab: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Tetapi wanita itu mendekati Yesus dan menyembahNya dan terus memohon. Tapi jawab Yesus: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. (bdg. Matius 15:21-28).
 
Kasih Allah membawa harapan bagi semua orang sehingga dapat menjadi anak-anak pilihan Allah dan mengalami berkat serta keselamatan. Kasih Allah memungkinkan semua orang menjadi umat pilihanNya, tidak ada yang kecuali, bahwa setiap orang  yang mau datang kepadaNya, membuka hati dan menerima hidup baru menjadi umat pilihanNya yang akan mendapat pertolongan Allah dan bagian di dalam KerajaaNya.
 
Refleksi dan Penutup
Ketika Petrus menanyakan kepada Yesus tentang upah yang akan diterimanya  oleh karena pemberitaan injil dan karena segala sesuatu yang telah dikorbankannya oleh karena Injil, maka Yesus memberi pengajaran,  yang ditutup dengan peringatan yang  keras  "Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Matius 19:30). Kesetiaan harus dipelihara dengan memperhitungkan kasih Allah bukan menghitung apa yang telah di perbuat.
 
Menjadi anak pilihan Tuhan adalah anugerah yang senantiasa harus di syukuri, yaitu dengan cara setiap hari semakin penuh kasih dan murah hati. Sikap orang percaya yang benar, ketika mereka melihat orang  yang tidak diperhitungkan (dianggap tidak layak) mendapat kasih Allah, tetapi kepada mereka Allah menyatakan kasihNya maka oleh karena melihat bukti kasih Allah tersebut akan membangkitkan suka cita dan ucapan syukurnya  kepada Allah.  Mereka bersukacita bukan menjadi cemburu atau berkecil hati atau merasa tersaingi oleh karena kasih Allah tersebut.
 
Melalui sikap orang-orang Yahudi orang percaya hendaknya  belajar; tidak boleh "sombong rohani". Mereka menganggap dirinya  yang lebih layak dan benar di hadapan Allah dan menutup diri terhadap pembaruan. Itulah yang membuat mereka menjadi terbelakang. Manusia memiliki kecerdasan untuk mempertimbangkan keputusannya, sehingga apabila manusia itu mau belajar dan memelihara hikmat Allah akan mengajarnya  memahami segala sesuatu yang terjadi dan memampukannya merespon dengan  benar.
                                           
                              Pdt. Ekwin WGM
GBKP sitelusada bekasi
 

Khotbah I Tawarikh 16:31-36, Minggu 17 April 2016-JUBILATE

Renungan

Invocatio    :
Sebab segala sesuatu adalah Dia, dan oleh Dia, dan kepada
Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Roma 11:36)
 
Bacaan        :
Wahyu 7:9-17 (tunggal)
 
Khotbah    :
I Tawarikh 16:31-36 (Responsoria)
 
Tema        :
Bersukarialah seluruh bumi dan langit
 
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,
Apakah kita yakin bahwa Allah selalu hadir dalam perjalanan kehidupan kita baik pada waktu susah maupun senang Dia selalu ada bersama-sama dengan kita?
 
Nats kita ini merupakan suatu nyanyian ucapan syukur kepada Allah karena penyertaan Tuhan didalam perjalanan hidup mereka yang telah melindungi dan melepaskan mereka dari bangsa-bangsa yang lain karena bangsa Israel akan berhadapan dengan mereka dan dari segi kekuatan Israel tidak akan sanggup mengalahkan mereka. Tapi karena Allah yang selalu menyertai bangsa Israel itulah yang membuat bangsa Israel menjadi tenang dan tidak gentar menghadapinya. Oleh karena Daud dan bangsa Israel telah melihat penyertaan Tuhan dalam segala masalah yang dihadapinya, mereka melihat perbuatan-perbuatanNya yang ajaib (ay.9,12), maka Daud menyuruh Asyaf dan saudara-saudaranya menyanyikan syukur bagi Tuhan.
 
Bernyanyi mengucap syukur bagi Tuhan merupakan suatu ungkapan isi hati yang paling dalam bagi Tuhan. Mereka mengungkapkan isi hatinya kepada Tuhan karena merasakan penyertaan Tuhan sejak mereka keluar dari Mesir dan menjadi suatu bangsa yang diberkati oleh Tuhan. Ungkapan iman mereka melalui nyanyian itu bukan hanya bangsa Israel yang bersukaria tapi ikut diajak semua bumi dan langit bersorak-sorai melihat kekuasaan Tuhan. Biarlah gemuruh laut…, pohon-pohon dihutan…,semuanya bersuyur kepada Tuhan karena Tuhan itu baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya, juga kita sering tidak setia kepadaNya dan tidak melalukan perintah Tuhan tapi Dia tetap setia dan mengasihi kita. Kebaikan Tuhan itu tidak perlu diragukan oleh karena itu mereka mengatakan bahwasanya kasih setiaNya untuk selama-lamanya. Berbeda dengan kebaikan manusia yang sering berubah-ubah kadang baik kalau mereka itu cocok dengan kehendak hatinya tapi akan berubah kalau mereka menyakiti hatinya berbeda dengan kebaikan Tuhan yang tetap selamanya.
 
Umat Israel tidak perlu lagi minta pertolongan kepada ilah-ilah lain karena ada Tuhan siap setiap saat menolong mereka. Dan itu sudah menjadi pengalaman iman mereka  disepanjang kehidupannya. Terbukti dalam ayat 36 seluruh umat mengatakan : amin, pujilah Tuhan, terpujilah Tuhan, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.
 
Minggu ini disebut minggu Jubilate yang artinya Bersoraklah.
Melalui pengalaman hidup kita sebagai orang beriman, kita diajak melihat setiap kali ada masalah-masalah didalam perjalanan kehidupan kita pasti ada selalu yang menolong kita yaitu Tuhan. Kita perlu melihat kebelakang bagaimana Tuhan itu menyelamatkan kita dari tantangan-tantangan yang kita hadapi. Pada waktu kita merasa kita tidak mampu menghadapi tantangan itu tetapi kita bisa lewati kalu kita mengandalkan Tuhan. Tapi sering terjadi didalam perjalanan kehidupan yaitu mengandalkan kekuatannya, pikirannya sehingga terjadi keputusasaan. Ada satu ilustrasi : dua orang murid Yesus yang berjalan ke Emaus setelah kematian Tuhan Yesus. Mereka  sangat berduka didalam kematian Tuhan Yesus, sambil berjalan mereka bercakap-cakap tentang kesedihan mereka setelah ditinggalkan Yesus. Dan pada waktu mereka bercakap-cakap  datanglah Yesus menghampiri mereka dan berjalan bersama mereka tetapi mereka tidak mengenal Yesus, karena yang mereka andalkan pikiran mereka yaitu Yesus telah mati (Luk.24:13-35). Mereka lupa akan firman Tuhan bahwa Yesus akan mengalami banyak penderitaan, disalibkan dan mati dan bangkit pada hari yang ketiga (Luk.9:22).
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Sering kali anak-anak Tuhan demikian halnya yaitu terlalu mengandalkan kekuatanya, pikirannya dan kurang mengandalkan kekuatan Tuhan sehingga terjadi putus asa/depresi, dll. Kehadiran Allah didalam kehidupan kita akan membuat kita menjadi rendah hati dan sangat mengarapkan campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita. Pengalaman-pengalaman iman kita didalam pertolongan Tuhan yang nyata didalam kita biarlah kita saksikan juga kepada dunia ini, kepada saudara-saudara kita, salah satu dengan cara bernyanyi bersorak-sorai memuji memuliakan nama Tuhan. kita mengucap syukur senantiasa karena kita rasakan kasih setia Tuhan didalam kehidupan kita. Bersukacitalah senantiasa didalam Tuhan, sekali lagi kukatakan bersukacitalah (Filipi 4:4), karena Tuhan selalu ada beserta kita. Amin.

Pdt. Ediwati Ginting
Rg. Cibinong
 

Page 1 of 6

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 83 guests online