Khotbah Kisah Para Rasul 104:24-34,35b, Minggu tanggal 04 Juni 2017 (Pentakosta I)

Renungan

Invocatio :
Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya (Yehezkiel 36:27).
 
Bacaan :
Mazmur 104:24-34, 35b (Responsoria)

Tema :
Roh Kudus Memenuhi UmatNya
 
 
I. PENDAHULUAN
Pentakosta dirayakan lima puluh hari setelah hari raya Roti Tidak Beragi di tengah-tengah umat Israel (Imamat 23). Hari Pentakosta terjadi lima puluh hari setelah “Kristus, anak domba Paskah kita” dikorbankan untuk kita. Hari Pentakosta atau turunnya Roh Kudus atas murid-murid Yesus merupakan pemenuhan janji Yesus untuk memberikan kuasa dalam pemberitaan Injil. Dengan demikian, Pentakosta merupakan perpaduan antara maksud Allah yang berkuasa dan persiapan rohani orang-orang yang telah dipercayai-Nya untuk melaksanakan maksud-Nya. Kejadian ini merupakan suatu pengalaman pribadi ataupun kelompok (murid-murid Yesus) yang menandakan pembaharuan dan penyucian oleh Roh Kudus dalam jemaat secara ajaib. Besarnya perubahan yang diakibatkan oleh pengurapan Roh Kudus dalam diri murid-murid Yesus bisa kita lihat, dimana mereka sebelumnya merasa takut setelah ditinggalkan Yesus karena Yesus naik ke Sorga. Dulunya juga ada perselisihan terus-menerus di antara mereka untuk menentukan siapa yang terbesar di antara mereka. Semenjak mereka menerima Kuasa Roh Kudus tidak lagi demikian, bahkan mereka telah menjadi satu tim yang melupakan kepentingan pribadi dan hanya mempunyai satu tujuan, yaitu dengan setia melibatkan diri dalam pemberitaan Injil tentang Kristus yang bangkit dari kematian dan telah naik ke Sorga.
 
II. PEMBAHASAN
Murid-murid Yesus berkumpul bertepatan dengan pesta orang Yahudi yang disebut dengan Pentakosta. Dalam tradisi Yahudi, Pentakosta (Khamisyim Yom = Hari Kelimpahan) adalah perayaan Pesta Panen. Peziarah-peziarah Yahudi datang ke Yerusalem untuk merayakan sukacita dan mensyukuri berkat tuaian sebagai ungkapan rasa hormat kepada Allah yang memberi hasil yang melimpah. Sejak dahulu orang-orang Yahudi sering menghubungkan angin dengan Roh, demikian juga api dan Roh (bnd. Lukas 3:16).

Ketika semua orang dipenuhi oleh Roh Kudus, maka berbicaralah mereka dalam bahasa-bahasa yang diberikan Roh kepada mereka (bnd. Kis. 10:46 ; 19:6). Bahasa yang diberikan oleh Roh Kudus pada hari Pentakosta adalah bahasa-bahasa yang ada dan digunakan pada saat itu (Partia, Melia, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Famfilia, Mesir, daerah-daerah Libia dekat Kinere, Roma, Kreta dan Arab). Artinya, dengan curahan Roh Kudus maka setiap orang dimampukan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Peristiwa yang terjadi pada saat itu menimbulkan keanehan dan ketakjuban bagi orang-orang yang ada pada saat itu. Hal ini disebabkan karena yang terjadi adalah di luar nalar kemanusiaan pada saat itu, dimana murid-murid Yesus selama ini tidak pernah bergaul berkomunikasi dengan orang lain di luar komunitas mereka sebagai orang Galilea, tiba-tiba mampu berkata-kata tentang perbuatan-perbuatan besar yang Allah lakukan dengan bahasa lain, yaitu bahasa yang ada di sekitar mereka.

Di lain pihak, kejadian itu juga mengandung kemarahan bagi orang-orang yang membenci Yesus (lih. Kis. 4:1-37) dimana mereka menyindir Para Rasul dengan mengatakan mereka mabuk. Ini terjadi karena ketakutan akan hilangnya wibawa Imam dan pejabat yang berwenang pada saat itu. Sebab mereka tahu yang berkata-kata itu adalah murid-murid Yesus yang belum lama baru mereka menyalibkan Yesus. Sehingga dibuatlah suatu pernyataan bahwa mereka sedang mabuk. Dengan pernyataan itu sekaligus menjatuhkan wibawa Para Rasul dan sebagai suatu usaha untuk menghilangkan simpati orang banyak kepada mereka (murid-murid Yesus).
 
Untuk menjelaskan situasi yang terjadi pada saat itu kepada orang banyak, Petrus dengan beraninya berbicara dengan mengatakan bahwa Para Rasul dengan tindakan dan tingkah lakunya itu bukan karena mabuk, karena bagaimana mungkin itu terjadi karena hari masih pagi (jam sembilan). Akan tetapi, situasi tersebut adalah sebagai pemenuhan akan nubuat Nabi Yoel, bahwa pada akhir zaman Allah akan mencurahkan RohNya kepada manusia (Yoel 2:28-32). Dalam perjanjian lama, kedatangan Roh kepada seseorang kerap kali menyebabkan tingkah laku yang berbeda atau tidak biasa (1 Sam. 10:5-13).
 
Dari perkataan Nabi Yoel menunjukkan bagaimana orang-orang Kristen hidup pada hari-hari terakhir (ayat 17) dengan tetap setia menantikan kedatangan hari Tuhan, yaitu hari yang besar dan mulia (ayat 20), hari akhir penghakiman dan pada hari itu siapa yang berseru dan menyerukan nama Tuhan akan diselamatkan (ayat 21).
 
III. REFLEKSI
Allah membebaskan dan menyelamatkan kita bukanlah karena kebaikan kita, tetapi adalah inisiatif Allah sendiri. Kebaikan dan kebijaksanaan Allah itu menjadi renungan bagi kita dan inilah yang menjadi tekad serta pengakuan kita bersama sebagai orang percaya. Mari kita memuji dan memuliakan Tuhan sepanjang waktu selama nafas kehidupan masih ada bagi kita, sebab Tuhan baik adanya dan tidak berkesudahan kasih setiaNya. Inilah yang kita ambil dari Invocatio kita minggu ini.
 
Dalam bacaan Mazmur, kita lihat tentang iman dan pengharapannya kepada Tuhan. Kesimpulan itu adalah hasil perenungan pemazmur akan Allah dalam segala kebaikan dan kasihNya. Oleh karena itu, pemazmur berseru untuk selalu memuliakan Tuhan, menyanyikan lagu baru bagi Tuhan karena kesetiaanNya bagi umatNya. Itulah ungkapan kepercayaan yang menjadi credo bagi pemazmur dan seluruh bangsa yang kiranya dapat memiliki spirit yang sama seperti pemazmur.
 
Sekarang ini di tengah-tengan kehidupan bangsa, kita sangat giat dikumandangkan aksi damai, mempertahankan persatuan dan kesatuan (NKRI) dan tetap menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika. Ini semua dilakukan karena ada pihak-pihak yang ingin merusak persatuan bangsa Indonesia. Mari kita junjung tinggi nilai-nilai perbedaan baik suku, ras dan agama dengan mempertahankan Pancasila sebagai Dasar Negara kita.
 
Sebagai orang Kristen harus terus membenahi diri dalam semangat kebersamaan, sehingga semuanya merasakan anugerah-Nya yang luar biasa, dan peran Roh kudus mendukung visi dan misi yang kita sepakati bersama, yaitu semangat persaudaraan dalam kasih, dalam iman dan dalam pengharapan yang abadi yang disandarkan kepada Yesus Sang Kepala Gereja.
 
Roh Kudus telah turun atas kita dan telah tinggal dalam diri kita. Ia mempersatukan kita sebagai umat Tuhan dalam gereja-Nya sebagai bentuk dan tempat persekutuan kudus yang semakin besar dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Akan tetapi, tak dapat kita pungkiri bahwa persekutuan yang besar itu juga mendapatkan ancaman dan tantangan seiring dengan kemajuan zaman dan banyaknya orang-orang yang tidak seiman dengan kita. Akan tetapi, kita tidak perlu takut karena dengan kehadiran Roh Kudus pada hari Pentakosta, Roh Kudus memenuhi seluruh umat dengan penyertaanNya sebagai penolong, penghibur, dan pemberi sukacita dan damai sejahtera. Seperti janjiNya dalam Mat. 28:20, “… Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Amin.
 
Pdt. Abdi E. Sebayang, M.Th
GBKP Rg. Graha Harapan
 

Khotbah Kisah Para Rasul 104:24-34,35b, Minggu tanggal 04 Juni 2017 (Pentakosta I)

Renungan

Invocatio :
Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya (Yehezkiel 36:27).
 
Bacaan :
Mazmur 104:24-34, 35b (Responsoria)

Tema :
Roh Kudus Memenuhi UmatNya
 
 
I. PENDAHULUAN
Pentakosta dirayakan lima puluh hari setelah hari raya Roti Tidak Beragi di tengah-tengah umat Israel (Imamat 23). Hari Pentakosta terjadi lima puluh hari setelah “Kristus, anak domba Paskah kita” dikorbankan untuk kita. Hari Pentakosta atau turunnya Roh Kudus atas murid-murid Yesus merupakan pemenuhan janji Yesus untuk memberikan kuasa dalam pemberitaan Injil. Dengan demikian, Pentakosta merupakan perpaduan antara maksud Allah yang berkuasa dan persiapan rohani orang-orang yang telah dipercayai-Nya untuk melaksanakan maksud-Nya. Kejadian ini merupakan suatu pengalaman pribadi ataupun kelompok (murid-murid Yesus) yang menandakan pembaharuan dan penyucian oleh Roh Kudus dalam jemaat secara ajaib. Besarnya perubahan yang diakibatkan oleh pengurapan Roh Kudus dalam diri murid-murid Yesus bisa kita lihat, dimana mereka sebelumnya merasa takut setelah ditinggalkan Yesus karena Yesus naik ke Sorga. Dulunya juga ada perselisihan terus-menerus di antara mereka untuk menentukan siapa yang terbesar di antara mereka. Semenjak mereka menerima Kuasa Roh Kudus tidak lagi demikian, bahkan mereka telah menjadi satu tim yang melupakan kepentingan pribadi dan hanya mempunyai satu tujuan, yaitu dengan setia melibatkan diri dalam pemberitaan Injil tentang Kristus yang bangkit dari kematian dan telah naik ke Sorga.
 
II. PEMBAHASAN
Murid-murid Yesus berkumpul bertepatan dengan pesta orang Yahudi yang disebut dengan Pentakosta. Dalam tradisi Yahudi, Pentakosta (Khamisyim Yom = Hari Kelimpahan) adalah perayaan Pesta Panen. Peziarah-peziarah Yahudi datang ke Yerusalem untuk merayakan sukacita dan mensyukuri berkat tuaian sebagai ungkapan rasa hormat kepada Allah yang memberi hasil yang melimpah. Sejak dahulu orang-orang Yahudi sering menghubungkan angin dengan Roh, demikian juga api dan Roh (bnd. Lukas 3:16).

Ketika semua orang dipenuhi oleh Roh Kudus, maka berbicaralah mereka dalam bahasa-bahasa yang diberikan Roh kepada mereka (bnd. Kis. 10:46 ; 19:6). Bahasa yang diberikan oleh Roh Kudus pada hari Pentakosta adalah bahasa-bahasa yang ada dan digunakan pada saat itu (Partia, Melia, Elam, Mesopotamia, Yudea, Kapadokia, Pontus, Asia, Frigia, Famfilia, Mesir, daerah-daerah Libia dekat Kinere, Roma, Kreta dan Arab). Artinya, dengan curahan Roh Kudus maka setiap orang dimampukan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Peristiwa yang terjadi pada saat itu menimbulkan keanehan dan ketakjuban bagi orang-orang yang ada pada saat itu. Hal ini disebabkan karena yang terjadi adalah di luar nalar kemanusiaan pada saat itu, dimana murid-murid Yesus selama ini tidak pernah bergaul berkomunikasi dengan orang lain di luar komunitas mereka sebagai orang Galilea, tiba-tiba mampu berkata-kata tentang perbuatan-perbuatan besar yang Allah lakukan dengan bahasa lain, yaitu bahasa yang ada di sekitar mereka.

Di lain pihak, kejadian itu juga mengandung kemarahan bagi orang-orang yang membenci Yesus (lih. Kis. 4:1-37) dimana mereka menyindir Para Rasul dengan mengatakan mereka mabuk. Ini terjadi karena ketakutan akan hilangnya wibawa Imam dan pejabat yang berwenang pada saat itu. Sebab mereka tahu yang berkata-kata itu adalah murid-murid Yesus yang belum lama baru mereka menyalibkan Yesus. Sehingga dibuatlah suatu pernyataan bahwa mereka sedang mabuk. Dengan pernyataan itu sekaligus menjatuhkan wibawa Para Rasul dan sebagai suatu usaha untuk menghilangkan simpati orang banyak kepada mereka (murid-murid Yesus).
 
Untuk menjelaskan situasi yang terjadi pada saat itu kepada orang banyak, Petrus dengan beraninya berbicara dengan mengatakan bahwa Para Rasul dengan tindakan dan tingkah lakunya itu bukan karena mabuk, karena bagaimana mungkin itu terjadi karena hari masih pagi (jam sembilan). Akan tetapi, situasi tersebut adalah sebagai pemenuhan akan nubuat Nabi Yoel, bahwa pada akhir zaman Allah akan mencurahkan RohNya kepada manusia (Yoel 2:28-32). Dalam perjanjian lama, kedatangan Roh kepada seseorang kerap kali menyebabkan tingkah laku yang berbeda atau tidak biasa (1 Sam. 10:5-13).
 
Dari perkataan Nabi Yoel menunjukkan bagaimana orang-orang Kristen hidup pada hari-hari terakhir (ayat 17) dengan tetap setia menantikan kedatangan hari Tuhan, yaitu hari yang besar dan mulia (ayat 20), hari akhir penghakiman dan pada hari itu siapa yang berseru dan menyerukan nama Tuhan akan diselamatkan (ayat 21).
 
III. REFLEKSI
Allah membebaskan dan menyelamatkan kita bukanlah karena kebaikan kita, tetapi adalah inisiatif Allah sendiri. Kebaikan dan kebijaksanaan Allah itu menjadi renungan bagi kita dan inilah yang menjadi tekad serta pengakuan kita bersama sebagai orang percaya. Mari kita memuji dan memuliakan Tuhan sepanjang waktu selama nafas kehidupan masih ada bagi kita, sebab Tuhan baik adanya dan tidak berkesudahan kasih setiaNya. Inilah yang kita ambil dari Invocatio kita minggu ini.
 
Dalam bacaan Mazmur, kita lihat tentang iman dan pengharapannya kepada Tuhan. Kesimpulan itu adalah hasil perenungan pemazmur akan Allah dalam segala kebaikan dan kasihNya. Oleh karena itu, pemazmur berseru untuk selalu memuliakan Tuhan, menyanyikan lagu baru bagi Tuhan karena kesetiaanNya bagi umatNya. Itulah ungkapan kepercayaan yang menjadi credo bagi pemazmur dan seluruh bangsa yang kiranya dapat memiliki spirit yang sama seperti pemazmur.
 
Sekarang ini di tengah-tengan kehidupan bangsa, kita sangat giat dikumandangkan aksi damai, mempertahankan persatuan dan kesatuan (NKRI) dan tetap menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika. Ini semua dilakukan karena ada pihak-pihak yang ingin merusak persatuan bangsa Indonesia. Mari kita junjung tinggi nilai-nilai perbedaan baik suku, ras dan agama dengan mempertahankan Pancasila sebagai Dasar Negara kita.
 
Sebagai orang Kristen harus terus membenahi diri dalam semangat kebersamaan, sehingga semuanya merasakan anugerah-Nya yang luar biasa, dan peran Roh kudus mendukung visi dan misi yang kita sepakati bersama, yaitu semangat persaudaraan dalam kasih, dalam iman dan dalam pengharapan yang abadi yang disandarkan kepada Yesus Sang Kepala Gereja.
 
Roh Kudus telah turun atas kita dan telah tinggal dalam diri kita. Ia mempersatukan kita sebagai umat Tuhan dalam gereja-Nya sebagai bentuk dan tempat persekutuan kudus yang semakin besar dan menyebar ke seluruh penjuru dunia. Akan tetapi, tak dapat kita pungkiri bahwa persekutuan yang besar itu juga mendapatkan ancaman dan tantangan seiring dengan kemajuan zaman dan banyaknya orang-orang yang tidak seiman dengan kita. Akan tetapi, kita tidak perlu takut karena dengan kehadiran Roh Kudus pada hari Pentakosta, Roh Kudus memenuhi seluruh umat dengan penyertaanNya sebagai penolong, penghibur, dan pemberi sukacita dan damai sejahtera. Seperti janjiNya dalam Mat. 28:20, “… Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Amin.
 
Pdt. Abdi E. Sebayang, M.Th
GBKP Rg. Graha Harapan
 

Khotbah Keluaran 17:8-16, Minggu 04 September 2016

Renungan

Invocatio :
Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-
jalan orang benar (Amsal 2:20)

Bacaan :
Kejadian 39:1-6 (Tunggal)

Tema :
Permata GBKP Terteki
 
 
1. Memahami dan Merenungkan Bacaan 1
a. Yusuf diperkirakan dijual pada saat usia 17 tahun dan diperkirakan bahwa Yusuf berada di rumah Potifar selama lebih kurang 10 tahun. Sekalipun dia berada di rumah Potifar tetapi dia tetap disertai oleh Tuhan (ay. 2). Dan penyertaan tersebut menyebabkan ada step-step kemajuan hidup Yusuf di rumah Potifar. Kemajuan tersebut adalah; segala yang diperbuatnya berhasil (ay. 2b). Potifar melihat bahwa Tuhanlah yang membuat pekerjaan Yusuf berhasil (ay. 3a) dan ini menyebabkan Potifar mengijinkan Yusuf melayani dia (ay. 4a). Tuhan memberkati Yusuf, bukan saat Yusuf berdiam diri, tetapi saat Yusuf juga bekerja. Ini terlihat dari kata-kata “Pekerjaannya” (ay. 2), “dikerjakannya” (ay. 3), “melayani dia” (ay. 4). Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan memberkati orang yang malas.

b. Potifar menyerahkan segala miliknya dalam kuasa Yusuf, sehingga dengan bantuan Yusuf ia tidak perlu mengurus apa-apa lagi kecuali makanannya sendiri (ay. 4b-6). Memang tidak diizankan bagi seorang Ibrani untuk mengurus makanan orang Mesir karena itu dianggap sebagai kekejian.

c. Penyerahan segala sesuatu ke dalam tangan Yusuf menyebabkan Potifar diberkati oleh Tuhan. (ay. 5b). Sama seperti Laban diberkati karena kehadiran Yakub (Kej. 30:27). Perenungan bagi kita bahwa kehadiran kita dimanapun kita bekerja, kita menjadi berkat bagi orang lain dan sekitar kita. Tetapi, penyebab utama dari semua itu adalah kedekatan dengan Tuhan. Kita akan menjadi berkat bagi orang lain, disaat kita terkoneksi baik dengan Tuhan. Yusuf disebut sebagai orang berhasil, bahkan akhirnya dipercaya sebagai penguasa Mesir (pada akhirnya) karena ia memiliki Tuhan yang hidup, yang senantiasa menyertai hidupnya. Keberhasilan Yusuf bukan karena apa yang dia miliki tetapi siapa yang dia miliki yaitu TUHAN yang dalam Efesus 3:20 dikatakan "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita"

d. Selama 10 tahun Yusuf ada di rumah Potifar dan oleh sebab “Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya” (ay. 6b). Dan kita bandingkan dengan ayat 10a “Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.” Tetapi Yusuf tetap masih bertahan dalam iman. Ini menunjukkan kehebatan Yusuf. Selama 10 tahun hidup di kalangan orang kafir, kerohaniannya bisa tetap terjaga dengan baik. Iman Yusuf tidak tergantung kondisi luar. Sekali lagi, bahwa Yusuf tidak melakukan hal zinah dengan istri Potifar bukan karena takut dengan Potifar yang merupakan tuannya, tetapi karena dia takut akan Tuhan. Yang perlu kita renungkan adalah ketika saat ini orang-orang lebih takut berbuat hal negatif dihadapan manusia daripada dihadapan Tuhan. (ingat lagu KAKR “mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat”). Jadi kalau tidak mau berdosa jangan dekati sumber dosa. Yusuf ketika digoda istri Potifar dia lari keluar (ay. 13) bukan lari ditempat. Ingatlah bahwa “integritas diuji saat kita merasa tidak ada ORANG yang melihat”. Integritas adalah menyatunya kata dan perbuatan atau menyatunya iman di dalam tindakan nyata. Alkitab berkata : ...TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya. Keberhasilan merupakan anugerah Allah. Tetapi, pada tingkat tertentu keberhasilan bisa menjadi jerat yang membuat dia lupa diri. Karena itu, keberhasilan yang sejati harus disertai dengan integritas yang teruji. Jangan mau kompromi dengan dosa. Ula kari ninta “sekali nge!” sekali nge lebe maka dua kali ras seterusna. Ingat PERMATA, saat ini banyak sekali yang “harga dirinya” murahan, tidak menjaga kekudusan saat masih PERMATA. Jangan sekali-sekali berzinah! Ada kalimat mengatakan “carilah pasangan yang mengajakmu buka Alkitab, bukan mengajakmu buka baju”

e. Memang kita tidak bisa menghindari adanya dosa ataupun godaan-godaan. Tetapi seperti kata Marthin Luther “Kita tidak bisa menghalangi burang terbang di atas kepala kita, tapi kita bisa mencegah burung bersarang di atas kepala kita”. Artinya dosa dan godaan akan tetap ada, tetapi jangan itu yang menguasai kita, sehingga kita benar-benar menjadi orang yang bisa dipercaya. Luk. 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Perlu diingat oleh setiap kita secara khusus oleh PERMATA, dalam mencari pekerjaan atau pasangan hidup tetaplah berintegritas, TUHAN sendiri yang akan mem-PROMOSI-kan kita. Seperti Yusuf yang diberi kemampuan untuk menafsir mimpi Firaun yang pada akhirnya menjadi orang nomor dua di Mesir. Akan tetap ada cara ajaib Tuhan yang jauh di luar nalar kita.
 
2. Memahami dan merenungkan bacaan ke 2
a. Menurut Kej.36:12, “Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau,” Amalek adalah cucu Esau. Dan Bilangan 24:20, Amalek adalah bangsa pertama yang melawan Israel, “Ketika ia melihat orang Amalek, diucapkannyalah sanjaknya, katanya: Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan.” Amalek memerangi Israel karena ingin merebut sumber air.

b. Nats ini bercerita tentang pertempuran antara Israel dan Amalek di Rafidim. Tetapi pertempuran itu adalah pertempuran dimana Allah sendiri yang berperang melawan Amalek (Ul.25:17–19; Kel.17:14). Amalek jelas-jelas memberontak kepada Allah, sehingga Allah-lah yang berperang. Sehingga Musa naik ke bukit, dan berdoa, dan bukannya membuat mujizat langsung dari tongkat. Hasil doa Musa, Allah dikenal sebagai Jehovah Nissi (Tuhan panji-panji Israel). Satu-satunya tempat dalam Alkitab dimana Tuhan disebut sebagai Jehovah Nissi. Jehovah Nissi menunjukkan bahwa ketika Israel melangkah menuju Kanaan, Tuhan menyertai. Tuhan menjadi “penunjuk arah” bagi umatNya. Yang perlu kita renungkan adalah dunia dan segala isinya ini banyak menawarkan segala-sesuatu, tetapi ingatlah bahwa Allahlah Sang Penuntun hidup kita yang sejati. Jangan mengikuti arah yang dunia ini inginkan, tetapi ikutklah YEHOVAH NISSI (TUHAN Panji-panji Israel Sang Penuntun).

c. Perjalanan kehidupan kita persis sama seperti proses keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Di tengah jalan banyak tantangan dan rintangan. Ingat, bahwa menjadi Kristen tidak pernah ditawarkan jalan penuh dengan bunga mawar bahkan dikatakan “harus pikul salib”. Menjadi PERMATA saat ini memiliki tantangan tersendiri. Baik tantangan dari dalam diri sendiri yaitu keinginan daging dan tantangan dari luar seperti misal teknologi-medsos-game online dsb. Ingatlah bahwa kita tidak akan mampu jika mengandalkan kemampuan diri sendiri dalam menghadapi tantangan tsb. Efesus 6:11-18 “ Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus” Jangan memberi kesempatan mata untuk melihat sesuatu yang mendatangkan dosa, telinga jangan dipersiapkan untuk mendengar hal-hal yang membuat hati kita rusak, pikiran dilindungi oleh damai sejahtera Allah, mulut dijaga supaya tidak mengeluarkan kata-kata tidak baik. Ini semua dikenakan pada kepala kita sebagai ketopong keselamatan.

d. Dalam hukum perang, seorang yang mengangkat tangan di hadapan musuh menunjukkan tanda menyerah. Demikian pula saat Musa mengangkat kedua tangannya, berarti dia merasa tidak mampu menghadapi Amalek sehingga Tuhan berperang melawan Amalek. Bukti kehidupan yang menyerah sepenuh kepada Tuhan ialah ‘bila kita mengangkat tangan, Tuhan akan turun tangan’. Mengangkat tangan juga berarti berada di pihak Allah; kalau Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita (Rom. 8:31).

e. “Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.” (ay. 12) Tugas pekerjaan besar hanya akan berhasil kalau dilakukan bersama-sama dalam kesatuan sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak namun semua anggota meskipun banyak merupakan satu tubuh; demikian pula Kristus (1 Kor 12:12). PERMATA bukan “aku” tetapi “kita”. Biarlah setiap anggota tidak mementingkan dirinya sendiri. Jaga integritas dan biarlah segala tanggungjawab yang diemban seperti Yusuf dan Yosua tetap bisa dipercaya.
 
Pdt. Dasma S. Turnip
Runggun Pontianak
 

Khotbah Lukas 15:11-24, Minggu 21 Agustus 2016

Renungan

Invocatio :
Orang benar yang bersih kelakuannya – berbahagialah
keturunanannya (Amsal 20:7)

Bacaan :
Kejadian 13:1-12

Tema :
Ayah yang Baik (Bapa Si Melias)
 
Pendahuluan
Untuk memahami kasih Allah bagi manusia dan memperjelas ajaran Allah Yesus sering memakai sebuah perumpaan (kiasan). Maksud dan tujuan Yesus sebenarnya bukanlah mengemukakan perumpaan itu saja, melainkan menyampaikan Injil atau Kabar Baik melalui perumpamaan. Dengan perumpaan biasanya para pendengar lebih kosentrasi untuk mendengarkannya. Karena tampa kosentrasi, pendengar tidak akanmengerti isi dan tujuan perumpaan itu. Dengan perumpaan pendengar diajak untuk berpikir dengan serius.
 
Lukas 15 sebagai ajaran Yesus dengan menggunakan perumpaan, perumpaan yang disampaikan Yesus untuk menekankan bagaimana pandanga Yesus terhadap orang berdosa berbeda dari pandangan Farisi dan ahli-ahli Taurat. Faris dan ahli Taurat keberatan atas tindakan Yesus terhadap para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Sebab bagi orang Farisi dan dan ahli Taurat, mereka adalah orang-orang yang berstatus ‘tidak masuk hitungan’ di tengah masyarakat dan harus disingkirkan. Barangsiapa masih memihak kepada orang-orang seperti itu pantas untuk dicurigai. Itulah sebabnya orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut karena Yesus seakan-akan memanjakan orang itu. Tapi melalui perumpaan ini Yesus menekankan bahwa kehadiran Dia di dunia untuk mencari orang-orang yang hilang atau orang-orang yang tersingkirkan. Sebagi wujud kasih Allah sebagai Bapa untuk manusia sebagi anak-anakNYa.
 
Penjelasan
Perikop Firman Tuhan dalam Lukas 15:11-24 mengambarkan kasih seorang bapa yang mengenal akan sifat dan karakter kedua anaknya. Walau pun bukan hal yang sopan dan wajar yang telah dilkukan oleh anaknya yang bungsu/muda dengan meminta warisan sebelum ayahnya meninggal . tapi itu juga diberikan oleh ayahnya. Setelah menerima bagiannya maka dia pergi meninggalkan ayahnya (tradisi Yahudi seorang anak yang sudah menerima warisan orang tua harus meninggalkan rumah). Dan harta yang sudah diperoleh dipergurnakan hanya untuk kesenangan dunia sampai harta itu habis dan dia kelaparan di negeri orang dan tidak seorang pun yang perduli dengan kesusuhan yang ada padanya. Dalam kondisi kelaparan dan penolakan orang-orang disekitarnya ia mengingat akan rumah ayahnya yang berlimpah makanan, dan penuh keyakinan ia bergerak untuk pulang dan kepulanganya disambut dengan sukacita oleh ayahnya dengan dengan pesta yang meriah dengan tidak pernah memperhitungkan kesalahan yang telah dilakukan anaknya (ayat 24). Tapi apa yang dilakukan ayahnya tidak menjadi sukacita oleh anaknya yang sulung/tua, sebab ia merasa apa yang telah dilakukan oleh adiknya selama ini tidak benar terhadap ayahnya tapi mengapa ayahnya sangant bersukacita akan kehadirannya. Ia yang selama ini ada bersama ayahnya dan melakukan apa yang jadi aturan dirumah ayahnya malah tidak pernah merasakan apa yang dilakukan ayahnya kepada adiknya yang sudah pulang (ayat 25).
 
Dalam kerajaan Allah terdapat sukacita dan kegembiraan yang tiada taranya. Hanya orang yang benar-benar telah berada di dalam Kerajaan Allah itu yang dapat merasakannya. Bukan berarti hal itu mulai berlaku disurga, tetapi ketika kita masih berada di dunia ini. Orang-orang yang tidak mengenal Kerajaan Allah memang tidak akan bisa merasakannya, bahkan mengkritiknya. Itu yang dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak merasa sukacita dengan bertambahnya pengikut Kerajaan Allah. Sehingga menjadi pertanyaan apakah mereka sudah menjadi penghuni Kerajaan Allah, karena kalau sudah tentu mereka turut bersukacita dengan yang dilakukan , Yesus,menerimaorang-orang berdosa yang sudah bertobat.
 
Dengan adanya pertobatan itu, ,maka warga Kerajaan Allah semakin bertambha dan sukacita pun tidak dapat dihambat. Orang yang tadinya hilang dapat kembali, sama artinya dengan orang yang tadinya mati menjadi hidup kembali. Tentu wajar sekali terjadi sukacita dan kegembiraan yang luar biasa.
Sukacita itu bukan hanya pada Allah Bapa atau pada Yesus Kristus yang telah berhasil menyelamatkan orang-orang yang percaya yang telah berhasil menyelamatkan orang-orang yang percaya, tetapi juga berlaku bagi ‘penghuni’ kerajaan Allah itu. Tidak ada iri hati atau cemburu atas kehadiran ‘orang lain’, yang pernah dianggap golongan atau setingkat pemungut cukai da orang-orang berdosa.

Tugas orang-orang beriman yang lebih dahulu masuk ke dalam Kerajaan Allah ialah menyambut orang-orang yang bertobat dengan penuh sukacita tampa kritik. Sebab orang-orang berdosa sama dengan orang-orang pemberontak terhadap Allah, dan Allah sendiri melihat mereka sama seperti orang-orang yang telah mati, karena akibat dosa atau kematian. Kalau orang yang telah bertobat, yang kembali ke rumah bapa-bukan dalam arti meninggal –kembali ke dalam Kerajaan Allah sudah sepantasnya disambut dengan penuh sukacita.
Kasih Allah yang mau menerima orang-orang bertobat adalah dasar sukacita. itulah sebabnya perumpamaan ini, perumpamaan tentang kasih Bapa, bukan hanya perumpaman tentang anak yang hilang. Penekanannya terletak pada tindakan kasih Bapa, yang menyambut kembali anak-anaknya yang sempat hilang. Pantaslah sukacita Allah adalah juga sukacita kita semua.
 
Penutup
Perumpaan anak yang hilang menjadi gambaran kasih Bapa si surga akan anak-anaknya, yang tidak memperhitungkan kesalahan-kesalahan masa lalu anaknya. Memberikan pilihan yang menurut anak-anaknya baik bagi mereka. Seperti Abram (Bapa orang percaya) yang memberi pilihan kepada Lot untuk tanah yang menjadi tempat tinggalnya. Walau pun secara penglihatan tanah yang dipilih Lot adalah tanah lebih bagus tapi Abram selaku bapa yang biasanya berhak untuk lebih dulu memilih bagiannya tidak melakukan hal tersebut(Kej. 131-12).
 
Minggu ini adalah Minggu Mamre GBKP, HUT Mamre GBKP yang ke 21 tahun. Seperti arti dan makna istilah Mamre yang dipakai sebagai persekutuan kaum bapa di GBKP menjadi tempat persembahan kepada Allah atau membawa/menjadi iman untuk membawa keluarga menjadi persembahan bagi Allah (bnd. Kejadaian 18:1). Maka kehadiran Mamre ditengah keluarga harus mampu menunjukkkan bagaimana Kasih Bapa bagi umatnya. Dengan tema khotbah Bapa Si Melias, kehadiran ayah untuk anak yang hilang menunjukan mamre juga mampu menjadi ayah yang sangat dirindukan oleh anak-anaknya dan keluarganya yang diyakini akan adanya kedamaian bagi setiap keluarga. Memberi keputusan yang bijak atas keinginan anak-anaknya/keluarga (bnd. Abram). Dalam rangka mewujudkan Kasih Allah bagi umatnya yang tidak terbatas oleh apa pun, seperti itu juga Mamre ditengah keluarga, lingkungan, dan gerejaNya yang menjadi harapan bagi semuanya.

Pdt. Mea Purba
Rg. Cibubur
 

Khotbah Lukas 4:38-41, Minggu 24 Juli 2016

Renungan

INVOCATIO :
Mata Kutertuju kepada orang-orang setiawan di negeri, supaya mereka diam bersama-sama dengan Aku. Orang yang hidup dengan tidak bercela akan melayani Aku (Mazmur 101 : 6)
 
Bacaan :
Kisah Para Rasul1 : 6 – 10 (Responsoria)
 
Thema :
Gereja yang melayani
 
Latar Belakang
Kitab Injil Lukas pada awalnya dipersembahkan kepada “Teofilus yang mulia” (yang mengasihi Allah). Ungkapan’ yang mulia’ biasanya digunakan khusus untuk para pejabat tinggi Romawi pada waktu itu. Dipersembahkan kepada Teofilus dengan maksud untuk mendapat dukungan antara lain ‘dana’ dalam penyebaran injil khususnya yang ditulis oleh Lukas ini.

Penulisan Injil Lukas ini sekitar tahun 80 M, hal ini terlihat dari keterangan dalam Lukas 19 : 43 – 44; 21 : 20 – 24 yang isinya menyinggung kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M (Band. Lukas 21 : 24). Injil Lukas ditulis untuk menjangkau dua kelompok pembaca yaitu kelompok pertama yang berasal dari kalangan terpelajar ‘Helenis’ (yang menggunakan bahasa Junani) yang tertarik kepada ajaran kekristenan; kelompok kedua yaitu orang Kristen yang non Jahudi yang masih membutuhkan bimbingan teologis. Lukas sebenarnya bukan orang Jahudi, dia berasal dari Makedonia dan Injil yang ditulisnya ditujukan kepada orang-orang Kristen generasi kedua.
 
Pemahaman Teks
- Ayat 38 – 39. Setelah Yesus menyelesaikan pelayanan di Sinagoge Kapernaum, tepi danau Galilea, lalu pergi kerumah Petrus untuk istirahat karena pelayanan mengajar dan mengusir setan sebelumnya sangat melelahkan Dia. Pada saat ingin beristirahat pun ternyata Yesus tidak keberatan ketika keluarga Simon memohon untuk menyembuhkan ibu mertuanya yang sedang sakit. Yesus tidak menolak pelayanan walaupun pada saat itu kondisi badannya sedang kelelahan. Dia siap senantiasa melayani, walaupun tidak lazim dalam kebiasaan laki-laki Jahudi pada waktu itu mengabaikan waktu istirahat demi menolong seorang perempuan. Dalam pelayanannya, Yesus tidak membedakan laki-laki/perempuan, orang Jahudi/non jahudi atau orang asing sekalipun (Band.Kisah Yesus menyembuhkan hamba seorang Perwira Romawi (Lukas 7 : 1 - 10).

Kecenderungan orang pada umumnya melakukan perbuatan baik supaya dilihat orang, dipuji, dan menjadi terkenal, namun pelayanan yang dilakukan Yesus dalam menyembuhkan mertua Petrus adalah secara personal dan hanya sedikit orang yang melihat. Setelah mertua Petrus menerima kesembuhan, kemudian dia berdiri dan langsung melayani orang-orang yang berada disitu. Dari sikap mertua petrus tersebut dapat diambil pelajaran bahwa orang yang telah menerima berkat atau kesembuhan dari Tuhan wajib bersyukur dan melakukan pelayanan juga seperti yang dilakukan mertua Petrus tersebut (Band.Thema diatas ‘Gereja yang Melayani’). Kita melayani karena kita telah dilayani terlebih dahulu oleh Yesus, bahkan nyawaNya diberikan untuk penebusan dosa-dosa kita.

- Ayat 40. Ketika matahari terbenam merupakan saat-saat istirahat bagi orang-orang yang telah bekerja seharian, lain halnya dengan Yesus ketika saat istirahatnya pun diganggu oleh orang banyak yang menderita berbagai macam penyakit. Yesuspun berbelas kasihan dan meletakkan tanganNya diatas mereka.

- Ayat 41. Selain penyakit yang disembuhkan, orang-orang yang kerasukan setan pun disembuhkan. Setan-setan berteriak “Engkau adalah anak Allah”, namun Yesus melarang orang banyak itu untuk menceritakan bahwa Dia Mesias. Hal itu disebabkan konsep orang Jahudi pada zaman itu yang memahami Mesias adalah seorang Raja yang akan dating untuk menaklukkan bangsa Romawi sehingga Yesus melarang mereka memberitakan bahwa Ia mesias untuk menghindari kesalahpahaman mengenai konsep Mesias.
 
Perenungan/Implementasi :
Yesus selalu siap untuk menolong dan melayani manusia, demikian juga kita sebagai pengikut Kristus harus senantiasa siap menolong dan melayani sesame kita tanpa alas an sedang istirahat, lagi sibuk, dan sebagainya.Yesus melakukan pelayanan bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia, bagiNya tidak menjadi masalah apakah perbuatan baiknya diketahui banyak orang atau tidak bahkan sebelum tiba waktunya Dia melarang orang banyak memberitakan Dia dan menyebut Dia sebagai Mesias. Dia tidak membedakan siapa yang ditolongnya baik jenis kelamin, status sosial (Band. Perempuan samaria di sumur Jakub-Yoh4 : 1 - 42; pelacur yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak dan menyekanya dengan rambutnya-Luk. 7 : 36 - 50), dan tidak membedakan ras/suku bangsanya.

Seperti mertua Petrus, setelah disembuhkan dengan segera dia melayani Yesus dan murid-muridnya, demikian juga kita sebagai pengikut Yesus yang telah menerima karunia kehidupan, kesehatan, dan berkat yang melimpah, apalagi keselamatan yang tidak bias dibeli dengan uang sehingga kita wajib melayani sesame kita yang membutuhkan dengan tulus, tanpa membeda-bedakan, dan tidak mengharapkan pujian.
 
Pdt Immanuel Bayak Manik, MTh, D.Min
 

Page 1 of 7

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 411 guests online