Khotbah Efesus 2:11-22, Minggu 22 Juli 2012 (Minggu VII Setelah Trinitas)

Renungan

Introitus :
Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus (Kolose 1:20).

Pembacaan : Jeremia 23:1-8; Khobah : Epesus 2:11-22

Thema :
Kristus Mempersatukan Semuanya

Pendahuluan
Satu hal yang menjadi rancangan Tuhan bagi manusia adalah: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau ya Bapa di dalam Aku dan Aku didalam Engkau ..... (Yoh. 17:21). Hal ini kembali mengingatkan kita tentang fungsi kita sebagai manusia yang berperan menjaga persekutuan dengan Allah melalui kesatuan dengan sesama manusia. Di dalam hidup ini selalu ada perbedaan satu dengan yang lain, akan tetapi perbedaan tersebut bukanlah untuk saling memisahkan diri, menghakimi atau menganggap yang paling baik/benar terhadap yang lain, tetapi rancangan Tuhan di dalam perbedaan tersebut dapat terjadi saling mengasihi dengan saling memperlengkapi/saling menolong. Kehidupan yang saling mengasihi tentu sangat kita dambakan dalam hidup ini, jadi untuk mewujudkannya kita tidak hanya menunggu dikasihi, situasinya baik untuk mengasihi, akan tetapi dimulai dari kita untuk mengasihi di dalam situasi apapun karena itulah jati diri kita.

Lebih lanjut: Khotbah Efesus 2:11-22, Minggu 22 Juli 2012 (Minggu VII Setelah Trinitas)

 

Khotbah Amos 7:7-15, Minggu 15 Juli 2012 (Minggu VI Setelah Trinitas)

Renungan

Introitus :
“Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya” (Efesus 1:11)

Pembacaan : Efesus 1:3-14 ; Khotbah : Amos 7:7-15

Thema :
“Kesetiaan mendatangkan berkat, Ketidaksetiaan mendatangkan hukuman”

Pendahuluan
Tentu tidak menyenangkan menerima teguran, apalagi peringatan akan hukuman berat yang akan diterima. Sebab manusia cenderung merasa dirinya baik dan yang telah mereka perbuat telah memadai menurut mereka. Amsal 21:2 “Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati”.

Bangsa Israel berusaha luput dari hukuman dengan tidak menaati Tuhan. Justru ketaatanlah yang menghindarkan seseorang dari hukuman. Tujuan pemilihan dan penyelamatan adalah kemuliaan bagi Tuhan. Pemilihan Tuhan memberikan tanggungjawab yang besar dalam hidup sehari-hari. Tetapi hidup mereka sungguh mempermalukan Tuhan. Hidup mereka sungguh miskin dihadapan Tuhan.

Lebih lanjut: Khotbah Amos 7:7-15, Minggu 15 Juli 2012 (Minggu VI Setelah Trinitas)

 

Khotbah Yehezkiel 2:1-5, Minggu 8 Juli 2012 (Minggu V Setelah Trinitas)

Renungan

Introitus :
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. (I Kor. 15:58)

Bacaan : II Kor. 11:16-17; Khotbah : Yehezkiel 2:1-5

Tema :
Setialah! Kerjakan pekerjaan yang disuruh Tuhan

Pendahuluan
Keberanian seseorang untuk menghadapi suatu masalah yang harus dihadapi adalah sangat penting dan diutamakan. Keberanian seseorang itu tentunya bukan keberanian yang membabi buta begitu saja, tetapi keberanian yang mempunyai dasar yang kuat dan mempunyai motivasi untuk dinyatakan baik terhadap seseorang maupun kepada banyak orang. Keberanian itu tidak melihat status sosia, kedudukannya dalam masyarakat, kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak berpendidikan, tetapi semua dinyatakan dalam semua tingkatan kehidupan dalam masyarakat. Adapun keberanian yang dinyatakan itu adalah untuk menyatakan suatu perubahan di dalam suatu kehidupan yang tidak layak lagi/ tidak sesuai kehendak Tuhan untuk menuju kepada suatu sikap hidup baru yang bertujuan untuk menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan nama Tuhan.

Lebih lanjut: Khotbah Yehezkiel 2:1-5, Minggu 8 Juli 2012 (Minggu V Setelah Trinitas)

 

Khotbah Ratapan 3:22-33, Minggu 1 Juli 2012 (Minggu IV Setelah Trinitas)

Renungan

Introitus :
”Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan (Ratapan 3:31)

Bacaan : II Korintus 8:7-15; Khotbah : Ratapan 3:22-33

Thema :
Keleng ate Tuhan icidahkenNa arah erbage-bage dampar/Tuhan tetap menyatakan kasihNya

Pendahuluan
Kitab Ratapan ditulis antara tahun 587-538 SM,keberadaan bangsa Israel pada waktu itu sudah ditaklukan oleh bangsa Babilonia,Bait suci telah diruntuhkan dan mereka dibuang sebagai tawanan ke negeri Babilonia.Di tanah pembuangan mereka hidup menderita,dan penderitaan itu diakibatkan oleh ke tidak taatan mereka pada Tuhan,mereka berdosa kepada Tuhan.Karena beratnya penderitaan yang mereka hadapi penulis melukiskan pada pasal 3:17..Engkau menceraikan nyawaku dari kesejateraan,aku lupa akan kebahagiaan.Ditengah-tengah beratnya penderitaan muncul lah pertobatan serta pemahaman yang mendalam tentang Allah bahwa dibalik penderitaan itu ada pengharapan,Allah itu tetap baik,karena tidak selamanya Tuhan mengucilkan (bdk introitus).

Lebih lanjut: Khotbah Ratapan 3:22-33, Minggu 1 Juli 2012 (Minggu IV Setelah Trinitas)

 

Khotbah Ayub 38:1-11, Minggu 24 Juni 2012 (Minggu III Setelah Trinitas)

Renungan

Introitus :
Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus (Efesus 3:18).
Pembacaan : Markus 4:35-41; Khotbah : Ayub 38:1-11
Tema :
Kuasa Dibata La Tersipati (Terjemahan harafiah: Kuasa Allah Tak Terukur).
Usul Tema : Tak Terukur Kuasa-Nya, Tak Terselami Jalan-Nya, Tak Terselidiki Keputusan-Nya, Tak Terduga Hikmat-Nya.

Pendahuluan :
  1. Ada sekelompok kitab Perjanjian Lama yang disebut Kitab-Kitab Kebijaksanaan, seperti: Kitab Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung.
  2. Sesuai dengan sebutannya, kitab-kitab diatas memuat kebijaksanaan hidup, baik sebagai manusia biasa, maupun sebagai orang beriman, dan biasanya dipakai untuk menasihati orang-orang muda atau orang-orang yang kurang terpelajar.
  3. Tampaknya Kitab-Kitab Kebijaksanaan itu berasal dari nasihat-nasihat lisan yang disampaikan secara turun-temurun selama berabad-abad, baru kemudian ditulis secara bertahap sejak masa pemerintahan Raja Daud dan Raja Salomo (abad 11-10 SM).
  4. Kitab Ayub diletakkan di depan kitab-kitab Kebijaksanaan yang lain, diperkirakan ditulis pada abad ke-5 SM, sekitar satu abad setelah orang-orang Yahudi kembali dari tempat pembuangan.

    Lebih lanjut: Khotbah Ayub 38:1-11, Minggu 24 Juni 2012 (Minggu III Setelah Trinitas)

 

Page 20 of 37

 

 "SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 84 guests online

Login Form