Khotbah Keluaran12 : 21-28, Minggu 04 Oktober 2015

Renungan

Invocatio :
Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup (I Korintus 8 : 6)
 
Ogen :
Mazmur 150 : 1-6
 
Tema :
Perbuatan Allah Jadi Adat dan Budaya dalam Kehidupan
 
1. Pendahuluan
Sudah pasti membebaskan diri dari kekuasaan penguasa yang otori tersangat susah, sebagaimana dialami bangsa Israel ditindas, diperbudak di Mesir selama 430 tahun (Kel 12:40). Nabi Musa diperintahkan Allah menghadap penguasa Mesir Raja Firaun. Beginilah firman Tuhan Allah Israel, Biarkanlah umatku pergi meninggalkan Mesir (Kel 5: 1-24) Tuhan punya kuasa melepaskan UmatNya dan mendatangkan kegelapan kepada penindas.
 
2. Isi
 
 
2.1 Perayaan Paskah
 
Berfirman Allah kepada Musa dan Harun, kata kana kepada segenap kaum/Jemaah Israel, ambilah seekor anak domba/kambing setiap kaum keluarga domba jantan tidak bercela, kurang selama 14 hari baru disembelih dan dibakar, makan bersama sampai habis dan makan dengan Roti tidak beragi serta sayur pahit (Kel 12: 1-20). Itulah paskah Tuhan. Upacara darah diambil sedikit darah domba dibubukan di kusen pintu rumahmu ( Kel 12: 7,22). Pengolesan darah diatas tiang rumah umat Israel adalah symbol, agar Malaikat mau melalui (lewat),d ari rumah mereka untuk melakukan hukuman bagi umat Mesir. Semua anak sulung di Gosen selamat, namun semua anak sulung di bangsa Mesir mejadi korban (Kel 12:23-24). Dan menghubungkan tulah kesepuluh, Allah akan melintasi tanah Mesir, membunuh anak sulung baik manusia maupun hewan (Kel12:12-13).
 
 
2.2 Etimologi Paskah
 
Paskah dengan kata pesakh (Ibrani) artinya melewati, ketika Allah menampakan tubuh keseluruh bangsa Mesir, karena Firaun menolak membebaskan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.
 
Paskah, Tuhan Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir.Hari Raya Paskah diperingati sebagai kelepasan Israel dari Mesir.
 
 
2.3 Paskah menjadi pusat ibadah dana dikehidupan umat Israel sebagai ketetapan sampai selama-lamanya turun-temurun (Kel 12 : 14 + 24) Peristiwa Paskah dirayakan, diingat bagaimana Tuhan membebaskan, menyelamatkan, melindungi UmatNya. Paskah menjadi pusat hidup dan pusat ibadah bangsa Israel (Kel 12:27) (Ul 6 : 20-25). Paskah penting dirayakan sebagai landasan ketaatan pada perintah Tuhan. (Ul 6:10-12) (2 Taw 30 + 35) Merayakan Paskah berarti menyusuri perjalanan antar generasi yang mempersatukan seluruh bangsanya, (Imamat 25:55).
 
 
2.4 Mazmur 150
 
“Biarkanlah segala yang bernafas memuji Tuhan, Haleluya.
 
Pujilah Dia ditempat kudusNya (Bait Allah/Gereja)
 
Muliakanlah Allah karena segala keperkasaanNya, Siapa yang memuliakanTuhan, seluruh ciptaannya .
 
Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup kepada Allah, itu ibadahmu (Roma 12:1).
 
2.5.. Iman Kristen merayakan Paskah karya penyelamatan Tuhan Yesus Kristus yang telah membebaskan
kita dari kuasa dosa. Perayaan Paskah dengan pengorbanan diri TuhanYesus di kayu salib (Mat 26:2, 28-29). Sebagai anak domba Allah menghapus dosa dunia (Yoh 1:29; 1Pet 1:18-19). Dalam Paskah, Yesus Kristus sebagai korban perdamaian Allah pada manusia berdosa (2 Kor 5: 17-20). Sebagai orang percaya pada Tuhan Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan karena kita dia hidup (1 Kor 8:6).
 
3. Perbuatan Allah jadi aturan/adat kehidupan. Ada orang lebih senang dikatakan beradat dari pada beriman. Sebagai pengikut kristus Firman Tuhan, perintah Tuhan, sudah jadi aturan hidup kita (adat kehidupan Kristiani).
 
 
3.1 Lit adat kebiasaan silapayo si bertentangen ras kata Dibata arus sitadingken. Tapi adat budaya karo Simehuli, ertutur salah sada dalanna kita lebih ndeher ibas kiniersadaan bas perpulungen, banci pedalan misi ersaksi berita simeriah.
 
 
“Sebab telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” ( 1Kor 6:20)
 
Depok, 27 Agustus 2015.
 
Pdt. Em. M. K. Sinuhaji.
 

Khotbah II Korintus 11:23-29, Minggu 27 September 2015

Renungan

Invocatio :
Kamu yang takut akan Tuhan pujilah Dia,hai segenap anak cucu Yakub,muliakanlah Dia,dan gentarlah terhadap Dia,hai segenap anak cucu Israel (Maz.22:24).
 
Ogen :
Kisah Para Rasul 27:1-6
 
Tema :
Pelayanan dalam Kristus yang berbuah..? Suka duka dalam pelayanan...Ulih latih simerdang
 
A. Pendahuluan
 
Sulit atau mudahkah menjalani kehidupan Kristiani? Atau juga sulit atau mudahkah menjadi seorang pelayan Tuhan (serayan)? Seperti apakah kita seharusnya? Apakah iman kita kepada Yesus telah membuat hidup kita susah,menderita atau justru sebaliknya. Dalam teks bacaan serta khotbah minggu ini,kita dapat melihat bahwa Paulus sebagai pelayan Tuhan,kehidupan yang ia jalani tidak mudah,ia harus menghadapi kesulitan yang membuat kita kadang mempertanyakan keberadaan dimanakah kuasa Allah,kapal karam,cambuk,penjara dan berbagai jenis penyiksaan,bahkah hidupnya dulu sebelum menjadi pengikut Kristus seakan –akan lebih baik karena begitu banyak penderitaan yang hadir dalam perjalanan kehidupannya.
 
Nell Postman,dalam bukunya “Menyenangkan diri sendiri” Mengatakan agama Kristen adalah agama yang serius dan menuntut.Ketika kekristenan dianggap mudah dan menyenangkan,berarti agama ini tidak berbeda dengan agama lain.Kelihatannya ini benar,bahwa menjadi pengikut Kristus dan juga menjadi pelayan Kristus tidaklah mudah,sebab Yesus sendiri berkata;setiap orang yang mau mengikut Aku,ia harus menyangkal dirinya dan memikul salib. Paulus telah diberi tugas,dan ia melakukannya dengan segenap hati untuk kemuliaan Allah bukan untuk dirinya sendiri.
 
B. Isi
Membandingkan Paulus antara dirinya dan lawan-lawannya mengenai kemegahan yang jelas mencerminkan ukuran secara duniawi.Lawan-lawan Paulus membanggakan keturunan etnis mereka tentang persoalan keturunan Yahudi.Paulus mengatakan bahwa ia dapat menandingi lawan-lawannyamengenai pernyataan mereka “sebagai pelayan Kristus”.Dengan tegas Paulus menyatakan bahwa mereka (lawan-lawannya) adalah pelayan-pelayan iblis (ay 12-15).Paulus berani mengatakan bahwa ia adalah pelayan sejati dari perjanjian baru hamba Allah dan kebenaran (3:6).Paulus harus melakukan perbandingan dengan mereka,walaupun apa yang ia lakukan itu disebutnya sebagai “perkataan orang gila” (Dalam bahasa Yunani kata untuk ” orang gila” menunjukkan seseorangyang kehilangan akal serta erat kaitannya dengan orang bodoh).Paulus benar sebab hanya orang bodoh yang akan membiarkan pemegahan diri sendiri.
 
Paulus membuktikan keunggulannya sebagai rasuldengan menunjukkan kelemahannya/penderitaannya. Dalam ay 23-27 secara terperinci Paulus menjelaskan penderitaan dan kelemahan yang ia alami dalam pemberitaan Injil.Maksud Paulus mendaftarkan kelemahannya berbeda dengan yang dilakukan lawan-lawannya sebagai hamba Kristus (Pada zaman Paulus,kaum stoa,serta para pengkhotbah populer dan juga kaisar-kaisar Romawi biasa mendaftarkan kelemahan dan penderitaan yang mereka alami,hal ini menunjukkan nilai kepahlawanan mereka.Tetapi Paulus ingin membanggakan kelemahannya demi memberikan kemuliaan kepada Kristus (12:6,9),ia sama sekali bukan pahlawan (2:14).
 
 
Pada ayat 24-26 Paulus mendaftarkan pengalaman-pengalaman yang mengancam jiwanya,5 kali Paulus mengalami hukuman seperti yang ditentukan dalam ul 25:3,40 kurang satu pukulan,3 kali Paulus mengalami kapal karam,para hakim memutuskan Paulus dan silas di dera (1 tes 2:2),Paulus harus menanggung perlakukan tidak adil ini,sebab seharusnya status kewarganegaraanya seharusnya melindunginya dari hukuman ini. Menurut Kis.14:15 ia dilempari batu oleh sebuah kerumunan orang-orang Yahudi,dan juga ia pernah diseret keluar kota dan diduga ia akan mati.Di dalam Kis.27:14-44 Paulus mengalami kapal karam di Malta,selama 24 jam ia terkatung-katung ditengah laut (ada kemungkinan dalam bahaya itu ia bertahan dengan berpegangan pada pecahan kapal sebelum akhirnya ia diselamatkan dan terdampar dipantai).Perjalanan darat juga tidak pernah aman,ada bahaya penyamun,dengan mudah mereka akan menjadi mangsa,apalagi mereka berjalan dalam kelompok kecil.Paulus juga mengalami ancaman dari orang –orang Yahudi sendiri,yakni saudara-saudara “palsu” yang menampilkan diri sebagai Kristen namun diam-diam memata-matainya (Gal2:4) memfitnahnya atau melawan pelayanannya,ancaman juga datang dari orang-orang non Yahudi (16:20-22).
 
 
Pada ayat 27-29 Paulus mengunakan kata “berjerih lelah dan bekerja berat”hal ini menunjukkan betapa ia bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan uang juga melayani dimalam hari.Ia kerap tidak tidur karena rasa cemas,terlalu lelah karena harus berkhotbah pada malam hari,ketika dengan bebas orang-orang mendengarkannya (kis 20:7).Ia pernah lapar dan dahaga,kerap berpuasa,situasi ini menunjukkan masa-masa kekurangan yang panjang,ketika ia tidak mempunyai uang untuk membeli makanan.Paulus juga pernah menderita kedinginan karena kekurangan pakaian,seperti ia terapung dilaut.Tidak cukup itu saja,Paulus juga merasakan tekanan dari urusan sehari-hari dimana ia sungguh-sungguh bertanggung jawab atas kesejahteraan rohani jemaatnya.Oleh sebab itu setiap kali seseorang tersandung belenggu dosa atau kehilangan iman (Roma 14:13;1 Kor 8:13) Paulus menjadi hancur (berduka).Seperti halnya penderitaan seorang anggota mempengaruhi seluruh tubuh Kristus (1 Kor 12:26)pelanggaran yang dilakukan seorang anggota juga dirasakan oleh semuanya.
 
C. Refleksi
 
Sulit kita membayangkan bagaimana Paulus bertahan dalam penderitaan seperti itu,sebagai pengikut Kristus atau sebagai pelayan Tuhan kita sering merasa bahwa kita seolah-olah gagal,tidak sanggup hidup dengan situasi penderitaan.Merasa bahwa pelayanan terasa berat dan Tuhan salah dalam menempatkan kita pada situasi dan kondisi tertentu,atau juga sering timbul keinginan untuk menarik diri dari pelayanan.Paulus di dalam mengikut Tuhan dan mengalami banyak penderitaan dan penolakan tetap setia karena semua yang ia alami merupakan proses pembentukan dirinya menjadi seorang hamba Tuhan yang besar.Paulus adalah seorang yang disebut sebagai rasul ke 13,karena perjuangannya yang begitu besar dalam mengembangkan ke kristenan di dunia pada zamannya.
 
 
Melalui perjalanan misinya ,injil tersebar keseluruh negeri,juga membuka mata orang-orang Yahudi bahwa keselamatan itu bukan hanya berlaku bagi mereka tapi berlaku juga bagi bangsa-bangsa lain.Berdasarkan pembahasan diatas ada beberapa hal yang dapat kita renungkan:
 
1. Paulus menyadari panggilan pelayanannya
Paulus tahu bahwa Tuhan lah yang memanggilnya untuk memberitakan injil kepada orang Yahudi dan bukan Yahudi,sehingga ia melakukan dan merencanakan perjalanan misinya.Ketika kita menyadari bahwaTuhanlah yang menyuruh kita untuk melayani Dia,kita dapat melakukandan merencanakan pelayanan itu dengan sebaik-baiknya.
 
2. Komitmen dalam melayani
Bagi Paulus jika Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup, hal itu akan digunakan untuk melakukan pekerjaan Tuhan.”Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,tetapi jika aku harus hidup di dunia ini bearti bagiku bekerja memberi buah”(Plp 1:21-22).Paulus bekerja dengan dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga (Kol 1:29) tidak ada yang menghalangi untuk menyelesaikan pekerjaan itu walaupun penderitaan sering datang.Dalam hal ini komitmen penting sekali bagi kita,dengan adanya komitmen yang kuat,maka pelayanan dapat berlangsung untuk jangka waktu yang lama dan hasil yang akan dicapai pun akan lebih baik.Cara kerja orang yang memiliki komitmen sangat berbeda dengan orang yang tidak memiliki komitmen.Melayani dengan komitmen, akan secara terus menerus melayani walaupun apa yang dia pikirkan dan rencanakan belum bisa terwujud,sebaliknya orang tidak punya komitmen tidak akan bisa melayani dengan terus menerus,pelayanan yang mengebu-gebu tapi hanya sebentar,banyak ketakutan tentang masa depan,keluarga.
 
3. Paulus dapat melayani Tuhan dengan sedemikian rupa karena dia sangat mengasihi Tuhan dan manusia.
Kasih kepada Tuhan membuat Paulus mempersembahkan dirinya seutuhnya bagi Tuhan.Dia menganggap Kepentingan Pelayanan kepada Tuhan adalah segalanya (bnd Filipi 3:7-8).Paulus dengan kasihnya kepada Tuhan mau berjerih lelah dan menanggung banyak penderitaan,asalkan dia mampu menyelesaikan tugas yang diberikan Allah kepadanya.Paulus juga sangat mengasihi manusia,Dia ingin semua orang dapat mengenal Kristus dan melalui sikap hidupnya, Paulus ingin semua orang mampu melakukan kehendak Tuhan (bnd dengan para misionaris yang datang ke tanah karo).Paulus rela menempuh perjalannan yang jauh untuk memberitakan Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal Yesus.Bahkan sampai menjelang akhir hidupnya ia terus  memikirkan pemberitaan injil.Sejak awal ia telah mempersiapkan penerusnya yakni Timotius untuk meneruskan pekerjaanya yang belum selesai.Paulus dapat menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang yang ingin melayani seperti dirinya
 
 
4. Melayani dengan rendah hati
Walaupun Paulus adalah orang yang berpendidikan tinggi,pintar,tapi ia tidak pernah menganggap bahwa semua yang telah dilakukannya itu adalah hasil usahanya sendiri,baginya itu adalah kasih karunia Allah (Ef 3:7-8).Oleh karena itu janganlah kita jemu-jemu melayani Allah,sebab apabila waktunya datang,kita akan menuai janji Tuhan
 
 
Kepustakaan :
1. Ulasan Surat 2 Korintus,Kekuatan dalam Kelemahan,VC Pfitzner,BPK Gunung Mulia
2. Menjadi dan menjadikan murid Kristus,Bill Hull,Yayasan Gloria Usaha Mulia
3. Jiwa dan Semangat Perjanjian Baru,St.Darmawijaya,Lembaga Biblika Indonesia,Kanisius
 
 
Pdt.Rena Tetty Ginting
                                                          GBKP Bandung Barat
 

Khotbah Kejadian 33:1-15, Minggu 13 September 2015

Renungan

Invocatio :
Tetapi kata Esau: "Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu." (Kej. 33:9)
 
Ogen :
 
Kolose 1:18-22
 
Tema :
Hidup Berdamai (Nggeluh Erdame)

 

I. Pendahuluan
Sepertinya bukan hal yang baru ketika banyak orang menyerukan perihal tentang perdamaian. Bila kita melihat, sepanjang sejarah umat manusia, hal-hal yang berhubungan dengan usaha menciptakan suasana damai ditengah-tengah dunia ini sudah terjadi sejak lama, bahkan mungkin kita tidak tahu mulai kapan pastinya adanya usaha ini. Menyerukan pesan-pesan damai bukanlah barang baru, pesan-pesan ini selalu disampaikan dengan segala cara, bahkan pernah menjadi suatu trend baru dan sampai sekarang ini juga sudah menjadi simbol “damai” yang langsung dipahami orang banyak secara sederhana, yakni bentuk V pada jari kita (jari telunjuk dan jari tengah).

Bila kita menarik catatan sejarah, sejak resolusi Majelis Umum PBB pada 1981 dan pada 2002 Majelis Umum PBB secara resmi menyatakan pada 21 September sebagai tanggal tahunan permanen untuk Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace). Sebelumnya, perayaan dilakukan pada tiap minggu ketiga September. Sebagai bentuk konkretnya dibuat sebuah gong yang disebut Gong Perdamaian Dunia atau World Peace Gong dibuat pada akhir tahun 2002 yaitu pasca “Bom Bali-1”. Tujuan Gong Perdamaian Dunia adalah supaya tidak ada lagi perang, konflik sara, terorisme, dll. Museum Gong Perdamaian Dunia terdapat di Jepara tepatnya di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah.

Saat ini, bila kita melihat kenyataan yang terjadi di dunia, usaha-usaha untuk menciptakan perdamaian harus terus dilakukan. Namun bagi kita saat ini, apakah ini hanya sampai tataran teoritis atau sudah pada tahap tataran praktis?

II. Pendalaman Nats
 
Perseteruan Yakub dan Esau dimulai karena permasalahan hak sulung dan dalam hal ini Esau memandang ringan hak kesulungan. Hal ini sesungguhnya sudah dijanjikan oleh Allah, dimana pada Kejadian 25:23, Allah berfirman “…dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.” Perseteruan antara Yakub dan Esau semakin parah ketika Yakub dan ibunya Ribka menipu Ishak untuk mendapatkan berkat darinya yang sesungguhnya direncanakan Ishak diberikan kepada Esau. Dalam hal ini Yakub sudah dua kali menipu Esau, ini yang membuat sehingga Esau sangat dendam kepada Yakub dan berencana membunuhnya (lih. Kej. 27). Akhirnya dengan terpaksa Yakub harus melarikan diri ke Haran daerah Mesopotamia tempat saudara ibunya yakni Laban.

 

Yakub dengan waktu cukup lama tinggal bersama Laban dan menikahi kedua anaknya Lea dan Rahel. Setelah beberapa tahun (lebih dari 7 tahun), Allah berfirman kepadanya untuk kembali ke negeri nenek moyangnya dan kaumnya yaitu Kanaan dan Allah berjanji akan menyertainya (Kej. 31:3; Kej. 31:17-18). Akhirnya Yakub kembali ke tanah Kanaan. Sebelum sampai ke tanah Kanaan, ia mengutus utusannya untuk menjumpai Esau di tanah Seir daerah Edom (Kej. 32:3-5). Setelah utusannya menjumpai Esau dan kembali kepada Yakub, utusan tersebut menyampaikan pesan bahwa Esau dalam perjalanan untuk menjumpai ia diiringi 400 orang (Kej. 32:6). Yakub merasa takut sebab dalam pikirannya Esau akan menyerang dia. Yakub berdoa kepada Allah (Kej. 32:9-12) Yakub menyiapkan rencana, yakni menyiapkan persembahan yang akan dia berikan kepada Esau (Kej. 32:13-20). Yakub tetap bergumul dan dalam pergumulannya itu ia berjumpa dengan Allah (Kej. 32:22-32).

Hal yang berbeda terjadi ketika Yakub berjumpa dengan Esau. Ketakutan yang selama ini menghantui Yakub tidak terjadi. Ketika Yakub melihat bahwa Esau sudah dekat diiringi 400 orang, ia mendatangi Esau seorang diri, berjalan dan sujud sampai ke tanah sebanyak 7 kali (Kej. 33:3). Tetapi Esau berlari mendekat, didekap, dipeluk dan diciumnya Yakub, dan mereka saling menangis (ay. 34). Selanjutnya tercipta perdamaian antara Yakub dan Esau.

Dari kisah Yakub dan Esau yang dimulai dengan perseteruan mereka, akhirnya perseteruan itu dapat diselesaikan dan keduanya dapat berdamai, ada banyak hal yang dapat kita ambil sebagai sebuah pembelajaran:

1. Di dalam perseteruan antara Yakub dan Esau, Allah memperlihatkan kuasa-Nya bahwa Ia adalah sumber kedamaian. Allah mampu mengubah perseteruan yang cukup kuat menjadi sebuah perdamaian yang indah. Kuasa Allah ini dapat kita lihat ketika Esau bersedia berdamai dengan Yakub. Allah menjawab doa Yakub (lih Kej. 32:11-12).

2. Yakub di dalam ketakutannya dan usahanya untuk dapat berdamai dengan Esau, ia memohon dan berdoa kepada Allah untuk dapat menolong dia. Allah menolong Yakub dan tetap setia kepada janji-Nya bahwa Dia akan menyertai Yakub (Kej. 31:3). Melalui ini, Yakub yakin dan percaya akan janji Allah, dapat kita lihat ketika Yakub berani berdiri di paling depan dan berjalan sendiri untuk berjumpa dengan Esau (Kej. 33:3).

3. Di dalam perseteruan Yakub dan Esau, Yakub menyadari akan kesalahannya dan melihat bahwa perseteruan ini tidak membawa kebaikan, ia berusaha untuk dapat berdamai dengan Esau melalui tindakan dan sikapnya. Tindakan dan sikap Yakub yang dapat kita lihat mulai dari Kejadian 32-33, dimana tindakan yang dilakukan Yakub bertujuan untuk dapat berdamai dengan Esau dan sikapnya menunjukkan kerendahannya agar dapat menjalin hubungan yang damai kembali.

4. Allah bekerja atas Esau. Ada hal baik dan harus kita contoh dari Esau, dimana Esau membukakan hatinya untuk berdamai dengan Yakub. Esau menampilkan kasih sayangnya kepada Yakub. Sudah pasti, perseteruannya dengan Yakub membuat dia dendam dan benci. Namun Esau, menanggalkan itu semua. Esau juga melihat bahwa perseteruannya dengan Yakub tidak membawa kebaikan. Hal yang juga luar biasa, sikap Esau tidak memandang rendah Yakub, Esau berlari, mendekap Yakub, memeluk dan menciumnya (Kej. 33:4).

 

John Stott dalam bukunya Isu-Isu Global, mengungkapkan bahwa ada panggilan untuk orang percaya sebagai pembawa damai. Yesus menyatakan kepada pengikut-Nya harus menjadi pembawa damai selaku yang diberkati Allah dan disebut Anak-Anak Allah (Mat. 5:9). Sebab membawa damai adalah kegiatan ilahi. Allah telah membawa damai antara Dia dan kita dan antara manusia dan sesamanya melalui Kristus. Kita mustahil dapat menyebut diri kita Anak-Anak Allah atau pengikut Yesus yang otentik jika kita tidak membawa damai juga. Dalam Kolose 1:19-22:

 

“…Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.”

 

Ada beberapa prakarsa-prakarsa praktis yang mana dapat kita ambil dalam panggilan kita untuk membawa damai, yaitu:

 

1. Semangat juang orang Kristen pembawa damai harus pulih. Ada kecenderungan yang merongrong semangat juang orang Kristen ialah ketidakpedulian dan pesimisme yang begitu parah atas masa depan, sehingga turut tenggelam dalam perasaan ketidakberdayaan yang umum merasuk orang dimana-mana. Namun, keduanya baik ketidakpedulian maupun pesimisme adalah tidak pada tempatnya dalam diri pengikut Yesus.

2. Orang Kristen pembawa damai harus berdoa. Yesus, Tuhan kita, menyuruh kita secara khusus untuk berdoa bagi orang-orang yang memusuhi kita. Rasul Paulus menegaskan bahwa kewajiban kita yang pertama jika berkumpul sebagai jemaat dalam ibadah, ialah berdoa agar kita hidup tenang dan tentram dalam segala kesalehan dan kehormatan (1 Tim. 2:1-4).

3. Orang Kristen pembawa damai harus menjadi contoh suatu masyarakat yang damai. Allah memanggil kita untuk membawa damai, sebab tujuan Allah ialah menciptakan suatu masyarakat yang telah diperdamaikan. Kita diharapkan menjadi model dari suatu masyarakat yang hidup dibawah pemerintahan ilahi yang adil dan damai. Kedamaian yang membias dari persekutuan-persekutuan damai dampaknya tidak terhingga.

 

Keindahan kehidupan adalah hidup yang damai.

 

Chrisnov Mulyanta Tarigan
 
Detaser- Bajem. Bumi Anggrek
 

Khotbah II Raja-Raja 4 : 8 - 13, Minggu 20 September 2015

Renungan

Invocatio :

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku? Dan ia berkata kepadaNya: “Tuhan Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Kata Yesus kepadanya : “Gembalakanlah domba-dombaKu”.

Bacaan : Yohanes 21:15-19; Khotbah : II Raja-raja 4:8-13

Tema :

Mendukung Hamba Tuhan (Tumpak-Tumpak Serayan Tuhan)

 

I. Pendahuluan
 
Betapa bahagianya Allah melihat anak-anakNya saling mendukung dalam pekerjaan-pekerjaanNya. Para hamba Tuhan dan jemaat yang saling mendukung tentu akan menghasilkan gereja yang sehat dan gereja yang bertumbuh dengan baik. Allah telah memilih dan mengutus setiap orang yang percaya kepadaNya untuk mengambil bagian dalam kehidupan pelayanan kepadaNya. Dan Allah telah memilih dan mengutus orang-orang yang dikhususkanNya untuk menebarkan kebenaran Injil. Tentunya dalam hal ini harus didukung oleh jemaat- jemaat Tuhan agar penyebaran Injil itu dapat dilakukan dengan lancar.
 
II. Pendalaman Nats.
 
Seorang abdi Allah bernama Elisa yang pergi ke Sunem. Dalam kehidupan perjalanan pelayanan Elisa, dia sampai di Sunem dan menginap di sebuah rumah perempuan yang kaya di Sunem. Dalam nats khotbah kita ini memperlihatkan bagaimana perempuan Sunem itu memperlakukan Elisa.
 
 
1. Kehidupan Perempuan Sunem.
 
Letak kota Sunem berada di daerah bagian suku Ishakar. Sehingga kemungkinan besar perempuan Sunem ini adalah keturunan dari kaum Isakhar. Perempuan ini juga dikenal dengan perempuan kuat dari Ishakar.
Perempuan Sunem ini memiliki kondisi ekonomi yang baik. Dalam teks khotbah dituliskan bahwa perempuan ini adalah seorang perempuan yang kaya. Dari Kitab Kejadian 49:14-15 dijelaskan bahwa suku Ishakar akan menikmati hasil dari kerja kerasnya. Ini menunjukkan bahwa perempuan ini mendapatkan kekayaannya dari kerja kerasnya. Hal ini memberitahukan bahwa perepmpuan Sunem ini adalah seorang yang mau bekerja keras.
 
2. Karakter Perempuan sunem.
 
Perempuan Sunem sangat menghormati suaminya, selalu mengambil keputusan dengan cara berunding dengan suaminya, tidak bertindak sendiri (ayat 9, 22). Perempuan Sunem ini juga sangat menghormati dan memperhatikan Elisa sebagai Abdi Allah. Ia memperhatikan keamanan dan kenyamanan tempat tinggal Elisa. Sehingga perempuan Sunem dan keluarganya menyediakan tempat khusus bagi Elisa. Tidak hanya itu, segala kebutuhan di tempat tinggal khusus Elisa juga diperhatikan (segala perabotan dan kebutuhan Elisa). Tidak hanya menyediakan tempat tapi juga menyediakan segala kebutuhan Elisa. Perempuan Sunem juga membuat makanan untuk menjamu Elisa.
 
Dengan semua yang telah ia lakukan kepada Elisa perempuan Sunem itu juga tidak mengharapkan balasan atas segala kebaikannya. Dengan jelas diperlihatkan dalam ayat 13 jawaban perempuan Sunem terhadap Gehasi : “aku ini tinggal di tengah-tengah kaumku” (kerina keperlunku enggo cukup dat aku i tengah-tengah bangsaku). Dari hal yang dilakukan perempuan Sunem bagi Elisa adalah memberi tumpangan dan memberi makan nabi Allah.
 
Hal ini dilakukannya karena ia tahu bahwa Elisa adalah seorang nabi Allah yang kudus (Allah yang memilih dan mengutus Elisa). Jadi sebenarnya terlihat bahwa perempuan Sunem dan keluarganya sangat menghormati Allah melalui pelayanannya terhadap hamba Allah (Serayan Tuhan).
 
III. Aplikasi
 
Allah (Serayan Tuhan) ialah orang-orang yang telah dikhususkan Tuhan, yang dipakai Tuhan untuk melanjutkan pekerjaanNya. Sebagai orang-orang yang percaya kepada Tuhan tentu kita harus mendukung segala pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Dan sebagai dukungan kita sebagai jemaat tentunya adalah dengan mendukung hamba-hamba Tuhan (Serayan-serayan Tuhan) dalam perjalanan pelayanannya. Karena seorang hamba Tuhan tidak mungkin terpisah dari jemaat. Dan dukungan dari jemaat tentu sangat mempengaruhi pelayanan para hamba Tuhan.
 
Para hamba Tuhan butuh dukungan dari para jemaat dari segala aspek. Sekuat-kuatnya para hamba Tuhan dalam pelayanan dan imannya, para hamba Tuhan tidak terlepas membutuhkan dukungan. Para hamba Tuhan membutuhkan topangan dari orang lain. Dukungan itu dapat saja berupa pemikiran, dana, peralatan, pendidikan, tempat tinggal, (sarana dan prasana pendukung pelayanan) dan juga dukungan doa. Jemaat harus tahu bahwa bukan hanya jemaat yang butuh didoakan oleh hamba Tuhan tapi para hamba Tuhan juga butuh dukungan doa dari jemaat.
 
Paulus sangat menyadari betapa pentingnya doa dan dukungan dari jemaat didalam pelayanannya. Hal ini dapat kita lihat dalam Kolose 4:3 “ Berdoa jugalah kepada kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan”. Doa jemaat yang dipanjatkan dengan tulus kepada para hamba Tuhan tentu menggerakkan hati Tuhan untuk melancarkan pelayanan para hambaNya. Doa jemaat sangat mempengaruhi pelayanan para gembalanya. Bila kita menemukan kekurangan-kekurangan gembala di gereja tentu kita harus bertanya kepada diri kita sebagai jemaat sudahkah diri kita mendukung pelayanan hamba Tuhan itu. Banyak sekali terjadi kemunduran pelayanan para hamba Tuhan karena para jemaat tidak mendoakan dan tidak mendukungnya.
 
Para hamba Tuhan bukanlah manusia yang sempurna, mereka tentu memiliki kelemahan. Disinilah sangat penting doa dan dukungan para jemaat agar hambaNya semakin di perlengkapi dan tidak jatuh kedalam hal yang tidak diinginkan Tuhan. Para hamba Tuhan memiliki berbagai macam tantangan yang dihadapinya dalam perjalanan pelayanannya.(bnd.Mat. 10:16).
 
Dalam pembacaan kita Yohanes 21: 15-19 terlihat bagaimana Yesus meyakinkan Petrus dengan bertanya kepadanya sebanyak tiga kali. Hal ini menunjukkan bahwa bagi para hamba Tuhan harus memiliki hati yang mengasihi Tuhan. Hati yang teguh untuk melayani Tuhan. Ketika hamba Tuhan memiliki hati mangasihi Tuhan maka hamba Tuhan dapat melayani jemaat Tuhan (perintah Yesus kepada Petrus: “gembalakanlah domba-dombaKu”). Untuk itu para hamba Tuhan juga tentunya harus tetap menjaga kekudusan dirinya sebagai orang-orang pilihan Tuhan (I Tim.4:16).
 
 
Dengan demikian pada minggu ini kita dinasehatkan oleh Firman Tuhan: 
1. Menjalin hubungan yang baik antara jemaat dan para hamba Tuhan (serayan Tuhan). hal ini tentunya untuk memuliakan nama Tuhan. karena pekerjaan pelayanan yang dilakukan adalah pekerjaan Allah.
2. Sebagai jemaat, mendukung pelayanan para hamba Tuhan dengan doa, daya, dana dan segala kemampuan yang ada. Dan janganlah mengharapkan dari segala kebaikan yang dilakukan bagi hamba Tuhan (seperti perempuan Sunem yang begitu ikhlas).
3. Ketika kita melayani sepenuh hati kepada Tuhan (salah satu mendukung para hambaNya), maka Tuhan akan melihat apa yang kita perbuat. Dalam ayat 12-17 terlihat bagaimana Elisa berdoa baginya. Secara kehidupan memang perempuan itu tidak kekurangan tetapi perempuan itu belum memiliki anak. Sehingga hati Tuhan tergerak dan memberikan seorang anak kepadanya.Tuhan akan selalu memperhitungkan atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan bagi para hambaNya.
4. Para hamba Tuhan juga harus tetap menjaga kekudusan dirinya agar tetap bisa menjadi teladan bagi jemaat.
 
 
Tuhan memberkati.

 

Pdt. Nopritawati Br Sembiring, S. Th
 
GBKP Perpulungen Banjarmasin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah 1 Timotius 4 : 12 - 16, Minggu 06 September 2015

Renungan

Invocatio :
Ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam,
(Amsal 2:3-4).
 
Ogen :
Amsal 23:12-15 (Tunggal); Khotbah :1 Timotius 4:12-16 (Tunggal)
 

Tema : PERMATA Jadi Teladan

 

Pendahuluan
 
Lirik lagunya Rhoma Irama, berkata: Darah muda, darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah dan tak pernah mau mengalah. Masa muda masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri walau salah tak perduli... dsb. Lirik ini menunjukkan bahwa memang pada masa muda, anak muda dapat melakukan banyak hal, keberanian, kreativitas, solidaritas, simpati dan sebagainya. Namun, bagaimana jika keberanian dan semuanya itu, terjadi dalam situasi yang tidak tepat? Tema hari ini adalah Permata Jadi Teladan. Untuk itu, mari kita lihat kembali apa yang dikatakan Paulus di dalam surat Timotius...

 

Pembahasan
Surat 1 Timotius ini merupakan sebuah mandat ataupun tanggung jawab yang diberikan Paulus kepada Timotius untuk melayani di jemaat Efesus. Timotius adalah orang Listra (Moden Turki), ayahnya seorang Yunani, namun ibunya adalah seorang Kristen Yahudi (Kis. 16:1-3). Sejak kecil ia telah diajarkan tentang Firman Allah (PL) (2 Tim 1:5; 3:15). Paulus menyebutnya “anakku yang sah dalam iman” (2 Tim. & 1 Tim. 1:2) sehingga kemungkinan Pauluslah yang telah menginjili dia dan memberitakan Kristus kepadanya. Timotius bergabung dengan Paulus pada perjalanan misinya yang kedua (Kis. 16:1-3) yakni ketika Paulus menunjungi Tesalonika, Filipi, Korintus, dan juga ada bersama dengan Paulus ketika ia menulis surat Roma, 2 Korintus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika serta Filemon. Dalam surat-suranya, Paulus
banyak menyebut Timotius sebagai “anaknya” bahkan anak yang terkasih, hal ini menunjukkan kedekatan Paulus dengan Timotius.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan, sebagaimana dikatakan bahwa inilah surat mandat kepada Timotius, tentu dalam bagian ini, disertakan kiat ataupun cara Timotius untuk tetap dapat bertahan melayani dan menjadi contoh bagi jemaat Efesus, sebab memang Timotius masih sangat muda (1 Tim. 1:3, 18). Oleh karena itu, melalui perikop hari ini ada beberapa hal yang ditegaskan Paulus kepada Timotius yakni:
 
1. Menjadi teladan dalam segala hal (ay 12)
Jangan seorangpun menganggap engkau rendah, oleh karena usia yang masih muda, tetapi jadilah teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Hal ini menegaskan bahwa seseorang berkenan di hadapan Tuhan, dan dihargai hadapan manusia bukan karena usia atau jabatan, gelar, pangkat, dan sebagainya. Memang umumnya selaku orang tua sudah barang tentu dihormati oleh orang yang lebih muda. Namun,sesungguhnya oleh karakter manusia itu sendiri. Pemimpin yang sejati tidak dilihat dari gelarnya ataupun kekuasaannya. Tetapi, bagaimana ia melakoni kehidupannya sendiri dan juga keluarga ataupun orang-orang di sekitarnya.
 

Timotius, seorang muda. Namun, ia dipercayai oleh Paulus untuk melayani di Efesus. Dalam hal ini, tidak secara otomatis Timotius menjadi sempurna dalam seluruh kehidupannya. tetapi, Paulus meyakini bahwa memang sebagai orang yang masih muda, Paulus yakin bahwa Timotius bisa diarahkan dan diingatkan untuk tetap bertahan dan menjadi teladan di dalam hidupnya. Bung Karno pernah berkata: “Berikan aku 10 orang pemuda, akan kuguncang dunia”. Dari ini juga nyata terlihat bahwa dengan dukungan kaum muda, yang penuh dengan semangat, masih cekatan dan berani bermimpi dapat mengubah sesuatu yang terasa mustahil, sebab pemuda memiliki banyak ide kreatif dan semangat. Tidak salah rasanya, jika sebelum Bung Karno, Paulus pun telah memikirkan bahwa memang kaum muda, sangat potensial dalam banyak hal, sehingga ia tidak ragu terhadap Timotius. 

2. Ketekunan (ay. 13)
 
Teladan yang baik, tidak hanya terlihat dari luarnya saja, tetapi harus juga nyata di dalam diri orang tersebut. Jika Timotius hanya berusaha menjadi yang terbaik atau menjadi teladan ketika di hadapan orang lain, maka sikap yang demikian merupakan sebuah kepura-puraan. Dan kepuraan-puraan tidak akan bertahan lama. Paulus mengajarkan kepada Timotius untuk tetap bertekun dalam membaca Kitab suci dan dalam membangun dan mengajar. Hal ini menegaskan bahwa sumbernya agar tetap ia bisa melakukan tugas pelayanan dengan baik adalah ketika ada ketekunan dalam membahas Kitab Suci.
 
Jelas bahwa dalam pelayanan yang ia temui bukan semuanya mudah. Sebagaimana dikatakan bahwa keadaan jemaat di Epesus di mana Paulus melayani sedang dipegaruhi oleh ajaran-ajaran sesat (1 Tim.1:3-7; 4:1-8; 6:3-5, 20-21), sehingga senjata yang paling ia butuhkan adalah dengan membangun waktu yang erat dengan Tuhan agar ia mampu menghadapi jemaat di Epesus.
 
Ketekunan yang dituntut di sini bukan hanya di dalam membaca dan merenungkan Kitab Suci, tetapi sebagaimana dikatakan di ayat 14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. Ini juga menegaskan bahwa ketekunan menjadikan seseorang tahu dan bijak dalam mempergunakan karunia yang ada padanya. Paulus semakin meneguhkan Timotius dengan penyebutan tumpang tangan sidang penatua.
 
Dengan demikian, maka Timotius harus mampu tekun, teliti dan cekatan dalam mempergunakan karunia yang telah ada padanya.
 
3. Senantiasa berjaga-jaga (Ay. 15-16)
 
15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. 16 Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.
 
Kata “memperhatikan” dalam ayat ini, tidak hanya sebatas memperhatikan, tetapi juga menjaga, merawat, memlihara. Dengan kata lain, ayat ini menegaskan kepada Timotius agar Timotius senantiasa menjaga dan memelihara dan bahkan senantiasa memeriksa apa yang telah ia ajarkan dan lakukan di dalam kehidupan berjemaat, dengan tujuan tetap berada di dalam koridor Firman Tuhan.
 
Dengan tetap mengawasi dan memeriksa diri sendiri, maka sikap demikian akan membawa Timotius tetap waspada, dan siap sedia setiap saat, ketika ada orang/kelompok yang akan menentang ajarannya dan pelayanannya. Pada pihak lain, sikap yang berjaga-jaga tersebut semakin membawanya agar tidak bertindak ceroboh, tetapi sangat hati-hati, sehingga ia semakin nyata di dalam pelayanannya. Dengan kata lain ini merupakan tuntutan untuk berintegritas di tengan-tengah pelayanan.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan, demikianlah Timotius muda di dalam pelayannya. Sebagaimana minggu ini adalah minggu Permata GBKP, Permata dituntut untuk menjadi contoh atau teladan. Tujuannya adalah dapat menyatakan kemuliaan Tuhan di dalam kehidupan sehar-hari. Seperti tadi yang telah disebutkan, bahwa permata teladan adalah mereka yang mau melakukan Firman Tuhan, tekun dan berintegritas di dalam kehidupannya sehari-hari.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan, sebagaiman Timmotius adalah hasil pelayanan Paulus, kita sebagai orangtua juga tidak terlepas dari tanggung jawab dalam hal mendukung permata menjadi teladan. Permata bisa menjadi teladan memerlukan figur yang dapat ia lihat pula yakni orangtua mereka di rumah.
 
Jadi sebagai orang tua, senantiasa didik dan arahkanlah anak permata kepada pengetahuan dan didikan yang kekal. Sebagaimana di dalam bacaan dikataka bahwa adalah sukacita bagi sang Guru Hikmat ketika anaknya menjadi bijak. Demikianlah hendaknya para orangtua, seharusnya senang dan bangga ketika permata bisa dewasa di dalam iman. Bukan tidak mungkin permata juga dapat menegur kita ketika orangtua salah. Namun, sebagai orangtua hendaknya kita juga bisa menerima teguran dari anak permata kita. Justru bukan merasa bahwa mereka menjadi lebih bijak ataupun lebih pintar. Kecenderungan orangtua, tidak mau salah di depan anak dan tidak mau mengaku salah.

 

Selamat menjadi permata teladan dan orangtua yang mendukung. Amin

 

Pdt. Andreas Josep Tarigan, M.Div
Rg. Harapan Indah
 

Page 6 of 57

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 734 guests online