Khotbah Ibrani 10:5-10, Minggu 20 Desember 2015

Renungan

Invocatio :
Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya /
Arah si enda icidahken Dibata maka IA bujur kap
 (Roma 3 : 25b)

Bacaan/ogen :
Zakaria 2 : 10 - 13 (Antiphonal)
 
Tema :
Yesus Persembahan Yang Sempurna
 
Pendahuluan
Puji Tuhan, kita telah memasuki Minggu Advent IV yang merupakan Minggu Advent terakhir sebelum Natal. Kata Advent berarti coming, arrival. Kedatangan. Minggu-minggu Advent, artinya minggu-minggu menantikan kedatangan Sang Kristus, Sang Mesias. Kedatangan Sang Kristus yang dinantikan bukan hanya dalam kelahiran-Nya tetapi juga dalam kedatangan-Nya kedua kali sebagai Hakim yang Agung.
 
Dalam minggu-minggu Advent yang perlu kita lakukan adalah menanti. Bagaimana sikap kita dalam masa-masa penantian tersebut ? Dalam menanti Sang Kristus, Sang Mesias ? Sikap kita ditentukan oleh pemahaman dan kesadaran kita atas keberadaan diri sebagai orang berdosa, sehingga sungguh-sungguh kita memahami lalu mensyukuri dengan tulus dan bulat hati akan kedatangan Sang Kristus yaitu Yesus yang merupakan persembahan sempurna untuk menguduskan kita orang yang berdosa, yang kemudian dalam kedatangan-Nya yang kedua kali menjadi Hakim yang Agung atas orang yang hidup dan yang mati.
 
Pendalaman Nats
Dosa dalam konsep Kristen sangat berbeda dengan dosa dalam konsep agama-agama lain. Dalam konsep Kristen, dosa lebih dalam, lebih luas. Dosa itu status manusia; kita ini orang berdosa. Dalam Kejadian 3, bukan dituliskan bahwa Adam dan Hawa berbuat dosa, tetapi mereka jatuh ke dalam dosa. Dari gambar Allah yang tinggi dan mulia, mereka jatuh menjadi orang berdosa.
 
Bukan karena kita mencuri, maka kita berdosa, tetapi karena kita berdosa, maka kita mencuri. Bisa dianalogikan dengan gambaran seperti ini : bukan karena singa menerkam kambing, maka ia menjadi hewan buas, tetapi karena singa hewan buas maka ia menerkam kambing. Oleh karena itu, manusia tidak bisa menebus dirinya sendiri dari dosa. Diperlukan kuasa dari luar[1]

Pdt.L.Z.Raprap, “Kalo Tuhan Tahu, Ngapain Kita Minta?”, Jakarta : BPK-GM, cet.ke-2, 2010, hal. 15 - 24
[1] Handbook to the Bible – Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab, hal. 194
.
Dalam hukum Taurat diatur persembahan korban, yang terdapat dalam kitab Imamat, yaitu  :
  1. Korban bakaran (pasal 1 dan 6:8-13); satu-satunya persembahan korban dengan membakar habis binatang korbannya sebagai tanda dedikasi.
  2. Korban sajian (pasal 2 dan 6:14-18); sering menyertai korban bakaran dan korban keselamatan.
  3. Korban keselamatan atau korban pendamaian (pasal 3 dan 7:11-36); mendamaikan atau memperbaiki kembali persekutuan/hubungan antara pihak yang mempersembahkan korban itu dengan Allah; dapat pula berupa persembahan korban syukur.
  4. Korban penghapus dosa (4:1-5:13 dan 6:24-30); dibuat untuk mendapatkan pengampunan. Hubungan antara korban penghapus dosa dengan korban penebus salah tidaklah jelas. Umumnya korban penghapus dosa diadakan bagi dosa-dosa terhadap Allah, sedangkan korban penebus salah diadakan bagi kesalahan-kesalahan terhadapa sesama. (tetapi dosa terhadap orang lain pun dilihat sebagai dosa terhadap Allah, seperti yang jelas dinyatakan dalam pasal 6:2)
  5. Korban penebus salah (5:14-6:7 dan 7:1-10)
Namun :
  1. Darah lembu jantan atau darah domba jantan yang dipersembahkan tidak mungkin menghapuskan dosa (bdk.Ibrani 10:4). Bila itu mungkin maka, tidak akan ada lagi korban bakaran dan korban penghapusan dosa berikutnya yang dipersembahkan kepada Allah karena sudah dihapus oleh darah lembu jantan atau darah domba jantan yang telah dipersembahkan. Dalam kenyataannya, tiap tahun bangsa Israel mempersembahkan korban bakaran dan korban penghapusan dosa kepada Allah karena terus diingatkan akan dosa-dosa mereka. 
  2. Korban-korban tersebut tidak dikehendaki oleh Allah dan Allah tidak berkenan kepadanya meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat (Ibrani 10:8). Mengapa ???  Sebab ketaatan yang sejati bukan sekedar upacara keagamaan. Ketaatan yang sejati berarti hanya percaya kepada Tuhan, menyesali dosa dengan sungguh-sungguh, dan hidup sesuai dengan
kehendak TUHAN, termasuk memperlakukan orang lain secara adil. Dalam perjalanan hidup bangsa Israel, korban persembahan terus diberikan kepada Allah namun kejahatan tetap merajalela. Seperti yang diperlihatkan dalam kitab Amos dimana, kaum kaya dan berkuasa menindas orang miskin dan menyembah ilah-ilah asing.  
 
Untuk itu, Allah sendiri datang untuk menebus kita melalui darah Yesus agar kita tidak binasa. Dosa yang mendarah daging dalam hidup kita telah ditebus dan dibersihkan oleh Allah melalui darah Yesus. Dalam ketaatan-Nya, Yesus memberi diri sebagai korban persembahan penghapus dosa sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
 
Allah melalui Yesus menyatakan diri bukan hanya Allah yang Mahatinggi; bila demikian maka tidak ada seorangpun yang mampu sampai kepada-Nya. Bukan hanya Allah yang Mahakudus; bila demikian tidak ada seorangpun yang layak dihadapannya. Bukan pula hanya Allah yang Mahabesar; bila demikian tidak ada seorangpun yang berani menghampirinya. Allah melalui Yesus disamping Mahatinggi, Mahakudus, Mahabesar tetapi juga Allah yang Mahakasih, yang telah bangkit dari tempat kediaman-Nya yang kudus dan diam di tengah-tengah umat-Nya. (bdk.Zakharia 2:10-13 – bacaan pertama/ogen)
 
Aplikasi
Pemahaman dan kesadaran diri seperti yang diuraikan di atas kiranya yang melandasi kita dalam menanti kedatangan sang Mesias, baik dalam kelahiran-Nya maupun kedatangan-Nya yang kedua kali. Sesungguhnya, kita sungguh-sungguh menanti kedatangan-Nya layaknya seperti orang tenggelam mencari udara. Marilah kita mengaku dan menyadari diri seperti dalam Yesaya 64:5-6,8 :“Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala. Demikialah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membetuk kami, kami sekalian adalah buatan tangan-Mu!”
Dengan begitu :
  1. Dalam kita menyambut dan merayakan kelahiran-Nya melalui perayaan Natal, kita persiapkan diri dan acara perayaaan dengan penuh sukacita dan kerendahan hati sehingga kita lebih fokus pada makna natal bukan sekedar perayaan; memberi perhatian pada isi natal bukan bentuk; lebih memikirkan substansi natal bukan sekedar konsepsi. 
  2. Dalam menyambut dan menanti kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, kita isi hidup dan hari-hari kita dengan hal-hal yang membuat hidup kita bermakna. Menebar kasih kepada sesama dan cipataan yang lain melalui kata dan perbuatan. Menjadi berkat bagi orang lain dalam apapun yang kita lakukan.
Kita lakukan bagian kita sebaik-baiknya dan sebenar-sebenarnya dengan satu harapan “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kita seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuh kita terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (bdk.1 Tesalonika 5:23) Amin.
Pdt.Asnila br Tarigan
Perpulungen Makassar
 

Khotbah Yesaya 12:2-6, Minggu 13 Desember 2015 (Adven III)

Renungan

Invocatio :
Aku akan diam bersama-sama dengan mereka, dan hidup
ditengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. II Korinti 6 : 16b)

Bacaan :
Lukas 3 : 7 – 18 (Tunggal)

Thema :
“Allah ditengah-tengah kita” (Dibata itengah-tengahta)
 

Salah satu keunikan keKristenan dibanding dengan agama-agama lain adalah: Allah kita hadir ditengah-tengah umatNya, Allah tinggal ditengah-tengah umatNya dalam  wujud manusia Yesus Kristus . Ia hadir untuk menebus dosa kita. (Yesus  nampaknya sungguh senang tinggal ditengah-tengah umatNya. Lihat ,Matius 18 : 20,  Yoh 20 : 26).Dan kini Ia tetap hadir ditengah-tengah kita dalam bentuk ROH , Roh Kudus yang adalah penghibur sejati.

Apakah Makna kehadiran Allah ditengah-tengah umatNya?
Allah menghibur, Allah menyelamatkan.
Apakah Respon kita atas kehadiran Allah ditengah-tengah kita.
Didalam Yesaya 12 ini kita diajak untuk melantunkan puji-pujian kemuliaan (doksologi) bagi Allah atas semua rencana dan tindakan-Nya. Puji-pujian dinaikkan karena meskipun Allah telah menumpahkan murka-Nya, Allah juga adalah Allah yang menyelamatkan dan menghibur umat-Nya. Puji-pujian dinaikkan meskipun hukuman tetap diberikan. Ini adalah sebuah sikap yang indah ketika seseorang menyadari bahwa Allah tetap adalah Allah yang baik meskipun Ia memberikan hukuman. Allah kini dilihat sebagai satu-satunya kekuatan, pengharapan dan keselamatan.

Sedikitnya ada Tiga “Ber” yang berkaitan satu dengan yang lain, yang harus kita lakukan sebagai lantunan puji-pujian kita bagi Tuhan  kita.
“Ber” yang Pertama adalah BERSYUKUR. Kata bersyukur banyak digunakan dalam Kitab Mazmur dalam beragam kaitan. Pemazmur mengaitkannya dengan alasan ia bersyukur, seperti: karena keadilan (7:17), pertolongan (28:7; 43:5), keajaiban perbuatan (9:1; 75:2; 107:8), dan kasih setia Tuhan (107:8).
Namun, pemazmur juga menghubungkannya dengan suatu tindakan untuk bersyukur tersebut. Misalnya: Mazmur 9:1, Daud menghubungkan rasa syukurnya dengan menceritakan segala perbuatan Allah yang ajaib.  Bersyukur berkaitan dengan tindakan seseorang kepada Allah karena alasan-alasan yang jelas dari pihak Allah.

“Ber” yang KEDUA adalah BERMAZMUR
Kata Indonesia "Mazmur" berasal dari bahasa Arab yang berasal dari bahasa Etiopia, yang masih berhubungan dengan kata Ibrani "Mizmor" Kata ini menunjuk pada suatu lagu yang dinyanyikan dengan diiringi berbagai alat musik yang menggunakan dawai.
Mazmur berarti nyanyian / himne - (merayakan/perayaan, memperingati/peringatan) dan berarti kidung puji-pujian yang dipersembahkan kepada Allah, dewa, pahlawan, atau orang-orang besar.

“Ber” yang Ketiga adalah BERSORAK-SARAK
Bersorak-sorak atau bersorak sorai =berseru-seru, berteriak-teriak memberi tanda semboyan , memekikkan pekik perang  , mengangkat sorak , meniup , elu-elukanlah dsbnya
Ajakan bersorak-sorai dalam Nats ini , karena Allah yang kudus ada ditengah-tengah umatNya.
“Ketiga ber” ini mengajak kita Aktif, bertindak, melakukan sesuatu, ikut berkontribusi atas kehadiran Tuhan ditengah-tengah kita. Didalam pembacaan kita Lukas 3 : 7-18, Yohanes Pembabtis  dengan tegas berkata bahwa kita harus menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan, pertobatan itu bukan sekedar pengakuan namun lebih kepada perbuatan nyata; “Barang siapa yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa mempunyai makanan  hendaklah ia juga berbuat demikian..dst.

Janganlah kiranya kita menjadi seorang yang munafik,seperti ular beludak, Seolah-olah orang yang sangat Bersyukur, BerMazmur, Bersorak-sorai, namun tidak meninggalkan bekas, karena ini dilakukan hanya sebagai seremonial.
Jika boleh meminjam istilah dari Pdt.Andar Ismail, dalam bukunya Seri Selamat, dengan tegas ia berkata : Ibadah yang sejati bukan ketika engkau mengucap syukur, BerMazmur, Bersorak-sorai di gereja, namun ketika engkau melakukan sesuatu yang baik setelah keluar dari gereja. Kita juga mengingat baru-baru ini Paus Benecditus mengingatkan umat kristiani : “jika kita hanya berdoa, Misa dsb didalam gereja itu sudah usang.

Kita telah memasuki Minggu Adven yang ketiga, itu berarti sesaat lagi kita akan menanti peringatan/perayaan akan kehadiranNya ditengah-tengah umatNya, apakah yang telah kita persiapkan; Panitia Natal?, Konsumsi?,Dana?, Seragam?????.
Akhirnya kita memang menambahkan “Ber” yang ke-Empat, yakni Berbuat.
Persiapkan hati kita untuk Bersyukur, BerMazmur, Bersorak-sorai melaui perbuatan kita.

Pdt. Iswan Ginting Manik.
GBKP Rg. Pondok Gede
 

Khotbah Pilipi 1:3-11, Minggu 06 Desember 2015

Renungan

Invocatio :
“Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Roma 5 : 2).

Bacaan  :
Maleaki 3 : 1-4 (Tunggal)

Khotbah :
Pilipi 1 : 3-11 (Antiponal)

Tema    :
“Menikmati Kasih Karunia Allah” (Ngenanami Lias Ate Dibata)

I. Pendahuluan
Kasih karunia Allah telah disediakan Allah bagi kita tetapi bisa saja kita belum menikmatinya.Seperti hidangan yang telah disajikan di atas meja, tetapi kita belum mengkonsumsinya.Kasih karunia Allah seharusnya memberikan kekuatan untuk bersekutu dan melayani di dalam dunia.

Hidup dalam persekutuan dengan Allah sebenarnya dapat dirasakan di dalam jemaat, bersama-sama di dalam kasih karunia Allah.Mungkin hal ini yang masih kurang terbentuk di dalam jemaat-jemaat kita sehingga kita masih kurang merasakan kasih karunia Allah.
Dari pemaparan Paulus akan hubungannya dengan jemaat Filipi memberikan gambaran yang baik akan kasih karunia Allah yang meneguhkan hati Paulus dan jemaat Filipi. Persekutuan atau kebersamaan jemaat dengan para pelayan gereja harus diteguhkan supaya kasih karunia Allah makin dirasakan di tengah-tengah jemaat.Bahwa para pelayan ada untuk jemaatnya dan para jemaat ada untuk mendukung pekerjaan Injil sehingga rancangan kasih karunia Allah dinyatakan.
 
Untuk menikmati TV kita membutuhkan suara dan gambar.Bagaimana jika suaranya terdengar tapi gambarnya tidak kelihatan.Atau gambarnya kelihatan tetapi suaranya tidak terdengar.Televisi dirancang untuk menyampaikan suara maupun gambar.Demikian juga kehidupan jemaat tidak hanya terdengar baik, tapi juga terlihat baik.

II. Pendalaman Nats
Kondisi Paulus dalam rumah tahanan dan menanti hukuman mati seharusnya membuatnya tertekan dan menderita.Tetapi Paulus merasakan sukacita karena mengingat teman-temannya di Filipi. Semua ingatannya tentang jemaat Filipi mendatangkan sukacita karena ia memiliki persekutuan yang erat di dalam Injil Yesus Kristus. Bahwa arti kata persekutuan ialah “bersama-sama memiliki””.Seringkali kata persekutuan bagi kita sangat dangkal pengertiannya, kita menganggap telah bersekutu dengan berkumpul bersama dalam satu tempat.Yang dimaksudkan dengan persekutuan adalah di dalam satu Roh, bersama-sama memiliki bagian dalam kasih karunia Allah.Berpisah tempat tidak menjadi penghalang persekutuan, Paulus berada di Roma, teman-temannya jauh daripadanya di Filipi, tetapi persekutuan rohani mereka nyata dan memuaskan.Jemaat Filipi sungguh-sungguh mendukung Paulus dalam pemberitaan dan penderitaannya.Sama-sama tidak dapat saling melupakan, mereka merasa berbagian dalam kasih karunia Allah.

Dibandingkan dengan bacaan kita, Maleakhi melihat kemerosotan kerohanian di Yerusalem, bahwa orang-orang yang beribadah dan melayani Allah, hatinya jauh dari Allah.Persembahan mereka benar-benar tidak berkenan kepada Allah. Maka Tuhan sendiri akan datang ke dalam Bait-Nya untuk mengejutkan, untuk merombak dan membaharui-Nya. Kristus dengan Injil-Nya memurnikan dan mereformasi gereja, dan oleh Roh-Nya bekerja menumbuhkan dan membersihkan orang-orang pilihan; “Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef.5:25-27). Tuhan Yesus sendiri “menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit.2:14). Yang dimurnikan menurut Maleaki adalah suku Lewi, yaitu orang-orang yang dikhususkan melayani Allah.Semua orang Kristen sejati adalah anak-anak Lewi, yang diperuntukkan bagi Tuhan, untuk melakukanpelayanan di tempat kudus.
 
Tuhan menyucikan mereka seperti emas dan perak dimurnikan dengan api, menyucikan mereka dalam hati; ia tidak hanya membersihkan bagian luar tetapi mengeluarkan keburukan dari dalam hatinya. Yohanes Pembabtis mengatakan bahwa “Ia (Yesus) akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat.3:11). Dia akan membersihkan mereka sehingga membuat mereka orang yang berhargauntuk diri-Nya sendiri. Dampaknya bahwa mereka mempersembahkan kepada Tuhan korban kebenaran, menjadi penyembah yang benar, yangmenyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.Kita tidak dapat menyembah Allah kecuali kita dibenarkan dan dikuduskan.Bahwa kita dimurnikan oleh kasih karunia Allah.Mereka akan mempersembahkan korban seperti Tuhan harapkan dan Tuhan menerima persembahan mereka.
 
Allah telah memulai pekerjaan baik kasih karunia-Nya dan Allah sendiri yang akan menyelesaikannya. Keselamatan adalah pekerjaan baik yang dilakukan Allah di dalam diri kita pada waktu kita percaya pada Anak-Nya. Dalam Filipi 2:12-13 kita membaca bahwa Allah melanjutkan pekerjaan-Nya di dalam kita melalui Roh-Nya. Dengan kata lain, keselamatan meliputi tiga macam pekerjaan:
•    Pekerjaan yang dilakukan Allah bagi kita – penebusan;
•    Pekerjaan yang dilakukan Allah di dalam kita – pengudusan;
•    Pekerjaan yang dilakukan Allah melalui kita – pelayanan.
Pekerjaan ini akan terus berlangsung sampai kita bertemu dengan Kristus.
Mengetahui bahwa Allah masih bekerja di dalam kehidupan orang-orang percaya di Filipi, merupakan sumber sukacita bagi Paulus.Paulus mengatakan kepada jemaat Filipi “kamu ada di dalam hatiku” (ay.7), bahwa jemaat dibawa masuk kedalam kasih karunia Allah melalui pelayanan Paulus.Dan Paulus mengasihi jemaat seperti mengasihi dirinya sendiri. Sama seperti Imam besar pada zaman PL memakai penutup badan khusus, yaitu efod, yang menutupi dadanya. Pada efod itu ditaburkan 12 batu permata, masing-masing diukir nama dari keduabelas suku bangsa Israel (Kel. 28:15-29). Ia mewakili seluruh bangsa di hatinya dengan penuh kasih, dan demikian juga Paulus.
 
Paulus berdoa dan mengharapkan yang terbaik terjadi bagi jemaat. Paulus berdoa bagi jemaat Filipi agar dapat mengalami kasih yang melimpah dan kasih yang dapat mengetahui apa yang benar. Paulus juga mendoakan agar mereka memiliki sifat-sifat Kristen yang dewasa yaitu “suci dan tak bercacat”.Ia juga berdoa agar mereka memiliki pelayanan Kristen yang dewasa. Paulus mengharapkan agar jemaat Filipi mengasihi berdasarkan kebenaran dan pengertian.Kebenaran adalah bukti efektif dari pengudusan kita.Buah kebenaran menghasilkan kemuliaan bagi Allah dan membangun gereja-Nya.Buah ini berasal dari Yesus Kristus yaitu kekuatan kasih karunia-Nya, sebab tanpa Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa.

III. Pointer Aplikasi
Persekutuan dalam Kristus memberikan kelegaan, tetapi kita sering kali membangun persekutuan yang menderita.Sebelum kita bersama, masing-masing kesepian, setelah bersama saling menyakiti.Ingatan yang tertanam adalah ingatan yang menyakitkan.Persekutuan kita masih ditandai dengan cacat dan cela.Lalu bagaimana kita menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali kalau kita belum siap?

Hidup kita adalah pembuktian kasih karunia.Kasih karunia Allah membentuk persekutuan yang indah yang ditandai dengan saling mengasihi.Keaslian kasih terbukti dari daya tahan kasih tersebut.Kalau hanya sebentar dan seketika saja, bukan merupakan kasih yang sejati.Kasih yang sejati memberikan penghiburan dan penguatan serta membaharui kehidupan jemaat.Bagaimana kita menyatakan diri hidup di dalam kasih karunia Allah tanpa kebersamaan. Kehidupan jemaat seharusnya terhubung antara satu dengan yang lain.
 
Yesus sendiri menyatakan tentang kesatuan, bahwa inti kesatuan itu sendiri adalah Yesus Kristus.Yohanes 17:23 “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku”. Kesatuan ini tampak antara Paulus dengan jemaat Filipi, jemaat Filipi dalam hati Paulus dan Paulus juga tetap diingat oleh jemaatnya.Jemaat Filipi dapat menerima kenyataan bahwa Rasul Paulus yang mereka kasihi dipenjara untuk meneguhkan Injil Kristus.Dan jemaat Filipi tidak berhenti bertumbuh dalam Injil.Walaupun Paulus dipenjarakan tetapi Injil tidak terpenjarakan.
 
Kekacauan dalam jemaat bukan rancangan Allah.Iblis sedang membangun kerajaan kebencian di bumi.Seharusnya gereja tidak kalah menghadapi pekerjaan iblis.Pekerjaan kasih karunia Allah seharusnya mengalahkan kebencian, dan tidak ada tempat kebencian bersarang di dalam gereja.Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh.17:15,17).
 
Gereja seharusnya terus dimurnikan dengan Firman Allah sehingga kemuliaan Allah nyata di dalam gereja-Nya.Gereja yang berpusat pada persekutuan dalam Yesus Kristus memberitakan kasih karunia Allah yang berhasil membentuk jemaat yang mempermuliakan Allah. Tuhan Yesus memberikan kepastian bahwa “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” (Yoh.15:5).Kita mempersembahkan buah-buah rohani yang menyegarkan. Hendaknya Tuhan berkenan akan persekutuan kita.Amin.
 
Pdt.Sura Purba Saputra, M.Th
GBKP Majelis Jemaat Bandung Timur
 

Khotbah Daniel 7:9-14, Minggu 22 November 2015

Renungan

Invocatio :
Dihadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati
(II Timotius 4 : 1a)
 
Bacaan :
Lukas 12 : 25 - 43 (Antiponal).
 
Khotbah :
Daniel 7 : 9 - 14.
 
Thema :
Kerajaan Allah Tak Berkesudahan
 
Saudara-saudara yang Tuhan kasihi
Minggu ini kita memasuki minggu penutupan tahun gereja, arinya dalam perjalanan kelender gerejawi ini adàlah minggu terakhir. Yang dilakukan dalam kehidupan bergereja di dalam peribadahannya adalah adanya warta jemaat yang memberitakan tentang anggota-anggota jemaat yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kita dari kehidupan dunia ini selama setahun perjalanan gereja. Apa artinya, sederhana sekali; kita diingatkan akan kematian dan umur kita yang sangat singkat di dunia ini. Dan juga kita diingatkan bahwa umur yang singkat itu berbanding terbalik dengan tujuan setelah kematian bagi setiap orang percaya. Di katakan bahwa tujuan kita adalah Surga, dan surga itu kekal adanya. Apakah surga itu, secara sederhana juga bisa kita katakan bahwa itu adalah sebuah istana keabadian yang dimiliki oleh Allah, Dia berdiam di sana, berkuasa di sana, namun membiarkan setiap orang percaya untuk dapat tinggal danmenetap bersamaNya di sana. Dan surga itulah yang sering kita sebut dengan Kerajaan Allah. Apa yang berbeda antara dunia dan Kerajaan Surga, ini juga secara sederhana dikatakan dalam Alkitab bahwa dunia akan lenyap, artinya ada keterbatasan waktu, sedangkan Surga yang kita sebut dengan Kerajaan Allah itu adalah Kekal adanya. Dunia lenyap, Kerajaan Allah tetap ada dan itu menjadi tempat kehidupan selanjutnya bagi orang percaya.
 
Sedemikian pentingkah keberadaan Kerajaan Allah ini bagi kehidupan kita. Jawabannya bisa saja berbeda bagi orang percaya dan yang tidak percaya. Bagi orang percaya, kerajaan Allah menjadi sangat penting karena mereka mengetahui bahwa hidup ini sangatlah terbatas (Alkitab jugamengatakan bahwa umur manusia sekitar 70 - 80 tahun) dan setelah itu maka manusia itu mati. Apakah sudah berakhir semuanya? Ternyata bagi orang percaya..... TIDAK.Masih ada kelanjutannya. Setelah kematian ada masa penantian akan Kedatangan Yesus Yang Kedua yang dimana pada saat itu akan diadakan Pengadilan Terakhir yang sangat menentukan Perjalanan Manusia menuju Alam Keabadian... Nah disinilah arti pentingnya bagimanusia. Sebab bila manusia itu memeliharakan iman yang benar dalam kehidupannya maka kekekalan hidup itu akan dilanjutkannya bersama dengan sang Penciptanya di tempat yang telah disediakan oleh sang Penciptanya itu. Tempat itulah yang sedari tadi kita sebut dengan Surga atau Kerajaan Allah.
 
Saudara-saudari
Bila kita runut melalui awal ibadah melalui introitus, bacaan pertama hingga bacaan khotbah ada suatu gambaran yang sangat menarik tentang keberadaan hidup kita yang ditautkan dengan bagaimana juga pemeliharaan Tuhan serta apa yang diberikan di dunia, dijanjikan untuk keberadaan nantinya, apa yang harus dilakukan untuk janji itu dan pada akhirnya nantinya apa yang dijanjikan itu akan diberikan kepada orang2 yang setia. Sejak awal manusia diperhadapkan dengan tantangan (introitus) dan tantangan itu ditegaskan lagi dalam bacaan pertama yang mana sangat menekankan akan kata setia dan waspada. Setia menjalani kehidupan pada jalan yang telah Tuhan persiapkan menuju KerajaanNya, namun waspada sebab akan ada pengganggu yang sangat tidak menginginkan kita sukses menjalani kehidupan dunia kita dan berakhir pada tujuan yang telah Tuhan tetapkan bagi kita. Sang Penghalang itu akan berusaha dengan segala daya upaya yang kita sebut dengan TIPU DAYA IBLIS untuk menghalangi kita berjalan menuju tujuan.Teringat aku akan sebuah permainan di waktu kecil yang disebut dengan GOBAK SODOR. Pada permainan ini disediakan kotak kotak yang nantinya akan dijaga dan dilewati. Para peserta dibagimenjadi 2 bagian. Bagian pertama, adalah mereka yang diberikan tugas untuk melewati barisan penjaga untuk melaju pada kotak-kotak yang ada hingga berakhir pada kotak terakhir yang disediakan. Dan bila mereka berhasil maka mereka dinyatakan sebagai pemenang, sebaliknya bila mereka tertangkap maka mereka dinyatakan kalah dan beralih menjadi penjaga. Nah, bagian kedua adalah mereka yang berjaga diantara satu kotak ke kotak lainnya. Tugas mereka adalah berupaya dengan kemampuan mereka untuk menghadang dan menghalangi orang-orang yang berada di kotak untuk melaju ke kotak berikutnya. APA YANG MENARIK.? Bagi saya, yang menarik adalah pihak pengisi kotak akan berusaha dengan akal, pikiran, dan kekuatannya untuk dapat melewati sang penghalang, sebaliknya sang penghalang juga akan melakukan hal yang sama untuk bisa tidak meloloskan sang pengisi kotak. Dan bila mereka berhasil melewati sang penghalang itu maka mereka akan merasa sangat senang karena mereka MENANG. Melalui permainan ini saya diingatkan, bukankan demikian perjalanan kehidupan kita menuju tujuan akhir perjalanan iman kita.Akan banyak sekali tantangan, hadangan, rintangan, hambatan, apapun itu yang sifatnya ingin menggagalkan. Tapi perlu dan sangat penting kita ingat dan tanamkan dalam diri kita adalah ternyata kita tidak sendiri melewatinya. Ternyata ada Dia, ada TUHAN, Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya bagi kita untuk bisa sampai pada tujuan kekL itu.TUHAN sudah mempersiapkan kebutuhan hidup kita selama perjalanan usia kita, lebih dari itu Dia juga sudah memperlengkapi kita dengan kekuatan serta senjata untuk dapat melumpuhkan Sang Penghalang itu.(Ef. 6 : 11-17). Lengkap sekali senjata kita. Demikian juga dengan kebutuhan hidup kita. Carilah dahulu Kerajaan Allah..... (Luk 12 : 31) sudah dapat menjadi jaminan yang sangat kokoh bagi kita. Membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan ciptaan lainnya adalah cara Tuhan untuk meyakinkan kita akan besarnya penyertaanNya. Menyatakan bahwa kita lebih dari ciptaan lainnya adalah untuk menegaskan bahwa kita sangat berharga di hadapanNya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita masih meragukan kemampuan kita untuk dapatmelewatinya dan tiba di kerajaan Allah yang katanya penuh dengan sukacita.
 
Saudara-saudara..
Kembali pada topic minggu ini... Melihat kenyataan yang ada dihadapan kita..... Adakah kita melihat bahwa sepertinya Tuhan gagal meyakinkan kita tentang janjiNya.. Buktinya masih begitu banyak yang tidak peduli dengan panggilanNya.. Atau Sang Penghalang itu dengan tipu dayanya yang dahsyat itu telah berhasil mengelabui kita sehingga kita tidak mampu melihat bahwa sebenarnya Tuhan kita jauh lebih dahsyat dari para penghalang itu.
 
Lalu mengapa pada kenyataannya berita tentang kejahatan manusia bukannya semakin kecil dan sedikit, justtu dari hari ke hari semakin bertambah dengan pola yang semakin berfariasi juga. Bahkan keinginan manusia akan keduniawian seperti benda2 dunia, hawa nafsu dan bahkan penyembahan berhala modern dan tradisional terus berlangsung. Jawabnya juga sederhana namun sangat perlu waspada... Tuhan menjamin kehidupan kita untuk tetap bertahan dan pada akhirnya menang... Tapi Setan atau Iblis .. Memberikan yang sepertinya lebih banyak, lebih menyenangkan, lebih mengasyikkan, padahal itu ibarat Fatamorgana Kehidupan... Sepertinya indah tapi hampa. Inilah yang tidak kita sadari.
 
Oleh sebab itu Minggu ini kita diingatkan kembali akan adanya Kerajaan yang Kekal, Kerajaan yang dikuasai oleh Allah namun dijanjikan kepada orang percaya untuk dapat hidup dan tinggal bersamaNya disana nantinya.. Memang ada kata NANTI...... namun bukankan itu jauh lebih meyakinkan seharusnya bagi kita bila kita mau bandingkan dengan betapa singkatnya kehidupan kita di dunia ini dan dengan apa yang telah dinyatakan bahwa KerajaanNya itu KEKAL SELAMANYA.

Gambaran yang dinyatakan pada kitab Daniel sangat tegas menyatakan perbandingan itu (ay 11,12) dan bagaimana berkuasanya Dia (ay. 14b). Ada yang dikalahkan dan ada yang mengalahkan. Ada yang habis namun ada yang kekal. Ada yang berkuasa dan memelihara dan apa yang tadinya merasa berkuasa namun lenyap namun ada yang tetap.
Himbauan dan panggilan tetap ada dan terbuka...
Mari.. Buka mata iman, jangan silau dengan pengelabuan Setan.. Lihat bahwa yang ditawarkannya semu tapi yang dijasjikqn Tuhan kita adalah kekal adanya. Amin
Pdt. BRC. Munthe
Rg. Cisalak
 

Khotbah Josua 24:14-24, Minggu 15 November 2015

Renungan

Invocatio :
Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini : hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (Filipi 2:2)

Bacaan :
1 Petrus 3:1-7 (Antiphonal)

Thema :
Keluarga Yang Beriman

Pengantar
Keluarga merupakan tempat persekutuan hidup antara ayah, ibu, anak yang disebut juga sebagai keluarga inti. Keluarga Kristen adalah persekutuan hidup antara ayah, ibu, dan anak-anak yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi serta meneladani hidup dan ajaran-ajaranNya dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian ini dibangun dari pengertian Kristen itu sendiri. Kristen artinya menjadi pengikut Kristus, yang meneladani hidup dan ajaran-ajaran Kristus. Dr. Kenneth Chafin dalam bukunya Is There a Family in the House? Memberikan gagasan tentang keluarga. Ia memaparkan bahwa keluarga merupakan tempat bertumbuh; baik tubuh, akal budi serta rohani. Di dalam keluarga juga terjadi pengembangan semua aktivitas karena setiap orang bebas untuk mengembangkan karunianya masing-masing. Demikian juga, di dalam keluarga merupakan tempat yang  aman untu bersaat teduh saat ada badai kehidupan. Didalamnya juga terjadi proses mentransfer nilai-nilai yang penting dalam menjalani kehidupan, dan di dalam keluarga juga merupakan tempat munculnya permasalahan juga penyelesaiannya. Karena tidak ada keluarga yang terbebas dari permasalahan hidup. Seringkali permasalahan muncul tidak terduga, namun keluarga tersebut dapat menyelesaikannya dan rukun kembali. Meminjam istilah Andar Ismail tentang situasi keluarga “Ribut Rukun”.  Demikianlah kita bisa melihat bagaimana pentingnya lembaga keluarga ini. Melalui teks Josua 24:14-24, kita akan mempelajari bagaimana keluarga yang beriman, yang dibangun oleh Yosua.

Pembahasan Teks
Ayat 14-15 Pilihan Yosua :Keluarga Yang Beribadah Kepada Allah
Jauhkanlah allah. Dalam pidatonya, Yosua memberi kesempatan kepada orang Israel yang sudah hidup menurut hukum Taurat untuk memperbaharui kesetiaan mereka kepada Tuhan. Mereka yang bergabung dengan orang Israel selama masa pendudukan juga ditantang untuk memilih “pada hari ini”, apakah mau menyembah Tuhan atau masih menyembah illah-illah mereka.  Sewaktu di Mesir, orang Israel menyembah lembu suci yang melambangkan Apis, dewa kesuburan. Dewa-dewa Mesopotamia di seberang Sungai Efrat antara lain adalah Marduk, dewa utama bangsa Babilon, dan Bel yang serupa dengan Baal, dewa kesuburan bangsa Kanaan. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan. Ini menjadi pilihan komitmen Yosua bagi keluarganya, karena ia sudah mengalami karya Tuhan dalam perjuangan pelayanan memimpin bangsa Israel. Soal pilihan pribadi memang termasuk dalam keselamatan yang disediakan Allah. Setiap orang percaya harus senantiasa memilih siapa yang akan dilayaninya. Seperti dengan Yosua dan orang-orang Israel, melayani Tuhan bukan suatu pilihan sekali saja (bd. Yosua 1:16-18, Ulangan 30:19-20); kita harus berkali-kali memutuskan untuk bertekun di dalam iman dan menaati Tuhan. Membaharui pilihan-pilihan yang benar oleh orang percaya meliputi takut akan Tuhan, kesetiaan kepada kebenaran, ketaatan dengan hati yang sungguh-sungguh, dan penyangkalan dosa serta kesenangan-kesenangan yang terkait dengannya (ayat 14-16). Lalai memilih untuk melayani dan mengasihi Tuhan akhirnya akan mendatangkan hukuman dan kebinasaan (ayat 20; 23:11-13).

Ayat 16-18 Komitmen Bangsa Israel Untuk Beribadah Kepada Tuhan.
Jauhlah daripada kami meninggalkan Tuhan. Janji bangsa itu untuk hanya melayani Tuhan ditepati, selama masa Yosua memimpin, mereka setia keada Tuhan. Karena mereka melihat bagaimana Tuhan telah menuntun keluar dari tanah Mesir, rumah perbudakan, serta melakukan tanda-tanda mujizat dihadapan mereka, serta melindungi mereka di sepanjang jalan yang sudah di tempuh, sehingga mereka memilih beribadah kepada Tuhan. Ternyata, hal ini mereka lakukan hanya selama Yosua dan para tua-tua masih hidup. Tidak lama setelah kematian Yosua, bangsa itu meninggalkan Tuhan dan mulai berbakti kepada dewa-dewa lain (Hakim-Hakim 2:11-19). Kami pun akan beribadah kepada Tuhan :Yosua mengingatkan bangsa Israel bahwa melanggar perjanjian yang dibuat dengan Tuhan akan mengakibatakan bencna yang mengerikan, termasuk kehancuran mereka sebagai bangsa. Perjanjian itu menuntut ketekunan dan kesetiaan. Dalam hal ini, semangat saja tidak cukup.

Ayat 19-24 Memantapkan Komitmen Beribadah Kepada Tuhan
Tanpa ragu, bagsa Israel langsung menanggapi pidato Yosua dan seruannya dengan berkata “jauhlah dari pada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada allah lain!”……” Jika kita ada diantara bangsa Isreal pada waktu itu, tentu saja kita juga pasti menjadi salah satu orang yang meneriakkan jawaban tersebut dengan lantang sebagai tanda keyakinan kita akan keputusan dan komitmen yang kita ambil. Namun Yosua ternyata menyikapi berbeda. Ia bukan bertepuk tangan atau memuji apa yang dikatakan umat Israel untuk menanggapi seruannya. Sebuah jawaban yang sepertinya mematahkan semangat dan komitmen bangsa Israel. Tetapi jika bacaan ini kita baca seterusnya (ayat 19-24),  bukan seperti itu yang dimaksudkan oleh Yosua. Sama sekali ia tidak bermaksud mengecilkan komitmen bangsanya, sebab Yosua menantang bangsa itu untuk menjadi saksi atas keputusan mereka sendiri, dengan kata lain Yosua mengingatkan bahwa tanggungjawab atas komitmen mereka ada pada diri mereka sendiri, bukan pada orang lain. Bukan mengambil keputusan karena mayoritas orang meneriakkan hal yang sama atau sekedar ikut-ikutan. Komitmen harus dibuat secara sadar dan mandiri oleh tiap orang karena pertanggungjawabannya ada pada diri yang bersangkutan. Selain itu, di ayat 23, Yosua menggunakan dua kata kerja aktif,  yang berlawanan satu dengan yang lainnya, yaitu “jauhkanlah” dan “condongkanlah”. Hal ini menekankan bahwa tidak cukup hanya sebuah komitmen yang bagus tetapi minim usaha. Perlu ada usaha untuk merealisasikannya. Apalah artinya komitmen jikalau tidak ada perubahan hidup yang dihasilkannya.

Aplikasi
Hidup beriman selalu melibatkan kerjasama dengan yang lainnya. Beriman selalu mensyaratkan adanya pertobatan batin demi perubahan sosial yang lebih baik. Dengan demikian, hidup beriman selalu berawal dari diri pribadi yang mau memberikan diri bagi kebaikan sesamanya, keluarganya, dan lingkungannya. Hal ini dapat dimulai dalam ruang lingkup terdekat kita yakni dalam keluarga. Keluarga merupakan basis dasar dalam hidup  beriman. Yosua sebagai seorang pemimpin baik dalam keluarganya maupun bagi bangsanya mempunyai suatu komitmen yang sangat kokoh untuk membawa mereka beribadah kepada Tuhan. Komitmen ini terbangun oleh karena pengalaman hidup yang sudah dijalaninya bersama dengan Tuhan. Ia sudah melihat bagaimana karya Tuhan, yang memimpin bangsaNya keluar dari Mesir sampai memasuki tanah Kanaan. Di tanah Kanaan, ada banyak dewa-dewa, baal yang mereka sembah. Yosua sebagai seorang pemimpin, tentu saja berupaya untuk menetapkan hati bangsanya untuk setia beribadah kepada Tuhan. Ia memulainya dengan menyatakan komitmen dalam keluarganya “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”. Hal ini memperlihatkan bagaimana Yosua berketatapan hati membawa keluarganya juga tetap setia beribadah kepada Tuhan dan ia menyadari betapa pentingnya beribadah kepada Tuhan. Ia sudah mengalami Tuhan dalam kepemimpinannya yang menempa ia menjadi seorang pemimpin yang dihormati bangsanya.

Komiten yang ada pada Yosua juga ditularkan kepada keluarga dan bangsanya.Ia menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh terhadap keluarga dan bangsanya, sehingga membawa mereka untuk beribadah kepada Tuhan.Relasi dalam keluarga, khususnya suami dan istri (1 Petrus 3:1-7) menjadi model bagi anak-anak baik dalam sikap, tutur kata, demikian juga dalam hal beriman kepada Tuhan. Seperti yang disampaikan oleh  Ed Young dalam buku The Commandement of Parenting, orangtua menjadi model kesalehan. Orang tua yang sungguh-sungguh mengasihi anak-anaknya akan memberi teladan yang jelas bagaimana seharusnya seseorang hidup baik dalam hal nilai-nilai dan juga iman percaya kepada Tuhan. Karena itu, sangat penting teladan yang baik diberikan bagi mereka.  Meskipun dalam keluarga berbagai situasi keadaan yang akan dijalani baik suka-duka, tangis-tawa, dan sebagainya, kita perlu belajar dari keluarga Yosua yang tetap sanggup merasakan pertolongan Tuhan sehingga tetap setia pada komitmennya “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”.
Jikalau Yosua setia pada komitmen “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”, bagaimana dengan kita ?

Selamat menjadi keluarga yang beriman.

Pdt. Chrismori Br Ginting
GBKP Rg. Yogyakarta

Lebih lanjut: Khotbah Josua 24:14-24, Minggu 15 November 2015

 

Page 6 of 59

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 194 guests online