Khotbah Josua 24:14-24, Minggu 15 November 2015

Renungan

Invocatio :
Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini : hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (Filipi 2:2)

Bacaan :
1 Petrus 3:1-7 (Antiphonal)

Thema :
Keluarga Yang Beriman

Pengantar
Keluarga merupakan tempat persekutuan hidup antara ayah, ibu, anak yang disebut juga sebagai keluarga inti. Keluarga Kristen adalah persekutuan hidup antara ayah, ibu, dan anak-anak yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi serta meneladani hidup dan ajaran-ajaranNya dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian ini dibangun dari pengertian Kristen itu sendiri. Kristen artinya menjadi pengikut Kristus, yang meneladani hidup dan ajaran-ajaran Kristus. Dr. Kenneth Chafin dalam bukunya Is There a Family in the House? Memberikan gagasan tentang keluarga. Ia memaparkan bahwa keluarga merupakan tempat bertumbuh; baik tubuh, akal budi serta rohani. Di dalam keluarga juga terjadi pengembangan semua aktivitas karena setiap orang bebas untuk mengembangkan karunianya masing-masing. Demikian juga, di dalam keluarga merupakan tempat yang  aman untu bersaat teduh saat ada badai kehidupan. Didalamnya juga terjadi proses mentransfer nilai-nilai yang penting dalam menjalani kehidupan, dan di dalam keluarga juga merupakan tempat munculnya permasalahan juga penyelesaiannya. Karena tidak ada keluarga yang terbebas dari permasalahan hidup. Seringkali permasalahan muncul tidak terduga, namun keluarga tersebut dapat menyelesaikannya dan rukun kembali. Meminjam istilah Andar Ismail tentang situasi keluarga “Ribut Rukun”.  Demikianlah kita bisa melihat bagaimana pentingnya lembaga keluarga ini. Melalui teks Josua 24:14-24, kita akan mempelajari bagaimana keluarga yang beriman, yang dibangun oleh Yosua.

Pembahasan Teks
Ayat 14-15 Pilihan Yosua :Keluarga Yang Beribadah Kepada Allah
Jauhkanlah allah. Dalam pidatonya, Yosua memberi kesempatan kepada orang Israel yang sudah hidup menurut hukum Taurat untuk memperbaharui kesetiaan mereka kepada Tuhan. Mereka yang bergabung dengan orang Israel selama masa pendudukan juga ditantang untuk memilih “pada hari ini”, apakah mau menyembah Tuhan atau masih menyembah illah-illah mereka.  Sewaktu di Mesir, orang Israel menyembah lembu suci yang melambangkan Apis, dewa kesuburan. Dewa-dewa Mesopotamia di seberang Sungai Efrat antara lain adalah Marduk, dewa utama bangsa Babilon, dan Bel yang serupa dengan Baal, dewa kesuburan bangsa Kanaan. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan. Ini menjadi pilihan komitmen Yosua bagi keluarganya, karena ia sudah mengalami karya Tuhan dalam perjuangan pelayanan memimpin bangsa Israel. Soal pilihan pribadi memang termasuk dalam keselamatan yang disediakan Allah. Setiap orang percaya harus senantiasa memilih siapa yang akan dilayaninya. Seperti dengan Yosua dan orang-orang Israel, melayani Tuhan bukan suatu pilihan sekali saja (bd. Yosua 1:16-18, Ulangan 30:19-20); kita harus berkali-kali memutuskan untuk bertekun di dalam iman dan menaati Tuhan. Membaharui pilihan-pilihan yang benar oleh orang percaya meliputi takut akan Tuhan, kesetiaan kepada kebenaran, ketaatan dengan hati yang sungguh-sungguh, dan penyangkalan dosa serta kesenangan-kesenangan yang terkait dengannya (ayat 14-16). Lalai memilih untuk melayani dan mengasihi Tuhan akhirnya akan mendatangkan hukuman dan kebinasaan (ayat 20; 23:11-13).

Ayat 16-18 Komitmen Bangsa Israel Untuk Beribadah Kepada Tuhan.
Jauhlah daripada kami meninggalkan Tuhan. Janji bangsa itu untuk hanya melayani Tuhan ditepati, selama masa Yosua memimpin, mereka setia keada Tuhan. Karena mereka melihat bagaimana Tuhan telah menuntun keluar dari tanah Mesir, rumah perbudakan, serta melakukan tanda-tanda mujizat dihadapan mereka, serta melindungi mereka di sepanjang jalan yang sudah di tempuh, sehingga mereka memilih beribadah kepada Tuhan. Ternyata, hal ini mereka lakukan hanya selama Yosua dan para tua-tua masih hidup. Tidak lama setelah kematian Yosua, bangsa itu meninggalkan Tuhan dan mulai berbakti kepada dewa-dewa lain (Hakim-Hakim 2:11-19). Kami pun akan beribadah kepada Tuhan :Yosua mengingatkan bangsa Israel bahwa melanggar perjanjian yang dibuat dengan Tuhan akan mengakibatakan bencna yang mengerikan, termasuk kehancuran mereka sebagai bangsa. Perjanjian itu menuntut ketekunan dan kesetiaan. Dalam hal ini, semangat saja tidak cukup.

Ayat 19-24 Memantapkan Komitmen Beribadah Kepada Tuhan
Tanpa ragu, bagsa Israel langsung menanggapi pidato Yosua dan seruannya dengan berkata “jauhlah dari pada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada allah lain!”……” Jika kita ada diantara bangsa Isreal pada waktu itu, tentu saja kita juga pasti menjadi salah satu orang yang meneriakkan jawaban tersebut dengan lantang sebagai tanda keyakinan kita akan keputusan dan komitmen yang kita ambil. Namun Yosua ternyata menyikapi berbeda. Ia bukan bertepuk tangan atau memuji apa yang dikatakan umat Israel untuk menanggapi seruannya. Sebuah jawaban yang sepertinya mematahkan semangat dan komitmen bangsa Israel. Tetapi jika bacaan ini kita baca seterusnya (ayat 19-24),  bukan seperti itu yang dimaksudkan oleh Yosua. Sama sekali ia tidak bermaksud mengecilkan komitmen bangsanya, sebab Yosua menantang bangsa itu untuk menjadi saksi atas keputusan mereka sendiri, dengan kata lain Yosua mengingatkan bahwa tanggungjawab atas komitmen mereka ada pada diri mereka sendiri, bukan pada orang lain. Bukan mengambil keputusan karena mayoritas orang meneriakkan hal yang sama atau sekedar ikut-ikutan. Komitmen harus dibuat secara sadar dan mandiri oleh tiap orang karena pertanggungjawabannya ada pada diri yang bersangkutan. Selain itu, di ayat 23, Yosua menggunakan dua kata kerja aktif,  yang berlawanan satu dengan yang lainnya, yaitu “jauhkanlah” dan “condongkanlah”. Hal ini menekankan bahwa tidak cukup hanya sebuah komitmen yang bagus tetapi minim usaha. Perlu ada usaha untuk merealisasikannya. Apalah artinya komitmen jikalau tidak ada perubahan hidup yang dihasilkannya.

Aplikasi
Hidup beriman selalu melibatkan kerjasama dengan yang lainnya. Beriman selalu mensyaratkan adanya pertobatan batin demi perubahan sosial yang lebih baik. Dengan demikian, hidup beriman selalu berawal dari diri pribadi yang mau memberikan diri bagi kebaikan sesamanya, keluarganya, dan lingkungannya. Hal ini dapat dimulai dalam ruang lingkup terdekat kita yakni dalam keluarga. Keluarga merupakan basis dasar dalam hidup  beriman. Yosua sebagai seorang pemimpin baik dalam keluarganya maupun bagi bangsanya mempunyai suatu komitmen yang sangat kokoh untuk membawa mereka beribadah kepada Tuhan. Komitmen ini terbangun oleh karena pengalaman hidup yang sudah dijalaninya bersama dengan Tuhan. Ia sudah melihat bagaimana karya Tuhan, yang memimpin bangsaNya keluar dari Mesir sampai memasuki tanah Kanaan. Di tanah Kanaan, ada banyak dewa-dewa, baal yang mereka sembah. Yosua sebagai seorang pemimpin, tentu saja berupaya untuk menetapkan hati bangsanya untuk setia beribadah kepada Tuhan. Ia memulainya dengan menyatakan komitmen dalam keluarganya “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”. Hal ini memperlihatkan bagaimana Yosua berketatapan hati membawa keluarganya juga tetap setia beribadah kepada Tuhan dan ia menyadari betapa pentingnya beribadah kepada Tuhan. Ia sudah mengalami Tuhan dalam kepemimpinannya yang menempa ia menjadi seorang pemimpin yang dihormati bangsanya.

Komiten yang ada pada Yosua juga ditularkan kepada keluarga dan bangsanya.Ia menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh terhadap keluarga dan bangsanya, sehingga membawa mereka untuk beribadah kepada Tuhan.Relasi dalam keluarga, khususnya suami dan istri (1 Petrus 3:1-7) menjadi model bagi anak-anak baik dalam sikap, tutur kata, demikian juga dalam hal beriman kepada Tuhan. Seperti yang disampaikan oleh  Ed Young dalam buku The Commandement of Parenting, orangtua menjadi model kesalehan. Orang tua yang sungguh-sungguh mengasihi anak-anaknya akan memberi teladan yang jelas bagaimana seharusnya seseorang hidup baik dalam hal nilai-nilai dan juga iman percaya kepada Tuhan. Karena itu, sangat penting teladan yang baik diberikan bagi mereka.  Meskipun dalam keluarga berbagai situasi keadaan yang akan dijalani baik suka-duka, tangis-tawa, dan sebagainya, kita perlu belajar dari keluarga Yosua yang tetap sanggup merasakan pertolongan Tuhan sehingga tetap setia pada komitmennya “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”.
Jikalau Yosua setia pada komitmen “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”, bagaimana dengan kita ?

Selamat menjadi keluarga yang beriman.

Pdt. Chrismori Br Ginting
GBKP Rg. Yogyakarta

Lebih lanjut: Khotbah Josua 24:14-24, Minggu 15 November 2015

 

Khotbah Daniel 1:11-21, Minggu 08 November 2015

Renungan

Invocatio:
Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah Kami diberikan sayur untuk di makan dan air untuk di minum. (Daniel 1:12 )

Bacaan :
II Raja-Raja 20 : 1 -11 ( Tunggal )

Thema :
“ Jaga Dan Kasihilah Tubuhmu “ (Jaga ras kelengilah kulandu)


Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Minggu ini adalah Minggu Kesehatan yang mengingatkan kita akan penting dan mahalnya kesehatan tubuh. Berbagai cara dan upaya  dilakukan untuk hidup sehat, dengan berolah raga, mengatur keseimbangan gizi atau mengatur menu makanan setiap hari, mengatur waktu tidur, waktu istirahat, waktu santai atau liburan dan lain-lain. Begitu berharganya kesehatan dalam hidup ini karena berhubungan dengan kesehatan jiwa atau rohani kita, dan sebaliknya dengan jiwa atau rohani yang sehat, menjadikan tubuh kita juga sehat, berpikir sehat dan bekerja yang baik. Dengan kesehatan jasmani dan rohani seseorang menentukan kwalitas setiap aktipitas yang ia lakukan. Untuk menjaga dan mengasihi tubuh kita, ada beberapa hal yang menjadi perenungan dan pembelajaran bagi kita berdasarkan firman Tuhan dalam Daniel 1 :11-21.

Pada tahun 587-538 SM, kerajaan Babel : Nebukadnezar menguasai Yehuda pada masa pemerintahan Yoyakim dan membawanya sebagai tawanan ke Babel. Pada waktu itu kerajaan membutuhkan pegawai istana. Dipilih pemuda yang dari keturan raja dan bangsawan, yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, berpengetahuan, cakap untuk bekerja dalam istana. Dididik selama 3 tahun, mereka di ajarkan tulisan dan bahasa orang kasdim. Terpilih diantara mereka adalah: Daniel=Beltazar, hananya=Sadrakh, misael=Mesakh dan Azarya=Abednego (Daniel 1:4-6). Dalam peroses pendidikan mereka menolak makanan sajian raja, dan meminta kepada pegawai untuk menjalani pencobaan selama 10 hari dengan memakan sayuran saja dan air untuk di minum. Mereka menolak makanan sajian raja karena beberapa alasan antara lain : Makanan itu tidak di persiapkan sesuai dengan ketentuan Taurat. Misalnya: Dagingnya masih mengandung darah. Larangan untuk memakan darah seluruh mahluk Hidup ( Imamat 17:10-14 ). Makanan dan anggur itu sudah dipersembahkan bagi dewa-dewa Babel, sehingga makanan itu Najis berdasarkan aturan pentahiran berdasarkan Taurat. Tahir atau najis, Haram atau Halal (Bd.Im.11-18). Daniel dan teman-temannya tidak mau melanggar Firman Tuhan, tapi menunjukkan ketaatan terhaadap hukum taurat dan menjaga kekudusan dirinya .  Ternyata perawakan mereka lebih sehat dan lebih baik dari seluruh pemuda yang lain.

Dari sikap yang dilakukan oleh Daniel dan teman-temannya adalah menjadi pembelajaran juga bagi kita pada saat ini. Pertama, Makanan yang enak, mahal, mewah tidak menjamin kesehatan tubuh. Makan cepat saji yang mengandung bahan penyedap, pengawet dapat merusak kesehatan tubuh kita. Berhati-hatilah terhadap makanan yang kita konsumsi sebab tidak semua makanan cocok bagi tubuh setiap orang. Kedua, iman kepada Tuhan atau ketaatan terhadap Firman Tuhan tidak di rusak hanya oleh makanan dan minuman. Zaman ini banyak orang yang tidak perduli lagi terhadap kekudusan dirinya baik dari sikap dan perbuatannya, begitu juga dengan makanan dan minuman yang dia konsumsi. Halal atau haram tidak menjadi persoalan yang penting hasrat terpenuhi, keinginan terpuaskan. Tidak mau tau cara mendapatkannya yang penting mendapat hasil yang memuaskan, apakah itu hasil mencuri atau korupsi dari hasil memeras, menindas dan lain-lain. Juga tidak terlepas dari ketergantungan makanan dan minuman, yang merusak kesehatan tubuh dan merusak jiwa atau kesehatan rohani kita, mabuk oleh minuman keras, narkoba dan sejenisnya. Sebagai orang percaya kepada Tuhan Yesus tentu hal ini tidak terjadi dan bukan bagian dari sikap dan perbuatan kita. Dan yang ke tiga, Daniel dan teman-temannya walau pun hanya memakan makanan yang sederhana membuat jasmani dan rohani mereka sehat karena diberkati oleh Tuhan, sekaligus menjadi kesaksian mereka bagi seluruh kalangan istana bahwa kuasa dan kasih Allah menyertai dan melindungi mereka. Menjadi perenungan bagi kita adalah : Apakah kepercayaan, ketaatan terhadap Tuhan Allah dapat mempengaruhi dan memperbaharui sikap dan perbuatan kita ?                                      

Dalam II Raja-Raja20:1-11 yang menjadi bacaan pertama diceritakan tentang Raja Hizkia yang sedang sakit dan hampir mati. Tapi oleh karena kuasa doa nya, dia disembuhkan dan diperpanjang umurnya 15 tahun. Pengalaman Hizkia menyatakan bahwa sakit penyakit manusia dapat disembuhkan oleh kuasa Allah lewat doa. Kesehatan tubuh kita juga terpelihara oleh berkat dan anugrah Allah. Hal ini mengingatkan kita agar tidak mencari jalan pintas untuk mencari kesembuhan dari kuasa kegelapan, pergi kedukun atau orang pintar. Biarlah kita pertaruhkan dalam pemeliharaan dan penyembuhan dari kuasa Allah. Kesehatan jasmani kita tidak terlepas dari kuasa dan pemeliharaan Allah. Kesehatan jasmani dan rohani kita memang membutuhkan dukungan dari asupan gizi dan cara hidup sehat lainnya, namun tidak terlepas dari berkat dan pemeliharaan Tuhan.

Sesuai dengan thema kita hari ini,” Menjaga dan Mengasihi Tubuh “sangatlah penting untuk melakukan seluruh aktipitas kita hari lepas hari. Agar apa yang kita lakukan dan yang kita kerjakan dapat menjadi kesejahteraan bagi kehidupan kita,keluarga dan orang lain, serta memuliakan  nama Allah. Firman Tuhan dalam I Korintus 6 : 19 – 20, “ Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah. Dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri ? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu ! Amin

Pdt.Terima Tarigan
Majelis GBKP Cileungsi 

Lebih lanjut: Khotbah Daniel 1:11-21, Minggu 08 November 2015

 

Khotbah Roma 12:9-13, Minggu 01 November 2015

Renungan

Invocatio:
Dan Raja itu akan menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."  (Matius 25:40).

Bacaan :
Ulangan 10:16-22

Tema :
"Kasih Yang Tiada Berkesudahan"
 

Pendahuluan
Khotbah ini kami awali dengan memperhatikan pesan Rasul Paulus di dalam Roma 12:2 " Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Pesan ini disampaikan Rasul Paulus merupakan sebuah peringatan "darurat" bagi orang percaya, sebab jika orang percaya tidak melakukan pembaharuan budi maka hidup kekristenannya tidak akan menjadi  terang dan garam bagi dunia dan nama kristen itu hanya simbol saja. Tanpa pembaharuan budi maka manusia tidak dapat mengetahui kehendak Allah, tidak mengetahui apa yang baik dan yang berkenan bagi Allah dan yang sempurna. Jika tidak memperbaharui budi orang percaya tidak memiliki kemampuan untuk  mengasihi dengan tulus sehingga kasihnya terbatas hanya kepada orang orang yang berkenan baginya dan yang memberi keuntungan baginya. Jika demikian apa bedanya sikap kasih orang percaya dengan sikap kasih anak anak dunia ini? Kekristenan yang sama motivasi dan sikap kasihnya dengan motivasi dan sikap kasih anak-anak dunia ini akan menjadi batu sandungan bagi kemuliaan Tuhan.

Pembahasan
Kemampuan orang percaya mengasihi di tentukan pembaharuan budinya. Prestasi "iman" orang percaya terukur pada sikap kasihnya. Apakah pendapat anda tentang pernyataan ini "Banyak orang yang melakukan perbuatan kasih  tetapi sedikit yang melakukannya  dengan tulus hati".  Tidak cukup bagi orang percaya hanya melakukan perbuatan kasih, Rasul Paulus berpesan bahwa orang percaya juga harus menjauhkan diri dari hal yang jahat. Di dalam bahasa karo diterjemahkan "Cigalah atendu si jahat". Ciga lebih kurang pengertiannya di dalam bahasa indonesia  "jijik atau bau". Bagi orang kristen kejahatan adalah hal yang menjijikkan, yang bau seperti bau bangkai, yang selalu di jauhi orang, mencium baunya orang akan tutup hidung, melihatnya membuat perut mual. Apa yang jahat harus disebut jahat dan membencinya. Kristen yang mengasihi tidak menyimpan pikiran dan rancangan yang jahat.  Orang yang dipenuhi kasih cara pikirnya dan penilaiannya tidak dikuasai kehendak yang jahat.

Kristen yang murni selalu bermisi kasih dan penuh belas kasihan, peduli dan di dalam mengasihi tidak membuat syarat atau batasan- batasan. Ia memiliki rasa persaudaraan  yang dalam seperti "gaya" hidup jemaat mula-mula yang diberitakan di dalam Kisah Para Rasul 2: 42-47; mereka setiap hari berkumpul, apa yang dimiliki seorang jemaat dianggapnya kepunyaan bersama, karena itu ada yang menjual hartanya dan hasil penjualannya di iklaskannya kepada rasul rasul untuk dibagikan kepada jemaat yang berkekurangan.  Orang yang mengasihi rela mengorbankan waktunya, mengorbankan tenaganya, mengorbankan hartanya untuk menolong sesamanya (bdg. 1 Tesalonika 4:9-10, Yohanes 13:34-35). Rasa persaudaraan berarti memperhatikan kesejahteraan; ekonomi dan keadaan rohani saudaranya  seiman (1 Yohanes 4:10-12).

Anak anak dunia tidak memiliki kasih yang dalam seperti sikap kasih orang percaya. Kasih "anak-anak dunia" dangkal ("pura-pura") mereka masih memelihara dendam dan kemarahan ("cinta yang jahat") sehingga  persoalan yang kecil dibesar-besarkan, seperti penyebab orang yang tauran antar kampung atau antar Rt atau antar kampus dll. Yang melakukan tauran ada anak anak remaja, pemuda, orang dewasa bahkan yang lanjut usia, yang berpendidikan dan yang berandalan dan...... dan penyebabnya pada umumnya hanyalah persoalan yang kecil. Kasih yang dangkal menyebabkan  permusuhan antara saudara sedarah. Kasih yang dangkal menyebabkan suami istri bertengkar bahkan sebahagian dari pertengkaran suami istri beraujung pada perceraian. Pasangan suami istri yang bercerai menidakkan janji pernikahannya  yaitu "janji kasih yang tidak terbatas dan tidak berkesudahan kecuali oleh kemaian".  Mungkin dahulu pada saat pemberkatan pernikahan mereka saling mengucapkan janji dengan sepenuh hati dan linangan air mata, katanya “Saya ......... di hadapan Tuhan Allah dan di tengah tengah jemaatNya, menyambut dan menerima engkau .............sebagai istriku/suamiku dan dengan ini saya berjanji menerima engkau dalam senang  maupun susah, dalam sehat maupun sakit, dalam suka maupun duka. Saya berjanji menjaga kekudusan perkawinan kita, sampai Allah memisahkan kita melalui kematian." Kasih yang dangkal menidakkan yang baik, yang benar dan yang sempurna dan mengerjakan kekacauan.

Sikap kasih tercermin di dalam sikap saling mendahului dalam memberi hormat. Orang yang "penuh kasih" menilai setiap orang dengan segala keadaannya baik atau buruk, sehat atau sakit, menyenangkan atau mengecewakan dll berharga baginya dan pantas untuk di hormati.  Kasih orang percaya meneladani kasih Yesus. Mengasihi bukan supaya......., tetapi mengasihi karena sudah lebih dahulu dikasihi Allah (bdg Yohanes 3:16). Kristus mengasihi bukan karena objeknya tetapi karena pribadinya adalah kasih. KasihNya tidak luntur walaupun Ia dibenci, ditolak dan disakiti  orang-orang Yahudi. Oleh karena kasihNya ketika mengingat orang orang yang menyakitiNya dan yang menyalibkanNya Ia tetap mengasihi dengan kasih yang terdalam, karena itu di atas kayu salib Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34). Itulah bukti kasih Yesus yang tidak terbatas dan tidak ditentukan objeknya.

Supaya menjadi kristen yang memiliki kekuatan, kesabaran dan kerelaan yang luar biasa harus terlebih dahulu mengalami pembaharuan  budi. Tantangan pelayanan (menjadi anggota jemaat) sangat besar sehingga dapat menyebabkan kerajinan kendor (menjadi malas), sakit hati, sikap bermusuhan, yang menyebabkan pelayan atau jemaat  meninggalkan pelayanannya (tanggung jawabnya), meninggalkan persekutuan, pindah gereja, dan  ada yang  murtad pindah agama. Seorang pelayan atau jemaat  dapat teguh di dalam cinta kaih persekutuan apabila mereka telah melayani dengan roh yang menyala-nyala; pelayanan yang penuh semangat, pelayanan yang hangat dan memiliki kekuatan bagaikan hangatnya api unggun yang memberi kehangatan di tengah cuaca dingin kepada orang-orang yang mengelilinginya. Kemalasan adalah kesetiaan yang kendor "Orang yang bermalas-malasan.....saudara dari si perusak (Amsal 18:9).

Kesetiaan dan percaya akan bertumbuh di dalam pengharapan, yang menyebabkan suka cita tidak terganggu atau berkurang oleh karena pergumulan dan penderitaan. Yang tetap berpengharapan kepada Allah meskipun di tengah tengah pergumulan atau kekurangan ia tidak akan mengurangi sikap kasih dan persaudaraannya sehingga ia senantiasa dapat memberi bantuan dan membuka diri bagi siapapun yang datang mengharapkan bantuannya. Mereka sanggup berbagi kasih meskipun masih berkekurangan sebab mengasihi bagi orang percaya bukan apabila segala sesuatu sudah cukup atau melimpah ruah.

Refleksi
Orang percaya berbuat baik karena meneladani hidup Yesus. Yesus di utus Allah ke dalam dunia untuk membebaskan manusia dari ikatan dosa dan akibat dosa yaitu penderitaan, kemiskinan dan kemelaratan. Menerima keselamatan berarti meningkatkan sikap hidup yang benar, bertumbuh ke arah kedewasaan kristen dengan mematikan sikap jahat dan kebiasaan buruk.

Orang percaya merupakan pejuang pejuang iman melanjutkan gerakan kasih Kristus. Orang percaya di utus ke dalam dunia bukan hanya berjuang untuk mengalahkan kejahatan dan dosa tetapi juga untuk mengobati penderitaan akibat dosa yaitu menolong sesama lepas dari segala bentuk penderitaan, kemiskinan dan kesengsaraan. Dengan sikap kasih orang percaya dapat memberi warna baru bagi dunia yaitu warna suka cita dan damai sejahtera.

Mengasihi hendaknya menjadi gaya hidup orang percaya; jika mengasihi sudah menjadi gaya hidup orang percaya maka kepuasan dan kebahagiaan hidupnya adalah apabila ia mengasihi sehingga ia selalu ingin berbuat lebih banyak lagi  kasih. Apabila ia tidak mengasihi  membuatnya  kurang percaya diri ("tidak pd"), dan merasa ada yang ganjil di dalam hidupnya karena itu ia akan berbuat kasih lagi dan terus mengasihi.

Sudah saatnya bagi orang percaya (dan gereja)-warga GBKP bukan hanya meningkatkan ibadah (persekutuan); mengikuti kebaktian minggu, kebaktian rumah tangga, PA, retreat dll tetapi juga membangun semangat kasih dengan praktek berbagi kasih.  Perorangan, keluarga, sektor, jemaat, organisasi gereja hendaknya membuat  program kasih sebagai prioritas program. Dan pada minggu ini kita di panggil untuk menyatakan kasih kepada anak-anak yang tidak mendapat perhatian dan pemeliharaan orangtuanya yang bergabung di panti asuhan Gelora Kasih di Sukamakmur, kepada orangtua yang sudah lanjut usia yang bergabung di Panti Jompo (PPOS: Pusat Pelayanan Orang Sejahtera) di sukamakmur dan anak anak yang berkebutuhan khusus sebab kecerdasan berpikirnya yang rendah di YKPC Alpha Omega (Yayasan Penyandang Cacat  Alpha Omega) di Kabanjahe.
Selamat berbagi kasih.
                                             

Pdt. Ekwin W. Ginting-GBKP sitelusada bekasi

Lebih lanjut: Khotbah Roma 12:9-13, Minggu 01 November 2015

 

Khotbah II Tawarikh 34:29-33/ II Kronika 34:29-33, Minggu 25 Oktober 2015

Renungan

Invocatio :
Raja Josia ngeradasken kerina gana-gana si mbau si lit i bas daerah sikerajangen kalak Israel, e maka kidekah geluhna isuruhna kalak Israel nembah man TUHAN , Dibata nini-ninina
 
Bacaan :
 
Markus 7:1-13
 
Tema :
Dibata Tetap Mpelimbarui GerejaNa/Allah Tetap Memperbaharui Gereja-Nya
 
I. Pengantar
 
II Raja-raja 23:24-25 “24Para pemanggil arwah, dan para pemanggil roh peramal, juga terafim, berhala-berhala dan segala dewa kejijikan yang terlihat di tanah Yehuda dan di Yerusalem, dihapuskan oleh Yosia dengan maksud menepati perkataan Taurat yang tertulis dalam kitab yang telah didapati oleh imam Hilkia di rumah TUHAN.25 Sebelum dia tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan segala Taurat Musa; dan sesudah dia tidak ada bangkit lagi yang seperti dia.”
Pembaharuan yang dilakukan Yosia dimulai dari dirinya sendiri. Ia tidak meneladani ayahnya, Raja Amon maupun kakeknya, Raja Manasye yang jahat di mata Tuhan. Namun ia meneladani leluhurnya, Daud, dengan melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Yosia mengalami pembaharuan diri secara rohani dengan menyembah dan taat kepada Tuhan. Ia menjalani hidup yang berkenan kepada Tuhan, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Tidak hanya itu, ia menghancurkan semua berhala dan mezbah penyembahannya. Bahkan semua tulang para imam sesat pun dibakarnya. Dengan demikian, Yosia membawa Yehuda dan Yerusalem bertobat dan kembali menyembah Tuhan, juga dengan kota dan daerah lain di sekitarnya.
 
Jika kita telusuri di dalam 2 Raja 22-23 maka kita melihat bahwa pembaharuan yang dilakukan Yosia hampir menyeluruh berpusat pada reformasi agama secara total. Puncak reformasi itu dicapai pada tahun ke 18 pemerintahannya.
 
Terkait dalam Markus 7:1-13, ada sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa salah satu misi kedatangan Yesus ke dunia adalah dalam rangka “character building bukan religius building”. Artinya, Yesus datang untuk memperbaharui karakter yang sudah lama menjadi kebiasaan yang dibenarkan oleh orang Farisi dan para ahli Taurat, bukan malah membangun agama yang baru. Ini menunjukkan bahwa seseorang bisa memiliki agama Kristen tetapi malah tidak memiliki karakter Kristiani di dalam dirinya sebagai seorang “gereja”.
 
II. Isi
Masa kepemimpinan raja Yosia cukup panjang, yakni 31 tahun. Sungguh merupakan suatu masa kepemimpinan yang fantastis. Dan selama 31 tahun memimpin dan menjadi penguasa, prestasi serta reputasi kepemimpinnya dalam sejarah Isreal disejajarkan dengan raja Daud yang juga dikenal sebagai seorang raja yang taat pada Tuhan, arif dan bijaksana.  Sepanjang perjalanan hidup yang Tuhan anugerahkan dan yang Tuhan percayakan kepada kita, marilah kita membangun dan mengukir prestasi serta reputasi yang dapat dikenang sebagai panutan dan teladan dari generasi ke gerenasi. Sebagaimana pepatah yang mengatakan : “gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan kebajikan”.
 
Pada tahun ke 8 pemerintahannya, ia sendiri secara pribadi meninggalkan agama yang sudah menyimpang yang sifatnya politeisme, yang dianut pemerintahan terdahulu. Hal Yosia adalah seorang muda yang baru berumur 16 tahun sangat berani menentang tuannya ‘raja Asyur’, melalui keputusannya berhenti memuja ilah-ilah Asyur. Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE
 
4 tahun kemudian reformasi itu mendapat dukungan, meluas ke Yerusalem dan daerah-daerah lain. Ditemukannya kitab Taurat saat Yosia berumur 18 tahun (+ 621 sM) memacu semangatnya melancarkan reformasi itu, yang sekarang memasuki tahapan ketiga, yang paling jauh jangkauannya.
 
Penulis Kitab Raja-Raja memusatkan beritanya pada apa yang terjadi sesudah gulungan Taurat ditemukan, berita itu menggambarkan bahwa Reformasi Yosia mendahului penemuan itu. Bahwa Bait Suci sedang dipugar waktu itu dan bahwa uang untuk memugarnya sudah dikumpulkan beberapa tahun sebelumnya (2 Raja 22:3-7), hal tersebut merupakan bukti yang jelas mengenai penemuan itu.
 
Reformasi Yosia lebih hebat dari reformasi Hizkia (bandingkan dengan 2 Raja 23:13) dan lebih luas. Raja Yosia bukan hanya memusnahkan semua bukit pengorbanan (bamot) di Yehuda dan Benyamin. Semangat reformasinya mendorong dia juga menjelajahi Efraim, Benyamin bahkan ke utara ke naftali di Galilea. Dimana saja dimusnahkannya setiap piranti dan sarana ibadah kafir (2 Raja 23:19-20).
 
Secara khusus, dia menggenapi nubuat menggenapi bukit pengorbanan di BETEL, dimana pertama kalinya Yerobean bin Nebat memperkenalkan hal-hal baru dalam hidup keagamaan (2 Raja 23:15-18).
Kebijakan berikutnya, yakni pemberlakuan kembali perayaan Paskah, jauh melebihi perayaan Paskah pada zaman Hizkia, dan tidak ada taranya sejak zaman Samuel (2 Raja 35:18 ) [1].


 

[1] Catatan: Tetapi kendati reformasi itu sangat seksama, hampir seluruhnya lahiriah saja dan tak pernah mendampakkan perubahan yang sungguh-sungguh dalam hati umat Israel. Ini jelas terdapat dalam nubuat Yeremia yang dituliskan pada (Yeremia pasal 1 dan 2), dengan bukti cepatnya umat Israel itu berbalik kepada penyembahan-penyembahan berhala segera setelah Yosia meninggal.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE Pembaharuan yang dilakukannya bukan hanya terjadi pertobatan massal saja, tetapi Yosia juga memberhentikan para imam berhala yang telah diangkat oleh raja-raja Yehuda sebelum Yosia lahir. Inilah yang disebut transformasi bangsa. Yosia melakukan sesuai isi nubuatan terhadap dirinya bahwa ia akan, Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE memecahkan tugu-tugu berhala dan menebang tiang-tiang berhala, lalu ditimbuninya tempat-tempat itu penuh dengan tulang-tulang manusia. Juga mezbah yang ada di Betel, bukit pengorbanan yang dibuat oleh Yerobeam bin Nebat yang mengakibatkan orang Israel berdosa, mezbah dan bukit pengorbanan itu pun dirobohkannya dan batu-batunya dipecahkannya, lalu ditumbuknya halus-halus menjadi abu, dan dibakarnyalah tiang berhala. Dan ketika Yosia berpaling, dilihatnyalah kuburan-kuburan yang ada di gunung di sana, lalu menyuruh orang mengambil tulang-tulang dari kuburan-kuburan itu, membakarnya di atas mezbah dan menajiskannya, sesuai dengan firman TUHAN yang telah diserukan oleh abdi Allah yang telah menyerukan hal-hal ini,”(II Raja-raja 23:14-16). Inilah yang disebut transformasi atau pembaharuan. 

Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menjadi alatNya. Tidak ada batasan usia saat Tuhan memakai kita untuk melayani. Yosia berumur delapan tahun pada waktu ia menjadi raja, ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Perbuatannya yang mungkin menghebohkan penduduk Yerusalem adalah ketika ia meluluhlantahkan mezbah-mezbah dan berhala-berhala. Kalau Yosia bisa dipakai Tuhan sejak usia muda, Bagaimana dengan kita?

 
III. Aplikasi
Dulu saya berpikir bahwa dunia okultisme hanya ada di “kampung/desa” yang masyarakatnya belum memiliki tingkat pendidikan yang memadai. Tetapi, kenyataannya di kota juga begitu banyak bertaburan praktek-praktek okultisme, misalnya dalam dunia usaha-dagang, persaingan pekerjaan, bagi kaum muda untuk mencari pelaris, dan bahkan penjaga diri, serta banyak praktek-praktek kegelapan yang masih ada. Ternyata tingkat pendidikan yang tinggi tidak secara otomatis tingkat iman juga tinggi. Untuk itulah segala hal yang bersifat kegelapan seharusnya ditinggalkan, sehingga kita semakin hari, semakin dibaharui oleh-Nya.

Masalah karakter yang harus dibaharui, dikatakan dalam Roma 7:15 “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Hal ini terjadi karena masih ada dosa-dosa asal dan karakter-karakter masa lalu yang belum “selesai”. Kita harus menyadari bahwa kita dengan kekuatan kita tidak mampu untuk memperbaharui diri kita seperti Paulus ungkapkan tersebut.

Penghormatan akan apa itu ibadah sepertinya juga harus dibaharui, hormat akan ibadah adalah hal yang mutlak. Bayangkan, jika kita dihadapan Presiden! Kita pasti bisa sangat hormat. Seharusnya, demikian juga bahkan harus lebih hormat kepada Tuhan yang adalah Raja di atas segala raja.

Gereja hadir dalam dunia untuk membawa pesan pembaruan dari Tuhan yang datang melakukan transformsi dalam seluruh tatanan kehidupan manusia. Manusia modern sangat dipengaruhi oleh paham kemajuan yang terlalu menitikberatkan pada bidang ekonomi (materialistik), sehingga terbentuklah pribadi-pribadi konsumtif yang mencari nilai hidup dalam materi. Nilai yang diutamakan bukanlah cinta kasih melainkan status. Konsep hidup bukanlah mandiri tetapi memiliki. Sukses diukur dari kekayaan, kekuasaan dan kenikmatan dan tidak lagi pada prestasi dan pelayanan.

Sudah sangat lama gereja-gereja merumuskan sikapnya terhadap dunia, termasuk terhadap pembangunan Indonesia, yaitu positip, kritis, kreatif dan realistis. Tetapi rumusan itu memang sebatas rumus pengetahuan dan belum menjadi rumus pengertian. Artinya, dalam kenyataannya gereja-gereja di Indonesia lebih banyak tunduk kepada kemauan dunia dari pada kepada Yesus Kristus sebagai sumber pengetahuan dan moralnya. Gereja mestinya menjunjung tinggi kasih sebagai hukum pertama dan utama yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Kalau itu dilakukannya, maka ia akan mampu berperan sebagai agen pembaruan. Gereja membutuhkan “Yosia-Yosia” yang berani dan tidak mengenal kompromi.

Gereja atau pemimpin gereja yang terutama berpusat pada hakikatnya sebagai “followers of Christ”. Itu berarti berarti gereja/pemimpin gereja menjadi terlibat dengan Dia , mengikuti arahannya-Nya. Mengikut Kristus adalah suatu formasi bukan sekadar perubahan bungkus luar tetapi perubahan hati dan perubahan manusia seutuhnya.

Gereja tidak sekedar menjadi persekutuan orang beragama Kristen melainkan menjadi persekutuan orang beriman/ bertuhankan Yesus Kristus. Gereja tidak sekadar menjadi persekutuan penggemar Yesus Kristus, tetapi peneladan Yesus Kristus/ bukan hanya fans tetapi menjadi followers.

 

Kita harusnya berubah menjadi gereja yang semakin inklusif. Dari gereja yang melayani dirinya sendiri menjadi gereja yang melayani dunia, yang terbuka kepada dunia sekitarnya tidak untuk mengikutinya tetapi untuk melayaninya. ” Tuaian banyak tapi pengerjanya malas dan takut”

 

Khusus untuk para pemimpin gereja, pembaruan budi berarti perubahan dari orang-orang yang mengutamakan jabatan dalam gereja menjadi orang-orang yang mengutamakan pelayanan, pengabdian dan pengurbanan diri.

 

Pemimpin gereja tidak seharusnya ikut-ikutan pemimpin dunia yang mengedepankan kekuasaan dan materi. Kristus tidak hanya mengajarkan tetapi juga meneladankan dan melakukan suatu model kepemimpinan yang melayani dan mengurbankan hidupnya untuk orang lain.

 

Kalau pemimpin gereja mau dan mampu melaksanakan tugasnya sebagai agen pembaruan maka ia tidak hanya harus menjadi tempat edukasi dan wacana moral tetapi juga harus menjadi tempat perbuatan , pemberlakuan moral dan sebagai saksi moral yang nantinya akan menghasilkan pelayan moral. Semua ini harus dimulai dari kehidupan pribadi yang bergereja.

 

Bentuk perayaan keagamaan disebagian gereja masa kini, justru telah mengalami pergeseran. Seringkali perayaan-perayaan tertentu seperti Paskah dan Natal diisi dengan berbagai kegiatan yang lebih bersifat fun dan menghibur. Bentuk acara tidak harus punya hubungan langsung dengan apa yang dirayakan itu sendiri, yang penting ada waktu disisakan untuk ibadah dan perayaan Paskah, misalnya. Ini menyedihkan karena dalam perayaan Paskah (atau yang lainnya) makna Paskah itu sendiri tidak lagi menjadi pusat perayaan dan pusat perhatian jemaat. Hal ini bukan cuma sekedar menjadi sebuah keprihatinan dan perenungan gereja masa kini, tetapi kita perlu menata ulang, membaharui pemaknaan Paskah yang berkenan dan sesuai dengan FirmanNya.

 

Kita ditantang untuk berani mereformasi diri dan lingkungan sekitar. Keterpurukan, kemelaratan dan isak tangis, menjadi bahan perenungan tentang apa yang sedang terjadi. Termasuk didalamnya keprihatinan kita terhadap masalah Global Warning atau Pemanasan Global, yang mengancam kelestarian lingkungan hidup. Pesatnya pertambahan jumlah penduduk, maraknya kegiatan perekonomian dan kegiatan industrialisasi, yang tidak dibarengi dengan kepedulian akan kelestarian lingkungan hidup memicu berkembangnya masalah lingkungan. Dampaknya mulai terlihat seperti berupa anomali perubahan iklim yang mengakibatkan terjadinya berbagai bencana.

 

Tindakan membaharui, mereformasi, bukan nanti, manakala Tuhan mengukum lewat alam ciptaanNya. Mari berupayalah, dengan terus bergandengan tangan diantara kita, keluarga, Gereja, Pemerintah, menata hidup yang sesuai dengan kehendaknya.

 

Sulit hidup benar di tengah-tengah kejahatan dan kenajisan. Kecenderungan kita adalah kompromi dengan hal-hal berdosa dan kemudian membenarkan diri sendiri dengan mengatakan, “Kalau tidak kompromi tidak mungkin sukses.” Pembaharuan itu tidak bisa diharapkan terjadi kalau tidak dimulai dari diri sendiri.

 

Walaupun jauh disana di Tanah Karo, tetapi pada saat sekarang ada moment PEMILUKADA. Hal ini juga perlu kita perhatikan dan memberi dukungan moral bagi masyarakat yang tinggal di Tanah Karo, supaya memilih pemimpin daerah yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam arti, walaupun hak pilih kita tidak ada bagi yang di perantauan, tetapi paling tidak kita bisa memperbaharui dari skala kecil yaitu keluarga kita yang ada disana untuk tidak mau menerima suap dan menjual suaranya. Serta kiranya bijaksana dan semakin arif untuk memilih pemimpin daerah.

 

“GEREJA MEMBUKA LOWONGAN BAGI YOSIA-YOSIA MASA KINI YANG BERANI DAN TAAT PADA TUHAN UNTUK MENJADI AGEN PEMBAHARUAN”

 

 

 

Pdt. Dasma Sejahtera Turnip, S.Th
GBKP Rg. Pontianak, Kalimantan Barat
 

Khotbah Amsal 31 : 28 – 30, Minggu 11 Oktober 2015

Renungan

Invocatio :
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku
(Maz 139 :13)
 
Bacaan :
 
2 Korintus 12 : 11 – 12 (Tunggal)
 
Thema :
 
Moria yang Berhikmat ( Moria Si pentar)
 
 
I. Pendahuluan
 
Syalom, mejuah-juah , Selamat Ulang tahun kepada Moria GBKP. Pada tanggal 16 Oktober 1957 telah disahkan menjadi satu organisasi dalam tubuh GBKP. Saat ini umur Moria telah mencapai 58 tahun, artinya Moria GBKP telah cukup dewasa. Kedewasaannya menjadikan Moria semakin bermakna di tengah-tengah Gereja dan masyarakat, hal ini dapat kita lihat melalui program-program tersebut, baik ditingkat pusat, klasis dan bahkan di runggun-runggun. Juga bagaimana Moria GBKP telah mampu memperlihatkan jati dirinya sebagai garam dan terang dunia baik terhadap gereja dan bahkan telah menyentuh kepada pemerintahan . 
 
Walau demikian , Moria banyak menghadapi tantangan baik dari luar organisasi Moria itu sendiri maupun dari dalam tubuh organisasi Moria. Untuk menjadikan Moria GBKP dirindukan kehadirannya ditengah-tengah keluarga, gereja dan masyarakat, Moria harus menjadi Moria yang berhikmat dan bijaksana dalam segala hal.
 
II. Isi
 
Saudara –saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, adalah suatu kebahagiaan bagi sang suami memiliki seorang istri yang cakap . Dikatakan bahwa istri yang cakap melebihi dari pada permata (31:10).
 
Mengapa dikatakan demikian ? memiliki istri yang cakap senantiasa memikirkan masa depan keluarga , senantiasa memikirkan kebahagiaan suami dan anak-anaknya. Istri yang cakap tidak pernah memiliki pikiran yang jahat terhadap keluarga (31:12), selalu memikirkan kebutuhan rumah tangga dan mandiri, senang mengasihi (31: 13, 20).
 
 
Saudara-saudara , Moria yang memiliki sikap seperti inilah , sehingga ada pengakuan dari anak-anak dan suaminya. Anak –anaknya mengatakan berbahagia, suami memuji istrinya (31:28). Bahkan si suami mengatakan , tidak ada wanita dimuka bumi melebihi dari pada istrinya (31:29). Kemolekan dan kecantikan bukan menjadi ukuran bagi si suami, namun yang menjadi ukuran adalah istri yang capak , berhikmat ( istri yang takut akan Tuhan ) (31:30)
 
III. Refleksi
 
Saudara-saudari dalam Yesus Kristus, minggu ini kita sungguh bersuka cita, dimana Moria telah genap umurnya 58 tahun. Umur ini menandakan Moria telah mapan dalam iman kepada Yesus Kristus maupun dalam organisasi , mapan dalam berfikir , bertindak , bahkan telah mapan dalam membina rumah tangga.
 
 
Kalau kita melihat perjalanan GBKP , peran Moria sangat menentukan dalam menjalankan program-program gereja secara organisasi. Tanpa kehadiran Moria ditengah-tengah Gereja, sama seperti sayur tanpa garam. Demikian juga halnya dalam perjalanan rumah tangga, kehadiran Moria menyempurnakan kehidupan keluarga.
 
 
Apa yang diungkapkan oleh sang anak dan sang suami terhadap istrinya dan ibunya tak lain karena si istri benar-benar menjadi pondasi atau penopang dalam kehidupan rumah tangga.
 
Dikatakan bahwa , istri senantiasa berbuat baik kepada suaminya, mandiri, mampu melihat jauh ke depan untuk keselamatan kebutuhan keluarga, senang memberikan pertolongan terhadap orang yang lemah. Perbuatan baik dari seorang istri membuat si suami melontarkan suatu pengakuaan bahwa kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, bahkan sisuami mengatakan bahwa walau banyak wanita telah berbuat baik, namun kebaikan istrinya tidak ada yang mampu melebihinya .
 
Dengan demikian jadilah moria GBKP yang berhikmat dan bijaksana untuk memuliakan Tuhan.
 
 
Pdt. Abel Sembiring
 
Rg. Tambun
 

Page 3 of 55

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 164 guests online