Khotbah Roma 12:9-13, Minggu 01 November 2015

Renungan

Invocatio:
Dan Raja itu akan menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."  (Matius 25:40).

Bacaan :
Ulangan 10:16-22

Tema :
"Kasih Yang Tiada Berkesudahan"
 

Pendahuluan
Khotbah ini kami awali dengan memperhatikan pesan Rasul Paulus di dalam Roma 12:2 " Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Pesan ini disampaikan Rasul Paulus merupakan sebuah peringatan "darurat" bagi orang percaya, sebab jika orang percaya tidak melakukan pembaharuan budi maka hidup kekristenannya tidak akan menjadi  terang dan garam bagi dunia dan nama kristen itu hanya simbol saja. Tanpa pembaharuan budi maka manusia tidak dapat mengetahui kehendak Allah, tidak mengetahui apa yang baik dan yang berkenan bagi Allah dan yang sempurna. Jika tidak memperbaharui budi orang percaya tidak memiliki kemampuan untuk  mengasihi dengan tulus sehingga kasihnya terbatas hanya kepada orang orang yang berkenan baginya dan yang memberi keuntungan baginya. Jika demikian apa bedanya sikap kasih orang percaya dengan sikap kasih anak anak dunia ini? Kekristenan yang sama motivasi dan sikap kasihnya dengan motivasi dan sikap kasih anak-anak dunia ini akan menjadi batu sandungan bagi kemuliaan Tuhan.

Pembahasan
Kemampuan orang percaya mengasihi di tentukan pembaharuan budinya. Prestasi "iman" orang percaya terukur pada sikap kasihnya. Apakah pendapat anda tentang pernyataan ini "Banyak orang yang melakukan perbuatan kasih  tetapi sedikit yang melakukannya  dengan tulus hati".  Tidak cukup bagi orang percaya hanya melakukan perbuatan kasih, Rasul Paulus berpesan bahwa orang percaya juga harus menjauhkan diri dari hal yang jahat. Di dalam bahasa karo diterjemahkan "Cigalah atendu si jahat". Ciga lebih kurang pengertiannya di dalam bahasa indonesia  "jijik atau bau". Bagi orang kristen kejahatan adalah hal yang menjijikkan, yang bau seperti bau bangkai, yang selalu di jauhi orang, mencium baunya orang akan tutup hidung, melihatnya membuat perut mual. Apa yang jahat harus disebut jahat dan membencinya. Kristen yang mengasihi tidak menyimpan pikiran dan rancangan yang jahat.  Orang yang dipenuhi kasih cara pikirnya dan penilaiannya tidak dikuasai kehendak yang jahat.

Kristen yang murni selalu bermisi kasih dan penuh belas kasihan, peduli dan di dalam mengasihi tidak membuat syarat atau batasan- batasan. Ia memiliki rasa persaudaraan  yang dalam seperti "gaya" hidup jemaat mula-mula yang diberitakan di dalam Kisah Para Rasul 2: 42-47; mereka setiap hari berkumpul, apa yang dimiliki seorang jemaat dianggapnya kepunyaan bersama, karena itu ada yang menjual hartanya dan hasil penjualannya di iklaskannya kepada rasul rasul untuk dibagikan kepada jemaat yang berkekurangan.  Orang yang mengasihi rela mengorbankan waktunya, mengorbankan tenaganya, mengorbankan hartanya untuk menolong sesamanya (bdg. 1 Tesalonika 4:9-10, Yohanes 13:34-35). Rasa persaudaraan berarti memperhatikan kesejahteraan; ekonomi dan keadaan rohani saudaranya  seiman (1 Yohanes 4:10-12).

Anak anak dunia tidak memiliki kasih yang dalam seperti sikap kasih orang percaya. Kasih "anak-anak dunia" dangkal ("pura-pura") mereka masih memelihara dendam dan kemarahan ("cinta yang jahat") sehingga  persoalan yang kecil dibesar-besarkan, seperti penyebab orang yang tauran antar kampung atau antar Rt atau antar kampus dll. Yang melakukan tauran ada anak anak remaja, pemuda, orang dewasa bahkan yang lanjut usia, yang berpendidikan dan yang berandalan dan...... dan penyebabnya pada umumnya hanyalah persoalan yang kecil. Kasih yang dangkal menyebabkan  permusuhan antara saudara sedarah. Kasih yang dangkal menyebabkan suami istri bertengkar bahkan sebahagian dari pertengkaran suami istri beraujung pada perceraian. Pasangan suami istri yang bercerai menidakkan janji pernikahannya  yaitu "janji kasih yang tidak terbatas dan tidak berkesudahan kecuali oleh kemaian".  Mungkin dahulu pada saat pemberkatan pernikahan mereka saling mengucapkan janji dengan sepenuh hati dan linangan air mata, katanya “Saya ......... di hadapan Tuhan Allah dan di tengah tengah jemaatNya, menyambut dan menerima engkau .............sebagai istriku/suamiku dan dengan ini saya berjanji menerima engkau dalam senang  maupun susah, dalam sehat maupun sakit, dalam suka maupun duka. Saya berjanji menjaga kekudusan perkawinan kita, sampai Allah memisahkan kita melalui kematian." Kasih yang dangkal menidakkan yang baik, yang benar dan yang sempurna dan mengerjakan kekacauan.

Sikap kasih tercermin di dalam sikap saling mendahului dalam memberi hormat. Orang yang "penuh kasih" menilai setiap orang dengan segala keadaannya baik atau buruk, sehat atau sakit, menyenangkan atau mengecewakan dll berharga baginya dan pantas untuk di hormati.  Kasih orang percaya meneladani kasih Yesus. Mengasihi bukan supaya......., tetapi mengasihi karena sudah lebih dahulu dikasihi Allah (bdg Yohanes 3:16). Kristus mengasihi bukan karena objeknya tetapi karena pribadinya adalah kasih. KasihNya tidak luntur walaupun Ia dibenci, ditolak dan disakiti  orang-orang Yahudi. Oleh karena kasihNya ketika mengingat orang orang yang menyakitiNya dan yang menyalibkanNya Ia tetap mengasihi dengan kasih yang terdalam, karena itu di atas kayu salib Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34). Itulah bukti kasih Yesus yang tidak terbatas dan tidak ditentukan objeknya.

Supaya menjadi kristen yang memiliki kekuatan, kesabaran dan kerelaan yang luar biasa harus terlebih dahulu mengalami pembaharuan  budi. Tantangan pelayanan (menjadi anggota jemaat) sangat besar sehingga dapat menyebabkan kerajinan kendor (menjadi malas), sakit hati, sikap bermusuhan, yang menyebabkan pelayan atau jemaat  meninggalkan pelayanannya (tanggung jawabnya), meninggalkan persekutuan, pindah gereja, dan  ada yang  murtad pindah agama. Seorang pelayan atau jemaat  dapat teguh di dalam cinta kaih persekutuan apabila mereka telah melayani dengan roh yang menyala-nyala; pelayanan yang penuh semangat, pelayanan yang hangat dan memiliki kekuatan bagaikan hangatnya api unggun yang memberi kehangatan di tengah cuaca dingin kepada orang-orang yang mengelilinginya. Kemalasan adalah kesetiaan yang kendor "Orang yang bermalas-malasan.....saudara dari si perusak (Amsal 18:9).

Kesetiaan dan percaya akan bertumbuh di dalam pengharapan, yang menyebabkan suka cita tidak terganggu atau berkurang oleh karena pergumulan dan penderitaan. Yang tetap berpengharapan kepada Allah meskipun di tengah tengah pergumulan atau kekurangan ia tidak akan mengurangi sikap kasih dan persaudaraannya sehingga ia senantiasa dapat memberi bantuan dan membuka diri bagi siapapun yang datang mengharapkan bantuannya. Mereka sanggup berbagi kasih meskipun masih berkekurangan sebab mengasihi bagi orang percaya bukan apabila segala sesuatu sudah cukup atau melimpah ruah.

Refleksi
Orang percaya berbuat baik karena meneladani hidup Yesus. Yesus di utus Allah ke dalam dunia untuk membebaskan manusia dari ikatan dosa dan akibat dosa yaitu penderitaan, kemiskinan dan kemelaratan. Menerima keselamatan berarti meningkatkan sikap hidup yang benar, bertumbuh ke arah kedewasaan kristen dengan mematikan sikap jahat dan kebiasaan buruk.

Orang percaya merupakan pejuang pejuang iman melanjutkan gerakan kasih Kristus. Orang percaya di utus ke dalam dunia bukan hanya berjuang untuk mengalahkan kejahatan dan dosa tetapi juga untuk mengobati penderitaan akibat dosa yaitu menolong sesama lepas dari segala bentuk penderitaan, kemiskinan dan kesengsaraan. Dengan sikap kasih orang percaya dapat memberi warna baru bagi dunia yaitu warna suka cita dan damai sejahtera.

Mengasihi hendaknya menjadi gaya hidup orang percaya; jika mengasihi sudah menjadi gaya hidup orang percaya maka kepuasan dan kebahagiaan hidupnya adalah apabila ia mengasihi sehingga ia selalu ingin berbuat lebih banyak lagi  kasih. Apabila ia tidak mengasihi  membuatnya  kurang percaya diri ("tidak pd"), dan merasa ada yang ganjil di dalam hidupnya karena itu ia akan berbuat kasih lagi dan terus mengasihi.

Sudah saatnya bagi orang percaya (dan gereja)-warga GBKP bukan hanya meningkatkan ibadah (persekutuan); mengikuti kebaktian minggu, kebaktian rumah tangga, PA, retreat dll tetapi juga membangun semangat kasih dengan praktek berbagi kasih.  Perorangan, keluarga, sektor, jemaat, organisasi gereja hendaknya membuat  program kasih sebagai prioritas program. Dan pada minggu ini kita di panggil untuk menyatakan kasih kepada anak-anak yang tidak mendapat perhatian dan pemeliharaan orangtuanya yang bergabung di panti asuhan Gelora Kasih di Sukamakmur, kepada orangtua yang sudah lanjut usia yang bergabung di Panti Jompo (PPOS: Pusat Pelayanan Orang Sejahtera) di sukamakmur dan anak anak yang berkebutuhan khusus sebab kecerdasan berpikirnya yang rendah di YKPC Alpha Omega (Yayasan Penyandang Cacat  Alpha Omega) di Kabanjahe.
Selamat berbagi kasih.
                                             

Pdt. Ekwin W. Ginting-GBKP sitelusada bekasi

Lebih lanjut: Khotbah Roma 12:9-13, Minggu 01 November 2015

 

Khotbah II Tawarikh 34:29-33/ II Kronika 34:29-33, Minggu 25 Oktober 2015

Renungan

Invocatio :
Raja Josia ngeradasken kerina gana-gana si mbau si lit i bas daerah sikerajangen kalak Israel, e maka kidekah geluhna isuruhna kalak Israel nembah man TUHAN , Dibata nini-ninina
 
Bacaan :
 
Markus 7:1-13
 
Tema :
Dibata Tetap Mpelimbarui GerejaNa/Allah Tetap Memperbaharui Gereja-Nya
 
I. Pengantar
 
II Raja-raja 23:24-25 “24Para pemanggil arwah, dan para pemanggil roh peramal, juga terafim, berhala-berhala dan segala dewa kejijikan yang terlihat di tanah Yehuda dan di Yerusalem, dihapuskan oleh Yosia dengan maksud menepati perkataan Taurat yang tertulis dalam kitab yang telah didapati oleh imam Hilkia di rumah TUHAN.25 Sebelum dia tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan segala Taurat Musa; dan sesudah dia tidak ada bangkit lagi yang seperti dia.”
Pembaharuan yang dilakukan Yosia dimulai dari dirinya sendiri. Ia tidak meneladani ayahnya, Raja Amon maupun kakeknya, Raja Manasye yang jahat di mata Tuhan. Namun ia meneladani leluhurnya, Daud, dengan melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Yosia mengalami pembaharuan diri secara rohani dengan menyembah dan taat kepada Tuhan. Ia menjalani hidup yang berkenan kepada Tuhan, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Tidak hanya itu, ia menghancurkan semua berhala dan mezbah penyembahannya. Bahkan semua tulang para imam sesat pun dibakarnya. Dengan demikian, Yosia membawa Yehuda dan Yerusalem bertobat dan kembali menyembah Tuhan, juga dengan kota dan daerah lain di sekitarnya.
 
Jika kita telusuri di dalam 2 Raja 22-23 maka kita melihat bahwa pembaharuan yang dilakukan Yosia hampir menyeluruh berpusat pada reformasi agama secara total. Puncak reformasi itu dicapai pada tahun ke 18 pemerintahannya.
 
Terkait dalam Markus 7:1-13, ada sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa salah satu misi kedatangan Yesus ke dunia adalah dalam rangka “character building bukan religius building”. Artinya, Yesus datang untuk memperbaharui karakter yang sudah lama menjadi kebiasaan yang dibenarkan oleh orang Farisi dan para ahli Taurat, bukan malah membangun agama yang baru. Ini menunjukkan bahwa seseorang bisa memiliki agama Kristen tetapi malah tidak memiliki karakter Kristiani di dalam dirinya sebagai seorang “gereja”.
 
II. Isi
Masa kepemimpinan raja Yosia cukup panjang, yakni 31 tahun. Sungguh merupakan suatu masa kepemimpinan yang fantastis. Dan selama 31 tahun memimpin dan menjadi penguasa, prestasi serta reputasi kepemimpinnya dalam sejarah Isreal disejajarkan dengan raja Daud yang juga dikenal sebagai seorang raja yang taat pada Tuhan, arif dan bijaksana.  Sepanjang perjalanan hidup yang Tuhan anugerahkan dan yang Tuhan percayakan kepada kita, marilah kita membangun dan mengukir prestasi serta reputasi yang dapat dikenang sebagai panutan dan teladan dari generasi ke gerenasi. Sebagaimana pepatah yang mengatakan : “gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan kebajikan”.
 
Pada tahun ke 8 pemerintahannya, ia sendiri secara pribadi meninggalkan agama yang sudah menyimpang yang sifatnya politeisme, yang dianut pemerintahan terdahulu. Hal Yosia adalah seorang muda yang baru berumur 16 tahun sangat berani menentang tuannya ‘raja Asyur’, melalui keputusannya berhenti memuja ilah-ilah Asyur. Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE
 
4 tahun kemudian reformasi itu mendapat dukungan, meluas ke Yerusalem dan daerah-daerah lain. Ditemukannya kitab Taurat saat Yosia berumur 18 tahun (+ 621 sM) memacu semangatnya melancarkan reformasi itu, yang sekarang memasuki tahapan ketiga, yang paling jauh jangkauannya.
 
Penulis Kitab Raja-Raja memusatkan beritanya pada apa yang terjadi sesudah gulungan Taurat ditemukan, berita itu menggambarkan bahwa Reformasi Yosia mendahului penemuan itu. Bahwa Bait Suci sedang dipugar waktu itu dan bahwa uang untuk memugarnya sudah dikumpulkan beberapa tahun sebelumnya (2 Raja 22:3-7), hal tersebut merupakan bukti yang jelas mengenai penemuan itu.
 
Reformasi Yosia lebih hebat dari reformasi Hizkia (bandingkan dengan 2 Raja 23:13) dan lebih luas. Raja Yosia bukan hanya memusnahkan semua bukit pengorbanan (bamot) di Yehuda dan Benyamin. Semangat reformasinya mendorong dia juga menjelajahi Efraim, Benyamin bahkan ke utara ke naftali di Galilea. Dimana saja dimusnahkannya setiap piranti dan sarana ibadah kafir (2 Raja 23:19-20).
 
Secara khusus, dia menggenapi nubuat menggenapi bukit pengorbanan di BETEL, dimana pertama kalinya Yerobean bin Nebat memperkenalkan hal-hal baru dalam hidup keagamaan (2 Raja 23:15-18).
Kebijakan berikutnya, yakni pemberlakuan kembali perayaan Paskah, jauh melebihi perayaan Paskah pada zaman Hizkia, dan tidak ada taranya sejak zaman Samuel (2 Raja 35:18 ) [1].


 

[1] Catatan: Tetapi kendati reformasi itu sangat seksama, hampir seluruhnya lahiriah saja dan tak pernah mendampakkan perubahan yang sungguh-sungguh dalam hati umat Israel. Ini jelas terdapat dalam nubuat Yeremia yang dituliskan pada (Yeremia pasal 1 dan 2), dengan bukti cepatnya umat Israel itu berbalik kepada penyembahan-penyembahan berhala segera setelah Yosia meninggal.

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE Pembaharuan yang dilakukannya bukan hanya terjadi pertobatan massal saja, tetapi Yosia juga memberhentikan para imam berhala yang telah diangkat oleh raja-raja Yehuda sebelum Yosia lahir. Inilah yang disebut transformasi bangsa. Yosia melakukan sesuai isi nubuatan terhadap dirinya bahwa ia akan, Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE memecahkan tugu-tugu berhala dan menebang tiang-tiang berhala, lalu ditimbuninya tempat-tempat itu penuh dengan tulang-tulang manusia. Juga mezbah yang ada di Betel, bukit pengorbanan yang dibuat oleh Yerobeam bin Nebat yang mengakibatkan orang Israel berdosa, mezbah dan bukit pengorbanan itu pun dirobohkannya dan batu-batunya dipecahkannya, lalu ditumbuknya halus-halus menjadi abu, dan dibakarnyalah tiang berhala. Dan ketika Yosia berpaling, dilihatnyalah kuburan-kuburan yang ada di gunung di sana, lalu menyuruh orang mengambil tulang-tulang dari kuburan-kuburan itu, membakarnya di atas mezbah dan menajiskannya, sesuai dengan firman TUHAN yang telah diserukan oleh abdi Allah yang telah menyerukan hal-hal ini,”(II Raja-raja 23:14-16). Inilah yang disebut transformasi atau pembaharuan. 

Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menjadi alatNya. Tidak ada batasan usia saat Tuhan memakai kita untuk melayani. Yosia berumur delapan tahun pada waktu ia menjadi raja, ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Perbuatannya yang mungkin menghebohkan penduduk Yerusalem adalah ketika ia meluluhlantahkan mezbah-mezbah dan berhala-berhala. Kalau Yosia bisa dipakai Tuhan sejak usia muda, Bagaimana dengan kita?

 
III. Aplikasi
Dulu saya berpikir bahwa dunia okultisme hanya ada di “kampung/desa” yang masyarakatnya belum memiliki tingkat pendidikan yang memadai. Tetapi, kenyataannya di kota juga begitu banyak bertaburan praktek-praktek okultisme, misalnya dalam dunia usaha-dagang, persaingan pekerjaan, bagi kaum muda untuk mencari pelaris, dan bahkan penjaga diri, serta banyak praktek-praktek kegelapan yang masih ada. Ternyata tingkat pendidikan yang tinggi tidak secara otomatis tingkat iman juga tinggi. Untuk itulah segala hal yang bersifat kegelapan seharusnya ditinggalkan, sehingga kita semakin hari, semakin dibaharui oleh-Nya.

Masalah karakter yang harus dibaharui, dikatakan dalam Roma 7:15 “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Hal ini terjadi karena masih ada dosa-dosa asal dan karakter-karakter masa lalu yang belum “selesai”. Kita harus menyadari bahwa kita dengan kekuatan kita tidak mampu untuk memperbaharui diri kita seperti Paulus ungkapkan tersebut.

Penghormatan akan apa itu ibadah sepertinya juga harus dibaharui, hormat akan ibadah adalah hal yang mutlak. Bayangkan, jika kita dihadapan Presiden! Kita pasti bisa sangat hormat. Seharusnya, demikian juga bahkan harus lebih hormat kepada Tuhan yang adalah Raja di atas segala raja.

Gereja hadir dalam dunia untuk membawa pesan pembaruan dari Tuhan yang datang melakukan transformsi dalam seluruh tatanan kehidupan manusia. Manusia modern sangat dipengaruhi oleh paham kemajuan yang terlalu menitikberatkan pada bidang ekonomi (materialistik), sehingga terbentuklah pribadi-pribadi konsumtif yang mencari nilai hidup dalam materi. Nilai yang diutamakan bukanlah cinta kasih melainkan status. Konsep hidup bukanlah mandiri tetapi memiliki. Sukses diukur dari kekayaan, kekuasaan dan kenikmatan dan tidak lagi pada prestasi dan pelayanan.

Sudah sangat lama gereja-gereja merumuskan sikapnya terhadap dunia, termasuk terhadap pembangunan Indonesia, yaitu positip, kritis, kreatif dan realistis. Tetapi rumusan itu memang sebatas rumus pengetahuan dan belum menjadi rumus pengertian. Artinya, dalam kenyataannya gereja-gereja di Indonesia lebih banyak tunduk kepada kemauan dunia dari pada kepada Yesus Kristus sebagai sumber pengetahuan dan moralnya. Gereja mestinya menjunjung tinggi kasih sebagai hukum pertama dan utama yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Kalau itu dilakukannya, maka ia akan mampu berperan sebagai agen pembaruan. Gereja membutuhkan “Yosia-Yosia” yang berani dan tidak mengenal kompromi.

Gereja atau pemimpin gereja yang terutama berpusat pada hakikatnya sebagai “followers of Christ”. Itu berarti berarti gereja/pemimpin gereja menjadi terlibat dengan Dia , mengikuti arahannya-Nya. Mengikut Kristus adalah suatu formasi bukan sekadar perubahan bungkus luar tetapi perubahan hati dan perubahan manusia seutuhnya.

Gereja tidak sekedar menjadi persekutuan orang beragama Kristen melainkan menjadi persekutuan orang beriman/ bertuhankan Yesus Kristus. Gereja tidak sekadar menjadi persekutuan penggemar Yesus Kristus, tetapi peneladan Yesus Kristus/ bukan hanya fans tetapi menjadi followers.

 

Kita harusnya berubah menjadi gereja yang semakin inklusif. Dari gereja yang melayani dirinya sendiri menjadi gereja yang melayani dunia, yang terbuka kepada dunia sekitarnya tidak untuk mengikutinya tetapi untuk melayaninya. ” Tuaian banyak tapi pengerjanya malas dan takut”

 

Khusus untuk para pemimpin gereja, pembaruan budi berarti perubahan dari orang-orang yang mengutamakan jabatan dalam gereja menjadi orang-orang yang mengutamakan pelayanan, pengabdian dan pengurbanan diri.

 

Pemimpin gereja tidak seharusnya ikut-ikutan pemimpin dunia yang mengedepankan kekuasaan dan materi. Kristus tidak hanya mengajarkan tetapi juga meneladankan dan melakukan suatu model kepemimpinan yang melayani dan mengurbankan hidupnya untuk orang lain.

 

Kalau pemimpin gereja mau dan mampu melaksanakan tugasnya sebagai agen pembaruan maka ia tidak hanya harus menjadi tempat edukasi dan wacana moral tetapi juga harus menjadi tempat perbuatan , pemberlakuan moral dan sebagai saksi moral yang nantinya akan menghasilkan pelayan moral. Semua ini harus dimulai dari kehidupan pribadi yang bergereja.

 

Bentuk perayaan keagamaan disebagian gereja masa kini, justru telah mengalami pergeseran. Seringkali perayaan-perayaan tertentu seperti Paskah dan Natal diisi dengan berbagai kegiatan yang lebih bersifat fun dan menghibur. Bentuk acara tidak harus punya hubungan langsung dengan apa yang dirayakan itu sendiri, yang penting ada waktu disisakan untuk ibadah dan perayaan Paskah, misalnya. Ini menyedihkan karena dalam perayaan Paskah (atau yang lainnya) makna Paskah itu sendiri tidak lagi menjadi pusat perayaan dan pusat perhatian jemaat. Hal ini bukan cuma sekedar menjadi sebuah keprihatinan dan perenungan gereja masa kini, tetapi kita perlu menata ulang, membaharui pemaknaan Paskah yang berkenan dan sesuai dengan FirmanNya.

 

Kita ditantang untuk berani mereformasi diri dan lingkungan sekitar. Keterpurukan, kemelaratan dan isak tangis, menjadi bahan perenungan tentang apa yang sedang terjadi. Termasuk didalamnya keprihatinan kita terhadap masalah Global Warning atau Pemanasan Global, yang mengancam kelestarian lingkungan hidup. Pesatnya pertambahan jumlah penduduk, maraknya kegiatan perekonomian dan kegiatan industrialisasi, yang tidak dibarengi dengan kepedulian akan kelestarian lingkungan hidup memicu berkembangnya masalah lingkungan. Dampaknya mulai terlihat seperti berupa anomali perubahan iklim yang mengakibatkan terjadinya berbagai bencana.

 

Tindakan membaharui, mereformasi, bukan nanti, manakala Tuhan mengukum lewat alam ciptaanNya. Mari berupayalah, dengan terus bergandengan tangan diantara kita, keluarga, Gereja, Pemerintah, menata hidup yang sesuai dengan kehendaknya.

 

Sulit hidup benar di tengah-tengah kejahatan dan kenajisan. Kecenderungan kita adalah kompromi dengan hal-hal berdosa dan kemudian membenarkan diri sendiri dengan mengatakan, “Kalau tidak kompromi tidak mungkin sukses.” Pembaharuan itu tidak bisa diharapkan terjadi kalau tidak dimulai dari diri sendiri.

 

Walaupun jauh disana di Tanah Karo, tetapi pada saat sekarang ada moment PEMILUKADA. Hal ini juga perlu kita perhatikan dan memberi dukungan moral bagi masyarakat yang tinggal di Tanah Karo, supaya memilih pemimpin daerah yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam arti, walaupun hak pilih kita tidak ada bagi yang di perantauan, tetapi paling tidak kita bisa memperbaharui dari skala kecil yaitu keluarga kita yang ada disana untuk tidak mau menerima suap dan menjual suaranya. Serta kiranya bijaksana dan semakin arif untuk memilih pemimpin daerah.

 

“GEREJA MEMBUKA LOWONGAN BAGI YOSIA-YOSIA MASA KINI YANG BERANI DAN TAAT PADA TUHAN UNTUK MENJADI AGEN PEMBAHARUAN”

 

 

 

Pdt. Dasma Sejahtera Turnip, S.Th
GBKP Rg. Pontianak, Kalimantan Barat
 

Khotbah Amsal 31 : 28 – 30, Minggu 11 Oktober 2015

Renungan

Invocatio :
Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku
(Maz 139 :13)
 
Bacaan :
 
2 Korintus 12 : 11 – 12 (Tunggal)
 
Thema :
 
Moria yang Berhikmat ( Moria Si pentar)
 
 
I. Pendahuluan
 
Syalom, mejuah-juah , Selamat Ulang tahun kepada Moria GBKP. Pada tanggal 16 Oktober 1957 telah disahkan menjadi satu organisasi dalam tubuh GBKP. Saat ini umur Moria telah mencapai 58 tahun, artinya Moria GBKP telah cukup dewasa. Kedewasaannya menjadikan Moria semakin bermakna di tengah-tengah Gereja dan masyarakat, hal ini dapat kita lihat melalui program-program tersebut, baik ditingkat pusat, klasis dan bahkan di runggun-runggun. Juga bagaimana Moria GBKP telah mampu memperlihatkan jati dirinya sebagai garam dan terang dunia baik terhadap gereja dan bahkan telah menyentuh kepada pemerintahan . 
 
Walau demikian , Moria banyak menghadapi tantangan baik dari luar organisasi Moria itu sendiri maupun dari dalam tubuh organisasi Moria. Untuk menjadikan Moria GBKP dirindukan kehadirannya ditengah-tengah keluarga, gereja dan masyarakat, Moria harus menjadi Moria yang berhikmat dan bijaksana dalam segala hal.
 
II. Isi
 
Saudara –saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, adalah suatu kebahagiaan bagi sang suami memiliki seorang istri yang cakap . Dikatakan bahwa istri yang cakap melebihi dari pada permata (31:10).
 
Mengapa dikatakan demikian ? memiliki istri yang cakap senantiasa memikirkan masa depan keluarga , senantiasa memikirkan kebahagiaan suami dan anak-anaknya. Istri yang cakap tidak pernah memiliki pikiran yang jahat terhadap keluarga (31:12), selalu memikirkan kebutuhan rumah tangga dan mandiri, senang mengasihi (31: 13, 20).
 
 
Saudara-saudara , Moria yang memiliki sikap seperti inilah , sehingga ada pengakuan dari anak-anak dan suaminya. Anak –anaknya mengatakan berbahagia, suami memuji istrinya (31:28). Bahkan si suami mengatakan , tidak ada wanita dimuka bumi melebihi dari pada istrinya (31:29). Kemolekan dan kecantikan bukan menjadi ukuran bagi si suami, namun yang menjadi ukuran adalah istri yang capak , berhikmat ( istri yang takut akan Tuhan ) (31:30)
 
III. Refleksi
 
Saudara-saudari dalam Yesus Kristus, minggu ini kita sungguh bersuka cita, dimana Moria telah genap umurnya 58 tahun. Umur ini menandakan Moria telah mapan dalam iman kepada Yesus Kristus maupun dalam organisasi , mapan dalam berfikir , bertindak , bahkan telah mapan dalam membina rumah tangga.
 
 
Kalau kita melihat perjalanan GBKP , peran Moria sangat menentukan dalam menjalankan program-program gereja secara organisasi. Tanpa kehadiran Moria ditengah-tengah Gereja, sama seperti sayur tanpa garam. Demikian juga halnya dalam perjalanan rumah tangga, kehadiran Moria menyempurnakan kehidupan keluarga.
 
 
Apa yang diungkapkan oleh sang anak dan sang suami terhadap istrinya dan ibunya tak lain karena si istri benar-benar menjadi pondasi atau penopang dalam kehidupan rumah tangga.
 
Dikatakan bahwa , istri senantiasa berbuat baik kepada suaminya, mandiri, mampu melihat jauh ke depan untuk keselamatan kebutuhan keluarga, senang memberikan pertolongan terhadap orang yang lemah. Perbuatan baik dari seorang istri membuat si suami melontarkan suatu pengakuaan bahwa kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, bahkan sisuami mengatakan bahwa walau banyak wanita telah berbuat baik, namun kebaikan istrinya tidak ada yang mampu melebihinya .
 
Dengan demikian jadilah moria GBKP yang berhikmat dan bijaksana untuk memuliakan Tuhan.
 
 
Pdt. Abel Sembiring
 
Rg. Tambun
 

Khotbah Keluaran12 : 21-28, Minggu 04 Oktober 2015

Renungan

Invocatio :
Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup (I Korintus 8 : 6)
 
Ogen :
Mazmur 150 : 1-6
 
Tema :
Perbuatan Allah Jadi Adat dan Budaya dalam Kehidupan
 
1. Pendahuluan
Sudah pasti membebaskan diri dari kekuasaan penguasa yang otori tersangat susah, sebagaimana dialami bangsa Israel ditindas, diperbudak di Mesir selama 430 tahun (Kel 12:40). Nabi Musa diperintahkan Allah menghadap penguasa Mesir Raja Firaun. Beginilah firman Tuhan Allah Israel, Biarkanlah umatku pergi meninggalkan Mesir (Kel 5: 1-24) Tuhan punya kuasa melepaskan UmatNya dan mendatangkan kegelapan kepada penindas.
 
2. Isi
 
 
2.1 Perayaan Paskah
 
Berfirman Allah kepada Musa dan Harun, kata kana kepada segenap kaum/Jemaah Israel, ambilah seekor anak domba/kambing setiap kaum keluarga domba jantan tidak bercela, kurang selama 14 hari baru disembelih dan dibakar, makan bersama sampai habis dan makan dengan Roti tidak beragi serta sayur pahit (Kel 12: 1-20). Itulah paskah Tuhan. Upacara darah diambil sedikit darah domba dibubukan di kusen pintu rumahmu ( Kel 12: 7,22). Pengolesan darah diatas tiang rumah umat Israel adalah symbol, agar Malaikat mau melalui (lewat),d ari rumah mereka untuk melakukan hukuman bagi umat Mesir. Semua anak sulung di Gosen selamat, namun semua anak sulung di bangsa Mesir mejadi korban (Kel 12:23-24). Dan menghubungkan tulah kesepuluh, Allah akan melintasi tanah Mesir, membunuh anak sulung baik manusia maupun hewan (Kel12:12-13).
 
 
2.2 Etimologi Paskah
 
Paskah dengan kata pesakh (Ibrani) artinya melewati, ketika Allah menampakan tubuh keseluruh bangsa Mesir, karena Firaun menolak membebaskan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.
 
Paskah, Tuhan Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir.Hari Raya Paskah diperingati sebagai kelepasan Israel dari Mesir.
 
 
2.3 Paskah menjadi pusat ibadah dana dikehidupan umat Israel sebagai ketetapan sampai selama-lamanya turun-temurun (Kel 12 : 14 + 24) Peristiwa Paskah dirayakan, diingat bagaimana Tuhan membebaskan, menyelamatkan, melindungi UmatNya. Paskah menjadi pusat hidup dan pusat ibadah bangsa Israel (Kel 12:27) (Ul 6 : 20-25). Paskah penting dirayakan sebagai landasan ketaatan pada perintah Tuhan. (Ul 6:10-12) (2 Taw 30 + 35) Merayakan Paskah berarti menyusuri perjalanan antar generasi yang mempersatukan seluruh bangsanya, (Imamat 25:55).
 
 
2.4 Mazmur 150
 
“Biarkanlah segala yang bernafas memuji Tuhan, Haleluya.
 
Pujilah Dia ditempat kudusNya (Bait Allah/Gereja)
 
Muliakanlah Allah karena segala keperkasaanNya, Siapa yang memuliakanTuhan, seluruh ciptaannya .
 
Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup kepada Allah, itu ibadahmu (Roma 12:1).
 
2.5.. Iman Kristen merayakan Paskah karya penyelamatan Tuhan Yesus Kristus yang telah membebaskan
kita dari kuasa dosa. Perayaan Paskah dengan pengorbanan diri TuhanYesus di kayu salib (Mat 26:2, 28-29). Sebagai anak domba Allah menghapus dosa dunia (Yoh 1:29; 1Pet 1:18-19). Dalam Paskah, Yesus Kristus sebagai korban perdamaian Allah pada manusia berdosa (2 Kor 5: 17-20). Sebagai orang percaya pada Tuhan Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan karena kita dia hidup (1 Kor 8:6).
 
3. Perbuatan Allah jadi aturan/adat kehidupan. Ada orang lebih senang dikatakan beradat dari pada beriman. Sebagai pengikut kristus Firman Tuhan, perintah Tuhan, sudah jadi aturan hidup kita (adat kehidupan Kristiani).
 
 
3.1 Lit adat kebiasaan silapayo si bertentangen ras kata Dibata arus sitadingken. Tapi adat budaya karo Simehuli, ertutur salah sada dalanna kita lebih ndeher ibas kiniersadaan bas perpulungen, banci pedalan misi ersaksi berita simeriah.
 
 
“Sebab telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” ( 1Kor 6:20)
 
Depok, 27 Agustus 2015.
 
Pdt. Em. M. K. Sinuhaji.
 

Khotbah II Korintus 11:23-29, Minggu 27 September 2015

Renungan

Invocatio :
Kamu yang takut akan Tuhan pujilah Dia,hai segenap anak cucu Yakub,muliakanlah Dia,dan gentarlah terhadap Dia,hai segenap anak cucu Israel (Maz.22:24).
 
Ogen :
Kisah Para Rasul 27:1-6
 
Tema :
Pelayanan dalam Kristus yang berbuah..? Suka duka dalam pelayanan...Ulih latih simerdang
 
A. Pendahuluan
 
Sulit atau mudahkah menjalani kehidupan Kristiani? Atau juga sulit atau mudahkah menjadi seorang pelayan Tuhan (serayan)? Seperti apakah kita seharusnya? Apakah iman kita kepada Yesus telah membuat hidup kita susah,menderita atau justru sebaliknya. Dalam teks bacaan serta khotbah minggu ini,kita dapat melihat bahwa Paulus sebagai pelayan Tuhan,kehidupan yang ia jalani tidak mudah,ia harus menghadapi kesulitan yang membuat kita kadang mempertanyakan keberadaan dimanakah kuasa Allah,kapal karam,cambuk,penjara dan berbagai jenis penyiksaan,bahkah hidupnya dulu sebelum menjadi pengikut Kristus seakan –akan lebih baik karena begitu banyak penderitaan yang hadir dalam perjalanan kehidupannya.
 
Nell Postman,dalam bukunya “Menyenangkan diri sendiri” Mengatakan agama Kristen adalah agama yang serius dan menuntut.Ketika kekristenan dianggap mudah dan menyenangkan,berarti agama ini tidak berbeda dengan agama lain.Kelihatannya ini benar,bahwa menjadi pengikut Kristus dan juga menjadi pelayan Kristus tidaklah mudah,sebab Yesus sendiri berkata;setiap orang yang mau mengikut Aku,ia harus menyangkal dirinya dan memikul salib. Paulus telah diberi tugas,dan ia melakukannya dengan segenap hati untuk kemuliaan Allah bukan untuk dirinya sendiri.
 
B. Isi
Membandingkan Paulus antara dirinya dan lawan-lawannya mengenai kemegahan yang jelas mencerminkan ukuran secara duniawi.Lawan-lawan Paulus membanggakan keturunan etnis mereka tentang persoalan keturunan Yahudi.Paulus mengatakan bahwa ia dapat menandingi lawan-lawannyamengenai pernyataan mereka “sebagai pelayan Kristus”.Dengan tegas Paulus menyatakan bahwa mereka (lawan-lawannya) adalah pelayan-pelayan iblis (ay 12-15).Paulus berani mengatakan bahwa ia adalah pelayan sejati dari perjanjian baru hamba Allah dan kebenaran (3:6).Paulus harus melakukan perbandingan dengan mereka,walaupun apa yang ia lakukan itu disebutnya sebagai “perkataan orang gila” (Dalam bahasa Yunani kata untuk ” orang gila” menunjukkan seseorangyang kehilangan akal serta erat kaitannya dengan orang bodoh).Paulus benar sebab hanya orang bodoh yang akan membiarkan pemegahan diri sendiri.
 
Paulus membuktikan keunggulannya sebagai rasuldengan menunjukkan kelemahannya/penderitaannya. Dalam ay 23-27 secara terperinci Paulus menjelaskan penderitaan dan kelemahan yang ia alami dalam pemberitaan Injil.Maksud Paulus mendaftarkan kelemahannya berbeda dengan yang dilakukan lawan-lawannya sebagai hamba Kristus (Pada zaman Paulus,kaum stoa,serta para pengkhotbah populer dan juga kaisar-kaisar Romawi biasa mendaftarkan kelemahan dan penderitaan yang mereka alami,hal ini menunjukkan nilai kepahlawanan mereka.Tetapi Paulus ingin membanggakan kelemahannya demi memberikan kemuliaan kepada Kristus (12:6,9),ia sama sekali bukan pahlawan (2:14).
 
 
Pada ayat 24-26 Paulus mendaftarkan pengalaman-pengalaman yang mengancam jiwanya,5 kali Paulus mengalami hukuman seperti yang ditentukan dalam ul 25:3,40 kurang satu pukulan,3 kali Paulus mengalami kapal karam,para hakim memutuskan Paulus dan silas di dera (1 tes 2:2),Paulus harus menanggung perlakukan tidak adil ini,sebab seharusnya status kewarganegaraanya seharusnya melindunginya dari hukuman ini. Menurut Kis.14:15 ia dilempari batu oleh sebuah kerumunan orang-orang Yahudi,dan juga ia pernah diseret keluar kota dan diduga ia akan mati.Di dalam Kis.27:14-44 Paulus mengalami kapal karam di Malta,selama 24 jam ia terkatung-katung ditengah laut (ada kemungkinan dalam bahaya itu ia bertahan dengan berpegangan pada pecahan kapal sebelum akhirnya ia diselamatkan dan terdampar dipantai).Perjalanan darat juga tidak pernah aman,ada bahaya penyamun,dengan mudah mereka akan menjadi mangsa,apalagi mereka berjalan dalam kelompok kecil.Paulus juga mengalami ancaman dari orang –orang Yahudi sendiri,yakni saudara-saudara “palsu” yang menampilkan diri sebagai Kristen namun diam-diam memata-matainya (Gal2:4) memfitnahnya atau melawan pelayanannya,ancaman juga datang dari orang-orang non Yahudi (16:20-22).
 
 
Pada ayat 27-29 Paulus mengunakan kata “berjerih lelah dan bekerja berat”hal ini menunjukkan betapa ia bekerja siang dan malam untuk mengumpulkan uang juga melayani dimalam hari.Ia kerap tidak tidur karena rasa cemas,terlalu lelah karena harus berkhotbah pada malam hari,ketika dengan bebas orang-orang mendengarkannya (kis 20:7).Ia pernah lapar dan dahaga,kerap berpuasa,situasi ini menunjukkan masa-masa kekurangan yang panjang,ketika ia tidak mempunyai uang untuk membeli makanan.Paulus juga pernah menderita kedinginan karena kekurangan pakaian,seperti ia terapung dilaut.Tidak cukup itu saja,Paulus juga merasakan tekanan dari urusan sehari-hari dimana ia sungguh-sungguh bertanggung jawab atas kesejahteraan rohani jemaatnya.Oleh sebab itu setiap kali seseorang tersandung belenggu dosa atau kehilangan iman (Roma 14:13;1 Kor 8:13) Paulus menjadi hancur (berduka).Seperti halnya penderitaan seorang anggota mempengaruhi seluruh tubuh Kristus (1 Kor 12:26)pelanggaran yang dilakukan seorang anggota juga dirasakan oleh semuanya.
 
C. Refleksi
 
Sulit kita membayangkan bagaimana Paulus bertahan dalam penderitaan seperti itu,sebagai pengikut Kristus atau sebagai pelayan Tuhan kita sering merasa bahwa kita seolah-olah gagal,tidak sanggup hidup dengan situasi penderitaan.Merasa bahwa pelayanan terasa berat dan Tuhan salah dalam menempatkan kita pada situasi dan kondisi tertentu,atau juga sering timbul keinginan untuk menarik diri dari pelayanan.Paulus di dalam mengikut Tuhan dan mengalami banyak penderitaan dan penolakan tetap setia karena semua yang ia alami merupakan proses pembentukan dirinya menjadi seorang hamba Tuhan yang besar.Paulus adalah seorang yang disebut sebagai rasul ke 13,karena perjuangannya yang begitu besar dalam mengembangkan ke kristenan di dunia pada zamannya.
 
 
Melalui perjalanan misinya ,injil tersebar keseluruh negeri,juga membuka mata orang-orang Yahudi bahwa keselamatan itu bukan hanya berlaku bagi mereka tapi berlaku juga bagi bangsa-bangsa lain.Berdasarkan pembahasan diatas ada beberapa hal yang dapat kita renungkan:
 
1. Paulus menyadari panggilan pelayanannya
Paulus tahu bahwa Tuhan lah yang memanggilnya untuk memberitakan injil kepada orang Yahudi dan bukan Yahudi,sehingga ia melakukan dan merencanakan perjalanan misinya.Ketika kita menyadari bahwaTuhanlah yang menyuruh kita untuk melayani Dia,kita dapat melakukandan merencanakan pelayanan itu dengan sebaik-baiknya.
 
2. Komitmen dalam melayani
Bagi Paulus jika Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup, hal itu akan digunakan untuk melakukan pekerjaan Tuhan.”Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,tetapi jika aku harus hidup di dunia ini bearti bagiku bekerja memberi buah”(Plp 1:21-22).Paulus bekerja dengan dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga (Kol 1:29) tidak ada yang menghalangi untuk menyelesaikan pekerjaan itu walaupun penderitaan sering datang.Dalam hal ini komitmen penting sekali bagi kita,dengan adanya komitmen yang kuat,maka pelayanan dapat berlangsung untuk jangka waktu yang lama dan hasil yang akan dicapai pun akan lebih baik.Cara kerja orang yang memiliki komitmen sangat berbeda dengan orang yang tidak memiliki komitmen.Melayani dengan komitmen, akan secara terus menerus melayani walaupun apa yang dia pikirkan dan rencanakan belum bisa terwujud,sebaliknya orang tidak punya komitmen tidak akan bisa melayani dengan terus menerus,pelayanan yang mengebu-gebu tapi hanya sebentar,banyak ketakutan tentang masa depan,keluarga.
 
3. Paulus dapat melayani Tuhan dengan sedemikian rupa karena dia sangat mengasihi Tuhan dan manusia.
Kasih kepada Tuhan membuat Paulus mempersembahkan dirinya seutuhnya bagi Tuhan.Dia menganggap Kepentingan Pelayanan kepada Tuhan adalah segalanya (bnd Filipi 3:7-8).Paulus dengan kasihnya kepada Tuhan mau berjerih lelah dan menanggung banyak penderitaan,asalkan dia mampu menyelesaikan tugas yang diberikan Allah kepadanya.Paulus juga sangat mengasihi manusia,Dia ingin semua orang dapat mengenal Kristus dan melalui sikap hidupnya, Paulus ingin semua orang mampu melakukan kehendak Tuhan (bnd dengan para misionaris yang datang ke tanah karo).Paulus rela menempuh perjalannan yang jauh untuk memberitakan Yesus kepada orang-orang yang belum mengenal Yesus.Bahkan sampai menjelang akhir hidupnya ia terus  memikirkan pemberitaan injil.Sejak awal ia telah mempersiapkan penerusnya yakni Timotius untuk meneruskan pekerjaanya yang belum selesai.Paulus dapat menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang yang ingin melayani seperti dirinya
 
 
4. Melayani dengan rendah hati
Walaupun Paulus adalah orang yang berpendidikan tinggi,pintar,tapi ia tidak pernah menganggap bahwa semua yang telah dilakukannya itu adalah hasil usahanya sendiri,baginya itu adalah kasih karunia Allah (Ef 3:7-8).Oleh karena itu janganlah kita jemu-jemu melayani Allah,sebab apabila waktunya datang,kita akan menuai janji Tuhan
 
 
Kepustakaan :
1. Ulasan Surat 2 Korintus,Kekuatan dalam Kelemahan,VC Pfitzner,BPK Gunung Mulia
2. Menjadi dan menjadikan murid Kristus,Bill Hull,Yayasan Gloria Usaha Mulia
3. Jiwa dan Semangat Perjanjian Baru,St.Darmawijaya,Lembaga Biblika Indonesia,Kanisius
 
 
Pdt.Rena Tetty Ginting
                                                          GBKP Bandung Barat
 

Page 3 of 55

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 19 guests online