Khotbah Roma 5:12-19, Minggu 05 Maret 2017 (PASSION II)

Renungan

Invocatio :
“Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek
moyangmu” (Ulangan 4:31).

Bacaan :
Mazmur 32:1-11(Tunggal)

Tema :
Hidup Dalam Kasih Karunia Tuhan
 
 
I. Pengantar
Rumusan teologia Calvin tentang manusia yang sudah jatuh kedalam dosa adalah “Rusak total”, barang yang rusak total sudah selayaknya di buang. Walaupun manusia sudah rusak total oleh kejatuhannya kedalam dosa, tapi Tuhan tidak memusnahkannya, itulah yang disebut dengan kasih karunia. Paulus mengatakan bahwa manusia yang telah jatuh kedalam dosa adalah orang durhaka (ay 5:6), cerita anak durhaka yang terkenal adalah cerita Malinkundang yang dikutuk menjadi batu, iya memang itulah selayaknya dilakukan kepada orang-orang durhaka “dikutuk”. Tetapi Tuhan tidak mengutuk manusia bahkan mau menanggung “kutukan” dosa itu dengan mati di kayu salib, inilah kasih karunia yang terbesar. Mati untuk orang baik, orang benar dan bagi orang yang dicintai, mungkin ada, tapi kalau mati untuk orang durhaka, penjahat, pembrontak, berkorban bagi barang yang rusak, ini adalah sesuatu yang imposible. Tetapi itulah yang dilakukan oleh Yesus, melalui kematianNya di Kayu Salib, inilah yang di sebut dengan “Kasih Karunia”. Kita sudah mengenal kasih karunia, dan sekarang bagaimana supaya kita tetap hidup didalamnya? Mari kita telusuri Firman Tuhan yang menjadi renungan kita di minggu Passion yang ke-2 ini.
 
II. Pendalaman Naskah Alkitab
1. Dosa (12)
Dosa adalah pelanggaran cinta kasih terhadap Tuhan atau sesama yang dapat mengakibatkan terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah. Utamanya, dosa disebabkan karena manusia mencintai dirinya sendiri atau hal-hal lain sedemikian rupa sehingga menjauhkan diri dari cinta terhadap Allah. Dosa adalah penyimpangan dari Firman Allah. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Sifat dosa sama seperti “racun kontak” atau seperti lingkaran obat anti nyamuk, mulai dari lingkaran luar (dalam) jika di bakar perlahan akan menjalar kedalam (keluar), tergantung dari mana dimulai. Demikian dikisahkan bagaimana dosa memasuki dunia dan mencemari semua manusia, dimulai dari kehidupan Adam (manusia pertama). Dosa itu semakin hari semakin berkembang melebihi deret hitung bahkan mengalahkan perkembang biakan ayam, satu ayam bertelur 12 dan menetas, penetasan berikutnya sudah 13 ekor dan akan bertelur lagi di kali 12 =156 di kali 12 menjadi 1572 dan seterusnya, cepat sekali pertambahan/ perkembangnnya, tetapi masih kalah dengan pertambahan/ perkembangan dosa, karena setiap orang bukan saja melahirkan satu dosa, sehingga dosa ada dimana-mana, di kiri- di kanan, di atas – dibawah, sehingga tidak ada lagi manusia yang benar seorang pun tidak (Roma. 3:11-18), dengan demikian semua manusia layak di hukum mati, di musnahkan, dan di kutuk (disalibkan).

2. Dosa Lebih Tua dari Hukum Taurat (13-14)
Semua manusia sudah berdosa, ini menjadi perdebatan di zaman Paulus, karena pemahaman umum (apalagi di dunia hukum), bagaimana orang tahu melanggar undang-undang (hukum) kalau hukumnya tidak ada? Bukankah dosa itu dikenal setelah ada Undang-undang (Hukum Taurat). Paulus mengatakan bahwa dari dulu dosa itu sudah ada tetapi tidak diperhitungkan. Kalau tidak diperhitungkan ya sama saja dengan tidak ada. Untuk memahami ayat 13 ini kita, harus perhadapkan dengan ayat 20 “dimana dosa bertambah banyak di situ anugerah bertambah banyak” artinya hukum taurat menolong kita untuk menghitung berapa banyak dosa pelanggaran kita dan berapa banyak anugerah yang kita terima, sehingga Paulus mengatakan bahwa kalau Taurat tidak ada dosa tidak dapat diperhitungkan. Hukum Taurat adalah hukum yang tertulis yang diberikan melalui Musa, sedangkan jauh sebelum itu perintah Tuhan (undang-undang Tuhan) sudah ada yang langsung di sampaikan (lisan) kepada orang yang dipilih Tuhan (bd. Peraturan/ Perintah yang diberikan kepada Adam agar jangan makan buah pohon pengetahuan). Sama dengan peradaban manusia sebelum ada undang-undang yang tertulis sudah ada hukum-hukum (norma-norma) yang berlaku, dan setiap pelanggarannya pasti mendatangkan sangsi.

Kelihatannya Paulus tidak mau berlama-lama berdebat tentang hal ini, tetapi Paulus lebih menekankan bahwa “ada atau tidak ada hukum Taurat” dosa itu sudah ada dan setiap perbuatan dosa pasti mendatangkan hukuman. Jadi hukuman atas dosa itu bukan saja setelah zaman Musa tetapi sejak zaman Adam (bd. Kej. 3:17-19). Manusia yang pertama sampai manusia yang terakhir nantinya membutuhkankan “pertolongan” (kasih Karunia Allah). Karena orang yang sudah jatuh ke dalam dosa dan sesama orang yang sudah jatuh kedalam dosa, tidak bisa menyelamatkan dirinya atau sesamanya). Hukuman dosa yang ditanggung dalam hal ini bukan saja pelanggaran hukum Tuhan yang tertulis atau tidak tertulis, tetapi jauh lebih dalam adalah tabiat dosa yang sudah mewarnai semua hati (bathin) manusia.

3. Kasih Karunia Tuhan (15-19)
Kasih karunia adalah kasih yang diberikan kepada orang yang sesungguhnya tidak layak menerimanya (anak durhaka yang diampuni, barang yang rusak total diperbaiki menjadi seperti baru). Paulus mengatakan bahwa : Dosa dan kematian dibawa oleh satu pribadi masuk ke dunia, demikian juga dengan ketaatan satu pribadi semua manusia dibenarkan. Paulus menekankan kemampuan tertinggi dari penebusan yang disediakan oleh Yesus Kristus untuk menghapus dampak dari kejatuhan kedalam dosa. Adam membawa dosa dan kematian tetapi Kristus membawa kasih karunia dan hidup.
 
III. Pointer aplikasi
1. Semua manusia telah jatuh kedalam dosa, upah dosa adalah maut.
2. Semua manusia membutuhkan kasih karunia Tuhan, karena orang yang sudah jatuh kedalam dosa tidak bisa menyelamatkan dirinya.
3. Berbahagialah karena Tuhan tidak memperhitungkan semua pelanggaran kita, serusak apapun kita, sedurhaka apa pun kita, ketika kita berseru kepada Tuhan dan mau bertobat kita akan diampuni (Mzm 32:1-11), karena Allah kita penuh dengan kasih karunia (bd. Invocatio).
4. Hidup di dalam kasih karunia. Sebagai orang yang sudah diampuni/ dibebaskan yang ada adalah “bersyukur dan bersukacita”. Sebagai orang yang sudah dimerdekakan kita memiliki paradigma baru tentang Taurat Tuhan. Di zaman dulu Taurat itu dipandang sebagai beban yang sangat berat (kuk yang menekan), tetapi bagi kita adalah anugerah. Karena melalui Hukum Taurat kita dapat menghitung berapa besar dosa (pelanggaran) kita dan sebesar itu jugalah kasih karunia yang Tuhan berikan bagi kita (Roma 5:20 “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah). Ibarat utang, semakin banyak utang kita yang dilunasi semakin banyak anugerah yang kita terima (Catatan: tetapi bukan memberi kebebasan untuk berbuat dosa, Roma 6:14 “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia”). Taurat adalah wujud kasih Allah agar kita dapat berjalan dalam koridor yang benar (orang yang telah diselamatkan, mengucap syukur dengan ketaatan pada Allah). Menjadi rambu-rambu yang dapat mengantarkan kita ke “negeri Kasih Karunia, dimana tidak ada tangis dan kematian. Jadi boleh kita katakan bahwa Hidup dalam kasih karunia Tuhan hidup sesuai dengan “Hukum Taurat” yang sudah disederhanakan isinya, yaitu : “mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri”. Sebagai wujud mengasihi Tuhan dan sesama, kita aktif dalam persekutuan (koinonia), gigih dalam bersaksi (marturia) dan rajin dalam pelayanan (diakonia).

5. Di Minggu-minggu Passion ini mari kita merenungkan betapa “Hebat” penderitaan Yesus untuk menanggung dosa kita, Dia rela dicaci maki, di fitnah dan diludahi, di cambuk dan di salibkan, di tombak dan dibunuh. Tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya (Yoh. 15:13). Dalam Galatia 2:20 “ Paulus mengatakan hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang ada di dalamku”, lebih jauh lagi dalam 1 Korintus 9:16 “celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil”. Inilah tanggung jawab yang harus kita lakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita hidup dalam kasih karunia Tuhan, selamat mencoba. Tuhan memberkati.
 
Pdt. Saul Ginting, S.Th, M.Div
GBKP Bekasi
 

Khotbah Mazmur 2:1-12, Minggu 26 Februari 2017

Renungan

Invocatio :
“Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya”(Amsal 10 : 22).
 
Pembacaan :
2 Petrus 1 : 16 – 21
 
Tema :
Panggilan untuk Memperbaiki
 
 
I. Pengantar
Menurut Kalender Tahun Gerejani kini gereja memasuki masa-masa Pra-Paskah atau Minggu-minggu sengsara, juga disebut Minggu Passion yang akan dilalui selama 7 (tujuh minggu lamanya). Peristiwa ini didasari oleh sengsara yang dialami Yesus dan menjadi peringatan bagi kehidupan ke kristenan mula-mula yang mendapat penganiayaan karena imannya kepada Kristus. Symbol Liturgi dinampakkan dengan gambar Ikan tertulis ICHTUS singkatan, Iesous Christos Theou Uios Soter yang artinya Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat. Rasid Rachman dalam bukunya Hari Raya Liturgi – Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, mengatakan Minggu-minggu sengsara atau Pra Paskah tidak diisi melulu dengan dukacita dan pergumulan berat – oleh sebab itu tidak disebut masa atau Minggu-minggu sengsara – tetapi juga dengan kesukaan dan pengharapan sebab di sinilah waktu dan kesempatan gereja untuk lebih menghayati peristiwa salib Kristus. Masa Pra Paskah adalah kesempatan spiritual umat dan lembaga gereja untuk lebih mengenal kasih Allah di dalam Kristus melalui pertobatan yang sungguh. Pertobatan dari dosa selalu diikuti dengan anugerah pengampunan Allah.

Dengan demikian tahapan demi tahapan Minggu-minggu sengsara atau masa Pra Paskah menjadi perenungan berangkat dari tema Minggu Passion I kita (GBKP), “Terpanggil untuk Memperbaiki”. Apakah yang harus diperbaiki: di gereja, jemaat, keluarga juga di dalam masyarakat? Dan bagaimanakah sikap serta peran orang/ pihak yang terpanggil untuk melakukan perbaikan? Ada perbaikan karena telah terjadi kerusakan. Bagaimana standar kerusakan sehingga perlu perbaikan yang dimasud di dalam tema renungan saat ini?
 
II. Makna Minggu Passion I
1. Pengantar Teks Pembacaan II Petrus 1 : 16 – 21
Jelas bahwa di dalam surat Petrus yang menjadi pembacaan ada kelompok atau golongan yang merusak. Mereka membuat cerita dongeng yang turut memberi issu pada pemberitaan rasul Petrus tentang kedatangan Yesus Kristus sebagai raja. Cerita dongeng tersebut datangnya dari golongan Gnostik, yang hanya merupakan cerita khayalan belaka. Petrus mengatakan dongeng-dongeng isapan jempol manusia. Kesaksian rasul Petrus mengatasi cerita khayalan belaka tersebut. Diperkuat oleh informasi atau data otentik sebagai bukti terhadap peristiwa dimana rasul Petrus ikut menjadi saksi. Dia, Petrus adalah saksi sejarah yang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus menerima tanda kemuliaan dan kehormatan dari Allah Bapa di atas gunung itu. Ketika itu memang Petrus diundang oleh Yesus ikut naik ke atas gunung itu. Bersama dengan Yesus, rasul Petrus juga mendengar suara yang datangnya dari sorga yang berkata: ”Inilah Anak yang Kukasihi kepadaNya Aku berkenan” (Mat 17:1-5, Mark 9:2-7, Luk 9:28-35). Kesaksian rasul Petrus di dalam suratnya ini tidak dapat diragukan lagi karena peristiwa ini benar-benar disaksikan oleh mata, juga tempat dimana peristiwa ini terjadi, yaitu diatas gunung yang kudus. Gunung adalah merupakan sarana tempat penyataan Allah (Kel 3:5; 19:23). Saksi mata dan tempat terhadap peristiwa datangnya kembali Kristus sebagai raja tidaklah mungkin dirusak oleh cerita dongeng atau khayalan yang mau merusak berita yang disampaikan oleh rasul Petrus tersebut. Pandangan ini bagi para rasul adalah penggenapan dari PL yang sangat menarik (Mat. 1:22; 2:5,6). Karenanya sebagai orang yang percaya harus memperhatikan akan kedatangan Kristus. Kedatangan Kristus itu digambarkan seperti pelita yang bercahaya di dalam gelap, Gelap melukiskan keadaan dunia bila tanpa Terang yang sesungguhnya (bd. Yoh. 8:12). Pelita dikenal sebagai Firman Allah/ Alkitab (Mzm. 119:105). Dan fajar yaitu hari kedatangan Kristus (3:10; Rom. 13:12) atau disebut Bintang Timur (Yun, Phosphoros), yaitu bintang yang membawa fajar. Dalam kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno menunjuk Bintang Kejora menjadi lambang bagi Tuhan Yesus (Bil. 24:17; Luk. 1:78; Why. 22:16).
 
2. Penegasan Renungan / Teks Khotbah Mazmur 2 : 1 – 12
Mengawali kesaksian pemazmur, memperlihatkan situasi kerusuhan diantara bangsa-bangsa. Kerusuhan tersebut didasari oleh permufakatan raja-raja dunia melawan Tuhan dan yang diurapiNya. Melawan Tuhan adalah perlawanan terhadap Israel dimana Tuhan sendiri adalah Raja bagi bangsaNya Israel. Permufakatan antar raja-raja dunia yang dimaksud disini adalah sistim pemerintahan politik yang tidak membawa kepada pemerintahan kehidupan yang adil damai tentram dan aman. Tetapi justru berdampak pada korban kemanusiaan. Pelanggaran HAM, realitas kemiskinan serta keterpurukan dari berbagai segi kehidupan. Akibatnya, berdampak pada kerusakan. Kerusakan mental, moral dan atau kepribadian bangsa dan warga negaranya khususnya pada generasi bangsa. Inilah pertanda politik bangsa yang melawan kepemimpinan Raja Israel yang diurapi oleh Tuhan. Cara mufakat raja-raja dunia seperti ini sangat merugikan, dan sangat ditentang oleh Raja Israel. Politik seperti ini hanya menjadi tertawaan atau ejekan. Allah menertawakan kepemimpinan raja-raja dunia yang menjalankan perpolitikan yang merusak dan atau yang merugikan. Allah memperlihatkan politik yang perlu ditertawakan atau diejek. Ditertawakan berarti dipermalukan. Dipermalukan karena kepemimpinan yang dijalankan tidak menciptakan keadilan dan kedamaian tetapi hanya memporak-porandakan kehidupan manusia dan dunia. Politik yang merusak resikonya adalah berhadapan dengan Tuhan yang adalah Raja diatas segala raja-raja di dunia. Dia tidak hanya menertawakan tetapi juga dapat melenyapkan mengalahkan dengan mudah sistim perintahan raja-raja dunia yang merugikan. Tuhan menghukum politik pemerintahan yang merugikan. PadaNya ada gada (tongkat) kekuasaan dan besi sebagai alat untuk menghancurkan kepemimpinan yang menjalankan politik pemerintahannya dengan tindakan kekerasan. Sistim perintahan atau politik bangsa yang merusak akan dilenyapkan oleh Tuhan. Karena pemerintahan yang demikian hanya mengacaukan tatanan kehidupan dunia dan hidup antar bangsa. Raja-raja tidak seharusnya menjalankan pemerintahan dengan melawan Tuhan sebagai Raja, tetapi justru meminta perlindungan kepada Tuhan dalam menjalankan masa kepemimpinanNya untuk menjalankan kepemimpinan bangsa dengan bijaksana. Yaitu kebijaksanaan yang diajarkan oleh Tuhan. Belajar daripada Tuhan berarti menyerahkan kepemimpinan dibawah kekuasaan Tuhan sendiri. Kepemimpinan Raja Israel telah nyata dengan keamanan dan ketenangan kota Sion yang tetap dilindungi dalam pemerintahan Raja Israel sendiri. Kita telah mengalami kepahitan bangsa dalam situasi kerusuhan-kerusuhan yang terjadi pada masa lalu (1999). Di Poso, Ambon dan kota-kota lainnya, bahkan sampai sekarang suasana bangsa yang tidak kondusif mengajak kita untuk belajar dari kepemimpinan Raja Israel. Juga termasuk kepemimpinan raja-raja dunia yang diperhadapkan oleh berbagai problema bangsa termasuk masalah teroris atau ISIS.
 
III. Perenungan Teologis : Minggu Passion I
Nyanyian pemazmur sebagai perenungan dalam masa Pra Paskah (Passion I) sengsara Yesus, adalah nyanyian penobatan Raja yang diurapi Tuhan. Pujian pemazmur ini adalah ditujukan kepada Kristus yang dalam sengsaraNya memasuki dunia perpolitikan raja-raja dunia, untuk memperbaiki sistim pemerintahan dari kerusakan peradaban dunia ke dalam hidup perdamaian. Presiden Amerika Serikat Donal Trump mengawali kepemimpinan perdananya mempererat pelukannya mendukung Jepang terkait dengan uji coba rudal Korea Utara. Peluncuran rudal ini sangat tidak bisa ditoleransi, dan semestinya Korut harus mengikuti resolusi PBB (Minggu 12 Peb 2017), demikian salah satu berita surat kabar yang kemudian dikatakan belum diketahui secara persis apa maksud peluncuran rudal tersebut bagi kehidupan dunia.

Dimana-mana pasti ada saja sikap dan tindakan pihak-pihak yang merencanakan kejahatan atau kerusuhan. Teroris, ISIS atau kejahatan lainnya sangat dekat dengan lingkungan dimana kita berada. Menghadapi situasi ini bukan kita harus menjadi takut. Tetapi kita dipanggil untuk peka dan peduli terhadap sikap dan tindakan untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi disekitar kita. Atau setidaknya menjaga agar tidak terjadi kerusuhan atau pengerusakan disekitar tempat kita tinggal menetap. Panggilan ini adalah seperti penunjukkan Tuhan kepada Sang Raja yaitu Yesus Tuhan yang dipilih oleh dan diurapi oleh BapaNya, ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan…’ (bdk. 2 Pet 1:17). Bahwa tugas panggilan untuk menjaga atau memperbaiki dari kerusakan adalah juga panggilan kepada kita pribadi lepas pribadi melakukan karya kebaikan/ perbaikan sebagai persembahan bagi kemuliaan nama Tuhan. Seperti Tuhan mempermuliakan AnakNya sekalipun Ia harus mengalami sengsara. Demikian juga kita, atas tugas panggilan untuk memperbaiki yang rusak akan dijalani seiring dengan penderitaan atau sengsara. Keadaan ini tentu harus dimaknai dari apa yang telah dikerjakan Yesus di dunia ini. Baik di dalam rumah tangga/ keluarga, jemaat/ gereja dan di tengah masyarakat serta tempat dimana kita bekerja, kita terpanggil berkorban memperbaiki kerusakan disekitar kita sebagai makna penebusan Kristus dimana kita juga turut berperan mengerjakannya.
 
Pdt Merry Tatuwo br Sembiring, STh
Perpulungen/ Jemaat GBKP Makassar
 

Khotbah Matius 5:38-48, Minggu 19 Februari 2017

Renungan

Invocatio :
Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya
yang sesat,maka segeralah kau kembalikan binatang itu (Kel.23:4)
 
Bacaan :
Imamat 19:1,2;9-18

Tema :
Mengasihi yang melebihi perbuatan baik yang ditunjukkan
orang lain (Lebih asa siniarapken kalak)
 
 
I. Pendahuluan
Matius 5:38-48 merupakan bagian dari Khotbah di Bukit yang si sampaikan oleh Yesus,Dia adalah Mesias yang di nubuatkan para nabi-nabi yang akan membawa “Taurat Baru “ , bukan melawan Hukum taurat tapi melawan penafsiran orang-orag Farisi yang sangat ketat melakukan hukum taurat.Yesus menjelaskan inti pengajaran hukum taurat adalah kasih yang ada dalam hidup orang –orang yang percaya kepadaNya.
 
II. Isi
1. Bacaan :Imamat 19:12,9-18
Selain memuat tentang tugas para imam dalam ruang ibadah kitab imamat juga memperlihatkan kehidupan umat Allah.Ajarannya mengutamakan pengenalan manusia akan kekudusan Allah dan bagaimana manusia menghampiri Allah yang kudus.Hal ini menunjukkan kepada kita bagaiman suasana Israel pada masa pembagian tanah pusaka,ketika bangsa itu telah menduduki negeri yang dijanjikan Allah bagi mereka.Di atas tanahlah kehidupan terselenggara dan tanah sebagai sumber kehidupan karena tanah tidak pernah berhenti memberikan hasil bagi mereka.
 
Tanah diyakini sebagai keadilan Allah yang telah membela bangsa Israel yag kecil dan memberikan kehidupan bagi bangsa ini.Pengalaman bangsa Isreal yang pernah di tindas oleh bangsa lain,merupakan suatu pengalaman berharga yang akhirnya di ikuti pemberian tanah pusaka oleh Tuhan Allah.Kini mereka bisa hidup dari pemberian tanah oleh Allah,tanah itu menghasilkan gandum,anggur,susu dan daging serta buah-buahan yang lain.Mereka bisa memenuhi kebutuhan mereka dari tanah pemberian Allah.Oleh karena itu Allah melalui Musa memperingatkan bangsa itu bahwa tanah itu harus memberikan hasil yang bisa memberi makan semua orang,termasuk orang yang miskin hendaknya diberi kesempatan untuk bisa juga menikmati hasil dari tanah itu “Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu;janganlah kau sabit ladangmu bahis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kau pungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu”(ay 9).Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Israel yang telah memperoleh belas kasihan Allah dengan pemberian tanah,maka dia juga harus mengasihi orang lain.Itulah keadilan yang di tunggu oleh Allah.Selanjutnya Allah juga membenci kesombongan,tidak adil dalam bentuk merampas hak,memfitnah demi memuluskan rencana jahat. Allah menghendaki agar bangsa ini dapat hidup kudus dengan menjauhkan diri dari praktek curang dipengadilan dan juga dalam kehidupan sehari-hari.
 
2. Khotbah:Matiuas 5:38-48
Di sini diperlihatkan bagaiman Yesus mengungkapkan kehidupan orang beriman terhadap sesamanya atau bahkan terhadap musuhnya.Ajaran ini melampaui tradisi kebiasaan yang sudah baku yang penuh dendam dan amarah.Salah satu contoh yang jelas adalah adanya hukum yang setimpal.Latar belakang hukuman di Timur Tenggah dikatakan adil ketika pelaku (tersangka) menerima ganjaran yang setimpal atau berbanding dengan penderitaan korban.Seorang terhukum mati bisa bebas dari tiang gantungan setelah keluarga mengampuni dan pihak korban menerima uang darah.Seorang raja sekalipun tidak berhak mencabut hukumannya,karena bagi mereka adil itu adalah ketika tersangka itu mengalami penderitaan seperti yang dialami pihak korban,oleh karena hukum mata ganti mata,gigi ganti gigi berlaku dalam kehidupan sosial saat itu.Demikian juga dengan sikap dan perbuatan kita terhadap orang yang berbuat jahat ada tempat untuk membalas kejahatan yang setimpal dengan yang dilakukannya bagi kita.
 
Dalam kondisi ratusan tahun dalam prinsip kaku yang mendarah daging,Yesus hadir dan memberikan etika baru yang tertuang dalam khotbah dibukit yang sangat terkenal,bahwa murid-murid Yesus serta orang-orang yang percaya kepadaNya harus tampil beda dengan dunia dengan segala peraturannya.”Tetapi Aku berkata kepadamu:Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu,melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu,berilah juga kepadanya pipi kirimu”(ay 39),Hal ini berbicara tentang sikap dan perbuatan kita terhadap orang yang telah berbuat jahat kepada kita,dengan kata lain balas dendam tidak memiliki tempat dalam kamus orang Kristen.Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu,serahkanlah juga jubahmu”(ay 40).Dimata orang Yahudi “jubah”mempunyai makna yang sangat penting yaitu “dirinya sendiri”.Hal ini menunjukkan bahwa seorang yang ingin hidup sebagai pengikut Kristus memang harus lebih dahulu meninggalkan “dirinya sendiri”(ego) dengan melakukan kepentingan orang lain,tidah hanya memberikan apa yang secara tidak sah diambil dari kita,akan tetapi memberikan lebih lagi dari yang kita miliki.”Siapa yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil,berjalanlah bersama dia sejauh dua mil (ay 41) Hal ini berarti bahwa dalam situasi yang masih memungkinkan janganlah kita menolak orang yang memohon bantuan dari kita.
 
III. Aplikasi
Tuhan Yesus memberikan ajaran baru bagi murid-murid dan juga orang-orang yang percaya kepadaNya.Kita disuruh untuk keluar dari aturan dan kebiasaan yang sudah mendarah daging dikehidupan sehari-hari.Mengasihi musuh adalah ajaran Yesus yang nampaknya susah untuk dilakukan,sebab seseorang pasti pernah punya pengalaman memandang seseorang sebagai musuh,atau sampai sekarangpun kita masih punya daftar orang-orang yang dianggap musuh.Permusuhan biasanya beriringan dengan sakit hati.Orang yang menganggap seseorang sebagai musuh akan selalu ingin membalas perbuatan jahat,dendam dan kebencian tidak terhindarkan,semakin lama rasa ini semakin dalam hingga kita sering mendengar perkataan “sada matawari pe ateku lang ras ia”
 
Ajaran yang diberikan oleh Yesus walau sulit bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin.Yesus adalah model kita,melalui kasih dan pengampunanNya terhadap mereka yang menganiayaNya (Luk.23:34).Seorang penulis Kristen Alfred Plummer (1841-1926) menulis:Membalas kebaikan dengan kejahatan berarti membiarkan iblis mempengaruhi kita dengan kebencian,iri dan dengki,membalas kebaikan dengan kebaikan adalah suatu hal yang manusiawi.Sedangkan membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sifat ilahi.Kita tidak akan pernah bisa bahagia dan damai sejahtera jika masih menyimpan dendam dan kebencian.
 
Melakukan lebih dari yang diharapkan oleh orang lain,ini menunjukkan sikap bahwa hidup dan perbuatan kita yang tidak tergantung pada apa yang kita dengar dan apa yang kita terima dari orang lain ( bnd Roma 12:2) .Hidup kita haruslah tergantung dari pemeliharaan Allah,bagaimana Allah telah menunjukkan keadilanNya dengan memberikan kita hidup dari apa yang telah Dia sediakan.
Memgasihi lebih dari yang diberikan oleh orang lain (tema) adalah bentuk keadilan yang bercirikan kasih.Kekristenan tidaklah mengorbankan keadilan demi kasih,sebab tidak ada kejahatan yang dibiarkan oleh keadilan Allah.Akan tetapi pembalasan adalah hak Allah bukan hak manusia.Untuk mendapatkan berkat dari Allah kita tidakboleh membalas kejahatan dengan kejahatan tapi mengasihinya,inilah kelebihan kita sebagai orang kristen,Allah tidak pernah menuntut kita,yang ada Dia selalu memberi lebih,melebihi segala perbuatan baik kita.
 

Pdt.Rena Tetty Ginting
Runggun Bandung Barat
 

Khotbah Mazmur 119:1-8, Minggu 12 Februari 2017

Renungan

Invacatio :
Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai 
penolong, yang harapannya Pada Tuhan Allahnya Masmur
146:5)

Bacaan :
1 Korintus 3:1-9 (Antiponal)
 
Tema :
Berbahagialah hidup dalam undang-undang Tuhan
 
 
Bila ditelusuri seluruh umat manusia, tentu apapun yang di kerjakan, tentu mereka akan mengatakan untuk mendapatkan suatu kebahagiaan. Sangat tidak masuk akal bila seseorang mengerjakan sesuatu agar mereka hidup menderita, walau di kemudian hari mereka hidup menderita yang menjadi akibat perbuatannya tersebut. Kebahagian manusia tentu berbeda-beda, hal ini disebabkan manusia tentu berbeda-beda, keinginan yang berbeda dll. Untuk dapat menemukan kebahagian yang mereka inginkan adalah kekayaan tentu hidup mereka berfokus terhadap harta dunia (rumah mewah, mobil mewah, uang yang berlimpah dll). Namun bila kebahagiaan yang mereka inginkan adalah hidup bersama Tuhan tentu fokus hidupnya adalah bagaimana mereka senantiasa hidup sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki (Membaca Firman Tuhan dengan tekun, berdoa, bernyanyi, beribadah). BERDASARKAN Masmur 119:1-8, kami membagi beberapa poin antara lain :
Ayat 1-3,
Yang menjadi inti kebahagiaan manusia sesungguhnya adalah, bagaimana hidupnya tidak bercela, hidup menurut Firman Tuhan, senantiasa berpegang pada peringatan-peringatan Tuhan, senantiasa mencari Tuhan dengan segenap hati, tidak melakukan kejahatan, namun hidup menurut jalan yang di tunjukkan Tuhan. Mengapa yang menjadi kebahagiaan masmur adalah hidup didalam Taurat Tuhan? Hal ini semata karena masmur telah merasakan bagaimana tuntutan Tuhan dalam hidupnya (105). Apa yang menjadi kebahagiaan masmur dalam hidupnya tentu ini jugalah yang menjadi kebahagiaan bagi umat Tuhan yang percaya padanya. Kebahagiaan kita bukan berdasarkan apa yang kita miliki (harta) namun kebahagiaan kita adalah bagaimana kita hidup di dalam Firman Tuhan sepanjang hidup kita.
 
Ayat 4-8,
Dijelaskan bila masmur senantiasa berpegang teguh terhadap Firman Tuhan, tentu hidup masmur tidak akan mendapat malu namun senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Tentu dalam hal ini masmur sungguh menyadari bahwa hidup dalam Friman Tuhan akan senantiasa mendatangkan suatu kebahagian hidup. Sehingga masmur memohon pada Tuhan agar Tuhan tidak meninggalkan kehidupannya (8). Bila hidup dalam Firman Tuhan yang menjadi sumber kebahagiaan masmur tentu hal ini jugalah yang menjadi sumber hidup orang-orang yang mengenal Tuhan.

Bila umat manusia tujuan hidupnya adalah hidup dalam Taurat Tuhan tentu mereka bukan lagi hidup didalam daging namun hidup didalam Roh, mereka bukan lagi mengagungkan manusia namun mengagungkan nama Tuhan (bacaan) bukan Apalas atau Paulus tapi Allah. Seiring dengan perkembangan jaman, tidak dapat kita pungkiri bahwa sedikit banyaknya tentu tujuan hidup manusia akan bergeser dari tujuan yang sebenarnya. Tuntutan perkembangan jaman, tuntutan kehidupan akan menggeser umat manusia dari tujuan benar ke tujuan yang kurang benar. Kita tidak akan pernah menolak apa yang namanya perkembangan teknologi yang menjadi kebanggaan umat manusia, namun perlu kita melihat sejauh mana manusia mampu melihat kehadiran Tuhan dalam perkembangan jaman. Hal ini tentu membutuhkan penelusuran yang mendalam sehingga tidak terjadi suatu penghakiman, karena yang mengetahui tentang seseorang adalah deri sendiri. Contoh sederhana manakah kita lebih tertarik membaca Firman Tuhan dibanding dengan Facebook dll. Bagaimanakah suasana hati kita saat membaca Firman Tuhan dan membuka handphone (membaca Firman Tuhan jarang tersenyum, sementara membaca Facebook kita sering tersenyum, marah dalam hati). Melalui Firman Tuhan ini,marilah kita senantiasa hidup dalam Taurat Tuhan agar kebahagiaan yang sesungguhnya adalah milik kita.


Pdt.Abel Sembiring
Runggun Tambun
 

Khotbah 1 Korintus 2:6-16, Minggu 05 Februari 2017

Renungan

Invocatio :
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5)
 
Bacaan :
Mazmur 112 : 1 - 10

Thema :
Hidup berlandaskan Pikiran Kristus (Nggeluh Ibas Perukuren Kristus)
 
 
I. Pendahuluan
Pemberita Injil adalah pengantar surat “cinta kasih Tuhan” kepada kita. Tetapi bisa terjadi dan biasa terjadi, “orang jatuh cinta kepada pengantar surat”. Berarti cinta kasih Tuhan tak sampai kepada kita, kita tersandung kepada si pengantar surat. Sehingga tujuan Injil belum tercapai sebab anda belum merasakan dan merespon kasih Allah. Dalam kasus ini, banyak “pengantar surat” yang merasa bersyukur dan bersukacita karena jemaat menyanjung dirinya. Tetapi Paulus tidak mengharapkan hal ini terjadi, sebab tujuannya untuk membawa atau menghantarkan kasih Allah.

Paulus memiliki pikiran Kristus atau yang lebih tepat “Pikiran Kristus” telah menguasai dirinya, sehingga ia memberitakan Injil Yesus Kristus dengan tekun. Paulus menyatakan “Kristus yang hidup di dalam aku … hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Bd. Gal.2:20). Hidup bagi Paulus, bukan terutama apa yang dia perbuat tetapi yang telah diperbuat Tuhan Yesus bagi dirinya. Ia selalu memberitakan Yesus Kristus, bukan tentang dirinya sendiri. Ia selalu berdiri dibalik salib Yesus Kristus dengan prinsip ‘tidak apa-apa asalkan Kristus dimuliakan’.

Injil adalah kuasa Allah bagi keselamatan orang-orang percaya. Tidak ada kabar yang lebih baik dari pada Kristus telah datang untuk menyelamatkan kita (kelahiran, kematian dan kebangkitan-Nya untuk menyelamatkan kita). Kabar baik yang tidak dapat dipahami tidak dapat disebut berita, apalagi berita yang baik. Bagi orang yang menolak Yesus Kristus, Injil bukan kabar baik, malah menjadi kabar buruk bagi mereka (sebab orang menolak Yesus Kristus menerima hukuman kekal). Sedangkan orang yang menerima Yesus Kristus beroleh hidup kekal. Kita percaya karena kasih karunia Allah memampukan kita untuk percaya. Efesus 2:8-9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”. Karena itu, orang yang percaya kepada Yesus Kristus bukan membuat kita tinggi hati, tetapi sebaliknya merendahkan hati.
 
II. Pendalaman Nats
Paulus menyatakan bahwa “kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang”, kata “matang” menjadi sebuah pertanyaan, siapakah yang telah matang dan layak menerima Injil? Bahwa pemberitaan injil bukan berdasarkan pengetahuan saja, sehingga pemikir-pemikir hebat saja yang sanggup menerimanya. Injil sangat sederhana sehingga anak kecil pun dapat mengerti, kemudian percaya dan diselamatkan. Tetapi Injil juga sangat mendalam sehingga seorang teolog yang paling pandai pun tidak dapat mengukur kedalamannya. Pada kenyataannya, orang-orang yang menolak Injil Yesus Kristus adalah orang-orang berpengetahuan tinggi secara teologis dan filosofis (walau bukan seluruhnya), kebanyakan yang menerima Injil adalah orang-orang biasa. Berarti kemampuan menerima Injil bukan berdasarkan kemampuan berpikir (kognitif). Kemampuan untuk percaya datangnya dari Tuhan sendiri, bahwa Allah yang mengaruniakan Iman percaya kepada Kristus. Bahwa Roh Kudus terlebih dahulu atau bersama-sama dengan Firman yang diberitakan sehingga orang yang menerimanya menyambutnya sehingga Injil itu menyelamatkannya.

Injil adalah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia bagi penguasa-penguasa dunia ini, termasuk tersembunyi bagi iblis. Iblis dan penguasa-penguasa dunia mengira bahwa Golgota merupakan kekalahan Allah yang besar. Tetapi ternyata salib merupakan kemenangan Allah terbesar dan kekalahan iblis dan penguasa dunia ini (Bd. Kol. 2:15). Karena mereka tidak tahu bahwa rancangan kematian Yesus Kristus diatas salib adalah untuk menebus dosa-dosa manusia. Allah membuat rencana, melaksanakan dan memeliharanya sampai berhasil. Kis. 2:22-23 “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”. Bahwa Yesus diserahkan atau menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan, dengan kerelaan hati-Nya memenuhi kehendak Bapa-Nya. Sehingga tanpa mereka sadari, bahwa orang-orang yang menyalibkan Yesus, telah dipakai oleh Allah untuk memenuhi maksud dan rencana-Nya. Bukan mereka yang berkuasa menentukan kematian Yesus Kristus, Yesus dikorbankan pada saat yang ditentukan Allah sendiri.

Sungguh indah Injil Yesus Kristus, setiap hati orang percaya mengaguminya. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Bahwa Allah Bapa telah mengorbankan Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosa-dosa kita. Dapatkah kita meragukan dan menyangkal kebesaran kasih Allah bagi kita? Kita seharusnya tidak pernah “berpaling dari salib Yesus Kristus” karena pada salib inilah penentuan seluruh hidup kita. Yesus Kristus telah menyelesaikan rencana keselamatan, jalan ke rumah Bapa telah terbuka dan masa depan kita telah dijamin di dalam Yesus Kristus, tidak peduli apa pun yang menerpa kehidupan kita. Rencana Allah bagi orang-orang yang menjadi milik-Nya begitu indah sehingga tidak mungkin dapat dipikirkan atau dimengerti seluruhnya!

Yang perlu kita mengerti bahwa kita diselamatkan oleh karena kasih karunia Allah yang telah memilih kita, hanya karena pengorbanan Anak Allah yang penuh kasih dan oleh pelayanan Roh Kudus yang mengajar dan meyakinkan kita akan kebenaran (pengorbanan Yesus Kristus). Tanpa kehadiran dan pekerjaan Roh Kudus di dalam hati kita maka kita tidak akan tahu kasih karunia Allah. Roh Kudus yang memampukan kita untuk menyambut karunia keselamatan. Disinilah peran Roh Kudus yang sangat besar bagi kita untuk membuka pengertian kita. Seperti halnya orang tidak dapat mengetahui apa yang ada di dalam pikiran orang lain sampai orang tersebut menyampaikan dan menyingkapkan pemikirannya, begitu pula kita tidak dapat mengetahui segala rancangan dan tujuan Allah yang tersembunyi sampai Allah menyampaikan kepada kita melalui Roh Kudus-Nya. Kita tidak dapat mengetahui atau percaya bahwa Injil dapat menyelamatkan kita, sampai Dia menerangi akal budi dan batin kita, membuka mata pikiran kita, dan memberi kita pengetahuan serta iman kepada pemberitaan Injil itu.

Di sini dibedakan antara orang yang sudah diselamatkan (disebut “rohani” karena ia didiami oleh Roh Kudus) dan orang-orang yang belum diselamatkan ( disebut “duniawi” karena ia tidak didiami oleh Roh Kudus). Orang yang belum selamat tidak dapat menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena ia tidak mempercayainya dan tidak dapat memahaminya. Pikiran manusia menolaknya. Kebenaran Allah merupakan kebodohan bagi pikiran mereka. Manusia memandangnya sebagai hal-hal yang tidak penting dan tidak masuk akal, yang tidak layak dipikirkan.

Orang Kristen bertumbuh dalam ketajaman rohaninya dan mengembangkan kemampuannya (dengan pertolongan Roh Kudus) untuk memahami lebih dalam kehendak dan pikiran Allah. “Memiliki pikiran Kristus” bukan berarti bahwa kita sudah sempurna dan mendapatkan derajat (level rohani) yang lebih tinggi dari orang lain. “Memiliki pikiran Kristus” berarti melihat kehidupan dari sudut pandang Sang Juruselamat, memiliki nilai-nilai dan keinginan-keinginan untuk memuliakan-Nya. Dengan demikian kita berpikir menurut pikiran Allah dan bukan menurut pikiran dunia.
 
III. Pointer Aplikasi
Dalam bacaan kita dari Mazmur 112 “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya”, kita melihat hanya dengan sebelah mata, yang kita lihat “berbahagialah” tetapi “suka kepada segala perintah-Nya” kita abaikan. Atau kita menyukai “Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya”. Sedangkan Firman Tuhan yang menyatakan “Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya … Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin” kurang disukai. Menerima berkat “it’s oke” (baik-baik saja), membagi berkat “wait a minute” (tunggu dulu). Seorang yang menyatakan dirinya Kristen dapat memiliki banyak kata-kata yang tepat namun tidak memiliki buah rohani (mengabaikan pikiran Kristus). Masih terutama mencari yang menyenangkan bagi dirinya sendiri, bukan untuk menyenangkan Allah melalui hidupnya. Perlu kita renungkan yang lebih menyenangkan bagi kita, memperoleh banyak berkat atau menabur kebaikan Allah? Hidup bukan saja untuk menerima tetapi membagikan. Dan yang paling penting untuk dibagikan adalah kabar baik, berita keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Para Rasul telah menerima hikmat yang mereka ajarkan itu bukan dari orang-orang berhikmat di dunia ini, melainkan dari Roh Allah. Dan para rasul diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk memberitahukan pikiran Allah kepada kita. Jikalau Yesus datang ke dunia dengan kuasa yang dahsyat, mungkin semua orang akan terpaksa “percaya” karena ketakutan yang luar biasa. Lalu Yesus datang dengan menyembunyikan kemuliaan-Nya dan mengedepankan kerendahan hati-Nya, kenapa? Karena tidak setiap orang berhak menerima keselamatan yang sangat berharga ini. Harta yang berharga dibungkus dengan kerendahan hati. Kenapa orang-orang dari bank membungkus uang yang banyak dengan kertas Koran? Untuk menghindari perampokan di tengah jalan, sehingga uangnya tidak sampai ke tujuan dan dikuasai oleh orang jahat. Tuhan juga membungkus rahasianya dengan kerendahan sehingga tidak dapat direbut oleh si jahat.

Ada orang yang memandang Yesus dari penampilan-Nya tetapi tidak melihat isi hati-Nya. Kita beruntung karena Roh Kudus menyingkapkan yang terselubung, mengarahkan kita kepada isi hati Yesus Kristus yang agung dan mulia. Perhatikan, sungguh merupakan keistimewaan bagi orang Kristen bahwa pikiran Kristus disingkapkan oleh Roh Kudus kepada kita. Pikiran itu disingkapkan sehingga kita percaya dan diselamatkan. Sehingga hidup orang Kristen dimulai dengan percaya kepada Yesus Kristus dan dipimpin dalam iman kepada Yesus Kristus sehingga "Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).

Percaya dan diselamatkan harus diselaraskan dengan hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus. Filipi 1:27 “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil”. Berjuang untuk iman atau berjuang mati-matian untuk dunia ini?
 
 
Pdt. Sura Purba Saputra, M.Th
GBKP Harapan Indah
 

Page 3 of 62

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 136 guests online