Khotbah Yohanes 1:1-14, Minggu 25 Desember 2016

Renungan

Invocatio :
Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus 
AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Galatia 4:4)
 
Bacaan :
Masmur 98:1-9 (Responsoria)

Tema :
Anak Itu (Yesus) Adalah Sumber Kehidupan
 

Pengantar Kepada Teks Kotbah
Yohanes 1:1-18 merupakan prolog Injil Yohanes yang berfungsi untuk mengantarkan pembaca sebelum masuk ke dalam keseluruhan Injil. Prolog juga berfungsi sebagai legitimasi posisi teologis Injil Yohanes. Prolog ini berbentuk himne yang membingkai gagasan Yohanes tentang Yesus. Memahami pengenalan dasar Yohanes tentang diri Yesus dan peran yang dijalankanNya akan memudahkan kita untuk mengerti pesan yang disampaikan dalam Yohanes 1:1-14 ini. Injil Yohanes dapat dikatakan sebagai Injil yang paling vertikal, menjelaskan bahwa Yesus berasal dari Surga. Hal ini memberi kesan bahwa yang hendak ditekankan adalah Ketuhanan Kristus dari
pada kemanusiaanNya.
 
Pembahasan Teks Kotbah
Prolog ini terdiri atas dua bagian yaitu, bagian pertama, berkisah tentang Firman (ayat 1-5, 9-14, 16-16) dan bagian kedua berkisah tentang Yohanes (ayat 6-8, 15). Firman menjadi subjek pada ayat 1-5, 14. Yohanes menjadi subjek pada ayat 6-8, 15. Sementara itu terang menjadi ayat penting pada ayat 9-11. Dalam ayat 12, 13, subjek kalimatnya adalah “mereka yang percaya dalam namaNya”. Selanjutnya ayat 16-18 menampilkan “kita” dan “Anak Tunggal Allah” sebagai subjek. Walaupun para ahli tidak sepakat mengenai susunan prolog Injil Yohanes, namun mereka agaknya sepakat mengenai pembagiannya, setidaknya berdasarkan garis besar. Susunan umum prolog ini adalah sebagai berikut:
1. Ayat 1-5 “Logos bersama-sama dengan Allah, alat penciptaan, Hidup, dan Terang.”
2. Ayat 6-8 “Tampilnya Yohanes”
3. Ayat 9-11 “ Logos yang hadir di dunia , tidak dikenal manusia.”
4. Ayat 12-13 “Tetapi mereka yang percaya diberi kuasa menjadi anak-anak Allah.
5. Ayat 14 “Logos menjadi daging dan diam di antara manusia.”
6. Ayat 16-18 “Anak yang ada di pangkuan Allah menyatakan Allah.”
Susunan umum prolog seperti di atas ini menjadi dasar bagi kita dalam melakukan langkah-langkah penafsiran teks Yohanes 1:1-18.
 
1. Ayat 1-5
Ayat 1-5 merupakan bagian pertama dalam prolog. Kelima ayat pertama prolog ini awalnya merupakan sebuah himne yang sudah ada sebelum Injil di tulis. Subjek ayat-ayat tersebut adalah Firman, seluruh ciptaan, hidup, terang dan kegelapan. Ayat 1-5 ini dapat dibagi lagi menjadi 2 unit kecil, yaitu tentang hubungan Firman dengan Allah dan ayat 3-5 tentang hubungan Firman dan penciptaan.

• Ayat 1-2 : Hubungan Firman dengan Allah.
Pada mulanya dalah Firman,” Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah
Pada mulanya adalah Firman. Ayat ini mengingatkan kita pada Kej. 1:1, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Tampak bahwa, secara sekilas, prolog Yohanes paralel dengan Kejadian. Namun, “pada mulanya” dalam prolog tidak seperti yang dimaksudkan dalam Kejadian. “Pada mulanya” tidak menunjuk pada peristiwa penciptaan karena penciptaan baru disebutkan pada ayat 3. “Pada mulanya” tidak hanya berarti awal dalam waktu melainkan lebih hakiki, lebih mendalam “pada hakekatnya”. Firman telah ada, sebelum langit dan bumi diciptakan. Dan, Injil Yohanes juga ingin mengatakan bahwa yang paling penting adalah, Firman yang Allah ucapkan, telah IA utus ke dalam dunia. Firman itu bersama-sama dengan Allah. Artinya, menggambarkan tentang kedekatan Firman dengan Allah, dan persekutuan yang harmonis antara Firman dan Allah. Jadi, Firman berada dalam persekutuan yang aktif dengan Allah. Firman itu adalah Allah. Ayat 2 mengulang kembali gagasan yang sudah dinyatakan dalam ayat 1 bahwa Firman itu bersama dengan Allah. Pengulangan ini menunjukkan pentingnya keberadaan Firman yang sejak semula bersama dengan Allah.
 
• Ayat 3-5 : Firman dan Penciptaan
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada satupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
Di sini, prolog berbicara tentang peran yang dimiliki oleh Firman dalam penciptaan. Melalui Firman, segala sesuatu diciptakan, dan tanpa Firman, tak satupun dapat ada. Tindakan Allah yang pertama kali dalam kitab Kejadian adalah berfirman, dan firman tersebut berfungsi sebagai untuk menciptakan. Firman bukan hanya perkataan saja, tetapi juga perbuatan. Firman aktif. Firman mencipta. Hal ini tampak pada Masmur 33:9 “Dia berfirman, maka semuanya jadi. IA memberi perintah, maka semuanya ada”. Firman adalah aktivitas Allah, yang berada dibalik penciptaan dunia dan penciptaan manusia.
 
Dalam ayat 4-5, dikatakan bahwa apa yang dijadikan dalam Firman adalah hidup. Perhatian beralih dari penciptaan segala sesuatu ke dalam penciptaan hidup, yaitu hidup yang kekal (1 Yohanes 1:2). Hidup yang bersumber pada Firman merupakan terang manusia, dan terang tersebut tidak akan terkalahkan oleh kegelapan. Perjuangan terang melawan kegelapan, akhirnya kegelapan dikuasai oleh terang (bdk. Yoh. 8:12-15, 9:5,12:31-35, 1 Yoh. 2:8).
 
2. Ayat 6-8
Datanglah seorang yang diutus oleh Allah, namanya Yohanes; ia dating sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus member kesaksian tentang terang itu.

Pada bagian ini, Yohanes diperkenalkan, yang akan datang untuk mengingatkan manusia. Hal ini bertujuan untuk mematahkan gagasan bahwa Yohanes lebih besar dari Yesus. Beberapa murid Yesus, semula adalah murid murid Yohanes sehingga dapat dimengerti jika mereka masih membawa kenangan akan kebesaran guru awal mereka. Untuk itulah, ditegaskan bahwa Yohanes adalah pendahulu dan saksi bagi Sang Terang Sejati. Yohanes bukanlah terang itu, melainkan Saksi Terang itu. Firman datang secara fisik setelah Yohanes, tetapi Yohanes memberi kesaksian bahwa Firman yang menjadi manusia itu ada sebelum dia dijadikan. Dalam fungsinya sebagai saksi, Yohanes menemukan keterbatasannya, tetapi sekaligus peran sentralnya. Satu-satunya yang membuat Yohanes tampil sebagai figur besar adalah kesaksiannya tentang Terang itu. Inilah peran utama Yohanes.
 
3. Ayat 9-11
Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya tetapi dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orangorang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.

Setelah narasi tentang Yohanes, teks kita ini kembali pada ayat-ayat awal, khusunya sambungan dari ayat 5. Hubungan antara ayat 1-5 dan ayat 9-11 terbangun melalui konsep terang, yang juga dipergunakan untuk menggambarkan tentang Yohanes dalam ayat 7-8. Terang yang diwartakan oleh Yohanes, sekarang datang ke dunia (ayat 9). Ia datang ke dalam dunia. Tidak ada pembatasan apapun. Ia datang untuk semua, dunia ciptaanNya. Gambaran terang yang datang ke dunia untuk menerangi manusia adalah gambaran Mesianik dalam Perjanjian Lama, seperti dalam Kitab Yesaya (Yesaya 9:2, 42:6, 60:1-2). Terang itu sudah ada di dunia, tetapi dunia tidak mengenalNya. Kalimat sedang datang ke dalam dunia tidak mengacu kepada manusia, tetapi mengacu kepada Yesus sebagai terang (Yoh.3:19).
 
4. Ayat 12-13
Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Kedatangan Firman ke dalam dunia tidak hanya berjumpa dengan penolakan. Ada kelompok orang yang menerimanya. Merekalah orang-orang percaya di dalam namaNya. Kepada mereka yang percaya, Firman itu member kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Untuk menjadi anak Allah senantiasa berakar pada kelahiran baru “dari Allah”, “dari Roh”, atau juga “dari atas”. Menjadi anak Allah bukanlah dengan sendirinya terjadi. Kelahiran alamiah saja tidak cukup. Menjadi anak Allah artinya dilahirkan dari Allah. Bukan dalam arti fisik atau biologis, tetapi dalam arti rohani; berdasarkan kasih karunia Allah. Hanya Dia saja yang berhak menjadikan kita anak-anak Allah. Menerima tidak mempunyai arti lain selain percaya. Hal ini di dukung oleh penjelasan “yaitu mereka yang percaya dalam namaNya”. Oleh karena itu, disebutkan bahwa mereka yang percaya tersebut diperanakkan bukan dari darah dan daging, melainkan dari Allah.
 
5. Ayat 14
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Lima ayat terakhir yang dimulai dari ayat 14 ini dianggap sebagi puncak teks Yohanes ini. Dalam mendiskusikan Kristologi Yohanes ini, menunjuk kepada kemanusiaan Yesus yang riil sekali dan menekankan kemuliannNya, kemuliaan ilahi yang terpancar pada kemanusiaan itu. Dalam ayat 14 ini, dikatakan bahwa Firman yang semula ada bersama Allah kini menjadi daging dan diam diantara kita. Hanya kata “Firman/Logos” yang muncul pada ayat 1 digunakan kembali. Di dalam ayat 1, Firman itu ada bersama dengan Allah. Kini dalam ayat 14, Firman itu ada bersama dengan kita. Allah yang tinggal diantara umatNya itu menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus, Sabda yang menjadi daging. Firman itu tinggal diantara kita. Siapakah kita yang dimaksudkan di sini ? Kita yang dimaksudkan disini adalah umat manusia. Sedangkan kata kemuliaan mengandung makna kehadiran Allah yang dilihat jemaat dalam iman, kehadiran ilahi yang hanya dimiliki “Anak dari Bapa”. Yesus adalah “satu-satunya Anak dari Bapa”. Selanjutnya, ungkapan kasih karunia dan kebenaran mengingatkan kita tentang kemurahan hati Allah yang tidak mengenal lelah, serta kesetiaanNya pada janjijanjiNya. Penuh kasih karunia dan kebenaran berarti kuasa yang menyelamatkan dan yang mengubah hidup dari kehadiran Allah di dalam Yesus. Bagi mereka yang bersedia mengambil resiko, iman dapat melihat kehadiran Allah dalam manusia Yesus.
 
Refleksi
Anak Itu (Yesus) adalah Sumber Kehidupan. Demikian tema kotbah yang disampaikan. Yesus sebagai satu-satunya Anak Allah yang menjadi manusia dan diam diantara manusia. Dalam prolog Injil Yohanes ini dengan jelas dinyatakan bahwa perbuatan Allah itu tidak dibatasi oleh waktu, bagaimana Firman itu menjadikan alam semesta dan Firman itu juga telah menjadi daging dan diam diantara manusia. Firman itu hadir memberikan terang dalam kegelapan dan Firman itu datang memberikan kehidupan karena Dia adalah Sang Sumber Kehidupan.
 
Pada masa perayaan Natal kita merayakan kehadiran Yesus Kristus sebagai manusia bahwa Firman itu menjadi daging. Dalam kegelapan hidup manusia yang penuh dosa, Allah hadir menjadi terang dalam hidup kita sehingga kegelapan tidak lagi menguasai kehidupan kita. Inilah yang kita rayakan bahwa Allah dengan kasihNya melenyapkan kegelapan itu sehingga melalui Yesus Kristus jalan kehidupan itu sudah tampak jelas untuk dapat kita lalui. Sudahkah kita menjadi terangNya bagi sekitar kita ?
 
Dalam Mazmur 119: 105 dikatakan “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”. Hanya Firmanlah yang mampu menuntun kita ke jalan kehidupan. Karena sedemikian kebaikan Tuhan ternyata tidak semua manusia percaya kepadaNya, namun yang percaya dalam namaNya diberi kuasa menjadi anak-anak Allah. Hidup sebagai anak-anak Allah maka kita menerima didikan, tuntunan, pengajaran dan sumber kehidupan dari Tuhan. Karena itu, bukan lagi keraguan, kebimbangan, ketakutan dan kecemasan yang ada pada anak-anak Allah karena mengandalkan kekuatan dari Tuhan Sang Sumber Kehidupan.
 
Jikalau sedemikian besar kasih karunia dan kebenaran Tuhan yang menyelamatkan dan yang mengubah kehidupan di dalam Yesus yang telah kita terima, apakah yang dapat kita lakukan sebagai bentuk komitmen kita untuk memuliakanNya ? Bersorak-sorak memuji Tuhan (Masmur 98:1-9) merupakan hal yang patut dilakukan melalui aksi nyata dalam kehidupan setiap hari. Lihatlah, ornamen natal di mana-mana, lagu natal dan lagu rohani banyak diputar dimana-mana. Yang menjadi pertanyaan adalah : Bagaimanakah kehadiran Yesus, Sang Firman yang menjadi manusia mengubahkan kehidupan kita ?
 
Selamat menemukan makna natal di tahun 2016 ini.
 
Pdt. Chrismori Br Ginting
Runggun Yogyakarta
 

Khotbah Jesaya 9:2-7, Sabtu 24 Desember 2016

Renungan

Invocatio :
Kalak si ringan ibas gelap, enggo ngidah terang si mbelin e! 
Man kalak si ringan i bas taneh si ikuasai kematen enggo mbincar terang e” (Matius 4:16)
 
Ogen :
Titus 2:11-14 (Anthiponal)

Tema :
Terang E Enggo Reh!”
 
 
Pendahuluan
Yohanes 8:12 “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." Yesus menyatakan dirinya dengan kalimat Ilahi "Akulah (Yunani, "εγω ειμι - egô eimi", Ibrani, אֲנִי־הוּא - ANI HU) Terang Dunia". Yohanes 1:4-5 "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya". Yesus Kristus Terang Dunia, terang dari hidup! Dia adalah terang dari segala pengertian dan pengetahuan.
 
Yohanes 14:6 “Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." Ucapan di dalam Yohanes 8:12; 14:6 “AKULAH” tersebut merupakan kata yang jika didalam TANAKH Ibrani (Torah - Nevi'im - Ketuvim) hanya lazim diucapkan oleh YHVH, Allah Israel (bnd. Yesaya 43:11 “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.”)
 
Banyak yang berkata “disana ada terang/ jalan atau saya bisa menunjukkan terang/jalan” tetapi tidak dapat berkata “Akulah Terang atau Akulah Jalan”.

Pemahaman umum menyatakan bahwa sebatang pohon dapat tumbuh kalau ada proses fotosintesis; dimana daun memasak makanan yang diserap oleh akar dengan cahaya matahari atau dengan terang. Dengan hal yang sederhana tersebut kita bisa melihat bahwa pentingnya terang tersebut. Sebuah eksperimen terhadap tikus pernah dilakukan, tikus pertama ditempatkan di sebuah wadah kaca tertutup yang diisi dengan air dan ditempatkan di tempat yang gelap, maka tidak lama berselang tikus tersebut mati. Sedang tikus yang kedua ditempatkan ditempat yang sama hanya di salah satu sudut wadah tersebut ada cahaya terang. Dibandingkan dengan tikus pertama maka tikus kedua lebih bertahan hidup, walaupun pada akhirnya mati juga. Itu artinya terang memberi harapan. Dan banyak lagi peranan terang tentunya.
 
Isi
“Yesaya” berarti “Tuhan adalah keselamatan” dan dia adalah nabi keselamatan ditengah-tengah suramnya kehidupan moral Yehuda pada saat itu. Yesaya menuliskan berita sukacita dengan mengatakan, "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar, mereka yang diam di negeri kekelaman atasnya terang telah bersinar"(Yes 9:1). Ayat ini menguatkan bahwa sesungguhnya kalau Yesus itu tak pernah ada, maka kita ini adalah orang-orang yang tetap berada dalam kegelapan, ada dalam kekelaman, ada dalam kematian yang kekal, menjadi hamba Iblis. Tetapi Tuhan Allah telah berkenan datang dan menjumpai kita seperti ditulis dalam Yesaya 9:5 "seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan kepada kita" itulah Dia, Yesus yang kita peringati dalam peristiwa natal hari ini.
 
Tetapi nubuatan tersebut muncul karena situasi Israel pada saat itu dibawah pimpinan Raja Ahas yang penuh dengan kegelapan dan pemberontakan kepada Allah. Di dalam 2 Taw. 28:5-8 menyatakan bahwa banyak kota Yehuda hancur dan ratusan ribu orang tewas, tetapi Yerusalem belum dapat dikuasai. Ancaman dan serangan dari persekutuan raja Aram dan raja Israel Utara ini membuat Ahas dan penduduk Yerusalem gemetar (Yes. 7:2). Raja Ahas bukannya memohon pertolongan dari Tuhan; dia malah meminta pertolongan kepada raja Asyur tadi (2 Taw. 28:16), dan malah memberikan banyak upeti kepada raja Asyur tersebut (2 Taw. 28:21). Apakah permasalahan Ahas dan Yehuda selesai? Tidak! Karena ternyata raja Ayur yang telah dibayarnya itu datang bukan untuk menolong dia, melainkan menyesakkannya (2 Taw. 28:20). Ternyata “bayaran” tidak menjamin datangnya pembebasan, kedamaian, dan keberhasilan, malah sering menjadi “bumerang” bagi pemberi dan penerimanya.
 
Dalam situasi kritis seperti inilah Yesaya tampil sebagai nabi Tuhan untuk mengajak raja Ahas dan segenap rakyatnya agar merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan Yesaya juga sekaligus menyampaikan berita pengharapan keselamatan. Yesaya meyakinkan raja Ahas bahwa rencana raja Aram dan raja Israel Utara itu tidak akan berhasil, termasuk ancaman besar dari Asyur, sebab Allah telah berjanji kepada raja Daud bahwa tahta kerajaannya hanya akan diduduki oleh keturunannya saja (2 Sam. 7:12-16). Raja Ahas sangat takut pada waktu itu, dia tidak percaya akan perkataan Yesaya, sehingga Allah, melalui Yesaya, memberikan dia tanda. Tanda itu diungkapkan oleh Yesaya di dalam Yes. 7:14-17.
 
Seperti umumnya nubuatan dalam Perjanjian Lama, nubuatan ini terpenuhi dalam waktu yang dekat dan di kemudian hari. Dalam waktu dekat, tanda itu terjadi, dan itulah yang diungkapkan di pasal 9:1-7. Munculnya raja Hizkia, anak Ahas, membawa harapan baru. Pada zaman Hizkia ini keadaan Yehuda jauh lebih baik, karena dia melakukan pembaharuan dalam banyak bidang kehidupan, dan memilih untuk lebih takut akan Tuhan (lih. 2 Taw. 29 dst). Ucapan Allah tentang penghancuran musuh-musuh umat Allah juga dibuktikan-Nya dengan kekalahan Aram dan Israel Utara yang tadinya menjadi ancaman serius bagi bangsa Yehuda. Kerajaan Asyur yang pada zaman Hizkia berada di bawah kekuasaan raja Sanherib masih mengancam Yehuda dan Yerusalem, dibuat jatuh oleh kekuasaan Tuhan, dan malah raja Sanherib itu dibunuh oleh anak kandungnya sendiri (lih. 2 Taw. 32:20-23). Itulah maksudnya “Imanuel”, Tuhan menyertai umat-Nya. Dan, itulah maksud dari perkataan Yesaya 9:1-6 [2-7], dengan penekanan utama pada datangnya sukacita, dan kelahiran raja dari keturunan Daud yang memerintah umat Tuhan.
 
Namun, Yesaya tidak berhenti sampai di situ. Dia memperkirakan bahwa anak itu akan lahir pada masa yang akan datang, yang akan memerintah dalam tahta Daud dan menegaskan bahwa penggenapan nubuatan ini terjadi melalui Maria dan Yusuf dengan peristiwa kelahiran Yesus.
 
Aplikasi
Uga nge natal selama enda, natal guna Yesus Kristus nge ntah Natal guna ndemi program Runggun, ntah kin natal guna kepuasenta saja? Bagaimanakah Natalnya Tuhan itu mewujud? Merayakan Natal bukan dengan kemewahan dan pesta pora ataupun segala pernak pernik ornamen Natal yang glamour melainkan dalam kesederhanaan dan keprihatinan serta berupaya menghadirkan shalom/damai sejahtera Natal bagi mereka yang ada dalam kesepian, kesulitan dan penderitaan. Jikalau natal hanya menghabiskan anggaran sampai berpuluh juta setiap Runggun tetapi hanya “numpang lewat saja”, untuk apa?
 
Kita berharap natal itu akan menjadi natalnya Tuhan ketika Natal itu menghadirkan damai yang dasarnya adalah keadilan dan kebenaran. Kata ‘damai’ itu sendiri bagi Yesaya bukan sekedar absennya perang, tetapi hadirnya shalom yang berarti sangat luas yaitu terjadinya rekonsiliasi antara serayan dengan jemaat, jemaat dengan jemaat, anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lain, dst. Maka seharusna min gelah tuhu-tuhu dame kita kerina, bere gelah ingan man Yesus Kristus ibas geluhta guna ngkuasai kita, ula pediat IA tubuh ibas “karang asuh-asuhen” sierbahanca maka “habis tempat” IA ibas pusuhta.
 
Senina ras turang, Terang itu sudah datang 2000 tahun yang lalu, tetapi apakah hati kita saat ini sudah ‘terang’? Raja Damai itu sudah berinkarnasi menjadi manusia lebih dari 2000 tahun yang lalu, tetapi apakah hati kita sudah penuh dengan damai? Tetapi pada kenyataannya Raja Damainya sudah datang 2000 tahun yang lalu, tetapi masih ada banyak orang hari ini yang belum juga damai. Terangnya sudah hadir tetapi masih ada yang masih hidup dalam kegelapan. Ingatlah tema penting dari kitab Yesaya adalah tentang Kekudusan, ingatlah bahwa di dalam Ibrani 12:14 “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” Mat 5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
 
Apakah natal masih berarti bagi kita sesuai dengan artinya yang sungguh-sungguh? Tergantung apakah Yesus masih mempunyai arti bagi kita? Kalau Yesus tidak mempunyai arti, dampak, pengaruh yang real dalam hidup kita maka betapapun khusyuknya atau betapaun meriahnya acaranya tidak akan mempunyai arti yang sesungguhnya bagi kita.Apakah Yesus mempunya arti bagi kita? Kelahiran-Nya, kehidupanNya, kematianNya juga kebangkitanNya? Dalam Yesaya 9:5 “” Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang, Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Penasihat yang ajaib lebih tepat diterjemahkan mempesona. Tetapi apa yang mempesona dari seorang anak tukang kayu, lahir di kandang binatang, dibesarkan di desa yang miskin yang jauh dari kota, yang mengunjungi sewaktu lahirpun tidak banyak yang diakonia, bekerja pun tidak genap 3 tahun, mati dalam usipa muda, disalibkan di antara dua penjahat, dan ditinggalkan oleh murid-murid serta para sahabat-Nya?

Sudah saatnya kita membuat pilihan disertai komitmen, memilih antara terang atau gelap? Tidak ada pilihan lain diantara kedua sisi tersebut dan tidak akan pernah bersatu antara terang dan gelap dalam arti rohani.

Salam Damai Natal

Pdt. Dasma Sejahtera Turnip
Runggun Pontianak
 

Khotbah Roma 1:1-7, Minggu 18 Desember 2016

Renungan

Invocatio :
Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan 
setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal (Roma 6 : 22).

Bacaan :
Mazmur 80 : 1 - 7

Thema :
IA adalah Anak Allah yang berkuasa
 

PENDAHULUAN
Minggu Advent IV merupakan Minggu Advent terakhir sebelum Natal. Minggu-minggu Advent, artinya minggu-minggu menantikan kedatangan Sang Kristus, Sang Mesias. Kedatangan Sang Kristus yang dinantikan bukan hanya dalam kelahiran-Nya tetapi juga dalam kedatangan-Nya kedua kali sebagai Hakim yang Agung. Bagaimana sikap kita dalam masa-masa penantian tersebut ? Seperti menanti kelahiran seorang anak, tentu kita telah menyiapkan segala barang perlengkapan yang dibutuhkan, biaya, juga mental si ibu dalam menanti kelahiran sang anak. Tentunya juga sejalan dengan itu persiapan menanti kedatangan Yesus kedua kali dilakukan juga. Iman dan kesetiaan kita menentukan terhadap persiapan penantian.
 
ISI
Orang Kristen telah menjadi hamba Kristus yang aktif dalam menyerahkan diri kepada Allah, karena Kristus telah menjadikan kita hamba kebenaran yang sedang menjalani proses pengudusan. Yesus mati dan bangkit untuk keselamatan dan pengudusan kita. Dan inilah yang menjamin kita memperoleh hidup yang kekal (invocatio).
 
Masmur kesaksian Asaf ini adalah doa untuk keselamatan bangsa Israel. Bangsa Israel pada saat itu telah ditaklukkan Kerajaan Asyur (722 SM). Asaf adalah kepala pemain musik yang melayani di rumah Tuhan. Asaf melalui masmurnya memohon pertolongan Tuhan, Allah semesta alam. PeMasmur mengakui bahwa hanya kuasa Tuhan yang dapat membebaskan bangsa Israel (kerajaan Utara) dari penderitaannya (bacaan).

(Ayat 1) Paulus menyadari bahwa Yesus telah mengasihinya, bahkan mengorbankan diriNya untuk Paulus. Oleh karena itu ia tidak lagi menganggap dirinya sebagai milik pribadinya sendiri, tapi sebagai hamba Yesus Kristus, yang akan melaksanakan tanggung jawabnya dengan kerelaan dan ketulusan hati Paulus. Paulus benar benar menunjukkan kehidupan yang telah menyatu dengan Kristus.
 
Sebagai rasul, Paulus telah mendengar dan menjawab panggilan Yesus kepadanya ( Kis. 9 : 1 - 31 ). Bahkan Paulus menekankan makna panggilan itu dalam hubungannya dengan penyerahan dirinya secara total kepada Tuhan, ia menyatakan, "jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan. Dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan" (Bd. Roma 14:8).
( Ayat 2 - 4 ) Paulus menyatakan kepada jemaat Roma melalui suratnya tentang Injil Allah, bahwa sudah dinubuatkan Allah sebelumnya melalui nabi - nabiNya dalam kitab suci yang tertuju kepada karya Allah untuk menyelamatkan dunia ini (bd. Yes. 9,11; Yer. 23, Mika 5, dll). Nubuatan tersebut hanya mengarah kepada Yesus Kristus, Immanuel (Mat. 1:23), yang menjadi juruselamat dunia (Yoh. 4:42). Ia adalah Anak Allah yang berkuasa yang dinubuatkan, diperanakkan dari keturunan Daud menurut daging dan menurut Roh Kekudusan dinyatakan dengan kebangkitanNya. Kematian serta kebangkitanNya, menunjukkan bahwa Ia mati terhadap dosa (Roma 6) dan bangkit mengalahkan kematian untuk memberikan hidup yang kekal kepada setiap orang yang percaya kepadaNya ( Yoh. 6.47). Jadi, kesaksian tentang Injil adalah kesaksian tentang Allah yaitu Yesus Kristus. Inilah yang harus disaksikan ke seluruh dunia (bd. Mat. 16:16.).
 
(Ayat 5 - 6). Paulus menyatakan bahwa ia dan rekan kerjanya telah menerima kasih karunia Allah dengan perantaraan Yesus Kristus. Kasih karunia tersebut yang mengampuni dan menyelamatkannya. Kasih karunia tersebut yaitu dengan pengorbanan diri Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya dari antara orang - orang mati. Ini menunjukkan kasih Allah yang begitu besar akan dunia ini ( Yoh.3:16). Dengan perantaraan Yesus Kristus, Paulus dan teman temannya menerima jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa agar percaya dan setia kepadaNya.
 
(Ayat 7) Harapan Paulus, orang orang yang percaya di Roma adalah orang - orang yang dikasihi Allah dengan pengampunan, yang dipanggil dan dijadikan orang - orang kudus karena kasih Allah disertai kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah dan Yesus Kristus. Mereka adalah milik Allah dan hidup di bawah kerajaanNya dan melayani Allah denga kesetiannya.
 
Aplikasi
Di minggu Adven ke IV ini kita diajak agar tetap melakukan kehendak Allah sebagai anak - anakNya yang beriman dengan menunjukkan :
• Hidup dalam pengharapan kepada Allah walaupun banyak menghadapi tantangan namun tidak dapat menggoyahkan iman kita kepada Allah.
• Ikut mengambil bagian dan mendukung dalam pelayanan - pelayanan gereja begitu juga persiapan perayaan natal tahun ini.
• Yesus Kristus adalah anak Allah dan Juruselamat dunia yang sedang mempersiapkan tempat di rumah Bapa di surga untuk kita (Yoh. 14) dan menjadi Hakim yang adil pada kedatanganNya yang kedua kalinya (Mat. 25). Semua nama akan bertekuk lutut kepadaNya dan semua lidah akan mengaku bahwa Ia adalah Tuhan (Flp. 2:10-11). Oleh karena itu jangan terpengaruh dengan ajakan kuasa kuasa yang ada di dunia ini. Tetaplah percaya dan setia kepadaNya sampai mati.
• Jadilah agen perdamaian bagi dunia. Berdamai dengan diri sendiri, sesama manusia, alam dan Allah.
 
Pdt. Nur Elly Tarigan
Karawang
 

Khotbah Yesaya 35:1-10, Minggu 11 Desember 2016

Renungan

Invocatio :
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, 
mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala seuatu. (1 Korintus 13:7)

Bacaan :
Yakobus 5:7-10 (Tunggal)

Tema :
Kuatkan Hatimu Jangan Kamu Takut, TUHAN akan Datang
(Piherken Ukurndu Ola Kam Mbiar, Reh Me Dibata)
 
 
I. Pendahuluan
Yesaya berarti Tuhan adalah keselamatan dan Yesaya disebut nabi keselamatan. Yesaya 35:1-10 merupakan bagian dari kitab Yesaya pertama (psl. 1-39), berisi kabar buruk tentang datangnya penghakiman TUHAN. Sebab banyak orang Israel telah menolak TUHAN dengan menyembah ilah lain dan mempersembahkan kurban kepada berhala kayu dan batu.

Para pemimpin Israel membuat perjanjian dengan kekuatan-kekuatan asing. Mereka tidak percaya kepada TUHAN sebagai satu-satunya yang mampu menyelamatkan mereka perintah TUHAN yang pernah disampaikan oleh Musa mereka tolak, keadilan yang seharusnya mereka lakukan untuk kaum lemah atau yang kekurangan tidak mmereka lakukan. Malahan mereka memnindas orang-orang yag lemah atau kekurangan.
 
Waktu Yesaya memulai pekerjaannya, Israel sedang diambang kehancuran. Tahun 722 SM kerajaan Utara dengan kesepuluh sukunya dikalhkan oleh bangsa Asyur (2 Raja-raja 17). Tetapi kerajaan selatan Yehuda menuju nasib yang sama. Secara sosial, politis mereka sudah rusak demikian juga iman percaya mereka.
 
Kerejaan Utara telah dihukum dan musnah. Tetapi Yehuda berbeda. Bangsa ini harus dihakimi, sebab adanya perjanjian abadi TUHAN, maka Yehuda akan diselamatkan. Dan pada suatu saat dari Yehuda akan datang seorang Hamba TUHAN, sang Juruselamat akan menyelamatkan bukan hanya Yehuda, tetapi seluruh dunia.KedatanganNya (Raja damai-Yesus Kristus-Mesias) akan memberikan kebebasan dan kedamaian bagi mereka yang sedang tertindas dan menderita di tanah pembuangan (Babel).

II. Isi
Dalam perikop khotbah kitab Yesaya 35:1-10 berisikan 4 peristiwa besar, yaitu :
1. Pemulihan Tanah (ayat 1-2)
Pada bagian ini merupakan gambaran alam yang bersukacita, ada kehidupan baru yang disambut dengan sorak sorai kemenangan. Bermekaran tumbuhan melambangkan kehidupan baru bagi jiwa-jiwa yang sudah ditebus. Dari tanah yang gersang tak berbuah dan mati secara rohani muncul bunga mawar indah dari iman yang baru bersemi. Kemuliaan Libanon akan diberikan kepadanya, semarak Karmel dan Saron (Karmel dan Saron merupakan daerah perbukitan dan pengunungan) akan memperlihatkan kemuliaan TUHAN.
 
Yesaya ingin menunjukkan kepada Israel bahwa kekuatan TUHAN tidak ada tandingannya dengan kekuatan bangsa-bangsa lain yang mereka andalkan, sebab TUHAN adalah Sang Pencipta segalanya. Dan tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh TUHAN atas segala ciptaanNya. TUHAN akan memulihkan segala sesuatu yang sudah ‘hancur’ dalan kehidupan umatNYa (bd. Yes. 2:1-2).
2. Penyembuhan Umat (ayat 3-6)

Nabi Yesaya mengingatkan bangsa Israel agar tetap teguh, kuat dan tetap beriman serta percaya kapada TUHAN Sang Penguasa dunia walau pun kondisi kehidupan mereka sangat berat beban dan penderitaan yang mereka alami di tanah pembuangan. Yesaya juga mengingatkan bahwasananya TUHAN sendiri yang akan membalas perbuatan yang telah dialami oleh bangsa Israel dengan menyuruh Malaikat TUHAN (bd. Yes. 37:33-38).
 
Dalam ayat ini juga adanya gambaran bahwa jaminan menghibur umat yang berputus asa dan berkecil hati (orang buta akan dicelikkan, yang tuli akan dibuka, yang lumpuh akan melompat dan yang bisu akan bersorak-sorai), TUHAN akan campur tangan dalam setiap kejadian-kejadian yang menyengsarakan umatNya. Adanya pengharapan yang tetap kepada TUHAN dan kesabaran untuk menantikan janji TUHAN yang memberi pemulihan dan kesembuhan (bd. Yak. 5:7-10).

Penyembuhan yang dilakukan TUHAN untuk umat tidak hanya secara fisik tetapi menyangkut tubuh dan jiwa. Sebab penyembuhan yang diberikan TUHAN sebagai mujizat bagi umatnya, yang tidak mungkin bisa dilakukan umat tetapi tidak ada yang tidak mungkin dihadapan TUHAN, sebab Kasih TUHAN tidak akan berubah, kemarin, hari ini dan sampai selamanya (bd. 1 Kor. 13:7 ; Ibrani 13:8).
 
3. Pemulihan Tanah II (ayat 7)
Tanah berhubungan dengan milik pusaka dan tanah juga berhubungan dengan domba-domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada lagi yang mengganngu, ada rasa aman. Bagian ini mengambarkan adanya pemulihan rohani bagi umat. Pemulihan dari keadaan yang ‘rusak dan hancur’ pada umat (bd. Zef. 3:20c) atau adanya restorasi. Pemulihan akan terjadi anatara TUHAN dengan umatNya, persekutuan TUHAN dan umat akan dipulihkan. Oleh sebab ini kehidupan umat TUHAN yang sudah dipulihkan mampu untuk memperjelas akan kasih TUHAN, dalam pelayanan dan doa-doa.
 
4. Jalan Raya Kekudusan (ayat 8-10)
Nabi Yesaya menasehati umat Israel agar mereka tetap menjaga kekudusan hidup sebab hanya dengan kebenaran TUHAN akan menjadi jalan raya yang kudus setiap orang yang menerimanya. Karena dosa orang Israel, maka mereka dihukum oleh TUHAN dengan cara dibuang ke Babel (singa dan binatang buas). Tetapi jika mereka mau bertobat maka mereka akan dibebaskan dari sana dan diizinkan untuk kembali ke Sion (kampung halaman mereka). Walau pun tidak mudah bagi orang Israel hidup ditengah-tengah negeri yang tidak menyembah TUHAN, tapi Yesaya tetap menyakinkan mereka agar menjaga kekudusan hidup dan ketaatan dalam perintah TUHAN. Sebab umat yang sudah ditebus akan hidup menurut jalan kudus, dimana kekotoran moral akan ditiadakan, demikian juga singa-singa rakus yang melambangkan kejahatan iblis. Setiap orang yang berjalan di jalan kudus tidak akan pernah tersesat, bahkan orang-orang yang pergi ke Kota Kudus melalui jalan raya kudus dari Babel (kota kebinasaan) akan merasakan sukacita khusus yang tidak dikenal oleh dunia. Dengan nyanyian tersebut dunia akan mengenal siapa TUHAN yang menjadi andalan setiap orang yang percaya.
 
III. Aplikasi
Setiap manusia pasti menginginkan kebahagian dalam hidupnya. Sehingga manusia akan selalu berusaha untuk memperolehnya. Tapi terkadang untuk memperolehnya manusia sering melakukan dengan cara-cara yang tidak benar. Dalam minggu masa Adven III ini, masa dimana kita kembali diingatkan untuk mempersiapkan diri akan kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, Firman TUHAN mengingatkan kita bahwa kebahagiaan hidup tidak selamanya tergantung dari hal-hal yang lahiriah, apa yang kelihatan mata saja. Tetapi ada hal yang lebih penting yaitu bagaimana kita tetap hidup dalam TUHAN. Setia dalam perjalanan hidup bersama TUHAN walau pun itu tidak membuat kita bahagia secara lahiriah.
 
Perjalanan hidup orang Israel yang digambarkan kitab Yesaya membuktikan bahwa hanya dalam TUHAN yang mampu mengubah kehidupan manusia lebih bahagia, tidak hanya secara lahiriah tapi jiwa dan roh yang ada pada setiap manusia yang mengandalkan TUHAN akan lebih disempurnakan. Kuatkan hatimu jangan takut, TUHAN akan datang menjadi tema minggu ini mengingatkan kepada kita sebagai anak-anak TUHAN yang sudah ditebus mampu untuk tetap bertahan dan setia dalam perjalan hidup ini. Walaupun tidak mudah dengan kondisi-kondisi lingkungan yang terkadang bisa membuat kita lemah. Dalam bacaan juga Yakobus mengingatkan kita untuk tetap mampu mengisi hidup kita dengan kuat sampai Tuhan Yesus datang kedua kali. IMANUEL
 
Pdt. Mea Br Purba
Runggun Cibubur
 

Khotbah Roma 5:4-13, Minggu 04 Desember 2016

Renungan

Invocatio :
Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih 
karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. (Roma 5:2).

Bacaan :
Yesaya 11:1-19 (Tunggal)

Tema :
"Tetap Teguh Di Dalam Pengharapan"
 

Pendahuluan
Ada pendapat yang mengatakan "Kristen identik dengan penderitan." Menjadi kristen berarti tidak bebas beribadah, tidak bebas membangun gereja, kecil peluangnya menduduki posisi jabatan penting, dikucilkan, di bom, di teror, hati-hati ngomong, dipersalahkan, dipenjarakan dll. Demi iman tokoh tokoh rohani di dalam Alkitab mengalami banyak penderitaan; mengalami penderitaan..., di ejek dan di dera, dibelenggu, dipenjarakan, dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang, dll (bd. Ibrani 11:35-37). Tidak mungkinkah keadaan yang dialami orang kristen menjadi lebih baik? Di dalam kitab 1 Petrus 1:6-7, Petrus menuliskan "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya." Orang kristen yang berkualitas terbaik teruji kemurnian imannya , yaitu ketika di dalam segala perkara senantiasa ada iman yang pasti dan teguh yang hanya percaya dan berpengharapan kepada pertolongan Yesus kristus. Penderitaan adalah paket hidup orang kristen, apabila ia setia dan tetap dalam pengharapan maka tidak ada penderitaan yang lebih besar dari pada pengharapan oleh karena keuntungan dalam kebangkitan Kristus.
 
Pembahasan
Pada saat Firman Tuhan ini disampaikan Rasul Paulus, ia sedang mengalami banyak penderitaan dan penolakan oleh karena imannya, dan situasi di Roma sangat sulit menjadi orang kristen. Sebenarnya kesengsaraan oleh karena menjadi kristen bukan hanya di Roma tetapi hampir di semua tempat dan di sepanjang jaman. Penderitaan dapat menyesatkan orang kristen apabila mereka menjadi lemah dan gelap melihat hari depan (bd. Mat. 24:4), tetapi dalam pandangan iman yang positif penderitaan itu sebagai awal dari zaman baru, sebab orang percaya meskipun masih di dalam dunia tetapi sudah hidup dalam zaman keselamatan. Yesus mengingatkan penderitaan adalah ancaman yang dapat membuat orang kristen murtad dari imannya. (bd. Mat. 24:8-10).
 
Rasul Paulus mengajak orang kristen di Roma melihat kesengsaraan dalam pandangan yang baru, "berbesar hati" dan tetap tekun. Menerima kesengsaraan, bukan pasrah sebagai nasib, tapi tahan uji di dalam kesengsaraan, berjuang memenangkannya dengan tetap berpengharapan. Pengharapan orang percaya dapat tumbuh dan menjadi lebih besar dan kuat dengan cara menerima kehidupan Yesus dalam penderitaan, kematian dan kebangkitannya serta kenaikanNya ke Sorga. Apa yang dialami Yesus harus menjadi iman orang percaya, sehingga apa yang dialami Yesus diterima sepenuhnya dan menjadikannya menjadi kehidupannya. Pada saat ini kita berada pada tahapan hidup Yesus yang mengalami penderitaan di bumi tetapi kita sudah mengalami penebusan (peneguhan, penguatan dan pemurnian) pada saat kita menerima kematian dan kebangkitan Yesus.
Orang percaya hendaknya mengenal dirinya sebagai orang yang kuat, jangan cengeng karena kesengsaraan, jangan gelap hati dan gelap mata karena penderitaan, jangan mengeluhkan penderitaan. Rasul Paulus mengingatkan ketika dosa menguasai hidup orang kristen membuatnya lemah, tetapi Yesus melalui pengorbanannya telah menebus dosa dan pelanggaran itu, itulah yang membuat orang kristen kuat dan memiliki pengharapan yang memampukannya untuk menggumuli semua penderitaan.
 
Orang yang menerima pengorbanan Kristus, yang percaya bahwa Kristus sudah mati baginya pada saat ia masih seteru Allah, mereka meyakini sepenuhnya bahwa Allah peduli dan penuh kasih dan akan tetap berpihak menolongnya. Penderitaan-penderitaan yang dialami orang kristen bukanlah karena penghukuman Allah, sebab orang kristen adalah orang yang dikasihi Allah dan telah menerima pendamaian. Dosalah yang menyebabkan penderitaan dan yang membuat orang kristen lemah tidak memiliki pengharapan.
 
Refleksi
Keadaan tanpa gangguan atau tanpa kesengsaraan janganlah membuat orang kristen terbuai, lalai memperhatikan pertumbuhan imannya. Kualitas iman yang luar biasa harus tetap menjadi perhatian dan perjuangan orang kristen. Iman yang tangguh adalah iman yang berpengharapan, yang melihat hari depan sebagai tujuan, sehingga hari ini adalah saat untuk berjuang ke arah tujuan yang berkemenangan.
 
Jangan hidup lagi di dalam dosa, jangan tergoda oleh rayuannya dan tawarannya, sebab dosa melemahkannya, sehingga ketika kesengsaraan datang akan melumpuhkannya. Dosa membuat orang berpikir negatif, hatinya tidak tentram, dendam, permusuhan, dan tanpa pengharapan sehingga ada orang yang oleh karena pergumulannya mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak wajar. Kita tidak pernah tahu seberapa besar pergumulan yang akan datang, karena itu kita harus memiliki kepastian kekuatan.
 
Kata Yesus kepada murid-muridNya: "Bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari." (Mar. 8:31). Jalan hidup Yesus telah di tetapkan Allah, tidak ada pilihan bahwa cawan penderitaan itu harus di laluiNya, tetapi karena Ia setia maka berakhir pada kemenangan. Yesus adalah teladan hidup orang kristen, tidak ada penderitaan lain yang lebih besar dari penderitaan yang pernah dialami Yesus, tapi tidak ada juga kepastian kekuatan untuk memenangkan penderitaan selain tetap berpengharapan seperti kemenangan yang di terima Yesus sesudah Ia melewati semua penderitaan. Karena itu orang percaya adalah orang yang memiliki kepastian berkemenangan menghadapi semua pergumulannya, apabila ia menghidupkan kehidupan Yesus di dalam hidupnya.
 
Pdt. Ekwin Ginting
Runggun Sitelusada
 

Page 3 of 60

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 55 guests online