Khotbah Lukas 4:14-21, Minggu 24 Januari 2016

Renungan

Invocatio :
Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita.  Ia telah mati dan dikubur,   dan kuburannya masih ada pada kita  sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya (Kisah Para Rasul 2:29-30)

Bacaan:
Nehemia 8:1-10 (Tunggal)

Thema : 
Tuhan Menggenapi JanjiNya

I. Pengantar
Janji merupakan ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat (seperti hendak memberi, menolong, datang, bertemu). Karena itu, janji harus ditepati, dilaksanakan. Berbicara tentang janji adalah hal yang tidak mudah. Karena, banyak orang yang mudah untuk menyatakan janjinya tetapi sulit untuk melakukannya. Ada sebuah ungkapan “janji adalah hutang.” Artinya saat kita mengucapkan janji maka kita dituntut untuk menepati janji yang kita ucapkan itu. Tentu kita ingat saat sidi, kita pernah berjanji menjadi pengikut Yesus yang setia. Kita berjanji menjadi warga dewasa yang ikut bertanggung jawab dalam tumbuh dan berkembangnya jemaat. Ketika kita menikah, kita berjanji untuk setia pada pasangan dalam keadaan suka dan duka. Waktu kita membaptiskan anak, kitapun berjanji untuk menjadi orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik dan meneladankan nilai-nilai iman kepada anak-anak. Janji yang kita ucapkan dengan disaksikan oleh jemaat menjadi janji kita kepada Tuhan. Kita belajar bukan sekedar berani mengucapkan janji itu, tetapi juga mampu melakukan apa yang menjadi janji kita itu.

II. Tafsiran Lukas 4:14-21
Ayat 14-15 “Yesus kembali ke Galilea”
Setelah Yesus menjalani kehidupan selama 40 hari tanpa makan di padang gurun dan di situ iblis mencobai Dia (Lukas 4:1-13), maka oleh kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Injil Lukas memberi tempat yang istimewa bagi Roh Kudus sebagai kuasa Allah yang berkarya di dunia ini. Berbagai mujizat dilakukan oleh Roh Kudus, seperti dialami perawan Maria ketika mengandung bayi Yesus, Roh Kudus membimbing manusia (Lukas 1:35;  4:1,14). Lukas menampilkan Roh Allah yang membimbing pekerjaan manusia, termasuk karya Yesus. Galilea merupakan daerah tempat tinggal Yesus. Pada masa ini, Galilea dikuasai oleh kekaisaran Roma yang menduduki daerah itu sejak tahun 63 SM.
Kemudian tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Yesus mengajar di rumah-rumah ibadat, yaitu sinagoga. Sinagoga berasal daribahasa Yunani, artinya perkumpulan. Dalam Alkitab, Sinagoga menunjukkan kepada suatu kelompok yang berkumpul bersama untuk beribadat. Di Sinagoga mereka berkumpul untuk beribadat, belajar dan menjaga identitas kelompok mereka. Sinagoga menjadi tempat yang penting bagi peribadatan Yahudi dan kehidupan komunitas di daerah-daerah sekitar Laut Tengah.

Yesus dipuji oleh mereka yang hadir di Sinagoga, hal ini menggambarkan keberhasilan Yesus. Salah satu tema yang menarik perhatian Lukas ialah Yesus mengajar. Lewat tema ini Lukas hendak menegaskan wibawa Yesus dalam pengajaranNya kepada umatNya tentang Allah dan rencanaNya. Selaku guru, Yesus tentu saja mempunyai murid yang memandang cara hidupNya sebagai pola hidup mereka sendiri. Dengan menampilkan Yesus sebagai guru yang mengajar di Sinagoga Yahudi, Lukas menekankan adanya kesinambungan antara ajaran Yesus dengan apa yang sejak dahulu dijanjikan Allah kepada Israel.

Ayat 16-17 Yesus mengajar di rumah ibadat ‘sinagoga’
Yesus datang ke Nazaret yang merupakan sebuah kota kecil di Galilea yang merupakan tempat tinggal Yusuf, Maria dan Yesus dibesarkan di kota itu. Wajarlah jikalau Yesus mengunjungi Nazaret tempat ia dibesarkan, dan itu menuntut suatu keberanian. Tempat yang paling sukar bagi seorang pengkotbah ialah gereja tempat ia hidup sebagai seorang anak; tempat yang paling sukar bagi seorang dokter untuk menjalankan tugas ialah dimana orang mengenalnya ketika ia masih muda. Namun, Yesus tetap pergi juga ke Nazaret.

Hari itu adalah hari Sabat, hari istirahat bagi orang Yahudi. Sabat adalah hari ke tujuh dalam satu pekan. Pada hari itu, Allah beristirahat, setelah menciptakan dunia (Kejadian 2:2-3). Menurut kebiasaaaNya, pada hari Sabat ia masuk ke rumah ibadat. Kebiasaan Yesus yang baik ini merupakan hal yang sangat patut ditiru (bdk.Ibrani 10:24-25). Hal ini merupakan caraNya memperingati Sabat sesuai dengan peraturan  Perjanjian Lama guna mengindahkan hari itu suci bagi Tuhan.  Lalu Dia berdiri hendak membaca Alkitab. Alkitab yang dimaksudkan adalah Alkitab Ibrani, yakni Perjanjian Lama.Yesus berdiri ketika membacakan Alkitab (ayat 16), tetapi duduk pada waktu berkotbah (ayat 20). Ini merupakan kebiasaan saat itu. Berdiri menunjukkan  suatu sikap menghormati Firman Tuhan. Berkotbah biasanya dilakukan dengan duduk (bdk. Kis 16:13), tetapi kadang-kadang juga dilakukan dengan berdiri (Kis. 13:16). Sikap duduk atau berdiri ini sebetulnya tidak mutlak, yang penting adalah : dalam hati kita menghormati Firman Tuhan.

Yesus bisa diijinkan untuk berkotbah si Sinagoga karena dalam Sinagoga memang ada kebebasan berkotbah. Jadi, kalau pemimpin sinagoga melihat seseorang yang ia anggap bisa berkotbah, maka ia mengijinkan orang itu berkotbah (bdk. Kis. 13:15). KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya.

Ayat 18-19 “Roh Tuhan ada pada Yesus”
Yesus mempunyai hubungan yang khusus dengan Roh Kudus, suatu hubungan yang penting untuk kehidupan pribadi kita. Dalam nubuat-nubuat PL tentang kedatangan Mesias, beberapa menubuatkan secara khusus bahwa Dia akan dikuasai oleh Roh Kudus (Yesaya 11:2; 61:1-2). Ketika Yesus membaca dari Yesaya 61:1-2 dalam rumah ibadat di Nasaret, Dia mengatakan “Pada hari ini genaplah nats ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:18-21).
Dalam petunjuk Yesus mengenai penggenapan nubuat Yesaya tentang kedatangan Roh di atasNya, Dia memakai ayat yang sama untuk meringkaskan sifat dari pelayananNya sebagai pemberitaan, penyembuhan dan pelepasan (Yesaya 61:1-2; Lukas 4:16-19). Yesus mengutip Yesaya 61:1-2 ini untuk menggambarkan misiNya di dunia ini.

  1. Roh Kudus mengurapi dan memberi kuasa kepada Yesus untuk misinya. Yesus adalah Allah (Yoh. 1:1), tetapi Dia juga manusia (1 Tim, 2:5). Sebagai seorang manusia, Ia harus  mengandalkan pertolongan dan kuasa Roh untuk melaksanakan semua tanggungjawabNya di hadapan Allah (Lukas 4:1, 14).
  2. Hanya sebagai seorang yang diurapi oleh Roh dapatlah Yesus hidup, melayani dan memberitakan Injil (Kis. 10:38). Dalam hal ini Dia menjadi teladan yang sempurna bagi orang Kristen; setiap orang yang percaya hendaknya menerima kelimpahan Roh Kudus.  

Yesus menerangkan maksud pelayananNya yang diurapi Roh, yaitu :

  1. Untuk menyampaikan Kabar Baik kepada orang miskin, papa, menderita, hina, patah semangat, hancur hati, dan mereka yang “gentar kepada firmanNya”.
  2. Untuk menyembuhkan mereka yang memar dan tertindas. Penyembuhan ini meliputi segenap pribadi, baik jasmani maupun rohani.
  3. Untuk mencelikan mata rohani mereka yang dibutakan oleh dunia dan iblis agar mereka dapat melihat kebenaran Kabar Baik Allah (bdk. Yohanes 9:39)
  4. Untuk memberitakan saat pembebasan dan penyelamatan yangsesungguhnya dari kuasa Iblis, dosa, ketakutan dan rasa bersalah (bdk. Yoh 8:36; Kis. 26:18).

Semua orang yang dipenuhi Roh terpanggil untuk ikut serta dalam pelayanan Yesus dengan cara-cara demikian. Untuk melakukannya kita harus menyadari sungguh-sungguh kebutuhan dan kesengsaraan yang diakibatkan oleh dosa dan kuasa iblis yang dasyat yaitu keadaan perbudakan kepada kejahatan, kehancuran hati, kebutaan rohani dan penderitaan fisik. Kita harus sadar bahwa tanpa Kristus keadaan kita secara rohani betul-betul buruk. Jikalau kita tidak menyadari hal ini, kita tidak akan datang kepada Yesus.

Ayat 20-21 “Yesus sebagai penggenapan janji Allah”
Setelah Yesus membacakan Yesaya 61:1-2, kemudian Dia menutup kitab itu, lalu duduk serta memulai untuk mengajar. KataNya : “Pada hari ini genaplah nats ini sewaktu kamu mendengarnya”. Dengan demikian Yesus hendak menyatakan bahwa Dialah penggenapan janji Allah dalam Yesaya 61:1-2, Mesias yang digambarkan oleh Yesaya adalah diriNya sendiri. Allah berjanji, maka Dia menepati janjiNya. Kata-kata Yesus pastilah mengejutkan para pendengarNya. Mereka sudah mengenal Dia sejak kanak-kanak dan mereka menerima Dia sebagaimana adanya. Ketika Dia mengklaim diri-Nya sebagai penggenapan nubuat Mesianis ini, mereka terheran-heran.

III. Aplikasi

Kehadiran Yesus di dunia ini sebagai Mesias yang diurapi merupakan penggenapan janji Allah kepada manusia untuk menyampaikan kabar baik bagi orang-orang miskin, pembebasan bagi orang tawanan, penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang yang tertindas serta memberitakan tahun rahmat Tuhan. Hal ini memperlihatkan bahwa apa yang telah dijanjikan (dinubuatkan) oleh Allah maka ditepatiNya.

Dalam hidup keseharianNya, Yesus memiliki kebiasaan yang patut untuk kita teladani yaitu setiap hari Sabat, Dia ke Sinagoga. Bagaimana dengan kita ? Apakah tetap setia memuji Tuhan untuk beribadah di gereja setiap minggunya ? Tampakkah sikap menghormati serta menghargai Firman Tuhan dalam ibadah ?  Ataukah ketika Firman Tuhan diberitakan, asik ber-BBM, facebook, WA….atau tidur???

Janji Allah adalah kepastian bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Kita meyakini bahwa setiap janji Allah berlaku bagi kita umat-Nya. Kini sebagai umat milik-Nya, kita diajak untuk percaya bahwa Allah selalu menggenapi janji-janji-Nya. Kita meyakini karya Tuhan adalah kebaikan bagi hidup kita. Dengan percaya akan janji-janji Allah, kita memiliki pengharapan bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan keselamatan dan damai sejahtera. Rancangan Tuhan selalu indah pada waktunya. Iman kepada Kristus memampukan kita untuk menjalani hidup yang penuh dengan pergumulan ini dengan selalu berpegang teguh pada janji-janji Allah. Oleh karena itu marilah hidup ini kita jalani dengan keyakinan dan kepastian akan janji Allah. Selalu ada penyertaan, pertolongan dan perlindungan bagi yang bersandar pada Tuhan Allah.

Kepustakaan

  1. Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas, Yogyakarta : Kanisius, 2003.
  2. Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Perjanjian Baru 3 : Injil Lukas, Yogyakarta : Kanisius, 1981.
  3. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Injil Lukas, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009.
  4. Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab Edisi Studi, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2012.
  5. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2006.
  6. www.golgothaministry.org/lukas/lukas-4_14-30.htm

Pdt. Chrismori Br Ginting
GBKP Rg. Yogyakarta

Lebih lanjut: Khotbah Lukas 4:14-21, Minggu 24 Januari 2016

 

Khotbah Lukas 2:1-14, Sabtu 25 Desember 2015

Renungan

Invocatio :
Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan
Yesus yang disebut Kristur (Matius 1:16)

Bacaan  :
Yesaya 9:1-6 (Responsoria).

Thema :
Dia Lahir Untuk Kita
 
Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, kini tiba saatnya kita kembali melaksanakan ibadah Natal, dimana setiap tanggal 25 di bulan Desember dunia ini ikut bersukaria/memeriahkan bahkan dunia bisnispun bergeliat, toko-toko dan mall ikut dihiasi berbagai-bagai pernak-pernik natal. Baik pohon Natal, lampion, dan lampu-lampu Natal. Juga tidak ketinggalan makanan yang bernuansa Natal, tidak ketinggalan pakaian yang bernuansa Natal (merah dan hijau). Dimana-mana orang merayakan Natal baik di kota maupun di desa, bahkan di pelosok sekalipun juga ikut merayakan Natal. Natal sudah menjadi budaya luar buasa bukan??.. kalau kita amati bagaimana semaraknya suasana Natal itu di laksanakan. Terkadang suasana Natal ini sudah menjadi ajang pameran-pameran untuk memikat orang-orang yang merayakan Natal. Suasana Natal tentunya menyedot dana yang begitu signifikan. Panitia-panitia telah membuat anggaran-anggaran di setiap perayaan dan ibadah Natal itu. Tentunya dana yang paling banyak konsumi dan acara, maka terkadang menghabiskan dana ratusan juta. Juga dikalangan keluarga mengeluarkan dana, juga kantor-kantor bahkan asosiasi-asosiasi dan arisan, bahkan ada diwilayah di RT/RW merayakan Natal.
 
Saudara inilah momen Natal yang dirayakan umat manusia, dan di setiap tahunnya ada peningkatan , dana dan pernak-pernik.
Mari kita telusuri peristiwa yang merupakan awal peristiwa Natal dimana kelahiran Yesus  (yang merupakan Hari Natal itu).
Kelahiran Yesus itu diawali dengan pemberitaan/nubuatan para Nabi, diantaranya Nabi Yesaya dimana ia menjelaskan tentang kelahiran Raja Damai itu. Dimana kelahiran Raja Damai itu untuk menerangi negeri yang kelam, dan menimbulkan sorak-soari dan sukacita, mematahkan kuk yang menekan tongkat si penindas. Dan Yesasya terus mengumandangkan pada umatNya : seorang anak telah lahir untuk kita, lambung pemerintahan ada diatas bahunya. Hal inilah nubat tentang kelahiran Yesus (Mesias), walaupun hal ini masih ratusan tahun kemudian.
 
Kelahiran Mesias itu kini mengingatkan kita sebagai umat Kristiani, bagaimana kita menyikapinya lewat peristiwa yang dimana saat itu Yusuf dan Maria disaat usia kandungan sudah saatnya tiba akan melahirkan, namun harus memenuhi perintah Kaisar Agustus untuk mendaftarkan kewarganegaraannya. Yusuf dan Maria berangkat ke Betlehem sebagai kota asal nenek moyangnya Daud. Harus melaksanakan tugas itu sebagai warga Negara yang baik. Dan disaat itulah Maria melahirkan sang Putra Kudus itu (Yesus) dan kelahiranNya beda dengan kelahiran bayi-bayi yang lain. Sebab Ia di lahirkan di kandang dan dibaringkan di palungan. Kalau kita bayangkan masa tega banget Allah membuat seperti itu, tega banget manusia (orang Betlehem) membiarkan sang Mesias itu dilahirkan di kandang. Tetapi dibalik itu ada hal-hal yang dirancang oleh Allah, sebab kandang tempat yang kotor dan bau, tetapi kehadiran Mesias itu adalah untuk orang yang papa, orang yang duka dan tertindas oleh tongkat, dan dikandang itu siapa saja boleh hadir baik dikalangan atas maupun bawah. Ternyata benar, bahwa yang pertama hadir ditempat kelahiran itu diperintahkan Malaikat ialah para gembala.
Saudara, kenapa harus gembala yang pertama sekali diberitakan Allah tentang sudah lahirnya Mesias itu? Dapat saya pahami :
  1. Gembala itu pekerja yang tulus dan setia
  2. Gembala itu sanggup menghadapi segala cuaca (panas dan dingin)
  3. Gembala itu tidak banyak tuntutan
  4. Gembala itu tidak mengharapkan tanda jasa/penghargaan
  5. Pekerjaannya/karyanya dibutuhkan semua orang
Lewat 5 hal ini mengigatkan bagi umat Kristen yang merayakan Natal. Kita juga adalah harus sebagai gambaran Gembala yang disuruh malaikat untuk melakukan kehendakNya, jangan perayaan Natal saja kita laksanakan namun tidak ada actionnya.
 
Kita yang telah merayakan Natal, harus juga sebagai Pekerja yang setia untuk melaksanakan amanat Natal itu. Apa yang kita terima di saat Natal itu harus beritakan bagi orang lain. Orang percaya yang selalu merayakan Natal harus sanggup menghadapi segala tantangan, tidak pernah mengeluh terhadap hal-hal yang terjadi, sebab dia tahu perintah Allah itu selalu mendapatkan penyertaan.
 
Sebagai orang percaya sebagaimana gembala, tidak pernah banyak menuntut, dia hanya berharap apa yang di beri tuan sebagai pemilik ternak yang ia gembalakan. Demikian juga kita sebagai umat Kristen yang dipakai oleh Yesus, janganlah banyak menuntut, namun banyaklah berbuat. Jangan kau Tanya apa yang diberikan Gereja padaku, tetapi tanyalah dirimu apa yang akan kau berikan bagi Gerejaku. Sebagai orang Kristen, tidak perlu mendapatkan penghargaan dari orang lain, berbuatlah seperti apa yang diperintahkan Tuhan walaupun tidak pernah diberi penghargaan/tanda jasa, sebab Tuhan Yesus akan menghargai semua pekerjaanmu. Dan perlu kita ingat bahwa karya Gembala lewat ternak itu dibutuhkan semua orang misalnya : susu, daging dan pakaian dari bulu domba, tas, dompet, tali pinggang dari kulit.
 
Pernahkah terbayang oleh kita jikalau tidak ada gembala? Pasti dunia ribut. Sebab karya Gembala itu dibutuhkan semua orang, kaya, miskin, kalangan atas bawah, presiden  sendiri butuh karya Gembala itu. Demikian juga kita sebagai umat Kristen, karya kita dibutuhkan semua orang, sebab Yesus sudah perintahkan : Beritakanlah bagi semua orang.
 
Dia lahir untuk kita, itulah Thema ibadah Natal Umum kita di tahun ini. Hal ini menguatkan dan menghibur kita lewat penyertaan dan penyelamatan lewat Dia yang lahir itu, seperti yang di nubuatkan Nabi Yesaya. Besar kuasaNya dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan, ia mendasarkan dan mengokohkan (Yes.9:6). Walaupun awalnya kehadiranNya sungguh terhina, namun setelah kehadiran Gembala itu terjadi suatu perobahan, bahwa Dia yang lahir itu adalah besar, dimana para Gembala itu menceritakan semua apa yang ia dengar dari Malaikat itu. Dia lahir ternyata untuk semua lapisan baik kalangan atas maupun bawah, kaya dan miskin, pintar maupun bodoh, bahkan bagi orang-orang tidak memperdulikan, Dia tetap memperdulikanNya. Dia mengatakan kepada Gembala juga bagi kita : jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa, hari ini telah lahir bagimu juruselamat, yaitu Kristus Tuhan (Lukas 2:10-11). Kehadiran Mesias itu untuk kita sebagai juruselamat, dan ia menghibur kita, Ia membuat kesukaan besar bagi kita.
 
Saudara, marilah kita laksanakan kegiatan ibadah dan perayaan Natal itu dengan sederhana, kita lebih baik banyak berbuat lewat persembahan Natal, berbagi buat sesama yang membutuhkan daripada Natal itu hura-hura.
Pdt. A. Brahmana
081317054961
 

Khotbah Ibrani 10:5-10, Minggu 20 Desember 2015

Renungan

Invocatio :
Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya /
Arah si enda icidahken Dibata maka IA bujur kap
 (Roma 3 : 25b)

Bacaan/ogen :
Zakaria 2 : 10 - 13 (Antiphonal)
 
Tema :
Yesus Persembahan Yang Sempurna
 
Pendahuluan
Puji Tuhan, kita telah memasuki Minggu Advent IV yang merupakan Minggu Advent terakhir sebelum Natal. Kata Advent berarti coming, arrival. Kedatangan. Minggu-minggu Advent, artinya minggu-minggu menantikan kedatangan Sang Kristus, Sang Mesias. Kedatangan Sang Kristus yang dinantikan bukan hanya dalam kelahiran-Nya tetapi juga dalam kedatangan-Nya kedua kali sebagai Hakim yang Agung.
 
Dalam minggu-minggu Advent yang perlu kita lakukan adalah menanti. Bagaimana sikap kita dalam masa-masa penantian tersebut ? Dalam menanti Sang Kristus, Sang Mesias ? Sikap kita ditentukan oleh pemahaman dan kesadaran kita atas keberadaan diri sebagai orang berdosa, sehingga sungguh-sungguh kita memahami lalu mensyukuri dengan tulus dan bulat hati akan kedatangan Sang Kristus yaitu Yesus yang merupakan persembahan sempurna untuk menguduskan kita orang yang berdosa, yang kemudian dalam kedatangan-Nya yang kedua kali menjadi Hakim yang Agung atas orang yang hidup dan yang mati.
 
Pendalaman Nats
Dosa dalam konsep Kristen sangat berbeda dengan dosa dalam konsep agama-agama lain. Dalam konsep Kristen, dosa lebih dalam, lebih luas. Dosa itu status manusia; kita ini orang berdosa. Dalam Kejadian 3, bukan dituliskan bahwa Adam dan Hawa berbuat dosa, tetapi mereka jatuh ke dalam dosa. Dari gambar Allah yang tinggi dan mulia, mereka jatuh menjadi orang berdosa.
 
Bukan karena kita mencuri, maka kita berdosa, tetapi karena kita berdosa, maka kita mencuri. Bisa dianalogikan dengan gambaran seperti ini : bukan karena singa menerkam kambing, maka ia menjadi hewan buas, tetapi karena singa hewan buas maka ia menerkam kambing. Oleh karena itu, manusia tidak bisa menebus dirinya sendiri dari dosa. Diperlukan kuasa dari luar[1]

Pdt.L.Z.Raprap, “Kalo Tuhan Tahu, Ngapain Kita Minta?”, Jakarta : BPK-GM, cet.ke-2, 2010, hal. 15 - 24
[1] Handbook to the Bible – Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab, hal. 194
.
Dalam hukum Taurat diatur persembahan korban, yang terdapat dalam kitab Imamat, yaitu  :
  1. Korban bakaran (pasal 1 dan 6:8-13); satu-satunya persembahan korban dengan membakar habis binatang korbannya sebagai tanda dedikasi.
  2. Korban sajian (pasal 2 dan 6:14-18); sering menyertai korban bakaran dan korban keselamatan.
  3. Korban keselamatan atau korban pendamaian (pasal 3 dan 7:11-36); mendamaikan atau memperbaiki kembali persekutuan/hubungan antara pihak yang mempersembahkan korban itu dengan Allah; dapat pula berupa persembahan korban syukur.
  4. Korban penghapus dosa (4:1-5:13 dan 6:24-30); dibuat untuk mendapatkan pengampunan. Hubungan antara korban penghapus dosa dengan korban penebus salah tidaklah jelas. Umumnya korban penghapus dosa diadakan bagi dosa-dosa terhadap Allah, sedangkan korban penebus salah diadakan bagi kesalahan-kesalahan terhadapa sesama. (tetapi dosa terhadap orang lain pun dilihat sebagai dosa terhadap Allah, seperti yang jelas dinyatakan dalam pasal 6:2)
  5. Korban penebus salah (5:14-6:7 dan 7:1-10)
Namun :
  1. Darah lembu jantan atau darah domba jantan yang dipersembahkan tidak mungkin menghapuskan dosa (bdk.Ibrani 10:4). Bila itu mungkin maka, tidak akan ada lagi korban bakaran dan korban penghapusan dosa berikutnya yang dipersembahkan kepada Allah karena sudah dihapus oleh darah lembu jantan atau darah domba jantan yang telah dipersembahkan. Dalam kenyataannya, tiap tahun bangsa Israel mempersembahkan korban bakaran dan korban penghapusan dosa kepada Allah karena terus diingatkan akan dosa-dosa mereka. 
  2. Korban-korban tersebut tidak dikehendaki oleh Allah dan Allah tidak berkenan kepadanya meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat (Ibrani 10:8). Mengapa ???  Sebab ketaatan yang sejati bukan sekedar upacara keagamaan. Ketaatan yang sejati berarti hanya percaya kepada Tuhan, menyesali dosa dengan sungguh-sungguh, dan hidup sesuai dengan
kehendak TUHAN, termasuk memperlakukan orang lain secara adil. Dalam perjalanan hidup bangsa Israel, korban persembahan terus diberikan kepada Allah namun kejahatan tetap merajalela. Seperti yang diperlihatkan dalam kitab Amos dimana, kaum kaya dan berkuasa menindas orang miskin dan menyembah ilah-ilah asing.  
 
Untuk itu, Allah sendiri datang untuk menebus kita melalui darah Yesus agar kita tidak binasa. Dosa yang mendarah daging dalam hidup kita telah ditebus dan dibersihkan oleh Allah melalui darah Yesus. Dalam ketaatan-Nya, Yesus memberi diri sebagai korban persembahan penghapus dosa sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
 
Allah melalui Yesus menyatakan diri bukan hanya Allah yang Mahatinggi; bila demikian maka tidak ada seorangpun yang mampu sampai kepada-Nya. Bukan hanya Allah yang Mahakudus; bila demikian tidak ada seorangpun yang layak dihadapannya. Bukan pula hanya Allah yang Mahabesar; bila demikian tidak ada seorangpun yang berani menghampirinya. Allah melalui Yesus disamping Mahatinggi, Mahakudus, Mahabesar tetapi juga Allah yang Mahakasih, yang telah bangkit dari tempat kediaman-Nya yang kudus dan diam di tengah-tengah umat-Nya. (bdk.Zakharia 2:10-13 – bacaan pertama/ogen)
 
Aplikasi
Pemahaman dan kesadaran diri seperti yang diuraikan di atas kiranya yang melandasi kita dalam menanti kedatangan sang Mesias, baik dalam kelahiran-Nya maupun kedatangan-Nya yang kedua kali. Sesungguhnya, kita sungguh-sungguh menanti kedatangan-Nya layaknya seperti orang tenggelam mencari udara. Marilah kita mengaku dan menyadari diri seperti dalam Yesaya 64:5-6,8 :“Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala. Demikialah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin. Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membetuk kami, kami sekalian adalah buatan tangan-Mu!”
Dengan begitu :
  1. Dalam kita menyambut dan merayakan kelahiran-Nya melalui perayaan Natal, kita persiapkan diri dan acara perayaaan dengan penuh sukacita dan kerendahan hati sehingga kita lebih fokus pada makna natal bukan sekedar perayaan; memberi perhatian pada isi natal bukan bentuk; lebih memikirkan substansi natal bukan sekedar konsepsi. 
  2. Dalam menyambut dan menanti kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, kita isi hidup dan hari-hari kita dengan hal-hal yang membuat hidup kita bermakna. Menebar kasih kepada sesama dan cipataan yang lain melalui kata dan perbuatan. Menjadi berkat bagi orang lain dalam apapun yang kita lakukan.
Kita lakukan bagian kita sebaik-baiknya dan sebenar-sebenarnya dengan satu harapan “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kita seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuh kita terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.” (bdk.1 Tesalonika 5:23) Amin.
Pdt.Asnila br Tarigan
Perpulungen Makassar
 

Khotbah Yesaya 12:2-6, Minggu 13 Desember 2015 (Adven III)

Renungan

Invocatio :
Aku akan diam bersama-sama dengan mereka, dan hidup
ditengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu. II Korinti 6 : 16b)

Bacaan :
Lukas 3 : 7 – 18 (Tunggal)

Thema :
“Allah ditengah-tengah kita” (Dibata itengah-tengahta)
 

Salah satu keunikan keKristenan dibanding dengan agama-agama lain adalah: Allah kita hadir ditengah-tengah umatNya, Allah tinggal ditengah-tengah umatNya dalam  wujud manusia Yesus Kristus . Ia hadir untuk menebus dosa kita. (Yesus  nampaknya sungguh senang tinggal ditengah-tengah umatNya. Lihat ,Matius 18 : 20,  Yoh 20 : 26).Dan kini Ia tetap hadir ditengah-tengah kita dalam bentuk ROH , Roh Kudus yang adalah penghibur sejati.

Apakah Makna kehadiran Allah ditengah-tengah umatNya?
Allah menghibur, Allah menyelamatkan.
Apakah Respon kita atas kehadiran Allah ditengah-tengah kita.
Didalam Yesaya 12 ini kita diajak untuk melantunkan puji-pujian kemuliaan (doksologi) bagi Allah atas semua rencana dan tindakan-Nya. Puji-pujian dinaikkan karena meskipun Allah telah menumpahkan murka-Nya, Allah juga adalah Allah yang menyelamatkan dan menghibur umat-Nya. Puji-pujian dinaikkan meskipun hukuman tetap diberikan. Ini adalah sebuah sikap yang indah ketika seseorang menyadari bahwa Allah tetap adalah Allah yang baik meskipun Ia memberikan hukuman. Allah kini dilihat sebagai satu-satunya kekuatan, pengharapan dan keselamatan.

Sedikitnya ada Tiga “Ber” yang berkaitan satu dengan yang lain, yang harus kita lakukan sebagai lantunan puji-pujian kita bagi Tuhan  kita.
“Ber” yang Pertama adalah BERSYUKUR. Kata bersyukur banyak digunakan dalam Kitab Mazmur dalam beragam kaitan. Pemazmur mengaitkannya dengan alasan ia bersyukur, seperti: karena keadilan (7:17), pertolongan (28:7; 43:5), keajaiban perbuatan (9:1; 75:2; 107:8), dan kasih setia Tuhan (107:8).
Namun, pemazmur juga menghubungkannya dengan suatu tindakan untuk bersyukur tersebut. Misalnya: Mazmur 9:1, Daud menghubungkan rasa syukurnya dengan menceritakan segala perbuatan Allah yang ajaib.  Bersyukur berkaitan dengan tindakan seseorang kepada Allah karena alasan-alasan yang jelas dari pihak Allah.

“Ber” yang KEDUA adalah BERMAZMUR
Kata Indonesia "Mazmur" berasal dari bahasa Arab yang berasal dari bahasa Etiopia, yang masih berhubungan dengan kata Ibrani "Mizmor" Kata ini menunjuk pada suatu lagu yang dinyanyikan dengan diiringi berbagai alat musik yang menggunakan dawai.
Mazmur berarti nyanyian / himne - (merayakan/perayaan, memperingati/peringatan) dan berarti kidung puji-pujian yang dipersembahkan kepada Allah, dewa, pahlawan, atau orang-orang besar.

“Ber” yang Ketiga adalah BERSORAK-SARAK
Bersorak-sorak atau bersorak sorai =berseru-seru, berteriak-teriak memberi tanda semboyan , memekikkan pekik perang  , mengangkat sorak , meniup , elu-elukanlah dsbnya
Ajakan bersorak-sorai dalam Nats ini , karena Allah yang kudus ada ditengah-tengah umatNya.
“Ketiga ber” ini mengajak kita Aktif, bertindak, melakukan sesuatu, ikut berkontribusi atas kehadiran Tuhan ditengah-tengah kita. Didalam pembacaan kita Lukas 3 : 7-18, Yohanes Pembabtis  dengan tegas berkata bahwa kita harus menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan, pertobatan itu bukan sekedar pengakuan namun lebih kepada perbuatan nyata; “Barang siapa yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa mempunyai makanan  hendaklah ia juga berbuat demikian..dst.

Janganlah kiranya kita menjadi seorang yang munafik,seperti ular beludak, Seolah-olah orang yang sangat Bersyukur, BerMazmur, Bersorak-sorai, namun tidak meninggalkan bekas, karena ini dilakukan hanya sebagai seremonial.
Jika boleh meminjam istilah dari Pdt.Andar Ismail, dalam bukunya Seri Selamat, dengan tegas ia berkata : Ibadah yang sejati bukan ketika engkau mengucap syukur, BerMazmur, Bersorak-sorai di gereja, namun ketika engkau melakukan sesuatu yang baik setelah keluar dari gereja. Kita juga mengingat baru-baru ini Paus Benecditus mengingatkan umat kristiani : “jika kita hanya berdoa, Misa dsb didalam gereja itu sudah usang.

Kita telah memasuki Minggu Adven yang ketiga, itu berarti sesaat lagi kita akan menanti peringatan/perayaan akan kehadiranNya ditengah-tengah umatNya, apakah yang telah kita persiapkan; Panitia Natal?, Konsumsi?,Dana?, Seragam?????.
Akhirnya kita memang menambahkan “Ber” yang ke-Empat, yakni Berbuat.
Persiapkan hati kita untuk Bersyukur, BerMazmur, Bersorak-sorai melaui perbuatan kita.

Pdt. Iswan Ginting Manik.
GBKP Rg. Pondok Gede
 

Khotbah Pilipi 1:3-11, Minggu 06 Desember 2015

Renungan

Invocatio :
“Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Roma 5 : 2).

Bacaan  :
Maleaki 3 : 1-4 (Tunggal)

Khotbah :
Pilipi 1 : 3-11 (Antiponal)

Tema    :
“Menikmati Kasih Karunia Allah” (Ngenanami Lias Ate Dibata)

I. Pendahuluan
Kasih karunia Allah telah disediakan Allah bagi kita tetapi bisa saja kita belum menikmatinya.Seperti hidangan yang telah disajikan di atas meja, tetapi kita belum mengkonsumsinya.Kasih karunia Allah seharusnya memberikan kekuatan untuk bersekutu dan melayani di dalam dunia.

Hidup dalam persekutuan dengan Allah sebenarnya dapat dirasakan di dalam jemaat, bersama-sama di dalam kasih karunia Allah.Mungkin hal ini yang masih kurang terbentuk di dalam jemaat-jemaat kita sehingga kita masih kurang merasakan kasih karunia Allah.
Dari pemaparan Paulus akan hubungannya dengan jemaat Filipi memberikan gambaran yang baik akan kasih karunia Allah yang meneguhkan hati Paulus dan jemaat Filipi. Persekutuan atau kebersamaan jemaat dengan para pelayan gereja harus diteguhkan supaya kasih karunia Allah makin dirasakan di tengah-tengah jemaat.Bahwa para pelayan ada untuk jemaatnya dan para jemaat ada untuk mendukung pekerjaan Injil sehingga rancangan kasih karunia Allah dinyatakan.
 
Untuk menikmati TV kita membutuhkan suara dan gambar.Bagaimana jika suaranya terdengar tapi gambarnya tidak kelihatan.Atau gambarnya kelihatan tetapi suaranya tidak terdengar.Televisi dirancang untuk menyampaikan suara maupun gambar.Demikian juga kehidupan jemaat tidak hanya terdengar baik, tapi juga terlihat baik.

II. Pendalaman Nats
Kondisi Paulus dalam rumah tahanan dan menanti hukuman mati seharusnya membuatnya tertekan dan menderita.Tetapi Paulus merasakan sukacita karena mengingat teman-temannya di Filipi. Semua ingatannya tentang jemaat Filipi mendatangkan sukacita karena ia memiliki persekutuan yang erat di dalam Injil Yesus Kristus. Bahwa arti kata persekutuan ialah “bersama-sama memiliki””.Seringkali kata persekutuan bagi kita sangat dangkal pengertiannya, kita menganggap telah bersekutu dengan berkumpul bersama dalam satu tempat.Yang dimaksudkan dengan persekutuan adalah di dalam satu Roh, bersama-sama memiliki bagian dalam kasih karunia Allah.Berpisah tempat tidak menjadi penghalang persekutuan, Paulus berada di Roma, teman-temannya jauh daripadanya di Filipi, tetapi persekutuan rohani mereka nyata dan memuaskan.Jemaat Filipi sungguh-sungguh mendukung Paulus dalam pemberitaan dan penderitaannya.Sama-sama tidak dapat saling melupakan, mereka merasa berbagian dalam kasih karunia Allah.

Dibandingkan dengan bacaan kita, Maleakhi melihat kemerosotan kerohanian di Yerusalem, bahwa orang-orang yang beribadah dan melayani Allah, hatinya jauh dari Allah.Persembahan mereka benar-benar tidak berkenan kepada Allah. Maka Tuhan sendiri akan datang ke dalam Bait-Nya untuk mengejutkan, untuk merombak dan membaharui-Nya. Kristus dengan Injil-Nya memurnikan dan mereformasi gereja, dan oleh Roh-Nya bekerja menumbuhkan dan membersihkan orang-orang pilihan; “Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef.5:25-27). Tuhan Yesus sendiri “menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit.2:14). Yang dimurnikan menurut Maleaki adalah suku Lewi, yaitu orang-orang yang dikhususkan melayani Allah.Semua orang Kristen sejati adalah anak-anak Lewi, yang diperuntukkan bagi Tuhan, untuk melakukanpelayanan di tempat kudus.
 
Tuhan menyucikan mereka seperti emas dan perak dimurnikan dengan api, menyucikan mereka dalam hati; ia tidak hanya membersihkan bagian luar tetapi mengeluarkan keburukan dari dalam hatinya. Yohanes Pembabtis mengatakan bahwa “Ia (Yesus) akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat.3:11). Dia akan membersihkan mereka sehingga membuat mereka orang yang berhargauntuk diri-Nya sendiri. Dampaknya bahwa mereka mempersembahkan kepada Tuhan korban kebenaran, menjadi penyembah yang benar, yangmenyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.Kita tidak dapat menyembah Allah kecuali kita dibenarkan dan dikuduskan.Bahwa kita dimurnikan oleh kasih karunia Allah.Mereka akan mempersembahkan korban seperti Tuhan harapkan dan Tuhan menerima persembahan mereka.
 
Allah telah memulai pekerjaan baik kasih karunia-Nya dan Allah sendiri yang akan menyelesaikannya. Keselamatan adalah pekerjaan baik yang dilakukan Allah di dalam diri kita pada waktu kita percaya pada Anak-Nya. Dalam Filipi 2:12-13 kita membaca bahwa Allah melanjutkan pekerjaan-Nya di dalam kita melalui Roh-Nya. Dengan kata lain, keselamatan meliputi tiga macam pekerjaan:
•    Pekerjaan yang dilakukan Allah bagi kita – penebusan;
•    Pekerjaan yang dilakukan Allah di dalam kita – pengudusan;
•    Pekerjaan yang dilakukan Allah melalui kita – pelayanan.
Pekerjaan ini akan terus berlangsung sampai kita bertemu dengan Kristus.
Mengetahui bahwa Allah masih bekerja di dalam kehidupan orang-orang percaya di Filipi, merupakan sumber sukacita bagi Paulus.Paulus mengatakan kepada jemaat Filipi “kamu ada di dalam hatiku” (ay.7), bahwa jemaat dibawa masuk kedalam kasih karunia Allah melalui pelayanan Paulus.Dan Paulus mengasihi jemaat seperti mengasihi dirinya sendiri. Sama seperti Imam besar pada zaman PL memakai penutup badan khusus, yaitu efod, yang menutupi dadanya. Pada efod itu ditaburkan 12 batu permata, masing-masing diukir nama dari keduabelas suku bangsa Israel (Kel. 28:15-29). Ia mewakili seluruh bangsa di hatinya dengan penuh kasih, dan demikian juga Paulus.
 
Paulus berdoa dan mengharapkan yang terbaik terjadi bagi jemaat. Paulus berdoa bagi jemaat Filipi agar dapat mengalami kasih yang melimpah dan kasih yang dapat mengetahui apa yang benar. Paulus juga mendoakan agar mereka memiliki sifat-sifat Kristen yang dewasa yaitu “suci dan tak bercacat”.Ia juga berdoa agar mereka memiliki pelayanan Kristen yang dewasa. Paulus mengharapkan agar jemaat Filipi mengasihi berdasarkan kebenaran dan pengertian.Kebenaran adalah bukti efektif dari pengudusan kita.Buah kebenaran menghasilkan kemuliaan bagi Allah dan membangun gereja-Nya.Buah ini berasal dari Yesus Kristus yaitu kekuatan kasih karunia-Nya, sebab tanpa Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa.

III. Pointer Aplikasi
Persekutuan dalam Kristus memberikan kelegaan, tetapi kita sering kali membangun persekutuan yang menderita.Sebelum kita bersama, masing-masing kesepian, setelah bersama saling menyakiti.Ingatan yang tertanam adalah ingatan yang menyakitkan.Persekutuan kita masih ditandai dengan cacat dan cela.Lalu bagaimana kita menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali kalau kita belum siap?

Hidup kita adalah pembuktian kasih karunia.Kasih karunia Allah membentuk persekutuan yang indah yang ditandai dengan saling mengasihi.Keaslian kasih terbukti dari daya tahan kasih tersebut.Kalau hanya sebentar dan seketika saja, bukan merupakan kasih yang sejati.Kasih yang sejati memberikan penghiburan dan penguatan serta membaharui kehidupan jemaat.Bagaimana kita menyatakan diri hidup di dalam kasih karunia Allah tanpa kebersamaan. Kehidupan jemaat seharusnya terhubung antara satu dengan yang lain.
 
Yesus sendiri menyatakan tentang kesatuan, bahwa inti kesatuan itu sendiri adalah Yesus Kristus.Yohanes 17:23 “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku”. Kesatuan ini tampak antara Paulus dengan jemaat Filipi, jemaat Filipi dalam hati Paulus dan Paulus juga tetap diingat oleh jemaatnya.Jemaat Filipi dapat menerima kenyataan bahwa Rasul Paulus yang mereka kasihi dipenjara untuk meneguhkan Injil Kristus.Dan jemaat Filipi tidak berhenti bertumbuh dalam Injil.Walaupun Paulus dipenjarakan tetapi Injil tidak terpenjarakan.
 
Kekacauan dalam jemaat bukan rancangan Allah.Iblis sedang membangun kerajaan kebencian di bumi.Seharusnya gereja tidak kalah menghadapi pekerjaan iblis.Pekerjaan kasih karunia Allah seharusnya mengalahkan kebencian, dan tidak ada tempat kebencian bersarang di dalam gereja.Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh.17:15,17).
 
Gereja seharusnya terus dimurnikan dengan Firman Allah sehingga kemuliaan Allah nyata di dalam gereja-Nya.Gereja yang berpusat pada persekutuan dalam Yesus Kristus memberitakan kasih karunia Allah yang berhasil membentuk jemaat yang mempermuliakan Allah. Tuhan Yesus memberikan kepastian bahwa “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” (Yoh.15:5).Kita mempersembahkan buah-buah rohani yang menyegarkan. Hendaknya Tuhan berkenan akan persekutuan kita.Amin.
 
Pdt.Sura Purba Saputra, M.Th
GBKP Majelis Jemaat Bandung Timur
 

Page 3 of 56

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 21 guests online