Khotbah 1 Korintus 2:6-16, Minggu 05 Februari 2017

Renungan

Invocatio :
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5)
 
Bacaan :
Mazmur 112 : 1 - 10

Thema :
Hidup berlandaskan Pikiran Kristus (Nggeluh Ibas Perukuren Kristus)
 
 
I. Pendahuluan
Pemberita Injil adalah pengantar surat “cinta kasih Tuhan” kepada kita. Tetapi bisa terjadi dan biasa terjadi, “orang jatuh cinta kepada pengantar surat”. Berarti cinta kasih Tuhan tak sampai kepada kita, kita tersandung kepada si pengantar surat. Sehingga tujuan Injil belum tercapai sebab anda belum merasakan dan merespon kasih Allah. Dalam kasus ini, banyak “pengantar surat” yang merasa bersyukur dan bersukacita karena jemaat menyanjung dirinya. Tetapi Paulus tidak mengharapkan hal ini terjadi, sebab tujuannya untuk membawa atau menghantarkan kasih Allah.

Paulus memiliki pikiran Kristus atau yang lebih tepat “Pikiran Kristus” telah menguasai dirinya, sehingga ia memberitakan Injil Yesus Kristus dengan tekun. Paulus menyatakan “Kristus yang hidup di dalam aku … hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Bd. Gal.2:20). Hidup bagi Paulus, bukan terutama apa yang dia perbuat tetapi yang telah diperbuat Tuhan Yesus bagi dirinya. Ia selalu memberitakan Yesus Kristus, bukan tentang dirinya sendiri. Ia selalu berdiri dibalik salib Yesus Kristus dengan prinsip ‘tidak apa-apa asalkan Kristus dimuliakan’.

Injil adalah kuasa Allah bagi keselamatan orang-orang percaya. Tidak ada kabar yang lebih baik dari pada Kristus telah datang untuk menyelamatkan kita (kelahiran, kematian dan kebangkitan-Nya untuk menyelamatkan kita). Kabar baik yang tidak dapat dipahami tidak dapat disebut berita, apalagi berita yang baik. Bagi orang yang menolak Yesus Kristus, Injil bukan kabar baik, malah menjadi kabar buruk bagi mereka (sebab orang menolak Yesus Kristus menerima hukuman kekal). Sedangkan orang yang menerima Yesus Kristus beroleh hidup kekal. Kita percaya karena kasih karunia Allah memampukan kita untuk percaya. Efesus 2:8-9 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”. Karena itu, orang yang percaya kepada Yesus Kristus bukan membuat kita tinggi hati, tetapi sebaliknya merendahkan hati.
 
II. Pendalaman Nats
Paulus menyatakan bahwa “kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang”, kata “matang” menjadi sebuah pertanyaan, siapakah yang telah matang dan layak menerima Injil? Bahwa pemberitaan injil bukan berdasarkan pengetahuan saja, sehingga pemikir-pemikir hebat saja yang sanggup menerimanya. Injil sangat sederhana sehingga anak kecil pun dapat mengerti, kemudian percaya dan diselamatkan. Tetapi Injil juga sangat mendalam sehingga seorang teolog yang paling pandai pun tidak dapat mengukur kedalamannya. Pada kenyataannya, orang-orang yang menolak Injil Yesus Kristus adalah orang-orang berpengetahuan tinggi secara teologis dan filosofis (walau bukan seluruhnya), kebanyakan yang menerima Injil adalah orang-orang biasa. Berarti kemampuan menerima Injil bukan berdasarkan kemampuan berpikir (kognitif). Kemampuan untuk percaya datangnya dari Tuhan sendiri, bahwa Allah yang mengaruniakan Iman percaya kepada Kristus. Bahwa Roh Kudus terlebih dahulu atau bersama-sama dengan Firman yang diberitakan sehingga orang yang menerimanya menyambutnya sehingga Injil itu menyelamatkannya.

Injil adalah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia bagi penguasa-penguasa dunia ini, termasuk tersembunyi bagi iblis. Iblis dan penguasa-penguasa dunia mengira bahwa Golgota merupakan kekalahan Allah yang besar. Tetapi ternyata salib merupakan kemenangan Allah terbesar dan kekalahan iblis dan penguasa dunia ini (Bd. Kol. 2:15). Karena mereka tidak tahu bahwa rancangan kematian Yesus Kristus diatas salib adalah untuk menebus dosa-dosa manusia. Allah membuat rencana, melaksanakan dan memeliharanya sampai berhasil. Kis. 2:22-23 “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”. Bahwa Yesus diserahkan atau menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan, dengan kerelaan hati-Nya memenuhi kehendak Bapa-Nya. Sehingga tanpa mereka sadari, bahwa orang-orang yang menyalibkan Yesus, telah dipakai oleh Allah untuk memenuhi maksud dan rencana-Nya. Bukan mereka yang berkuasa menentukan kematian Yesus Kristus, Yesus dikorbankan pada saat yang ditentukan Allah sendiri.

Sungguh indah Injil Yesus Kristus, setiap hati orang percaya mengaguminya. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Bahwa Allah Bapa telah mengorbankan Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosa-dosa kita. Dapatkah kita meragukan dan menyangkal kebesaran kasih Allah bagi kita? Kita seharusnya tidak pernah “berpaling dari salib Yesus Kristus” karena pada salib inilah penentuan seluruh hidup kita. Yesus Kristus telah menyelesaikan rencana keselamatan, jalan ke rumah Bapa telah terbuka dan masa depan kita telah dijamin di dalam Yesus Kristus, tidak peduli apa pun yang menerpa kehidupan kita. Rencana Allah bagi orang-orang yang menjadi milik-Nya begitu indah sehingga tidak mungkin dapat dipikirkan atau dimengerti seluruhnya!

Yang perlu kita mengerti bahwa kita diselamatkan oleh karena kasih karunia Allah yang telah memilih kita, hanya karena pengorbanan Anak Allah yang penuh kasih dan oleh pelayanan Roh Kudus yang mengajar dan meyakinkan kita akan kebenaran (pengorbanan Yesus Kristus). Tanpa kehadiran dan pekerjaan Roh Kudus di dalam hati kita maka kita tidak akan tahu kasih karunia Allah. Roh Kudus yang memampukan kita untuk menyambut karunia keselamatan. Disinilah peran Roh Kudus yang sangat besar bagi kita untuk membuka pengertian kita. Seperti halnya orang tidak dapat mengetahui apa yang ada di dalam pikiran orang lain sampai orang tersebut menyampaikan dan menyingkapkan pemikirannya, begitu pula kita tidak dapat mengetahui segala rancangan dan tujuan Allah yang tersembunyi sampai Allah menyampaikan kepada kita melalui Roh Kudus-Nya. Kita tidak dapat mengetahui atau percaya bahwa Injil dapat menyelamatkan kita, sampai Dia menerangi akal budi dan batin kita, membuka mata pikiran kita, dan memberi kita pengetahuan serta iman kepada pemberitaan Injil itu.

Di sini dibedakan antara orang yang sudah diselamatkan (disebut “rohani” karena ia didiami oleh Roh Kudus) dan orang-orang yang belum diselamatkan ( disebut “duniawi” karena ia tidak didiami oleh Roh Kudus). Orang yang belum selamat tidak dapat menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena ia tidak mempercayainya dan tidak dapat memahaminya. Pikiran manusia menolaknya. Kebenaran Allah merupakan kebodohan bagi pikiran mereka. Manusia memandangnya sebagai hal-hal yang tidak penting dan tidak masuk akal, yang tidak layak dipikirkan.

Orang Kristen bertumbuh dalam ketajaman rohaninya dan mengembangkan kemampuannya (dengan pertolongan Roh Kudus) untuk memahami lebih dalam kehendak dan pikiran Allah. “Memiliki pikiran Kristus” bukan berarti bahwa kita sudah sempurna dan mendapatkan derajat (level rohani) yang lebih tinggi dari orang lain. “Memiliki pikiran Kristus” berarti melihat kehidupan dari sudut pandang Sang Juruselamat, memiliki nilai-nilai dan keinginan-keinginan untuk memuliakan-Nya. Dengan demikian kita berpikir menurut pikiran Allah dan bukan menurut pikiran dunia.
 
III. Pointer Aplikasi
Dalam bacaan kita dari Mazmur 112 “Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya”, kita melihat hanya dengan sebelah mata, yang kita lihat “berbahagialah” tetapi “suka kepada segala perintah-Nya” kita abaikan. Atau kita menyukai “Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya”. Sedangkan Firman Tuhan yang menyatakan “Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya … Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin” kurang disukai. Menerima berkat “it’s oke” (baik-baik saja), membagi berkat “wait a minute” (tunggu dulu). Seorang yang menyatakan dirinya Kristen dapat memiliki banyak kata-kata yang tepat namun tidak memiliki buah rohani (mengabaikan pikiran Kristus). Masih terutama mencari yang menyenangkan bagi dirinya sendiri, bukan untuk menyenangkan Allah melalui hidupnya. Perlu kita renungkan yang lebih menyenangkan bagi kita, memperoleh banyak berkat atau menabur kebaikan Allah? Hidup bukan saja untuk menerima tetapi membagikan. Dan yang paling penting untuk dibagikan adalah kabar baik, berita keselamatan di dalam Yesus Kristus.

Para Rasul telah menerima hikmat yang mereka ajarkan itu bukan dari orang-orang berhikmat di dunia ini, melainkan dari Roh Allah. Dan para rasul diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk memberitahukan pikiran Allah kepada kita. Jikalau Yesus datang ke dunia dengan kuasa yang dahsyat, mungkin semua orang akan terpaksa “percaya” karena ketakutan yang luar biasa. Lalu Yesus datang dengan menyembunyikan kemuliaan-Nya dan mengedepankan kerendahan hati-Nya, kenapa? Karena tidak setiap orang berhak menerima keselamatan yang sangat berharga ini. Harta yang berharga dibungkus dengan kerendahan hati. Kenapa orang-orang dari bank membungkus uang yang banyak dengan kertas Koran? Untuk menghindari perampokan di tengah jalan, sehingga uangnya tidak sampai ke tujuan dan dikuasai oleh orang jahat. Tuhan juga membungkus rahasianya dengan kerendahan sehingga tidak dapat direbut oleh si jahat.

Ada orang yang memandang Yesus dari penampilan-Nya tetapi tidak melihat isi hati-Nya. Kita beruntung karena Roh Kudus menyingkapkan yang terselubung, mengarahkan kita kepada isi hati Yesus Kristus yang agung dan mulia. Perhatikan, sungguh merupakan keistimewaan bagi orang Kristen bahwa pikiran Kristus disingkapkan oleh Roh Kudus kepada kita. Pikiran itu disingkapkan sehingga kita percaya dan diselamatkan. Sehingga hidup orang Kristen dimulai dengan percaya kepada Yesus Kristus dan dipimpin dalam iman kepada Yesus Kristus sehingga "Orang benar akan hidup oleh iman” (Roma 1:17).

Percaya dan diselamatkan harus diselaraskan dengan hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus. Filipi 1:27 “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil”. Berjuang untuk iman atau berjuang mati-matian untuk dunia ini?
 
 
Pdt. Sura Purba Saputra, M.Th
GBKP Harapan Indah
 

Mazmur 15:1-5, Minggu 29 Januari 2017

Renungan

Invicatio :
Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi 
tidak menepatinya" (pengkhotbah 5:4).
 
Bacaan :
Matius 5 : 1 - 12

Tema :
Peganglah janji kita ("Kundulilah" Padanta)
 
 
Pendahuluan
Ada istilah dari singkatan OMDO, Omong Doang, yang berarti banyak berbicara tapi dalam kenyataan apa yang diucapkan tidak ada dilakukan. Hampir sama dengan hanya manis dibibir ucapannya, tapi tidak sesuai dengan kenyataan, membuat orang berpengharapan dengan ucapannya. Namun gaya hidup dari orang Kristen yang setia kepada Tuhan adalah sesuai ucapan dengan kenyataan, karena Tuhan adalah Allah yang setia terhadap janjiNya untuk mengasihi dan memelihara kehidupan kita. Oleh karena itu kita juga diajak agar memegang janji kita untuk hidup sebagai anak anak Tuhan yang setia yang mau mengubah kehidupannya semakin baru setiap hari.
 
Isi
Mazmur 15, merupakan ungkapan kerinduan Daud untuk semakin dekat dengan Tuhan. Namun pemazmur mengerti bahwa harus ada beberapa faktor integritas yang harus dimiliki oleh orang yang mau dekat dengan Allah. Hal ini dirangkum dalam pesan tentang etika, moral, keadilan dan kejujuran.
Mari kita lihat pesan-pesan moral dan etika yang terkandung dalam Mazmur 15 secara lengkap
 
Ay. 2, berbicara tentang kualitas moral, keadilan dan kebenaran sebagai anak-anak Tuhan. Sudah seharusnya anak-anak Tuhan menjadi teladan dalam hal kehidupan yang tidak bercela, artinya kita harus menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela yang didorong oleh keinginan-keinginan (nafsu) kedagingan, juga menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran dan keberanian untuk menyatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Sebagaimana Yesus berkata "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat."(Mat 5:37).
 
Ay. 3, Orang yang datang menyembah kepada Tuhan tentu dia akan berusaha untuk menjaga hati perasaan temannya ketika berada dimana saja. Ada ungkapan mengatakan “fitnah lebih kejam dari pembunuhan”, karena fitnah memang adalah pembunuhan karakter dan secara perlahan bisa menyebabkan pembunuhan fisik. Oleh karena itu, tidak seharusnya ada anak-anak Tuhan yang menyebarkan fitnah terhadap sesamanya, seharusnya kita mempergunakan mulut kita untuk membangun dan memberkati orang lain. Hukum Taurat ke-sembilan (jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu). Kemudian, anak-anak Tuhan seharusnya menjauhkan diri dari perbuatan jahat terhadap sesama seperti keluarga, teman, tetangga, saudara seiman, juga terhadap semua orang, bahkan kepada musuh kita.
 
Ay. 4, maksudnya orang yang tersingkir dalam ayat ini adalah orang-orang berdosa yang telah ditolak Allah, artinya kita tidak boleh menghormati orang-orang yang demikian, namun hormatilah orang-orang yang takut akan Tuhan. Ayat ini berbicara tentang penghormatan dan penghargaan terhadap orang-orang kudus. Kita juga harus dapat dipercaya dengan janji sekalipun oleh karenanya kita rugi.
 
Ayat 5, artinya, orang yang memakai duitnya untuk menolong orang lain namun dia tidak mencari untung untuk dirinya melalui harta yang ada padanya. Hartanya dipakainya untuk menghargai teman sesama, menambahi saudara, memperkuat kokoh persaudaraan dan persatuan. "Tidak akan goyah selama - lamanya".
 
Dengan demikian dapat kita lihat apa yang diharapkan oleh Tuhan terhadap kita anak - anakNya yang datang ke RumahNya yaitu yang tidak bercela baik dalam tindakan pribadi moral etika maupun sosial.

Aplikasi
Bahan khotbah kita minggu ini bukan berarti bahwa jika belum seperti apa yang dinyatakan mazmur Daud kita tidak boleh datang ke rumah Tuhan, namun permazmur mengajak kita agar kita merenungkan secara mendalam seperti apa yang dinyatakan dalam ayat 2-5 dan mau mengubah diri ke lebih baru untuk menjalankannya. Tidak hanya teori saja. Jadi hadir dalam rumah Tuhan bukan hanya sebagai "rutinitas" tapi harus ada perubahan cara berpikir dan berkelakuan.
 
Orang yang datang kerumah Tuhan merasakan bahwa dia datang untuk berjumpa dengan Tuhan dan menyembah Tuhan dengan hati tulus. Orang yang selalu rindu jumpa dengan Tuhan, setiap hari tambah yang baru kebaikan dari dirinya. Ini dapat terlihat dalam kepatuhannya mengikut Firman Tuhan, cara berpikir yang positif, baik, membantu teman, tidak egois, bersahabat dengan siapa saja juga setia dengan janjinya.
 
Tema Peganglah Janji Kita, salah satu cara agar kita damai dan nyaman, peganglah janji kita yang telah kita katakan. Pengakuan iman yang kita katakan setiap minggu sebaiknya tidak lah sebagai ucapan rutinitas atau hapalan yang sudah diluar kepala. Namun janji yang telah kita katakan dalam pengakuan iman benar benar kita pegang walaupun ada tantangan.
 
Bacaan, dalam kitab Matius menyatakan agar kita mengandalkan Tuhan menjadi kekuatan kita dalam menjalankan kehidupan kita ketika suka dan duka menghampiri kita agar kita mendapatkan kebahagiaan dan sukacita. Amin
 
Pdt Nur Elly Tarigan, M.Div
GBKP Runggun Karawang
 

Khotbah Matius 4:18-25, Minggu 22 Januari 2017

Renungan

Invocatio :
Lakukanlah Kebajikan Kepada HambaMu ini supaya aku hidup dan aku hendak berpegang pada firmanMu (Mazmur 119:17)

Ogen :
Mazmur 27:1,4-9(Responsoria)

Tema:
IKUTLAH AKU
 

I. KATA PENGANTAR
  • Ada lagu anak Sekolah minggu yang mengatakan bahwa “MENGIKUT YESUS KEPUTUSANKU, MENGIKUT YESUS KEPUTUSANKU, MENGIKUT YESUS KEPUTUSANKU, KUTAK INGKAR KU TAK INGKAR. TETAP KUIKUT WALAU SENDIRI, TETAP KUIKUT WALAU SENDIRI, TETAP KUIKUT WALAU SENDIRI, KU TAK INGKAR KUTAK INGKAR. Syair lagu ini sangat indah dan memiliki makna kesetiaan yang tersirat di dalamnya. Begitu juga dalam pelaksanaan pentahbisan Pendeta, Pertua-Diaken dan pengurus-pengurus yang dilantik bahkan ketika jemaat menerima tanda sidi secara umum mudah sekali mengiyakan apa yang ditanyakan oleh Pendeta pada saat pelaksanaan pentahbisan atau pelantikan atau pada saat menerima tanda sidi. Setiap pertanyaan yang ditanyakan pendeta secara serentak pasti memiliki jawaban yang sama bahwa semua yang ditanyakan akan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi setelah ditahbiskan atau dilantik dalam pelaksanaannya tidak seperti janji yang diucapkan di hadapan jemaat dan di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu pada kenyataannya banyak sekali pelayan-pelayan Tuhan dan jemaat Tuhan yang meninggalkan pelayanan dan banyak jemaat Tuhan yang tidak lagi setia beribadah kepada Tuhan.
  • Firman Tuhan Minggu ini mau memberikan pemahaman bagi kita semua bagaimana searusnya orang yang telah dipilih Tuhan tetap setia mengikutnNya..
II. PENJELASAN TEKS ALKITAB
  • Melalui Nas ini diceritakan kepada kita bagaimana pemanggilan Yesus terhadap murid-muridNya. Dengan kemenangan-Nya atas pencobaan, Yesus memasuki pelayanan-Nya dengan 3 tindakan awal yang sangat indah. Pertama, Yesus kembali ke Galilea untuk memulai pelayanan-Nya bukan menghindari bahaya sebab penangkapan Yohanes menandakan bahwa pelayanan Yohanes sudah selesai. Kedua, pemanggilan murid-murid-Nya yang pertama merupakan pernyataan pola kerja Allah yang berbeda dengan manusia. Di dalam tradisi Yudaisme, para murid memilih gurunya sedangkan Yesus memanggil mereka yang Ia inginkan. Ketiga, mukjizat yang dilakukan oleh Yesus menegaskan bahwa Ialah utusan Allah. Hal penting lainnya dari mukjizat Yesus adalah mukjizat tidak dibuat untuk meringankan pekerjaan-Nya namun bagi kepentingan orang lain karena itulah mukjizat yang dilakukan seringkali berupa penyembuhan dari penyakit dan kelemahan fisik. Ini semua dilakukan untuk menyatakan belas kasihan Allah kepada manusia.
  • Empat murid pertama yang disebutkan pada nas hari ini memiliki profesi sebagai nelayan. Mereka adalah orang yang biasa bekerja di tengah ombak dan badai untuk mencapai hasil yang mereka harapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Entah sudah berapa lama mereka menjadi nelayan, tetapi ketika Yesus datang memanggil mereka menjadi penjala manusia, mereka segera meninggalkan jala dan perahu untuk mengikut Dia (ayat 19-20). Mereka alih profesi karena dipanggil secara khusus untuk memberitakan Injil keselamatan. Ini adalah hak yang begitu istimewa. Manusia yang lemah dan berlatar belakang biasa, dipanggil dan dijadikan alat yang dipakai-Nya untuk kepentingan Kerajaan Allah.
  • Cara pemanggilan Yesus terhadap murid-muridNya sungguh luar biasa. Tempat mereka dipanggil -- di Danau Galilea, di mana Yesus berjalan. Di tepi danau ini, Kristus suka berjalan sambil merenung. Ke sinilah Ia pergi untuk memanggil murid-murid-Nya. Jelas bahwa Kristus tidak melihat seperti cara manusia melihat.Allah telah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini.
  • Galilea merupakan daerah terpencil, penduduknya kurang terpelajar dan kurang halus, tutur kata mereka kasar, tidak sopan, dan dianggap aneh, asal usul mereka nyata dari bahasa mereka. Mereka yang terpilih di tepi Danau Galilea ini bahkan tidak mendapat keuntungan dan kesempatan untuk berkembang seperti orang-orang Galilea lain yang lebih terpelajar. Namun, justru ke situlah Yesus pergi untuk memanggil rasul-rasul-Nya yang kelak akan menduduki jabatan sebagai menteri-menteri utama dalam Kerajaan-Nya, sebab mereka yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat.
  • Siapa sebenarnya murid-murid yang dipilih Yesus? Dalam ayat-ayat ini diceritakan tentang panggilan terhadap dua pasang saudara, yakni Petrus dan Andreas, Yakobus dan Yohanes. Kedua saudara yang disebut pertama, dan barangkali juga yang disebut belakangan, sudah pernah berjumpa dengan Kristus sebelumnya (Yoh. 1:40-41), namun baru sekarang inilah mereka dipanggil untuk menyertai Dia secara dekat dan terus-menerus. Perhatikanlah, Kristus secara bertahap membawa jiwa-jiwa yang miskin ke dalam persekutuan dengan diri-Nya. Sebelumnya mereka merupakan murid-murid Yohanes Pembaptis, sehingga karena itu lebih berpeluang mengikut Kristus. Perhatikanlah, orang-orang yang telah menyerahkan diri dalam pertobatan akan penuh dengan sukacita iman.
  •  Mengenai murid-murid ini kita mengamati bahwa mereka bekerja sebagai nelayan. Sebagai nelayan:
  1. Mereka adalah orang-orang miskin. Seandainya mereka memiliki tanah luas atau banyak ternak, mereka tidak akan menangkap ikan untuk dijual, tetapi hanya untuk rekreasi.
  2. Mereka adalah orang-orang yang tidak terpelajar, tidak dibesarkan melalui buku atau sastra seperti halnya Musa, yang terbiasa dengan pengetahuan orang-orang Mesir.
  3. Mereka adalah pekerja yang dididik untuk bekerja keras.
  4. Mereka orang-orang yang terbiasa menghadapi kesukaran dan bahaya. Pekerjaan penjala ikan lebih berat dan berbahaya dibandingkan pekerjaan lain. Para nelayan sering kali harus berbasah-basah dan kedinginan. Mereka harus bersiaga, menanti, bekerja keras, dan sering menghadapi bahaya di tengah laut.
  • Apa panggilan yang ditujukan kepada mereka (ay. 19). Kata yang diucapkan Yesus “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” menyatakan bahwa sebelum itu, mereka pernah mengikut Kristus sebagai murid biasayakni sebagai murid Yohanes (Yoh. 1:37). Akan tetapi, sekarang, agar mereka bisa mengikut Kristus dan mematuhi panggilan mereka juga, mereka dipanggil ke dalam suatu persekutuan yang lebih dekat dan terus-menerus dengan Dia, dan oleb sebab itu, mereka harus meninggalkan pekerjaan menangkap ikan. Perhatikanlah, bahkan mereka yang telah dipanggil untuk mengikut Kristus pun perlu dipanggil agar terus mengikuti-Nya, mengikuti-Nya dengan lebih dekat, terutama jika mereka ditetapkan untuk bekerja dalam pekerjaan pelayanan.
  • Tujuan Kristus bagi murid-muridNya adalah dengan mengatakan “Kamu akan Kujadikan penjala manusia”. Hal ini berkaitan dengan pekerjaan mereka yang lama, agar mereka tidak menjadi sombong karena kehormatan yang baru ditetapkan bagi mereka itu, dan karena itu biarlah mereka tetap menjadi penjala, agar mereka tidak takut pada pekerjaan baru yang diberikan kepada mereka itu, sebab mereka sudah terbiasa menjala, dan masih melakukannya.
  • Para hamba Tuhan adalah penjala manusia, bukan untuk membinasakan, melainkan untuk menyelamatkan mereka, dengan jalan membawa mereka kepada kehidupan yang lain. Mereka harus menjala, bukan menghukum, bukan mencari kekayaan, kehormatan, dan kedudukan tinggi, ataupun untuk mendapatkan mereka bagi keuntungan diri sendiri, melainkan bagi jiwa-jiwa, untuk dibawa kepada Kristus. (bnd. Ibr. 13:17,2Kor. 12:14).
  • Apa yang harus mereka lakukan untuk mengikuti ajakan, "Ikutlah Aku." mereka harus mengikuti teladan-Nya untuk menjadi rendah hati, dan mengikuti Dia sebagai Pemimpin mereka. Perhatikanlah:
  1. Orang-orang yang dipekerjakan Kristus untuk melayani-Nya harus dibentuk supaya cocok dan memenuhi syarat bagi pelayanan itu.
  2. Orang-orang yang akan memberitakan tentang Kristus, harus terlebih dulu belajar tentang dan dari Kristus. Bagaimana kita bisa berharap membawa orang lain mengenal Kristus, bila kita sendiri tidak mengenal-Nya dengan baik?
  3. Orang-orang yang ingin mengenal Kristus harus bertekun dan senantiasa hadir bersama-Nya. Para rasul dipersiapkan untuk pekerjaan mereka dengan cara senantiasa datang berkumpul selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan mereka (Kis. 1:21). Tidak ada pembelajaran apa pun yang bisa dibandingkan dengan apa yang didapatkan selama mengikuti Kristus. Yosua, dengan melayani Musa, menjadi cocok untuk menggantikannya.
  4. Orang-orang yang hendak menjala manusia harus mengikuti Kristus dalam pekerjaan itu, dan melakukannya seperti Kristus, dengan ketekunan, kesetiaan, dan kelembutan. Kristus merupakan teladan terbesar bagi para pengkhotbah, dan sudah sepatutnya mereka semua menjadi teman-teman sekerja.

III. APLIKASI

  • Pengenalan kita akan Tuhan akan menentukan sikap kita dalam mengikut Yesus. Kegagalan murid-murid Yesus dalam mengikut Yesus adalah karena pengenalan mereka akan Yesus tidak benar. Pengenalan murid-murid Yesus akan diri Yesus adalah Mesias yang diutus Allah untuk menjadi raja di tengah-tengah dunia ini untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya. Pemahaman yang seperti inilah yang membuat murid-murid Yesus mempersoalkan siapa yang paling besar diantara mereka. Ada pengharapan bagi mereka ketika Yesus menjadi raja di dunia maka mereka akan mendapatkan posisi yang strategis dalam pemerintahan Yesus di dunia ini.
  • Melalui firman Tuhan ini kita diingatkan agar seorang pelayan Tuhan dan pengikt Kristus harus belajar mengenal Tuhan dengan benar agar kita mampu tetap setia mengikut Yesus. Kita juga tahu apa yang diinginkan Tuhan dalam hidup kita dan bagaimana Tuhan bekerja untuk membebaskan kita dari pergumulan hidup kita. Tuhan tidak memilih kita karena kita kaya, pintar, tampan, cantik, tapi Tuhan memilih kita karena kita dilayakkanNya. Oleh sebab itu bagaimanapun keadaan kita tetaplah setia kepada Tuhan dan setia melakukan tugas yang telah Tuhan berikan dalam hidup kita. Kita harus tetap mengandalkan Tuhan dalam hidup kita untuk melindungi kita dalam menghadapi setiap tantangan dalam pekerjaan Tuhan. Dalam kitab Mazmur 27:1, 4-9 dikatakan bahwa pemazmur menyatakan dengan tegas bahwa Tuhan adalah terang, keselamatan, dan benteng hidupnya. Maka, ia tidak usah takut akan musuh seperti apa pun karena kepercayaannya bahwa Tuhan adalah perlindungannya (ayat 1-3). Lebih dari pada itu, pemazmur yakin bahwa tempat paling aman adalah rumah Tuhan, yaitu kehadiran Tuhan dalam hidupnya karena di hadirat Tuhanlah pemazmur terlindungi dari mara bahaya (ayat 4-6). Maka, dengan mantap pemazmur menaikkan doa permohonannya agar Tuhan segera menyelamatkan dia (ayat 7), dan jawaban Tuhan tidak jauh dari keyakinannya, yaitu agar pemazmur mencari wajah-Nya (ayat 8), maksudnya tentu belajar dari firman- Nya.
  • Maka, pemazmur meminta dengan sungguh-sungguhagar Tuhan mengajarnya supaya ia semakin yakin akan perkenanan Tuhan atasnya (ayat 7-10). Permohonan pemazmur semakin mendesak karena desakan dari para musuh yang telah memfitnahnya dan ingin menghabiskannya. Namun, pemazmur tetap berpegang pada kepercayaannya, yaitu Tuhan yang akan menyelamatkannya. (ayat 11-13) Mazmur ini ditutup dengan ajakan untuk menantikan Tuhan (ayat 14). Pemazmur mempercayakan hidupnya ke tangan Tuhan, yang diyakininya sebagai perlindungan sejati. Hadirat Tuhan adalah tempat perlindungan yang paling aman. Bila Tuhan yang melindungi, tidak ada musuh yang dapat mengganggu.
  • Tetaplah mohon kekuatan yang datangnya dari Tuhan supaya kita dilayakkan untuk tetap setia mengikut dia setiap saat. Seperti apa yang dinyatakan Daud lewat Mazmur 119: 17 bahwa bahwa kita berutang kepada belas kasihan Allah untuk hidup kita. Daud berdoa, lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini, supaya aku hidup. Kebajikan Allah-lah yang memberi kita kehidupan ini, dan kebajikan yang sama itulah membuat hidup itu berlanjut, serta memberi semua dukungan dan penghiburan darinya.
  • Bahwa karena itulah kita harus menggunakan kehidupan kita ini dalam pekerjaan Allah. Hidup inibelas kasihan Allah, sebab hidup merupakan kesempatan untuk menaati Allah di dalam dunia ini, di mana hanya ada sedikit saja orang yang mau sungguh-sungguh mempermuliakan Dia di sini. Inilah yang ada dalam pandangan Daud, “Bukan supayaaku hidupdan menjadi kaya, hidup dan bersuka ria, melainkan supaya aku hidup dan berpegang pada firman-Mu, dapat melakukannya sendiri dan menurunkannya kepada angkatan yang akan datang, sehingga kalau semakin panjang umurku, akan semakin baik pula aku melakukannya.” Amin
Pdt. Jaya Abadi Tarigan
Runggun Bandung Pusat
 

Khotbah Yesaya 49:1-7, Minggu 15 Januari 2017

Renungan

Invocatio :
Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk 
memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus. II Timotius 1 : 1
 
Bacaan :
I Korintus 1 : 1 – 9
 
Thema :
Kita Dipilih Menjadi Terang Bagi Bangsa-Bangsa
 

Saudara-saudari Yang Dikasihi Dalam Kristus Yesus.
Menjadi terang bagi bangsa-bangsa, suatu ungkapan yang sangat Kristiani yang sering kali kita dengar dan mungkin perbincangkan dalam keseharian kita. Sangatlah menyenangkan untuk membicarakannya. Mengapa? Karena melalui ungkapan ini ada gambaran bahwa dalam diri kita ada semacam “sinar” yang bisa dipancarkan kepada siapapun dan “sinar” ini bagi siapapun yang melihatnya akan membawa pengaruh baik bagi mereka. Karena sinar itu adalah bermuatan sesuatu kekuatan baik dan barang siapa yang melihat atau menerima sinar itu akan mengalami perubahan positif dalam kehidupannya. Dan seharusnya lah seperti itu. Namun, segampang inikah bagi kita untuk bisa menjadi “sinar” itu, atau segampang itu juga kah “sinar” itu akan mampu mempengaruhi orang lain dan mengubahkannya menjadi baik. Inilah yang akan kita bahas dalam khotbah minggu ini.
 
Beberapa waktu yang lalu, mungkin kita masih mengingat peristiwa 411 dan 212.... Ada seorang anak Tuhan, yang begitu komit untuk menjadi alat terang dan senantiasa ingin mengajak orang lain untuk hidup dalam terang dan kebenaran. Sepanjang waktu ketika diberikan kesempatan untuk menjadi pemimpin DKI Jakarta, ia berusaha hidup transparan dan apa adanya. Dia sangat tidak menyukai adanya sikap hidup yang tidak benar, yang dilakukannya juga adalah berupaya untuk meningkatkan keadilan sosial bagi warga yang dipimpinnya. Namun... Apa yang dihadapinya???? Gampangkah menjadi terang itu? Ternyata TIDAK. Ia mendapatkan tantangan yang datang bertubi-tubi, silih berganti tanpa henti. Mungkin singkatnya... Dia Harus Disingkirkan... Dia Menjadi Halangan bagi Para Koruptor, Dia menjadi lawan bagi pelanggar Undang-Undang dan Hukum... Pokoknya... Dia harus enyah. Bahkah mungkin masih kita ingat bahwa ada yang berani bayar 1M kalau dia dimusnahkan atau dibunuh.
Tapi... Nanti dulu; siapa sebenarnya yang tidak menginginkan kehidupannya menjadi “terang”. Ternyata mereka adalah bagian dari orang-orang yang merasa “kebebasannya”, “kesenangannya”, “kenikmatan duniawinya” dan bahkan “kekuasaannya” merasa terusik. Mereka yang mungkin juga dengan dalih “menegakkan kebenaran” mencoba untuk menjadikannya menjadi “pesakitan” dan “tak berdaya” lagi. Mereka yang ternyata dinding nurani dan hatinya sudah begitu pekat ditutupi kegelapan dan hawa nafsu dosa. Dengan kata lain, walau di diri kita ada sinar yang begitu terang, ternyata tidaklah mudah untuk mempengaruhi sekeliling kita untuk bisa hidup terang.
 
Saudara-saudari yang Tuhan kasihi....
Menyadari bahwa tidaklah gampang untuk hidup sebagai terang, namun juga kita tetap diperhadapkan untuk senantiasa hidup sebagai terang; apa yang seharusnya kita tanamkan dalam diri kita? Sehingga antara ketidakgampangan dan tuntutan untuk tetap menjadi terang bisa terus berjalan beriringan tentu harus ada yang menjadi pijakan atau pegangan kita. Dan ternyata memang ada yaitu “keterpilihan” dan “diperlengkapi”. Konsep keterpilihan diperlihatkan oleh Paulus dan juga Jesaya dalam dua bacaan yang dihadirkan pada ibadah kita. Ditambah lagi dengan invocatio. Intinya.. Allah memilih Paulus, Allah memilih Jesaya, dan juga Allah memilih jemaat Korintus. Allah memilih Paulus untuk menjadi orang yang diutus untuk menyatakan kebaikan Allah kepada dunia dan manusia. Allah memilih Jesaya untuk menyatakan bahwa Dia tetap mengasihi umat pilihanNya dan ingin membawa mereka kembali ke negerinya. Allah memilih jemaat Korintus untuk membawa perubahan kehidupan masyarakat Korintus dari orang yang suka hidup dalam kegelapan dan lebih mementingkan hawa nafsu kedagingan menjadi jemaat yang mau hidup dalam terang kebenaran. Dan sepanjang sejarah Alkitab, yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah Allah tidak pernah salah ketika menentukan pilihanNya.
 
Konsep “diperlengkapi”, ini juga sangat jelas diperlihatkan pada kita. Melalui I Korintus ada beberapa kata yang bisa kita jadikan pegangan untuk menunjukkan Allah memperlengkapi yakni “menyertai”, “menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan”,”tidak kekurangan dalam suatu karunia apapun” dan “meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya”. Melalui perkataan ini jemaat Korintus diyakinkan oleh Paulus untuk menyadari jikalau ada tantangan pada diri sendiri dan ke diri orang lain; Allah tealah lebih dulu melakukan aksiNya. Demikian juga ketika Jesaya merasa “gagal” untuk mewujudkan keinginan Allah, maka kepadanya juga Allah menyatakan...”Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya.”Di sini Allah menyadarkan Jesaya bahwa Allah tidak sekedar memilih dirinya tapi juga menjadikan Jesaya menjadi mampu untuk menghadapi tantangan yang bakal datang. Bahkan bukan hanya bagi bangsa Israel, tapi melalui Jesaya, bangsa-bangsa lain dan penguasanya akan melihat dan tunduk pada kemuliaan Allah.
 
Saudara-saudari jemaat kekasih Tuhan
Bagaimana dengan kita. Sama halnya dengan apa yang berlaku pada Paulus, Jesaya dan juga jemaat Korintus. Bila pada mereka juga Allah menjatuhkan pilihanNya dan memperlengkapi mereka untuk bisa menyatakan kemuliaan Allah; maka pada kita juga berlaku apa yang berlaku pada mereka. Tantangan pada diri kita seperti merasa lemah, tidak berdaya, tidak layak karena dosa dan apapun yang menurut kita menjadi “ketidaklayakan” kita di hadapan Allah, Allah sendiri yang tolong kita. Dan juga ketika kita diperhadapkan dengan tantangan dari luar, apakah seperti pemimpin DKI yang senantiasa menghadapi persoalan silih berganti. Bahkan diperhadapkan dengan upaya-upaya keji dari mereka yang tertutup mata hati dan nuraninya. Percaya pada kuasa Allah, setia berjalan bersamaNya, maka ada saatnya “sinar” yang telah ditanamkan Allah pada diri kita akan memancarkan terang dan orang akan melihat kekuatan dan kemuliaan Allah terpancar dari diri kita. Amin.
 
Pdt. BRC Munthe
Rg. Cisalak
 

Khotbah Yohanes 8:12-19, Sabtu 31 Desember 2016

Renungan

Invocatio :
Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk 
menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya (Yeremia 10:23)

Bacaan :
1 Raja-raja 3:5-14 (Tunggal)

Tema :
Mengikut Yesus Menerima Terang Kehidupan
 
 
1. Puji syukur kita naikkan ke hadirat Tuhan ynag Maha Kuasa sang pencipta langit bumi dan segala yang ada, karena oleh karena kuasa dan kasihNya kita sudah diantar sampai pada penghujung tahun ini. Mari sejenak merenungkan perjalanan kehidupan kita, mungkin ketika mengawali tahun 2016 ada tekad yang mau kita kerjakan, kita sudah menetapkan resolusi dari setiap persoalan yang kita hadapi di tahun 2015, dan saat ini kita mau mengevaluasi seberapa efisen resolusi yang sudah kita lakukan, seberapa banyak tekad kita yang terrealisasi di tahun 2016 ini.

2. Menjalani tahun 2016 ini kehidupan kita mungkin tidak ada yang mulus, tanpa masalah, suka, duka silih berganti. Perlu kita mengevaluasi semua perjalanan kehidupan kita apakah semua berjalan seperti yang kita “rencanakan?” kalau iya puji Tuhan, tapi kalau tidak, coba kita renungkan apakah lebih baik atau lebih buruk dari yang kita bayangkan. Tetapi menurut saya terlalu kecil kepala kita untuk memikirkan semuanya itu, semua harus kita respons dengan iman, bahwa rancangan Tuhan bukan rancangan kecelakanan tetapi rancangan damai sejahtera, suka dan duka Tuhan pakai mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihiNya. Buntung atau untung dalam hidup kita, semuanya misteri bagi kita (seperti ilustrasi pak tua punya kuda yang mahal), bagi kita manusia semuanya misteri jika belum segala sesuatu itu berakhir.

3. Yeremia mengatakan “bahwa manusia tidak berkuasa untuk mentukan jalannya dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya. Ada pesan moral yang bisa kita pelajari dari Firman Tuhan ini :
• Tuhan berkuasa mutlak atas kehidupan manusia, sehingga kita harus menyesuaikan semua keinginan dan rencana hidup kita kepada keinginan Tuhan
• Manusia berencana tapi kehendak Tuhanlah yang terjadi, sehingga ketika semua keinginan kita tercapai kita tidak menjadi sombong dan sebaliknya jika keinginan kita tidak tercapai jangan berkecil hati apa lagi putus asa, yakinlah pasti ada rencana Tuhan yang lebih besar dari apa yang kita pikirkan. Bagian kita mengerjakan pekerjaan kita sebaik-baiknya dan selebihnya biarlah Tuhan yang mengerjakan bagianNya.
• Bersyukur dalam segala hal karena ada Allah yang terus menyetir (mengendalikan) kehidupan kita, walau pun kita juga diberikan “kehendak bebas” menentukan jalan hidup kita tetapi ada terus yang mengingatkan atau mengintrupsi jalan hidup kita, untuk itu perlu kepekaan rohani

4. Salomo ketika diangkat menjadi raja justru “kepekaan rohani” ini yang sangat dia rindukan dari Tuhan, kepekaan rohai itu adalah “hati yang faham menimbang...... membedakan yang baik dan yang jahat”. Kegagalan kita sebagai manusia menjadi pribadi yang berkenan bagi Tuhan adalah “kurang faham mana yang baik dan yang jahat”. Walaupun Salomo menjadi raja di Israel, tetapi Tuhanlah Raja yang sesungguhnya yang mengendalikan Salomo dalam memimpin umat Israel, dan memang bangsa ini mengakui walaupun mereka memiliki sisitem kerajaan tetapi mereka meyakini bahwa Tuhanlah raja mereka (Teokrasi). Dan dalam kenyataannya selama Salomo masih mau di kendalikan/dipimpin oleh Tuhan, dia sungguh raja yang paling bijaksana (tidak ada raja baik sebelum dan sesudah dia raja yang paling bijaksana. Tetapi ketika diamengikuti alur pikirannya, tidak lagi mengindahkan Firman Tuhan, ketika dia sudah mengandalkan logikanya dan asyik berasmara ria, barulah kerajaan ini menjadi kacau, setelah dia wafat kerajaan Israel terpecah menjadi dua.

5. Hanya orang yang hidup dalam terang Firman Tuhan yang bisa jalan hidupnya lurus, karena jika kita berjalan dalam terang kita bisa melihat dengan jelas “rambu-rambu” yang harus kita taati dalam hidup ini. Hidup dalam terang membuat hati kita menjadi lega dan bebas berinovasi dan berkreasi . Yesus mengatakan bahwa Dialah terang yang sesungguhnya, barang siapa menerima Dia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan mempunyai terang hidup. Terang dan gelap disini bukan siang dan malam, seakan-akan malam itu lebih buruk dari siang hari, bagi Tuhan semuanya itu baik. Tetapi terang dan gelap disini mengandung makna “dosa dan hidup benar”artinya siapa yang memiliki Yesus dia memiliki terang hidup yang sesungguhnya . Yesus meperkenalkan diriNya sebgai Mesias yang diutus oleh Tuhan, tetapi orang banyak melihat Yesus hanya sebatas anak tukang kayu (Yusuf), tetapi kesaksian Yesus di tentang orang Farisi. Dan kesempatan ini Yesus mau mengungkapkan tentang keilahianNya, bahwa siapapun tidak bisa melihat Bapa, tapi siapa melihat Anak (Yesus) dia melihat bapa. Yesus menyatakan “keesaanNya” sebagai Allah tritunggal, sehingga Dia berkata bahwa kesaksianNya tentang diriNya benar karena Dia dan bapaNya yang bersaksi.

6. Beberapa jam lagi kita akan meninggalkan tahun 2016, kita akan memasuki tahun 2017, dengan harapan yang baru, kesempatan yang baru untuk menggapai setiap angan dan mimpi kita, arungilah tahun 2017 bersama Yesus, Sang Terang yang Agung, agar kita tidak tersesat, tersandung dan jatuh.

Pdt. Saul Ginting. S.Th. M.Div
GBKP Rg. Bekasi – Galaksi
 

Page 3 of 61

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 187 guests online