Khotbah Yohanes 4:5-26, Minggu Tanggal 19 Maret 2017 (PASSION IV)

Renungan

Invocatio:
"(42-3) Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?" (Mazmur 42:2)

Bacaan:
Keluaran 17:1-7
 
Thema:
"Yesus Adalah Sumber Air Kehidupan"
 

Pendahuluan
Ketika Yesus disalibkan pada akhir hidupNya di saat puncak penderitaanNya di atas kayu salib Ia meneriakkan "haus!". Rasa haus adalah bukti beratnya penderitaan yang dialami Yesus; mengalami dehidrasi oleh karena panas terik dan menahan rasa sakit membuat banyak berkeringat atau karena banyak darah yang tercurah. Haus berbahaya merusak semua pungsi organ tubuh dan dapat menyebabkan kematian. Rasa haus tidak dapat di tahan, akan mengganggu kesehatan tubuh dan jiwa. Sebagaimana pentingnya air bagi kehidupan manusia maka untuk kelepasan dahaga manusia dan untuk menyelamatkan hidup manusia maka Yesus memperkenalkan diriNya sebagai "air kehidupan".

Pembahasan Teks
Orang-orang Farisi merasa terganggu dan tersaingi oleh karena para pengikutnya beralih kepada Yohanes pembaptis. Kemudian hari Yesus tampil dan lebih populer dan lebih di kagumi dari pada Yohanes pembaptis, sehingga orang-orang Farisi lebih menentangNya dan Yesus terancam, karena itu Yesus menyingkir ke Galilea. Apabila orang orang Yahudi berjalan dari Yudea ke Galilea pada umumnya perjalanan itu ditempuh selama enam hari, sebab mereka berjalan jauh karena menghindari daerah Samaria yang mereka musuhi. Tapi ketika Yesus menuju Galilea ia memilih perjalanan melalui Samaria, disamping mempersingkat waktu perjalanan hanya tiga hari saja, Yesus memanfaatkannya untuk memberitakan Kerajaan Allah. Menempuh perjalanan yang jauh Yesus letih dan singgah di Sikhar di sumur Yakub. Waktu itu kira-kira jam 12.00 siang, Yesus seorang diri sebab murid-muridNya pergi ke kota membeli makanan dan pada saat itu seorang wanita Samaria datang ke sumur itu untuk mengambil air.

Adalah hal yang janggal apabila wanita seorang diri ke sumur dan pada siang hari. Wanita Samaria ini kemungkinan adalah wanita yang di tolak dan di jauhi penduduk Samaria sebab perbuatannya yang kotor dan hina ( ia sudah lima kali kawin cerai dan kawin tidak resmi) maka ia tidak di ijinkan mengambil air dari sumur-sumur umum yang ada di dalam kota Samaria. Wanita samaria ini menyadari kesalahannya adalah hal yang memalukan maka ia menghindar dari orang-orang samaria dan rela menempuh perjalanan sejauh 1 km ke luar kota Samaria ke sumur Jakup demi untuk mendapatkan air dan di sana ia bertemu dengan Yesus.

Orang-orang Yahudi saling bermusuhan dengan orang-orang Samaria dan mereka sama-sama menghindari pertemuan dan dialog. Lebih khusus lagi seorang Rabi Yahudi tidak boleh berbicara dengan wanita, dan jika dilanggarnya kerabiannya akan di tolak. Tapi dalam rangka pemberitaan Kerajaan Allah, Yesus membuat terobosan baru terhadap semua aturan dan tradisi yang mempersempit kehadiran Kerajaan Allah.

Kepada wanita Samaria itu Yesus meminta air sebab ia tidak memiliki timba. Oleh karena permusuhan diantara orang Yahudi dengan orang Samaria maka wanita Samaria itu tidak memenuhi permintaan Yesus. Tapi kemudian Yesus memperkenalkan diriNya bahwa Ia adalah air hidup (yang dibutuhkan jiwa orang-orang yang haus kedamaian dan suka cita). Wanita Samaria itu tidak dapat memahami perkataan Yesus, maka ia mengejek Yesus dengan mempertanyakan apakah Yesus memiliki timba, apakah Yesus lebih besar dari pada Yakub yang telah bersusah payah menggali sumur itu. Tapi di balik ketidak mengertian dan keraguannya tentang pernyataan Yesus bahwa padaNya (Dia) ada air hidup, wanita Samaria tersebut merasakan dampak pertemuan dengan Yesus memberi kesejukan. Pada umumnya apabila seorang Rabi Yahudi bertemu dengan pendosa akan mengadilinya dan menyumpahinya, tapi Yesus menerima wanita Samaria itu, menghargai dan bersahabat dengannya. Yesus memperkenalkan diriNya sebagai air kehidupan yang tidak pernah kering, dan menjelaskan bahwa orang-orang yang menerimaNya dari dalam diri si penerima tersebut senantiasa akan memancar air kehidupan sampai akhir jaman sehingga jiwanya tidak akan haus lagi dan iapun dapat memberi dahaga bagi jiwa-jiwa yang haus. Kemungkinan berdasarkan pengenalan praktek agama-agama di jaman itu membuat wanita Samaria tersebut memahami pernyataan Yesus dengan pemahaman duniawi bahwa Yesus dapat memberi mantra-mantra supaya ia tidak akan haus lagi maka ia meminta air kehidupan yang ditawarkan Yesus.

Yesus melakukan terobosan baru bahwa dengan hadirnya Yesus sebahgai Juruselamat maka kehausan akan penyembahan kepada Allah seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi di bukit Yerusalem dan seperti yang dilakukan orang-orang Samaria di bukit Gerizim akan berakhir. Penyembahan sakral dengan liturgi-liturgi dan kiblat yang dilakukan orang-orang Yahudi dan orang-orang Samaria akan bergeser menjadi penyembahan rohani, bahwa Allah akan di muliakan bukan lokal hanya di atas bukit Yerusalem atau bukit Gerizim tapi dalam persekutuan dengan Yesus Juruselamat oleh karena Roh Allah penyembahan dapat dilakukan di semua tempat dan setiap saat. Di dalam PL, penyembahan adalah hal yang sangat penting dan dirindukan sebab ketika penyembahan berlangsung para penyembah menemukan kepuasan jiwanya, mendapat kelegaan dan kedamaian. Tapi jika orang-orang Yahudi hanya dapat menyembah Allah di bukit Yerusalem atau orang-orang Samaria di bukit Gerizim maka kepuasan jiwa, kelegaan dan kedamaian hanya di dapatkan sesaat saja sepanjang ibadah itu berlangsung dan sesudah mereka meninggalkan bukit itu akan hilanglah kepuasan dan kelegaannya dan menjadi haus lagi, dan penuh kecemasan. Penyembahan di dalam Yesus oleh Roh tidak dibatasi tempat dan waktu dan dapat dilakukan dapat dilakukan terus menerus.

Air kehidupan yang di tawarkan Yesus adalah pengampunan dosa, hidup suci yang kekal. Air kehidupan hanya layak diberikan kepada orang-orang yang menyadari kehausan jiwanya dan meninggalkan dosa serta melawan segala kejahatan. Wanita samaria itu adalah wanita yang selalu haus akan kepuasan nafsunya yang tidak pernah terpuaskan. Lima kali ia kawin tidak resmi dan cerai tetapi ia tidak menemukan dahaga dalam jiwanya, dan keadaan itu telah memperburuk keadaannya. Demi air hidup yang di tawarkan Yesus ia telah membuka diri dan Yesus telah melepas belenggu dosa yang mengikatnya dan membuatnya menderita. Air hidup (anugerah) Allah bukan barang murahan, diberikan Yesus kepada orang yang berobat, mengakui dosa dan meninggalkannya.
Dengan menerima Yesus sebagai Juruselamat membuat wanita Samaria itu menemukan kepuasan jiwanya, lalu meninggalkan Yesus di sumur itu dan meninggalkan tempayannya lalu pergi ke kota untuk memberitakan Yesus adalah Mesias. Kehausan jiwanya dan kehausan jasmaninya telah terpuaskan. Ketika di dalam dosa ia dikucilkan dan dalam rasa malu menjauhkan diri dari saudara-saudaranya sebangsa. Setelah mengenal dan menerima Yesus sebagai juruselamat yang adalah air kehidupan membuatnya merasakan hubungannya dipulihkan dekat dengan Allah dan tanpa rasa malu lagi ia mendekatkan diri dengan sesamanya, mendatangi kota Samaria dan saudara-saudaranya sebangsa.

Sama seperti orang-orang Yahudi, orang-orang Samaria juga menantikan kedatangan Juruselamat. Benar seperti yang di katakan Yesus, setelah wanita Samaria tersebut menerima Yesus sebagai air hidup dirasakannya kesegaran dan suka cita. Ia berbagi sukacitanya dengan memberitakan Yesus Sang Juruselamat sehingga dari pemberitaan tersebut banyak orang Samaria memjadi percaya dan mengalami hidup baru.

Aplikasi
Banyak orang hanya dapat merasakan rasa haus pada tubuhnya oleh karena memerlukan air tapi tidak dapat merasakan dan menyadari rasa haus di dalam jiwanya. Di dalam kisah penciptaan dunia dan segala isinya; pada setiap tahapan penciptaan dan dalam penciptaan manusia Allah menilai semua baik adanya juga manusia baik adanya. Tapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa maka keadaan manusia menjadi buruk, dan dengan berkembangnya dosa keadaan manusia terus semakin lebih buruk. Dosa membuat manusia lumpuh tidak merasa tentram, tidak dapat merasakan kedamaian dan tidak dapat bersuka cita. Jiwa manusia haus dan merindukan Allah penciptaNya, sebab hanya Allah yang dapat membebaskan manusia dari kuasa dosa.

Allah yang kita sembah adalah Allah yang peduli dan mengerti akan keluhan anak-anakNya. Karena itu Ia memberikan Yesus Kristus untuk membersihkan manusia dari segala dosa dan memberi kelegaan kepada jiwa yang haus. Yesus adalah sumber kehidupan manusia, sehinga orang-orang yang menerima Yesus akan tetap hidup dan bertumbuh, semakin lebih besar dan menghasilkan buah yang manis. Hanya di dalam Yesus ada kehidupan dan jiwa yang tentram. Karena itu marilah kita datang dan setia menyembahNya. Orang-orang yang meninggalkan persekutuan dengan Yesus dan sesama orang percaya di hari ke hari yang dijalaninya keadaannya akan menjadi lebih buruk. Tapi orang-orang yang memelihara persekutuannya dengan Yesus akan menemukan ketentraman jiwanya dan dari dalam hatinya akan memancar "air hidup" sehingga ia memiliki keberanian dan kuasa membawa orang datang kepada Yesus.

ewgm-sitelusada-bekasi
 

Khotbah Mazmur 121:1-8, Minggu tanggal 12 Maret 2017 (PASSION III)

Renungan

Invoctio :
Sebab Tuhan Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah-rumah perbudakan dan yang telah melakukan tanda tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh dan diantara semua bangsa yang kita lalui, (Yosua 24:17)
 
Bacaan :
Yohanes 3:1-17 (responsorial)

Tema :
Tuhanlah Perlindunganku
 
 
1. Masmur 121 merupakan masmur Ziarah yang biasa dinyanyikan umat dalam perjalanan menuju atau mendaki ke bukit Sion yaitu kota Yerusalem, yang terletak di dataran tinggi pegunungan Yehuda. Seluruh orang Israel yang berziarah akan berjalan dengan hati yang sukacita (Mazmur 42:5; Yesaya 30:29) untuk menghadiri tiga perayaan besar orang Israel yang terdapat di Ulangan 16:16 dan juga Keluaran 23:14-17 yaitu hari raya Roti tidak beragi, hari raya Tujuh minggu dan hari raya Pondok daun. Ditambahkan dalam Ulangan 12:5-7 disebutkan tentang pemberian persembahan bakaran, korban sembelihan, persembahan persepuluhan, persembahan khusus, korban nazar dan korban sukarela. Dalam hal ini ziarah berarti datang ketempat yang mulia (rumah ibadah), mengikuti perayaan besar keagamaan dan mempersembahkan persembahan. Ziarah dalam konteks mengunjungi tempat sakral (bermakna dalam sejarah iman/ agama) juga merupaken tindaken konkrit sebagai latihen rohani yang secara khusus masih dilakukan oleh umat Islam dan Katolik dengan cara yang berbeda.

2. Dalam perjalanan ziarah tersebut juga sekaligus membawa korban persembahan sehingga dengan banyaknya beban maka perjalanan akan semakin sulit ditambah dengan medan yang cukup sulit dilalui. Perjalanan mendaki dengan barang yang banyak ditambah cuaca ekstrim panas disiang hari dan dingin dimalam hari sehingga pemazmur mengatakan alam Ayat 1 “Aku melayangkan pandanganku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?” Kata gunung-gungung mengacu ke kondisi perjalanan yang dilalui peziarah yaitu daerah perbukitan dan rawan kejahatan juga, bandingkan dengan perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati dalam Lukas 10:25-37. Peristiwa pemberian Hukum Taurat kepada Musa terjadi di Gunung Sinai (Kel 20) yang akhirnya mempengaruhi pemahaman bangsa Israel bahwa Allah itu berada di tempat yang tinggi. Pertanyaan tersebut dijawab sendiri oleh pemazmur dengan kesadaran tentang siapa yang akan sanggup menolongnya, ayat 2 “…Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi”. Jawaban tersebut menjelaskan sumber/ asal pertolongan yang diharapkan yaitu dari Tuhan semata. Menjadi perenungan untuk kita bahwa ketika kita dalam kesusahan hidup ada begitu banyak tawaran yang menjanjikan penyelesaian dan jalan keluar namun pemazmur memastikan bahwa pertolongan yang kita butuhkan yaitu yang datangnya dari Tuhan pencipta langit dan bumi.

3. Tuhan adalah Penolong dijelaskan secara lebih mendetail di ayat-ayat berikutnya. Tuhan Penjagamu tidak akan terlelap (ay 3); tidak tertidur (ay 4) artinya Tuhan menempatkan manusia dibawah pengawasan dan penjagaanNya. Menjadi renungan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam membantu sesamanya namun Tuhan sangat mampu memberi pertolongan tepat pada waktunya. Tuhan memberikan perlindungan sekaligus pertolongan, dalam konteks pemazmur pertolongan dan perlindungan diterima saat melakukan perjalanan ziarah yang penuh dengan tantangan yaitu matahari tidak akan menyakiti pada waktu siang dan bulan pada waktu malam (ayat 6) dan Tuhan akan menjaga dari segala kecelakaan, menjaga nyawa (ayat 7). Demikianlah kesetiaan Tuhan yang memberikan rasa aman dan tenteram selama perjalanan ziarah. Menjadi renungan bahwa dalam perjalanan hidup setiap harinya (ziarah?) Tuhan hadir menjadi Penjaga dan Penolong umatNya sekarang dan selamanya (ayat 8). Dalam Perjanjian Baru kita mendapat penegasan tentang kasih setia Tuhan dalam Yohanes 3:16 “ karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang Tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Demikianlah kesetiaan Allah memberikan rasa aman dan tenteram dalam perjalanan ziarah, tidak saja dalam ziarah tapi dalam perjalanan kehidupan setiap harinya sehingga kehadiran Allah dalam kehidupan umat-Nya pasti. Oleh karena itu Martin Luther menyebut Yoh.3:16 sebagai miniature of Gospel.

4. Nikodemus peminpin agama Yahudi, menjumpai Yesus ketika hari sudah gelap untuk berbincang dengan Yesus, pemilihan waktu ini diambil supaya orang banyak tidak tahu tentang pertemuan tersebut. Dalam percakapan ada dibahas tentang dilahirkan kembali. Nikodemus memahami dilahirkan kembali berarti masuk kembali kerahim ibunya dan dilahirkan lagi. Namun Yesus menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dilahirkan dari air dan Roh, hidup baru. Karya Roh Kudus tidak dapat dikendalikan oleh manusia dan manusia yang sudah lahir kembali dalam Roh, keselamatanya tidak dapat diukur dengan ukuran manusia. Hal ini baru bagi Nikodemus karena bagi orang Parisi, kebaikan/ keselamatan seseorang biasanya diukur dengan melihat kepatuhannya terhadap hukum Taurat. Keselamatan tidak akan didapatkan hanya dengan taat melakukan Hukum Taurat tapi merupakan anugerah Allah. Tuhan langsung turun tangan untuk menyelamatkan manusia.

5. Masing-masing kita sedang berjalan dalam “ziarah” di dunia ini dan pasti banyak tantangan dan pergumulan yang sudah dan akan kita temui. Melalui bahan renungan kita diminggu ini ditegaskan kembali bahwa Tuhan yang kita sembah tidak akan membiarkan kita berjalan sendiri tanpa pengawalan, pengawasan dan pertolongan. Keyakinan ini akan memberi kita kepercayaan diri bahwa dalam ziarah ini, dalam penyertaan Tuhan, akan membawa kita dengan selamat pada tujuan. Tantangan yang dihadapi pengikut Kristus tidak akan membuat kita berhenti apalagi hilang pengharapan namun tetaplah focus pada anugerah Tuhan yang telah disediakan bagi kita sekarang dan selamanya.

Pdt. Erlikasna Purba
GBKP Denpasar
 

Khotbah Roma 5:12-19, Minggu 05 Maret 2017 (PASSION II)

Renungan

Invocatio :
“Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek
moyangmu” (Ulangan 4:31).

Bacaan :
Mazmur 32:1-11(Tunggal)

Tema :
Hidup Dalam Kasih Karunia Tuhan
 
 
I. Pengantar
Rumusan teologia Calvin tentang manusia yang sudah jatuh kedalam dosa adalah “Rusak total”, barang yang rusak total sudah selayaknya di buang. Walaupun manusia sudah rusak total oleh kejatuhannya kedalam dosa, tapi Tuhan tidak memusnahkannya, itulah yang disebut dengan kasih karunia. Paulus mengatakan bahwa manusia yang telah jatuh kedalam dosa adalah orang durhaka (ay 5:6), cerita anak durhaka yang terkenal adalah cerita Malinkundang yang dikutuk menjadi batu, iya memang itulah selayaknya dilakukan kepada orang-orang durhaka “dikutuk”. Tetapi Tuhan tidak mengutuk manusia bahkan mau menanggung “kutukan” dosa itu dengan mati di kayu salib, inilah kasih karunia yang terbesar. Mati untuk orang baik, orang benar dan bagi orang yang dicintai, mungkin ada, tapi kalau mati untuk orang durhaka, penjahat, pembrontak, berkorban bagi barang yang rusak, ini adalah sesuatu yang imposible. Tetapi itulah yang dilakukan oleh Yesus, melalui kematianNya di Kayu Salib, inilah yang di sebut dengan “Kasih Karunia”. Kita sudah mengenal kasih karunia, dan sekarang bagaimana supaya kita tetap hidup didalamnya? Mari kita telusuri Firman Tuhan yang menjadi renungan kita di minggu Passion yang ke-2 ini.
 
II. Pendalaman Naskah Alkitab
1. Dosa (12)
Dosa adalah pelanggaran cinta kasih terhadap Tuhan atau sesama yang dapat mengakibatkan terputusnya hubungan antara manusia dengan Allah. Utamanya, dosa disebabkan karena manusia mencintai dirinya sendiri atau hal-hal lain sedemikian rupa sehingga menjauhkan diri dari cinta terhadap Allah. Dosa adalah penyimpangan dari Firman Allah. Upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Sifat dosa sama seperti “racun kontak” atau seperti lingkaran obat anti nyamuk, mulai dari lingkaran luar (dalam) jika di bakar perlahan akan menjalar kedalam (keluar), tergantung dari mana dimulai. Demikian dikisahkan bagaimana dosa memasuki dunia dan mencemari semua manusia, dimulai dari kehidupan Adam (manusia pertama). Dosa itu semakin hari semakin berkembang melebihi deret hitung bahkan mengalahkan perkembang biakan ayam, satu ayam bertelur 12 dan menetas, penetasan berikutnya sudah 13 ekor dan akan bertelur lagi di kali 12 =156 di kali 12 menjadi 1572 dan seterusnya, cepat sekali pertambahan/ perkembangnnya, tetapi masih kalah dengan pertambahan/ perkembangan dosa, karena setiap orang bukan saja melahirkan satu dosa, sehingga dosa ada dimana-mana, di kiri- di kanan, di atas – dibawah, sehingga tidak ada lagi manusia yang benar seorang pun tidak (Roma. 3:11-18), dengan demikian semua manusia layak di hukum mati, di musnahkan, dan di kutuk (disalibkan).

2. Dosa Lebih Tua dari Hukum Taurat (13-14)
Semua manusia sudah berdosa, ini menjadi perdebatan di zaman Paulus, karena pemahaman umum (apalagi di dunia hukum), bagaimana orang tahu melanggar undang-undang (hukum) kalau hukumnya tidak ada? Bukankah dosa itu dikenal setelah ada Undang-undang (Hukum Taurat). Paulus mengatakan bahwa dari dulu dosa itu sudah ada tetapi tidak diperhitungkan. Kalau tidak diperhitungkan ya sama saja dengan tidak ada. Untuk memahami ayat 13 ini kita, harus perhadapkan dengan ayat 20 “dimana dosa bertambah banyak di situ anugerah bertambah banyak” artinya hukum taurat menolong kita untuk menghitung berapa banyak dosa pelanggaran kita dan berapa banyak anugerah yang kita terima, sehingga Paulus mengatakan bahwa kalau Taurat tidak ada dosa tidak dapat diperhitungkan. Hukum Taurat adalah hukum yang tertulis yang diberikan melalui Musa, sedangkan jauh sebelum itu perintah Tuhan (undang-undang Tuhan) sudah ada yang langsung di sampaikan (lisan) kepada orang yang dipilih Tuhan (bd. Peraturan/ Perintah yang diberikan kepada Adam agar jangan makan buah pohon pengetahuan). Sama dengan peradaban manusia sebelum ada undang-undang yang tertulis sudah ada hukum-hukum (norma-norma) yang berlaku, dan setiap pelanggarannya pasti mendatangkan sangsi.

Kelihatannya Paulus tidak mau berlama-lama berdebat tentang hal ini, tetapi Paulus lebih menekankan bahwa “ada atau tidak ada hukum Taurat” dosa itu sudah ada dan setiap perbuatan dosa pasti mendatangkan hukuman. Jadi hukuman atas dosa itu bukan saja setelah zaman Musa tetapi sejak zaman Adam (bd. Kej. 3:17-19). Manusia yang pertama sampai manusia yang terakhir nantinya membutuhkankan “pertolongan” (kasih Karunia Allah). Karena orang yang sudah jatuh ke dalam dosa dan sesama orang yang sudah jatuh kedalam dosa, tidak bisa menyelamatkan dirinya atau sesamanya). Hukuman dosa yang ditanggung dalam hal ini bukan saja pelanggaran hukum Tuhan yang tertulis atau tidak tertulis, tetapi jauh lebih dalam adalah tabiat dosa yang sudah mewarnai semua hati (bathin) manusia.

3. Kasih Karunia Tuhan (15-19)
Kasih karunia adalah kasih yang diberikan kepada orang yang sesungguhnya tidak layak menerimanya (anak durhaka yang diampuni, barang yang rusak total diperbaiki menjadi seperti baru). Paulus mengatakan bahwa : Dosa dan kematian dibawa oleh satu pribadi masuk ke dunia, demikian juga dengan ketaatan satu pribadi semua manusia dibenarkan. Paulus menekankan kemampuan tertinggi dari penebusan yang disediakan oleh Yesus Kristus untuk menghapus dampak dari kejatuhan kedalam dosa. Adam membawa dosa dan kematian tetapi Kristus membawa kasih karunia dan hidup.
 
III. Pointer aplikasi
1. Semua manusia telah jatuh kedalam dosa, upah dosa adalah maut.
2. Semua manusia membutuhkan kasih karunia Tuhan, karena orang yang sudah jatuh kedalam dosa tidak bisa menyelamatkan dirinya.
3. Berbahagialah karena Tuhan tidak memperhitungkan semua pelanggaran kita, serusak apapun kita, sedurhaka apa pun kita, ketika kita berseru kepada Tuhan dan mau bertobat kita akan diampuni (Mzm 32:1-11), karena Allah kita penuh dengan kasih karunia (bd. Invocatio).
4. Hidup di dalam kasih karunia. Sebagai orang yang sudah diampuni/ dibebaskan yang ada adalah “bersyukur dan bersukacita”. Sebagai orang yang sudah dimerdekakan kita memiliki paradigma baru tentang Taurat Tuhan. Di zaman dulu Taurat itu dipandang sebagai beban yang sangat berat (kuk yang menekan), tetapi bagi kita adalah anugerah. Karena melalui Hukum Taurat kita dapat menghitung berapa besar dosa (pelanggaran) kita dan sebesar itu jugalah kasih karunia yang Tuhan berikan bagi kita (Roma 5:20 “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah). Ibarat utang, semakin banyak utang kita yang dilunasi semakin banyak anugerah yang kita terima (Catatan: tetapi bukan memberi kebebasan untuk berbuat dosa, Roma 6:14 “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia”). Taurat adalah wujud kasih Allah agar kita dapat berjalan dalam koridor yang benar (orang yang telah diselamatkan, mengucap syukur dengan ketaatan pada Allah). Menjadi rambu-rambu yang dapat mengantarkan kita ke “negeri Kasih Karunia, dimana tidak ada tangis dan kematian. Jadi boleh kita katakan bahwa Hidup dalam kasih karunia Tuhan hidup sesuai dengan “Hukum Taurat” yang sudah disederhanakan isinya, yaitu : “mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri”. Sebagai wujud mengasihi Tuhan dan sesama, kita aktif dalam persekutuan (koinonia), gigih dalam bersaksi (marturia) dan rajin dalam pelayanan (diakonia).

5. Di Minggu-minggu Passion ini mari kita merenungkan betapa “Hebat” penderitaan Yesus untuk menanggung dosa kita, Dia rela dicaci maki, di fitnah dan diludahi, di cambuk dan di salibkan, di tombak dan dibunuh. Tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih yang memberikan nyawanya bagi sahabatnya (Yoh. 15:13). Dalam Galatia 2:20 “ Paulus mengatakan hidupku bukannya aku lagi melainkan Kristus yang ada di dalamku”, lebih jauh lagi dalam 1 Korintus 9:16 “celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil”. Inilah tanggung jawab yang harus kita lakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita hidup dalam kasih karunia Tuhan, selamat mencoba. Tuhan memberkati.
 
Pdt. Saul Ginting, S.Th, M.Div
GBKP Bekasi
 

Khotbah Mazmur 2:1-12, Minggu 26 Februari 2017

Renungan

Invocatio :
“Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya”(Amsal 10 : 22).
 
Pembacaan :
2 Petrus 1 : 16 – 21
 
Tema :
Panggilan untuk Memperbaiki
 
 
I. Pengantar
Menurut Kalender Tahun Gerejani kini gereja memasuki masa-masa Pra-Paskah atau Minggu-minggu sengsara, juga disebut Minggu Passion yang akan dilalui selama 7 (tujuh minggu lamanya). Peristiwa ini didasari oleh sengsara yang dialami Yesus dan menjadi peringatan bagi kehidupan ke kristenan mula-mula yang mendapat penganiayaan karena imannya kepada Kristus. Symbol Liturgi dinampakkan dengan gambar Ikan tertulis ICHTUS singkatan, Iesous Christos Theou Uios Soter yang artinya Yesus Kristus, Anak Allah, Juru Selamat. Rasid Rachman dalam bukunya Hari Raya Liturgi – Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, mengatakan Minggu-minggu sengsara atau Pra Paskah tidak diisi melulu dengan dukacita dan pergumulan berat – oleh sebab itu tidak disebut masa atau Minggu-minggu sengsara – tetapi juga dengan kesukaan dan pengharapan sebab di sinilah waktu dan kesempatan gereja untuk lebih menghayati peristiwa salib Kristus. Masa Pra Paskah adalah kesempatan spiritual umat dan lembaga gereja untuk lebih mengenal kasih Allah di dalam Kristus melalui pertobatan yang sungguh. Pertobatan dari dosa selalu diikuti dengan anugerah pengampunan Allah.

Dengan demikian tahapan demi tahapan Minggu-minggu sengsara atau masa Pra Paskah menjadi perenungan berangkat dari tema Minggu Passion I kita (GBKP), “Terpanggil untuk Memperbaiki”. Apakah yang harus diperbaiki: di gereja, jemaat, keluarga juga di dalam masyarakat? Dan bagaimanakah sikap serta peran orang/ pihak yang terpanggil untuk melakukan perbaikan? Ada perbaikan karena telah terjadi kerusakan. Bagaimana standar kerusakan sehingga perlu perbaikan yang dimasud di dalam tema renungan saat ini?
 
II. Makna Minggu Passion I
1. Pengantar Teks Pembacaan II Petrus 1 : 16 – 21
Jelas bahwa di dalam surat Petrus yang menjadi pembacaan ada kelompok atau golongan yang merusak. Mereka membuat cerita dongeng yang turut memberi issu pada pemberitaan rasul Petrus tentang kedatangan Yesus Kristus sebagai raja. Cerita dongeng tersebut datangnya dari golongan Gnostik, yang hanya merupakan cerita khayalan belaka. Petrus mengatakan dongeng-dongeng isapan jempol manusia. Kesaksian rasul Petrus mengatasi cerita khayalan belaka tersebut. Diperkuat oleh informasi atau data otentik sebagai bukti terhadap peristiwa dimana rasul Petrus ikut menjadi saksi. Dia, Petrus adalah saksi sejarah yang melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Yesus menerima tanda kemuliaan dan kehormatan dari Allah Bapa di atas gunung itu. Ketika itu memang Petrus diundang oleh Yesus ikut naik ke atas gunung itu. Bersama dengan Yesus, rasul Petrus juga mendengar suara yang datangnya dari sorga yang berkata: ”Inilah Anak yang Kukasihi kepadaNya Aku berkenan” (Mat 17:1-5, Mark 9:2-7, Luk 9:28-35). Kesaksian rasul Petrus di dalam suratnya ini tidak dapat diragukan lagi karena peristiwa ini benar-benar disaksikan oleh mata, juga tempat dimana peristiwa ini terjadi, yaitu diatas gunung yang kudus. Gunung adalah merupakan sarana tempat penyataan Allah (Kel 3:5; 19:23). Saksi mata dan tempat terhadap peristiwa datangnya kembali Kristus sebagai raja tidaklah mungkin dirusak oleh cerita dongeng atau khayalan yang mau merusak berita yang disampaikan oleh rasul Petrus tersebut. Pandangan ini bagi para rasul adalah penggenapan dari PL yang sangat menarik (Mat. 1:22; 2:5,6). Karenanya sebagai orang yang percaya harus memperhatikan akan kedatangan Kristus. Kedatangan Kristus itu digambarkan seperti pelita yang bercahaya di dalam gelap, Gelap melukiskan keadaan dunia bila tanpa Terang yang sesungguhnya (bd. Yoh. 8:12). Pelita dikenal sebagai Firman Allah/ Alkitab (Mzm. 119:105). Dan fajar yaitu hari kedatangan Kristus (3:10; Rom. 13:12) atau disebut Bintang Timur (Yun, Phosphoros), yaitu bintang yang membawa fajar. Dalam kebudayaan Yunani dan Romawi Kuno menunjuk Bintang Kejora menjadi lambang bagi Tuhan Yesus (Bil. 24:17; Luk. 1:78; Why. 22:16).
 
2. Penegasan Renungan / Teks Khotbah Mazmur 2 : 1 – 12
Mengawali kesaksian pemazmur, memperlihatkan situasi kerusuhan diantara bangsa-bangsa. Kerusuhan tersebut didasari oleh permufakatan raja-raja dunia melawan Tuhan dan yang diurapiNya. Melawan Tuhan adalah perlawanan terhadap Israel dimana Tuhan sendiri adalah Raja bagi bangsaNya Israel. Permufakatan antar raja-raja dunia yang dimaksud disini adalah sistim pemerintahan politik yang tidak membawa kepada pemerintahan kehidupan yang adil damai tentram dan aman. Tetapi justru berdampak pada korban kemanusiaan. Pelanggaran HAM, realitas kemiskinan serta keterpurukan dari berbagai segi kehidupan. Akibatnya, berdampak pada kerusakan. Kerusakan mental, moral dan atau kepribadian bangsa dan warga negaranya khususnya pada generasi bangsa. Inilah pertanda politik bangsa yang melawan kepemimpinan Raja Israel yang diurapi oleh Tuhan. Cara mufakat raja-raja dunia seperti ini sangat merugikan, dan sangat ditentang oleh Raja Israel. Politik seperti ini hanya menjadi tertawaan atau ejekan. Allah menertawakan kepemimpinan raja-raja dunia yang menjalankan perpolitikan yang merusak dan atau yang merugikan. Allah memperlihatkan politik yang perlu ditertawakan atau diejek. Ditertawakan berarti dipermalukan. Dipermalukan karena kepemimpinan yang dijalankan tidak menciptakan keadilan dan kedamaian tetapi hanya memporak-porandakan kehidupan manusia dan dunia. Politik yang merusak resikonya adalah berhadapan dengan Tuhan yang adalah Raja diatas segala raja-raja di dunia. Dia tidak hanya menertawakan tetapi juga dapat melenyapkan mengalahkan dengan mudah sistim perintahan raja-raja dunia yang merugikan. Tuhan menghukum politik pemerintahan yang merugikan. PadaNya ada gada (tongkat) kekuasaan dan besi sebagai alat untuk menghancurkan kepemimpinan yang menjalankan politik pemerintahannya dengan tindakan kekerasan. Sistim perintahan atau politik bangsa yang merusak akan dilenyapkan oleh Tuhan. Karena pemerintahan yang demikian hanya mengacaukan tatanan kehidupan dunia dan hidup antar bangsa. Raja-raja tidak seharusnya menjalankan pemerintahan dengan melawan Tuhan sebagai Raja, tetapi justru meminta perlindungan kepada Tuhan dalam menjalankan masa kepemimpinanNya untuk menjalankan kepemimpinan bangsa dengan bijaksana. Yaitu kebijaksanaan yang diajarkan oleh Tuhan. Belajar daripada Tuhan berarti menyerahkan kepemimpinan dibawah kekuasaan Tuhan sendiri. Kepemimpinan Raja Israel telah nyata dengan keamanan dan ketenangan kota Sion yang tetap dilindungi dalam pemerintahan Raja Israel sendiri. Kita telah mengalami kepahitan bangsa dalam situasi kerusuhan-kerusuhan yang terjadi pada masa lalu (1999). Di Poso, Ambon dan kota-kota lainnya, bahkan sampai sekarang suasana bangsa yang tidak kondusif mengajak kita untuk belajar dari kepemimpinan Raja Israel. Juga termasuk kepemimpinan raja-raja dunia yang diperhadapkan oleh berbagai problema bangsa termasuk masalah teroris atau ISIS.
 
III. Perenungan Teologis : Minggu Passion I
Nyanyian pemazmur sebagai perenungan dalam masa Pra Paskah (Passion I) sengsara Yesus, adalah nyanyian penobatan Raja yang diurapi Tuhan. Pujian pemazmur ini adalah ditujukan kepada Kristus yang dalam sengsaraNya memasuki dunia perpolitikan raja-raja dunia, untuk memperbaiki sistim pemerintahan dari kerusakan peradaban dunia ke dalam hidup perdamaian. Presiden Amerika Serikat Donal Trump mengawali kepemimpinan perdananya mempererat pelukannya mendukung Jepang terkait dengan uji coba rudal Korea Utara. Peluncuran rudal ini sangat tidak bisa ditoleransi, dan semestinya Korut harus mengikuti resolusi PBB (Minggu 12 Peb 2017), demikian salah satu berita surat kabar yang kemudian dikatakan belum diketahui secara persis apa maksud peluncuran rudal tersebut bagi kehidupan dunia.

Dimana-mana pasti ada saja sikap dan tindakan pihak-pihak yang merencanakan kejahatan atau kerusuhan. Teroris, ISIS atau kejahatan lainnya sangat dekat dengan lingkungan dimana kita berada. Menghadapi situasi ini bukan kita harus menjadi takut. Tetapi kita dipanggil untuk peka dan peduli terhadap sikap dan tindakan untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi disekitar kita. Atau setidaknya menjaga agar tidak terjadi kerusuhan atau pengerusakan disekitar tempat kita tinggal menetap. Panggilan ini adalah seperti penunjukkan Tuhan kepada Sang Raja yaitu Yesus Tuhan yang dipilih oleh dan diurapi oleh BapaNya, ‘AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan…’ (bdk. 2 Pet 1:17). Bahwa tugas panggilan untuk menjaga atau memperbaiki dari kerusakan adalah juga panggilan kepada kita pribadi lepas pribadi melakukan karya kebaikan/ perbaikan sebagai persembahan bagi kemuliaan nama Tuhan. Seperti Tuhan mempermuliakan AnakNya sekalipun Ia harus mengalami sengsara. Demikian juga kita, atas tugas panggilan untuk memperbaiki yang rusak akan dijalani seiring dengan penderitaan atau sengsara. Keadaan ini tentu harus dimaknai dari apa yang telah dikerjakan Yesus di dunia ini. Baik di dalam rumah tangga/ keluarga, jemaat/ gereja dan di tengah masyarakat serta tempat dimana kita bekerja, kita terpanggil berkorban memperbaiki kerusakan disekitar kita sebagai makna penebusan Kristus dimana kita juga turut berperan mengerjakannya.
 
Pdt Merry Tatuwo br Sembiring, STh
Perpulungen/ Jemaat GBKP Makassar
 

Khotbah Matius 5:38-48, Minggu 19 Februari 2017

Renungan

Invocatio :
Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya
yang sesat,maka segeralah kau kembalikan binatang itu (Kel.23:4)
 
Bacaan :
Imamat 19:1,2;9-18

Tema :
Mengasihi yang melebihi perbuatan baik yang ditunjukkan
orang lain (Lebih asa siniarapken kalak)
 
 
I. Pendahuluan
Matius 5:38-48 merupakan bagian dari Khotbah di Bukit yang si sampaikan oleh Yesus,Dia adalah Mesias yang di nubuatkan para nabi-nabi yang akan membawa “Taurat Baru “ , bukan melawan Hukum taurat tapi melawan penafsiran orang-orag Farisi yang sangat ketat melakukan hukum taurat.Yesus menjelaskan inti pengajaran hukum taurat adalah kasih yang ada dalam hidup orang –orang yang percaya kepadaNya.
 
II. Isi
1. Bacaan :Imamat 19:12,9-18
Selain memuat tentang tugas para imam dalam ruang ibadah kitab imamat juga memperlihatkan kehidupan umat Allah.Ajarannya mengutamakan pengenalan manusia akan kekudusan Allah dan bagaimana manusia menghampiri Allah yang kudus.Hal ini menunjukkan kepada kita bagaiman suasana Israel pada masa pembagian tanah pusaka,ketika bangsa itu telah menduduki negeri yang dijanjikan Allah bagi mereka.Di atas tanahlah kehidupan terselenggara dan tanah sebagai sumber kehidupan karena tanah tidak pernah berhenti memberikan hasil bagi mereka.
 
Tanah diyakini sebagai keadilan Allah yang telah membela bangsa Israel yag kecil dan memberikan kehidupan bagi bangsa ini.Pengalaman bangsa Isreal yang pernah di tindas oleh bangsa lain,merupakan suatu pengalaman berharga yang akhirnya di ikuti pemberian tanah pusaka oleh Tuhan Allah.Kini mereka bisa hidup dari pemberian tanah oleh Allah,tanah itu menghasilkan gandum,anggur,susu dan daging serta buah-buahan yang lain.Mereka bisa memenuhi kebutuhan mereka dari tanah pemberian Allah.Oleh karena itu Allah melalui Musa memperingatkan bangsa itu bahwa tanah itu harus memberikan hasil yang bisa memberi makan semua orang,termasuk orang yang miskin hendaknya diberi kesempatan untuk bisa juga menikmati hasil dari tanah itu “Pada waktu kamu menuai hasil tanahmu;janganlah kau sabit ladangmu bahis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kau pungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu”(ay 9).Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Israel yang telah memperoleh belas kasihan Allah dengan pemberian tanah,maka dia juga harus mengasihi orang lain.Itulah keadilan yang di tunggu oleh Allah.Selanjutnya Allah juga membenci kesombongan,tidak adil dalam bentuk merampas hak,memfitnah demi memuluskan rencana jahat. Allah menghendaki agar bangsa ini dapat hidup kudus dengan menjauhkan diri dari praktek curang dipengadilan dan juga dalam kehidupan sehari-hari.
 
2. Khotbah:Matiuas 5:38-48
Di sini diperlihatkan bagaiman Yesus mengungkapkan kehidupan orang beriman terhadap sesamanya atau bahkan terhadap musuhnya.Ajaran ini melampaui tradisi kebiasaan yang sudah baku yang penuh dendam dan amarah.Salah satu contoh yang jelas adalah adanya hukum yang setimpal.Latar belakang hukuman di Timur Tenggah dikatakan adil ketika pelaku (tersangka) menerima ganjaran yang setimpal atau berbanding dengan penderitaan korban.Seorang terhukum mati bisa bebas dari tiang gantungan setelah keluarga mengampuni dan pihak korban menerima uang darah.Seorang raja sekalipun tidak berhak mencabut hukumannya,karena bagi mereka adil itu adalah ketika tersangka itu mengalami penderitaan seperti yang dialami pihak korban,oleh karena hukum mata ganti mata,gigi ganti gigi berlaku dalam kehidupan sosial saat itu.Demikian juga dengan sikap dan perbuatan kita terhadap orang yang berbuat jahat ada tempat untuk membalas kejahatan yang setimpal dengan yang dilakukannya bagi kita.
 
Dalam kondisi ratusan tahun dalam prinsip kaku yang mendarah daging,Yesus hadir dan memberikan etika baru yang tertuang dalam khotbah dibukit yang sangat terkenal,bahwa murid-murid Yesus serta orang-orang yang percaya kepadaNya harus tampil beda dengan dunia dengan segala peraturannya.”Tetapi Aku berkata kepadamu:Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu,melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu,berilah juga kepadanya pipi kirimu”(ay 39),Hal ini berbicara tentang sikap dan perbuatan kita terhadap orang yang telah berbuat jahat kepada kita,dengan kata lain balas dendam tidak memiliki tempat dalam kamus orang Kristen.Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu,serahkanlah juga jubahmu”(ay 40).Dimata orang Yahudi “jubah”mempunyai makna yang sangat penting yaitu “dirinya sendiri”.Hal ini menunjukkan bahwa seorang yang ingin hidup sebagai pengikut Kristus memang harus lebih dahulu meninggalkan “dirinya sendiri”(ego) dengan melakukan kepentingan orang lain,tidah hanya memberikan apa yang secara tidak sah diambil dari kita,akan tetapi memberikan lebih lagi dari yang kita miliki.”Siapa yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil,berjalanlah bersama dia sejauh dua mil (ay 41) Hal ini berarti bahwa dalam situasi yang masih memungkinkan janganlah kita menolak orang yang memohon bantuan dari kita.
 
III. Aplikasi
Tuhan Yesus memberikan ajaran baru bagi murid-murid dan juga orang-orang yang percaya kepadaNya.Kita disuruh untuk keluar dari aturan dan kebiasaan yang sudah mendarah daging dikehidupan sehari-hari.Mengasihi musuh adalah ajaran Yesus yang nampaknya susah untuk dilakukan,sebab seseorang pasti pernah punya pengalaman memandang seseorang sebagai musuh,atau sampai sekarangpun kita masih punya daftar orang-orang yang dianggap musuh.Permusuhan biasanya beriringan dengan sakit hati.Orang yang menganggap seseorang sebagai musuh akan selalu ingin membalas perbuatan jahat,dendam dan kebencian tidak terhindarkan,semakin lama rasa ini semakin dalam hingga kita sering mendengar perkataan “sada matawari pe ateku lang ras ia”
 
Ajaran yang diberikan oleh Yesus walau sulit bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin.Yesus adalah model kita,melalui kasih dan pengampunanNya terhadap mereka yang menganiayaNya (Luk.23:34).Seorang penulis Kristen Alfred Plummer (1841-1926) menulis:Membalas kebaikan dengan kejahatan berarti membiarkan iblis mempengaruhi kita dengan kebencian,iri dan dengki,membalas kebaikan dengan kebaikan adalah suatu hal yang manusiawi.Sedangkan membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sifat ilahi.Kita tidak akan pernah bisa bahagia dan damai sejahtera jika masih menyimpan dendam dan kebencian.
 
Melakukan lebih dari yang diharapkan oleh orang lain,ini menunjukkan sikap bahwa hidup dan perbuatan kita yang tidak tergantung pada apa yang kita dengar dan apa yang kita terima dari orang lain ( bnd Roma 12:2) .Hidup kita haruslah tergantung dari pemeliharaan Allah,bagaimana Allah telah menunjukkan keadilanNya dengan memberikan kita hidup dari apa yang telah Dia sediakan.
Memgasihi lebih dari yang diberikan oleh orang lain (tema) adalah bentuk keadilan yang bercirikan kasih.Kekristenan tidaklah mengorbankan keadilan demi kasih,sebab tidak ada kejahatan yang dibiarkan oleh keadilan Allah.Akan tetapi pembalasan adalah hak Allah bukan hak manusia.Untuk mendapatkan berkat dari Allah kita tidakboleh membalas kejahatan dengan kejahatan tapi mengasihinya,inilah kelebihan kita sebagai orang kristen,Allah tidak pernah menuntut kita,yang ada Dia selalu memberi lebih,melebihi segala perbuatan baik kita.
 

Pdt.Rena Tetty Ginting
Runggun Bandung Barat
 

Page 3 of 62

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 404 guests online