Khotbah Pilipi 1:3-11, Minggu 06 Desember 2015

Renungan

Invocatio :
“Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Roma 5 : 2).

Bacaan  :
Maleaki 3 : 1-4 (Tunggal)

Khotbah :
Pilipi 1 : 3-11 (Antiponal)

Tema    :
“Menikmati Kasih Karunia Allah” (Ngenanami Lias Ate Dibata)

I. Pendahuluan
Kasih karunia Allah telah disediakan Allah bagi kita tetapi bisa saja kita belum menikmatinya.Seperti hidangan yang telah disajikan di atas meja, tetapi kita belum mengkonsumsinya.Kasih karunia Allah seharusnya memberikan kekuatan untuk bersekutu dan melayani di dalam dunia.

Hidup dalam persekutuan dengan Allah sebenarnya dapat dirasakan di dalam jemaat, bersama-sama di dalam kasih karunia Allah.Mungkin hal ini yang masih kurang terbentuk di dalam jemaat-jemaat kita sehingga kita masih kurang merasakan kasih karunia Allah.
Dari pemaparan Paulus akan hubungannya dengan jemaat Filipi memberikan gambaran yang baik akan kasih karunia Allah yang meneguhkan hati Paulus dan jemaat Filipi. Persekutuan atau kebersamaan jemaat dengan para pelayan gereja harus diteguhkan supaya kasih karunia Allah makin dirasakan di tengah-tengah jemaat.Bahwa para pelayan ada untuk jemaatnya dan para jemaat ada untuk mendukung pekerjaan Injil sehingga rancangan kasih karunia Allah dinyatakan.
 
Untuk menikmati TV kita membutuhkan suara dan gambar.Bagaimana jika suaranya terdengar tapi gambarnya tidak kelihatan.Atau gambarnya kelihatan tetapi suaranya tidak terdengar.Televisi dirancang untuk menyampaikan suara maupun gambar.Demikian juga kehidupan jemaat tidak hanya terdengar baik, tapi juga terlihat baik.

II. Pendalaman Nats
Kondisi Paulus dalam rumah tahanan dan menanti hukuman mati seharusnya membuatnya tertekan dan menderita.Tetapi Paulus merasakan sukacita karena mengingat teman-temannya di Filipi. Semua ingatannya tentang jemaat Filipi mendatangkan sukacita karena ia memiliki persekutuan yang erat di dalam Injil Yesus Kristus. Bahwa arti kata persekutuan ialah “bersama-sama memiliki””.Seringkali kata persekutuan bagi kita sangat dangkal pengertiannya, kita menganggap telah bersekutu dengan berkumpul bersama dalam satu tempat.Yang dimaksudkan dengan persekutuan adalah di dalam satu Roh, bersama-sama memiliki bagian dalam kasih karunia Allah.Berpisah tempat tidak menjadi penghalang persekutuan, Paulus berada di Roma, teman-temannya jauh daripadanya di Filipi, tetapi persekutuan rohani mereka nyata dan memuaskan.Jemaat Filipi sungguh-sungguh mendukung Paulus dalam pemberitaan dan penderitaannya.Sama-sama tidak dapat saling melupakan, mereka merasa berbagian dalam kasih karunia Allah.

Dibandingkan dengan bacaan kita, Maleakhi melihat kemerosotan kerohanian di Yerusalem, bahwa orang-orang yang beribadah dan melayani Allah, hatinya jauh dari Allah.Persembahan mereka benar-benar tidak berkenan kepada Allah. Maka Tuhan sendiri akan datang ke dalam Bait-Nya untuk mengejutkan, untuk merombak dan membaharui-Nya. Kristus dengan Injil-Nya memurnikan dan mereformasi gereja, dan oleh Roh-Nya bekerja menumbuhkan dan membersihkan orang-orang pilihan; “Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela” (Ef.5:25-27). Tuhan Yesus sendiri “menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit.2:14). Yang dimurnikan menurut Maleaki adalah suku Lewi, yaitu orang-orang yang dikhususkan melayani Allah.Semua orang Kristen sejati adalah anak-anak Lewi, yang diperuntukkan bagi Tuhan, untuk melakukanpelayanan di tempat kudus.
 
Tuhan menyucikan mereka seperti emas dan perak dimurnikan dengan api, menyucikan mereka dalam hati; ia tidak hanya membersihkan bagian luar tetapi mengeluarkan keburukan dari dalam hatinya. Yohanes Pembabtis mengatakan bahwa “Ia (Yesus) akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat.3:11). Dia akan membersihkan mereka sehingga membuat mereka orang yang berhargauntuk diri-Nya sendiri. Dampaknya bahwa mereka mempersembahkan kepada Tuhan korban kebenaran, menjadi penyembah yang benar, yangmenyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.Kita tidak dapat menyembah Allah kecuali kita dibenarkan dan dikuduskan.Bahwa kita dimurnikan oleh kasih karunia Allah.Mereka akan mempersembahkan korban seperti Tuhan harapkan dan Tuhan menerima persembahan mereka.
 
Allah telah memulai pekerjaan baik kasih karunia-Nya dan Allah sendiri yang akan menyelesaikannya. Keselamatan adalah pekerjaan baik yang dilakukan Allah di dalam diri kita pada waktu kita percaya pada Anak-Nya. Dalam Filipi 2:12-13 kita membaca bahwa Allah melanjutkan pekerjaan-Nya di dalam kita melalui Roh-Nya. Dengan kata lain, keselamatan meliputi tiga macam pekerjaan:
•    Pekerjaan yang dilakukan Allah bagi kita – penebusan;
•    Pekerjaan yang dilakukan Allah di dalam kita – pengudusan;
•    Pekerjaan yang dilakukan Allah melalui kita – pelayanan.
Pekerjaan ini akan terus berlangsung sampai kita bertemu dengan Kristus.
Mengetahui bahwa Allah masih bekerja di dalam kehidupan orang-orang percaya di Filipi, merupakan sumber sukacita bagi Paulus.Paulus mengatakan kepada jemaat Filipi “kamu ada di dalam hatiku” (ay.7), bahwa jemaat dibawa masuk kedalam kasih karunia Allah melalui pelayanan Paulus.Dan Paulus mengasihi jemaat seperti mengasihi dirinya sendiri. Sama seperti Imam besar pada zaman PL memakai penutup badan khusus, yaitu efod, yang menutupi dadanya. Pada efod itu ditaburkan 12 batu permata, masing-masing diukir nama dari keduabelas suku bangsa Israel (Kel. 28:15-29). Ia mewakili seluruh bangsa di hatinya dengan penuh kasih, dan demikian juga Paulus.
 
Paulus berdoa dan mengharapkan yang terbaik terjadi bagi jemaat. Paulus berdoa bagi jemaat Filipi agar dapat mengalami kasih yang melimpah dan kasih yang dapat mengetahui apa yang benar. Paulus juga mendoakan agar mereka memiliki sifat-sifat Kristen yang dewasa yaitu “suci dan tak bercacat”.Ia juga berdoa agar mereka memiliki pelayanan Kristen yang dewasa. Paulus mengharapkan agar jemaat Filipi mengasihi berdasarkan kebenaran dan pengertian.Kebenaran adalah bukti efektif dari pengudusan kita.Buah kebenaran menghasilkan kemuliaan bagi Allah dan membangun gereja-Nya.Buah ini berasal dari Yesus Kristus yaitu kekuatan kasih karunia-Nya, sebab tanpa Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa.

III. Pointer Aplikasi
Persekutuan dalam Kristus memberikan kelegaan, tetapi kita sering kali membangun persekutuan yang menderita.Sebelum kita bersama, masing-masing kesepian, setelah bersama saling menyakiti.Ingatan yang tertanam adalah ingatan yang menyakitkan.Persekutuan kita masih ditandai dengan cacat dan cela.Lalu bagaimana kita menantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali kalau kita belum siap?

Hidup kita adalah pembuktian kasih karunia.Kasih karunia Allah membentuk persekutuan yang indah yang ditandai dengan saling mengasihi.Keaslian kasih terbukti dari daya tahan kasih tersebut.Kalau hanya sebentar dan seketika saja, bukan merupakan kasih yang sejati.Kasih yang sejati memberikan penghiburan dan penguatan serta membaharui kehidupan jemaat.Bagaimana kita menyatakan diri hidup di dalam kasih karunia Allah tanpa kebersamaan. Kehidupan jemaat seharusnya terhubung antara satu dengan yang lain.
 
Yesus sendiri menyatakan tentang kesatuan, bahwa inti kesatuan itu sendiri adalah Yesus Kristus.Yohanes 17:23 “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku”. Kesatuan ini tampak antara Paulus dengan jemaat Filipi, jemaat Filipi dalam hati Paulus dan Paulus juga tetap diingat oleh jemaatnya.Jemaat Filipi dapat menerima kenyataan bahwa Rasul Paulus yang mereka kasihi dipenjara untuk meneguhkan Injil Kristus.Dan jemaat Filipi tidak berhenti bertumbuh dalam Injil.Walaupun Paulus dipenjarakan tetapi Injil tidak terpenjarakan.
 
Kekacauan dalam jemaat bukan rancangan Allah.Iblis sedang membangun kerajaan kebencian di bumi.Seharusnya gereja tidak kalah menghadapi pekerjaan iblis.Pekerjaan kasih karunia Allah seharusnya mengalahkan kebencian, dan tidak ada tempat kebencian bersarang di dalam gereja.Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa-Nya, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh.17:15,17).
 
Gereja seharusnya terus dimurnikan dengan Firman Allah sehingga kemuliaan Allah nyata di dalam gereja-Nya.Gereja yang berpusat pada persekutuan dalam Yesus Kristus memberitakan kasih karunia Allah yang berhasil membentuk jemaat yang mempermuliakan Allah. Tuhan Yesus memberikan kepastian bahwa “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” (Yoh.15:5).Kita mempersembahkan buah-buah rohani yang menyegarkan. Hendaknya Tuhan berkenan akan persekutuan kita.Amin.
 
Pdt.Sura Purba Saputra, M.Th
GBKP Majelis Jemaat Bandung Timur
 

Khotbah Daniel 7:9-14, Minggu 22 November 2015

Renungan

Invocatio :
Dihadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati
(II Timotius 4 : 1a)
 
Bacaan :
Lukas 12 : 25 - 43 (Antiponal).
 
Khotbah :
Daniel 7 : 9 - 14.
 
Thema :
Kerajaan Allah Tak Berkesudahan
 
Saudara-saudara yang Tuhan kasihi
Minggu ini kita memasuki minggu penutupan tahun gereja, arinya dalam perjalanan kelender gerejawi ini adàlah minggu terakhir. Yang dilakukan dalam kehidupan bergereja di dalam peribadahannya adalah adanya warta jemaat yang memberitakan tentang anggota-anggota jemaat yang sudah terlebih dahulu meninggalkan kita dari kehidupan dunia ini selama setahun perjalanan gereja. Apa artinya, sederhana sekali; kita diingatkan akan kematian dan umur kita yang sangat singkat di dunia ini. Dan juga kita diingatkan bahwa umur yang singkat itu berbanding terbalik dengan tujuan setelah kematian bagi setiap orang percaya. Di katakan bahwa tujuan kita adalah Surga, dan surga itu kekal adanya. Apakah surga itu, secara sederhana juga bisa kita katakan bahwa itu adalah sebuah istana keabadian yang dimiliki oleh Allah, Dia berdiam di sana, berkuasa di sana, namun membiarkan setiap orang percaya untuk dapat tinggal danmenetap bersamaNya di sana. Dan surga itulah yang sering kita sebut dengan Kerajaan Allah. Apa yang berbeda antara dunia dan Kerajaan Surga, ini juga secara sederhana dikatakan dalam Alkitab bahwa dunia akan lenyap, artinya ada keterbatasan waktu, sedangkan Surga yang kita sebut dengan Kerajaan Allah itu adalah Kekal adanya. Dunia lenyap, Kerajaan Allah tetap ada dan itu menjadi tempat kehidupan selanjutnya bagi orang percaya.
 
Sedemikian pentingkah keberadaan Kerajaan Allah ini bagi kehidupan kita. Jawabannya bisa saja berbeda bagi orang percaya dan yang tidak percaya. Bagi orang percaya, kerajaan Allah menjadi sangat penting karena mereka mengetahui bahwa hidup ini sangatlah terbatas (Alkitab jugamengatakan bahwa umur manusia sekitar 70 - 80 tahun) dan setelah itu maka manusia itu mati. Apakah sudah berakhir semuanya? Ternyata bagi orang percaya..... TIDAK.Masih ada kelanjutannya. Setelah kematian ada masa penantian akan Kedatangan Yesus Yang Kedua yang dimana pada saat itu akan diadakan Pengadilan Terakhir yang sangat menentukan Perjalanan Manusia menuju Alam Keabadian... Nah disinilah arti pentingnya bagimanusia. Sebab bila manusia itu memeliharakan iman yang benar dalam kehidupannya maka kekekalan hidup itu akan dilanjutkannya bersama dengan sang Penciptanya di tempat yang telah disediakan oleh sang Penciptanya itu. Tempat itulah yang sedari tadi kita sebut dengan Surga atau Kerajaan Allah.
 
Saudara-saudari
Bila kita runut melalui awal ibadah melalui introitus, bacaan pertama hingga bacaan khotbah ada suatu gambaran yang sangat menarik tentang keberadaan hidup kita yang ditautkan dengan bagaimana juga pemeliharaan Tuhan serta apa yang diberikan di dunia, dijanjikan untuk keberadaan nantinya, apa yang harus dilakukan untuk janji itu dan pada akhirnya nantinya apa yang dijanjikan itu akan diberikan kepada orang2 yang setia. Sejak awal manusia diperhadapkan dengan tantangan (introitus) dan tantangan itu ditegaskan lagi dalam bacaan pertama yang mana sangat menekankan akan kata setia dan waspada. Setia menjalani kehidupan pada jalan yang telah Tuhan persiapkan menuju KerajaanNya, namun waspada sebab akan ada pengganggu yang sangat tidak menginginkan kita sukses menjalani kehidupan dunia kita dan berakhir pada tujuan yang telah Tuhan tetapkan bagi kita. Sang Penghalang itu akan berusaha dengan segala daya upaya yang kita sebut dengan TIPU DAYA IBLIS untuk menghalangi kita berjalan menuju tujuan.Teringat aku akan sebuah permainan di waktu kecil yang disebut dengan GOBAK SODOR. Pada permainan ini disediakan kotak kotak yang nantinya akan dijaga dan dilewati. Para peserta dibagimenjadi 2 bagian. Bagian pertama, adalah mereka yang diberikan tugas untuk melewati barisan penjaga untuk melaju pada kotak-kotak yang ada hingga berakhir pada kotak terakhir yang disediakan. Dan bila mereka berhasil maka mereka dinyatakan sebagai pemenang, sebaliknya bila mereka tertangkap maka mereka dinyatakan kalah dan beralih menjadi penjaga. Nah, bagian kedua adalah mereka yang berjaga diantara satu kotak ke kotak lainnya. Tugas mereka adalah berupaya dengan kemampuan mereka untuk menghadang dan menghalangi orang-orang yang berada di kotak untuk melaju ke kotak berikutnya. APA YANG MENARIK.? Bagi saya, yang menarik adalah pihak pengisi kotak akan berusaha dengan akal, pikiran, dan kekuatannya untuk dapat melewati sang penghalang, sebaliknya sang penghalang juga akan melakukan hal yang sama untuk bisa tidak meloloskan sang pengisi kotak. Dan bila mereka berhasil melewati sang penghalang itu maka mereka akan merasa sangat senang karena mereka MENANG. Melalui permainan ini saya diingatkan, bukankan demikian perjalanan kehidupan kita menuju tujuan akhir perjalanan iman kita.Akan banyak sekali tantangan, hadangan, rintangan, hambatan, apapun itu yang sifatnya ingin menggagalkan. Tapi perlu dan sangat penting kita ingat dan tanamkan dalam diri kita adalah ternyata kita tidak sendiri melewatinya. Ternyata ada Dia, ada TUHAN, Dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya bagi kita untuk bisa sampai pada tujuan kekL itu.TUHAN sudah mempersiapkan kebutuhan hidup kita selama perjalanan usia kita, lebih dari itu Dia juga sudah memperlengkapi kita dengan kekuatan serta senjata untuk dapat melumpuhkan Sang Penghalang itu.(Ef. 6 : 11-17). Lengkap sekali senjata kita. Demikian juga dengan kebutuhan hidup kita. Carilah dahulu Kerajaan Allah..... (Luk 12 : 31) sudah dapat menjadi jaminan yang sangat kokoh bagi kita. Membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan ciptaan lainnya adalah cara Tuhan untuk meyakinkan kita akan besarnya penyertaanNya. Menyatakan bahwa kita lebih dari ciptaan lainnya adalah untuk menegaskan bahwa kita sangat berharga di hadapanNya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita masih meragukan kemampuan kita untuk dapatmelewatinya dan tiba di kerajaan Allah yang katanya penuh dengan sukacita.
 
Saudara-saudara..
Kembali pada topic minggu ini... Melihat kenyataan yang ada dihadapan kita..... Adakah kita melihat bahwa sepertinya Tuhan gagal meyakinkan kita tentang janjiNya.. Buktinya masih begitu banyak yang tidak peduli dengan panggilanNya.. Atau Sang Penghalang itu dengan tipu dayanya yang dahsyat itu telah berhasil mengelabui kita sehingga kita tidak mampu melihat bahwa sebenarnya Tuhan kita jauh lebih dahsyat dari para penghalang itu.
 
Lalu mengapa pada kenyataannya berita tentang kejahatan manusia bukannya semakin kecil dan sedikit, justtu dari hari ke hari semakin bertambah dengan pola yang semakin berfariasi juga. Bahkan keinginan manusia akan keduniawian seperti benda2 dunia, hawa nafsu dan bahkan penyembahan berhala modern dan tradisional terus berlangsung. Jawabnya juga sederhana namun sangat perlu waspada... Tuhan menjamin kehidupan kita untuk tetap bertahan dan pada akhirnya menang... Tapi Setan atau Iblis .. Memberikan yang sepertinya lebih banyak, lebih menyenangkan, lebih mengasyikkan, padahal itu ibarat Fatamorgana Kehidupan... Sepertinya indah tapi hampa. Inilah yang tidak kita sadari.
 
Oleh sebab itu Minggu ini kita diingatkan kembali akan adanya Kerajaan yang Kekal, Kerajaan yang dikuasai oleh Allah namun dijanjikan kepada orang percaya untuk dapat hidup dan tinggal bersamaNya disana nantinya.. Memang ada kata NANTI...... namun bukankan itu jauh lebih meyakinkan seharusnya bagi kita bila kita mau bandingkan dengan betapa singkatnya kehidupan kita di dunia ini dan dengan apa yang telah dinyatakan bahwa KerajaanNya itu KEKAL SELAMANYA.

Gambaran yang dinyatakan pada kitab Daniel sangat tegas menyatakan perbandingan itu (ay 11,12) dan bagaimana berkuasanya Dia (ay. 14b). Ada yang dikalahkan dan ada yang mengalahkan. Ada yang habis namun ada yang kekal. Ada yang berkuasa dan memelihara dan apa yang tadinya merasa berkuasa namun lenyap namun ada yang tetap.
Himbauan dan panggilan tetap ada dan terbuka...
Mari.. Buka mata iman, jangan silau dengan pengelabuan Setan.. Lihat bahwa yang ditawarkannya semu tapi yang dijasjikqn Tuhan kita adalah kekal adanya. Amin
Pdt. BRC. Munthe
Rg. Cisalak
 

Khotbah Josua 24:14-24, Minggu 15 November 2015

Renungan

Invocatio :
Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini : hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (Filipi 2:2)

Bacaan :
1 Petrus 3:1-7 (Antiphonal)

Thema :
Keluarga Yang Beriman

Pengantar
Keluarga merupakan tempat persekutuan hidup antara ayah, ibu, anak yang disebut juga sebagai keluarga inti. Keluarga Kristen adalah persekutuan hidup antara ayah, ibu, dan anak-anak yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi serta meneladani hidup dan ajaran-ajaranNya dalam kehidupan sehari-hari. Pengertian ini dibangun dari pengertian Kristen itu sendiri. Kristen artinya menjadi pengikut Kristus, yang meneladani hidup dan ajaran-ajaran Kristus. Dr. Kenneth Chafin dalam bukunya Is There a Family in the House? Memberikan gagasan tentang keluarga. Ia memaparkan bahwa keluarga merupakan tempat bertumbuh; baik tubuh, akal budi serta rohani. Di dalam keluarga juga terjadi pengembangan semua aktivitas karena setiap orang bebas untuk mengembangkan karunianya masing-masing. Demikian juga, di dalam keluarga merupakan tempat yang  aman untu bersaat teduh saat ada badai kehidupan. Didalamnya juga terjadi proses mentransfer nilai-nilai yang penting dalam menjalani kehidupan, dan di dalam keluarga juga merupakan tempat munculnya permasalahan juga penyelesaiannya. Karena tidak ada keluarga yang terbebas dari permasalahan hidup. Seringkali permasalahan muncul tidak terduga, namun keluarga tersebut dapat menyelesaikannya dan rukun kembali. Meminjam istilah Andar Ismail tentang situasi keluarga “Ribut Rukun”.  Demikianlah kita bisa melihat bagaimana pentingnya lembaga keluarga ini. Melalui teks Josua 24:14-24, kita akan mempelajari bagaimana keluarga yang beriman, yang dibangun oleh Yosua.

Pembahasan Teks
Ayat 14-15 Pilihan Yosua :Keluarga Yang Beribadah Kepada Allah
Jauhkanlah allah. Dalam pidatonya, Yosua memberi kesempatan kepada orang Israel yang sudah hidup menurut hukum Taurat untuk memperbaharui kesetiaan mereka kepada Tuhan. Mereka yang bergabung dengan orang Israel selama masa pendudukan juga ditantang untuk memilih “pada hari ini”, apakah mau menyembah Tuhan atau masih menyembah illah-illah mereka.  Sewaktu di Mesir, orang Israel menyembah lembu suci yang melambangkan Apis, dewa kesuburan. Dewa-dewa Mesopotamia di seberang Sungai Efrat antara lain adalah Marduk, dewa utama bangsa Babilon, dan Bel yang serupa dengan Baal, dewa kesuburan bangsa Kanaan. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan. Ini menjadi pilihan komitmen Yosua bagi keluarganya, karena ia sudah mengalami karya Tuhan dalam perjuangan pelayanan memimpin bangsa Israel. Soal pilihan pribadi memang termasuk dalam keselamatan yang disediakan Allah. Setiap orang percaya harus senantiasa memilih siapa yang akan dilayaninya. Seperti dengan Yosua dan orang-orang Israel, melayani Tuhan bukan suatu pilihan sekali saja (bd. Yosua 1:16-18, Ulangan 30:19-20); kita harus berkali-kali memutuskan untuk bertekun di dalam iman dan menaati Tuhan. Membaharui pilihan-pilihan yang benar oleh orang percaya meliputi takut akan Tuhan, kesetiaan kepada kebenaran, ketaatan dengan hati yang sungguh-sungguh, dan penyangkalan dosa serta kesenangan-kesenangan yang terkait dengannya (ayat 14-16). Lalai memilih untuk melayani dan mengasihi Tuhan akhirnya akan mendatangkan hukuman dan kebinasaan (ayat 20; 23:11-13).

Ayat 16-18 Komitmen Bangsa Israel Untuk Beribadah Kepada Tuhan.
Jauhlah daripada kami meninggalkan Tuhan. Janji bangsa itu untuk hanya melayani Tuhan ditepati, selama masa Yosua memimpin, mereka setia keada Tuhan. Karena mereka melihat bagaimana Tuhan telah menuntun keluar dari tanah Mesir, rumah perbudakan, serta melakukan tanda-tanda mujizat dihadapan mereka, serta melindungi mereka di sepanjang jalan yang sudah di tempuh, sehingga mereka memilih beribadah kepada Tuhan. Ternyata, hal ini mereka lakukan hanya selama Yosua dan para tua-tua masih hidup. Tidak lama setelah kematian Yosua, bangsa itu meninggalkan Tuhan dan mulai berbakti kepada dewa-dewa lain (Hakim-Hakim 2:11-19). Kami pun akan beribadah kepada Tuhan :Yosua mengingatkan bangsa Israel bahwa melanggar perjanjian yang dibuat dengan Tuhan akan mengakibatakan bencna yang mengerikan, termasuk kehancuran mereka sebagai bangsa. Perjanjian itu menuntut ketekunan dan kesetiaan. Dalam hal ini, semangat saja tidak cukup.

Ayat 19-24 Memantapkan Komitmen Beribadah Kepada Tuhan
Tanpa ragu, bagsa Israel langsung menanggapi pidato Yosua dan seruannya dengan berkata “jauhlah dari pada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada allah lain!”……” Jika kita ada diantara bangsa Isreal pada waktu itu, tentu saja kita juga pasti menjadi salah satu orang yang meneriakkan jawaban tersebut dengan lantang sebagai tanda keyakinan kita akan keputusan dan komitmen yang kita ambil. Namun Yosua ternyata menyikapi berbeda. Ia bukan bertepuk tangan atau memuji apa yang dikatakan umat Israel untuk menanggapi seruannya. Sebuah jawaban yang sepertinya mematahkan semangat dan komitmen bangsa Israel. Tetapi jika bacaan ini kita baca seterusnya (ayat 19-24),  bukan seperti itu yang dimaksudkan oleh Yosua. Sama sekali ia tidak bermaksud mengecilkan komitmen bangsanya, sebab Yosua menantang bangsa itu untuk menjadi saksi atas keputusan mereka sendiri, dengan kata lain Yosua mengingatkan bahwa tanggungjawab atas komitmen mereka ada pada diri mereka sendiri, bukan pada orang lain. Bukan mengambil keputusan karena mayoritas orang meneriakkan hal yang sama atau sekedar ikut-ikutan. Komitmen harus dibuat secara sadar dan mandiri oleh tiap orang karena pertanggungjawabannya ada pada diri yang bersangkutan. Selain itu, di ayat 23, Yosua menggunakan dua kata kerja aktif,  yang berlawanan satu dengan yang lainnya, yaitu “jauhkanlah” dan “condongkanlah”. Hal ini menekankan bahwa tidak cukup hanya sebuah komitmen yang bagus tetapi minim usaha. Perlu ada usaha untuk merealisasikannya. Apalah artinya komitmen jikalau tidak ada perubahan hidup yang dihasilkannya.

Aplikasi
Hidup beriman selalu melibatkan kerjasama dengan yang lainnya. Beriman selalu mensyaratkan adanya pertobatan batin demi perubahan sosial yang lebih baik. Dengan demikian, hidup beriman selalu berawal dari diri pribadi yang mau memberikan diri bagi kebaikan sesamanya, keluarganya, dan lingkungannya. Hal ini dapat dimulai dalam ruang lingkup terdekat kita yakni dalam keluarga. Keluarga merupakan basis dasar dalam hidup  beriman. Yosua sebagai seorang pemimpin baik dalam keluarganya maupun bagi bangsanya mempunyai suatu komitmen yang sangat kokoh untuk membawa mereka beribadah kepada Tuhan. Komitmen ini terbangun oleh karena pengalaman hidup yang sudah dijalaninya bersama dengan Tuhan. Ia sudah melihat bagaimana karya Tuhan, yang memimpin bangsaNya keluar dari Mesir sampai memasuki tanah Kanaan. Di tanah Kanaan, ada banyak dewa-dewa, baal yang mereka sembah. Yosua sebagai seorang pemimpin, tentu saja berupaya untuk menetapkan hati bangsanya untuk setia beribadah kepada Tuhan. Ia memulainya dengan menyatakan komitmen dalam keluarganya “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”. Hal ini memperlihatkan bagaimana Yosua berketatapan hati membawa keluarganya juga tetap setia beribadah kepada Tuhan dan ia menyadari betapa pentingnya beribadah kepada Tuhan. Ia sudah mengalami Tuhan dalam kepemimpinannya yang menempa ia menjadi seorang pemimpin yang dihormati bangsanya.

Komiten yang ada pada Yosua juga ditularkan kepada keluarga dan bangsanya.Ia menjadi seorang pemimpin yang berpengaruh terhadap keluarga dan bangsanya, sehingga membawa mereka untuk beribadah kepada Tuhan.Relasi dalam keluarga, khususnya suami dan istri (1 Petrus 3:1-7) menjadi model bagi anak-anak baik dalam sikap, tutur kata, demikian juga dalam hal beriman kepada Tuhan. Seperti yang disampaikan oleh  Ed Young dalam buku The Commandement of Parenting, orangtua menjadi model kesalehan. Orang tua yang sungguh-sungguh mengasihi anak-anaknya akan memberi teladan yang jelas bagaimana seharusnya seseorang hidup baik dalam hal nilai-nilai dan juga iman percaya kepada Tuhan. Karena itu, sangat penting teladan yang baik diberikan bagi mereka.  Meskipun dalam keluarga berbagai situasi keadaan yang akan dijalani baik suka-duka, tangis-tawa, dan sebagainya, kita perlu belajar dari keluarga Yosua yang tetap sanggup merasakan pertolongan Tuhan sehingga tetap setia pada komitmennya “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”.
Jikalau Yosua setia pada komitmen “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”, bagaimana dengan kita ?

Selamat menjadi keluarga yang beriman.

Pdt. Chrismori Br Ginting
GBKP Rg. Yogyakarta

Lebih lanjut: Khotbah Josua 24:14-24, Minggu 15 November 2015

 

Khotbah Daniel 1:11-21, Minggu 08 November 2015

Renungan

Invocatio:
Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah Kami diberikan sayur untuk di makan dan air untuk di minum. (Daniel 1:12 )

Bacaan :
II Raja-Raja 20 : 1 -11 ( Tunggal )

Thema :
“ Jaga Dan Kasihilah Tubuhmu “ (Jaga ras kelengilah kulandu)


Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Minggu ini adalah Minggu Kesehatan yang mengingatkan kita akan penting dan mahalnya kesehatan tubuh. Berbagai cara dan upaya  dilakukan untuk hidup sehat, dengan berolah raga, mengatur keseimbangan gizi atau mengatur menu makanan setiap hari, mengatur waktu tidur, waktu istirahat, waktu santai atau liburan dan lain-lain. Begitu berharganya kesehatan dalam hidup ini karena berhubungan dengan kesehatan jiwa atau rohani kita, dan sebaliknya dengan jiwa atau rohani yang sehat, menjadikan tubuh kita juga sehat, berpikir sehat dan bekerja yang baik. Dengan kesehatan jasmani dan rohani seseorang menentukan kwalitas setiap aktipitas yang ia lakukan. Untuk menjaga dan mengasihi tubuh kita, ada beberapa hal yang menjadi perenungan dan pembelajaran bagi kita berdasarkan firman Tuhan dalam Daniel 1 :11-21.

Pada tahun 587-538 SM, kerajaan Babel : Nebukadnezar menguasai Yehuda pada masa pemerintahan Yoyakim dan membawanya sebagai tawanan ke Babel. Pada waktu itu kerajaan membutuhkan pegawai istana. Dipilih pemuda yang dari keturan raja dan bangsawan, yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, berpengetahuan, cakap untuk bekerja dalam istana. Dididik selama 3 tahun, mereka di ajarkan tulisan dan bahasa orang kasdim. Terpilih diantara mereka adalah: Daniel=Beltazar, hananya=Sadrakh, misael=Mesakh dan Azarya=Abednego (Daniel 1:4-6). Dalam peroses pendidikan mereka menolak makanan sajian raja, dan meminta kepada pegawai untuk menjalani pencobaan selama 10 hari dengan memakan sayuran saja dan air untuk di minum. Mereka menolak makanan sajian raja karena beberapa alasan antara lain : Makanan itu tidak di persiapkan sesuai dengan ketentuan Taurat. Misalnya: Dagingnya masih mengandung darah. Larangan untuk memakan darah seluruh mahluk Hidup ( Imamat 17:10-14 ). Makanan dan anggur itu sudah dipersembahkan bagi dewa-dewa Babel, sehingga makanan itu Najis berdasarkan aturan pentahiran berdasarkan Taurat. Tahir atau najis, Haram atau Halal (Bd.Im.11-18). Daniel dan teman-temannya tidak mau melanggar Firman Tuhan, tapi menunjukkan ketaatan terhaadap hukum taurat dan menjaga kekudusan dirinya .  Ternyata perawakan mereka lebih sehat dan lebih baik dari seluruh pemuda yang lain.

Dari sikap yang dilakukan oleh Daniel dan teman-temannya adalah menjadi pembelajaran juga bagi kita pada saat ini. Pertama, Makanan yang enak, mahal, mewah tidak menjamin kesehatan tubuh. Makan cepat saji yang mengandung bahan penyedap, pengawet dapat merusak kesehatan tubuh kita. Berhati-hatilah terhadap makanan yang kita konsumsi sebab tidak semua makanan cocok bagi tubuh setiap orang. Kedua, iman kepada Tuhan atau ketaatan terhadap Firman Tuhan tidak di rusak hanya oleh makanan dan minuman. Zaman ini banyak orang yang tidak perduli lagi terhadap kekudusan dirinya baik dari sikap dan perbuatannya, begitu juga dengan makanan dan minuman yang dia konsumsi. Halal atau haram tidak menjadi persoalan yang penting hasrat terpenuhi, keinginan terpuaskan. Tidak mau tau cara mendapatkannya yang penting mendapat hasil yang memuaskan, apakah itu hasil mencuri atau korupsi dari hasil memeras, menindas dan lain-lain. Juga tidak terlepas dari ketergantungan makanan dan minuman, yang merusak kesehatan tubuh dan merusak jiwa atau kesehatan rohani kita, mabuk oleh minuman keras, narkoba dan sejenisnya. Sebagai orang percaya kepada Tuhan Yesus tentu hal ini tidak terjadi dan bukan bagian dari sikap dan perbuatan kita. Dan yang ke tiga, Daniel dan teman-temannya walau pun hanya memakan makanan yang sederhana membuat jasmani dan rohani mereka sehat karena diberkati oleh Tuhan, sekaligus menjadi kesaksian mereka bagi seluruh kalangan istana bahwa kuasa dan kasih Allah menyertai dan melindungi mereka. Menjadi perenungan bagi kita adalah : Apakah kepercayaan, ketaatan terhadap Tuhan Allah dapat mempengaruhi dan memperbaharui sikap dan perbuatan kita ?                                      

Dalam II Raja-Raja20:1-11 yang menjadi bacaan pertama diceritakan tentang Raja Hizkia yang sedang sakit dan hampir mati. Tapi oleh karena kuasa doa nya, dia disembuhkan dan diperpanjang umurnya 15 tahun. Pengalaman Hizkia menyatakan bahwa sakit penyakit manusia dapat disembuhkan oleh kuasa Allah lewat doa. Kesehatan tubuh kita juga terpelihara oleh berkat dan anugrah Allah. Hal ini mengingatkan kita agar tidak mencari jalan pintas untuk mencari kesembuhan dari kuasa kegelapan, pergi kedukun atau orang pintar. Biarlah kita pertaruhkan dalam pemeliharaan dan penyembuhan dari kuasa Allah. Kesehatan jasmani kita tidak terlepas dari kuasa dan pemeliharaan Allah. Kesehatan jasmani dan rohani kita memang membutuhkan dukungan dari asupan gizi dan cara hidup sehat lainnya, namun tidak terlepas dari berkat dan pemeliharaan Tuhan.

Sesuai dengan thema kita hari ini,” Menjaga dan Mengasihi Tubuh “sangatlah penting untuk melakukan seluruh aktipitas kita hari lepas hari. Agar apa yang kita lakukan dan yang kita kerjakan dapat menjadi kesejahteraan bagi kehidupan kita,keluarga dan orang lain, serta memuliakan  nama Allah. Firman Tuhan dalam I Korintus 6 : 19 – 20, “ Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah. Dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri ? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu ! Amin

Pdt.Terima Tarigan
Majelis GBKP Cileungsi 

Lebih lanjut: Khotbah Daniel 1:11-21, Minggu 08 November 2015

 

Khotbah Roma 12:9-13, Minggu 01 November 2015

Renungan

Invocatio:
Dan Raja itu akan menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."  (Matius 25:40).

Bacaan :
Ulangan 10:16-22

Tema :
"Kasih Yang Tiada Berkesudahan"
 

Pendahuluan
Khotbah ini kami awali dengan memperhatikan pesan Rasul Paulus di dalam Roma 12:2 " Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Pesan ini disampaikan Rasul Paulus merupakan sebuah peringatan "darurat" bagi orang percaya, sebab jika orang percaya tidak melakukan pembaharuan budi maka hidup kekristenannya tidak akan menjadi  terang dan garam bagi dunia dan nama kristen itu hanya simbol saja. Tanpa pembaharuan budi maka manusia tidak dapat mengetahui kehendak Allah, tidak mengetahui apa yang baik dan yang berkenan bagi Allah dan yang sempurna. Jika tidak memperbaharui budi orang percaya tidak memiliki kemampuan untuk  mengasihi dengan tulus sehingga kasihnya terbatas hanya kepada orang orang yang berkenan baginya dan yang memberi keuntungan baginya. Jika demikian apa bedanya sikap kasih orang percaya dengan sikap kasih anak anak dunia ini? Kekristenan yang sama motivasi dan sikap kasihnya dengan motivasi dan sikap kasih anak-anak dunia ini akan menjadi batu sandungan bagi kemuliaan Tuhan.

Pembahasan
Kemampuan orang percaya mengasihi di tentukan pembaharuan budinya. Prestasi "iman" orang percaya terukur pada sikap kasihnya. Apakah pendapat anda tentang pernyataan ini "Banyak orang yang melakukan perbuatan kasih  tetapi sedikit yang melakukannya  dengan tulus hati".  Tidak cukup bagi orang percaya hanya melakukan perbuatan kasih, Rasul Paulus berpesan bahwa orang percaya juga harus menjauhkan diri dari hal yang jahat. Di dalam bahasa karo diterjemahkan "Cigalah atendu si jahat". Ciga lebih kurang pengertiannya di dalam bahasa indonesia  "jijik atau bau". Bagi orang kristen kejahatan adalah hal yang menjijikkan, yang bau seperti bau bangkai, yang selalu di jauhi orang, mencium baunya orang akan tutup hidung, melihatnya membuat perut mual. Apa yang jahat harus disebut jahat dan membencinya. Kristen yang mengasihi tidak menyimpan pikiran dan rancangan yang jahat.  Orang yang dipenuhi kasih cara pikirnya dan penilaiannya tidak dikuasai kehendak yang jahat.

Kristen yang murni selalu bermisi kasih dan penuh belas kasihan, peduli dan di dalam mengasihi tidak membuat syarat atau batasan- batasan. Ia memiliki rasa persaudaraan  yang dalam seperti "gaya" hidup jemaat mula-mula yang diberitakan di dalam Kisah Para Rasul 2: 42-47; mereka setiap hari berkumpul, apa yang dimiliki seorang jemaat dianggapnya kepunyaan bersama, karena itu ada yang menjual hartanya dan hasil penjualannya di iklaskannya kepada rasul rasul untuk dibagikan kepada jemaat yang berkekurangan.  Orang yang mengasihi rela mengorbankan waktunya, mengorbankan tenaganya, mengorbankan hartanya untuk menolong sesamanya (bdg. 1 Tesalonika 4:9-10, Yohanes 13:34-35). Rasa persaudaraan berarti memperhatikan kesejahteraan; ekonomi dan keadaan rohani saudaranya  seiman (1 Yohanes 4:10-12).

Anak anak dunia tidak memiliki kasih yang dalam seperti sikap kasih orang percaya. Kasih "anak-anak dunia" dangkal ("pura-pura") mereka masih memelihara dendam dan kemarahan ("cinta yang jahat") sehingga  persoalan yang kecil dibesar-besarkan, seperti penyebab orang yang tauran antar kampung atau antar Rt atau antar kampus dll. Yang melakukan tauran ada anak anak remaja, pemuda, orang dewasa bahkan yang lanjut usia, yang berpendidikan dan yang berandalan dan...... dan penyebabnya pada umumnya hanyalah persoalan yang kecil. Kasih yang dangkal menyebabkan  permusuhan antara saudara sedarah. Kasih yang dangkal menyebabkan suami istri bertengkar bahkan sebahagian dari pertengkaran suami istri beraujung pada perceraian. Pasangan suami istri yang bercerai menidakkan janji pernikahannya  yaitu "janji kasih yang tidak terbatas dan tidak berkesudahan kecuali oleh kemaian".  Mungkin dahulu pada saat pemberkatan pernikahan mereka saling mengucapkan janji dengan sepenuh hati dan linangan air mata, katanya “Saya ......... di hadapan Tuhan Allah dan di tengah tengah jemaatNya, menyambut dan menerima engkau .............sebagai istriku/suamiku dan dengan ini saya berjanji menerima engkau dalam senang  maupun susah, dalam sehat maupun sakit, dalam suka maupun duka. Saya berjanji menjaga kekudusan perkawinan kita, sampai Allah memisahkan kita melalui kematian." Kasih yang dangkal menidakkan yang baik, yang benar dan yang sempurna dan mengerjakan kekacauan.

Sikap kasih tercermin di dalam sikap saling mendahului dalam memberi hormat. Orang yang "penuh kasih" menilai setiap orang dengan segala keadaannya baik atau buruk, sehat atau sakit, menyenangkan atau mengecewakan dll berharga baginya dan pantas untuk di hormati.  Kasih orang percaya meneladani kasih Yesus. Mengasihi bukan supaya......., tetapi mengasihi karena sudah lebih dahulu dikasihi Allah (bdg Yohanes 3:16). Kristus mengasihi bukan karena objeknya tetapi karena pribadinya adalah kasih. KasihNya tidak luntur walaupun Ia dibenci, ditolak dan disakiti  orang-orang Yahudi. Oleh karena kasihNya ketika mengingat orang orang yang menyakitiNya dan yang menyalibkanNya Ia tetap mengasihi dengan kasih yang terdalam, karena itu di atas kayu salib Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34). Itulah bukti kasih Yesus yang tidak terbatas dan tidak ditentukan objeknya.

Supaya menjadi kristen yang memiliki kekuatan, kesabaran dan kerelaan yang luar biasa harus terlebih dahulu mengalami pembaharuan  budi. Tantangan pelayanan (menjadi anggota jemaat) sangat besar sehingga dapat menyebabkan kerajinan kendor (menjadi malas), sakit hati, sikap bermusuhan, yang menyebabkan pelayan atau jemaat  meninggalkan pelayanannya (tanggung jawabnya), meninggalkan persekutuan, pindah gereja, dan  ada yang  murtad pindah agama. Seorang pelayan atau jemaat  dapat teguh di dalam cinta kaih persekutuan apabila mereka telah melayani dengan roh yang menyala-nyala; pelayanan yang penuh semangat, pelayanan yang hangat dan memiliki kekuatan bagaikan hangatnya api unggun yang memberi kehangatan di tengah cuaca dingin kepada orang-orang yang mengelilinginya. Kemalasan adalah kesetiaan yang kendor "Orang yang bermalas-malasan.....saudara dari si perusak (Amsal 18:9).

Kesetiaan dan percaya akan bertumbuh di dalam pengharapan, yang menyebabkan suka cita tidak terganggu atau berkurang oleh karena pergumulan dan penderitaan. Yang tetap berpengharapan kepada Allah meskipun di tengah tengah pergumulan atau kekurangan ia tidak akan mengurangi sikap kasih dan persaudaraannya sehingga ia senantiasa dapat memberi bantuan dan membuka diri bagi siapapun yang datang mengharapkan bantuannya. Mereka sanggup berbagi kasih meskipun masih berkekurangan sebab mengasihi bagi orang percaya bukan apabila segala sesuatu sudah cukup atau melimpah ruah.

Refleksi
Orang percaya berbuat baik karena meneladani hidup Yesus. Yesus di utus Allah ke dalam dunia untuk membebaskan manusia dari ikatan dosa dan akibat dosa yaitu penderitaan, kemiskinan dan kemelaratan. Menerima keselamatan berarti meningkatkan sikap hidup yang benar, bertumbuh ke arah kedewasaan kristen dengan mematikan sikap jahat dan kebiasaan buruk.

Orang percaya merupakan pejuang pejuang iman melanjutkan gerakan kasih Kristus. Orang percaya di utus ke dalam dunia bukan hanya berjuang untuk mengalahkan kejahatan dan dosa tetapi juga untuk mengobati penderitaan akibat dosa yaitu menolong sesama lepas dari segala bentuk penderitaan, kemiskinan dan kesengsaraan. Dengan sikap kasih orang percaya dapat memberi warna baru bagi dunia yaitu warna suka cita dan damai sejahtera.

Mengasihi hendaknya menjadi gaya hidup orang percaya; jika mengasihi sudah menjadi gaya hidup orang percaya maka kepuasan dan kebahagiaan hidupnya adalah apabila ia mengasihi sehingga ia selalu ingin berbuat lebih banyak lagi  kasih. Apabila ia tidak mengasihi  membuatnya  kurang percaya diri ("tidak pd"), dan merasa ada yang ganjil di dalam hidupnya karena itu ia akan berbuat kasih lagi dan terus mengasihi.

Sudah saatnya bagi orang percaya (dan gereja)-warga GBKP bukan hanya meningkatkan ibadah (persekutuan); mengikuti kebaktian minggu, kebaktian rumah tangga, PA, retreat dll tetapi juga membangun semangat kasih dengan praktek berbagi kasih.  Perorangan, keluarga, sektor, jemaat, organisasi gereja hendaknya membuat  program kasih sebagai prioritas program. Dan pada minggu ini kita di panggil untuk menyatakan kasih kepada anak-anak yang tidak mendapat perhatian dan pemeliharaan orangtuanya yang bergabung di panti asuhan Gelora Kasih di Sukamakmur, kepada orangtua yang sudah lanjut usia yang bergabung di Panti Jompo (PPOS: Pusat Pelayanan Orang Sejahtera) di sukamakmur dan anak anak yang berkebutuhan khusus sebab kecerdasan berpikirnya yang rendah di YKPC Alpha Omega (Yayasan Penyandang Cacat  Alpha Omega) di Kabanjahe.
Selamat berbagi kasih.
                                             

Pdt. Ekwin W. Ginting-GBKP sitelusada bekasi

Lebih lanjut: Khotbah Roma 12:9-13, Minggu 01 November 2015

 

Page 3 of 56

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 35 guests online