Khotbah Kisah Rasul 4:23-31, Minggu 22 September 2013

Renungan

Introitus : 
Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan ? (Roma 8 : 31 b)
 
Pembacaan : Mazmur 2 : 1 – 9 (Responsoria); Khotbah : Kisah para rasul 4 : 23 – 31 (Tunggal )
 
Tema : Kuasa Allah tidak terhalangi
 
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan…..
Dalam memberitakan Injil tidak dapat dipungkiri selalu ada tangtangan baik yang datangnya dari diri sendiri (internal) dan dari luar diri sendiri (eksternal). Sebesar apapun tangtangan harus diketahui lebih besar kuasa Tuhan untuk menolong dan menopang anak-anak Tuhan dalam memberitakan Injil. Tinggal saja kita harus percaya dan mempercayakan diri sepenuhnya kepada pertolongan Tuhan Yesus. Nats khotbah minggu ini berbicara tentang bagaimana sebuah persekutuan yang kuat untuk bersaksi tentang Tuhan, kerelaan untuk memberikan diri untuk kepentingan orang lain seperti Yesus yang telah memberikan diriNya bagi dunia ini serta Kemurahan Allah nyata bagi setiap orang yang percaya.
 
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus…….
Dikatakan pada ayat 23-28, Ketika Petrus dan Yohanes dilepaskan oleh pengadilan Mahkamah Agama, dan mereka langsung menemui teman-teman mereka serta menceritakan apa yang dikatakan oleh Imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka yaitu : “Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu ?“ (Pasal 4 : 7 b). Yaitu tindakan Petrus dan Yohanes dalam mengajar dan memberitakan bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati dan tindakan menyembuhkan orang sakit adalah sesuatu yang mustahil menurut pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli taurat sehingga Petrus dan Yohanes ditangkap dan dibawa kepada sidang di Yerusalem yang dihadiri oleh Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Alexander dan termasuk semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar.
 
Ketika teman-teman Petrus dan Yohanes mendengar hal itu berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya “Ya Tuhan, engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya ………..” disini kita dapat melihat ketika ada tantangan dalam pemberitaan Injil anak-anak Tuhan yang percaya melihat kuasa pembelaan Tuhan, Tuhan ada dipihak mereka sehingga Petrus dan Yohanes dilepaskan bukan karena kehebatan dan kekuatan mereka. Jelas dikatakan ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes padahal mereka adalah orang biasa yang tidak terpelajar heranlah mereka (Ayat 13). “Orang biasa dan tidak terpelajar” tetapi kalau Tuhan telah memilih, mereka diberi kemampuan dan keberanian serta ada terjadi mujizat kesembuhan.
 
Mereka semua berseru kepada Tuhan, menunjukkan bahwa laporan kebebasan adalah khabar sukacita bagi semuanya namun dalam sukacita itu mereka tetap menyadari bahwa banyak ancaman menakutkan dalam pemberitaan Injil sehingga mereka bersama-sama mencari kekuatan di dalam doa. Dunia sering mengancam pemberitaan Injil tetapi orang percaya mencari kekuatan di dalam kuasa Allah.
 
Ditengah ancaman-ancaman hebat itu jemaat memohon kesetiaan, supaya bertekun dalam bersaksi sesuai dengan pesan Yesus Kristus (Matius 28:19). Kepastian dan ketenangan diterima oleh para rasul dan jemaat dengan perantaraan doa mereka yang penuh percaya.
 
Ayat 29 – 31, seruan jemaat juga berisikan permohonan kepada Tuhan antara lain :
- supaya Tuhan memberikan keberanian untuk memberitakan firman Tuhan.
Tantangan yang dialami oleh rasul-rasul dan jemaat sepertinya mengingatkan serta menunjukkan sebuah kenyataan kepada mereka tentang apa yang telah lebih dulu dialami Yesus sebagai hamba Allah oleh Raja Herodes Yaitu Herodes Antipas yang memerintah atas Galilea, Pilatus orang Romawi yaitu orang kafir yang menjadi wali pemerintah atas Yudea, orang-orang kafir dan Israel, mereka semua melakukan komplotan melawan Yesus. Rasul-rasul dan jemaat juga mengalami tantangan dan perlawanan dalam pemberitaan Injil. Hanya doa kekuatan yang memberikan keberanian untuk terus memberitakan Injil.
- Supaya Tuhan mengulurkan tanganNya untuk menyembuhkan orang dan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus.
 
Penyembuhan adalah tanda rahmat Allah yang menunjukkan bahwa Yesus belumlah mati dan Yesus tidak meninggalkan orang yang percaya. Ia tetap hidup dan hadir ditengah-tengah orang percaya sehingga Ia masih bisa melakukan mujizat dan tanda seperti ketika Ia masih di dunia ini.
 
Seruan Orang percaya didengar dan dijawab oleh Tuhan, saat mereka sedang berdoa terjadi mujizat dimana tempat mereka berkumpul goyang, mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.
 
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus…… “Ancaman mengembang tapi persekutuan makin erat” inilah yang dapat kita lihat dalam proses pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Petrus dan Yohanes pada saat itu. Persekutuan dengan Tuhan kuat dan persekutuan dengan saudara seiman semakin dekat. Itu dinyatakan dalam doa kepada Tuhan. Dalam Pemberitaan Injil doa menjadi kekuatannya. Dalam doa ada penyerahan diri kepada Tuhan sepenuhnya, dalam doa ada kekuatan dan keberanian, dalam doa ada mujizat.
 
Jangan pernah takut memberitakan Injil ini pesan moral yang kita dapatkan. Injil harus diberitakan, karena :
  • Perintah Tuhan Yesus (Mrk 1 : 17, Mat 28 : 19-20)
  • Keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus (Yoh 14:6; Kis 4:12) tugas setiap orang percaya untuk memberitakannya.
  • Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma 1: 16)
  • Penginjilan adalah focus pelayanan Kristus “Bersaksi sebagai gaya hidup“
 
Jika Tuhan dipihak kita, siapakah yang akan melawan ? Bersaksi terus sampai Tuhan datang… Amin
 
Pdt Karvintaria br Ginting, STh
GBKP Rg Cijantung-08126359640

 

 "SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 40 guests online

Login Form