Khotbah 1 Petrus 3:8-12, Minggu 04 Agustus 2013 (Minggu X Setelah Trinitas)

Renungan

Introitu: 
“Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya”
 
Bacaan : Mazmur 34 : 12 -23; Khotbah : I Petrus 3 : 8 -12
 
Tema : “Hidup Berdamai” (“Nggeluh Erdame”)
 
“Suan ukur mehuli gelah turah ate jadi” Sebuah ungkapan yang mengajak kita untuk melakukan kebaikan, dan atas kebaikan kita itu kita akan mendapatkan balasan sesuai dengan yang kita kehendaki.
 
Saudara/i yang dikasihui Tuhan Yesus melakukan kebaikan dan mencari perdamain merupakan inti dari pemberitaan Tuhan pada Minggu ini.
 
Kita bisa menemukan dalam Alkitab bahwa begitu banyak aturan-aturan kebaikan serta hidup didalam perdamaian, namun berdasarkan Nats Khotbah serta Pembacaan pada Minggu ini kami melihat 3 Hal yang perlu kita renungkan kembali.
 
Pertama : “seia sekata”.
(“Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,”.)
Mari kita melihat bahwa ada banyak ayat yang sejalan dengan kata-kata ini :
  • “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama…… “ Rom 12:16;
  • “…….. Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!”. 2Kor 13:11
  • “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan”. Fil 4:2
 
Saudara/i yang terkasih, kita menyandari bahwa untuk terciptanya seia sekata/sehati sepikir/seperasaan, bukanlah hal yang mudah Harus kita akui bahwa kita memiliki banyak latar belakang yang berbeda-beda menurut suku, bahasa dan adat istiadat, pendidikan, pekerjaan, cara berpikir dan sebagainya. Kita melihat antara bangsa, antara suku bahkan sesama marga(fam), dan lebih parah lagi orang sekandung pun “berperang”, “kirik sada taduken pe sitekiren” (jangkrik dalam satu tempat pun saling membunuh padahal mereka tinggal menunggu waktu untuk digoreng”.
 
Kita harus benar-benar sehati, seia-sekata, hidup sebagai persekutuan yang mau mengerti dan berdamai satu dengan yang lain. Situasi yang demikian menggambarkan bahwa jemaat merupakan organ atau badan yang hidup, di mana terdapat berbagai-bagai anggota atau suatu badan yang sangat berlainan bentuknya dan sangat beraneka ragam fungsinya. Di dalam keberanekaragaman itu anggota-anggota dapat saling membantu dan saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang menganggap dirinya lebih berharga dan lebih tinggi.
 
Untuk terciptanya seia sekata/sehati sepikir/seperasaan tidak cukup hanya persetujuan anatara manusia bersama-sama, tetapi persetujuan yang dicapai oleh setiap dan semua yang menerima atau berdasarkan kebenaran Allah, sehingga tercipta perdamaian dan sukacita. “Sungguh alangkah baiknya dan indahnya apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun” Maz. 133:1.
 
Kedua : “dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki”.
Didalam Alkitab ada banyak cerita tentang balas dendam dianatranya:
  • Absalom membalas dendam kepada Amnon yang telah memperkosa adiknya, yaitu Tamar (2Sam 13).
  • Yoab membunuh Abner untuk membalas dendam atas kematian adiknya, yaitu Asael (2Sam 3:22-27).
  • Juga Yohanes dan Yakobus ingin membalas perlakuan jahat dari orang-orang Samaria, yang melarang mereka melewati daerahnya (Luk 9:51-56).
 
Sebaliknya kita juga menemukan ada banyak Firman Tuhan yang menentang balas dendam.
  • Amsal 24:29 “Janganlah berkata: ‘Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia. Aku membalas orang menurut perbuatannya.’”.
  • Rom. 12:17: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang”
  • Luk 6:27-28, ‘Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu”.
  • 1Tes 5:15 “Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang”.
 
“tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati”.
Kita tidak hanya diajar untuk tidak melakukan hal yang negatif (membalas dendam). Tapi kita juga mengharuskan melakukan sesuatu yang positif (memberkati).
 
Suatu contoh kecil “Jika seorang pengembala Sapi yang setiap hari menuntun sapinya, melewati ladang kita dan mungkin banyak tanaman kita yang terinjak oleh sapinya tertsebut dan kita mengutukinya, maka ia akan terus menjadi pengembala sapi dan sapinya akan terus menginjaki tanaman kita, namun jika kita memberkatinya dan akhirnya ia menjadi kaya maka ia tidak akan menjadi pengembala sapi lagi, dengan demikian tanaman kita kana man.
 
Ketiga : ‘Mencintai hidup’.
Kata-kata ‘mencintai hidup’ dalam 1Pet 3:10 ini berbeda dengan ‘mencintai nyawa’ yang merupakan tindakan yang dikecam oleh Kristus dalam Yoh 12:25.
Mencintai hidup = Membuang kejahatan dalam kata-kata dan tindakan, melakukan apa yang baik, berusaha untuk menegakkan dan memelihara hubungan yang damai dengan sesama adalah cara / jalan untuk menikmati kehidupan yang sejati dan memuaskan.
 
Saudara/i yang dikasihi Tuhan Introitus yang diangkat dari bagian Bacaan kita Minggu ini, mengajak untuk ” mencari” dan “berusaha”
Kata ‘mencari’ dan ‘berusaha’ menunjukkan bahwa tidak mudah untuk mendapatkan perdamaian. Pada waktu kita mencari/ mengusahakannya, ‘perdamaian’ itu bisa justru ‘lari’ dari diri kita. Namun itulah panggilan kita sebagai anak-anak Tuhan, biarlah kita berdoa seperti “Doa Fransiskus dari Asisi”
 
Dan ingatlah “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telingaNya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”
 
Sebagai Penutup Kohtbah ini kami mengingat “Pedah Nini Tigan” katanya :
Kempu ibas kegeluhen enda Lit 2 Siarus silupaken ras 2 siarus siinget :
2 Siarus silupaken:
  1. Kesalahen kalak man banta
  2. Perbahanenta simehuli man kalak
2 Siarus singet :
  1. Kesalahenta man kalak
  2. Perbahanen kalak simehuli man banta.
Pdt.Iswan Ginting Manik
GBKP Cililitan
HP. 081371855839
 
Catatan Sermon
  1. Musuh dari perdamaian: menganggap dirinya paling benar, sulit menerima perbedaan, egoisme.
  2. Hidup berdamai adalah kata kerja. Berarti ada upaya, proaktif. Dalam Alkitab ditegaskan jikalau ada masalah dengan temanmu berdamailah dahulu baru memberikan persembahan (Matius 5:23-24). Hal inilah diperlihatkan di dalam contoh Yakub dengan Esau, Istri Nabal (Abigail) dengan Daud
  3. Mengasihi bukan kerna dia obyek, bukan kerna ada keuntungan kepada kita. tetapi karena kita sudah terlebih dahulu dikasihi oleh Yesus (1 Yohanes 4:19).

 

 "SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 43 guests online

Login Form