Khotbah Lukas 7:11-17, Minggu 9 Juni 2013

Renungan

Introitus : 
Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya (Rat. 3:22)
 
Bacaan : 1 Raja-raja 17:17-24 (tunggal); Khotbah : Lukas 7:11-17 (tunggal)
 
Tema : 
Jesus Peduli dan Menolong (Jesus Kepate ras Nampati)
 
Pendahuluan
Adalah suatu kebahagiaan tersendiri jika ada suatu benda yang sudah lama hilang dan akhirnya kita temukan kembali. Terlebih jika seorang anak atau keluarga yang sudah lama tidak bertemu kemudian berjumpa kembali pastinya akan membawa sukacita yang luar biasa. Sejalan dengan itu kecenderungan banyak orang ketika hidup semuanya baik: kesehatan baik, keuangan cukup atau malah lebih dari cukup, hubungan dalam keluarga baik, pekerjaan baik, pelayanan baik, semuanya baik-baik saja, biasanya kita cenderung memuji Allah dan cepat mengucapkan kata syukur kepadaNya. Namun jika salah satu atau semuanya memburuk, itu bagaikan badai yang sedang mengamuk menerpa hidup, maka kegelisahan pun mulai muncul, ragu, cemas dan mulai bertanya-tanya apakah benar ada Allah yang melihat apa yang sedang terjadi namun terus membiarkan semuanya itu terjadi (bnd.1 Raj. 17:18, tentang keluhan janda Sarfat). Permasalahan dalam kehidupan yang sedang terjadi sering membuat kita gelisah, merasa tidak tentram, bahkan sangat sukar melalui malam-malam tanpa bisa tertidur karena pikiran kita dipenuhi dengan persoalan demi persoalan.
 
Melalui nats khotbah minggu ini Firman Tuhan menekankan bahwa “Tuhan peduli dan menolong umatNya” yang bersandar dan berharap kepadaNya. Dia tidak pernah menyia-nyiakan dan mengecewakan orang yang datang kepadaNya. Mungkin kita pernah kecewa kepada saudara, teman, atau orang lain, ketika datang kepada mereka untuk meminta pertolongan dan bantuan. Ketika datang kepada mereka, mereka tidak peduli dan tidak mau untuk menolong tapi datang kepada Yesus, Dia peduli dan mau untuk menolong kita.
 
Pendalaman Nats
Secara garis besar nats khotbah Luk 7:11-17 mencertitakan bagaimana Kristus melakukan inisiatif terlebih dahulu untuk menolong janda yang berduka karena anak laki- lakinya yang tunggal telah wafat. Kehilangan anak laki-laki satu-satunya merupakan pukulan terbesar dalam kehidupan janda tersebut yang artinya ia kehilangan segala-galanya. Cukup menarik sikap pertama yang diperlihatkan oleh Yesus ketika melihat janda itu, dikatakan bahwa ketika Yesus melihat janda itu ‘tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan’ (ayat 13) Dia tidak bertanya tentang apa penyebab kematian anak muda itu tetapi Yesus langsung menaruh belas kasihan kepada janda itu (hal yang sama juga dilakukan Elia kepada janda Sarfat, bnd. 1 Raj. 17:19 ), dan ia menghiburnya sambil mengatakan “Jangan menangis”, seolah hendak mengatakan, “Aku tak mau melihat engkau menangis karena Aku datang ke dunia untuk membawa sukacita dan damai sejahtera.” Lalu dengan jamahan KuasaNya anak muda itu pun bangkit, mujizat yang dilakukan Yesus menunjukkan bahwa Kristus adalah Tuhan dan itu terlihat dari reaksi yang ditunjukkan oleh semua orang yang ada pada saat itu (ayat 16) yang mungkin kagum sambil dipenuhi oleh katakutan oleh karena “kematian” itu telah ditaklukkan oleh Yesus dihadapan mereka pada saat itu, sehingga kata-kata untuk mengagungkan Allah keluar dari mulut mereka sehingga nama Allah semakin Termasyur (ayat 17).
 
Sikap kepedulian yang luar biasa ditunjukkan oleh Yesus yang langsung pada tindakan nyata untuk menunjukkan kepeduliaanNya kepada orang yang dalam kesusahan, jika mungkin diperhadapkan dengan kehidupan saat ini mungkin banyak orang hanya sebatas kata-kata untuk menunjukkan rasa kasihannya, mungkin juga hanya sebatas ingin tahu saja dengan permasalahan-permasalahan hidup orang lain tanpa mampu memberi solusi atau mungkin saja pada saat sekarang ini banyak orang yang hanya mau melihat dan mendengar penderitaan orang lain tanpa mau “menyentuh” permasalahan yang dihadapinya itu, tapi dalam nats ini terlihat bagaimana Yesus tanpa bertanya melihat penderitaan itu dengan rasa penuh kasihan lalu memberi penghiburan agar “jangan menangis” lagi, serta dengan penuh kasih turun tangan untuk “menyentuh” persoalan itu sehingga “kebangkitan” pun terjadi.
 
Aplikasi
Tak ada yang lebih indah di dunia ini selain daripada mengenal dengan baik kasih Tuhan. Kita dapat menjalani kehidupan dengan sukacita, karena kita menyadari penyertaan dan pemeliharaan Tuhan. Tidak perlu memegahkan diri atas kekayaan, pekerjaan dan kepintaran yang dimiliki, karena itu sumbernya dari Tuhan. Kita tak perlu ‘galau’, jika banyak pihak mengatakan sesuatu yang tidak benar tentang kita, tidak perlu menjerit-jerit mohon perhatian tetangga, jika tiba-tiba ada sesuatu yang mengganggu kenyamanan kita. Sebab, kita tahu bahwa Allah yang kita kenal dan sembah itu selalu ada di samping kita menghadapi aneka persoalan kehidupan. Perkara sebenarnya yang sering terjadi adalah umat Tuhan terlalu egois, terlalu sombong, terlalu tinggi hati untuk datang sujud menyembah Dia di dalam setiap permasalahan hidup yang dihadapi. Di dalam pikiran terkadang menumpuk sejuta keraguan akan kepedulian Yesus kepada kita. Di dalam mengiring Yesus, kita tidak percaya bahwa Yesus mau untuk menyertai, menolong dan memberikan jalan keluar bagi setiap pergumulan kita, sehingga kita tidak mau dan ragu untuk sujud menyembah Dia dan berdoa kepadaNya meminta pertolongan. Namun melalui renungan khotbah minggu ini, kita diingatkan bahwa ketika kita datang kepada Yesus dan sujud menyembah Dia, Dia mau mendengarkan segala keluh kesah, mau mendengarkan segala masalah yang dihadapi dan mau mendengar segala seruan kita. Penyakit yang diderita akan disembuhkanNya, jalan buntu yang dihadapi akan diberikan jalan keluar, yang berbeban berat akan diberikan kelegaan dan sukacita. Karena Tuhan mau peduli dan menolong kita yang datang sujud menyembah Dia. Terpujilah nama Tuhan. Amin.
 
Detaser Jery K Tarigan, S.Th
Perp. Karawang, Rg. Bekasi

 

 "SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 45 guests online

Login Form