Khotbah 1 Korintus 10:1-13, Minggu 3 Maret 2013 ( Passion IV)

Renungan

Introitus :

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa (Roma 12:12)

Bacaan : Yakobus 1:12-18; Khotbah : 1 Korintus 10:1-13

Thema :

Sabarlah dalam kesesakan

Jemaat yang dikasihi Tuhan!

Dalam minggu gerejawi, hari ini disebut Passion ke-IV artinya sebuah rangkaian dimana gereja-gereja diingatkan tentang kesengsaraan Tuhan Yesus Kristus. Walaupun Yesus berbuat baik, melawan kejahatan, membela manusia dan membimbing manusia ke dalam kehidupan yang baik, namun Dia mengalami banyak penderitaan. Sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus, tentunya kita tidak perlu kaget kalau dalam upaya menyaksikan karya kasih Tuhan, dalam mengikuti kehendak Tuhan, dalam menegakkan keadilan dan kebenaran, kita juga mengalami banyak penderitaan. Yang perlu diwaspadai jangan sampai karena kesalahan, kelalaian, kejahatan dan keberdosaan kita, menyebabkan kita harus menderita. Karena kita korupsi, masuk penjara. Bukan kesesakan seperti itu yang dimaksudkan. Ya, minggu ini juga kita dituntun untuk melihat solusi atas tantangan dan pergumulan kita. Karena minggu ini disebut juga minggu Okuli (Bahasa Latin Oculi = Mata-ku) dalam Mazmur 25:15 “Mataku tetap terarah kepada Tuhan, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring”.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!

Surat Paulus kepada jemaat Korintus yang disampaikan sekitar tahun 50-52 masih kena-mengena dengan kondisi kita di tahun 2013 ini. Korintus yang masuk wilayah Yunani ini, menjadi pusat pertemuan berbagai budaya, kota teater, kota ilmu pengetahuan, kota olah raga, kota pelabuhan, dan terkenal kuil penyembahan kepada dewa cinta Afrodite. Kota yang sangat duniawi, yang terkenal dengan kejahatannya. Dalam bahasa Yunani ada istilah “mengkorintuskan” yang berarti menjalankan kehidupan yang ditandai kemabukan dan percabulan. Jemaat ini dilanda perpecahan secara internal dengan penampilan 4 kelompok (Partai Paulus, Apolos, Kefas dan Kristus). Bahkan orang Yahudi punya komunitas ahli Taurat, orang Farisi dan orang Saduki. Selama abad pertama muncul golongan Stoa, Epikuros, bahkan nabi-nabi palsu. Pada dasarnya penyebab perpecahan ini karena jemaat tidak dewasa secara rohani.

Khusus 1 Kor.10:1-13 yang menjadi perenungan kita hari ini sebuah pembelajaran dari pengalaman Israel. Dalam Terjemahan Baru judulnya “Israel sebagai suatu peringatan” atau terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini “Penyembahan Berhala”, seperti bahasa Karo “Pertenget kerna berhala-berhala”. Pada dasarnya kita belajar dari pengalaman yang baik untuk kita contoh dan ikuti. Kondisi bangsa Israel sebenarnya seperti Mazmur 25:15 “..Ia mengeluarkan kakiku dari jaring”. Allah telah menyelamatkan mereka dengan membelah laut sehingga mereka dapat berjalan melintasinya. Karena itu wajarlah matanya tetap terarah kepada Tuhan. Tetapi sungguh ironis seperti dikutip dari Keluaran 32, mereka membuat patung anak lembu emas, katanya: Inilah Allah yang telah menuntun keluar dari Mesir. Jelas ada pemutar balikan fakta. Mereka sujud menyembah dan mempersembahkan korban. Mereka juga melakukan percabulan. Sering kali penyembahan berhala membawa orang kepada berbuat zinah. Sehingga pada satu hari saja mati 23.000 orang. Kita diingatkan untuk tidak melakukan hal yang sedemikan. Bahkan di ayat 9 ada peringatan untuk tidak mencobai Tuhan, sehingga seperti mereka mati dipagut ular. Ada ciri khas bangsa Israel dalam perjalanan dari Mesir ke tanah perjanjian Kanaan yaitu kecendrungan untuk bersungut-sungut.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!

Perjalanan bangsa Israel ke tanah Kanaan punya kesejajaran dengan perjalanan hidup kita, bahkan pejalanan bangsa kita Indonesia.
Ada pemutar balikan fakta dan pembohongan, kalau Israel korban anak lembu emas, kini ada korban impor daging sapi, ada percabulan dan perselingkuhan. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa kita juga cendrung bersungut-sungut, karena tidak puas.
Luar biasa, hari ini Tuhan memperingatkan kita, jemaat bahkan bangsa kita untuk kembali ke jalan yang benar, yang menyenangkan hati Allah.
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Kalau A.H.Maslow mengatakan ada 5 kebutuhen dasar manusia:
• kebutuhan pokok makan dan minum
• kebutuhan keselamatan dan keamanan
• kebutuhan akan cinta kasih
• kebutuhan akan harga diri
• kebutuhan akan kesuksesan dan kepuasan pencapaian tujuan pribadi.

Manusia terus berlomba-lomba untuk memenuhi ke lima kebutuhan tersebut. Dalam memenuhi kebutuhan ini, masing-masing orang melakukan dengan caranya sendiri. Ada dengan jalan lurus dan benar, namun ada juga dengan jalan bengkok yang tidak benar. Apa lagi ada orang berupaya menambahkan sejumlah keinginan dan hawa nafsu. Sehingga ada berbagai penderitaan yang dialami manusia. Kemiskinan, kelaparan, sakit penyakit, ketakutan, kemalangan, bencana alam, kehilangan harapan dan kasih sayang serta tidak lagi dapat menikmati hak-haknya. Ada anak-anak dan perempuan yang diperjual belikan untuk pemuasan nafsu seks. Ada yang menjadi korban perdagangan obat bius. Angka-angka penderita HIV/AIDS semakin meningkat. Ada korban bencana alam, karena pengrusakan alam akibat keserakahan. Yakobus dalam pembacaan Yakobus 1:12-18 menggaris bawahi bahwa sesuatu menjadi godaan bagi kita, apabila kita diseret dan dipikat oleh hawa nafsu kita, sehingga yang harus disalahkan adalah manusia dengan keinginan-keinginannya. Hawa nafsu itu mengandung, artinya dibuahi oleh suatu hal yang memikatnya dan sebagai akibatnya lahirlah dosa. Dan kalau dosa itu dewasa atau matang, ia melahirkan maut. Yakobus hanya mau mengingatkan akibat kalau seseorang membiarkan keinginannya. Mereka yang bertahan akan mendapatkan mahkota kehidupan, sedangkan mereka yang terseret akan menempuh jalan maut. Dosa yang matang adalah dosa yang tidak dilawan lagi. Manusia sudah senang dan bermain-main dengan dosa, sudah menyerah sepenuhnya. Jadi kalau ditanya: siapa yang bertanggung jawab, kalau seseorang dicobai: Allah, iblis atau orang itu? Yakobus menegaskan: orang itu, karena hawa nafsunya! Tidak melawan bahkan menyerah sepenuhnya.

Pada bagian akhir ayat 12, Paulus mengingatkan orang yang menyangka dirinya berdiri teguh, hendaklah berhati-hati; jangan sampai ia jatuh. Allah membiarkan kita digodai agar kita berdoa, agar mata ini tetap terarah kepada Tuhan (Okuli). Tuhan sudah menguji Abraham, ternyata dia menang. Tuhan juga mengizinkan setan menggodai Ayub, ternyata dia menang.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!

Seperti Paulus mengingatkan jemaat Korintus, jika mengulangi ketidaksetiaan Israel akan menerima hukuman, demikian juga kita diingatkan untuk tidak bermain-main dengan dosa, penyembahan berhala, dan kebejatan. Syukurilah kesetiaan Allah yang diungkapkan pada ayat terakhir ayat 13 dengan tidak mengizinkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Ya, seperti kita masuk kedalam kelambu, dimana ada juga nyamuk yang ikut masuk kedalamnya. Kalau kita biarkan dan tidur, ya digigit juga. Namun kalau kita mau, kita dimampukan karena ruang gerak nyamuk terbatas dalam kelambu. Dan pasti nyamuk dapat dikalahkan atau dimatikan. Dosa yang matang adalah dosa yang tidak dilawan lagi. Karena itu seperti Kidung Jemaat 436 “Lawanlah godaan, s’lalu bertekun; tiap kemenangan kau tambah teguh; Nafsu kejahatan harus kau tentang, harap akan Yesus pasti kau menang”. Mari kita teruskan sisa perjalanan hidup kita seperti tuntunan introitus dengan berharap kepada Tuhan dengan gembira, sabarlah di dalam kesusahan, dan tekunlah berdoa.

Pdt. E.P. Sembiring

 

 "SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 65 guests online

Login Form