Khotbah Amsal 9 :1 – 6, Minggu, 19 Agustus 2012 (Xi Setelah Trinitatis)

Renungan

Introitus :
Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik, Puji – pujian kepadaNYA tetap untuk selamanya (Mazmur 111 : 10).

Bacaan : Efesus 5 : 15 – 20; Khotbah : Amsal 9 :1 – 6

Tema :
Datanglah kepada Hikmat

 

Pendahuluan

Nats renungan kita ini berisi pengajaran hikmat bagi orang Israel, khususnya orang muda. Pengajaran ini berasal dari zaman sesudah pembuangan. Masyarakat umum, khususnya orang muda menghadapi godaan atau ancaman degradasi moral yang menghancurkan hidup. Untuk menghadapinya, pengajaran hikmat dikemas berisi khotbah dan instruksi, yang menuntun, mendidik dan menyerukan, mengundang serta mendorong masyarakat untuk menerimanya sehingga hidup sesuai dengan karakter moral yang diajarkan hikmat itu sendiri yakni karakter moral yang benar, baik dan tepat jika mereka menerima dan hidup sesuai dengannya.

Pendalaman
Nas Ayat 1 - 2
Kitab Amsal ini menceritakan gambaran perumpamaan tentang perjamuan di suatu pesta. Gambaran peranan ini dimulai dari hal yang mendasar yakni membangun rumah dan mempersiapkan hidangan dalam suatu pesta. Rumah dibangun berkonstruksi 7 tiang. Rumah berfungsi sebagai tempat pendidikan anggota keluarga/orang lain, konstruksi adalah guna penyediaan tempat khusus untuk pendidikan, angka 7 merupakan konsep yang suci, sempurna, menyenangkan. Ini semua bertujuan untuk pendidikan khususnya pengajaran hikmat. Agar melalui rumah dapat diapakai sebagai tempat pengajaran hikmat sehingga tercipta hidup yang dibangun, diberkati, hidup yang menyenangkan. Hikmat menyuguhkan makanan/minuman dan mengadakan perjamuan demi kesehatan dan tenaga yang sangat dibutuhkan menopang kelancaran dan kesuksessan pengajaran hikmat.
Ayat 3 – 5
Undangan makan roti dan minum amggur disini bukan dalam arti makan dan minum anggur sungguhan, melainkan makanan rohani yakni pengajaran moral dari hikmat yang adalah kehidupan. Undangan ini ditujukan kepada orang yang belum berpengalaman dan tak berakal budi.

Yang belum berpengalaman adalah orang yang belum memperoleh pendidikan yang cukup, maka undangan disampaikan agar setiap orang memperoleh pengetahua, kepandaian dan kecerdasan baik dalam hal teknis, praktis, khususnya moral dan kerohanian. Orang yang tak berakal budi adalah orang yang tidak baik karakter moralnya, maka undangan disampaikan agar belajar pada hikmat sehingga menjadi orang yang baik karakter moralnya.

Ayat 6 Ini merupakan kesimpulan , pengajaran hikmat berupa dorongan untuk membuang kebodohan, ketidakpedulian pada pengajaran karakter moral, hikmat dan berjalan dijalan pengertian yaitu hidup kelimpahan jasmani dan rohani.

Penutup

  1. Pengajaran hikmat adalah pengajaran Firman Tuhan yang menjadi bahan pengajaran moral yang benar, baik dan tepat. Orang yang berhikmat bukan menunjuk kepada orang pintar dan pandai, tentu juga bukan kepada orang bodoh. Orang berhikmat ialah orang yang takut akan Tuhan, yang bersikap sesuai kebenaran pengajaran Firman Tuhan yang berkarakter moral yang benar, baik dan tepat.
  2. Pengajaran hikmat yang berdasarkan Firman Tuhan membangun hidup yang berkelimpahan secara jasmani dan rohani yakni hidup damai dan sejahtera didunia.
  3. Pengajaran hikmat dari Firman Tuhan adalah tugas panggilan pendidikan yang sangat relevan bagi setiap keluarga Kristen dan gereja untuk membangun orang dan bangsa yang berpengetahuan dan berakal budi. 
Penulis : Pdt Nur Elly Tarigan, Denpasar 081362008714

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 90 guests online

Login Form