Khotbah Markus 9:2-9, Minggu 19 Februari 2012 (Pasion I=Estomihi)

Renungan

Introitus :
“Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya” (Yesaya 40:10).

Bacaan : 2 Raja-raja 2:1-12; Khotbah : Markus 9:2-9

Thema :
“Yesus Dipermuliakan, Orang yang percaya juga ikut dipermuliakan”

Pendahuluan

Dalam kehidupan ini banyak orang yang ingin seperti orang yang sukses, berhasil, punya jabatan, pangkat dan kekayaan. Sering orang melihat dari pangkatnya, jabatannya, banyak hartanya dan kekayaannya. Tetapi jarang sekali seseorang itu melihat dan menyelidiki bagaimana dia mendapatkan hasil dari kesuksesannya itu, bagaimana perjuangannya dan bagaimana sikapnya mencapai itu semua. Jarang orang bertanya dan mempelajarinya. Sehingga banyak orang yang mau ikut seperti orang sukses itu, kadang-kadang ia tidak berhasil karena untuk mendapatkan itu semua, seseorang itu harus mempunyai ketekunan, kesabaran, keberanian dan rendah hati serta kerja keras. Banyak tantangan yang harus dihadapi tetapi menghadapinya harus dengan doa, dengan lemah lembut dan kadang-kadang dengan air mata. Banyak juga orang yang bertekad untuk berhasil sukses tetapi dia harus berani menderita sengsara untuk mencapai tujuan kesuksesannya itu.

 

Hal ini dapat kita lihat dalam renungan khotbah minggu kita mulai dari pembacaan dan khotbah. Agar melalui ini kita dimampukan untuk mengikut Yesus dan hidup bersama Yesus serta menerima kemuliaan yang diterima Yesus sendiri. Karena hanyalah orang yang berani bertekad untuk hidup sesuai dengan kehendak Yesus sebagai Juruselamatnya tentu dia akan menerimanya juga hari ini dan juga masa-masa mendatang.

Pendalaman Nats

Ketika Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes ke atas gunung yang tinggi itu, menurut tafsiran bahwa gunung itu adalah gunung Hermon karena gunung ini tingginya 2.800 meter dan letaknya lebih dekat kota Kaisarea-Filipi. Dan suasana di tempat itu juga sunyi dan lebih sejuk. Yang terjadi diatas gunung itu adalah bahwa pakaian Yesus menjadi berkilat-kilat seperti cahaya yang berkilau-kilauan seperti dari kuningan atau emas yang kelihatan dari baju yang dipakai atau kilauan emas cahaya matahari. Pada saat inilah mereka melihat Musa, Elia dan Yesus berbicara secara akrab. Mungkin dengan pandangan yang indah, kemilau, terang; Petrus termotivasi untuk bertanya kepada Yesus, “betapa bahagianya kami berada di tempat ini”, Petrus sangat bahagia sehingga Petrus tidak lagi memikirkan apa yang akan terjadi dibalik itu. Mereka hanya mau melihat yang bahagianya tetapi dia belum melihat bahaya tantangan yang akan dihadapinya. Sehingga di sini Petrus egois, dia mengusulkan untuk membangun kemah tiga buah di atas gunung itu, satu untuk Yesus, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.

Tetapi setelah ayat berikut ayat 7 terdengar suara Allah dari surga yang mengatakan “inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia”. Setelah itu, mereka tidak lagi melihat Musa dan Elia, yang tinggal hanya Yesus. Dari sini nampak bagaimana Yesus sudah tampak sebentar dimuliakan oleh Allah melalui penampakan bersama Musa dan Elia. Petrus dan Yakobus di sini tidak melihat bahwa dia telah ditinggikan oleh Allah sebagai Mesias yang harus menderita dan mati di kayu salib. Dengan penampakan ini, Allah mau menyatakan bahwa orang yang beserta dengan Yesus dan percaya kepada-Nya dan berani mengikut Dia di dalam penderitaan, di dalam menghadapi tantangan, dia juga akan mendapat kemuliaan seperti Yesus sebagaimana yang tertulis dalam Filipi 2:1-11 secara ringkas isinya “setia seperti hamba, menderita, rela mati di kayu salib tapi akhirnya Dia ditinggikan oleh Allah”. Seperti Elia memberikan kuasa dan tugas kepada Elisa karena kesetiaan, ketabahan Elisa mengikut Elia, ia juga mendapat berkat dari Elia karena kesetiaan, kerendahan hatinya dalam menjalankan tugas dan dia dimampukan untuk menerima itu. Dia punya karakter sebagai penerus Elia. Karakter dalam kesetiaan dan siap untuk diuji sehingga dia juga mempunyai kualitas, spiritualitas sebagai murid nabi Elia.

Pointer Aplikasi

Melalui renungan khotbah kita pada minggu ini kita mendapatkan beberapa pokok-pokok aplikasi :

(1) Kesetiaan.

Yesus yang setia dan rendah hati bekerja untuk Allah yang mengutus Dia, sehingga di dalam kerendahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya Dia dapat ditinggikan dan dimuliakan. Berani menderita, taat, setia sebagai hamba. Elia juga ditinggikan dengan diangkat hidup-hidup ke surga dan dapat mendelegasikan tugasnya kepada Elisa sebelum dia naik ke sorga. Elisa setia juga kepada Tuhan, kepada nabi Elia, sehingga dia rela mengikuti, mentaati apa kata nabi Elia sehingga dia dapat menerima kekuatan dan berkat. Petrus juga didewasakan melalui dia melihat bagaimana Allah telah berbicara dengan berkata “inilah Dia Anak yang kusayangi”. Demikian juga bagi orang yang percaya dan setia ikut di dalam pekerjaan Tuhan berani berkorban dan setia, Tuhan memberkati dan memberikan apa yang telah Dia janjikan kepada orang yang setia.

(2) Siap diuji.

Untuk menerima yang lebih sejati, tulen dan asli maka orang yang beriman itu siap diuji walaupun ada godaan, tantangan dari dalam dan dari luar pribadi orang percaya itu. Siap siaga untuk menerima ujian, untuk pemurnian apakah kita benar-benar di dalam mengikut Tuhan. Seperti Yesus, Elia dan Elisa juga, dia juga sudah berani, tahan uji walaupun dia mempunyai banyak tantangan, akhirnya dia berhasil juga mengalahkan itu semua.

(3) Berkualitas.

Orang yang beriman itu menjadi orang yang berkualitas yang dapat memuliakan Tuhan, mempunyai iman yang dewasa, tidak mudah diombang-ambingkan, dia dapat menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat, di gereja dan dapat menjadi saksi Kristus yang dapat menyaksikan Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat yang meninggikan orang yang beriman atau yang percaya kepada-Nya. Amin.

Bandung, 31 Januari 2012
Pdt.Johanes Karo Sekali, S.Th
GBKP Majelis Jemaat Bandung Pusat
No.Hp. 081362696301

Catatan Sermon:

  1. Memahami bahwa berkorban itu sesuatu yang tidak mudah dilakukan, karena insting manusia yang cendrung mementingkan diri sendiri, maka hal penting yang perlu didiskusikan adalah bagaimana caranya agar orang bersedia berkorban? Pertama, Tujuan hidup kita atau visi kita arus jelas bahwa sebagai orang percaya berkorban sesuatu yang menyenangkan hati Tuhan, kita akan diberkati di bumi terlebih boleh bersama Bapa di sorga. Kedua: ada pemahaman siapa yang menanam ia akan menuai (Galatia 6:8).
  2. Mengapa Yesus melarang supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati? Larangan ini sesuai dengan kebijaksanaan Yesus untuk menahan diri agar berbagai pandangan yang salah tentang Mesias ketika itu tidak semakin menjadi-jadi. Sesudah peristiwa Kebangkitan, bahaya tersebut tidak ada lagi. Waktu itu pengalaman di atas gunung ini akan memiliki nilai rohani bagi para murid sebagai penegasan tentang iman mereka (bdg. II Ptr. 1:16-18).

 

 "SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 34 guests online

Login Form