Khotbah Yesaya 29:17-24, Minggu 11 September 2011

Renungan

Introitus:
"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku/IsuruhNa Aku erberita man kalak si tertaban maka ipulahi me ia, janah kalak si pentang erpengidah me, kalak si itindas ipulahi me (Lukas 4:18b).

Pembacaan: Mazmur 117:1-2; Khotbah: Yesaya 29:17-24

Thema :
Muliakanlah/kuduskanlah Tuhan karena kuasaNya (Pehagalah Tuhan erkiteken kuasaNa).

Pendahuluan
Krisis berkepanjangan bisa membuat kita menjadi skeptis. Kita akan merasa sepertinya keadilan tidak mungkin lagi diperjuangkan dan Tuhan seolah tiada. Sebaliknya kita cenderung beranggapan bahwa keadaan sial, gagal, dan celaka merajalela berjaya mengalahkan kebenaran. Keadaan seperti ini dapat membuat kita tidak lagi memercayai Tuhan dan tidak lagi mengharapkan kebenaran akan ditegakkan. Bila demikian, renungan Firman Tuhan Minggu ini menegur sikap skeptis kita dan mengajak kita menaruh harapan besar kepada anugerah Allah, bahwa Dia Allah yang Maha Kuasa, Allah yang setia[1], Allah yang mempunyai rancangan samai sejahtera bagi kita umatNya[2]. Karena itu seharusnyalah kita memuliakanNya melalui sikap hidup kita yang berubah dan berbuah.

Pendalaman Nats
Perikop kita dimulai dengan kata “hanya sedikit waktu lagi”. Kata ini mengisyaratkan bahwa masa itu segera datang, yakni masa pemulihan, masa keselamatan sesudah penindasan[3]. Tidak disebutkan kapan, tetapi sedikit waktu lagi dimana perubahan yang luar biasa akan terjadi akibat pemulihan itu dan pemulihan itu hanya Allah yang dapat lakukan.

Dalam ayat 17-21 disebutkan keadaan yang mustahil atau hal yang tidak biasa akan terjadi dan menjadi kenyataan. Pertama, Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, bahkan disebutkan jauh lebih baik (lebih subur) dibandingkan kebun yang ada sebelumnya (kalau dibandingkan, kebun sebelumnya dianggap hutan bila dibandingkan kebun yang baru ini). Mengenai ayat 17 ini ada yang menafsirkan (1) “Libanon” sebagai gambaran bagaimana seluruh ciptaan menjadi subur kembali ketika Tuhan mendatangkan masa depan yang baru (pemulihan alam). (2) “Libanon” menggambarkan keadaan umat Israel yang sebelumnya sangat sombong. Mereka akan ditebang seperti Asyur[4], tetapi kelak mereka akan menjadi tanah pertanian yang subur, artinya setelah mereka direndahkan maka muncul pertobatan yang akan membuat tanah yang sudah dibersihkan menjadi kebun buah-buahan[5]. Tetapi, orang-orang yang sekarang menghasilkan buah-buah kebenaran belakangan, karena sembrono dan mengabaikan ajaran Tuhan, bisa kembali menjadi hutan yang tidak terurus (terjemahan bahasa karo: …. taneh perjuman salih jadi kerangen tua). Jadi ayat ini juga menjadi peringatan kepada kita yang telah mengalami anugrah keselamatan, agar tetap setia hidup sesuai dengan FirmanNya agar tidak menjadi “kerangen tua” kembali (dianggap hutan). Dan bila demikian, kita akan bernasip seperti disebutkan dalam Matius 7:23. Kedua, Allah menjanjikan kebangunan rohani di Israel, yang berpusat pada orang-orang sengsara dan orang-orang miskin di antara kawanan domba Tuhan. Orang-orang yang tuli dan buta rohani akan menjadi umat percaya yang menyanyikan nyanyian rohani dengan suka ria[6]. Sebaliknya, Allah akan menghabisi orang-orang yang sombong, pencemooh, semua yang berniat jahat, orang yang suka memfitnah, dan orang yang suka menyebarkan cerita bohong dengan tujuan supaya orang jujur tidak mendapat keadilan.

Dalam Ayat 22-24, disebutkan bahwa dampak pemulihan tersebut akan membuat umat Israel kembali melakukan fungsinya sebagai bangsa yang telah dipilih Allah agar menguduskan namaNya. Eksistensi Allah adalah kudus, oleh karena itu seharusnya juga menjadi eksistensi umatNya, hidup kudus. Kata “kudus” diambil dari bahasa Yunani hagios yang berarti “memisahkan” (mengasingkan), mengkhususkan, mengistimewakan. Seseorang disebut menguduskan Tuhan jikalau dia membuat Tuhan menjadi khusus, terpisah dan istimewa. Menguduskan Nama Allah artinya dimanapun seseorang berada, ia harus mengkhususkan, mengistimewakan dan mengutamakan kehendak Tuhan.

Pointer Aplikasi:

  1. Kemungkinan menjadi skiptis selalu bisa terjadi pada setiap orang kristen, sebab kenyatan hidup tidak ada seorangpun yang steril dari persoalan hidup, namun orang yang selalu bersekutu[7] dengan Allah tidak akan pernah tergoyahkan dari keyakinan bahwa Allah yang Kudus, Allah yang Maha Kusa mampu dan pasti memberikan pertolongan tepat pada waktunya.
  2. Reformasi total tidak akan pernah terjadi tanpa memusatkan perhatian kepada Tuhan, Sang Penguasa hidup. Sulit untuk memikirkan reformasi moral, tanpa mengikutsertakan Tuhan Yesus Kristus di dalamnya; sebab Dialah satu-satunya yang dapat memperbarui kehidupan seluruh ciptaan-Nya. Menerima Kristus, berarti mengakui bahwa hanya bersama dengan Kristuslah, hidup mengalami perubahan dan pembaruan.
  3. Memuliakan/menguduskan Tuhan itu suatu kemutlakan bagi setiap orang yang telah mengalami kuasaNya (kuasa keselamatan, kuasa penyembuhan, kuasa pemeliharaan). Atau dengan kata lain orang yang sudah mengalami kuasa Tuhan akan selalu memuliakan Tuhan, menguduskan nama Tuhan dengan hidup kudus. Hidup kudus berarti pertama, kita perlu mengikuti perintah Allah sebab perintah Allah itu kudus (Roma 7:12, 13:10). Perintah ini mencakup kita hidup di dalam iman, harapan dan kasih, terutama perintah untuk mengasihi Allah di atas segalanya dan mengasihi sesama (Matius 22: 37-39; Markus 12:30), dengan cara ini kita dapat menjadi kudus dan tak bercela di hadapan Tuhan (Filipi 1:10, 1 Tesalonika 3:12). Kedua, untuk hidup kudus kita perlu menanggalkan diri kita yang lama –berikut dengan segala dosa dan kebiasaan negatif, untuk hidup sebagai manusia baru di dalam Roh Kudus dan hidup di dalam rasa hormat pada Tuhan (2 Korintus 7:1) sehingga kita dapat memiliki buah-buah Roh (Galatia 5:22-24). Ketiga, kita perlu selalu berusaha untuk ‘meniru’ Allah yang kudus dan sempurna (1Petrus 1:15-16; Matius 5:48) melalui teladan Kristus untuk kita terapkan di dalam perkataan, pikiran dan perbuatan kita.

Jatiwaringin-Pondok Gede, 2 Agustus 2011
Pdt.S.Brahmana

 

Catatan sermon:

  1. Adanya perubahan. Perubahan dari penindasan kepada kesejahteraan.
  2. Pehaga: (1) Kudus, (2) kesaksian hidup. Mendidik manusia agar kudus, menyatakan hidup kita sudah diberkati dengan hidup baik, setia dan patuh terhadap undang-undang Tuhan.
  3. Ilustrasi adanya perubahan/bukti: Melawen mulih surbakti nari pdt? Mbue sangana buah rimo, nina Bp.Pagit nerangken sebabna ia la reh ku kerja-kerja. La tuhu kai nindu ena, Bp.pagit, nina Panditana ngaloi. Engkai maka bage nina panditana? Sebab la lit tandana payo mbue buah rimo e adi la bo lit ibabana. Tidak dirasakan orang.

--------------------------------------------
[1] Bd.Mazmur 117:2 (Pembacaan)
[2] Bd.Yeremia 29:11
[3] Oleh L.A.I perikop ini diberi judul “Keselamatan sesudah penindasan”.
[4] Bd.Yesaya 10:15-19, 33-34
[5] Alkitab Edidi Studi. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2010, hal.1127; Juga Bd.Tafsiran Alkitab Masa Kini 2 Ayub-Maleaki. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1991, hal.401
[6] Bd. Pembacaan kita, Mazmur 117:1-2
[7] Bd.Yohanes 15:5

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 74 guests online

Login Form