GEREJA YANG HIDUP DALAM PERSEKUTUAN

Artikel

GEREJA YANG HIDUP DALAM PERSEKUTUAN
oleh: Jobta Tarigan
(Pertua di GBKP Rg.Pontianak-Kalimantan Barat)

Dalam tulisan sederhana ini dicobakan untuk memberikan penyegaran kembali kepada sidang pembaca bahwa Gereja adalah sebuah persekutuan yang sangat berbeda dengan organisasi duniawi lainnya.Gereja berbeda dengan Serikat Tolong Menolong (STM),Gereja berbeda dengan “Persadaan Merga-merga”,bahkan Gereja berbeda dengan Negara dan Politik dan sebagainya.Dalam tulisan sederhana ini pula diulas sedikit tentang Gereja sebagai persekutuan,pentingnya persekutuan, cara memeliharanya.Karena kata “persekutuan” tidak ada pada organisasi dunia yang kita sebutkan diatas.Sehingga kata tersebut adalah salah kata kunci bagi Gereja bahkan sangat penting.Baik pula sedikit diulas tentang Gereja tersebut dari aspek sosiologis dan teologis sebagai bentuk dari apa yang kita sebut persekutuan tersebut.Sehingga diharapkan kita mengetahui bahwa Gereja bukan berasal dari dunia tetapi berada dalam dunia.Untuk itu mari kita mulai dengan menelisik pengertian gereja menurut Kitab Suci/Alkitab.

 

Gereja
Menurut pandangan Alkitab, gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar (eks=keluar; kaleoo=memanggil). Mereka disendirikan untuk menjalankan tugas luhur yaitu memberitakan Kabar Baik tentang Keselamatan. Yesus Kristus sendiri memberitakan mengenai kedatangan Kerajaan Allah. Kurang sekali petunjuk di dalam Alkitab bahwa Kristus memang memaksudkan pendirian gereja, kecuali dalam naskah-naskah yang oleh para ahli dipandang sebagai lebih muda. Yang terpenting, bahwa gereja sudah ada dan telah menjalankan amanat Allah ini sepanjang masa. Secara tradisional kita diajarkan bahwa tugas gereja terdiri atas 3 hal, yaitu koinonia (persekutuan), marturia (kesaksian) dan diakonia (pelayanan).

Gereja dapat dipandang dari berbagai sudut. Dari sudut sosiologi, gereja dapat dilihat sebagai yang sama dengan lembaga-lembaga lain: ia berada dalam dunia, punya anggota-anggotanya, menerapkaan aturan-aturan kelembaagaan, mempunyai sistem kerja, sebagai subyek hukum, dan sebagainya. Tetapi, gerejapun mempunyai sisi “ilahi” yaitu bahwa keberadaannya dalam dunia sangat ditentukan oleh Tuhan gereja. Hak hidupnya tidak ditetapkan oleh manusia, tetapi oleh Kristus. “Di mana dua atau tiga orang berkumpul atas namaKu, disitulah Aku ada”, kata Yesus Kristus. Tetapi memang tidak jarang terjadi “ketegangan” antara aspek sosiologis dan aspek teologis dari keberadaan gereja itu.

Apa yang disebutkan sisi sosiologis dan teologis diatas dapat juga dikatakan dengan cara lain, yaitu bahwa gerejapun mempunyai sisi organisasi dan sisi organisme. Yang dimaksud dengan sisi organisasi adalah, gereja dapat menerapkan aturan-aturan organisasi ke atasnya yaitu bagaimana cara mengaturnya dan seterusnya. Itulah sebabnya, ada hal-hal yang dapat diukur di dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban gereja. Pada pihak lain, gereja mempunyai sisi organisme, yaitu laksana tubuh (ibarat yang dipakai Paulus), yang saling berhubungan satu sama lain. Antara organisasi dan organisme pun terjadi “ketegangan”. Kalau gereja terlampau menekankan organisasinya, maka gereja seperti itu disebut terlampau institusionalistis.Ini sering dan acap terjadi pada gereja-gereja arus utama.Dalam gereja seperti itu aspek kasih lalu menjadi tidak jelas. Tetapi kalau gereja terlampau menekankan aspek organisme, maka kecenderungan ketidakteraturan bisa terjadi. Apalagi kalau Roh Kudus secara keliru diandalkan dalam pengaturan gereja seperti itu, maka bisa-bisa ketidakteraturanlah yang kita tuai.

Hal ini yang sering terlihat dan terjadi menurut kami dari teman-teman di luar gereja arus utama (main line churches)

Dalam Pengakuan Iman Rasuli, terdapat formula: “Aku percaya adanya gereja Kristen yang kudus dan am, persekutuan segala orang kudus”. Inilah pengakuan yang cukup tua yang mencoba merumuskan tempat gereja di dalam iman Kristen. Pengakuan ini ditempatkan di dalam kerangka pengakuan tentang Roh Kudus (Pneumatologi). Itu berarti, sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, keberadaan gereja adalah buah Roh Kudus. Sifat gereja itu kudus, bukan karena orang-orangnya selalu kudus, tetapi karena dikuduskan. Orang-orang yang hidup di dalamnya adalah, seperti dikatakan Martin Luther, simul iustus et peccator, yaitu sekaligus dibenarkan dan berdosa. Itu berarti bahwa kehidupan orang beriman selalu berada dalam pergumulan yang terus-menerus untuk hidup kudus. Namun tidak berarti, bahwa kekudusan itu dengan upaya sendiri akan dicapai. Maka kita mesti selalu berdoa agar dikuduskan oleh Allah. Am, adalah terjemahan dari katoliksitas yang mengacu kepada gereja yang tidak dibatasi oleh tembok-tembok suku, ras dan etnis. Di mana ada gereja di sanalah umat Tuhan ada.

Pengertian Persekutuan.
Pada waktu seseorang atau suatu kelompok masyarakat, menerima Injil Kristus, sebelumnya dia sudah memiliki persekutuan atau hidup dalam suatu persekutuan yang didasarkan atas hubungan darah atau hubungan keluarga, kampung atau suku (familia naturalis). Ini adalah suatu pemberian Tuhan bagi kita selama kita berada di dunia ini. Tetapi setelah kita menerima Kristus, kita dihisabkan lagi ke dalam persekutuan yang bersifat rohani atau persekutuan kudus (communio sanctorum), kita menjadi anggota keluarga Allah (familia Dei). Kita menjadi anggota Tubuh Kristus, warga Kerajaan Allah (civitas Dei) yang memiliki satu persekutuan yang baru, yang meruntuhkan segala tembok pemisah, karena semua anggotanya datang dari berbagai latar belakang suku, bangsa, tingkat sosial, bahasa yang berbeda dan dari segala tempat dan sepanjang zaman. Inilah persekutuan yang lebih mulia, lebih indah dan kekal. Lambang yang tertinggi dari persekutuan tersebut adalah Perjamuan Kudus (1Kor. 10:17). Kedatangan Tuhan Yesus ke dunia bukan hanya untuk menyelamatkan manusia, tetapi juga untuk menciptakan suatu masyarakat yang baru, persekutuan yang baru sebagai anggota tubuh Kristus, anggota keluarga Allah dan warga kerajaan Allah.

Diatas disebutkan gereja adalah sebuah persekutuan.Apa sebenarnya persekutuan itu.?.Persekutuan artinya mendapat bagian dan mengambil bagian serta memberi bagian secara bersama-sama dalam sesuatu atau dengan seseorang. Ada tiga pengertian persekutuan (Yunani: koinonia), yaitu:

Pertama, apa yang kita miliki bersama, bagian kita bersama atau warisan kita bersama sebagai pengikut Kristus (Tit. 1:4; Yudas 3; Fil.1:7). Persekutuan dengan darah Kristus dan persekutuan dengan tubuh Kristus artinya mendapat bagian dalam darah dan tubuh Kristus secara bersama-sama (1 Kor. 10:16; band. 1 Kor. 1:9; Fil. 3:10). Persekutuan Roh berarti mendapat bagian dalam Roh secara bersama-sama (Fil. 2:1; 2 Kor. 13:13).

Adapun yang kita miliki secara bersama-sama dengan semua orang percaya lainnya sebagai wujud persekutuan kita adalah: satu iman, satu baptisan, satu Roh, satu pengharapan, satu tubuh dan satu Tuhan, satu Allah (Lihat Efesus 4:4-6; 1 Kor. 8:6).

Kedua, apa yang kita bagikan kepada orang lain secara bersama-sama, yang kita lakukan bersama atau pelayanan kita bersama (2 Kor. 8:23; 1 Tim. 6:18; Ibr.13:16). Ini adalah pelayanan untuk membagikan secara bersama-sama segala sesuatu kepada orang lain (2 Kor. 9:13). Mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-­orang kudus berarti persekutuan dalam pelayanan kepada orang-orang kudus (2 Kor. 8:4).

Ketiga, tanggung jawab dan ketergantungan kita satu sama lain (Gal. 2:9; 6:6;). Apa yang telah kami lihat dan yang telah kamu dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus (1 Yoh. 1:3). Jadi kita mempunyai dan menghayati persekutuan karena menerima dan memiliki Tuhan dan berkat-Nya secara bersama, karena terpanggil melakukan pelayanan secara bersama, dan karena kita secara bersama saling membutuhkan, saling isi mengisi dalam hidup kita bersama.

Dalam Efesus 2:19 ada dua ungkapan untuk menyebut persekutuan orang percaya, yaitu: kawan sewarga dari orang--orang kudus dan anggota keluarga Allah.. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah. Kita bersama orang Kristen yang lain adalah sama-sama anggota tubuh yang satu itu, yaitu tubuh Kristus (1 Kor. 12:4-27; Ef. 1:23; 5:30). Kita termasuk dalam keluarga yang satu itu, yaitu keluarga Allah (Gal. 6:10; Ibr. 10:21; 1 Tim. 3:15). Kita adalah warga dari kerajaan yang satu itu, yaitu kerajaan Allah (Fil 3:20; Yoh. 3:3, 5).

Jadi sekali lagi dapat kita tegaskan,orang yang percaya kepada Kristus menjadi bagian dari tubuh Kristus, yaitu Gereja Kristus yang bersifat am atau universal, artinya mencakup segala bangsa, di semua tempat dan sepanjang zaman (1 Kor. 12:12-13). Persekutuaan ini merobohkan segala tembok pemisah buatan manusia dan mengatasi perbedaan latar belakang suku, bangsa, sistem politik.

Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman dalam Yesus Kristus Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus (Gal. 3:26-28; Kol. 3:11).

Pentingnya Persekutuan.
Persekutuan orang percaya pernah digambarkan seperti fungsi pakaian penghangat, yaitu memberi kehangatan kepada tubuh. Tanpa pakaian penghangat, tubuh terasa dingin. Demikian juga halnya dengan persekutuan, tanpa persekutuan dengan sesama saudara dalam Kristus, hidup rohani kita terasa dingin. Melalui persekutuan hidup rohani kita dapat bertumbuh dan iman kita dikobarkan. Persekutuan itu dapat juga digambarkan seperti beberapa potong kayu api yang dikumpulkan dan disusun di atas tungku, mengakibatkan apinya berkobar atau menyala dengan baik. Tetapi bilamana sepotong kayu bakar tersebut ditarik atau diasingkan dari tungku, apinya akan surut, semakin kecil dan akhirnya padam. Demikian halnya dengan anggota jemaat. Bila dia hidup menyendiri, menarik diri atau menjauh dari persekutuan, hidup rohaninya akan mundur, api imannya akan padam oleh tiupan angin dunia yang datang dari segala penjuru. Oleh sebab itu persekutuan itu penting, karena melaluinya kita dapat saling menopang satu sama lain, saling menghangatkan dan saling membangun. Dalam persekutuan kita dapat beribadah bersama, bertumbuh bersama, melayani bersama dan saling menolong satu sama lain.

Sejak awal Tuhan sudah menginginkan agar manusia itu hidup dalam persekutuan. Tuhan berkata: tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja (Kej.2:18). Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya (Pengkhotbah 4:9-10). Maka persekutuan itu penting, karena melalui persekutuan itu mereka dapat saling menolong atau saling membangun. Melalui persekutuan atau kesatuan orang percaya, dunia semakin tertarik akan Injil, mereka lebih mudah percaya kepada Allah yang mengutus Kristus: supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang mengutus Aku (Yoh.17:21b). Salah satu daya pikat jemaat mula-mula sehingga orang lain tertarik menerima Injil adalah karena mereka bertekun dalam persekutuan (Kis. 2:42). Celaka dan rugi sendiri jika tidak ada persekutuan yang harmonis dan kuat, sebaliknya alangkah baiknya dan indahnya bila orang percaya hidup dalam persekutuan yang rukun (Maz. 133:1). Jadi pentingnya persekutuan orang percaya adalah untuk menguatkan atau memajukan hidup rohani atau iman, demi kemajuan dan perluasan kerajaan Allah di dunia ini dan tujuan yang tertinggi ialah untuk kemuliaan Tuhan.

Cara untuk membangun dan memelihara persekutuan.

Dalam Perjanjian Baru terdapat beberapa nasihat untuk membangun dan memelihara persekutuan orang percaya, yaitu:

  1. Orang percaya dinasehati untuk saling menerima satu sama lain. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah (Roma 15:7).
  2. b. Supaya orang yang lebih kuat bersedia mengalah dan menerima serta menanggung kelemahan yang tidak kuat demi kebaikannya untuk membangunnya. Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. Kita yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan sendiri (Roma 14:1; 15:1). Kita dinasehati agar bersimpati atau turut merasakan bersama kesenangan maupun kesusahan sesama kita (1 Kor.12:26). “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis" (Roma 12:15).
  3. Salah satu syarat untuk memelihara persekutuan adalah berjalan dalam terang (1 Yoh. 1:7). Jikalau persekutuan dalam suatu jemaat, dalam suatu seksi atau dalam perkumpulan sosial mau kuat, syaratnya ialah agar perilaku pengurus dan urusan organisasi, administrasi dan keuangan atau harta harus dijalankan dalam terang “Jangan ada perbuatan-perbuatan kegelapan di sana, umpamanya dusta, penipuan atau kecurangan (Ef.5:11), karena terang tidak dapat bersatu dengan gelap (2 Kor.6:14). Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa (1 Yoh. 1: 7).
  4. Tidak egoistis atau hanya memperhatikan kepentingan dirinya atau kelompoknya saja. … dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga (Filipi 2:4), supaya kita sehati sepikir, satu hati, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dalam hidup kita bersama (Roma 12:16; 15:6; ; Fil.2:2; 4:2; 2 Kor.13:11).
  5. Hidup dengan rendah hati (Fil. 2:3; 5-8). Dalam rangka memelihara persekutuan kita dipanggil agar saling merendahkan diri satu sama lain. rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus (Ef. 5:2 1). Tuhan Yesus teladan bagi kita dalam hal merendahkan diri (Mat. l 1:29). Oleh sebab itu kita dinasihati agar dalam hidup bersama, kita meneladani sifat Kristus. Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama mengenakan pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Fil.2:5). Dalam ayat-ayat selanjutnya diuraikan lebih lanjut pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus yang harus menjadi model dalam hidup kita dalam rangka memelihara persekutuan, yaitu: merendahkan diri, kesediaan melayani seperti seorang hamba, kerelaan menderita atau berkorban dan taat sampai mati demi keselamatan kita.
  6. Orang percaya dipanggil memelihara persekutuan itu dengan jalan menjauhkan sikap yang dirangkaikan dengan kata-kata “saling” yang bersifat negatif sebagaimana terdapat dalam beberapa ayat Alkitab, yaitu: saling membenci (Mat.24:10), saling menantang dan saling mendengki (Gal. 5:26), saling memfitnah (Yak.4:11); saling mempersalahkan (Yak.5:9); saling menggigit, saling menelan dan saling membinasakan (Ga1.5:15). Sebaliknya kita dinasihati untuk mengamalkan delapan kata kunci yang bersifat positif yang dirangkaikan dengan kata “saling”, yaitu:
1. Saling mengasihi (Roma 12:10; 13:8; 1 Yoh.3:11).
2. Saling membantu (Gal. 6:10; Fil. 4:2; 1 Yoh. 3:1E--17).
3. Saling mendoakan (2 Kor. 1: 11; Ef. 6:18; 1 Tes. 5:11).
4. Saling membagi (1 Tim. 6:18; Ibr. 13:16).
5. Saling menasehati (Kol. 3:16; Ibr. 10:25).
6. Saling menghibur (1 Tes. 4:18).
7. Saling membangun (1 Tes. 5:11).
8: Saling mengampuni ( EL 4:32).

 

Kesimpulan dan Penutup
Simpulan yang dapat kita buat adalah Gereja adalah sebuah persekutuan yang sangat berbeda dengan perkumpulan yang ada ditengah-tengah dunia ini.Walau disadari Gereja berada didunia tetapi dia (baca:Gereja) tidak berasal dari dunia.Persekutuan itulah yang membedakannya.Gereja itu harus bersifat universal bagi manusia.Gereja itu harus menembus tembok tembok pemisah: kaya-miskin,suku,ras,etnik,latar belakang,bahkan dogma sekalipun,dan sebagainya.Gereja dimiliki dan dipimpin oleh Yesus Kristus,Juruslamat manusia,bukan orang per orang bahkan bukan sebuah Sinode.

Dalam rangka memelihara persekutuan yang indah dan harmonis, kepada semua anggota jemaat diharapkan, paling tidak lima hal untuk kita hayati bersama, yaitu: kesetiaan, kejujuran, tanggung jawab masing-masing sebagai anggota, kerjasama antara sesama anggota dan dengan pengurus jemaat, dan yang terakhir adalah kesabaran dan kesediaan untuk saling memaafkan. Dalam hidup ini, baik dalam jemaat maupun dalam hidup sehari-hari, kita harus hidup bagi orang lain atau menjadi berkat bagi orang lain, sekaligus membutuhkan orang lain.Tuhan Yesus memberkati sidang pembaca.

 

 "SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 51 guests online