Gereja yang hidup dalam kemajemukan

Artikel

GEREJA YANG HIDUP DALAM KEMAJEMUKAN
oleh: Jobta Tarigan
(Pertua di GBKP Rg.Pontianak-Kalimantan Barat)

Dalam tahun-tahun terakhir ini terasa adanya kekurangmampuan bangsa kita melihat perbedaan-perbedaan, termasuk perbedaan agama dan bagaimana menghayati agama-agama kita di dalam masyarakat. Ada kecenderungan untuk memahami perbedaan, bukan sebagai kekayaan, tetapi sebagai ancaman. Alhasil, semua perbedaan harus dihilangkan. Kalau kecenderungan ini diteruskan, maka akan berbahaya bagi eksistensi kita. Kita membunuh diri kita sendiri. Perbedaan-perbedaan adalah sesuatu yang “given”. Bahkan sepasang manusia kembar sekalipun,pasti ada perbedaan diantara mereka.Bahkan hal tersebut menjadi sebuah kekhawtiran sangat bagi seluruh anak bangsa,coba saja kita simak hasil survey yang dilakukan Harian Kompas 16 Agustus 1999 sebagai berikut:

“ Dari berbagai permasalahan bangsa,persoalan bangsa,persoalan apakah yang paling Anda khawatirkan terjadi sebagai penyebab perpecahan bangsa?

40,1% pertikaian antar agama
27%    pertikaian antar suku bangsa
8,8%   pertikaian antar pendukung partai
7,7%   pertikaian antar golongan kaya-miskin
5,9%   pertikaian antar daerah
3,0%   tidak ada yang perlu dikhawatirkan
6,9%   tidak tahu atau tidak menjawab

Diatas adalah hasil survey yang dilakukan pada 1.540 pemilik telepon di Jakarta,Yogyakarta,Surabaya,Denpasar,Medan,Banda Aceh,Pontianak,Ujung Pandang dan Manado (Harian Umum Kompas pada tanggal 16 agustus 1999).

Hasil survey diatas menurut kami adalah hal yang wajar disebabkan beberapa hal pertama,potensi keanekaan,kepelbagian,kemajemukan,atau apapun istilahnya adalah nyata ditengah kehidupan bermasyarakat kita.Kedua, Perkembangan ideology-teologi agama dan bentuk spritualitas baru muncul bak jamur di musim hujan ditengah himpitan ekonomi yang mempercepat proses penetrasinya ke masyarakat, yang setiap saat dapat muncul sebagai pemicu pertentangan,ketiga,masih kuatnya klaim dogma teologis satu-satunya kebenaran (claim of the only truth) dan label tidak benar-suci terhadap agama lain atau aliran agama lain ( contoh kasus:ahmadiyah,saksi jahova,dll),serta ungkapan tidak ada keselamatan,selain di agamaku,mazhabku,sekteku,dll yang masih kuat ditengah-tengah masyarakat kita.Bagi kita umat Kristen pada umumnya dan GBKP pada khususnya mungkin semboyan:Extra Ecclesiam Nulla Salus” masih sangat nyaring ditelinga kita.

Bahwa Indonesia sangat pluralistis telah disadari dari semula, ketika negara dan bangsa ini sedang berada dalam proses pembentukan. Sekian banyak suku-suku,agama-agama dan keyakinan  yang mendiami Nusantara ini, itulah yang membentuk bangsa. Maka sedari mula telah disadari pula adanya potensi-potensi kerawanan, apabila satu kelompok memutlakkan diri dan mengecilkan kelompok lainnya. Kalau kecenderungan itu terus terjadi maka pembentukan Negara Republik Indonesia tidak akan pernah menjadi kenyataan. Apa yang disebut bangsa Indonesia tidak akan pernah tampil di atas panggung sejarah. Itulah sebabnya Bung Karno tampil sebagai “Penemu” (Ia sendiri menyatakan diri: “Penggali”) Pancasila. Sesungguhnya inti Pancasila adalah Kebangsaan, yaitu pengakuan terhadap keberbagaian, namun menyatakan diri sebagai satu bangsa karena kesamaan nasib dan cita-cita. Itulah modus vivendi yang memungkinkan tegaknya negara dan terwujudnya bangsa ini: Indonesia !!!. Sebagai demikian, kesadaran akan pluralitas bangsa tidak bisa dilepaskan dari pemupukan terhadap rasa kebangsaan. Atau bisa juga dibalik, kesadaran sebagai satu bangsa menyadarkan kita bahwa kita juga pluralistis. Maka kenyataan pluralitas harus diterima, dan faham tentang pluralisme tidak mungkin dianggap sebagai “dosa”.

Sebelum kita berjalan lebih jauh, ada baiknya kita membedakan dua pengertian, “pluralitas” dan “pluralisme”, kendati keduanya mempunyai kaitan erat. Pluralitas, yang dalam bahasa Indonesia biasa disebut kemajemukan mengacu kepada kenyataan adanya keberbagaian di dalam masyarakat. Karena itu pluralitas sebuah masyarakat biasanya diacu sebagai sesuatu yang “given”. Istilah “pluralisme” yang berasal dari bahasa Latin: plus, pluris, secara harfiah berarti, lebih dari satu. Ini adalah sebuah faham. Secara filosofis, pluralisme adalah ajaran tentang kenyataan yang lebih dari satu (individu). Maka pemutlakan, baik dalam pemikiran maupun dalam sikap, adalah pereduksian (boleh dibaca: pemiskinan) terhadap kenyataan yang mahakaya ini. Secara sosiologis, pluralisme mengakui adanya kemajemukan di dalam masyarakat, yang memang mempunyai pandangan (hidup) yang beraneka-ragam pula, sebagaimana dikonkretkan (ditubuhkan) dalam berbagai lembaga-lembaga sosial. Yang dimaksud dengan lembaga-lembaga sosial bisa bermacam-macam: suku, etnis, ras, agama, bahkan kepentingan. Makin banyak lembaga sosial, makin marak pula pluralitas di dalam masyarakat, yang sudah tentu diarahkan oleh pandangan hidup tertentu.

Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang sistemik dan holistic secara terus menerus untuk membangun sebuah pemahaman dalam berperikehidupan melihat perbedaan keyakinan sebagai sebuah keniscayaan.Walau dalam kenyataannya masih terhalang oleh kendala-kendala teologis,psikologis,cultural, dan politik,sehingga wacana pluralisme agama masih seolah-olah mengawang-ngawang (Lihat:Muhamad Ali: Membumikan Pluralisme Agama dalam Teologia Pluralisme-Multikultural,Penerbit Buku Kompas,2003,hal 28-29).

Tetapi tidaklah harus menyurut kita semua untuk membangun sebuah relasi dan dialog antar pemeluk agama itu sendiri dalam memaknai hakikat dan peran nilai-nilai agama-agama yang berorientasi keluar, kepada sesama manusia,yang sesungguhnya merupakan eksistensi agama itu sendiri.Sehingga dibutuhkan dasar relasi dari agama itu sendiri dan dialog ke dalam dan keluar agama itu pula.

Dalam iman percaya  Kristiani,upaya untuk membangun perjumpaan (relasi) dengan umat beriman lain didasarkan pada kesadaran bahwa Allah dan manusia senantiasa terlibat dalam sebuah “relasi”,yaitu Allah yang mau menyapa dan manusia yang mau menanggapi sapaan itu.Bagi umat kristiani,landasan spiritualnya bersifat Trinitarian,yaitu:

  • Allah Bapa yang kasih-Nya tidak mengenal batas ruang dan waktu (bnd Mat 5:45).
  • Yesus Kristus yang sabda-Nya dan Karya-Nya ditujukkan demi kepentingan orang banyak dari aneka latar belakang (bnd Mrk 7:24-30; Luk 10:25-37; Yoh 10:16).
  • Roh Kudus yang karya-Nya menjangkau aneka ragam bidang kehidupan manusia (bnd Yoh 3:8).

    Dalam melakukan relasi sangat bergantung kepada perkembangan dan tahapan iman seseorang.Dimana dalam buku Stages of Faith:The Psychology of Human Development and the Quest for Meaning (1981) oleh James Fowler di utarakan bahwa iman manusia mengalami perkembangan,dari tahap intuitif-proyektif,mitis-literal,sintesis-konvensional,individual-reflektif,konjuktif,ke tahap universal.

    Dimana pada tahap tertentu,iman tidak lagi dihayati hanya untuk kepentingan kelompok sendiri tetapi telah bertranformasi dan teraktualisasi dalam semangat yang berlandaskan pada inklusivitas,multikulturalisme dan universalitas yang menembus batas tembok-tembok ekslusivitas.

    Salah satu bentuk relasi tersebut adalah dialog.Membangun dialog dalam kemajemukan terutama dalam kemajemukan keyakinan adalah sebuah keharusan.Dalam dokumen Dialogue and Mission (1984) disebutkan bahwa ada empat bentuk bangunan sebuah dialog yaitu dialog kehidupan,dialog karya,dialog teologis dan dialog pengalaman rohani.

    Pada dialog kehidupan terjadi sebuah relasi dalam kehidupan sehari-hari dalam semangat saling berbagi,sekaligus berbagi kesaksiaan iman di kehidupan sehari hari pula,baik dalam social budaya,ekonomi,pendidikan dan sebagainya.Dalam dialog kehidupan ini terjadi relasi saling berbela rasa,saling berbagi tanpa merasakan sekat-sekat perbedaan iman yang berbeda.

    Dalam dialog karya terjadinya sebuah relasi dalam membangun dan mengatasi masalah-masalah bersama di lingkungan kemasyrakatan,kemanusiaan dan meningkatkan harkat dan martabat manusia.Relasi ini terbangun atas pemahaman bahwa adanya sesuatu keadaan yang harus dikerjakan bersama sama untuk dapat mengatasinya.Relasi ini mewujudnyata dalam upaya menciptakan perdamaian,pelayanan terhadap korban perang atau bencana-bencana lainya (bencana alam atau bencana perang).

    Dialog teologis agaknya paling sering dilakukan oleh para kaum rohaniawan/alim ulama dan cerdik pandai dalam bidang agama.Dialog ini dibangun bukan untuk saling menyerang atau memberikan pembelaan (apologetic) atas iman yang di imani,melainkan memberikan pemahaman dan penghargaan yang makin mendalam terhadap warisan imannya sendiri dan iman umat lainnya dan membangun kesadaran demi terciptanya pembaruan secara terus menerus.

    Dialog pengalaman rohani terbangun dalam berbagi pengalaman rohani,ibadah,doa,meditasi,kontemplasi dan sebagainya.Dimana dialog pengalaman rohani ini bertujuan untuk saling memperkaya dan memajukkan penghayatan nilai-nilai spiritual sesuai keyakinan iman masing-masing.Perbedaan-perbedaan yang dijumpai selama dialog tersebut dipandang sebagai karya misteri ALLAH yang melampaui segala pemahaman dan pengertian manusia itu sendiri.

    Jelas, agama-agama memang berbeda.Dalam melakukan dialog tersebut pun kita harus mengetahui bahwa ada perbedaan dasar diantara kita. Mungkin saja ada agama-agama yang memang berasal dari akar yang sama. Yahudi, Kristen, Islam misalnya biasanya dilihat sebagai berasal dari akar abrahamik. Artinya Abraham dianggap sebagai “nenek moyang” agama-agama itu yang sama-sama mengakui Allah Yang Esa. Ini tentu baik, dan bagus juga untuk memperkembangkan pemahaman seperti itu. Juga menarik bagi para ahli ilmu pengetahuan agama. Namun bagi para penganut agama (biasa), agama-agama selalu berbeda. Karena itu tidak boleh dicampur aduk. Kalau dicampur aduk, terjadilah pencampuradukan (sinkretisme) agama-agama yang tentu saja mengkhianati agama-agama itu. Tidak ada satupun agama yang dibantu dengan pencampuradukan itu. Namun demikian, dalam setiap agama yang berbeda itu terkandung nilai-nilai yang bermanfaat bagi kebersamaan untuk hidup dalam masyarakat. Nilai keadilan misalnya, pasti terdapat dalam setiap agama. Nilai kejujuran, pasti dijunjung tinggi dalam setiap agama. Dan seterusnya. Nilai-nilai itu dapat diangkat sebagai nilai bersama. Ini bukan sinkretisme.
    Bahwa setiap penganut agama menganggap agamanya paling benar, itulah wajar-wajar belaka. Tetapi bahwa klaim agama saya yang paling benar itu dipaksakan juga kepada penganut agama lain, tentu tidak wajar lagi. Ini akan menimbulkan ketegangan. Bagaimana menghormati perbedaan-perbedaan, dibutuhkan kedewasaan dan kematangan di dalam beragama dan bermasyarakat. Kematangan ini adalah ekspresi dari kebebasan kita sebagai manusia untuk juga dengan sukarela mendengarkan bagaimana para penganut agama lain menghayati dan mengungkapkan imannya.Itulah dialog.Disanalah kita (gereja) telah berdialog.

    Sebagai tambahan wacana kami meminjam pemikiran seorang filosof dan teolog Srilanka yang pernah mengatakan bahwa agama memang bersifat ambivalen. Agama bisa membebaskan dan memperbudak sekaligus. Kalau segi memperbudak agama ditonjolkan, maka kita akan ketemu dengan fanatisme sempit yang tidak memberi toleransi kepada pihak lain. Kebenaran diklaim sebagai kebenaran sendiri, seakan-akan Allah hanya boleh diinterpretasi oleh satu pihak saja sedangkan yang lain tidak berhak.Untuk itu pula dengan baik Kimball (2003) dalam bukunya “When Religion Becomes” menyatakan ketika agama terwujud menjadi tradisi dan institusi manusia-dapat mengalami kerusakan dan pada gilirannya menjadi “jahat”. Kalau segi membebaskan dari agama yang memperoleh penekanan, maka yang terjadi adalah transformasi di dalam masyarakat manusia, termasuk juga tranformasi di dalam relasi-relasi antar manusia. Relasi antar manusia tidak lagi dikuasai oleh kecurigaan-kecurigaan, tetapi oleh saling percaya dan menghargai. Maka ajaran agama-agama memang harus membumi, artinya harus sungguh-sungguh secara jelas mengadres persoalan-persoalan manusia (masyarakat) di dalam kehidupan sehari-harinya.

    Bahwa sebagai gereja kita harus memperkuat komitmen terhadap pluralisme, yang terungkap dalam kenyataan pluralitas dan kebangsaan adalah sumbangan besar bagi kelanjutan dan kelestarian bangsa ini. Kelanjutan dan kelestarian hanya bisa dicapai apabila terdapat kedamaian di antara anak-anak bangsa, bukan dipaksakan oleh kekuatan-kekuatan represif, tetapi sungguh-sungguh bersumber dari dalam hati nurani dan kehendak yang dibimbing oleh iman Kristen. Itulah sebabnya kita menegaskan, bahwa penguatan komitmen terhadap pluralisme dan kebangsaan mestinya bermuara kepada kesejahteraan masyarakat. Apabila kelompok-kelompok yang berbeda-beda itu saling konflik dan gesek-menggesek satu sama lain, hal itu tidak kondusif bagi perwujudan kesejahteraan bersama. Sebaliknya, perpecahan-perpecahanlah yang terjadi, yang makin menjauhkan kita dari tujuan bernegara dan berbangsa. Bangsa kita akan makin terperosok ke dalam kemelaratan dan kemiskinan.

    Maka peluang-peluang untuk melakukan kerjasama oleh keprihatinan yang sama terhadap pluralisme dan pluralitas terbuka seluas-luasnya. Khususnya di dalam menghadapi kemelaratan dan kemiskinan yang makin mengerikan, dan sekaligus untuk memupuk kehidupan yang pluralistis, ada baiknya gereja-gereja memelopori berbagai kegiatan yang bersifat lintas-agama. Untuk menanggulangi kemelaratan dan kemiskinan, berbagai program-program konkret lintas-agama dapat dilakukan. Hal ini juga mencegah kecurigaan yang berlebih-lebihan yang selama ini secara tidak proporsional ditujukan kepada gereja-gereja serta meningkatkan saling pengertian  antar umat beragama pula.

    Pada akhir tulisan ini,baik pula kita melihat pandangan ketua umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt.A.A.Yewangoe  yang disampaikan pada Munas Alim Ulama dan Halaqah Kebangsaan Seabad Kebangkitan Nasional,berkenaan dengan nilai-nilai agama yang dapat bersinergi dalam membangun dan mengatasi persoalan bangsa sebagai berikut:” Persoalan-persoalan bangsa kita yang tidak habis-habisnya, seperti kemiskinan, pelecehan hak-hak asasi manusia, ketidakadilan, korupsi, kolusi dan nepostisme, dan seterusnya makin meyakinkan kita bahwa substansi agama yang menekankan ketaatan kepada Allah dan kasih kepada sesama dapat diwjudnyatakan secara bersama-sama. Kalau kita tetap cenderung beragama hanya berorientasi ke dalam, kita tidak akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan bersama. Maka kemampuan untuk menggali berbagai nilai-nilai agama-agama yang berorientasi keluar, kepada sesama manusia merupakan panggilan mendesak umat beragama di Indonesia dewasa ini khususnya umat Kristiani”. (Pdt.A.A.Yewangoe,Ketua umum PGI,Makalah yang Disampaikan Dalam Munas Alim Ulama dan Halaqah Kebangsaan Seabad Kebangkitan Nasional, DPP-PKB di Jakarta, 19 Mei 2008.)

    Simpulan yang dapat kita ungkap adalah bahwasanya perbedaan itu adalah keniscayaan,bahwasanya perbedaan adalah sebuah keniscayaan tidak berarti kita tidak dapat melakukan sinergi untuk bangsa dan negeri,bahwasanya dibutuhkan dialog  dengan kematangan iman percaya tanpa pula meninggalkan dan menisbikan kebenaran iman percaya kita dan masing-masing umat beragama lainnya pula (baca:menolak sinkritisme dan relativisme).Penggalian nilai-nilai agama yang berorientasi keluar untuk sesama manusia dalam menghadapi dan menjawab persoalan-persoalan kebangsaan (kemiskinan,keadilan,KKN) dan lain sebagainya seharusnya menjadi panggilan bersama semua agama khususnya umat Kristiani  (GBKP) untuk menjadi garam dan terang di tengah dunia khususnya Indonesia tanpa dihalangi oleh kepelbagaian itu sendiri.

    BP-KLASIS-XXX

    "SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

    Renungan

    • 1
    • 2
    • 3
    • 4
    • 5
    • 6
    • 7
    • 8
    • 9
    • 10
    • 11
    • 12
    • 13
    • 14
    • 15

    Pengunjung Online

    We have 85 guests online

    Login Form