KHOTBAH MINGGU, 13 PEBRUARI 2011

Renungan

Introitus:
Tinggikanlah Tuhan, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunungNya yang kudus! Sebab kuduslah Tuhan, Allah kita! Maz 99 : 9.

Bacaan:  Mazmur 99 : 1 - 9; Khotbah:  Markus 1 : 9 - 15

Thema:
Allah menolong kita (Manusia) ketika menghadapi kuasa iblis
(Dibata nampati manusia ibas ngalaken kuasa iblis)

Pendahuluan

Ada dua pilihan dalam kehidupan manusia bila dikaitkan dengan imannya yaitu mengikut Tuhan atau mengikut iblis (setan). Kedua hal ini tentu punya konsekwensi yang harus dilakukan oleh manusia yang pada intinya adalah kepatuhan. Ketika manusia memilih Tuhan atau iblis maka ia seharusnya patuh pada keinginan yang dipilihnya. Nah, repotnya adalah ketika manusia memilih keduanya untuk menjadi yang akan diikutinya. Sudah pastilah masing-masing pihak yang akan dipilih oleh manusia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan hati si pemilihnya dengan cara-cara yang mereka (Tuhan dan setan) miliki.

Dan seperti biasanya, bila kita (baca : Manusia) memilih Tuhan maka yang ada adalah kata “larangan” dan “percayalah”, sebaliknya bila kita memilih setan maka yang ada adalah “kebebasan” dan juga “percayalah”. Dari dua hal yang berbeda dan sama ini apa yang seharusnya kita lakukan? Disinilah kita dituntut untuk melihat “akhir” dari semuanya itu; “apakan larangan dan percaya” atau “kebebasan dan percaya juga” akan berujung pada “pembebasan sejati” atau “kebinasaan sejati”. Rasanya inilah yang akan kita lihat berikut ini.

Pendalaman Nats

Mazmur 99 : 1 – 9, yang tertulis didalamnya dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk pembelaan habis-habisan yang dilakukan oleh pemazmur terhadap keberadaan Tuhan. Tanpa ada keraguan digambarkannya bagaimana keberadaan Tuhan dengan kuasanya terhadap apa saja yang ada di muka bumi; bukan hanya atas apa yang menurutnya diyakininya terjadi di dalam dirinya tapi juga di luar dirinya. Bukan hanya terhadap “masa kini” nya tapi juga terhadap “masa lalu” dan “ masa depan”.

Penggambaran pemazmur akan Tuhan dengan tuturannya tersebut sudah selayaknya bagi dirinya menjadi sebuah “tameng” yang luar biasa terhadap “gangguan-gangguan” yang akan menyerang dirinya. Menjadi baju pelindung yang melindungi kehidupannya dari “kuasa” yang lebih besar dari dirinya namun “jauh lebih kecil” dari kuasa Tuhan. Namun juga dengan mengikuti “kepercayaan” seperti yang dipercayainya, membuka peluang bagi para penentang kuasa Tuhan untuk tunduk, mengakui dan akhirnya mendapat pengampunan dari Tuhannya pemazmur (yang tentunya juga Tuhan kita orang yang percaya kan). Ini mengatakan bahwa Tuhan yang disembah dan dipercaya oleh pemazmur bukanlah Tuhan yang diam dan tidak punya kuasa, melainkan Tuhan yang senantiasa berperan aktif dan sangat berkuasa.

Selanjutnya, kita juga akan mencoba mendalami bahan khotbah yang diinspirasikan dari Markus 1 : 9 – 15. Ada 2 tokoh yang sangat menarik yang tertulis pada bagian ini yakni Yesus dan Yohanes. Yang mana pada masing-masing personal mempunyai keistimewaan tersendiri.

Yang pertama, Yesus, sosok yang digambarkan sebagai “manusia biasa” yang setelah “dibabtis” berubah menjadi sosok “manusia yang sangat luar biasa”. Dikatakan seperti ini bukan hendak menunjukkan bahwa Yesus tidak mengenal siapa diriNya; justru Ia sangat mengenal siapa diriNya. Namun melalui peristiwa itu ada makna lain yang hendak ditunjukkanNya yaitu biarlah siapapun yang ada di tempat itu dan juga “dunia di sekitar sungai Yordan” menjadi “saksi awal” yang melihat dan akhirnya mengeluarkan “pengakuan” akan situasi yang sangat luar biasa yang terjadi padsa saat itu. Ini juga merupakan pernyataan “yang bukan dipaksakan” oleh Allah kepada manusia, namun ketika manusia melihat maka manusia itulah yang percaya dan mengakuinya. Apa yang harus diakui dan dipercayai oleh manusia dan alam semesta? Jawabnya adalah Pernyataan Allah tentang siapa Yesus dan apa yang dikuasakan kepadaNya. (ay. 11). Dan ini yang menjadi titik tolak keberadaan Yesus yang kuasanya harus diakui dan dipercaya.

Tapi apakah hanya manusia dan alam saja yang percaya dan mengakui “keluarbiasaan” Yesus. Ternyata tidak!!!! Ada sosok lain yang juga pada akhirnya harus mengakui dan tunduk pada Yesus yaitu iblis atau setan.(ay. 13). Memang pada bagian ini tidak dituliskan peristiwa apa yang terjadi ketika Yesus berhadapan dengan iblis (setan); tapi pada bagian Injil lain kita bisa menjumpainya. (Mat. 4 : 1 -; Luk. 4 : 1-). Diperlihatkan bagaimana Yesus yang telah mendapatkan “kuasa” dari Allah mampu mengalahkan “kuasa iblis” yang mencoba menawarkan “kedagingan” dan mengalahkan “kuasa Allah” yang ada pada Yesus. Dan nyata bahwa kuasa iblis itu tidak mampu melawan Yesus.

Sosok lain adalah Yohanes yang di bagian ini hanya ada pernyataan bahwa Yesus dibabtis oleh Yohanes. (ay. 9). Namun bila kita cari pada Injil-Injil yang lain maka kita akan temukan bahwaq sosok ini sepertinya sama dengan sosok pemazmur yang demikian yakinnya akan kuasa “yang akan datang sesudah dia”. Kalau orang sekarang bilang : “ aku ini apalah kalau dibandingkan dengan Dia itu nantinya”. Pernyataan dari Yohanes yang sangat populer dalam kehidupan kita adalah “ Bertobatlah sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat. 3:2, Luk. 3 :3)

Pointer Aplikasi

Lalu, dari uraian di atas, bila kita hubungkan dengan Thema kita yang intinya menyatakan Allah menolong kita untuk menghadapi kuasa iblis (setan), apa yang bisa kita dapatkan? Pada bagian awal sudah disebutkan bahwa kita senantiasa diperhadapkan dengan pilihan. Pilihan kita adalah Tuhan. Ini wajib bagi orang percaya, dan tidak dapat ditawar lagi. Nah, pasti dapat tantangan. Tantangannya datang dari iblis (setan). Rupa atau wujud tantangan itu bisa bermacam-macam; bisa dalam bentuk kesusahan, penderitaan, penyakit (ingat Ayub kan), atau juga dalam bentuk tawaran “kesenangan” atau “kebebasan” bahkan “kekuasaan” (ingat juga dong ketika Yesus dicobai). Ngga usah ragu, ngga usah susah-susah membuat pertimbangan ini atau itu, lakukanlah :

  1. Mengakui kebesaran Tuhan sama seperti pemazmur dan juga Yohanes.

  2. Mengandalkan kekuatan diri sendiri pasti kita tidak mampu, karena 1000 cara kita punya, tapi 1001 iblis juga miliki. Artinya, kita pasti tetap kalah. Tapi ada yang mampu kalahkan iblis, yaitu Yesus. Ya udah, jadikanlah Tuhan (Dia kan udah dapat mandat dan kuasa dari Allah) sebagai sekutu kita. Niscaya, iblis (setan) pasti jerih bila melihat kita berdiri dan berlindung di bawah kuasa Yesus.

  3. Hidup bersama Yesus bukanlah suatu pilihan temporer, kita memilih Dia bila kita perlu saja. Tapi pilihan terhadap Yesus adalah pilihan seumur hidup dengan konsekwensi juga yaitu kepatuhan seumur hidup kepadaNya. Ingat kepatuhan kepada kuasa iblis (setan) berbuahkan “kematian”, namun kepatuhan kepada Yesus berbuahkan “kehidupan yang kekal”.

  4. Karena kita adalah Laskar Kristus maka : Maju dan Berjuanglah, Berperanglah, Lawanlah iblis, Pasti Kita Menang!!!!!

Pdt. Benhard Roy Calvyn Munthe, STh

081361131151

Catatan Sermon

  1.  Hati-hati dan ingatlah selalu akan hal ini, walaupun iblis telah dikalahkan tetapi masih berbahaya. Dalam Lukas 14:13 disebutkan ia menunggu waktu yang baik. Oleh karena itu benar nanehat Petrus kepada orang percaya dalam 1 Petrus 5:8, agar kita sadar dan berjaga-jaga. Salah satu strategi iblis menjatuhkan orang percaya yang harus diwaspadai seperti ilustrasi ini[1].  

  2.  Kunci kemenangan Yesus eme penemani Kesah Sibadia.

  3.  Payo lit denga nge Iblis bentuk setan/kegelapan, menakutkan, tapi siperlu iwaspadai eme iblis dalam bentuk kuasa menyenangken.

  4.  Kai tanda-tanda kita ibas keadaan igoda iblis. Ujilah setiap roh, roh iblis, rohana ntah Kesah Sibadia (Bd.1 Yohanes 4:1)

  5.  Adi lit kalak usur mengkritik bagepe usur nguji-nguji, kai-kai kata Dibata belas-belaskenna tapi praktek kegeluhenna labo sue ras kata Dibata, hati-hati banci nge e manifestasi iblis.


[1] TIPUAN IBLIS

Pada suatu hari Setan mengumpulkan semua anak buahnya untuk merundingkan cara apakah yang paling efektif untuk menghancurkan jiwa manusia. Salah satu roh jahat mengajukan usul: "Saya akan keluar dan membisikkan pada telinga manusia bahwa surga itu hanyalah isapan jempol belaka." Setan berkata: "Mereka tidak akan mempercayai bisikanmu itu, sebab pada hakekatnya di dalam hati manusia ada pengertian mengenai yang baik dan yang jahat. Dan umumnya manusia mengerti pula bahwa mereka yang baik akan menerima pahala di surga. Jadi, usulmu itu tidak dapat diterima."

Kemudian tampillah roh jahat yang lain mengajukan usulnya: "Aku akan membisikkan bahwa tidak ada neraka. Akan kubujuk manusia untuk berbuat dosa sesuka hatinya, tanpa rasa takut akan hukuman api yang kekal itu." Setan menjawab: "Ah ..... usulmu itu kelihatannya lebih baik dari yang pertama, tetapi aku tetap belum dapat menerimanya, sebab dalam hati manusia ada apa yang disebut hati nurani yang memberikan nilai tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Dan kalau yang baik nanti akan mendapat pahala, maka ada keyakinan dalam hati manusia bahwa yang jahat kelak akan menerima hukuman."

Akhirnya, tampillah roh jahat yang ketiga dengan suatu usul yang amat cerdik: "Aku akan membisikkan beberapanpatah kata yang sangat ampuh ke telinga manusia, yaitu — Jangan sekarang ..... nanti saja ..... lain kali saja ..... tidak usah tergesa-gesa ..... bukankah masih banyak waktu?" Setan tersenyum dan berkata: "Ah ..... ini adalah usul yang paling tepat! Pergilah kamu semua ke seluruh dunia dan bisikkanlah kata-kata seperti itu pada telinga semua manusia!"

Strategi iblis ini sangat berbahaya, sebab manusia cenderung untuk menunda-nunda keputusannya. Menunda untuk menerima Kristus sebagai Juruselamat dengan pikiran masih ada waktu lain .... nanti kalau sudah tua dan lain sebagainya. Masalahnya, siapakah dapat menjamin bahwa pada masa tua nanti kita bertobat, terlebih siapakah yang tahu kapan ia mati? Oleh karena itu benar Firman Tuhan dalam Ibrani 4:7c “"Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!”.

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 109 guests online

Login Form