image image image image
Grand Opening GBKP Runggun Cikarang GBKP Cikarang yang telah disyahkan menjadi Jemaat/Runggun pada sidang GBKP klasis Jakarta-Bandung tanggal 10-12 Oktober 2014 di Hotel Rudian-Puncak,
PEMBINAAN BP RUNGGUN – RAMAH TAMAH TAHUN BARU – PENCANANGAN TAHUN PENINGKATAN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA JEMAAT Pada tanggal 10 Januari 2015 di GBKP Runggun Bekasi telah di laksanakan kegiatan Pembinaan BP Runggun di Klasis Jakarta-Bandung. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 Wib diawali kebaktian pembukaan oleh Pdt. Alexander Simanungkalit,
WISATA LANSIA GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG KE BANGKOK-PATTAYA Wisata Lansia yang menjadi salah satu program Bidang Diakoni GBKP Klasis Jakarta-Bandung telah dilaksanakan tanggal 8-11 Desember 2014 ke Bangkok-Pattaya. Wisata yang diikuti 47 peserta ini di damping Kabid Diakonia, Dk. Ferdinand M. Sinuhaji dan Pdt.S.Brahmana.
PEMBUKAAN SIDANG KERJA SINODE (SKS) DAN SIDANG PROGRAM & KEUANGAN (SPK) TAHUN 2014 Pembukaan Sidang Kerja Sinode (SKS) dan Sidang Program dan Keuangan (SPK) tanggal 22-25 Oktober 2014 telah dilaksanakan pada pukul 10.00 Wib, di dahului kebaktian pembukaan yang dipimpin Pdt.Vera Ericka Br.Ginting, direktur Percetaken dan Toko Buku GBKP Abdi Karya Kabanjahe,

Khotbah Roma 8:8-25 (Antiphonal), Minggu 16 Agustus 2015

Invocatio :
Aku akan mengangkat kamu menjadi umatKu dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, Tuhan, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah Tuhan." Lalu Musa mengatakan demikian kepada orang Israel, tetapi mereka tidak mendengarkan Musa karena mereka putus asa dan karena perbudakan yang berat itu (Keluaran 6:6-8)
 
Ogen :
Keluaran 15:19-21 (tunggal)
 
Tema :
Dimerdekakan untuk memerdekakan  
  

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,,,,
 
Puji syukur kepada Tuhan atas kemerdekaan bangsa kita yang telah dijalani selama 70 tahun dan esok sebagai puncak peringatan hari kemerdekaan RI yang kita cintai.
 
 
Tema kita dimerdekakan untuk memerdekakan. Merdeka artinya (kbbi) , bebas dari perhambaan, penjajahan, berdiri sendiri, lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Dimerdekakan berarti di bebaskan dari perhambaan, penjajahan dan tuntutan agar tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Memerdekakan berarti menjadikan merdeka, membebaskan, melepaskan dari penjajahan, memberikan kebebasan.
 
 
Invocatio Keluaran 6:6-8, Tuhan menyatakan makna dan maksud hakiki dari peristiwa Keluaran dan terjadinya perjanjian di gunung Sinai. Tuhan berjanji untuk menebus Israel dari perbudakan, mengangkat mereka sebagai umatNya dan menjadi Allah mereka, dari pihak mereka, mereka berjanji untuk melaksanakan kehendak Penebus mereka. Penebusan Israel dari Mesir oleh Allah merupakan dasar utama perpindahan hak milik Israel kepada Allah sendiri. Israel adalah milik Allah melalui penciptaan dan pemilihan kini juga melalui penebusan. Allah membebaskan mereka oleh kasih karunia karena Iman.

 

Bacaan Keluaran 15:19-21, merupakan Ungkapan syukur bangsa Israel (Miryam bersama dengan perempuan yang lain) bernyanyi dan menari karena mereka merasakan pertolongan Tuhan dalam melepaskan mereka dari Mesir. Dengan nyanyian pujian mereka mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam kepada Tuhan.

 

Pada waktu bangsa Israel berada di Mesir dibawah pimpinan raja Firaun yang keras hati, kehidupan mereka sangat menderita di bawah pimpinan raja. Raja Firaun tetap mempertahankan bangsa Israel agar tetap tinggal di Mesir, walaupun sudah diancam oleh berbagai bagai tulah yang dibuat oleh Allah, supaya bangsaNya dilepaskan dari Mesir, tetapi raja Firaun tetap mempertahankan bahwa bangsa Israel tidak boleh keluar dari Mesir. Ada sepuluh tulah yang didatangkan ke Mesir supaya hati raja Firaun lembut, sehingga mengizinkan Israel keluar, tetapi sampai tulah yang ke sembilan raja tetap mengeraskan hatinya dan tidak memberikan Israel keluar dari Mesir. Tulah yang terakhir adalah kematian anak sulung bangsa Mesir, barulah raja Firaun mengizinkan Israel keluar dari Mesir. Namun, setelah mereka pergi, hati raja kembali berubah keras dan menyuruh pegawainya mengejar bangsa Israel dengan membawa 600 kereta yang terpilih lengkap dengan perwiranya. Tuhan mengeraskan hati Firaun dan bangsa Mesir, sehingga mereka mengejarnya, bangsa Israel ketakutan dan berseru seru kepada Tuhan karena mereka merasa pasti dibunuh bangsa Mesir di gurun pasir sehingga mereka memarahi Musa dengan mengatakan " mengapa kamu membawa kami keluar dari Mesir.

 

Khotbah Roma 8 : 18-25, Paulus dalam suratnya untuk jemaat di Roma mengajarkan banyak tentang cara hidup orang percaya yang semestinya. Pasal 8 menjelaskan bahwa kita dapat hidup bebas dari kuasa daging, yaitu hawa nafsu dosa atau manusia lama. Roh kudus di dalam kita menyaksikan bahwa kita bukan hanya anak anak manusia, melainkan juga adalah anak anak Allah. Kita hidup dalam Roh dengan pengharapan akan kemuliaan Allah. Di sini dinyatakan maksud keabadian Allah. Segala makhluk pun bersama kita sedang merindukan dan menanti nantikan kemerdekaan kemuliaan anak anak Allah.

 

Ayat 18-19 dalam bertekun kita harus fokus kepada kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita bukan pada penderitaan. Penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima pada saat dinyatakan kepada kita.

 

Ayat 20-23 dalam bertekun kita menyadari bahwa kita telah dimerdekakan dari roh perbudakan dan kebinasaan walaupun sebagai orang percaya kita tidak terlepas dari penderitaan. Penderitaan itu hanya sementara saja, karena pada akhirnya kita dibebaskan dari penderitaan tubuh yang fana diganti dengan tubuh yang kekal.

 

Ayat 24-25 orang percaya harus bertekun karena telah ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian kita tetap memiliki iman untuk terus bertekun dalam pengharapan yang sejati. Paulus menggambarkan orang beriman adalah orang yang mengalami penderitaan dan tetap memiliki pengharapan akan pemenuhan janji Allah. Kebangkitan Kristus menjadi dasar pengharapan orang percaya. Meskipun orang percaya akan mati karena dosa Adam tetapi akan dibangkitkan di masa yang akan datang.

 

Dalam perikop ini Paulus mengingatkan jemaat di Roma bahwa sebagai anak anak Allah mereka memiliki pengharapan yang mulia sekalipun mereka masih hidup ditengah berbagai penderitaan, keluhan dan kesakitan di dunia ini.

 

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,,,,
 
Kemerdekaan adalah anugrah Allah bagi manusia dan bangsa dalam keterikatannya, sebagai bangsa besar yang telah dimerdekakan tentu kita menghargai dan mengisi kemerdekaan dengan lebih baik lagi, minimal menjaga kebersihan gereja, lingkungan, dan rumah kita agar terhindar dari kebanjiran dan penyakit penyakit. Sebagai manusia khususnya warga GBKP yang telah dibebaskan dan diselamatkan melalui Yesus Kristus dari perbudakan dosa maka tanggung jawab kita harus tetap kita lakukan yaitu hidup sebagai orang yang telah memerdekakan orang lain. Marilah kita tetap menunjukkan kualitas iman kita guna Kemuliaan Tuhan. Tuhan memberkati, Merdekaaa..

 

Pdt Nur Elly Tarigan-Cl Rg GBKP Karawang

Lebih lanjut...

   

Khotbah II Samuel 12:1-12 (Tunggal), Minggu 9 Agustus 2015

Invocatio :

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan,
kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3:12)
 
Ogen :
II Samuel 12:1-12 (Tunggal)
 
Thema :
Manusia Yang Baru
 

 

Saudara/I yang dikasihi Tuhan Yesus,
Pada bagian nas kita yang tentunya tidak dapat terlepas dari ayat sebelumnya Paulus secara tegas mau
mengingatkan setiap orang percaya dalam hal ini jemaat Kolose bahwa indikator orang yang telah dibangkitkan[1] bersama Kristus akan mencari dan memikirkan perkara yang di atas, dimana Kristus
ada, duduk di sebelah kana Allah (ayat 1, 2). “Mencari perkara yang di atas” sehubungan dengan ayat ini
adalah perkara yang ada di surga. Perkara yang di surga berarti perkara sehubungan dengan hal-hal sorgawi yaitu kebenaran dan kekudusan. Disebutkan juga agar dicari dan dipikirkan. Dicari berarti mencari dengan terus-menerus (bd.Yesaya 55:6) karena ada kesadaran bahwa yang dicari itu sangat penting dan menentukan kemana akhirnya setelah kehidupan ini. Kemudian kata “pikirkan”. Ada ungkapan mengatakan “apa yang engkau pikirkan itulah yang engkau akan dikerjakan” atau dengan kata
lain semua tindakan yang kita lakukan adalah akibat langsung dari apa yang kita pikirkan. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan jemaat agar memfokuskan pikiran-pikirannya kepada perkara yang di surga bukan perkara-perkara di duniawi. Sebagaimana disebutkan dalam ayat 5 perkara-perkara duniawi
adalah percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala dan semuanya itu mendatangkan murka Allah, juga dalam ayat 8 seperti marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu, termasuk juga saling mendustai
(ayat 9a).
 
 
Dalam ayat 11 Paulus juga menyinggung masalah status seseorang dalam persfektif kekristenan adalah lama sebab Kristus adalah segala-galanya dan Ia bersatu dengan mereka semuanaya. Oleh karena itu
indikator bahwa seseorang sudah mengenakan manusia baru berarti juga tidak lagi membeda-bedakan
seseorang berdasarkan suku bangsa, status sosial sebab semua sama yakni sama-sama orang yang
telah mati dan dibangkitkan bersama Kristus menjadi manusia baru.
 
 
Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita sudah mengenakan manusia baru? Apakah cerita ini sudah
dapat dikatakan bapak ini manusia yang baru? Ada seorang bapak yang bernama Ngaku Sembiring. Dia
dari kandungan sudah menjadi Kristen dan sekarang usiaanya 59 tahun, dalam suatu PJJ (Perpulungen
Jabu-Jabu/Kebaktian keluarga) Bpk. Ngaku Sembiring bersaksi “aku setahun terakhir ini sudah berbeda
dari sebelumnya, kalau sebelumnya aku mudah kali teringgung dan marah sekarang tidak lagi. Aku sudah dapat menerima orang apa adanya”. Kebetulan disampingnya ada seorang bapak bernama labobage Tarigan mendengar kesaksian Bpk. Ngaku Sembiring langsung menyeletuk “baguslah kalau begitu, tapi masalahnya akhir-akhir ini kam yang sering membuat aku tersinggung”.
 
Benar, untuk tetap menjadi manusia baru bukanlah suatu yang mudah dan gampang. Mengandalkan kekuatan kita itu mustahil. Daud dalam pembacaan kita ternyata jatuh juga ke dalam dosa. Dalam ayat
9 disebutkan dosa Daud, namun jika kita baca keseluruhan 2 samuel 12 Allah mengampuni dosa Daud
setelah ia mengaku dosa. Jadi yang dapat kita lakukan adalah mengaku dosa, mengaku kelemahan/keterbatasan dan memeberikan diri dipimpin oleh Roh Kudus Tuhan. Perhatikanlah ayat 10
“dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan
yang benar menurut gambar Khaliknya”. Dalam ayat ini ada kata “yang terus-menerus diperbaharui”, jelas bukan oleh kita tetapi oleh Allah di dalam Roh KudusNya dengan maksud agar kehidupan manusia
baru kita teraktualisasi dalam kehidupan kita hari lepas hari semakin menyerupai gambar KalikNya/Kristus (Adam ke dua) yang adalah pemulihan dari kegagalan Adam pertama di taman Eden[2]. Ini berarti bahwa orang-orang percaya bukan saja telah mengenakan sifat-sifat yang baru namun
sedang mengalami suatu perubahan psikologis yang pada saat parousia Kristus, yakni pada kedatangan-Nya yang kedua kali, akan kelihatan dalam kesempurnaannya[3].
 
Dalam Galatia 5:17-26 Paulus juga mengingatkan bahwa manusia dalam dirinya ada dua kekuatan yang
saling berlawanan yakni keinginan daging (manusia lama) dan keinginan Roh (manusia baru). Tentu kita
mau manusia baru kita yang menang. Bagaimana caranya? Ada satu ilustrasi judulnya anjing putih dan
anjing hitam.
 
Pada satu hari seorang pendeta yang baru ditempatkan dalam suatu jemaat mengadakan perkunjungan.
Hari itu ia mengunjungi jemaatnya yang berdomisili dipinggiran kota. Ketika pendeta ini sampai di depan
rumah dua ekor anjing keturunan herder hitam dan putih yang sangat besar dan sama besar menyambutnya dengan gonggongan yang menggetarkan. Ketika jemaat ini melihat pendetanya datang berkunjung ia menyambutnya dengan penuh sukacita karena pendetanya tidak hanya mengunjungi jemaat yang ada di tengah kota saja. Setelah beramah tamah, pendeta ini bertanya tentang anjing tersebut. Pak, pernahkah anjing tersebut berkelahi dan anjing yang mana menang? Pernah pak, kata sang jemaat, hanya saja kadang anjing yang berwarna putih yang menang kadang anjing yang berwarna hitam, tergantung mana yang lebih banyak saya beri makan.
 
Mendengar penjelasan tersebut pendeta mengangguk-angguk. Dia mengingat apa yang disampaikan rasul Palus dalam Galatia 5 tentang keinginan daging dan keinginan roh dimana dua keinginan ini berlawanan satu dengan yang lain, ibarat anjing hitam dan putih. Anjing warna hitam mewakili keinginan daging (manusia lama) dan anjing warna putih mewakili keinginan Roh (manusia baru). Kalau kita mau
manusia baru kita yang menang berilah makanan lebih banyak dengan mencari dan memikirkan perkara-
perkara rohani/sorgawi dengan aktualisasi memperbanyak kesempatan dan waktu membaca Firman Tuhan, berdoa, aktif mengikuti kegiatan-kegiatan gereja dan melakukan FirmanNya dengan hidup menegenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Invocatio)
dan sebaliknya dari hal tersebut misalnya bergaul dengan orang yang tidak takut akan Tuhan, pasti
hidup lama kita yang menang. Silahkan menentukan sikap.

 [1]Setiap orang yang telah dibaptiskan berarti telah dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Sebagaimana Kristus telah mati karena menanggung dosa manusia dan pada hari ketiga Ia telah mengalahkan kematian dan bangkit dari antara orang mati demikianlah setiap orang percaya dan dibaptiskan telah diampuni dosanya dan menjadi manusia baru.

[2]Bd. Kejadian 1:26; Roma 8:29; 1 Korintus 15:45
[3]Roma 12:2; 1 Korintus 15:53
Pdt. Sabar S. Brahmana
 

Lebih lanjut...

   

Khotbah Ezra 8: 15-20, Minggu 2 Agustus 2015

Invocatio :
Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya
 
Bacaan :
Zakharia 14: 20-21
 
Thema :
Mencintai dan Mengembangkan Rumah Ibadah (Gereja) / Engkelengi Dingen Mpekena-kena Rumah Pertoton
 
Pengantar
Paulo Coelho, seorang penulis ternama, diundang ke sebuah kuil Zen Buddha yang lokasinya di tengah hutan luas. Setibanya di sana, ia terheran-heran karena bangunan yang luar biasa indah itu berdiri persis di samping sebuah lahan kosong yang luas. Ia bertanya pada pengurus tempat itu untuk apa lahan kosong itu. Beginilah penjelasannya:
“Di sinilah kami akan membangun kuil berikutnya. Tiap dua puluh tahun sekali, kami merobohkan kuil yang anda lihat ini, lalu kami bangun kembali di lahan sebelahnya. Dengan demikian, para biksu yang telah mendapatkan pelatihan sebagai tukang kayu, tukang batu, dan arsitek, bisa tetap mempraktikkan keterampilan-keterampilan mereka dan menurunkannya kepada para murid. Selain itu, ini berguna untuk menujukkan pada mereka bahwa tidak ada yang kekal dalam kehidupan ini, bahwa kuil-kuil sekalipun perlu terus menerus diperbaiki.”
Tentu ada beberapa pesan yang bisa kita petik dalam kisah diatas, salah satunya adalah mengenai pentingnya penghargaan kita terhadap tempat ibadah. Sama seperti kuil kaum Zen Buddha tersebut, gedung gereja pun memerlukan perbaikan terus menerus.
 
Pembahasan Teks
Kitab Ezra berisikan sejarah perjuangan bangsa Israel saat kembali dari pembuangan Babel ke kota Yerusalem untuk membangunnya kembali. Kitab ini diawali dengan prakarsa Tuhan menggerakkan hati Koresh, Raja Persia sehingga Koresh mengeluarkan perintah untuk mendirikan rumah bagi Tuhan di Yerusalem. Ini berarti orang Israel diberi kesempatan emas untuk pulang ke Yerusalem. Sebagian dari mereka, yang hatinya digerakkan Tuhan, berkemas dan segera berangkat. Mereka pun mulai membangun kembali kota Yerusalem dan Bait Suci. Proses pembangunan ini berjalan lancar sampai tahun ke dua, mereka melakukan peletakan dasar Bait Suci (Ezra 3). Akan tetapi beberpa waktu setelah itu pembangunan terhambat karena adanya penduduk sekitar mereka yang melemahkan semangat dan membuat mereka takut membangun (Ezra 4: 4). Mereka bahkan mempengaruhi raja-raja di setiap zaman pemerintahan untuk mengeluarkan perintah yang melarang bangsa Israel meneruskan pembangunan. Pembangunan Bait Suci terhenti pada tahun 536-520 SM. Ketika Raja Darius memerintah, ia memberi izin untuk kembali melanjutkan pembangunan Bait Suci. Bait Suci selesai dibangun pada tahun keenam zaman pemerintahan Raja Darius. Semua orang Israel yang pulang dari pembuangan merayakan pentahbisan rumah Allah dengan sukaria (Ezra 6). Sungguh suatu perjuangan panjang untuk mendirikan kembali kota dan rumah Allah yang telah dihancurkan. Bangsa Israel tidak menyerah dalam membangun meskipun banyak rintangan. Mengapa demikian? Karena bagi mereka Yerusalem adalah kota suci. Bait Allah adalah rumah Allah, yakni tempat TUHAN Allah berdiam. Saat mereka dalam pembuangan, mereka mengalami krisis identitas. Sebagai bangsa pilihan Tuhan yang harus dibuang ke negeri asing, mendengar berita bahwa Bait Allah dihancurkan, mereka merasa semakin jauh dari Tuhan. Bagi bangsa Israel, Bait Allah adalah tanda kehadiran Allah.
Bahan Khotbah Minggu ini memperlihatkan peranan Ezra sebagai pemimpin, yang pulang ke Yerusalem bersama-sama dengan 1514 orang laki-laki yang berasal dari 15 bani/kaum (Ezra 8: 1-14). Jika kita asumsikan 1514 laki-laki adalah 1514 kepala keluarga, maka ada sekitar 5000 jiwa bahkan lebih yang pulang bersama-sama dengannya termasuk perempuan dan anak-anak. Hal yang lebih dulu diselidiki Ezra dalam perkemahan selama 3 hari adalah berapa jumlah imam-iman yang ikut dalam rombongan tersebut. Bait Allah sudah selesai dibangun, mereka pun sudah boleh pulang, tetapi yang akan bekerja di Bait Allah nantinya siapa? Ini memperlihatkan bahwa Ezra menyadari pentingnya Bait Allah dan juga para iman yang berasal dari kaum Lewi yang akan melayani disana. Sehingga ia mengutus kepala-kepala keluarga dan pengajar-pengajar untuk menemui Ido, kepala setempat di Kasyifa agar mendatangkan orang-orang yang akan menyelenggarakan kebaktian di Bait Suci. Tuhan memberikan apa yang mereka butuhkan, didatangkanlah bagi mereka imam dari keturunan Lewi yakni Serebya dan anak serta saudara-saudaranya 18 orang, Hasabya dan Yesaya dan anak serta saudaranya 20 orang, ditambah lagi 220 orang. Mereka inilah yang akan melayani di rumah Allah di Yerusalem. Ezra melihat pentingnya imam-imam dan yang membantu imam untuk penyelenggaraan kebaktian serta memelihara Bait Allah.
 
Aplikasi dalam Hidup Bergereja
Bait Allah kembali dihancurkan pada tahun 70 M, dan sejak saat itu Bangsa Israel tetap berdoa dan berharap agar mereka dapat kembali ke Yerusalem dan kembali membangun. Inilah salah satu penyebab konflik yang terjadi hingga saat ini. Terlepas dari konflik pelik yang hingga saat ini masih berlangsung antara Israel dan Palestina, kita dapat belajar dari bangsa Israel tentang kecintaan mereka terhadap Rumah Tuhan. Usaha membangun kembali Bait Suci adalah bukti cinta mereka terhadap Tuhan. Apa yang bisa kita terapkan dalam kehidupan bergereja?
  1. Ada pendapat yang menyatakan bahwa gereja fisik atau gedung bukanlah segalanya. Tetapi coba tanyakan kepada jemaat Kristen yang tidak mempunyai gedung gereja tempat beribadah, yang ibadahnya di rumah-rumah, di gedung serba guna, di ruko, atau meminjam gedung gereja lain di jam tertentu saat tidak digunakan. Ibadah tetap berjalan tetapi suasana kurang mendukung. Mengapa? Karena pembangunan rohani dan pembangunan fisik (gedung) saling berkaitan. Gereja bukanlah gedungnya dan bukan pula menaranya, Gereja adalah orangnya, demikian petikan syair lagu ‘Aku Gereja, Kaupun Gereja’ dari Kidung Ceria. Benar bahwa gereja adalah orang-orang yang ada di dalamnya. Tetapi bukan berarti gereja dalam bentuk fisik atau gedung gereja tidak penting, bukan? Marilah kita mengingat masa-masa pembangunan gedung yang kita sebut gereja saat ini. Perjuangan mencari lahan, mengumpulkan dana, membuat rancangan gedung, membangun, mengisi. Para panitia pembangunan gereja di gereja manapun tentu bekerja keras untuk pengadaan lahan, gedung, dan semua bagian-bagian yang mengisi gereja (kursi, mimbar, altar, sound system, dsb). Ketika usaha kerja dan doa berbuahkan hasil, gereja berdiri kokoh, ada rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan kita. Lalu, apa yang terjadi setelah beberapa bulan bahkan beberapa tahun? Mulai ada cat yang terkelupas, bangku yang kayunya mulai rapuh yang kadang membuat pakaian jemaat tersangkut, microphone dan speaker yang suaranya mulai pecah sehingga kurang enak didengar, buku-buku liturgi yang sampulnya lepas, dan masih banyak lagi contoh kerusakan-kerusakan kecil gedung dan inventaris gereja. Mengapa terjadi hal yang demikian? Semangat untuk mendirikan tidak sebesar semangat untuk merawat. Renungan minggu ini mengajak kita untuk menunjukkan rasa memiliki terhadap gedung gereja kita, tempat dimana kita bersekutu dengan saudara seiman, bahkan tempat kita berjumpa dengan Tuhan dalam setiap peribadatan.

Kebersihan dan kerapian gereja adalah tanggung jawab setiap anggota jemaat termasuk Pendeta dan Pertua/Diaken, bukan hanya tanggung jawab koster atau penjaga gereja. Merawat gedung gereja dan semua inventaris adalah wujud cinta kita kepada rumah Tuhan. Lakukan mulai dari yang terkecil, membuang sampah pada tempatnya, buku yang distempel sebagai inventaris jangan dibawa pulang, ajarkan pada anak untuk tidak mencoret meja dan dinding gereja, alat elektronik/sound system hanya boleh dipegang oleh yang mengerti sehingga meminimalisir kerusakan, membuat program kebersihan gereja minimal 3 bulan sekali, dan masih banyak lagi.

  1. Pengembangan SDM. Ezra melihat urgensi kebutuhan akan pelayan-pelayan Tuhan yang bekerja di Bait Allah. Dengan jumlah kepala keluarga lebih dari 1500 (8: 1-14), haruslah diimbangi dengan para imam dari kaum Lewi untuk melayani di Bait Allah yang dibangun kembali. Demikian pula gereja membutuhkan pelayan Tuhan di setiap runggun yaitu Pendeta, Pertua, Diaken, Pelayan KA/KR. Para pelayan Tuhan ini dibutuhkan dalam gereja, karenanya mereka perlu mendapatkan perhatian dan dukungan. Memelihara gereja hendaknya sejalan dengan memelihara semangat yang ada dalam diri setiap pelayan-pelayan gereja, termasuk dengan memperkaya pengetahuan mereka dengan pengadaan buku-buku pendukung atau ikut serta seminar-seminar yang dapat mengembangkan diri serta kualitas pelayanan. Para pelayan yang menyampaikan firman Tuhan perlu senantiasa menambah pengetahuannya dan menjaga pertumbuhan imannya, dan ini memerlukan dukungan dari jemaat.

“Lebih baik satu hari di Rumah-Mu daripada seribu hari di tempat lain. Aku memilih menjadi penjaga pintu di Rumah Allahku daripada tinggal di rumah orang jahat.” Mazmur 84:11 (Terjemahan BIS)

                                                              Cl.Pdt.Yohana br Ginting, S.Si (Theol)-GBKP Perp. Samarinda

 

Lebih lanjut...

   

Khotbah 1 Tesalonika 1:1-10 (Tunggal), Minggu 26 Juli 2015

Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

 

Invocatio:
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. (Matius 25:21)

 

Bacaan:
Matius 25 : 14 - 36 (Tunggal)
 
Thema:
Kupergunakan Apa Yang Ada Padaku
 

 

Saudara-saudari,
 
Kita mengenal atau paling tidak pernah mendengar kata "sepenuh hati", " setengah hati" dan juga "berat hati". Kata sepenuh hati menunjukkan suatu sikap dimana ada kesungguhan yang diperlihatkan ketika melakukan sesuatu hal. Sedangkan kata setengah hati menunjukkan sikap ketika melakukan sesuatu itu tidak disertai dengan kesungguhan. Berada di antara mau dan tidak mau, tulus atau tidak. Sedangkan kata berat hati menunjukkan sikap penolakan dalam melakukan sesuatu. Jadi walau dilakukan namun sebenarnya tidak disertai hati bahkan mengarah pada keterpaksaan.

 

Minggu ini kita diajak untuk melihat bagaimana dua sisi kehidupan yang pada awalnya sangat berbeda pandangan dan pola hidup namun pada akhirnya ada perubahan yang sangat luar biasa. Diceritakan bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh Paulus di tengah kehidupan masyarakat Tesalonika. Paulus yang punya misi agar orang-orang mendengar pengajaran tentang Yesus dan kemudian berubah menjadi pengikut Kristus versus masyarakat Tesalonika yang justru kehidupannya lebih menyukai kehidupan yang berorientasi pada penyembahan berhala. Bisa kita bayangkan betapa besar tantangan yang dihadapi oleh Paulus. Tentu tidak gampang, ini kelihatan dari perkataan Paulus yang menyatakan "bahwa orang Tesalonika tahu apa yang dilakukan atau dikerjakannya"(ay. 5b). Juga bila kita terus membaca kitab ini pada pasal 2 maka kelihatan secara jelas bahwa Paulus untuk membiayai kehidupannya maka ia juga bekerja dengan keahlian yangdimilikinya. Namun pekerjaan utamanya adalah mengubah perilaku kehidupan orangTesalonika menjadi orang-orang yang setia kepada Tuhan.

 

Dan ternyata apa yang diyakini oleh Paulus itu terbukti, dengan mengandalkan kekuatan yang datang dari Tuhan dengan penyertaan Roh Kudus maka perjuangan dan pengorbanannya tidak sia-sia. Kekuatan itu dipadukan dengan kesungguhan memberikan yang terbaik baik dari sisi tenaga, pengetahuan dan kemampuannya maka pada akhirnya dia memperoleh hasil yang sangat luar biasa. Orang-orang Tesalonika berubah menjadi orang-orang yang bukan hanya saksi bagi sesamanya tapi juga ke luar dari daerah Tesalonika.

 

Saudara-saudari,
 
Bagaimana dengan orang-orang Tesalonika, dari penuturan Paulus juga kita bisa melihat bagaimana "perjuangan" yang dilakukan mereka. Satu kata yang bisa kita katakan adalah "pengorbanan". Menerima sesuatu yang baru dan meninggalkan apa yang sudah melekat selama ini tentu bukan perkara mudah. Apalagi pada akhirnya mereka justru kesohor karena sikap iman yang mereka miliki setelah menerima Yesus sebagai Juru Slamatnya. Ini ngga bisa dilakukan dengan setengah hati apalagi berat hati. Ada kesungguhan dan disertai dengan usaha yang sepenuh hatilah maka mereka berhasil melakukannya.

 

Saudara-saudari,
 
Pada bacaan ini, banyak hal yang bisa kita pelajari dan bisa berguna bagi kehidupan kita. Berguna bagi kebaikan iman, kesehatan, pendidikan, pekerjaan atau pun usaha. Segala sesuatu yang baik tidak pernah muncul dari sesuatu yang mudah dan tanpa usaha. Mulai dari yang kecil, lebih besar, semakin besar dan sangat besar dimulai dari usaha yang sungguh-sungguh (bd. Invocatio). Dan dengan usaha dan pengorbanan maka pada akhirnya ketika ada keberhasilan, maka yang hadir adalah tidak seperti kata pepatah "lupa kacang pada kulitnya", tapi ada rasa syukur.

 

Namun tantangan kita saat ini adalah pola hidup instant. Semua kebaikan diharapkan muncul tanpa dibarengi adanya upaya yang sungguh-sungguh. Kalau bisa gampang kenapa harus susah. Itu kata yang bisa menyesatkan kita. Teringat bagaimana contoh-contoh " orang-orang berhasil" dengan cara instant, maka tidak kelihatan "kekal". Gampang datang, gampang pergi. Berbeda dengan apa yang diungkapkan Tukul Arwana dengan istilah " Kristalisasi Keringat" apalagi disertai dengan keyakinan iman bahwa ada kata "berkat Tuhan" maka yang ada adalah sikap sayang dan senantiasa mengucap syukur.

 

Mari belajar setia pada hal terkecil sekalipun agar Tuhan menyediakan yang lebih baik lagi bagi kehidupan kita.
 
Amin.
Pdt. Benhard Roy Calvyn Munthe-Rg.Cisalak
 
   

Khotbah Roma 15:25-27 & Efesus 4:9-16, Minggu 19 Juli 2015

Invocatio :

 

Kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu (1 Korints 9:11a)

Bacaan :

 

Kisah Para Rasul 2:42-47

Tema :

Mandiri Dan Bertanggungjawab Dalam Berbuat Kebaikan

 

 

Menurut KBBI, kata “mandiri” merupakan kata sifat yang diartikan sebagai dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, sejak kecil ia sudah biasa mandiri sehingga bebas dari ketergantungan kepada orang lain. Sedangkan kata “bertanggungjawab” merupakan kata kerja yang diartikan sebagai berkewajiban menanggung; memikul tanggungjawab; menanggung segala sesuatunya. Kemudian kata “kebaikan” merupakan kata yang artinya sifat baik; perbuatan baik; kegunaan; sifat manusia yang dianggap baik menurut sistem norma dan pandangan umum yang berlaku.

 

Pembahasan

 

Roma 15:25-27

 

Tetapi sekarang aku sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus. Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem. Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi   mereka

 

Paulus menyatakan rencananya untuk berangkat ke Jerusalem. Ia telah merencanakan untuk mengumpulkan sumbangan dari jemaat-jemaat baru untuk orang-orang miskin di jemaat Jerusalem. Di kota Yerusalem, kebanyakan pekerjaan yang tersedia bersangkut paut dengan bait Allah dan keperluan-keperluannya. Imam-imam dan penguasa Bait Allah adalah orang-orang Saduki, mereka memusuhi Yesus. Karena itu, tentu saja banyak orang-orang yang menjadi Kristen serta percaya kepada Yesus kehilangan pekerjaannya dan membutuhkan bantuan. Alasan Paulus menyerahkan persembahan itu ke Yerusalem :

 

  1. Melaksanakan kewajiban serta tanggungjawabnya.

 

Ketika Paulus akan menjadi rasul untuk bangsa-bangsa lain, para pemimpin gereja telah menetapkan suatu perintah, yaitu supaya mengingat orang-orang miskin (Galatia 2:10). “Memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan mengerjakannya”, kata Paulus. Ia bukanlah orang yang suka melupakan kewajiban serta tanggungjawabnya, dan sekarang hal it dilakukannya.

 

  1. Membentuk persatuan jemaat.

 

Ini adalah salah satu cara untuk mengajar para jemaat bahwa mereka bukan suatu kelompok yang berpisah melainkan anggota dari jemaat yang besar, yang tersebar di seluruh dunia. Kepentingan dari pemberian kepada orang lain ialah justru mengingatkan kepada kita, bahwa kita bukan anggota dari suatu jemaat saja, melainkan bagian dari jemaat seluruh dunia.

 

  1. Menerapkan kekristenan dalam tindakan praktis.

 

Memang mudah untuk berbicara tentang tanggungjawab sebagai seorang Kristiani, tetapi di sinilah kesempatan untuk menjadikan kata-kata Kristen menjadi perbuatan.

 

 

  1. Efesus 4: 9-10.

 

Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.

 

Ayat ke 9, hendak menyatakan bahwa Tuhan Yesus harus turun dahulu sebelum Dia dapat naik. yang dimaksudkan adalah turunnya Dia dari surga. Dia turun “ke bagian bumi yang paling bawah” yaitu bumi (bdg. Yoh. 3:13).Yesus turun ke dalam dunia ketika IA datang dalam wujud manusia; dan Yesus naik dari dunia ini ketika IA kembali kepada kemuliaanNya. Dengan ungkapan ini, Pauls menegaskan bahwa Yesus yang naik dan Yesus yang turun itu adalah orang yang satu itu juga. Apakah artinya ini ? Tidak lain bahwa Kristus yang penuh kemuliaan itu adalah sama dengan Yesus yang menjejakkan kakiNya di bumi. Ay 10: ‘untuk memenuhkan / memenuhi segala sesuatu’, artinya ‘memenuhi seluruh alam semesta dengan kehadiran & kuasa-Nya’. Yesus yang naik ke tempat yang tinggi, tidak dengan maksud meninggalkan dunia, tetapi untuk memenuhi dunia ini dengan kehadiran dan kuasaNya. Ketika Yesus ada di dunia ini secara badaniah, kehadiranNya hanya dapat terjadi di satu saat, dan di satu tempat; kejasmaniannya membatasi segalaNya. Tetapi ketia IA kembali kepada kemuliaanNya, maka sirnalah keterbatasan itu. Rohnya dapat hadir di setiap tempat di bumi ini. Bagi Paulus, kenaikan Tuhan Yesus tidak berarti Yesus meninggalkan dunia, melainkan Yesus hadir di seluruh dunia supaya kita tahu bahwa Ia tetap dekat dengan kita.

 

  1. Efesus 4:11-16

 

Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan   tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman   dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya   dalam kasih

 

Karunia-karunia / jabatan-jabatan (ayat 11) yaitu : 1). Rasul. Ia adalah seorang yang pernah melihat Yesus, Orang yang dipilih/diutus Kristus sendiri dan merupakan saksi kebangkitan Kristus. 2)Nabi. Orang yang menerima wahyu dari Allah dan lalu menyampaikannya kepada seluruh manusia. 3)Pemberita-pemberita Injil, yaitu penyebar-penyebar Injil yang bertugas menyampaikan berita sukacita ke tempat yang belum pernah mendengarkannya. 4)Gembala-gembala dan pengajar-pengajar. Ada yang menganggap kedua jabatan ini adalah sama. Calvin membedakan kedua jabatan ini. Gembala harus bisa mengajar, tetapi pengajar belum tentu bisa menggembalakan.

 

Adapun tujuan karunia-karunia / tugas hamba-hamba Tuhan (ay 12-16) yaitu mengajarkan Firman Tuhan sehingga:

 

  1. Orang-orang kudus dilengkapi untuk pekerjaan pelayanan (ay 12).

 

Jelas bahwa Tuhan menggunakan menusia untuk mengajar manusia lain. Jemaat juga perl diberikan pengajaran supaya semua jemaat juga ikut serta dalam pekerjaan pelayanan.Jemaat harus dilengkapi dulu, baru melayani.

 

  1. Tercapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah (ay 13).

 

Iman memang sudah satu (ay 5), tetapi ‘kesatuan’ mempunyai tingkat-tingkat. Makin mempunyai pengetahuan yang benar ten¬tang Anak Allah, makin bersatu iman.

 

  1. Jemaat menjadi dewasa (ay 13).

 

Tuhan Yesus menyuruh kita menjadi seperti anak-anak, tetapi tidak dalam segala hal (Mat 18:3). Kita harus menjadi seperti anak-anak dalam hal kerendah hatian, ketulusan, dan juga dalam hal kejahatan. Tetapi dalam hal pengetahuan dan kestabilan iman, kita harus dewasa (1Kor 14:20).

 

Ay 15: ‘teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih’. Hal ini menunjukkan ciri kedewasaan. Jadi ada kebenaran dan ada kasih.

 

Ketiga hal tersebut hanya bisa dicapai dengan mengajarkan Firman Tuhan. Karena itu belajar Firman Tuhan adalah sesuatu yang penting sekali, mengikuti PA, PJJ, saat teduh, membaca Alkitab harus terus kita lakukan sepanjang kehidupan kita.

 

Aplikasi

 

Dalam bacaan Alkitab kita, Roma 15:25-27, kita melihat betapa kuatnya persekutuan di dalam jemaat. Paulus menyebut jemaat sebagai "Tubuh Kristus”. Di dalam tubuh terdapat banyak anggota yang berbeda-beda, karunia yang berbeda-beda (Efesus 4:9-16), tetapi mereka adalah satu tubuh. Paulus mendorong jemaat untuk memelihara kesatuan. Jemaat yang kuat bertanggungjawab untuk membantu jemaat yang lemah sehingga ia juga beroleh kemandirian. Hal ini terlihat dalam kehidupan jemaat di Makedonia dan Akhaya yang membantu jemaat di Yerusalem. Sehingga tampaklah bahwa adanya kesatuan jemaat sebagai tubuh Kristus. Kehidupan jemaat mula-mula pun menjadi teladan di dalam hal kebersamaan, bertekun dalam pengajaran, dalam persekutuan, dalam berdoa serta memecahkan roti bersama-sama (KPR 2:42-47)

 

Tidak ada seorangpun yang tidak mendapatkan karunia dari Tuhan. Demikian juga tidak ada seorangpun yang mendapatkan semua karunia. Karena itu kita saling membutuhkan dan saling dapat memberi. Tiap orang diperlukan. Karena itu, gunakanlah karunia yang Kristus telah percayakan kepada kita untuk pembangunan jemaat-Nya. Kita adalah anggota-anggota tubuh Kristus. Jika kita bersekutu dengan Kristus, Sang Kepala. Jika kita di dalam kasih dan kesatuan bersekutu satu dengan yang lain. Jika kita masing-masing sebagai anggota dari satu tubuh mengambil tempat kita, mengambil peranan dan fungsi kita dengan bertanggungjawab sesuai dengan karunia yang dipercayakan Kristus. Maka seluruh tubuh Kristus akan dibangun.    

 

Karena itu, marilah hidup mandiri dan bertanggung jawab dalam berbuat kebaikan sehingga tercipta dan terbangun kesatuan Tubuh Kristus.

 

 

http://www.golgothaministry.org/efesus/efesus-4_1-16.htm

 

http://www.gkin.org/main/index.php/overdenkingen-preken/renungan-kotbah/278-kesatuan-dan-pembangunan-jemaat-ds-j-linandi

 

Alkitab Edisi Studi, LAI, 2012.

 

Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat Roma, BPK GM, 2009

 

Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat-Surat Galatia dn Efesus, BPK GM, 2011.

 

http://www.alkitab.sabda.org

 

Pdt. Chrismori Br Ginting - Rg. Yogyakarta

 

Lebih lanjut...

   

Page 1 of 101

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 23 guests online

Login Form