image image image image
Grand Opening GBKP Runggun Cikarang GBKP Cikarang yang telah disyahkan menjadi Jemaat/Runggun pada sidang GBKP klasis Jakarta-Bandung tanggal 10-12 Oktober 2014 di Hotel Rudian-Puncak,
PEMBINAAN BP RUNGGUN – RAMAH TAMAH TAHUN BARU – PENCANANGAN TAHUN PENINGKATAN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA JEMAAT Pada tanggal 10 Januari 2015 di GBKP Runggun Bekasi telah di laksanakan kegiatan Pembinaan BP Runggun di Klasis Jakarta-Bandung. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 Wib diawali kebaktian pembukaan oleh Pdt. Alexander Simanungkalit,
WISATA LANSIA GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG KE BANGKOK-PATTAYA Wisata Lansia yang menjadi salah satu program Bidang Diakoni GBKP Klasis Jakarta-Bandung telah dilaksanakan tanggal 8-11 Desember 2014 ke Bangkok-Pattaya. Wisata yang diikuti 47 peserta ini di damping Kabid Diakonia, Dk. Ferdinand M. Sinuhaji dan Pdt.S.Brahmana.
PEMBUKAAN SIDANG KERJA SINODE (SKS) DAN SIDANG PROGRAM & KEUANGAN (SPK) TAHUN 2014 Pembukaan Sidang Kerja Sinode (SKS) dan Sidang Program dan Keuangan (SPK) tanggal 22-25 Oktober 2014 telah dilaksanakan pada pukul 10.00 Wib, di dahului kebaktian pembukaan yang dipimpin Pdt.Vera Ericka Br.Ginting, direktur Percetaken dan Toko Buku GBKP Abdi Karya Kabanjahe,

Suplemen PJJ tanggal 07-13 Februari 2016, Ogen Pilipi 3:1-10

“Penandaindu Nandangi Kristus Mpelimbarui Geluhndu”
(Pilipi 3:1-10)

1. I bas Perpulungen Pilipi turah  ajaren sipapak sinigelari  Yudaisme eme kalak Yahudi si enggo jadi kristen tapi tetap denga make ajaren-ajaren agama Yahudi, inti pengajaren enda  nina : keselamaten siialoken genduari lenga bo  sempurna, arah tek ngenca man Yesus Kristus. Keselamaten sisempurna eme adi ndalanken taurat, khususna sunat,

2. Kesaksin Paulus encidahken maka Penandai kerna Kristus eme simeherga ibas kegeluhenna, sabab eme simabai ia kubas kegeluhen situhu-tuhu.
(Kesaksin Paulus: aku eme keturunen Yahudi asli ibas suku Benyamin nari ras tutus ndalanken undang-undang agama eme isunat asum umur waluh wari, selaku kalak Parisi tutus ndalanken undang-undang taurat, janah “menentang” ise saja singelanggar undang-undang taurat. Erkiteken tutus kal ndalanken undang-undang taurat maka igasgasi Paulus me gereja. Bagepe ibas ndalanken undang-undang Paulus la pernah salah. Tapi enda kerina sinai iakap Paulus merupaken sada keuntungen kepeken kenca jadi kalak si tek man Yesus Kristus kerina e sada kerugin man Paulus)

3. Penandai Paulus kerna Kristus e me simengubah kegeluhenna. Paulus erpengakap erkiniteken man Kristus me maka nggeluh ibas keselamaten. Keselamaten berarti muat bagin ibas kiniseran, kematen ras kekeken Kristus.

4. Jadi Perenungen man banta seh ija nge enggo penandaita kerna Yesus e? Penandaita nandangi Kristus erbahanca kegeluhenta:

  • Ngasup kita ngalaken kegeluhen subuk sibagi ukur bagepe silabagi ukur.
  • Ngasup ngalaken pengaruhi alu ajaren-ajaren/Rayuan-rayuan sideban.
  • Ngasup nimbak peraten daging (“kupedirep e sampah”)
  • Tetap erpengarapen nandangi kekeken/kegeluhen sirasalalap.

(Tetap Fokus nandangi keselamaten)


Pondok Gede, 05 Feb 2016 / Pdt.IGM

Lebih lanjut...

   

Khotbah Filipi 3:17-4:1, Minggu 21 Februari 2016

Invocatio    :
Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. 1 Yohanes 5 : 9

Bacaan    :
Kejadian 15 : 1 – 12; 17 - 18

Thema    :
Berdiri Teguh (Tetap Ibas Kristus)
 
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Sebuah pertanyaan kecil ingin saya sampaikan pada saat ini… Secara logika, adakah orang yang merasa bahwa pada saat ia mengatakan sudah cukup puas dengan capaian kehidupannya; tidak akan menginginkan ada lagi yang bertambah lagi dalam hidupnya, atau bila ada yang ditambahkan dalam kehidupannya maka ia akan menolaknya. Sepertinya akan sangat sulit untuk menemukan sosok orang yang seperti itu, karena manusia senantiasa hidup dengan apa yang disebut dengan “KEINGINAN”, dan yang namanya keinginan akan tetap hidup seiring dengan kehidupan manusia itu sendiri. Bahkan ada banyak ungkapan-ungkapan yang terkadang menggambarkan ketidaksesuaian dari kenyataan atau realita dengan keinginan. Contohnya, ingin hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai, seperti pungguk merindukan bulan, bahkan yang agak nyeleneh seperti nafsu besar tenaga kurang. Ini semua menunjukkan betapa “keinginan” dalam kehidupan manusia itu bersifat tak terbatas dan tak pandang situasi.

Bila kita mengaitkan dengan keberadaan keimanan kita, alangkah luarbiasanya bila dalam perjalanan kehidupan kita, pengenalan akan Tuhan, pengertian akan Tuhan dan penyerahan hidup kepada Tuhan juga tidak pernah berhenti. Seperti Rusa rindu sungai, demikian jiwaku rindu akan Engkau… demikian sebuah ungkapan dalam Alkitab.

Saudara/i dalam kasih Kristus,
Khotbah minggu ini akan diawali dengan sebuah proses kehidupan keberimanan yang ditunjukkan oleh orang yang disebut dengan Bapa Orang Percaya yakni Abraham yang pada saat itu masih bernama Abram. Apa yang bisa kita pelajari dari cerita Abram dalam perikop bacaan pertama kita. Memang kita bisa melihat bahwa pada akhirnya Allah “menganugrahkan” gelar tersebut padanya. Tapi, apakah kita melihat ada proses peneguhan yang membuat pada akhirnya Abram bisa percaya pada “janji Allah”. Tentu ada, ada sebuah pergulatan antara realita dan janji yang disebabkan situasi yang dihadapi oleh Abram adalah sebuah situasi dimana dunia mengatakan bahwa tidak akan mungkin “Janji Allah” akan terwujud mengingat kondisinya tersebut. Ia sudah tua, istrinya juga sudah tidak memungkinkan lagi untuk bisa mengandung. Namun di sisi lain, yang bericara padanya bukanlah sosok biasa, tapi sosok yang tiada bandingnya yaitu Allah. Allah yang menyuruhnya untuk meninggalkan kampong halamannya. Allah yang selama ini menjadi sosok yang sangat diagungkannya.  Perseteruan antara realita dan janji itu pada akhirnya dimenangkan oleh Percaya pada Janji itu. Pointnya, dalam menentukan sikap apakah Tuhan ada dan peduli kepada kehidupan kita; bisa saja kita diperhadapkan pada situasi yang mungkin sama tapi tak serupa dengan Abram. Artinya, pikiran kita, dan juga persepsi kebanyakan mengatakan maka tidak akan mungkin. Namun di sisi lain, yang menyatakan bahwa Ia akan menyertai kita sampai sepanjang jaman itu kan Tuhan Allah. Tuhan Allah yang sepanjang sejarah Alkitab senantiasa menunjukkan bahwa Ia tetap ada dan berpihak pada orang-orang yang percaya. Pergulatan seperti inilah kita harusnya mampu mengambil keputusan bahwa Tuhan Allah yang harus dimenangkan, walau sepertinya hal itu tidak mugkin. Namun sekali lagi…. TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI TUHAN

Saudaraku dan Saudariku…
Selanjutnya, pada bagian bacaan selanjutnya, ada dua hal penting yang hendak diungkapkan oleh Paulus. Yang pertama Penekanan akan identitas pengikutnya sebagai warga istimewa… bukan sekedar warga biasa tapi Warga Surga. Lalu yang kedua, penekanan untuk hidup tidak mengikut keinginan daging. Yang menjadi sorotan paulus adalah realita kehidupan yang ada di hadapannya dimana begitu banyaknya orang yang menganggap bahwa keinginan daging adalah tuhan dalam kehidupannya. Mengejar, memuaskan diri dengan upaya mencapai keinginan dengan mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran tidak masalah bagi mereka. Hidup cemar di mata Tuhan, juga bukan hal yang patut diperdulikan. Rasa malu dikalahkan oleh keserakahan dan kehidupan yang benar di hadapan Tuhan…. jauhhhh. Mungkin bila kita gambarkan dalam bayangan kita, seperti apa bentuk kehidupan mereka…..jangan-jangan seperti kebanyakan jemaat kita saat ini. Dimana, kehidupan saleh dan taat bukanlah prioritas dalam dirinya, bergereja, bersekutu adalah bagian kehidupan yang akan dilakukan apabila tidak menghalangi pengejaran akan nilai2 duniawi..  Yang utama adalah harta, tahta dan kuasa. Kepuasan diri tidak ditentukan oleh kedekatan hidup kepada Tuhan. Inilah yang disoroti oleh Paulus.

Paulus merasa sangat sedih melihat situasi yang ada tersebut dan dia sangat merindukan agar pengikutnya tetap hidup pada ajaran yang pernah diajarkannya pada mereka. Ia menekankan bahwa tujuan hidup yang sempurna bukanlah dunia tapi Surga. Memang manusia belum akan ke sana sebelum kedatangan Yesus. Untuk itulah ia berupaya untuk “menyadarkan” para pengikutnya agar tidak mengikut pola hidup yang jauh dari keinginan Tuhan dan menjadikan keinginan daging menjadi target hidup.

Saudara-saudari jemaat kekasih Tuhan,
Dua sosok yang dihadirkan pada khotbah Minggu ini adalah “orang-orang yang Menang”. Orang-orang yang dalam kehidupannya mengalami proses kehidupan yang pada akhirnya menjadikan Hidup dan Percaya pada Tuhan adalah Pilihan Hidup yang tidak akan tergoyahkan lagi. Dua sosok ini diperhadapkan pada Janji Tuhan Allah, dan dua sosok ini memilih untuk Percaya pada Janji itu. Apakah ada tantangan? Kembali pada dua ulasan tadi, tantangan itu pasti ada…. Namun tantangan itulah yang dijadikan sebagai alat pendewasaan bagi keduannya untuk pada akhirnya tidak goyah.
Artinya, mengikut Tuhan, Percaya pada Tuhan, Setia pada Tuhan bukanlah perkara mudah. Akan banyak yang akan kita hadapi ketika kita menjalaninya. Bisa dari diri sendiri, orang-orang terdekat, lingkungan, sakit penyakit, dan segala macam penyakit2 dunia isa saja silih berganti mencoba menjatuhkan kita agar kita menjadi Orang Gagal. Lihat kembali pada bagian pengantar khotbah ini bahwa rasa puas tidak akan pernah berhenti. Namun diakhir khotbah ini mari kita menoleh pada perkataan Paulus yang mengatakan : Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!    Jangan pernah jauh apa lagi meninggalkan Yesus dalam kehidupan kita. Amin.

Pdt. Benhard Roy Calvyn Munthe
        081361131151
   

khotbah Ulangan 26:1-11, Minggu 14 Februari 2016

Invocatio    :
Dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia
kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang (Kisah Para Rasul 17:25)

Bacaan    :
Roma 10:8b-13

Thema    :
Kubawa persembahan yang terbaik bagi Tuhan
 

I. Pendahuluan
Ada satu keluarga mendapat kabar baik bahwa sapi mereka melahirkan anak kembar. Maka bapak petani mengatakan pada istrinya : “mama..mama.. lihat sapi kita melahirkan anak kembar! Kita akan mempersembahkan satu untuk Tuhan”. Maka jawab istrinya : “ok, baiklah”.

Keesokan harinya, ketika bapak petani melihat ke kandang sapi, dia menemukan bahwa salah satu anak sapi yang baru lahir itu mati. Sang bapak petani memanggil istrinya : “mama..mama.. anak sapi yang mau kita persembahkan bagi Tuhan sudah mati!”. Istrinya  datang dan menjawab :”papa, kok kamu bisa bilang bahwa anak sapi yang mau kita persembahkan bagi Tuhan sudah mati, padahal kita belum menentukan anak sapi yang mana yang akan kita persembahkan?”
“iya si ma, kita memang belum menentukan anak sapi mana yang akan kita persembahkan. Tapi, waktu ku lihat ada satu anak sapi yang mati, ya itulah kutetapkan bahwa yang mati adalah persembahan untuk Tuhan”, jawab pak petani.

II. Berbicara mengenai persembahan bagi Tuhan, banyak orang memakai kalkulator kehidupan mereka dan mulai memakai ‘untung-rugi’ sebelum mereka membawa persembahan itu kepada Allah.

Dalam bacaaan khotbah kita hari ini dikisahkan bagaimana Allah sudah menyatakan bahwa Allah akan membawa mereka (bangsa Israel) ke tanah Kanaan (Ul.26:1-4) sehingga bangsa ini harus senantiasa mengingat dan bersyukur atas perbuatan Allah. Tuhan yang senantiasa mengingat dan bersyukur atas perbuatan Allah. Tuhan yang senantiasa memberikan yang terbaik bagi bangsaNya, bukanlah seharusnya bangsa ini juga bersyukur kepada Tuhan.
Kita lihat pula bagaimana kesaksian bangsa Israel tentang Tuhan yang senantiasa membawa berkat bagi kehidupan mereka.
Mari kita tandai dari nats ini (ayat 5) dahulu…(ayat 6) ketika penderitaan dan pergumulan datang…(AYAT 7&9) Tuhan menolong dan member Berkat… oleh sebab itu (ayat 10)…
Diharapkan agar bangsa Israel senantiasa mengingat bahwa keberadaan dan penebusan mereka terjadi adalah karena apa yang dilakukan Allah bagi mereka. Mereka harus menanggapi dengan memberikan persembahan syukur yang terbaik, sukacita kasih terhadap sesame dan ketaatan kepada Tuhan Allah.

III. MENGINGAT KARYA Tuhan dalam hidup kita yang nyata, bukankah itu yang menjadi dasar bagi kita semua dalam mengungkapkan syukur kita kepada Dia? Kita percaya dan mengaku dari hati keluar dari mulut dan perbuatan kita yang didasarkan pada “Yesus Kristus adalah Tuhan, Juruselamat kita dan penebus dosa-dosa kita”. Ada jaminan bukan hanya sampai hidup di dunia kita diberkati tetkapi lebih dari itu, keselamatan kekal tersedia bagi kita. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan (Roma 10:13)

Walaupun keadaan yang terjadi saat ini, dimana masyarakat cenderung untuk hidup dalam inividualisme,  hedonism, materelisme dan konsumerisme, pengikut Yesus yang sudah ditebus dan diselamatkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, maka selanjutnya kita harus hidup dalam rasa syukur yang mendalam kepada Yesus Kristus. Kita harus dan senang hati memberikan apa yang terbaik yang ada pada kita untuk di persembahkan kepada Tuhan. Bukan sebagai sogokan tapi sebagai ungkapan syukur dan ungkapan iman percaya kita kepada Allah.
Ada satu kisah tentang seorang yang selalu protes, “member, member, member dan member selalu memberi. Saya lelah selalu member…” lalu Tuhan menjawab baiklah kita membuat persetujuan : “kamu…berhentilah member tepat pada saat aku berhenti memberi padaMu!”
Apa yang bisa mengubah dan memampukan kita untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan adalah hanya karya Roh Kudus dan pengakuan dari hati, mulut dan perbuatan kita berlandaskan pada iman akan keselamatan dari Yesus Kristus. Selamat member persembahan yang terbaik bagi Tuhan.
 
Quote : “Alasan-ku meminta kepadamu untuk member persembahan kepada-ku adalah untuk membuktikan kepada kita berdua bahwa kamu lebih  mengasihi Aku ketimbang menyukai apa yang dapat ku berikan untukmu.
 
Pdt. Rosliana br Sinulingga
Rg. Semarang
   

Khotbah II Korintus 3:12-18, Minggu 07 Februari 2016, PASSION I

Invocatio    :
Tuhan hidup ! Trpujilah gunung batuku, dan mulialah Allah
Penyelamatku (Mas.18:46)

Bacaan    :
Keluaran 34 : 29 – 35   (Tunggal)

Thema    :
“Cerminkan/ Pancarkan Kemuliaan Tuhan”
Pembincarken Kemulian Dibata

 
Jemat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Minggu ini adalah Minggu Passion I, yang mengingatkan kita tentang kesengsaraan dan penderitaan Tuhan Yesus Kristus untuk menebus kesalahan dan dosa-dosa manusia. Sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungNya, kesengsaraan kitalah yang dipikulNya. Dia tertikam oleh karena pemberontakan yang kita lakukan, Dia diremukkan oleh kejahatan kita. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus AnakNya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, tapi untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh.3:16-17). Penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus bagi dunia ini adalah perwujudan kemulian Allah. Sepanjang kehidupan dan pelayanan Yesus di dunia ini walau pun melalui kesengsaraan dan penderitaan sampai kepada kematian, Dia tetap mencerminkan atau memancarkan kemuliaan Allah. Demikian juga tetunya bagi setiap orang percaya tetap setia dan taat dalam iman kepada Yesus Kristus dari setiap situasi yang kita hadapi kini, dan terus berjuang untuk mencerminkan kemuliaan Allah.
 
Firman Tuhan yang menjadi perenungan kita hari ini dalam 2 Korintus 3:12-18, dalam nats ini Rasul Paulus bersaksi tentang diri dan pelayanannya sebagai pelayan perjanjian baru. Dalam hal ini Paulus mengambil pelajaran dari Keluaran 34:30,34-35, Musa menyelubungi mukanya demi umatnya; mereka takut menghampiri dia karena wajahya masih memancarkan kemuliaan ilahi dari perjumpaannya dengan Allah di gunung Sinai. Dengan keberaniannya Paulus tidak seperti Musa, yang tidak dapat berkomunikasi dengan bangsa Israel dengan ketulusan yang serupa. Tapi Paulus dan rekan-rekan sepelayanan bertindak dengan penuh keberanian. Keberanian berarti kemampuan berbicara tentang keterbukaan, kejujuran, ketulusan yang mutlak. Musa menutupi wajahnya serta memudarnya cahaya dari wajah Musa, Paulus melihat suatu makna dari peristiwa itu bahwa Musa menghalangi umat Israel melihat seluruh kebenarannya- bahwa perjanjian yang lama itu harus berahir dengan kedatangan Kristus(Rom.10:4,Gal.3:24)”Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.  Selubung yang menutupi wajah Musa merupakan gambaran tertutupnya pemahaman dan tumpulnya pikiran orang Yahudi hingga kini untuk menerima penyataan yang baru, yaitu hanya di dalam Kristuslah penutup mata yang menyebabkan kebodohan tentang maksud Allah dalam memberikan torah itu diambil dari padanya. Rasul Paulus kini mengadaptasi penyataan pada peristiwa pertobatannya. Apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, selubung itu di ambil daripadanya. Tuhan adalah tidak lain daripada Roh itu sendiri yang mengangkat selubung ketidak pahaman. Seperti halnya Roh yang menyebabkan pelupuk kebodohan jatuh dari mata Rasul Paulus(Kis.9:17-18). Ketika Roh melaksanakan kuasaNya yang berdaulat, di situ ada kemerdekaan  dari hukum yang menghukum dan mematikan. Roh yang menghasilkan kemerdekaan dari dosa dan maut(gal.2:4, Rom.6:18,22,23). Kemerdekaan yang diberikan oleh Roh itulah yang menetapkan dia menjadi Rasul dan dengan keberanian untuk mengatakan kebenaran dengan terus terang. Kuasa Roh lah yang memberikan Paulus keberanian untuk melaksanakan pelayanannya. Kemuliaan dari perjanjian yang baru itu tidak disingkapkan dalam kekuatan manusia, tetapi di dalam kuat kuasa Roh. Dahulu wajah Musa lah yang menampakkan kemuliaan Allah. Hanya dia yang dapat bercakap-cakap dengan Allah dengan wajah yang tersingkap(Kel.34:34). Kini semua orang percaya di dalam Kristus mempunyai pemandangan yang jelas tentang kemuliaan Tuhan. Orang percaya adalah orang yang dibentuk mendekati gambar anak Allah(Rom.8:29). Proses perubahan ini sekarang dan di masa mendatang adalah dari kuasa Tuhan yaitu di dalam Roh. Oleh sebab itu dari keterbatasan dan ketidak sempurnaan setiap orang percaya, tetap menjadi saksi Tuhan untuk mencerminkan-memancarkan kemuliaan Tuhan.
 
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Dari pengalaman hidup Paulus dalam memberitakan Injil seperti halnya yang di utarakan tersebut diatas,ada beberapa sikap yang patut kita teladani yang menjadi kekuatan iman kepada Yesus Kristus dan memancarkan kemuliaan Allah yaitu:  Berani Menghadapi tantangan dan penderitaan dengan mempertaruhkan iman pengharapan kepada Tuhan. Dengan kerendahan hati ia mengakui bahwa kemampuannya dalam melayani adalah oleh karna kuasa Allah yang bekarya di dalam Roh. Selubung yang menutupi yaitu sifat-sifat manusia lama ditanggalkan dan hidup baru di pimpin oleh Roh Kudus(Gal.5:22-26). Tetap setia dan menjadi saksi Kristus untuk memancarkan kemuliaan Tuhan dari sikap hidup, pelayanan, pekerjaan nya. Tentu halini adalah bagian hidup kita sebagai orang percaya. Yesus berkata,” Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apasaja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapaku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu. Amin.

 
      Pdt. Terima Tarigan 
GBKP Rg.CILEUNGSI
   

Khotbah Lukas 4:14-21, Minggu 24 Januari 2016

Invocatio :
Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita.  Ia telah mati dan dikubur,   dan kuburannya masih ada pada kita  sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya (Kisah Para Rasul 2:29-30)

Bacaan:
Nehemia 8:1-10 (Tunggal)

Thema : 
Tuhan Menggenapi JanjiNya

I. Pengantar
Janji merupakan ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat (seperti hendak memberi, menolong, datang, bertemu). Karena itu, janji harus ditepati, dilaksanakan. Berbicara tentang janji adalah hal yang tidak mudah. Karena, banyak orang yang mudah untuk menyatakan janjinya tetapi sulit untuk melakukannya. Ada sebuah ungkapan “janji adalah hutang.” Artinya saat kita mengucapkan janji maka kita dituntut untuk menepati janji yang kita ucapkan itu. Tentu kita ingat saat sidi, kita pernah berjanji menjadi pengikut Yesus yang setia. Kita berjanji menjadi warga dewasa yang ikut bertanggung jawab dalam tumbuh dan berkembangnya jemaat. Ketika kita menikah, kita berjanji untuk setia pada pasangan dalam keadaan suka dan duka. Waktu kita membaptiskan anak, kitapun berjanji untuk menjadi orang tua yang bertanggung jawab dalam mendidik dan meneladankan nilai-nilai iman kepada anak-anak. Janji yang kita ucapkan dengan disaksikan oleh jemaat menjadi janji kita kepada Tuhan. Kita belajar bukan sekedar berani mengucapkan janji itu, tetapi juga mampu melakukan apa yang menjadi janji kita itu.

II. Tafsiran Lukas 4:14-21
Ayat 14-15 “Yesus kembali ke Galilea”
Setelah Yesus menjalani kehidupan selama 40 hari tanpa makan di padang gurun dan di situ iblis mencobai Dia (Lukas 4:1-13), maka oleh kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Injil Lukas memberi tempat yang istimewa bagi Roh Kudus sebagai kuasa Allah yang berkarya di dunia ini. Berbagai mujizat dilakukan oleh Roh Kudus, seperti dialami perawan Maria ketika mengandung bayi Yesus, Roh Kudus membimbing manusia (Lukas 1:35;  4:1,14). Lukas menampilkan Roh Allah yang membimbing pekerjaan manusia, termasuk karya Yesus. Galilea merupakan daerah tempat tinggal Yesus. Pada masa ini, Galilea dikuasai oleh kekaisaran Roma yang menduduki daerah itu sejak tahun 63 SM.
Kemudian tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Yesus mengajar di rumah-rumah ibadat, yaitu sinagoga. Sinagoga berasal daribahasa Yunani, artinya perkumpulan. Dalam Alkitab, Sinagoga menunjukkan kepada suatu kelompok yang berkumpul bersama untuk beribadat. Di Sinagoga mereka berkumpul untuk beribadat, belajar dan menjaga identitas kelompok mereka. Sinagoga menjadi tempat yang penting bagi peribadatan Yahudi dan kehidupan komunitas di daerah-daerah sekitar Laut Tengah.

Yesus dipuji oleh mereka yang hadir di Sinagoga, hal ini menggambarkan keberhasilan Yesus. Salah satu tema yang menarik perhatian Lukas ialah Yesus mengajar. Lewat tema ini Lukas hendak menegaskan wibawa Yesus dalam pengajaranNya kepada umatNya tentang Allah dan rencanaNya. Selaku guru, Yesus tentu saja mempunyai murid yang memandang cara hidupNya sebagai pola hidup mereka sendiri. Dengan menampilkan Yesus sebagai guru yang mengajar di Sinagoga Yahudi, Lukas menekankan adanya kesinambungan antara ajaran Yesus dengan apa yang sejak dahulu dijanjikan Allah kepada Israel.

Ayat 16-17 Yesus mengajar di rumah ibadat ‘sinagoga’
Yesus datang ke Nazaret yang merupakan sebuah kota kecil di Galilea yang merupakan tempat tinggal Yusuf, Maria dan Yesus dibesarkan di kota itu. Wajarlah jikalau Yesus mengunjungi Nazaret tempat ia dibesarkan, dan itu menuntut suatu keberanian. Tempat yang paling sukar bagi seorang pengkotbah ialah gereja tempat ia hidup sebagai seorang anak; tempat yang paling sukar bagi seorang dokter untuk menjalankan tugas ialah dimana orang mengenalnya ketika ia masih muda. Namun, Yesus tetap pergi juga ke Nazaret.

Hari itu adalah hari Sabat, hari istirahat bagi orang Yahudi. Sabat adalah hari ke tujuh dalam satu pekan. Pada hari itu, Allah beristirahat, setelah menciptakan dunia (Kejadian 2:2-3). Menurut kebiasaaaNya, pada hari Sabat ia masuk ke rumah ibadat. Kebiasaan Yesus yang baik ini merupakan hal yang sangat patut ditiru (bdk.Ibrani 10:24-25). Hal ini merupakan caraNya memperingati Sabat sesuai dengan peraturan  Perjanjian Lama guna mengindahkan hari itu suci bagi Tuhan.  Lalu Dia berdiri hendak membaca Alkitab. Alkitab yang dimaksudkan adalah Alkitab Ibrani, yakni Perjanjian Lama.Yesus berdiri ketika membacakan Alkitab (ayat 16), tetapi duduk pada waktu berkotbah (ayat 20). Ini merupakan kebiasaan saat itu. Berdiri menunjukkan  suatu sikap menghormati Firman Tuhan. Berkotbah biasanya dilakukan dengan duduk (bdk. Kis 16:13), tetapi kadang-kadang juga dilakukan dengan berdiri (Kis. 13:16). Sikap duduk atau berdiri ini sebetulnya tidak mutlak, yang penting adalah : dalam hati kita menghormati Firman Tuhan.

Yesus bisa diijinkan untuk berkotbah si Sinagoga karena dalam Sinagoga memang ada kebebasan berkotbah. Jadi, kalau pemimpin sinagoga melihat seseorang yang ia anggap bisa berkotbah, maka ia mengijinkan orang itu berkotbah (bdk. Kis. 13:15). KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya.

Ayat 18-19 “Roh Tuhan ada pada Yesus”
Yesus mempunyai hubungan yang khusus dengan Roh Kudus, suatu hubungan yang penting untuk kehidupan pribadi kita. Dalam nubuat-nubuat PL tentang kedatangan Mesias, beberapa menubuatkan secara khusus bahwa Dia akan dikuasai oleh Roh Kudus (Yesaya 11:2; 61:1-2). Ketika Yesus membaca dari Yesaya 61:1-2 dalam rumah ibadat di Nasaret, Dia mengatakan “Pada hari ini genaplah nats ini sewaktu kamu mendengarnya” (Lukas 4:18-21).
Dalam petunjuk Yesus mengenai penggenapan nubuat Yesaya tentang kedatangan Roh di atasNya, Dia memakai ayat yang sama untuk meringkaskan sifat dari pelayananNya sebagai pemberitaan, penyembuhan dan pelepasan (Yesaya 61:1-2; Lukas 4:16-19). Yesus mengutip Yesaya 61:1-2 ini untuk menggambarkan misiNya di dunia ini.

  1. Roh Kudus mengurapi dan memberi kuasa kepada Yesus untuk misinya. Yesus adalah Allah (Yoh. 1:1), tetapi Dia juga manusia (1 Tim, 2:5). Sebagai seorang manusia, Ia harus  mengandalkan pertolongan dan kuasa Roh untuk melaksanakan semua tanggungjawabNya di hadapan Allah (Lukas 4:1, 14).
  2. Hanya sebagai seorang yang diurapi oleh Roh dapatlah Yesus hidup, melayani dan memberitakan Injil (Kis. 10:38). Dalam hal ini Dia menjadi teladan yang sempurna bagi orang Kristen; setiap orang yang percaya hendaknya menerima kelimpahan Roh Kudus.  

Yesus menerangkan maksud pelayananNya yang diurapi Roh, yaitu :

  1. Untuk menyampaikan Kabar Baik kepada orang miskin, papa, menderita, hina, patah semangat, hancur hati, dan mereka yang “gentar kepada firmanNya”.
  2. Untuk menyembuhkan mereka yang memar dan tertindas. Penyembuhan ini meliputi segenap pribadi, baik jasmani maupun rohani.
  3. Untuk mencelikan mata rohani mereka yang dibutakan oleh dunia dan iblis agar mereka dapat melihat kebenaran Kabar Baik Allah (bdk. Yohanes 9:39)
  4. Untuk memberitakan saat pembebasan dan penyelamatan yangsesungguhnya dari kuasa Iblis, dosa, ketakutan dan rasa bersalah (bdk. Yoh 8:36; Kis. 26:18).

Semua orang yang dipenuhi Roh terpanggil untuk ikut serta dalam pelayanan Yesus dengan cara-cara demikian. Untuk melakukannya kita harus menyadari sungguh-sungguh kebutuhan dan kesengsaraan yang diakibatkan oleh dosa dan kuasa iblis yang dasyat yaitu keadaan perbudakan kepada kejahatan, kehancuran hati, kebutaan rohani dan penderitaan fisik. Kita harus sadar bahwa tanpa Kristus keadaan kita secara rohani betul-betul buruk. Jikalau kita tidak menyadari hal ini, kita tidak akan datang kepada Yesus.

Ayat 20-21 “Yesus sebagai penggenapan janji Allah”
Setelah Yesus membacakan Yesaya 61:1-2, kemudian Dia menutup kitab itu, lalu duduk serta memulai untuk mengajar. KataNya : “Pada hari ini genaplah nats ini sewaktu kamu mendengarnya”. Dengan demikian Yesus hendak menyatakan bahwa Dialah penggenapan janji Allah dalam Yesaya 61:1-2, Mesias yang digambarkan oleh Yesaya adalah diriNya sendiri. Allah berjanji, maka Dia menepati janjiNya. Kata-kata Yesus pastilah mengejutkan para pendengarNya. Mereka sudah mengenal Dia sejak kanak-kanak dan mereka menerima Dia sebagaimana adanya. Ketika Dia mengklaim diri-Nya sebagai penggenapan nubuat Mesianis ini, mereka terheran-heran.

III. Aplikasi

Kehadiran Yesus di dunia ini sebagai Mesias yang diurapi merupakan penggenapan janji Allah kepada manusia untuk menyampaikan kabar baik bagi orang-orang miskin, pembebasan bagi orang tawanan, penglihatan bagi orang buta, membebaskan orang yang tertindas serta memberitakan tahun rahmat Tuhan. Hal ini memperlihatkan bahwa apa yang telah dijanjikan (dinubuatkan) oleh Allah maka ditepatiNya.

Dalam hidup keseharianNya, Yesus memiliki kebiasaan yang patut untuk kita teladani yaitu setiap hari Sabat, Dia ke Sinagoga. Bagaimana dengan kita ? Apakah tetap setia memuji Tuhan untuk beribadah di gereja setiap minggunya ? Tampakkah sikap menghormati serta menghargai Firman Tuhan dalam ibadah ?  Ataukah ketika Firman Tuhan diberitakan, asik ber-BBM, facebook, WA….atau tidur???

Janji Allah adalah kepastian bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Kita meyakini bahwa setiap janji Allah berlaku bagi kita umat-Nya. Kini sebagai umat milik-Nya, kita diajak untuk percaya bahwa Allah selalu menggenapi janji-janji-Nya. Kita meyakini karya Tuhan adalah kebaikan bagi hidup kita. Dengan percaya akan janji-janji Allah, kita memiliki pengharapan bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan keselamatan dan damai sejahtera. Rancangan Tuhan selalu indah pada waktunya. Iman kepada Kristus memampukan kita untuk menjalani hidup yang penuh dengan pergumulan ini dengan selalu berpegang teguh pada janji-janji Allah. Oleh karena itu marilah hidup ini kita jalani dengan keyakinan dan kepastian akan janji Allah. Selalu ada penyertaan, pertolongan dan perlindungan bagi yang bersandar pada Tuhan Allah.

Kepustakaan

  1. Stefan Leks, Tafsir Injil Lukas, Yogyakarta : Kanisius, 2003.
  2. Lembaga Biblika Indonesia, Tafsir Perjanjian Baru 3 : Injil Lukas, Yogyakarta : Kanisius, 1981.
  3. William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Injil Lukas, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009.
  4. Lembaga Alkitab Indonesia, Alkitab Edisi Studi, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2012.
  5. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2006.
  6. www.golgothaministry.org/lukas/lukas-4_14-30.htm

Pdt. Chrismori Br Ginting
GBKP Rg. Yogyakarta

Lebih lanjut...

   

Page 1 of 112

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 76 guests online