image image image image
Grand Opening GBKP Runggun Cikarang GBKP Cikarang yang telah disyahkan menjadi Jemaat/Runggun pada sidang GBKP klasis Jakarta-Bandung tanggal 10-12 Oktober 2014 di Hotel Rudian-Puncak,
PEMBINAAN BP RUNGGUN – RAMAH TAMAH TAHUN BARU – PENCANANGAN TAHUN PENINGKATAN SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA JEMAAT Pada tanggal 10 Januari 2015 di GBKP Runggun Bekasi telah di laksanakan kegiatan Pembinaan BP Runggun di Klasis Jakarta-Bandung. Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 Wib diawali kebaktian pembukaan oleh Pdt. Alexander Simanungkalit,
WISATA LANSIA GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG KE BANGKOK-PATTAYA Wisata Lansia yang menjadi salah satu program Bidang Diakoni GBKP Klasis Jakarta-Bandung telah dilaksanakan tanggal 8-11 Desember 2014 ke Bangkok-Pattaya. Wisata yang diikuti 47 peserta ini di damping Kabid Diakonia, Dk. Ferdinand M. Sinuhaji dan Pdt.S.Brahmana.
PEMBUKAAN SIDANG KERJA SINODE (SKS) DAN SIDANG PROGRAM & KEUANGAN (SPK) TAHUN 2014 Pembukaan Sidang Kerja Sinode (SKS) dan Sidang Program dan Keuangan (SPK) tanggal 22-25 Oktober 2014 telah dilaksanakan pada pukul 10.00 Wib, di dahului kebaktian pembukaan yang dipimpin Pdt.Vera Ericka Br.Ginting, direktur Percetaken dan Toko Buku GBKP Abdi Karya Kabanjahe,

Khotbah Roma 15:15-21, Minggu 16 Oktober 2016

Invocatio :
Dalam himpunan umat-Mu kuwartakan kabar gembira bahwa 
Engkau telah menyelamatkan kami. Dengan tiada hentinya hal itu
kumaklumkan, Engkau tahu semua itu, ya TUHAN.
 
Bacaan :
Mazmur 34:1-15
 
Tema :
TETAP LAH SAMPAIKAN
 
 
I. KATA PENGANTAR
• Perjalanan Napak Tilas yang dilakukan oleh Moderamen GBKP terhadap Pendeta-pendeta adalah merupakan sebuah perjalanan yang mengingatkan para Pendeta yang ikut dalam napak tilas tersebut betapa sulitnya pelayanan dalam menyampaikan kabar Injil ke Tanah Karo yang dilakukan oleh Pendeta-pendeta dari utusan NZG. Dimana dalam perjalanan tersebut di mulai dari Kuta Jurung, Rambe, Periaria, Buluh Gading, Laza, Sala Bulan, Rumah nangkong, Buluh Awar, Tanjung Beringin. Dalam setiap perjalanan Pendeta-pendeta diingatkan akan perjuangan Zending dalam mengabarkan berita Injil. Bahkan ada diantara mereka yang harus melihat kematian Istri dan anaknya sewaktu melahirkan (Pendeta Tampenawas), ada yang harus meninggalkan istrinya sendirian di Buluh Awar karena Pendeta tersebut meninggal dunia waktu pelayanannya di Buluh Awar (Pdt. J. Wijngaarden), dsb. Jika kita mengingat kembali akan perjuangan mereka tentunya sangat memotivasi kita semua Pelayan-pelayan Tuhan masa kini untuk setia dalam pelayanan kita.

• Para Zending sesungguhnya dapat tinggal di negerinya tanpa harus melewati kesulitan itu semua, akan tetapi mereka memutuskan untuk menerima pelayanan tersebut dengan suka cita meskipun banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Bahkan beberapa lagu KEE GBKP tercipta dari pergumulan yang dihadapi oleh para Pendeta Zending yang melayani ke Buluh Awar seperti KEE No. 69, “KATAKEN MAN YESUS”, Ini diciptakan oleh Pdt. J. Wijngaarden yang waktu itu menderita sakit perut. Ketika dibawa ke rumah sakit dia berkata kepada istrinya bahwa dia akan meninggal, karena istrinya bersedih akhirnya dia berkata bahwa dia akan menciptakan sebuah lagu untuk menghibur istrinya dan berkata kepada istrinya agar istrinya tetap bertahan untuk melayani di Buluh Awar. Masih banyak cerita yang menhgharukan lainnya yang dihadapi oleh para penginjil waktu itu. Kesulitan demi kesulitan mereka hadapi dan lewati hingga akhirnya para pelayan Tuhan baik Pendeta maupun Pertua Diaken dan semua jemaat dapat meneruskan pelayanan mereka untuk mengabarkan berita suka cita yakni berita Injil. Oleh sebab itu melalui firman Tuhan saat ini kita diajak untuk Tetap menyampaikan berita Injil..

II. PEMBAHASAN TEKS
• Dari Yerusalem sampai ke Ilirikum, Injil Kristus (19) telah diberitakan oleh Rasul Paulus. Pemberitaan ini merupakan hasil pemahaman Paulus akan statusnya sebagai rasul bahwa Tuhan memberinya kasih karunia untuk menjadi pelayan Kristus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi. Ia mengemban tugas imam dalam mewartakan Injil Allah supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, serta yang disucikan oleh Roh Kudus (15-16). Itu sebabnya Paulus tidak melakukan penginjilan ke Roma, karena sudah ada Petrus di sana.

• Paulus tidak mau membangun di atas dasar yang telah didirikan oleh orang lain (20). Ini bukan karena menghindari persaingan, melainkan agar daerah-daerah lain yang belum tersentuh oleh Injil dapat dijangkau juga. Paulus memang fokus pada panggilan untuk menjangkau bangsa-bangsa bukan Yahudi. Kesadaran akan panggilan itulah yang membuat Paulus memusatkan pikiran, usaha, dan kekuatannya untuk memenuhi panggilan yang telah dia terima.

• Paulus memang tidak mempunyai andil secara langsung dalam mendirikan jemaat di Roma. Namun sebagai rasul Kristus (1:1; 15:16), ia memiliki otoritas untuk mengajar dan menasihati mereka. Sama seperti jemaat lainnya, jemaat Roma, juga mempunyai masalah yang sangat serius, yaitu hubungan antara orang-orang Kristen Yahudi dengan orang-orang Kristen nonYahudi di dalam jemaat. Justru Paulus menyatakan bahwa ia mengemban tugas sebagai pelayan atau rasul Kristus bagi bangsa-bangsa lain. Tugasnya memberitakan Injil (16,19) dan memimpin bangsa-bangsa lain kepada Kristus (18). Kerasulan Paulus diteguhkan dengan tanda-tanda (19; bnd. 2Kor. 12:12) yang menunjukkan bahwa Kristus sendirilah sesungguhnya yang mengerjakan itu semua melalui dirinya. Paulus berbesar hati atas panggilan kerasulannya karena ia dikaruniai kehormatan memberitakan Injil di tempat-tempat yang belum mendengar Injil (Rm. 15:20-21). Dengan menegaskan kerasulan-Nya, Paulus menyatakan kerinduannya bersekutu dengan mereka, sehingga mereka boleh mendukung rencana pelayanannya ke Spanyol (24).

• Teladan Paulus yang patut kita ikuti adalah hak dan kewajiban tidak dicampuradukkan. Ia berhak didengar, namun ia tidak memaksa. Ia berkewajiban menginjili orang nonYahudi, ia melibatkan jemaat Roma untuk mendukung pelayanan mulia ini. Tanpa segan atau ragu Paulus memuji kelebihan dan keistimewaan Jemaat Roma. Mereka penuh dengan segala kebaikan, memiliki banyak pengetahuan dan karunia saling menasihati (ayat1). Pujian rasul ini tentu sangat menyukakan hati jemaat.

• Paulus tanpa segan mengingatkan orang Roma tentang panggilannya sebagai rasul bagi orang non-Yahudi. Sebagian orang Kristen Yahudi meremehkan orang non-Yahudi, tetapi Paulus malah bangga boleh dipanggil menjadi rasul bagi mereka yang bukan Yahudi. Dengan girang ia menyaksikan perbuatan Tuhan yang sangat memberkati pelayanannya (ayat 17-19), disertai kuasa dan tanda mukjijat. Pelayanan dalam panggilan dan penyertaan Tuhan memang tidak akan membuat kita kecewa atau menyesal. Sebagai Kristen pelayan Injil, hidup kita tidak luput dari tantangan atau salib. Panggilan yang jelas dan penyertaan Tuhan akan membuat kita kuat berjuang dan pada waktunya 'menuai' penuh sukacita.

• Prinsip pelayananan Paulus adalah ia berprinsip melayani Injil di wilayah (bidang) yang belum pernah dijangkau atau dijamah orang lain (ayat 20-21). Paulus rela keluar dari Yerusalem (pusat kehidupan budaya-agama Yahudi) dan melakukan perjalanan misi ke daerah-daerah baru wilayah orang kafir.

• Paulus mau melakukan itu semua karena Paulus sudah merasakan penyertaan Tuhan dalam hidupnya dan bagaimana kehidupannya diubahkan Tuhan setelah dia bertemu dengan Yesus. Sebagaimana yang dijelaskan dalam bacaan kita Mazmur 34:1-15 dimana Mazmur ini mengajak para pembacanya untuk mengalami Tuhan. Alami sendiri kebaikan-Nya (ayat 9) sebagaimana yang telah pemazmur rasakan. Apa yang pemazmur rasakan dan alami? Rupanya mazmur ini lahir dari pengalaman Daud yang dilindungi Tuhan saat melarikan diri dari Saul, yang hendak membunuh dirinya (ayat 1; lih. 1 Samuel 18-27). Sebagai seorang buronan, berulang kali Daud mengalami kesesakan, penindasan, dan merasa terjepit. Namun setiap kali ia menjerit kepada Tuhan, Tuhan menolong tepat pada waktunya (ayat 7). Perlindungan Tuhan dirasakan bagai dijaga oleh pasukan malaikat yang mengelilingi dia (ayat 8). Bagaikan satpam atau pengawal khusus yang dua puluh empat jam sehari menjaga penuh. Pemazmur mengajak para pembacanya merespons Tuhan agar pengalaman hidup mereka diperkaya, mazmur mengajak pembacanya agar mau memandang Tuhan sehingga hidup mereka akan penuh kesukacitaan (ayat 7). Pemazmur juga mengajak pembacanya agar takutlah akan Tuhan, maka Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kita (ayat 10-11).
 
III. APLIKASI
• Sebagaimana yang dijelaskan di kata pengantar, bagaimana para Zending mau meninggalkan zona amannya di negerinya sendiri dan pergi ke Tanah Karo yang penuh dengan tantangan bahkan sampai meninggal duni atau melihat istri dan anak meninggal dunia. Demikianlah dalam khotbah kita minggu ini, kita diajak untuk tidak diam di zona aman kita tapi keluar untuk memberitakan kabar keselamatan bagi semua orang.

• Mungkin saja dalam kehidupan kita dipenuhi oleh berkat-berkat Tuhan yang melimpah, kita memiliki jabatan yang tinggi, kita tidak memiliki persoalan yang berat seperti yang dihadapi orang lain, tapi apakah kita pernah terpikir untuk keluar dari zona aman kita untuk memberitakan kasih Tuhan yang sudah kita rasakan dalam hidup kita supaya dapat dirasakan oleh orang lain?

• Sebagai orang beriman kita dituntut untuk mau keluar dari zona aman kita memberitakan kabar keselamatan bagi setiap orang baik dari perkataan kita maupun perbuatan kita. Mungkin banyak tantangan yang harus kita lewati tapi yakinkan satu hal bahwa Tuhan tidak akan pernah diam dalam setiap pergumulan kita tetapi Tuhan akan bekerja ketika kita berseru kepadaNya. Mengalami Tuhan bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tak usah menunggu saat tekanan hidup tak tertahankan lagi. Alami Tuhan dengan melibatkan Dia dalam segala aspek hidup kita. Dekatkan diri pada-Nya dengan sikap yang terbuka agar Dia dengan bebas menyapa dan menjamah hidup kita. Saat kita mengalami kehadiran atau pertolongan-Nya, naikkan syukur bersama-sama umat Tuhan lainnya. Mahsyurkan nama-Nya di hadapan orang lain. Jangan pernah berhenti mewartakan kabar suka cita kepada setiap orang tapi berusahalah senntiasa untuk dapat mewartakan kabar suka cita (Injil) kepada setiap orang. Seperti yang dikatakan dalam Invocatio “ Dalam himpunan umat-Mu kuwartakan kabar gembira bahwa Engkau telah menyelamatkan kami. Dengan tiada hentinya hal itu kumaklumkan, Engkau tahu semua itu, ya TUHAN. Amin
 
Pdt. Jaya Abadi Tarigan
Rg. Bandung Pusat
   

Khotbah Kisah Para Rasul 16:13-15,40, Minggu 09 Oktober 2016

Invocatio :
Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, 
tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji. Amsal 31 : 30

Bacaan :
Keluaran 1 : 15 – 22 (Responsoria)
 
Thema :
Wanita Yang Takut Akan Tuhan
 
 
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan,
Ketika di dalam keluarga, apabila kita memiliki seorang anak laki-laki yang sudah beranjak dewasa; kira-kira apakah yang akan kita katakan sebagai seorang ayah kepada anak kita tersebut. Apakah : “Nak, apa bila nantinya engkau ingin berumahtangga, maka carilah wanita seperti ibumu” atau “Nak, jangan cari istri seperti ibumu”. Dan bagaimanakah reaksi sang anak kepada kita. Bisa saja anak akan mengatakan : “Pa... aku akan berusaha untuk mendapatkan istri seperti mama” atau “Pa, aku merasakan betapa tidak enaknya punya istri seperti mama”. Untuk alasan pertama, kita nyatakan itu kepada sang anak karena kita mengiinginkan agar anak juga ketika berumahtangga akan mendapatkan dan merasakan betapa “berartinya” kehadiran seorang istri seperti itu. Namun untuk yang kedua, karena “pengalaman hidup” yang dirasakannya dan juga beserta anak-anak tidaklah seperti yang diharapkan.
 
Di sini, kita belum menyentuh tentang bagaimana kehidupan iman “sang wanita” atau “istri” itu dalam kehidupannya. Namun hampir bisa kita menyatakan bahwa bila dari kedua orang tipikal wanita itu walaupun sama-sama punya Tuhan yang sama, dan mungkin sama-sama juga “aktif” dalamm kehidupan “berTuhannya”; PASTI ADA YANG BERBEDA. Hal yang mungkin membedakan itu adalah soal “kedalaman” dari rasa keberTuhanan itu. Untuk tipikal yang pertama, Tuhan ditempatkan sebagai Subjek “keberTuhanannya”, sedangkan untuk tipikal yang kedua, bukan Tuhan sebagai Subjek tapi kehadirannya sebagai manusia yang berTuhan hanya berada pada tatanan kulit atau penempatannya dalam tatanan sosial biasa.
 
Lalu, apakah yang menjadi dasar pegangan dan harapan kita ketika kita membicarakan tentang keberadaan “wanita” (baca : istri dan ibu) dalam kehidupan keluarga dan juga gereja. Karena, minggu ini memang secara khusus kita diajak untuk melhat seperti apa wujud atau tipikal yang ideal.

Saudara-saudari Yang Dikasihi Tuhan,
Minggu ini secara khusus ibadah kita mulai dari invocatio, bacaan Alkitab, bahan khotbah dan juga thema erat hubungannya dengan “dunia wanita”. Invocatio menegaskan tetang dua hal yang sangat tegas yakni tentang kehidupan jasmani dan kehidupan rohani. Hal yang bersifat jasmani tidak akan pernah kekal, tapi barangsiapa yang hidup memelihara kerohaniannya adalah hal yang disenangi oleh Tuhan dan manusia. Pada bagian bacaan Alkitab yang dituangkan di kitab Keluaran, juga menggambarkan sosok “wanita” yang secara kodratnya hidup lebih dekat dengan “perasaan” Para “wanita” berani menentang “perintah raja” yang pada jamannya adalah sebuah tindakan yang mengandung resko tinggi yakni mendapatkan hukuman yang berat, bahkan bisa berujung ke kematian. Ini dikarenakan mereka mendapat perintah untuk “membunuh” setiap bayi laki-laki yang lahir dari orang Ibrani. Namun perintah itu tidak dijalankan, apa yang menjadikan mereka seperti itu? Dalam kehidupan umat manusia, apabila bila didapati seorang wanita (baca : ibu) melakukan kekejaman terhadap anak-anak, maka akan banyak ungkapan yang sangat keras dialamatkan kepadanya, seperti : Kejam, Sadis, Biadab, Tak berperikemanusiaan, Tak berperasaan, dan lain sebagainya. Ternyata, para wanita dalam bacaan kita adalah wanita-wanita yang sangat “berperilaku luar biasa”. Keberanian mereka melakukan itu dikarenakan “rasa iba” dan yang terpenting perlu digarisbawahi ialah karena Takut Akan Tuhan. Upah yang mereka dapatkan...... Berkat yang besar dari Tuhan.
Selanjutnya, pada bagian khotbah juga ditekankan bagaimana sosok wanita yang luar biasa. Dimulai dari perilaku setia mendengar, mau menerima Yesus, hingga “memaksa rasul” untuk tinggal atau menginap di rumahnya. Suatu tindakan yang jika dipandang dari sisi dunia adalah tindakan yang hanya buang-buang waktu, tenaga dan juga dana. Tapi dari sisi pandang keimanan, maka apa yang dilakukan oleh “wanita ini” adalah suatu tindakan yang sangat disenangi oleh Tuhan. Mengapa? Dari hukum utama yang Yesus ajarkan, “kasihilah Tuhan Allahmu” dan “kasihilah sesamamu” benar-benar terwujud dalam diri wanita ini. Ada perhatian yang sangat serius ketika mendengaran pengajaran yang disampaikan oleh rasul, “meng’amini’nya” dengan memberi dirinya untuk dibabtis. Dan sebagai wujudnyata dari mendengar pengajaran itu, tergerak hatinya untuk menyambut rasul dan temannya untuk menginap di rumahnya. Ini menggambarkan keyakinannya bahwa apa yang dilakukannya pasti akan mendapat dukungan dari keluarganya. Artinya, keberadaan sang wanita dalam keluarga menjadi sangat penting dan punya pengaruh yang besar. Dan saya berkeyakinan bahwa bukan karena anggota keluarga adalah “anggota DKI” (di bawah kekuasaan istri dan di bawah kekuasaan ibu). Tapi lebih pada pengaruh baik dan tanggungjawab yang diperlihatkan sang wanita terhadap keluarganya.
 
Saudara-saudari yang Tuhan kasihi,
Dari uraian di atas, sepertinya sudah terjawabtentang hal : Lalu, apakah yang menjadi dasar pegangan dan harapan kita ketika kita membicarakan tentang keberadaan “wanita” (baca : istri dan ibu) dalam kehidupan keluarga dan juga gereja. Karena, minggu ini memang secara khusus kita diajak untuk melhat seperti apa wujud atau tipikal yang ideal.
 
Ada 2 hal yang bisa saya kemukakan tentang wanita yang menjadi idaman atau harapan kita yang hendaknya mewujudnyata dalam kehidupan kita :

1. Wanita yang takut akan Tuhan
Wanita yang digambarkan melalui tiga bagian Alkitab(invicatio, bacaan, dan juga khotbah) adalah wanita-wanita yang meletakkan kehidupan yang berkhikmad kepada Tuhan. Apapun yang mereka hendak lakukan dalam kehidupannya, senantiasa “mendengarkan Suara Tuhan”, sehingga ketika ada tindakan yang mereka lakukan jelas “menyenangkan hati Tuhan”. Dan tanpa menyadari dan berfikir tentang apa upah yang akan diberikan oleh Tuhan, justru disanalah Tuhan menyertai dan memberkati kehidupan mereka. Bukan hanya pemeliharaan dirinya tapi juga orang-orang yang dikasihinya juga mendapatkan aliran berkat Tuhan.

2. Wanita yang diharapkan juga hadir dalam kehidupan kita adalah wanita yang punya kepedulian terhadap orang lain. Artinya, wanita yang mampu bersosialisasi dan juga berbagi dengan setiap orang yang ada di sekitarnya. Bukan karena ingin “ditinggikan” dan “dihargai”, tapi semata-mata karena itulah panggilan kehidupannya.
 
Sebagai akhir dari khotbah hari ini, yang ingin kami sampaikan dan tegaskan ulang khususnya bagi setiap wanita yang hadir diibadah ini adalah jadilah wanita-wanita yang takut akan Tuhan dengan mencari dan melaksanakan apa yang diinginkanNya. Lalu, punya kepedulian terhadap sesama tanpa meninggalkan juga mengasihi diri sendiri (seperti bersolek, berpenampilan baik, bahkan pakailah perhiasan yang mempercantik diri tapi tanpa berlebihan; karena itu juga diperlukan). Dan bagi setiap laki-laki yang juga hadir di ibadah ini, hargai, dukung dan berikan perhatian yang pantas juga bagi setiap wanita yang berupaya untuk menghadirkan dirinya seperti isi firman yang kita dengar hari ni. Khususnya bagi setiap laki-laki yang masih berstatus “mencari pasangan hidup”, carilah tipikal wanita seperti ini, paling tidak yang mendekati isi firman ini agar nantinya akan mendapat berkat yang besar dari Tuhan kita. Amin
 
Pdt. Benhard Roy Calvyn Munthe
081361131151
Rg. Cisalak
   

Khotbah Mazmur 149:1-9, Minggu 02 Oktober 2016

Invocatio :
Dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur,
kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.( Efesus 5:19)

Bacaan :
2 Samuel 6: 1-5

Tema :
Menari dan Bernyanyi dengan Penuh Ucapan Syukur
 
 
I. Memahami Teks bacaan I
Pelanggaran terhadap kekudusan Allah dan pelecehan terhadap hadirat Allah dipandang sebagai kejahatan serius olehAllah. Namun kekurangpekaan kita terhadap hadirat Allah dan kekudusanNya memasuki hadiratNya. Pasal ini memperlihatkan bahaya kurangnya sensitivitas terhadap hadirat dan kekudusan Allah.
 
Dengan dijadikannya Yerusalem sebagai pusat pemerintahan, membuat Daud ingin menempatkan tabut Allah di kota itu sebagai lambang kehadiranNya ( 1-3). Namun sayangnya, pemindahan tabut dilakukan tidak sesuai dengan aturan Tuhan ( bdk. Kel. 25: 12-15). Tabut dibawa dengan kereta, padahal seharusnya diusung oleh orang Lewi dari keluarga Kehat ( Bil. 4:15). Dalam hal ini di saat pemindahan tabut Daud dan seluruh umat Israel menari dan bernyanyi untuk memuji Tuhan dan nyanyian mereka diiringi dengan alat musik kecapi, gambus, rebana dan ceracap. Yang dilakukan Daud ini mereka menyatakan dengan nyanyian itu memuji nama Tuhan dan dengan sepenuh hati untuk mengucap syukur kepada Tuhan.
 
II. Memahami Teks bacaan II
Mazmur 149 menyerukan agar umat Israel dipanggil untuk memuji Tuhan dengan penuh sukacita , bahkan sorak sorai dan tari-tarian diiringi musik rebana dan kecapi. Alasan utama memuji Tuhan disini adalah karena TuhanberkenankepadaumatNYadankemenangan yang Ia telah berikan kepada umatNya atas musuh-musuh mereka. Dengan memuji Tuhan mereka mengakui bahwa Tuhanlah sumber kemenangan mereka, bukan jasa atau kekuatan mereka ( ayat 4). Oleh karena itu, mereka bisa berbaring dengan damai bahkan bersorak-sorai ( ay. 5). Pujian disini bisa berlatar belakang dalam sejarah Israel, entah pada masa permulaan ketika Tuhan memerdekakan secara tuntas dari perbudakan Mesir, ataupun pada saat-saat masalah datang dan Tuhan memberi keselamatan dan jalan keluar terhadap masalah yang mereka hadapi. Kemenangan yang Allah berikan kepada Israel berarti kekalahan para musuh. Oleh karena itu bagian kedua mazmur berisikan seruan pembalasan terhadap bangsa-bangsa yang dahulu telah memusuhi dan menganiaya mereka. Pembalasan ini tidak bersifat pribadi, melainkan dalam rangka menegakkan keadilan Allah. Pedang bermata dua menjadi alat penghukuman Allah atas mereka. Pertama, membalas kejahatan setimpal ( ay. 7), kedua, membelenggu kuasa kejahatan ( ay.8), ketiga, melaksanakan penghukuman sesuai dengan firman Tuhan ( Ay. 9). Ketiganya bisa juga ditimpakan kepada Israel kalau mereka berubah setia pada Tuhan.
 
III. Refleksi
Jika kita lihat hal pujian penyembahan nyata melanda gereja Tuhan, kegerakan rohani terjadi dimana-mana, kepada siapa puji-pujian kita tujukan? Puji-pujian kita harus tertuju dan terpusat kepada Tuhan, bukan kepada hamba Tuhan, peminpin pujian atau pemain musik karena hanya Tuhan yang menerima pujian dan kemuliaan. “ Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa, sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu, dan oleh karena kehendakMu semuanya itu ada dan diciptakan ( Wahyu 4:11. )
 
Apa itu pujian? Adalah ungkapan hati penuh sukacita dan ucapan syukur kepada Tuhan karena kasih setiaNya, kebaikanNya, anugrahNya, pertolonganNya, kemenanganNya dan perbuatanNya yang ajaib. Dalam memuji dan menyembah Tuhan sudah kah kita memahami dan meresapi setiap kata yang kita nyanyikan?. Jika tidak, berarti kita memuji dengan bibir saja, sedangkan hati kita jauh dari Tuhan.
 
Dalam hal ini mazmur ini bisa kita pakai untuk memuji Tuhan, karena Dia sudah memberikan kemenangan kepada kita atas kuasa Dosa, dan bahwa pelaku dosa akan menerima pembalasan yang setimpal. Namun, kita bisa selangkah lebih maju karena Kristus sudah mati buat kita yang telah berdosa. Pembalasan yang setimpal sudah di timpakan kepada Kristus. Oleh karena itu, bagi kita yang sudah mendapatkan kemenangan marilah kita menari dan memuji nama Tuhan dengan sepenuh hati dan selalu mengucap syukur atas apa yang telah diberikan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Suka dan duka terjadi dalam hidup kita namun teruslah berjalan, bernyanyi menari, dan mengucap syukur pada Yesus. Amin.
 
Pdt. Rosliana Br Sinulingga
Rg. Semarang
   

Khotbah Keluaran 17:8-16, Minggu 04 September 2016

Invocatio :
Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-
jalan orang benar (Amsal 2:20)

Bacaan :
Kejadian 39:1-6 (Tunggal)

Tema :
Permata GBKP Terteki
 
 
1. Memahami dan Merenungkan Bacaan 1
a. Yusuf diperkirakan dijual pada saat usia 17 tahun dan diperkirakan bahwa Yusuf berada di rumah Potifar selama lebih kurang 10 tahun. Sekalipun dia berada di rumah Potifar tetapi dia tetap disertai oleh Tuhan (ay. 2). Dan penyertaan tersebut menyebabkan ada step-step kemajuan hidup Yusuf di rumah Potifar. Kemajuan tersebut adalah; segala yang diperbuatnya berhasil (ay. 2b). Potifar melihat bahwa Tuhanlah yang membuat pekerjaan Yusuf berhasil (ay. 3a) dan ini menyebabkan Potifar mengijinkan Yusuf melayani dia (ay. 4a). Tuhan memberkati Yusuf, bukan saat Yusuf berdiam diri, tetapi saat Yusuf juga bekerja. Ini terlihat dari kata-kata “Pekerjaannya” (ay. 2), “dikerjakannya” (ay. 3), “melayani dia” (ay. 4). Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan memberkati orang yang malas.

b. Potifar menyerahkan segala miliknya dalam kuasa Yusuf, sehingga dengan bantuan Yusuf ia tidak perlu mengurus apa-apa lagi kecuali makanannya sendiri (ay. 4b-6). Memang tidak diizankan bagi seorang Ibrani untuk mengurus makanan orang Mesir karena itu dianggap sebagai kekejian.

c. Penyerahan segala sesuatu ke dalam tangan Yusuf menyebabkan Potifar diberkati oleh Tuhan. (ay. 5b). Sama seperti Laban diberkati karena kehadiran Yakub (Kej. 30:27). Perenungan bagi kita bahwa kehadiran kita dimanapun kita bekerja, kita menjadi berkat bagi orang lain dan sekitar kita. Tetapi, penyebab utama dari semua itu adalah kedekatan dengan Tuhan. Kita akan menjadi berkat bagi orang lain, disaat kita terkoneksi baik dengan Tuhan. Yusuf disebut sebagai orang berhasil, bahkan akhirnya dipercaya sebagai penguasa Mesir (pada akhirnya) karena ia memiliki Tuhan yang hidup, yang senantiasa menyertai hidupnya. Keberhasilan Yusuf bukan karena apa yang dia miliki tetapi siapa yang dia miliki yaitu TUHAN yang dalam Efesus 3:20 dikatakan "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita"

d. Selama 10 tahun Yusuf ada di rumah Potifar dan oleh sebab “Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya” (ay. 6b). Dan kita bandingkan dengan ayat 10a “Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.” Tetapi Yusuf tetap masih bertahan dalam iman. Ini menunjukkan kehebatan Yusuf. Selama 10 tahun hidup di kalangan orang kafir, kerohaniannya bisa tetap terjaga dengan baik. Iman Yusuf tidak tergantung kondisi luar. Sekali lagi, bahwa Yusuf tidak melakukan hal zinah dengan istri Potifar bukan karena takut dengan Potifar yang merupakan tuannya, tetapi karena dia takut akan Tuhan. Yang perlu kita renungkan adalah ketika saat ini orang-orang lebih takut berbuat hal negatif dihadapan manusia daripada dihadapan Tuhan. (ingat lagu KAKR “mata Tuhan melihat apa yang kita perbuat”). Jadi kalau tidak mau berdosa jangan dekati sumber dosa. Yusuf ketika digoda istri Potifar dia lari keluar (ay. 13) bukan lari ditempat. Ingatlah bahwa “integritas diuji saat kita merasa tidak ada ORANG yang melihat”. Integritas adalah menyatunya kata dan perbuatan atau menyatunya iman di dalam tindakan nyata. Alkitab berkata : ...TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya. Keberhasilan merupakan anugerah Allah. Tetapi, pada tingkat tertentu keberhasilan bisa menjadi jerat yang membuat dia lupa diri. Karena itu, keberhasilan yang sejati harus disertai dengan integritas yang teruji. Jangan mau kompromi dengan dosa. Ula kari ninta “sekali nge!” sekali nge lebe maka dua kali ras seterusna. Ingat PERMATA, saat ini banyak sekali yang “harga dirinya” murahan, tidak menjaga kekudusan saat masih PERMATA. Jangan sekali-sekali berzinah! Ada kalimat mengatakan “carilah pasangan yang mengajakmu buka Alkitab, bukan mengajakmu buka baju”

e. Memang kita tidak bisa menghindari adanya dosa ataupun godaan-godaan. Tetapi seperti kata Marthin Luther “Kita tidak bisa menghalangi burang terbang di atas kepala kita, tapi kita bisa mencegah burung bersarang di atas kepala kita”. Artinya dosa dan godaan akan tetap ada, tetapi jangan itu yang menguasai kita, sehingga kita benar-benar menjadi orang yang bisa dipercaya. Luk. 16:10 "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Perlu diingat oleh setiap kita secara khusus oleh PERMATA, dalam mencari pekerjaan atau pasangan hidup tetaplah berintegritas, TUHAN sendiri yang akan mem-PROMOSI-kan kita. Seperti Yusuf yang diberi kemampuan untuk menafsir mimpi Firaun yang pada akhirnya menjadi orang nomor dua di Mesir. Akan tetap ada cara ajaib Tuhan yang jauh di luar nalar kita.
 
2. Memahami dan merenungkan bacaan ke 2
a. Menurut Kej.36:12, “Timna adalah gundik Elifas anak Esau; ia melahirkan Amalek bagi Elifas. Itulah cucu-cucu Ada isteri Esau,” Amalek adalah cucu Esau. Dan Bilangan 24:20, Amalek adalah bangsa pertama yang melawan Israel, “Ketika ia melihat orang Amalek, diucapkannyalah sanjaknya, katanya: Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan.” Amalek memerangi Israel karena ingin merebut sumber air.

b. Nats ini bercerita tentang pertempuran antara Israel dan Amalek di Rafidim. Tetapi pertempuran itu adalah pertempuran dimana Allah sendiri yang berperang melawan Amalek (Ul.25:17–19; Kel.17:14). Amalek jelas-jelas memberontak kepada Allah, sehingga Allah-lah yang berperang. Sehingga Musa naik ke bukit, dan berdoa, dan bukannya membuat mujizat langsung dari tongkat. Hasil doa Musa, Allah dikenal sebagai Jehovah Nissi (Tuhan panji-panji Israel). Satu-satunya tempat dalam Alkitab dimana Tuhan disebut sebagai Jehovah Nissi. Jehovah Nissi menunjukkan bahwa ketika Israel melangkah menuju Kanaan, Tuhan menyertai. Tuhan menjadi “penunjuk arah” bagi umatNya. Yang perlu kita renungkan adalah dunia dan segala isinya ini banyak menawarkan segala-sesuatu, tetapi ingatlah bahwa Allahlah Sang Penuntun hidup kita yang sejati. Jangan mengikuti arah yang dunia ini inginkan, tetapi ikutklah YEHOVAH NISSI (TUHAN Panji-panji Israel Sang Penuntun).

c. Perjalanan kehidupan kita persis sama seperti proses keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Di tengah jalan banyak tantangan dan rintangan. Ingat, bahwa menjadi Kristen tidak pernah ditawarkan jalan penuh dengan bunga mawar bahkan dikatakan “harus pikul salib”. Menjadi PERMATA saat ini memiliki tantangan tersendiri. Baik tantangan dari dalam diri sendiri yaitu keinginan daging dan tantangan dari luar seperti misal teknologi-medsos-game online dsb. Ingatlah bahwa kita tidak akan mampu jika mengandalkan kemampuan diri sendiri dalam menghadapi tantangan tsb. Efesus 6:11-18 “ Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus” Jangan memberi kesempatan mata untuk melihat sesuatu yang mendatangkan dosa, telinga jangan dipersiapkan untuk mendengar hal-hal yang membuat hati kita rusak, pikiran dilindungi oleh damai sejahtera Allah, mulut dijaga supaya tidak mengeluarkan kata-kata tidak baik. Ini semua dikenakan pada kepala kita sebagai ketopong keselamatan.

d. Dalam hukum perang, seorang yang mengangkat tangan di hadapan musuh menunjukkan tanda menyerah. Demikian pula saat Musa mengangkat kedua tangannya, berarti dia merasa tidak mampu menghadapi Amalek sehingga Tuhan berperang melawan Amalek. Bukti kehidupan yang menyerah sepenuh kepada Tuhan ialah ‘bila kita mengangkat tangan, Tuhan akan turun tangan’. Mengangkat tangan juga berarti berada di pihak Allah; kalau Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita (Rom. 8:31).

e. “Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya supaya ia duduk di atasnya. Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam.” (ay. 12) Tugas pekerjaan besar hanya akan berhasil kalau dilakukan bersama-sama dalam kesatuan sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak namun semua anggota meskipun banyak merupakan satu tubuh; demikian pula Kristus (1 Kor 12:12). PERMATA bukan “aku” tetapi “kita”. Biarlah setiap anggota tidak mementingkan dirinya sendiri. Jaga integritas dan biarlah segala tanggungjawab yang diemban seperti Yusuf dan Yosua tetap bisa dipercaya.
 
Pdt. Dasma S. Turnip
Runggun Pontianak
   

Khotbah Lukas 15:11-24, Minggu 21 Agustus 2016

Invocatio :
Orang benar yang bersih kelakuannya – berbahagialah
keturunanannya (Amsal 20:7)

Bacaan :
Kejadian 13:1-12

Tema :
Ayah yang Baik (Bapa Si Melias)
 
Pendahuluan
Untuk memahami kasih Allah bagi manusia dan memperjelas ajaran Allah Yesus sering memakai sebuah perumpaan (kiasan). Maksud dan tujuan Yesus sebenarnya bukanlah mengemukakan perumpaan itu saja, melainkan menyampaikan Injil atau Kabar Baik melalui perumpamaan. Dengan perumpaan biasanya para pendengar lebih kosentrasi untuk mendengarkannya. Karena tampa kosentrasi, pendengar tidak akanmengerti isi dan tujuan perumpaan itu. Dengan perumpaan pendengar diajak untuk berpikir dengan serius.
 
Lukas 15 sebagai ajaran Yesus dengan menggunakan perumpaan, perumpaan yang disampaikan Yesus untuk menekankan bagaimana pandanga Yesus terhadap orang berdosa berbeda dari pandangan Farisi dan ahli-ahli Taurat. Faris dan ahli Taurat keberatan atas tindakan Yesus terhadap para pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Sebab bagi orang Farisi dan dan ahli Taurat, mereka adalah orang-orang yang berstatus ‘tidak masuk hitungan’ di tengah masyarakat dan harus disingkirkan. Barangsiapa masih memihak kepada orang-orang seperti itu pantas untuk dicurigai. Itulah sebabnya orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut karena Yesus seakan-akan memanjakan orang itu. Tapi melalui perumpaan ini Yesus menekankan bahwa kehadiran Dia di dunia untuk mencari orang-orang yang hilang atau orang-orang yang tersingkirkan. Sebagi wujud kasih Allah sebagai Bapa untuk manusia sebagi anak-anakNYa.
 
Penjelasan
Perikop Firman Tuhan dalam Lukas 15:11-24 mengambarkan kasih seorang bapa yang mengenal akan sifat dan karakter kedua anaknya. Walau pun bukan hal yang sopan dan wajar yang telah dilkukan oleh anaknya yang bungsu/muda dengan meminta warisan sebelum ayahnya meninggal . tapi itu juga diberikan oleh ayahnya. Setelah menerima bagiannya maka dia pergi meninggalkan ayahnya (tradisi Yahudi seorang anak yang sudah menerima warisan orang tua harus meninggalkan rumah). Dan harta yang sudah diperoleh dipergurnakan hanya untuk kesenangan dunia sampai harta itu habis dan dia kelaparan di negeri orang dan tidak seorang pun yang perduli dengan kesusuhan yang ada padanya. Dalam kondisi kelaparan dan penolakan orang-orang disekitarnya ia mengingat akan rumah ayahnya yang berlimpah makanan, dan penuh keyakinan ia bergerak untuk pulang dan kepulanganya disambut dengan sukacita oleh ayahnya dengan dengan pesta yang meriah dengan tidak pernah memperhitungkan kesalahan yang telah dilakukan anaknya (ayat 24). Tapi apa yang dilakukan ayahnya tidak menjadi sukacita oleh anaknya yang sulung/tua, sebab ia merasa apa yang telah dilakukan oleh adiknya selama ini tidak benar terhadap ayahnya tapi mengapa ayahnya sangant bersukacita akan kehadirannya. Ia yang selama ini ada bersama ayahnya dan melakukan apa yang jadi aturan dirumah ayahnya malah tidak pernah merasakan apa yang dilakukan ayahnya kepada adiknya yang sudah pulang (ayat 25).
 
Dalam kerajaan Allah terdapat sukacita dan kegembiraan yang tiada taranya. Hanya orang yang benar-benar telah berada di dalam Kerajaan Allah itu yang dapat merasakannya. Bukan berarti hal itu mulai berlaku disurga, tetapi ketika kita masih berada di dunia ini. Orang-orang yang tidak mengenal Kerajaan Allah memang tidak akan bisa merasakannya, bahkan mengkritiknya. Itu yang dilakukan oleh orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak merasa sukacita dengan bertambahnya pengikut Kerajaan Allah. Sehingga menjadi pertanyaan apakah mereka sudah menjadi penghuni Kerajaan Allah, karena kalau sudah tentu mereka turut bersukacita dengan yang dilakukan , Yesus,menerimaorang-orang berdosa yang sudah bertobat.
 
Dengan adanya pertobatan itu, ,maka warga Kerajaan Allah semakin bertambha dan sukacita pun tidak dapat dihambat. Orang yang tadinya hilang dapat kembali, sama artinya dengan orang yang tadinya mati menjadi hidup kembali. Tentu wajar sekali terjadi sukacita dan kegembiraan yang luar biasa.
Sukacita itu bukan hanya pada Allah Bapa atau pada Yesus Kristus yang telah berhasil menyelamatkan orang-orang yang percaya yang telah berhasil menyelamatkan orang-orang yang percaya, tetapi juga berlaku bagi ‘penghuni’ kerajaan Allah itu. Tidak ada iri hati atau cemburu atas kehadiran ‘orang lain’, yang pernah dianggap golongan atau setingkat pemungut cukai da orang-orang berdosa.

Tugas orang-orang beriman yang lebih dahulu masuk ke dalam Kerajaan Allah ialah menyambut orang-orang yang bertobat dengan penuh sukacita tampa kritik. Sebab orang-orang berdosa sama dengan orang-orang pemberontak terhadap Allah, dan Allah sendiri melihat mereka sama seperti orang-orang yang telah mati, karena akibat dosa atau kematian. Kalau orang yang telah bertobat, yang kembali ke rumah bapa-bukan dalam arti meninggal –kembali ke dalam Kerajaan Allah sudah sepantasnya disambut dengan penuh sukacita.
Kasih Allah yang mau menerima orang-orang bertobat adalah dasar sukacita. itulah sebabnya perumpamaan ini, perumpamaan tentang kasih Bapa, bukan hanya perumpaman tentang anak yang hilang. Penekanannya terletak pada tindakan kasih Bapa, yang menyambut kembali anak-anaknya yang sempat hilang. Pantaslah sukacita Allah adalah juga sukacita kita semua.
 
Penutup
Perumpaan anak yang hilang menjadi gambaran kasih Bapa si surga akan anak-anaknya, yang tidak memperhitungkan kesalahan-kesalahan masa lalu anaknya. Memberikan pilihan yang menurut anak-anaknya baik bagi mereka. Seperti Abram (Bapa orang percaya) yang memberi pilihan kepada Lot untuk tanah yang menjadi tempat tinggalnya. Walau pun secara penglihatan tanah yang dipilih Lot adalah tanah lebih bagus tapi Abram selaku bapa yang biasanya berhak untuk lebih dulu memilih bagiannya tidak melakukan hal tersebut(Kej. 131-12).
 
Minggu ini adalah Minggu Mamre GBKP, HUT Mamre GBKP yang ke 21 tahun. Seperti arti dan makna istilah Mamre yang dipakai sebagai persekutuan kaum bapa di GBKP menjadi tempat persembahan kepada Allah atau membawa/menjadi iman untuk membawa keluarga menjadi persembahan bagi Allah (bnd. Kejadaian 18:1). Maka kehadiran Mamre ditengah keluarga harus mampu menunjukkkan bagaimana Kasih Bapa bagi umatnya. Dengan tema khotbah Bapa Si Melias, kehadiran ayah untuk anak yang hilang menunjukan mamre juga mampu menjadi ayah yang sangat dirindukan oleh anak-anaknya dan keluarganya yang diyakini akan adanya kedamaian bagi setiap keluarga. Memberi keputusan yang bijak atas keinginan anak-anaknya/keluarga (bnd. Abram). Dalam rangka mewujudkan Kasih Allah bagi umatnya yang tidak terbatas oleh apa pun, seperti itu juga Mamre ditengah keluarga, lingkungan, dan gerejaNya yang menjadi harapan bagi semuanya.

Pdt. Mea Purba
Rg. Cibubur
   

Page 1 of 131

BP-KLASIS-XXX

"SELAMAT DATANG mengunjungi Web GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG"

Renungan

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
  • 6
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10
  • 11
  • 12
  • 13
  • 14
  • 15

Pengunjung Online

We have 17 guests online